Short Story #240: Kuat

“What do you want?” Rani bertanya dengan nada ketus ketika ia mendapati David di anak tangga depan rumahnya.

“Ketemu kamu.”

“Buat apa lagi?” Rani bertanya lagi sambil kemudian berdecak malas.

“Ada yang harus aku katakana.” David memberitahu. Ia masih berdiri di anak tangga depan rumah Rani.

“Kamu bisa telepon. Nomerku masih ada, ‘kan?”

“Aku lebih suka bilang secara langsung. Karena aku ga tau apakah kamu masih mau denger suara aku di telepon.”

“Ck..” Rani sebal. Ia sebenarnya bisa saja melewati David begitu saja menuju pintu depan rumahnya lalu masuk ke dalamnya. Membiarkan David berada di teras – jika ia memang memiliki keinginan yang kuat untuk berbicara dengannya.

David menuruni anak tangga. Ia mendekati Rani.

“Cukup sampai di situ aja, Vid.” Rani memperingatkan David di jarak semeter darinya. “Hakmu untuk lebih mendekatiku hilang di malam kepergianmu.”

David terdiam.

“Aku minta maaf.” David memberitahu.

“Apa kamu bilang? Maaf?”

“Iya. Aku minta maaf.” David mengulang.

Rani menarik napas. Dadanya penuh, dan ia ingin sekali meluapkan seluruh amarah yang telah bertumpuk sejak beberapa bulan lamanya. Tapi…

“Aku ga sekuat itu, Vid.” Rani bersuara pelan. Kepalanya menunduk.

“Ran…”

Rani lalu setengah berlari melewati David, menaiki anak tangga rumahnya dan masuk. Pintunya ia tutup, dan ia bersandar sampai akhirnya terduduk.

Perlahan, terdengar seseorang menaiki anak tangga dan mendekati pintu.

“Apa maksudmu, Ran?”

Rani menarik napas. Hatinya kalut. Tapi ia coba menenangkan dirinya untuk menjawab David.

“Orang yang kuat adalah mereka yang mau minta maaf. Sementara orang yang lebih kuat, adalah yang bisa memaafkan.” Rani memberitahu. “Aku bukan orang yang seperti itu.”

Short Story 239: Aman

“Gimana Jepang? Asik kan jalan-jalan di sini?” Ita bertanya pada Topan, sepupunya yang datang berkunjung ke Tokyo sambil liburan. Mereka tengah berjalan santai sore di Yoyogi setelah menjelajah Shibuya.

“Well, buat jalan-jalan oke. Tapi kalo buat kerja, kalo gue dibayar minimal 4x dari biaya hidup di sini, baru gue mau.” Topan memberitahu.

“Kenapa?”

“Kaya’nya kerja di sini melelahkan banget, ya. Jam kerjanya panjang, dan mereka cenderung sungkan sama yang senior. Mirip orang Jawa.” Topan berkomentar.

“Ah, perasaan lo doang kali.” Ita bereaksi. “Gue belom pernah nemu yang sungkan-sungkan begitu.”

“Mungkin karena lo masih kuliah kali, bukannya kerja.” Topan memberithau. “Dan itu keliatan banget pas gue naik subway bareng-bareng mereka di jam-jam sibuk.”

“Hmm.. bisa jadi ya.” Ita merespon. “Ya.. tapi seenggaknya kalo stay di sini ga perlu khawatir soal kejahatan. Segala macem otomatis, banyak kamera pengawas, dan lain-lain.”

“Yeah, right.” Reaksi Topan seakan meremehkan.

“Lho kenapa?” Ita penasaran. “Jelas kan mau pulang jam berapapun ya aman-aman aja. Buktinya kaya’ beberapa malam yang lalu itu, lo pulang jam berapa tuh? Jam 12? Tenang kan? Aman, ‘kan?”

“Well, mungkin maksud lo aman dari hal-hal jahat yang bisa dilakukan orang lain kan? Ga perlu takut sama orang lain gitu, ‘kan?”

“Iya. Emang ga aman gitu?”

“Bukannya ga aman.” Topan memberitahu. “Justru karena saking amannya, gue malah takutnya sama yang bukan orang.”

Short Story 238: Pengakuan

“Aku mau ngakuin sesuatu sama kamu.” Sheila memberitahu Jerry di sela-sela acara rutin sabtu sore mereka: membaca buku di kedai kopi.

“Ya?” Jerry mengangkat pandangannya dari buku yang tengah dibacanya ke Sheila yang duduk di depannya.

“Dulu, kamu bukan pilihan pertamaku. Bahkan, kamu adalah pilihan terakhirku.” Sheila memberitahu. “Kalo ga ada yang lain dan sisanya cuman kamu, ya.. baru deh aku mau sama kamu.”

Jerry menaikkan sebelah alisnya. Tak ada tanda-tanda terkejut atau heran di wajahnya. “Dan kenyataannya memang begitu, kan?”

Dahi Sheila berkernyit. Ia sepertinya mengharapkan respon yang lain dari Jerry.

“Eh, jangan salah. Masih banyak kok yang mau sama aku.” Sheila menegaskan.

Jerry tersenyum. “Maksudku, akulah pilihan terakhirmu yang kemudian berani untuk membawamu ke jenjang selanjutnya.”

Sheila terdiam sejenak. Ia lalu tersenyum kecil sambil mendengus.

“Iya. Dan aku berterima kasih untuk itu.” jawab Sheila sambil kembali hendak membaca bukunya.

“Hm.. aku juga jadi pengen bikin pengakuan sama kamu.” Jerry menyimpan bukunya dan meminum kopinya.

“Apa itu?” Sheila antusias.

“Kamu juga bukan pilihan pertamaku. Aku pada saat itu lagi ngincer orang lain.”

“Siapa?” Sheila penasaran. Ada sedikit rasa sebal di dalam hatinya.

“Yang suka jalan bareng sama kamu. Ngerjain tugas, belajar kelompok, ikutan aktivitas kampus.” Jerry memberitahu.  “Ya, aku dulu ngincer dia.”

“Stephanie?” Sheila menebak yang langsung dijawab dengan alis yang terangkat dari Jerry. “Oh ya? Aku baru tau.”

“Kamu baru tau sekarang? Kayanya dulu udah jadi rahasia umum gitu, kalo aku ngincer dia.” Jerry sedikit heran.

“Kenapa dulu kamu ngincer dia?”

“Well.. dia baik, cantik, dan masih banyak lagi yang banyak orang perhatiin dan pengenin dari seorang cewek.” Jerry menjelaskan.

“Trus, kamu nyesel ga dapet dia dan malah dapet sahabatnya?” nada suara Sheila mulai meningkat. Walau begitu, ia berusaha untuk tenang dan santai.

Jerry tersenyum sedikit. Ia tahu jika emosi Sheila sudah mulai terpancing.

“Engga. Aku ga nyesel.” Jerry memberitahu. “Karena aku udah dapetin kamu, yang jauh lebih baik dari dia.”

Sheila menghembuskan napas. Lega.

“Dan yang paling penting…” Jerry melanjutkan, “Ga ada lagi orang yang berani buat deketin kamu setelah aku dapetin kamu. Kamu cuman buat aku.”

Short Story #237: Kangen

“Don’t you miss anything from home?” Rudy bertanya pada Lena yang berada di pelukannya sejak tadi di atas ranjang.

“Hmm.. apa ya?” Lena memunggungi Rudy, namun masih berada dalam pelukannya.

“Anything?”

“Sepertinya ada.”

“Yaitu?” Rudy penasaran.

“I miss my husband.”

Rudy diam sejenak. Terkejut. Ia berpikir sejenak dan berusaha hati-hati dengan pilihan kata selanjutnya.

“So, why do you here? Cheating on him?” Rudy kembali bertanya dengan memaksakan agar nada suaranya terdengar tenang.

Lena mengangkat sebelah alisnya. Ia lalu duduk dan bersandar ke bantal di headboard ranjang. “Mmm… Aku sendiri penasaran.”

Rudy diam. Ia melihat perempuan cantik di sampingnya dengan sedikit rasa menyesal telah mengawali percakapan ini.

“Aku penasaran apa benar aku mencintainya.” Lena melanjutkan. “Apakah aku benar-benar mencintainya?”

Hening sejenak.

“Lalu?” Rudy penasaran.

“Ternyata, aku memang mencintainya. Dengan sepenuh hatiku.” Lena memberitahu.

Rudy kembali berusaha menenangkan diri. Kepalanya langsung memerintahkan hatinya agar tetap adem, sambil mengingatkan bahwa sejak awal memang seharusnya ia tak menambahkan perasaan terhadap hubungannya dengan Lena. Seperti yang telah mereka sepakati.

“Oke.” Rudy memberitahu. Ia pun menarik bantal dan duduk bersandar di headboard di samping Lena yang masih menatapnya.

“Tapi kalo lagi jauh darimu, aku kangen kamu, Rud.” Lena menambahkan sambil langsung memeluk Rudy. “Karena kamu memiliki tubuhku.”

Godzilla (2014): Remake dari Hollywood yang (Lebih) Bagus

Godzilla (2014). Picture source: Wikipedia
Godzilla (2014). Picture source: Wikipedia

 Gojira! Gojira! Gojira!

Hollywood takkan pernah kehabisan ide untuk memproduksi film. Mau itu film action, superhero, drama, keluarga, hingga tokoh fiksi. Jikalau mereka kehabisan ide orisinil, maka Hollywood akan mengadaptasi ide dari belahan dunia lain, memproduksi ulang dengan menambahkan di sana-sini sesuai taste mereka. Salah satunya adalah Godzilla.

Secara pribadi, saya termasuk penggemar film maupun cerita yang di dalamnya terdapat monster besar dan atau makhluk besar yang bertarung. Sebut saja Pacific Rim, King Kong, Ultraman, bahkan Power Rangers, saya suka. Dan, Godzilla menjadi sebuah film yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Apalagi, film yang dirilis di 2014 ini memiliki judul yang sama yang dirilis beberapa tahun sebelumnya, juga dari Hollywood. Iya, saya nonton keduanya.

Godzilla (2014) ini membuat saya teringat kembali masa-masa sore hari saya menunggu stasiun TVRI-RCTI-SCTV menayangkan Ultraman, yang hadir untuk durasi 30 menit dan mengentaskan monster-monster yang datang. Tak berkaitan langsung memang – karena Ultraman adalah superhero yang melawan monster, sementara Godzilla adalah monster yang melawan monster (?). Tapi saya melihat Godzilla (2014) ini memiliki visualisasi yang lebih pas, penempatan “tokoh” Godzilla yang tepat di dalam film, serta tidak mengabaikan peran serta manusia di dalam filmnya.

Sebagai sebuah film yang menghadirkan karakter monster raksasa sebagai sentral, menurut saya Godzilla (2014) bisa membuat penonton memiliki alasan yang cukup kuat untuk menonton filmnya. Kenapa? Karena monster raksasa – Godzilla, memiliki adegan pertarungan dengan monster raksasa lainnya yang hadir di dalam film: MUTO – massive unidentified terrestrial organism. Hambar rasanya jika film yang mengedepankan monster raksasa sebagai sentral (dan juga judul), tapi tidak ada adegan pertarungan sesamanya – seperti yang gagal dilakukan di film Godzilla yang dirilis tahun 1998. Dan ini yang membuatnya lebih bagus dari remake sebelumnya.

Terlepas dari beberapa adegan pertarungan monster raksasa dan juga adegan hancurnya kota-kota terkenal secara masif, menurut saya Godzilla (2014) kurang bisa memberikan jalan cerita yang kuat. Mengawali film dengan adegan di tahun 1999 – yang dimaksudkan sebagai awal mula universe film, mendadak cerita berada di 15 tahun setelahnya. Memang sih, dari berbagai adegan terdapat potongan-potongan penjelasan apa yang terjadi selama 15 tahun tersebut, tapi tetap saja kurang kuat untuk mendukung cerita. Contohnya? Nih, di bawah,

  1. Jika benar MUTO jantan telah keluar dari telur pada tahun 1999 di Filipina lalu berpindah ke reaktor di Janjira, kenapa ia butuh 15 tahun untuk menjadi dewasa? Maksudnya, penyerapan teknologi nuklirnya dilakukan selama jadi kepompong 15 tahun gitu?
  2. Jika gelombang yang terjadi di Janjira pada tahun 1999 dan 15 tahun setelahnya sama, apakah mungkin penyebab runtuhnya reaktor Janjira bukan MUTO jantan kecil? Buktinya, di 15 tahun setelah 1999, gelombang yang sama menyebabkan MUTO jantan untuk lepas dari kepompongnya, atau memang gelombang tersebut sama? Bukannya gelombang di 15 tahun setelahnya disimpulkan sebagai panggilan untuk kawin dengan MUTO betina?
  3. Organisasinya Dr. Serizawa (ditampilkan oleh Ken Watanabe), emang ga belajar apa-apa sejak kemunculan dan “kepunahan” Gojira sampai dengan munculnya insiden di Filipina?
  4. Sejak kapan organisasi-nya Dr. Serizawa hadir di bekas reactor di Janjira? Kalo emang katanya gelombangnya baru muncul sekitaran beberapa minggu, apa mungkin alat-alat berat dan pengaturan peralatannya (yang kemudian hancur) bisa secepat itu?
  5. Kenapa Ford Brody (ditampilkan oleh Aaron Taylor-Johnson), harus ngalamin peristiwa-peristiwa yang selalu berkaitan dengan Godzilla? Bagus sih, jadinya ada 1 tokoh yang terus-menerus berada dalam cerita dan jadi “pemersatu” cerita, tapi cenderung dipaksakan karena jadinya si tokoh berarti begitu malang harus mengalami peristiwa besar berkali-kali.
  6. Apakah Godzilla dan Pacific Rim berada dalam 1 universe? à oke, pertanyaan ini membuat saya harus stop. :mrgreen:

Few final words, seperti kebanyakan film-film Hollywood, Godzilla bagus untuk dinikmati dan bukan untuk dipikirin. Iya, saya emang kebanyakan mikir. 😛 Visually bagus, cerita pembangunnya oke, latar belakang oke, cuman ada bolong aja di beberapa tempat. Overall, skornya 8.5 dari 10. Iya, saya menilainya agak subjektif karena saya tipe yang suka film-film tersebut.

Short Story #236: Menyerah

“Baiknya kamu pikirin lagi keputusan kamu sebelom berjalan di lorong nanti.” Isabel memberi saran sambil menyisir rambut Katrina.

“Aku kira kita udah selesai bahas ini.” Katrina melihat Isabel yang berdiri di belakangnya dari cermin di depannya.

Isabel menarik napas. “Dia ga layak buat dapetin kamu. Kenapa kamu masih cinta sama orang yang nyerah buat dapetin kamu?”

Katrina menghentikan tangan Isabel yang tengah menyisirnya. Ia lalu menatap Isabel yang juga balik menatapnya melalui cermin.

“Dia ga nyerah. Dia cuman berhenti berusaha.” Katrina memberitahu.

“Itu sama aja!” Isabel bersikeras, lalu berbalik menuju sudut lain ruangan.

Katrina tersenyum. Ia lalu berbalik melihat sahabatnya sejak kecil tersebut.

“Beda.” Katrina memberitahu. “Jika dia menyerah, maka aku tahu dia adalah seseorang dengan nyali yang kecil. Tapi, jika dia berhenti berusaha mendapatkanku, maka aku tahu jika dia akan mengalihkan daya dan upaya yang dia gunakan untuk mendapatkanku kepada orang lain.”

Isabel terdiam. Mencoba memahami.

“Kamu ga bisa ngebiarin dia ngejar orang lain, ya? Makanya kamu akhirnya mau terima dia?”

“Biarpun selama ini aku ga pernah ngasih perhatian berlebih buat dia, dan selalu ada pria lain yang mampir ke hidupku, tapi… hanya dia yang selalu ada di dalam hidupku.” Katrina memberitahu. “Dia ga pernah pergi dari hidupku.”

“Dan itu penyebab kamu akan membiarkan dia untuk memilikimu?”

Katrina tersenyum kecil. “Engga. Aku yang nyerahin diriku kepada dia.”