Short Story #272: It’s Complicated

“Udah putus sama Ucup?” Lea bertanya pada Hani yang sedang asyik makan di kantin.

“Kata siapa?” Hani berhenti makan sebentar.

“Nih…” Lea menunjukkan layar hapenya pada Hani. Di sana tertera profil Ucup dengan status hubungannya tak lagi berhubungan dengan Hani, melainkan “It’s Complicated”.

“Oh…” Hani menanggapi dengan santai, lalu kembali menikmati makanannya.

“Beneran putus?” Lea bertanya lagi. Penasaran.

“We’re just taking a break.” Hani akhirnya menjawab.

“Break or break up?” Lea bertanya lagi.

“Break.” Hani menjawab sambil menghabiskan makanannya, lalu minum sebotol teh dingin.

“Kenapa?”

“Simpel sih. Aku pikir kita lagi perlu waktu buat masing-masing.” Hani memberitahu.

“Kita? Kamu dan dia? Atau kamu aja?” Lea memburu.

Hani diam sejenak. Ia sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan Lea. Tapi ia coba mendiamkan.

“Kita.”

“Trus keputusan break itu termasuk bebas ngapdet status dan lain-lain?”

“Ga ada larangan sih. Aku juga bisa ngelakuin itu.” Hani memberitahu.

“Ya sama aja dong dengan break up. Putus.” Lea mengambil kesimpulan.

“Ga putus, Le. Aku cuma ngasih jarak aja dulu di antara kita.” Hani menjelaskan.

“Kenapa?”

“Ya karena itu tadi, sepertinya kita masing-masing perlu waktu.”

“Ga ngerti.” Lea cepat bereaksi.

“Ya ga usah dingertiin, Le. Kan sama seperti statusnya Ucup ‘Its complicated’. Rumit!” Hani memberitahu dengan sedikit nada bercanda sambil siap-siap berdiri untuk mengembalikan bekas makannya.

“Aku cuma kepikiran aja sih, biasanya kalo dikasih jarak gitu pas lagi break bisa jadi kebiasaan, trus ujung-ujungnya break up beneran.” Lea berkomentar.

Short Story #271: Mantan

“Go away!” Julia berteriak kasar dari dalam apartemennya.

“Kasih aku beberapa menit aja, Jul…” Anto menjawab dengan nada mengiba dari luar pintu.

“Buat apa? Bukannya semua udah jelas?” Julia berteriak lagi sambil menyandarkan kepalanya ke pintu. Kesal. Sedih. Campur aduk.

“Buatku engga.” Anto menjawab.

Julia menarik napas. Ia malas untuk merespon, tapi ia lebih malas lagi jika harus berhadapan kembali dengan Anto di lain hari. Lagi.

CEKLEK! Bunyi kunci pintu terbuka. Julia membuka pintu apartemennya sebatas jarak rantai.

“Kita bisa bicara di dalem aja ga?” Anto meminta.

“Beberapa menit kamu dimulai sejak aku buka pintu ini.”

Anto menarik napas. “Kenapa sih kita ga bisa temenan lagi? Seperti sebelumnya?”

Julia tak menjawab.

“Kenapa kita ga bisa jalan bareng lagi sebagai teman?”

Julia lagi-lagi tak menjawab.

Anto mulai kehabisan akal. Ia mencoba untuk mengatakan sesuatu yang lebih dalam, tapi…

“I miss you.” Anto memberitahu.

“Waktu kamu habis. Jangan pernah balik sini lagi, atau aku lapor Polisi.”

Anto terlihat menarik napas dengan berat sebelum Julia menutup pintu dan menguncinya. Pelan-pelan, Julia membalikkan badannya, lalu duduk bersandar di balik pintu. Sebal. Sedih. Ia masih sayang pada Anto, tapi…

SRET! Secarik kertas bergeser masuk melalui bawah pintu dan langsung ke sebelah Julia. Samar-samar, ia membaca tulisan yang tertera tanpa mengambilnya.

‘Saat 2 sahabat menjadi kekasih, itu ketulusan. Saat 2 mantan kekasih menjadi sahabat, itu kedewasaan.’

Short Story #270: Dibandingkan

“Ternyata Rama brengsek juga. Sama aja kaya’ cowok-cowok lainnya.” Laila mengeluh sambil mendengus kesal.

“Lah, ada apa ini? Dateng-dateng kok marah-marah?” Jessie menutup bukunya lalu menatap heran Laila yang bolak-balik mengelilingi meja dapur.

Laila akhirnya berhenti, lalu duduk di salah satu kursi di dapur. Jessie melihat dari sofa di ruang tengah.

“Masa’ gue dibanding-bandingin?!” Laila mulai bercerita sementara Jessie diam siap mendengarkan. “Tadi gue sama dia lagi jalan ke taman gitu, trus ada cewek lewat. Oke, cakep sih emang gue juga ngaku, tapi masa’ terus gue dibanding-bandingin gitu?”

“Gimana?” Jessie bertanya segera karena ia merasa tidak menangkap maksud dari omongan Laila.

“Iya, gue dibanding-bandingin sama cewek itu…” Laila gemas.

Jessie diam. Ia masih kurang paham. “Dibanding-bandingin gimana?”

“Ya semuanya, lah!” Laila mulai kembali tak sabaran. Ia mulai bolak-balik lagi mengelilingi meja dapur.

Jessie turun dari sofa, lalu menghampiri Laila dan coba menghentikannya. “Gue ga tau persis lo dibanding-bandinginnya soal apaan, tapi ya… sabar aja lah. Mungkin dia keceplosan.”

“Tetep aja Jess.. Ga enak tau dibanding-bandingin. Gue paling ga suka sama orang yang suka ngebanding-bandingin gitu.” Laila berkomentar.

“Oke.. oke..” Jessie merespon.

“Ngeselin banget.. Beda sama mantan-mantan cowok gue yang lalu, mana pernah mereka ngebanding-bandingin gue!?”

“Eh, gimana?”

Short Story #269: Ada Aku

“Beberapa hari belakangan ini, berasa banget 24 jam sehari itu ga cukup.” Dicky┬áberkomentar sambil menghela nafasnya, sambil duduk jauh di belakang salah satu panggung acara musik.

“Ya kan namanya juga lagi ada event.” Zahra merespon. “Segala macem harus dipastiin jalan kan, dan syukurnya sampe jam kesekian di hari H ini semuanya lancar.”

“Well.. actually I’m not talking specifically about my job.” Dicky langsung merespon sambil berganti posisi duduk, mencari posisi nyaman di dalam ruangan dengan┬ápanggung yang sesekali bergetar karena efek suara dan speaker.

“Trus soal apa?” Zahra bertanya sambil minum air mineral dari botol yang sedari tadi dipegangnya.

“Soal semuanya. Rasanya 24 jam sehari ga cukup kalo harus profesional di kerjaan, sambil juga jadi anggota keluarga yang baik, sekaligus cari waktu buat diri sendiri.”

“Maybe you need a day off.” Zahra menyarankan.

“Buat apa day off kalo pas kerja lagi tetep aja 24 jam ga berasa cukup?”

“Trus maunya gimana? Nambah sehari jadi lebih dari 24 jam kan ga mungkin.”

“Entahlah.” Dicky menjawab lemah. Lelah. Ia menghela nafas lagi. Meski sekelilingnya tampak sibuk, tapi Dicky tampak mendapatkan kenyamanan dan ketenangan.

“Mungkin kamu perlu lebih utilize kru kamu.”

“Sudah. Bahkan ada yang sampe sakit, tapi masih dibela-belain buat kerja. Semangat-semangatnya hebat.” Dicky memberitahu. “I’m just hoping they will not resign.”

“They will not.” Zahra merespon. “They are having a great team leader. Dan mungkin semangatnya itu mereka dapetin dari kamu.”

“Iya. Mungkin.” Dicky coba memejamkan matanya. Mencuri waktu untuk sedikit terlelap dan memulihkan tenaga.

“Mungkin juga kamu butuh bantuan orang lain, yang ga di circle kamu.” Zahra menyarankan.

“Buat apa?”

“To help you balancing your life, lah.”

Dicky mengubah posisi duduknya. Tertarik. “Siapa contohnya?”

“Ada aku.”