Short Story #227: Try

Vivi bolak-balik membuka laporan yang sedari tadi ia pegang. Ia mencari-cari sesuatu, sebuah permintaan yang pernah ia lakukan dulu, tapi belum ia dapatkan di laporan yang ia dapatkan. Sejenak kemudian, ia menghela napas, lalu melihat sejenak ke jendela besar di ruangan kantornya.

“Tok-tok.” pintu ruangannya diketuk.

“Aku selalu tau kalo kamu yang datang, ‘Za.”

“Oh ya?” Reza berjalan santai masuk ke dalam ruangan Vivi, sebelah tangannya masuk ke dalam saku celananya. Menggenggam sesuatu. Ia lalu berhenti di tengah ruangan, tepat di depan meja Vivi yang masih melihat ke luar ruangan. “Dari mana kamu tau?”

“Cuma kamu yang masih aja ngetok pintu ruangan aku, walaupun pintu aku selalu terbuka.” Vivi memberitahu sambil kemudian melihat ke arah Reza.

“Oh ya?”

“Iya, cuma kamu yang begitu. Bahkan asistenku sendiri sudah kubilang untuk langsung saja memanggil namaku jika pintu terbuka – yang sepertinya selalu ia infokan ulang ke semua orang di kantor sini jika hendak bertemu denganku.”

“Well, setauku ga ada yang seberani aku sih kalo mau langsung ketemu kamu.” Reza berkomentar. Ia berjalan mendekat ke arah kursi di depan meja Vivi, lalu bertumpu pada salah satunya.

“Maksudmu?” Vivi penasaran.

“Ya.. mereka sepertinya segan, dan lebih memilih untuk menemuimu melalui asistenmu.”

“Mungkin. Udah lama aku curiga begitu sih.” Vivi memberitahu. “Bahkan sepertinya keseganan mereka ga cuma perihal buat ketemu aku, tapi juga soal laporan.”

“Apa maksudmu?” kali ini Reza yang penasaran.

“Ini, baca deh.” Vivi menyodorkan berkas laporan yang tadi tengah dibacanya, lalu kembali melihat ke arah luar jendela. “Coba kamu kasitau aku kalo kamu nemu profiling yang pernah aku request di meeting kantor dulu.”

Reza membuka-buka laporan yang tadi ia dapat dari Vivi. Matanya belum melihat kejanggalan sampai beberapa halaman terakhir.

“Aku ga liat profiling lengkap yang pernah kamu request-”

“Nah kan.” Vivi langsung berkomentar.

“-Tapi aku juga liat notifikasi soal profiling ini di halaman-halaman belakang.” Reza melanjutkan.

“Masa?” Vivi langsung kembali menoleh ke arah Reza yang sudah menyodorkan kembali laporan tadi ke arahnya, dengan dibuka pada halaman-halaman terakhir.

Vivi lalu membaca persis di halaman yang Reza tunjukkan tersebut.

“Well, you just saved someone’s job.” Vivi berkomentar sambil melihat kembali ke Reza yang tersenyum kecil.

“Just like old days, huh?”

“Bedanya, dulu kerjaanku yang kamu selametin.”

“Ya… waktu kan terus berjalan, dan sekarang kamu bisa lebih maju dan bahkan setara denganku.” Reza berkomentar.

“Memang, waktu berjalan dan berbagai hal berubah.”

“Beberapa engga, sih.” Reza langsung bereaksi, lalu diam. Giliran ia yang menatap ke luar jendela sambil masih berdiri dan menumpukan sebagian tangannya ke kursi di depan Vivi.

“Are we good?” Vivi penasaran, ia bertanya dari kursinya.

Hening sejenak.

“Yeah, we’re good.” Reza akhirnya menjawab sambil tersenyum kembali.

“Great then.” Vivi lalu menyimpan laporan yang tadi ia baca ke meja.

“By the way, just because you do not feel or see the results, doesn’t mean other people didn’t try hard enough to make it.” Reza memberitahu sebelum kemudian berjalan ke arah pintu ruangan Vivi.

“Sepertinya pernah kudengar..” Vivi mengangkat sebelah alisnya sambil melihat kepergian Reza.

“Kamu yang bilang begitu padaku, dulu.” Reza menjawab tanpa membalikkan badannya, lalu berbelok dan menghilang di luar ruangan Vivi.

Short Story #226: Worst Thing

“Kamu serius sama ucapanmu ini, Guh?” Icha bertanya. Memastikan yang didengarnya baru saja tak salah arti.

“Iya. Aku serius.” Teguh menegaskan. “Aku selalu serius dengan ucapanku, ‘kan.”

“Dan ga bakalan kamu tarik lagi?”

“Aku ga pernah narik ucapanku. Yang ada, aku hanya mengubah pikiranku dan mengubah keputusanku. Seperti saat ini.”

Icha berdiri dari duduknya. Ia berjalan bolak-balik di sekitar samping Teguh. Sesekali kepalanya melihat ke langit-langit ruang tengah apartemen.

“Tapi, bukannya kamu ga pernah seperti itu? Mengubah keputusanmu?” Icha tak yakin. Ia berhenti dan menunggu jawaban Teguh.

“Untukmu, aku rela melakukannya.” Teguh memberitahu. “Untukmu, aku rela melakukan apapun agar kau bahagia.”

Dahi Icha berkerut. “Apa hubungannya dengan kebahagiaanku? Dari mana kamu tahu apa yang membuatku bahagia?”

Teguh mengubah arah duduknya sehingga mengarah ke Icha yang sedang berdiri menghadapnya. Tangannya meraih tangan Icha, lalu menggenggamnya.

“Cha.. I’m your husband. I know you even though you deny it.”

Icha diam. Matanya melihat ke arah Teguh yang melihat balik ke arahnya.

“Bagaimana jika aku ga balik lagi? Kamu ga bakal nyesel udah ngebiarin aku pergi?” Icha bertanya.

“Aku bohong kalo bilang ga bakal nyesel.” Teguh menjawab dengan tenang. “Tapi, seenggaknya aku tahu kalo kamu bahagia dengan keputusanmu untuk pergi.”

Icha kembali diam.

“And whatever makes you happy, I’m happy.” Teguh menambahkan.

Icha semakin diam. Tangan Teguh ia lepaskan agar ia bisa berbalik dan mengangkat kepalanya ke arah lampu dengan harapan bisa menahan agar air matanya tak lekas jatuh melintasi pipinya.

Teguh menunggu. Ia lalu berdiri, berusaha mendekati Icha, hendak memeluknya tapi kemudian ia tahan. Ia hanya berdiri di belakang Icha yang masih membelakanginya, sedekat mungkin yang ia bisa.

Teguh kemudian mendekatkan kepalanya ke samping kepala Icha. Mendekatkan mulutnya ke telinga Icha.

“Cha, you should know that.. I thought the worst thing ever in my life is to see you go. But then I realize, seeing you unhappy is worse than that.” Teguh berbisik.

Short Story #225: Posesif

“Lama-lama aku ga ngerti sama suamiku.” Jessica membuka percakapan setelah duduk di kursinya sambil memegang segelas minuman kopi bercampur es krim.

“Aku juga. Lama-lama ga ngerti sama suamiku.” Utari ikut-ikutan. Ia duduk di kursi depan Jessica dengan cokelat hangat.

“Kenapa coba dia ga pernah sekalipun posesif sama aku? Sama orang yang jadi pasangannya selama ini?”

“Kamu pengen diposesifin? Aku justru pengen sekaliiiii aja suamiku ga posesif. Capek rasanya harus ngecek hape beberapa jam sekali jaga-jaga dia nanyain lagi di mana.” Utari berkomentar.

“Aku malah pengen ngerasa begitu. Suamiku tuh jarang banget, kalo dibilang ga pernah, nanyain aku lagi di mana, ngapain, sama siapa, dan lain-lain.” Jessica memberitahu.

“Begitu doang? Suamiku kalo nanyain detail banget, dan jawabannya pun harus detail juga sesuai pertanyaannya. Di mana, ngapain, sama siapa sih udah biasa lah. Suamiku kalo nanya bisa sampe nanyain berapa lama, abis itu mau ngapain, dan lain-lain. Hhhh…” Utari memutar matanya. “Belom lagi kalo dia cemburu. Bisa repot jelasinnya kalo ga ada apapun yang harus dicemburuin.”

“Aku ga pernah ngerasa dia cemburuin. Terakhir dia cemburu itu kaya’nya pas masih pacaran. Itupun jarang-jarang.” Jessica bereaksi. “Padahal aku pengen dia cemburuin, karena itu ngebuat aku ngerasa dia pengenin banget.”

Jessica dan Utari sama-sama menghela napas sambil menopang dagu. Beberapa saat kemudian, Elizabeth menarik kursi kosong ke meja mereka. Ia baru saja selesai mengambil kopi pesanannya.

“Jess.. Suamimu ga pernah cemburu atau posesif itu mungkin karena dia tau kalo dia udah memiliki kamu. Karena dia tau kamu ga bakal ke mana-mana. Karena dia tau kalo kamu akan selalu ada buat dirinya.” Elizabeth memberitahu. “Dan itu artinya, dia percaya kamu.”

“Trus, kalo dicemburuin atau diposesifin artinya ga dipercaya?” Utari langsung bereaksi.

Elizabeth menyelesaikan tegukan minumnya lalu menghadap Utari. “Engga, itu artinya dia takut banget kehilangan kamu karena kamu begitu berarti banget di kehidupan dia dan dia bisa-bisa ga tau harus ngapain kalo kamu ga ada di sisinya.”

Jessica dan Utari sama-sama manggut sementara Elizabeth kembali meminum kopinya.

Short Story #224: Hurt

Sofia membuka pintu apartemen perlahan, lalu masuk. Ia berusaha tak menghasilkan suara sedikitpun, tapi percuma karena pria yang tinggal di apartemen yang ia masuki sudah berada di dapur sejak tadi.

“Malam yang seru, ya?” Imam bertanya sambil meneguk minumannya.

Sofia terkejut sambil masih menghadap pintu yang sudah menutup. Ia berbalik dan mendapati Imam di dapur.

“Kamu masih bangun?” Sofia bertanya. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tiap malem juga aku kebangun jam segini.” Imam memberitahu sambil menyimpan gelasnya di meja dapur, lalu menuju kulkas.

“Oh…” Sofia berkomentar. “Kalo gitu jangan lama-lama kebangun. Nanti kamu susah bangun pagi dan pergi ke kantor karena kurang tidur.”

Sofia lalu lanjut berjalan menuju kamarnya, namun kemudian berhenti karena perkataan Imam.

“Begitu aja?”

Sofia membalikkan badannya. “Apa lagi maumu?”

“Aku kan tanya, begitu aja?”

“Maumu apa dengan bertanya begitu?”

“Kamu tinggal jawab, aku kan bertanya.” Imam bersikukuh, nada suaranya ia usahakan tetap tenang.

Sofia menghela napas. “Iya. Begitu saja.”

Imam tak menjawab. Ia hanya melihat Sofia yang berjarak beberapa langkah di depannya.

“Ada lagi? Aku capek.”

“Pasti capek lah kalo tiap malem hangout mulu sampe dini hari begini.” Imam berkomentar.

“Apa urusanmu?” nada suara Sofia meninggi.

“Semua urusanmu ya urusanku! Sejak ijab kabul!” balas Imam dengan nada suara yang sama-sama meninggi. “SEMUANYA!”

Giliran Sofia diam.

“You know I’m sorry for what has happened.” Sofia memberitahu. “I never try to do anything to hurt you.”

“I know you didn’t try it.” Imam mendengus. “But you did make me hurt.”

Short Story #223: Sensitif

“Aku penasaran apa sebenernya yang kamu liat dari dia.” celetuk Krisna di tengah perjalanan menuju Shinjuku menggunakan subway jalur Oedo.

“Maksudmu Aditya?” Wulan yang duduk di sampingnya bertanya.

“Ya siapa lagi, toh?” Krisna melirik sebentar ke arah Wulan, lalu kembali ke buku yang tengah dibacanya. “Kecuali ada orang lain yang nembak kamu setelah kejadian di Shibuya itu.”

“Ya… karena dia baik.” Wulan memberitahu. Kembali memandang ke kursi seberang di gerbongnya.

“Itu aja?”

“Ya, itu sudah mewakili semuanya.” Wulan memberitahu.

“Oh.”

“Kamu cemburu?” Wulan balik bertanya.

“Kenapa kamu tanya begitu?” Krisna menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Sikapmu menunjukkan begitu.” Wulan memberitahu. Masih menatap ke depan.

“Emangnya keliatan?” Krisna bertanya lagi. Mencoba dengan nada datar.

“Wanita itu sensitif, Krisna. Wanita itu bisa ngerasain hal-hal di sekitar mereka hanya dengan sekali melihat atau merasa.” Wulan memberitahu.

Krisna menghela napas.

“Oke. Kamu menang.” Krisna memberitahu.

“Apanya yang menang?”

“Iya. Aku emang cemburu.” Krisna memberitahu. “Apalagi kamu bilang kalo wanita itu sensitif.”

“Nah kan.”

“Tapi aku ada satu hal yang penasaran sih..” Krisna menutup bukunya, dan memasukannya ke dalam tas ranselnya, lalu berdiri di depan Wulan yang masih duduk.

“Apa itu?”

Krisna diam sejenak. Ia melihat ke arah Wulan sejenak sambil sudut matanya melihat ke arah luar jendela. Kereta melambat. Sebentar lagi tiba di Shinjuku.

“Kalo kamu emang sensitif, kenapa selama ini kamu seakan ga pernah tau kalo aku sebenernya sayang kamu lebih dari apapun? Bahkan lebih dari Aditya?” Krisna bertanya, dan sebelum Wulan berhasil menjawabnya, ia sudah keluar dari pintu gerbong ke tengah-tengah jutaan orang yang sibuk lalu lalang di stasiun Shinjuku.