Ke Yogya, Aku Kan Kembali

Dari sekian banyak tempat yang pernah saya kunjungi, ada satu kota yang istimewa banget buat saya. Yaitu Yogyakarta, atau biasa disebut sebagai Yogya. Kenapa? Karena saya seperti selalu terpanggil untuk kembali lagi, dan lagi ke Yogya.

Pertama kali saya mengenal Yogya jelas dari pelajaran IPS sekolah dasar. Kemudian, di akhir pendidikan SD pertama kalinya pula saya menginjakkan kaki ke Yogya. Setelahnya? Minimal 3 taun sekali saya pasti ke Yogya – karena trip dari sekolah sampai SMA dan kuliah.

Kadang saya penasaran sendiri apa sih yang membuat Yogya selalu memanggil saya untuk kembali? Apakah karena kenyamanan kotanya? Ataukah karena keunikan daerahnya – Yogyakarta adalah sebuah kesultanan yang berada di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia? Atau… karena destinasi wisata di Yogya dan sekitarnya yang tak pernah bosan saya kunjungi?

Sepertinya alasan terakhir yang paling masuk akal. Yogyakarta tak kekurangan destinasi wisata yang begitu banyak di penjuru kota dengan beragam jenisnya. Mulai dari destinasi wisata peninggalan zaman dulu seperti kawasan Candi Prambanan, destinasi wisata kuliner seperti Bakpia dan gudeg yang dapat ditemui hampir di setiap pelosok, hingga destinasi wisata budaya seperti Keraton Yogyakarta. Tak lupa pula destinasi wisata lainnya seperti Alun-alun Kidul dengan pohon beringin kembar, Masjid Agung, atau bahkan Malioboro dan juga kaos Dagadu Djokdja yang terkenal dengan logo mata. Selain itu, dengan beraneka ragamnya wisata di sana, maka menggeliatlah perekonomian masyarakatnya. Hal ini dimulai dari munculnya berbagai pusat perbelanjaan, jasa penginapan serta hotel-hotel berbiaya murah di Yogyakarta. Tak lupa juga tumbuhnya industri rumahan dan kerajinan yang tentunya semakin menjadi daya tarik turis lokal maupun luar negeri.

Candi Prambanan
Candi Prambanan

Untuk tempat wisatanya, Candi Prambanan ini nampaknya jadi tempat favorit bagi turis yang berkunjung ke Yogyakarta.  Candi Prambanan ini seakan-akan jadi tempat yang wajib dikunjungi oleh setiap orang ketika berada di Yogyakarta. Hal ini didukung dengan kemudahan alat transportasi – bisa dengan sewa motor atau mobil, ikut trip lokal, atau naik angkutan umum. Saya masih ingat jelas pertama kali saya ke sana saat masih kecil dulu, saya sangat penasaran dengan sebuah arca yang disebut sebagai Loro Jonggrang di salah satu candi terbesar. Konon, Loro Jonggrang adalah seorang wanita cantik yang menjadi batu karena berusaha memperdaya Bandung Bondowoso agar membuatkannya 1000 candi dalam waktu semalam, sebagai syarat untuk menikahinya. Berbagai macam cerita pun timbul mengenai Loro Jonggrang tersebut, salah satunya antara lain bagian hidung dari arca tersebut tidaklah utuh. Konon, diambil oleh salah satu turis asing yang benar-benar terpikat dengan Loro Jonggrang.

Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta

Menurut saya pribadi, Keraton Yogyakarta juga wajib dikunjungi ketika sedang berada di Yogyakarta. Kapan lagi bisa mengetahui seluk-beluk tempat tinggal seorang raja Jawa yang dasarnya masih memiliki kedaulatan atas wilayahnya – makanya provinsinya disebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain mengetahui beberapa sudut di dalam kompleks Keraton, juga dapat mengetahui kehidupan abdi dalem serta beberapa artefak peninggalan sultan sebelumnya, yang menjadi koleksi khusus dari Keraton Yogyakarta. Cara ke sananya pun mudah, cukup ikuti saja jalan Malioboro hingga ke ujung.

Trus, berapa lama harus berada di Yogya agar bisa menikmati semua wisata tersebut? Ga ada waktu baku yang bisa saya anjurkan. Sehari, dua hari, atau bahkan seminggu dan sebulan Yogya selalu nyaman untuk dikunjungi. Tapi bagaimana dengan biayanya? Khusus untuk Yogyakarta ini menurut saya lebih terjangkau dibandingkan dengan tempat lainnya, karena kuliner di sana masih sangat terjangkau harganya, begitu juga dengan akomodasi yang ditawarkan. Muai dari motel, penginapan melati, hingga hotel-hotel di Yogya lumayan bersahabat harganya. Sebut saja hotel Whiz Yogyakarta dan Zodiak yang lumayan budget friendly tapi layanannya sangat memuaskan. Saya kadang iri pada para penduduk yang berkesempatan untuk tinggal lebih dari sebulan secara terus-menerus di Yogya, atau bahkan bertahun-tahun. Betapa mereka diberi karunia “sebuah” Yogyakarta.

jogja-003

Foto-foto kunjungan saya ke Yogyakarta masih saya simpan rapi – jika tidak hilang. Dan setiap kali melihat foto-foto tersebut dapat mengobati kerinduan saya akan Yogyakarta. Kadang saking rindunya, saya membuka-buka situs pemesanan perjalanan seperti Traveloka untuk mengetahui tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta PP, serta hotel yang tersedia. Sengaja, siapa tahu ada keinginan terpendam saya yang kemudian memberanikan diri untuk book semuanya serta melakukan perjalanan secara tiba-tiba. Sekadar untuk mengobati kerinduan akan Yogyakarta.

Ke Yogyakarta.. aku ‘kan kembali…

 

Ngapain Jalan-Jalan Ke Luar Negeri?

Beberapa kali saya mendapati slogan atau tulisan seperti judul postingan ini. Buat saya, tulisan tersebut bermaksud persuasif, dimaksudkan agar kita lebih eksplorasi lebih banyak di dalam negeri – tanah air Indonesia dari ujung ke ujung, dan bukannya keluar negeri. Tapi ya, itu saya sih. Entah kalo orang lain.

Emang harus saya akui, jalan-jalan eksplorasi tanah air juga jadi salah satu keinginan terpendam saya. Saya bahkan punya niatan pribadi, harus bisa menjejakkan kaki (ekplorasi) di setidaknya kelima pulau besar di Indonesia – yang hingga saat ini tinggal 1 pulau lagi yang belum yaitu Sulawesi. Untuk Sumatera sudah diwakili Banda Aceh dan Medan, untuk Kalimantan sudah diwakili oleh Balikpapan, untuk Papua sudah diwakili oleh Sorong, dan Jawa… ya itu sih udah cukup sering karena saya juga kan tinggal di pulau Jawa. Dan iya, tinggal Sulawesi saja yang belum. Sekalinya saya ke Sulawesi, ya sebentar aja di Makassar. Belom sempat eksplorasi.

Meski begitu, saya juga tetep kepengen jalan-jalan keluar negeri. Minimal ke negeri tetangga seperti Singapura dan Malaysia, atau negara-negara ASEAN seluruhnya. Kenapa? Ya karena pengen. Klise memang, tapi kalo udah kepengen ya gimana dong?

DSC00948 - Pyrmont Bridge, Sydney, June 11, 2013
Pyrmont Bridge, Sydney, June 11, 2013

Selain buat naikin gengsi nambah cap di paspor – halah, jalan-jalan keluar negeri jadi salah satu kesempatan buat ngalamin sesuatu yang berbeda. Minimal, keseharian yang beda sama di dalam negeri. Yang paling berasa tentunya adalah perihal bahasa, dan mata uang yang digunakan. Kalo di dalam negeri, bahasa bisa beda, tapi mata uang tetep sama.

Pengalaman yang didapet dengan jalan-jalan di luar negeri dan pelosok negeri ya sebenernya sama aja. Beda budaya, bahasa, dan bahkan kebiasaan bisa didapati. Tapi ya lagi-lagi, di luar gengsi nambahin cap di paspor, jalan-jalan keluar negeri itu ya seru aja buat ngalamin fasilitas-fasilitas yang ga ditemuin di dalam negeri. Subway, trotoar yang ramah pejalan kaki, sampai dengan area terbuka publik yang gratis dan nyaman. Itu beberapa fasilitas yang sering saya nikmati kalo lagi jalan-jalan ke luar negeri. Selainnya ya jelas, atraksi hiburan seperti taman permainan, dan lain-lain.

DSC01030 - Farewell Sydney Monorail! #postcardfromSydney ~ taken from Novotel Darling Harbour, June 13, 2013
Sydney monorail during their last month of services, taken from Novotel Darling Harbour, June 13, 2013

Kalo kamu sendiri, ngapain jalan-jalan ke luar negeri?