Short Story #255: Empty

“Berhentilah bermuram durja.” Cathy menegur sahabatnya, yang berdiam diri saja di ruang tengah flat mereka.

“Engga, kok.” Rose menjawab sedikit enggan sambil menatap gelapnya langit yang sesekali dihiasi gemerlap kembang api dari jendela mereka.

“Buka aja pintu kacanya, sekalian ke balkon.” Cathy menyarankan.

“Buat apa?”

“Biar suara kembang apinya juga kedengeran.” Cathy memberitahu. “It’s new year eve.”

“Oh.” Rose menjawab sambil menggeser pintu kaca besar yang menjadi satu dengan jendela.

Debur kembang api terdengar dari jauh.

“Cheer up, will ya?” Cathy menegur lagi.

Rose menjawab dengan dengusan. Ia meneguk minuman ringan di tangannya.

“Bete karena ga jadi pergi?” Cathy penasaran.

“Bakal lebih bete lagi kalo jadi pergi.”

“Kenapa?”

“Begitulah.”

Cathy membiarkan sejenak sahabatnya itu yang kini sudah berada di balkon dan menyandarkan tangannya ke pegangan.

“You look sad.”

“I’m not. I’m just empty.” Rose memberitahu.

“Maksudnya empty?”

Rose menghela napas sejenak. “If you’re surrounded by people — even those you love, but you feel nothing.”

Short Story #254: Jakarta

“Gue ga pernah ngerti kenapa lo demen banget naik busway malem-malem, ke arah ujung satunya dulu baru kemudian pulang. Jadi muter-muter ga jelas, padahal rumah lo deket banget kalo sekali jalan pulang.” Eko berkomentar sambil memegang pegangan bus transjakarta yang sedang berjalan.

“Sengaja. Buat liat-liat.” Kania memberitahu. Ia duduk di depan Eko yang berdiri di depannya.

“Enaknya kalo udah capek kerja itu cepetan pulang, Kan. Istirahat. Atau cari hiburan, kek.” Eko kembali berkomentar.

“Buat gue ini hiburan.” Kania menjawab. “Nyadar ga sih lo, Jakarta tuh cantik banget kalo diliat malem-malem gini. Jalanan udah mulai sepi, lampu-lampu nyala di sana-sini.”

Eko diam. Sambil masih berdiri ia melihat ke luar jendela belakang Kania, sementara Kania melihatnya dari duduknya. Kontras dengan sekeliling mereka yang asyik dengan perangkat di tangan masing-masing.

“Gimana, cantik kan?”

Eko tak langsung menjawab. Ia menelan ludah dulu. “Dan selama ini gue selalu ngira kalo Jakarta itu kota yang laki.”

“Siang dia jadi laki. Jantan, angkuh, dan terlihat riuh dengan penuh kekuasaan.” Kania menjelaskan. “Tapi kalo malam, dia jadi perempuan. Cantik.”

“Dan juga misterius.” Eko menambahkan. “Banyak hal yang terjadi di malam hari ga keliatan jelas, samar, dan tersembunyi.”

“Tapi dia tetaplah cantik.”

Short Story #253: Bukan 4L4y

“Pinjem laptop lo dong, bentar.” Jim meminta.

“Ada tuh, di meja makan.” Sandra memberitahu sambil masih asik memotong-motong sayuran di dapur.

“Udah nyala?” Jim bertanya sebelum beranjak.

“Udeh.”

Jim kemudian pergi menuju meja makan, dan menggerakkan jemarinya di atas touchpad.

“San, passwordnya apaan?” Jim setengah berteriak.

“Nama gue ya, alay.” Sandra menjawab setengah berteriak juga dari arah dapur.

Jim kemudian menunjuk kursor ke arah isian password. Lalu mulai mengetik.

“San, passwordnya salah!” Jim setengah berteriak lagi.

“Bener kok passwordnya, nama gue alay!” Sandra menjawab juga dengan setengah berteriak dari arah dapur. Ia berhenti sebentar dari memotong sayurannya.

Lalu hening. Beberapa menit. Sandra menunggu.

“Bisa login ga?” Sandra bertanya dari arah dapur.

“Ga bisa, passwordnya salah mulu!” Jim berteriak tanpa beranjak dari depan laptop Sandra. “Lo ke sini deh mendingan, login sendiri. Udah gue tulis passwordnya sesuai yang lo bilang padahal..”

Sandra menyimpan alat-alat dapurnya, mencuci tangan, kemudian menuju meja makan. Jim menunggu sambil memperlihatkan layar laptopnya yang masih meminta password.

“Kenapa bisa sih passwordnya salah mulu, padahal udah gue kasitau juga…” Sandra mulai mengetik password sambil disaksikan Jim.

“Lah, kok lo ngetiknya 54Ndr4? Katanya passwordnya ‘nama gue alay’?”

Short Story #252: Jam Tangan

“Besok-besok tolong ingetin aku supaya ga beli jam tangan lagi di mall ya.” Ariana berkomentar sambil masuk mobil. Hendra, kekasih yang menjemputnya mendengarkan sampai kemudian Ariana duduk dan menutup pintu.

“Ditipu?” Hendra menebak sambil mulai menjalankan mobil.

“Ya gitu deh.” Ariana menghela napas kesal.

“Ga ada garansi?” Hendra bertanya lagi.

“Ada sih, cuman males aja karena garansinya harus diurus ke distributor resmi dan bukannya si toko jam. Udah gitu si toko jam juga ga mau bantu ngurusin garansinya pula.”

“Oh.” Hendra lanjut menyetir tenang sambil terus melihat ke jalanan.

Setiba di lampu merah. Ariana kembali mendengus. Kesal. Masih sebal.

“Emang gimana sih cerita lengkapnya?” Hendra bertanya lagi, kali ini menoleh ke arah Ariana karena sedang lampu merah.

“Tau kan jam tangan aku yang dual time itu?”

“Iya, terus?” Hendra penasaran.

“Masa, belom juga sebulan udah mati aja mesinnya. Mana garansinya susah.” Ariana kesal. “Udah kecil, mahal lagi.”

“Ya kalo mau murah dan gede, belinya jam dinding.” Hendra merespon sambil menjalankan mobilnya kembali.