Supaya Kiriman CV/Resume Ga Langsung Dibuang

lowker internship

Iklan lowongan/vacancy seperti ilustrasi di atas, pasti udah pernah diliat dalam ragam bentuk/jenis/Bahasa lainnya. Isinya kurang lebih sama, ngasih info bahwa saat ini sedang dibuka lowongan dan ke mana harus ngirim surat lamaran/CV/resume.

Saya pribadi, udah pernah bikin iklan seperti ilustrasi di atas lebih dari sekali. Dan, kalo soal ngerespon iklan lowongan seperti di atas, kayanya lebih banyak daripada bikin iklannya. :p

Intermezzo dikit: kalo soal lowongan gitu, sebagian besar dari kita pasti berharap-harap (cemas) bahwa SDM yang dicari sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pengiklan. Sukur banget kalo cocok dan fit to the team/job, dan bagai musibah kalo ternyata out of the league.

Anyway, balik lagi ke soal iklan lowongan dan juga berkaitan sama judul, saya pribadi bakal ngebahas hal ini dari 2 sisi sekaligus. Pertama, sebagai pengiklan, kedua sebagai yang merespon iklan tersebut.

Satu-satu ya…

Sebagai pengiklan: saya berharap iklan lowongan/vacancy saya cukup jelas memberikan informasi tentang yang saya butuhkan dan saya tawarkan.

Harapan sederhana: mendapat kandidat yang sesuai untuk lowongan tersebut.

Harapan yang ga sederhana:

–          Dapat banyak kandidat yang bakal bikin saya pusing buat milihnya.

–          Dapat database.

–          Dapat bakat terbaik yang fit to the job and the team.

Sekarang, sebagai perespon: saya berharap iklan lowongan/vacancy tersebut sesuai dengan kebutuhan saya saat merespon, yakni butuh kerjaan/duit/penghidupan/kesibukan, dan seterusnya. You name it.

Harapan sederhana: saya di-hire.

Harapan yang ga sederhana:

–          Saya kandidat terbaik.

–          Saya kandidat yang beruntung.

–          Lowongan tersebut jadi pembuka rezeki selanjutnya, dan siapa tau jadi karir. *halah*

Nah, untuk mencapai harapan dari kedua belah pihak (baik sederhana maupun engga) itu ada satu langkah penting yang kadang kelewat atau diabaikan. Bukan soal seberapa serius pekerjaan yang sedang ditawarkan, melainkan seberapa serius si pelamar/SDM melamar pekerjaan yang ditawarkan. Dan langkah tersebut adalah pengiriman lamaran/CV/resume.

Yep, pengiriman lamaran/CV/resume adalah salah satu bagian vital dalam proses rekrutmen SDM. Personally – sebagai pengiklan, saya mengharapkan lamaran/CV/resume yang saya terima tak hanya bagus, tapi juga diantarkan dengan penuh kebanggaan. Yep, ngeh kan saya ngasih huruf tebal di bagian mana?

Dan masih personally pula – sebagai perespon iklan, saya mengharapkan lamaran/CV/resume yang saya kirim dibaca lengkap dan jadi pertimbangan utama buat di-hire. Yang ga langsung dibuat gitu. Makanya, selain isi dari dokumen tersebut harus bagus, saya juga harus menarik pengiklan. Salah satu caranya adalah menambah endorsement, ngehubungin langsung (kalo emang kenal) untuk ngasih notifikasi, atau ngasih kata-kata berupa perkenalan diri atau respon iklan dalam email/surat pengantar tersebut.

Gimana, cukup jelas?

Btw, untuk diketahui aja: saya menulis post ini bukan dalam kapasitas HRD – karena saya juga ga kerja di bagian HRD. saya menulis post ini dalam rangka berbagi pengalaman, sesuai dengan yang pernah dan sedang saya alami. Bahasa kerennya: best practices. :mrgreen:

Oiya, vacancy yang ada di gambar pendukung di atas itu valid dan masih open. Serius. 🙂

Good luck!

Short Story #250: Pilihan

Mala menggigiti bibir bawahnya. Cemas. Beberapa kali ia melihat ke arah arloji bergantian ke ambang pintu apartemennya. Menunggu.

KLIK! Suara anak kunci terbuka hampir saja membuat Mala melompat terperanjat. Tapi ia menarik napas panjang dan coba mempersiapkan dirinya.

“Lho, udah pulang?” ujar Angga heran sesaat setelah membuka pintu lebar.

“Iya, udah dari siang tadi sebenernya.” Mala menjawab dari arah sofa.

“Oh…” Angga kemudian menutup pintu, melepas mantelnya, dan langsung berbelok menuju dapur untuk mengambil minum.

Mala kembali menggigiti bibir bawahnya sebelum kemudian menarik napas dan berdiri. Ia mendekati Angga yang sedang berada di meja tengah dapur.

“Sukses?”

“Apanya?” Mala merespon cepat, namun dengan perasaan bingung.

“Audisinya?”

“Oh itu…” Mala menjawab sambil kemudian memainkan jarinya di atas meja.

“Gagal ya?” Angga menebak.

“Aku ga tau. Soalnya aku ga ke sana tadi siang.”

Angga mengangkat sebelah alisnya. “Oh, emang ke mana?”

Mala kembali menggigit bibir bawahnya. Bingung hendak menjawab atau tidak. Jikalaupun menjawab, apakah perlu berbohong atau jujur saja.

“Aku ketemu Daniel.” Mala akhirnya memberitahu. Nada suaranya pelan, tapi cukup terdengar oleh Angga yang berada di depannya.

Angga menurunkan gelasnya, melihat ke arah Mala yang tengah balik menatapnya. Tatapannya terlihat kesal, ia bisa merasakan jika Mala mengetahui itu, tapi….

“It was only a quick meet.” Mala memberitahu. Merasa bersalah. “Ada beberapa hal yang perlu diberesin.”

“Aku pikir semuanya udah beres sejak terakhir kali itu.”

“Emang udah.” Mala menjawab cepat.

“Trus?”

Mala diam. Ia kehabisan kata-kata. Tepatnya, ia kehabisan keberanian untuk mengucapkan kata-kata.

“We’re done.” Angga memberitahu.

“But it was just a meet. We’re talked, and that’s it..” nada suara Mala mulai terdengar putus asa.

“Dulu juga awalnya ketemuan biasa.” Angga merespon sambil kemudian berjalan menjauhi meja, mencoba keluar dari area dapur.

“Angga…” Mala memegang tangan Angga sebelum menjauh.

“Please don’t make me as an option.” Angga memberitahu. Membiarkan Mala di balik badannya.

“Tapi aku memilih untuk bersama kamu.” Mala merespon.

“Kalo kamu beneran milih buat bersama aku, ga bakalan pernah ada yang namanya Daniel.” Angga memberitahu. “If you are really in love with me, you won’t have the second option since the very first.”

Perlahan-lahan, pegangan Mala di tangan Angga melonggar dan terlepas.

Short Story #249: Distractions

“Aku masih ga gitu ngerti kenapa kamu sampe jadi relawan bencana gitu.” Jane mengomentari Dian yang tengah mengepak barang ke dalam tas ranselnya. “Siap ninggalin apa aja semua kesibukan kamu seketika ada panggilan buat bantu-bantu daerah bencana. Mending deh kalo kamu jadi relawan itu sesuai yang kamu pelajarin di kuliahan, lah ini… malah jadi guru anak-anak!”

Dian tersenyum, tanpa menghentikan kegiatan mengepaknya.

“Aku beneran penasaran, bagian mana dari engineering yang bisa dipake buat ngajarin anak-anak?” Jane menambahkan. “Apa kamu ngeshare ke mereka soal gimana mereka harusnya jadi insinyur yang kelak mungkin bisa prediksi bencana?”

“Hampir ga ada engineering sama sekali, sih.” Dian memberitahu di sela-sela kegiatannya.

“Trus? Kenapa kamu masih mau jadi relawan? Udah ada tiga kali kayanya deh, kamu ninggalin bangku kuliah buat jadi relawan. Untungnya aja, semuanya pas lagi libur atau bukan ujian.”

“Buatku untung karena ga ganggu kuliah, tapi buat yang kena bencana? Mereka masih bisa napas dan makan sambil berada di tempat penampungan itu udah cukup beruntung.” Dian memberitahu.

“Still, I can’t get it.” Jane kembali berkomentar.

Dian menutup ranselnya, lalu membuat tali simpul di atasnya. Lalu ia berdiri, menghadap Jane yang tengah berada di ambang pintu kamarnya.

“Sometimes what people really need is distractions. So they forget what their real problems are.” Dian memberitahu. “And the most perfect distractions for those who are unlucky because of disasters? Seeing their young ones happy, and still having good educations.”