Short Story #264: Ringback tone

Ponsel Derrick berbunyi di atas meja kecil samping sofa. Sambil malas-malasan, Derrick melihat sejenak ke arah layarnya, lalu melihat sebuah nomer yang belum ada di daftar kontaknya.

Pasti sales kartu kredit nih.

Derrick menyimpan ponselnya lagi dan membiarkannya untuk berbunyi terus menerus, sampai kemudian mati sendiri.

Kalo bukan sales dan emang beneran perlu gue, pasti bakal nelepon lagi ga lama dari sekarang.

Dan tak sampai semenit, ponsel Derrick berbunyi lagi. Ia kali ini masih duduk bersandar di sofa, lalu melihat sejenak ke layarnya dan mengenali bahwa nomernya adalah yang sama dengan yang sebelumnya.

Tunggu bentar lagi.

“Ya, halo?” Derrick menyapa. Tapi, tak ada suara jawaban. Lalu putus. Tut-tut-tut…

“Iseng bener.” Derrick bergumam sambil tiduran sambil membawa ponselnya, lalu ia coba memejamkan mata.

Beberapa menit kemudian, ponsel Derrick berbunyi lagi. Dengan perasaan yang sedikit kaget, Derrick langsung mengangkat teleponnya sambil tetap terpejam.

“Ya, halo?” Sepi, tak ada jawaban. Lalu putus lagi. Tut-tut-tut…

Dengan enggan, Derrick membuka mata, lalu melihat recent call-nya.

Nomer yang sama. Siapa sih ini? Beneran iseng banget.

Derrick baru saja hendak memejamkan mata lagi, ketika ponselnya berbunyi lagi. Tapi kali ini bukan bunyi telepon, melainkan pesan masuk.

“Kamu masih suka aja sama lagu itu. Yang jadi RBT-mu.”

Derrick diam sambil membaca pesan itu. Ia berpikir cukup lama, sambil mengingat-ingat ia pernah memberitahu ke siapa saja tentang kesukaannya pada lagu yang jadi RBT nomer teleponnya.

Oh, dia.

[MASA LALU. JANGAN DIRESPON]. Begitu nama kontak yang Derrick simpan untuk nomer telepon yang sedari tadi miss-call & mengirim pesan kepadanya.

Short Story #263: Di Dapur

“Jaman makin berubah ya. Apalagi soal perempuan.” celetuk Galih saat menunggu bus di halte kampusnya.

Ratna yang duduk di sampingnya mengernyit. Ia tidak sedang curi dengar karena kebetulan sedang duduk di sebelah Galih, karena memang ia dan Galih terbiasa untuk ke kampus bersama-sama.

“Maksudmu?” Ratna penasaran.

Galih menurunkan koran yang tengah dibacanya. “Ya ini.. sekarang perempuan banyak banget yang duduk di posisi penting. Udah wara-wiri ke sana-sini. Astronot aja udah ada, ‘kan.”

“Oh. Iya jelas. Kesetaraan gender kan sudah makin maju dan hampir di segala bidang.” Ratna menimpali.

“Padahal dulunya katanya tempat perempuan itu di kasur, sumur, dan dapur.” Galih melanjutkan.

Ratna mengernyit lagi. “Aku pernah denger ungkapan seperti itu. Dan aku ga suka.”

“Kenapa?” Galih melipat korannya.

“Ya… kalo ungkapan itu masih berlaku, mana bisa aku duduk di sini nunggu bus buat kuliah?”

“Bener juga.” Galih menyetujui. “Tapi harusnya ada sisa-sisanya dikit lah..”

“Apa maksudnya?”

“Ya… jangan semua tempatnya ditinggalkan. Tetep harus punya keahlian di masing-masing tempat itu, sumur-kasur-dapur.” Galih melanjutkan. Ia tak menyadari jika komentarnya mulai menyinggung Ratna.

Meski sebal, Ratna tetap berusaha tak merespon. Ia tahu cukup detail sistem pengajaran di dalam keluarga Galih yang masih menganggap lelaki adalah pusat kehidupan.

“Dari tiga tempat itu, aku pikir di jaman sekarang ini paling penting perempuan tetep harus ada di dapur sih, kalo yang lainnya udah ditinggalkan.” Galih tiba-tiba menambahkan.

Ratna langsung menoleh. “Lebih baik kamu pikir baik-baik ucapanmu itu.”

“Kenapa?”

“Karena di dapur itu segala jenis pisau dan benda tajam lainnya bisa didapatkan.”

 

NB: terinspirasi dari bio profil twitter mbak Wiwikwae.

Short Story #262: Ramalan

“Abang lo jago ramal, ‘kan ya?” Syarifah bertanya pada Tika saat sedang berkunjung di rumahnya.

“Iya. Kenapa, mau diramal?” Tika bertanya balik tanpa memalingkan mukanya dari buku yang tengah dibacanya.

“Mau dong.” Syarifah tertarik.

“Gih, minta diramal sendiri sama orangnya. Mumpung dia lagi ada di rumah. Jarang-jarang lho dia ada di rumah siang gini.” Tika memberitahu.

“Wah, asyik!” Syarifah  langsung berdiri dari kasur di kamar Tika dan langsung menuju dapur.

“Bang Jo, sibuk ga?” Syarifah bertanya sambil melihat Jonathan yang tengah sibuk membuat minuman kopi.

“Engga. Kenapa?” Jonathan menjawab sambil menyelesaikan adukan kopinya dan meminumnya sedikit.

“Katanya Tika, Bang Jo bisa ngeramal. Aku minta diramal dong. Boleh?” Syarifah meminta dengan sopan.

“Oh, boleh.” Jonathan menjawab datar lalu menarik kursi meja makan, dan duduk. Syarifah pun duduk di kursi dekat Jonathan.

“Aku mau tahu ramalan buat besok dong, Bang.” Syarifah meminta. Siap untuk menyodorkan tangan atau apapun yang akan digunakan untuk diramal.

“Besok?” Jonathan bertanya yang langsung dijawab dengan anggukan Syarifah dengan semangat. “Besok suram.”

Syarifah diam. Ia sedikit kaget dan tidak siap dengan apa hasil ramalan Jonathan yang diucapkan dengan kalem.

“Itu…peruntungan, cinta, atau apa Bang?” Syarifah meminta konfirmasi. Berharap bukan sesuatu yang buruk.

“Overall sih.” Jonathan kembali menjawab singkat sambil minum kopinya lagi.

Syarifah diam sejenak. Dadanya berdebar-debar, mengira-ngira apa yang akan terjadi di hari esok sehingga dia akan mengalami sesuatu yang suram.

“Kalo boleh tau, gimana sih Bang Jo ngeramalnya?”

“Gampang. Liat aja tanda-tanda langit sama keadaan saat ini.” Jonathan kembali menjawab dengan datar.

Dada Syarifah semakin berdebar-debar. Gila, ramalannya udah pake tanda langit!

“A-aku mau tau dong Bang, besok sebenarnya bakal kejadian apa sih kok diramal suram gitu…” Syarifah terbata-bata.

“Oh.” Jonathan menyimpan kopinya di atas meja. “Besok ujan.”

“Apa hubungannya?” Syarifah langsung bertanya lagi karena penasaran.

“Ya dengan ujan, kan bikin suasana jadi gelap, trus jadi macet di mana-mana karena jalanan jadi rame dan kendaraan jalan pelan-pelan. Mood bisa rusak deh.” Jonathan menjelaskan dengan tenang.

“Eng… Bang Jo, itu ramalan aku apa ramalan apa sih?” Syarifah makin penasaran.

“Ramalan cuaca. Itu kan yang kamu pengen tau?”

Short Story #261: Hadiah Ulang Tahun

“Met ultah, ya Ben.” Rara mengucapkan selamat sambil memberikan sebuah bingkisan berukuran besar pada Beni.

“Wah, makasih Ra. Gue ga nyangka lo inget sama ultah gue, pake acara ngasih kado segala lagi.” Beni menerima bingkisan sambil tersenyum.

“Sama-sama, Ben. Mudah-mudahan lo suka sama hadiahnya. Gue spesial nyari hadiah sesuai request lo. Yaitu, mau hadiah yang emang lo butuhin.” Rara memberitahu sambil kemudian berjalan menuju kubikelnya yang berada di samping Beni. “Oiya, sekadar petunjuk, yang di dalamnya ini desain terbaru lho.”

Di kubikelnya sendiri, Beni penasaran dengan bingkisan yang diberikan oleh Rara. Sehingga ia mengesampingkan sejenak beberapa dokumen yang tengah dikerjakan sebelum Rara datang tadi, lalu fokus untuk membuka bingkisan.

Lapisan demi lapisan bungkusan Beni buka, dan…

“RARAAA!” Beni berteriak tanpa mengalihkan pandangan dari isi bingkisannya. Rara langsung berdiri melihat ke Beni dari kubikelnya.

“Kenapa, Ben?”

Beni terengah-engah, lalu dengan sedikit gemetar membalikkan badannya ke arah Rara.

“Maksud lo apaan nih ngasih ini ke gue?”

“Lho, kan gue ngasih hadiah karena lo ultah. Udah gitu, hadiahnya juga sesuai request lo – harus yang emang lo butuhin.” Rara beralasan.

“Ta-tapi…”

“Itu gue nyarinya susah lho. Soalnya kan desain terbaru, jadi belom ada di mana-mana. Baru sebagian doang yang bisa buat.”

Beni memegang isi bingkisannya sambil gemetar dan kehabisan kata-kata.

“Dan itu udah customized sesuai nama dan juga tanggal lahir lo. Keren, ‘kan?” Rara menambahkan.

“Ya tapi jangan batu nisan juga kali!”

Short Story #260: Display Name

“Hai, semalem temen-temenku ngeganti display name semua contact di hapeku. Bisa ga kamu jawab message ini dan kasitau ini siapa? Aku ga bisa identify karena ga hapal semua nomer hape. Makasih. – Dan.

Sebuah pesan singkat baru masuk ke dalam ponselnya Mimi. Ia melihat pesan serta nama pengirimnya “Dan”, lalu sejenak terdiam sambil teringat beberapa hal yang telah lalu.

Kepalanya sebenarnya enggan untuk menjawab pesan tersebut. Apalagi ia masih merasa sangat tidak enak dengan kejadian terakhir bersama Dan, tapi…

“Apes banget, sih. Next time mungkin hapemu harus dikunci dengan sandi yang lebih canggih.” Mimi mengirim balasan pesannya. Tanpa nama. Tanpa menjelaskan siapa dia.

“Well, makasih atas sarannya. Aku asumsi kamu salah satu temen programmerku?” Dan membalas lagi setelah beberapa menit.

Mimi diam. Satu sisi ia senang bisa berkomunikasi lagi dengan Dan, tapi di sisi lain…

“Nope. Jauh dari itu. Kita kontak lama, Dan.”

“Oh.” Dan menjawab segera.

“Aku Mimi, yang dulu jadi pacar kamu.” Mimi merespon tanpa lama setelah mendapat pesan yang sungguh pendek.

“Oh.. Okay. Makasih. Berarti display name-mu di contact list hapeku masih sama.” Dan menjawab lagi.

Rasa penasaran sekaligus rasa berharap seketika muncul di dalam diri Mimi. Ia berharap Dan memang tidak pernah lupa akan dirinya, dan masih menyimpan semua kontaknya.

“Memangnya apa display name untukku?” Mimi bertanya lagi dengan mengirim pesan singkat.

“Si Kampret.”