Month: March 2014

Short Story #227: Try

Vivi bolak-balik membuka laporan yang sedari tadi ia pegang. Ia mencari-cari sesuatu, sebuah permintaan yang pernah ia lakukan dulu, tapi belum ia dapatkan di laporan yang ia dapatkan. Sejenak kemudian, ia menghela napas, lalu melihat sejenak ke jendela besar di ruangan kantornya. “Tok-tok.” pintu ruangannya diketuk. “Aku selalu tau kalo kamu yang datang, ‘Za.” “Oh

Short Story #226: Worst Thing

“Kamu serius sama ucapanmu ini, Guh?” Icha bertanya. Memastikan yang didengarnya baru saja tak salah arti. “Iya. Aku serius.” Teguh menegaskan. “Aku selalu serius dengan ucapanku, ‘kan.” “Dan ga bakalan kamu tarik lagi?” “Aku ga pernah narik ucapanku. Yang ada, aku hanya mengubah pikiranku dan mengubah keputusanku. Seperti saat ini.” Icha berdiri dari duduknya. Ia

Short Story #225: Posesif

“Lama-lama aku ga ngerti sama suamiku.” Jessica membuka percakapan setelah duduk di kursinya sambil memegang segelas minuman kopi bercampur es krim. “Aku juga. Lama-lama ga ngerti sama suamiku.” Utari ikut-ikutan. Ia duduk di kursi depan Jessica dengan cokelat hangat. “Kenapa coba dia ga pernah sekalipun posesif sama aku? Sama orang yang jadi pasangannya selama ini?”

Short Story #224: Hurt

Sofia membuka pintu apartemen perlahan, lalu masuk. Ia berusaha tak menghasilkan suara sedikitpun, tapi percuma karena pria yang tinggal di apartemen yang ia masuki sudah berada di dapur sejak tadi. “Malam yang seru, ya?” Imam bertanya sambil meneguk minumannya. Sofia terkejut sambil masih menghadap pintu yang sudah menutup. Ia berbalik dan mendapati Imam di dapur.

Short Story #223: Sensitif

“Aku penasaran apa sebenernya yang kamu liat dari dia.” celetuk Krisna di tengah perjalanan menuju Shinjuku menggunakan subway jalur Oedo. “Maksudmu Aditya?” Wulan yang duduk di sampingnya bertanya. “Ya siapa lagi, toh?” Krisna melirik sebentar ke arah Wulan, lalu kembali ke buku yang tengah dibacanya. “Kecuali ada orang lain yang nembak kamu setelah kejadian di