Short Story #244: Maaf

“Gimana mudiknya?” Joanna bertanya setiba di kantor ke Frans, teman sekantornya.

“As always, macet.” Frans menjawab tanpa memindahkan pandangan dari layar laptopnya.

“Ya kalo ga macet bukan mudik namanya.” Joanna merespon sambil kemudian duduk dan membuka laptopnya di mejanya, yang terletak di sebelah meja Frans.

“Ya gitu deh.”

“Trus?”

“Trus apa?”

“Trus, kumpul keluarganya seru?” Joanna menunggu Frans bercerita hingga menghadap ke arahnya.

“Well.. tipikal kumpul keluarga, lah.” Frans menjawab datar.

“Dapet ‘the kapan’ questions?”

“Udah jelas.”

Joanna diam sejenak. Menunggu Frans untuk bercerita lebih lanjut. Setidaknya, menunggu Frans untuk menoleh ke arahnya. Tapi…

“Eh, mohon maaf lahir batin ya. Kali-kali gue ada salah selama ini.” Joanna menyodorkan tangannya hendak bersalaman.

Frans berhenti menatap laptopnya, lalu menoleh sejenak ke arah Joanna dan lalu mengubah posisi duduknya.

“Oke.” jawabnya sederhana sambil bersalaman dengan Joanna, lalu selesai.

“Lho?”

Frans menoleh sesaat seperti kebingungan.

“Lo ga maaf-maafan juga?”

“Well… gue yakin lo udah pasti maafin gue kan. Jadi ya…”

“Frans!” Joanna gemas sambil mencubit teman sekantornya itu.

Short Story #243: Jauh Dekat

“Ternyata kabar itu benar. Kamu memang pergi hari ini.” Dara mengomentari seorang pria yang tengah menurunkan tas dari taksi di lobby keberangkatan bandara.

Pria itu berbalik. Ia tak tampak heran dengan kehadiran Dara.

“Aku percaya bukan kebetulan kita bisa ketemu di sini, sekarang.” Ihsan menjawab sambil membayar taksi lalu mulai mengenakan tas punggungnya, serta mengangkat sebuah koper kecil.

“Bawaanmu tak cukup banyak untuk orang yang pindah.” Dara melanjutkan komentarnya. Mengikuti Ihsan melangkah ke dalam bandara.

“Kenapa harus? Aku pindah kan buat mulai hal baru.” Ihsan merespon tanpa memperlambat langkahnya sambil mencari counter untuk check in pesawatnya. “Seperti restart, kadang beberapa hal emang harus ditinggalkan.”

“Termasuk aku?” Dara bertanya dari belakang Ihsan karena mulai ketinggalan.

Ihsan kemudian berhenti. Ia menunduk sebentar sambil menarik napas sebelum kemudian berbalik menghadap Dara.

“You have made your choices. So let me made mine.” Ihsan memberitahu.

“Tapi soal pindah keluar negeri ga pernah jadi pilihan. Dibahas sekalipun belom pernah seingatku.” Dara merespon dengan mengontrol nada suaranya agar terkesan datar.

“Seingatku, beberapa hal tak perlu kubahas lagi denganmu setelah kamu mengambil putusan itu.” Ihsan membalas. “Karena kamu pun melakukan hal yang sama, bukan?”

Dara diam. Ia seakan-akan kehabisan kata-kata.

“Oke. Sudah kuduga.” Ihsan siap berbalik lagi namun terhenti.

“Jadi kamu lebih milih untuk berada dengan jarak ribuan kilometer denganku?”

“Kalaupun jaraknya hanya belasan kilometer, apakah ada bedanya?”

“Aku tak tahu.” Dara menjawab pelan.

Ihsan diam. Dalam hatinya berkecamuk. Ia ingin sekali untuk mendekati Dara, memeluknya, dan mengucapkan perpisahan. Ia juga yakin Dara menginginkan hal yang sama. Tapi…

“I got to go.” Ihsan memberitahu.

“Mungkin kita emang butuh jarak yang begitu jauh supaya bisa tau lagi apa yang ga berhasil di antara kita, sebelumnya.” Dara mendadak berkata. “Mungkin jarak bisa bikin kita kembali ngerasain hal yang dulu pernah ada.”

Ihsan masih belum juga melangkah, namun ia sudah membelakangi Dara. Diam, ia mendengarkan.

“Mungkin jarak akan menghasilkan kerinduan untuk mendekat.” Dara melanjutkan. “Mungkin jarak jauh yang mendekatkan adalah yang terbaik.”

“Sepertinya begitu.” Ihsan tiba-tiba merespon. “Dan yang pasti itu lebih baik daripada tetap dekat, namun terasa amat jauh.”

Short Story #242: Benar Salah

“Dari mana kamu tahu mana kabel yang benar, dan mana yang salah?” Adam penasaran.

Josh tersenyum sambil merapikan peralatan tukangnya. Ia baru saja memperbaiki instalasi listrik di rumah Adam.

“Kata orang sih practice makes perfect.” Josh menjawab singkat.

“Masa?” Adam tak percaya. Ia mengikuti Josh ke ruang tamu untuk membereskan sisa peralatannya.

“Ya… itu kan kata orang.”

“Kalo kata kamu sendiri?”

Josh berhenti sejenak setelah menutup toolbox sambil setengah berlutut.

“Well.. apa ya? Aku ga gitu jago bikin kata mutiara.” Josh berkomentar.

“Ya ga perlu jadi kata mutiara juga.” Adam memberitahu. “Cukup kasitau aku aja gimana caranya kamu bisa tau mana yang bener dan mana yang salah.”

“Aku sebenernya ikut caranya Edison, si penemu bola lampu itu.”

“He? Kok bisa?” Adam semakin penasaran.

“Ya.. konon sebelum akhirnya dapet rancangan bola lampu yang paling stabil, dia ngelakuin ratusan bahkan ribuan rancangan yang berakhir dengan kegagalan.”

“Hubungannya apa?”

Josh diam sejenak. Ia lalu tersenyum. “Katanya Edison saat bola lampu menyala stabil, ‘aku bukannya ngehasilin satu rancangan yang bekerja, melainkan juga ngehasilin ratusan dan bahkan ribuan rancangan yang ga akan bekerja.’”

“Trus? Maksudnya apa?”

“Kadang kita perlu melakukan hal yang salah atau jahat, hanya supaya kita tahu mana yang benar dan baik.” Josh memberitahu sambil menyelesaikan pemberesan alat-alat tukangnya sebelum kemudian pergi.

Short Story #241: Jauh

“Kamu lagi luang? Aku perlu bicara.” Imma mendadak menghampiri Yogi yang tengah asyik membaca buku di kantin kampus.

“Aku lagi luang, tapi… bukannya kita sepakat buat ga ketemu atau ngobrol apapun dulu?” Yogi bingung.

“Sudah kubilang kan, kalo AKU perlu bicara?”

Yogi hendak membantah lagi seperti biasanya, tapi untuk kali ini ia diam. Membiarkan Imma yang kemudian duduk di depannya.

“Ada apa?” Yogi bertanya sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.

Imma menggigit bibir bawahnya. Matanya sejenak melihat ke kanan dan ke kiri. Resah.

“Hei.. kamu bisa bicara apapun dan kapanpun, Imma.” Yogi memberitahu.

Imma menarik napas. Berharap agar dirinya menjadi lebih tenang.

“Aku tahu sebenarnya kita lagi sepakat buat ga ketemu atau ngobrol apapun dulu…” Imma mulai berbicara. “Dan, aku juga tahu kalo kesepakatan itu harus kita jalani, sesuai dengan obrolan terakhir kita.”

“Oke, terus?”

“Kayanya kita perlu buat kesepakatan baru.”

Yogi mengangkat sebelah alisnya. “Kesepakatan baru? Tentang?”

Imma menggigiti bibir bawahnya lagi. “Kesepakatan untuk mengakhiri kesepakatan yang sebelumnya.”

“Oke, aku bingung.” Yogi mengangkat tangannya sebatas pundak.

Imma menarik napas. “Intinya, kita udahin aja deh kesepakatan buat ga ketemu dan ga ngobrol dulu itu.”

“Lho, kenapa? Mendadak gini?” Yogi penasaran.

“Soalnya… semakin aku jarang berinteraksi sama kamu, aku ngerasa semakin jauh dari kamu.” Imma memberitahu. “Dan di saat yang bersamaan, aku jadi nyadar betapa pentingnya kamu ada di keseharian aku.”

Yogi diam. Berusaha mencerna.

“I miss you.” Imma memberitahu.