Month: May 2014

Short Story #235: Painkiller

Arna sedang asyik membaca buku di bawah pohon rindang taman kampus, ketika Widya menghampirinya dan menghalangi sinar matahari yang mengenai bukunya. Arna melihat ke arah Widya yang membelakangi matahari. “Geser dikit dong, aku lagi baca buku.” “Jelasin satu hal: kenapa kamu ngasih harapan ke Leo?” nada suara Widya terdengar tegas. “Aku ga ngasih harapan ke

Short Story #234: Alone

Entah apa yang ada di dalam pikirannya ketika Risa hendak mengambil gelas kopinya, namun justru menumpahkannya. Setelah menyadari tumpahan kopi langsung tersebar ke meja, ia buru-buru menyelamatkan kertas-kertas kalkir yang memberinya penghidupan. Sambil mengumpat pelan, ia berdiri, mengamankan kertas-kertas kalkir, dan mulai mengeluarkan tisu untuk menyeka tumpahan kopi di meja. Saat itulah, seorang pria menghampirinya.

Short Story #233: Belajar Berhenti

Jay menyimpan kunci-kuncinya di mangkuk dekat pintu apartemen, sembari kemudian melepas jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu. “Larut bener.” sebuah suara memecah keheningan. Jay tak terkejut mendengar suara tersebut, walau ia tahu seharusnya ia sendiri saja mala mini. Di apartemennya. “You know lah.” Jay memberitahu sambil  menyalakan lampu. Seorang wanita terlihat sedang duduk santai di

Short Story #232: Lebih Baik dari Kopi

Kevin menggeliat dan menggerakkan tangannya sambil masih tetap memejamkan matanya. Ia mencari-cari jam weker yang berbunyi. KLIK! Dengan satu sentuhan kecil saja, bunyi jam weker yang memekakkan telinga Kevin berhenti. “Mendingan kamu bangun biar ga telat berangkat.” Sandra berdiri di sisi ranjang Kevin sambil masih memegang jam weker. Kevin membuka sebelah matanya dengan enggan. “Aku