Month: April 2014

Short Story #231: Teman Perjalanan

“Next stop: Europe!” Vanya berseru sambil mengepalkan tangannya setelah selesai membaca sebuah email di komputernya. “Udah dapet visanya?” Gandhi, rekan kerjanya bertanya. “Yoi. Baru aja dapet notifikasi kalo visa Schengen gue udah approved.” “Wih.. mantap lah.” Gandhi kembali berkomentar sambil duduk dan menyimpan cangkir kopinya di meja kubikelnya. “Jangan lupa oleh-oleh ya.” “Tambler? Bisa diatur.

Short Story #230: Letting Go

“Mendingan kamu relain aja deh.” Frans memberitahu Sofia yang sudah beberapa hari masih enggan untuk bersuara. “Dia ga pantes kamu tangisin gini.” Sofia menoleh sejenak ke Frans, lalu kembali melihat ke arah jendela kamarnya yang tertutup. Walau begitu, sinar mentari menerobos kisi-kisi penutup jendela sehingga menciptakan garis-garis cahaya. “Jangan sampe hidup kamu sia-sia buat nangisin

Short Story #229: My Best

“I think we need a break.” Samuel memberitahu. Ajeng yang sedari tadi hanya berdiam diri di sampingnya, menoleh. Seharusnya ia terkejut, tapi ia merasa biasa saja. Ia tahu, Samuel akan berkata demikian. “Kita atau kamu?” Ajeng memastikan. Samuel balas menatapnya. “Ayolah, ‘Jeng. Kamu pasti tahu kondisi kita lagi ga baik. Daripada berujung ke sesuatu yang

Short Story #228: Universe

“Film Hollywood kadang ga masuk akal, deh.” Santi berkomentar setelah keluar dari salah satu studio bioskop. Ia baru saja selesai menonton film superhero Amerika rilis terbaru. “Ya namanya juga film, sah-sah ajalah apapun yang terjadi.” Adam, salah satu cowok yang jadi teman dekatnya berkomentar. “Emang sih, tapi tetep aja ga masuk akal.” Santi menambahkan. Mereka