Short Story #235: Painkiller

Arna sedang asyik membaca buku di bawah pohon rindang taman kampus, ketika Widya menghampirinya dan menghalangi sinar matahari yang mengenai bukunya.

Arna melihat ke arah Widya yang membelakangi matahari. “Geser dikit dong, aku lagi baca buku.”

“Jelasin satu hal: kenapa kamu ngasih harapan ke Leo?” nada suara Widya terdengar tegas.

“Aku ga ngasih harapan ke Leo. Aku cuman ngerespon aja sama semua yang dia lakuin buat aku.” Arna menjawab. “Sekarang, bisa geser?”

“Itu saja aja kaya’ ngasih harapan!”

Arna menutup bukunya. “Kan kamu sendiri yang bilang supaya aku buka mata dan liat-liat sekeliling? Aku ngelakuin itu dan sekarang salah jadinya?”

Widya melipat kedua tangannya di depan dada. “Salah kalo kamu ngelakuin itu sama Leo?”

“Apanya yang salah?” Arna mengangkat bahunya. “Leo ngasih perhatian ke aku, dan ya… aku ngerespon sama perhatian-perhatian itu. Apanya yang salah dari itu?”

“Salahnya, karena kamu baru putus!”

“Kenapa jadinya nyambung ke situ?” Arna kemudian berdiri dan menghadap Widya. “Jadi kamu lebih suka aku galau dan nangis-nangis ga jelas kaya’ dulu lagi?”

Widya menarik napas. “Kamu udah move on belom? Udah bisa ngelupain si kampret itu belom? Udah sembuh dari lukanya belom?”

Arna diam sejenak. Sebal. Ia lalu membereskan tas dan isinya yang berada di rumput.

“Jangan sampe Leo cuman jadi pelarianmu aja. Jadi painkiller!”

“Kalo dia jadi painkiller, trus kenapa? Apa urusanmu?” Arna kemudian berjalan menjauh. Meninggalkan Widya yang memandang sebal ke arahnya.

“Painkiller itu cuma ngilangin rasa sakitnya, ga nyembuhin lukanya!” Widya berteriak memberitahu.

Short Story #234: Alone

Entah apa yang ada di dalam pikirannya ketika Risa hendak mengambil gelas kopinya, namun justru menumpahkannya. Setelah menyadari tumpahan kopi langsung tersebar ke meja, ia buru-buru menyelamatkan kertas-kertas kalkir yang memberinya penghidupan.

Sambil mengumpat pelan, ia berdiri, mengamankan kertas-kertas kalkir, dan mulai mengeluarkan tisu untuk menyeka tumpahan kopi di meja.

Saat itulah, seorang pria menghampirinya.

“Aku bisa melakukannya sendiri, terima kasih.” Risa memberitahu dengan sopan tanpa melihat siapa pria yang membantunya menyeka kopi.

“As always.” pria itu berkomentar sambil meneruskan membantu menyeka kopi.

Sempat terdiam sejenak, Risa lalu mendongak untuk melihat sumber suara yang familiar tersebut.

“Hendra!” Risa memekik pelan.

“Hai.” Hendra balas menyapa.

Risa menyodorkan tangannya untuk bersalaman yang disambut Hendra. Lalu, setelah memastikan tak ada lagi tumpahan kopi di meja ataupun di kursi, keduanya duduk berhadapan.

“Kamu lagi di sini?” Risa bertanya.

“Iya, lagi off duty.”

“Sampe kapan?”

“Belom tau. Kalo liat jadwal sih, sampe sebulan lagi.”

“Wih.. lama juga. Beda ya kalo udah naik level, off duty aja bisa lama banget.” Risa berkomentar.

“Iya, beda sama waktu masih jadi level kroco dulu ya..” Hendra merespon. “Kamu masih suka gambar?”

“Ya.. kalo yang kamu maksud ‘masih suka gambar’ dengan kertas-kertas ini yang bisa ngehasilin duit, maka jawabannya IYA dengan huruf kapital.” Risa menjawab.

“Makin lancar dong.”

“Apanya?”

“Ya itu.. ngegambarnya, maupun juga orderan project-nya.”

“Ya.. Alhamdulillah. Cukup buat bikin aku ga perlu kerja kantoran, bisa nyalurin apa yang ada di otak aku, dan yang paling penting.. aku suka ngerjainnya.” Risa memberitahu.

“Kapan-kapan, aku boleh dong minta tolong project.” Hendra meminta.

“Boleh banget.” jawab Risa. “Rumah? Apartemen? Atau apa?”

“Rumah. Di sini.”

“Oke. Kabarin aja besok-besok. Masih ada nomerku kan?”

“Tunggu. Aku cek dulu.” Hendra mengeluarkan ponselnya, lalu mengecek nama Risa. “Yep, masih ada. Nomermu masih sama seperti yang kamu kasih dulu itu, ‘kan?”

“Kalo aku ganti nomer telepon, nanti klien-klienku yang dulu-dulu, susah kalo mau rekomen aku ke temen-temennya.”

“Ah, agreed. Business matters.” Hendra menyetujui sambil kemudian minum kopinya yang masih utuh.

“Kebetulan banget ya kita bisa ketemuan lagi setelah sekian lama.” Risa berkomentar. “By the way, sekadar penasaran, aku punya satu pertanyaan yang biasanya aku kasih ke mereka yang minta aku bantuin di project-nya.”

“Oh ya? Apa itu?”

“Umm… Apa sih goal dari project yang mau dibuat itu? Dalam hal ini, apa goal dari project rumahmu itu?”

Hendra diam sejenak. Ia memandang langit-langit café sejenak sebelum menjawab. “Aku pengen sebuah tempat buat menyendiri. Tempat buat aku sendiri, jadi aku yang bukan sehari-hari orang lain liat. Sebuah tempat yang… let say, bisa jadi tempat ekspresi aku sendiri.”

“Sendiri? Ga ada nyonya?” celetuk Risa sambil tersenyum kecil.

“Ya.. kamu boleh jadi nyonya-nya kalo kamu mau.” Hendra tak disangka langsung merespon.

Risa lalu tertawa kecil sambil dalam hatinya menyesal melontarkan celetukan tersebut. Yah, mungkin Hendra bukan tipe cowok yang aku pacarin selama ini, tapi…

“Tempatnya bakal jadi karakter kamu banget kaya’nya.”

“Maksudnya?”

“Ya.. sejauh yang aku tahu, kamu kan emang suka begitu. Terlepas dari sifatmu yang mudah blend in ke komunitas, you are also liked to be alone either you want it, or you just need it.” Risa menilai.

Hendra mendengus. “Sometimes, when I say I want to be alone, I actually meant I want you to find me.”

Short Story #233: Belajar Berhenti

Jay menyimpan kunci-kuncinya di mangkuk dekat pintu apartemen, sembari kemudian melepas jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu.

“Larut bener.” sebuah suara memecah keheningan.

Jay tak terkejut mendengar suara tersebut, walau ia tahu seharusnya ia sendiri saja mala mini. Di apartemennya.

“You know lah.” Jay memberitahu sambil  menyalakan lampu. Seorang wanita terlihat sedang duduk santai di sofanya.

Jay kemudian berjalan santai ke arah dapurnya, mengambil minum.

“Belom ambil minum, Sam?” Jay bertanya.

“Ga usah. Aku ga lama lagi jalan.” Samantha menjawab. “Bentar lagi harus ke bandara. Ngejar pesawat malam.”

“Balik lagi?”

“Yah, beasiswanya kan harus dikelarin biar gimanapun juga.” Samantha mengubah posisi duduknya. Kali ini lebih santai.

Jay mengangkat bahunya. Ia kemudian menarik dasinya sampai lepas, sambil minum air mineral lagi.

“Trus, di sini ngapain?” Jay tidak basa-basi.

Samantha diam sejenak. Menarik napas. Ia baru saja membuka mulutnya ketika Jay berkata lagi.

“Kalo kamu minta hubungan kita jadi baik lagi, jawabanku masih sama kaya’ terakhir kali kamu nanya.” Jay memberitahu sambil bergerak mendekati sofa tempat Samantha duduk. “Kapan ya itu, dua tahun yang lalu?”

Samantha tak langsung menjawab.

“Bener kan, kata-kata aku?” Jay memastikan.

“Aku ke sini sebenernya pengen tau kabarmu aja..”

“Dan caranya adalah dengan masuk tanpa izin ke apartemen aku?” Jay bertanya. Tak ada nada emosi dalam suaranya. “Padahal bisa telepon, email, atau ke kantor.”

“Banyak hal berubah. Ga semuanya bisa aku ikutin dan pelajarin.” Samantha memberitahu. “Lebih mudah bagiku datang ke sini-”

“Dan menungguku dalam gelap?” Jay menyela.

Samantha menarik napas, lalu tersenyum. “Aku kangen sama kata-kata sinis dan pedas darimu itu.”

“Bisa aku tambahin kalo kamu mau.” Jay memberitahu. Ia lalu melihat jam dinding. Sudah jam 1 dini hari. “Ada lagi?”

“Udah.”

“Oke. Kamu tau di mana pintu keluar kan.” Jay berlalu. Samantha lalu berdiri dan mengambil ranselnya serta membenarkan letak jaketnya. “Selamat belajar lagi. Semoga makin banyak yang bisa kamu pelajari.”

Samantha diam sejenak sambil melihat ke arah lorong menuju kamar Jay.

“Just for your information, ada satu hal yang belom bisa dan sulit banget aku pelajari selama ini.” Samantha memberitahu.

“Oh ya? Apa itu?” Jay menjulurkan kepalanya dari kamar.

“Belajar berhenti mencintaimu.” Samantha mengangkat ranselnya lalu pergi keluar dari apartemen.

Short Story #232: Lebih Baik dari Kopi

Kevin menggeliat dan menggerakkan tangannya sambil masih tetap memejamkan matanya. Ia mencari-cari jam weker yang berbunyi.

KLIK! Dengan satu sentuhan kecil saja, bunyi jam weker yang memekakkan telinga Kevin berhenti.

“Mendingan kamu bangun biar ga telat berangkat.” Sandra berdiri di sisi ranjang Kevin sambil masih memegang jam weker.

Kevin membuka sebelah matanya dengan enggan.

“Aku rela kesiangan kalo pagi ini kamu masih ada perlu sama aku, San.” suara Kevin terdengar serak.

“Mungkin.” Sandra meletakkan secangkir kopi yang harum di meja samping Kevin. “Tapi mendingan kamu bangun dulu, jangan setengah tidur gitu.”

Kevin berbalik, lalu berusaha menarik badannya agar duduk dan bersandar di headboard ranjang.

“Kopinya harum. Pasti enak.” Kevin sedikit bergumam. “Seperti yang biasa kamu buat.”

Sandra duduk di ranjang dekat Kevin dan mengambilkan cangkir kopi lalu menyodorkannya. “Emangnya ada yang lebih baik dari secangkir kopi saat bangun tidur?”

Kevin mengambil kopinya, lalu meminumnya satu tegukan kecil.

“Ada.” Kevin memberitahu. “Bangun tidur di sampingmu.”