Short Story #218: Takut

“Udah tau bakal jawab apa sama Andre?” Lea bertanya pada Rahma yang tengah melamun di dekat jendela.

“Entah. Sepertinya sudah, tapi aku masih ragu.” Rahma menjawab tanpa menoleh.

Lea melempar tas selempangnya ke sofa di dekat jendela, lalu duduk di kursi tinggi di sebelah Rahma.

“Kamu tau kamu mau jawab apa, tapi kamu ragu, gitu?” Lea menebak.

“Iya.” Rahma memberitahu.

Lea mengangkat alisnya, lalu menatap ke arah yang sama di luar jendela seperti Rahma.

“Kalo pilihan jawaban yang kamu ga ragu, ada juga?” Lea bertanya lagi.

“Iya.”

“Kalo gitu, kamu pilih jawaban yang ga ragu itu. Apapun konsekuensinya.” Lea menyarankan.

“Mungkin ya… Aku ga tau.” Rahma langsung merespon.

Sinar mentari sore hari itu perlahan mulai hilang terhalang gedung-gedung tinggi di cakrawala.

“Menurutku, kamu harus kasih jawaban yang kamu cukup yakin buat ngejalaninnya. Jangan kasih jawaban yang kamu sendiri ragu, ga yakin, atau bahkan takut buat ngejalaninnya.” Lea menyarankan sambil menoleh.

“Menurutmu begitu?” Rahma menoleh.

Lea mengangguk.

“Andre pasti mengerti.”

“Apapun jawaban yang kuberikan?”

“Iya. Asalkan kamu yakin dan siap jalanin semua konsekuensinya, Andre pasti mengerti.” Lea memberitahu.

“Tapi… gimana kalo di kemudian hari aku ga bisa ngadepin konsekuensinya?” Rahma bertanya lagi.

“Untuk itulah, ada Andre di sisimu.” Lea memberitahu. “Aku cukup yakin, walaupun kau menjawab tidak pada permintaannya, Andre takkan ke mana. Ia akan menunggumu sampai saat kamu sudah siap. Ia akan menemanimu melewati setiap tahapannya.”

“Tapi…”

“Rahma… Kalo kamu jalanin hubungan dengan rasa takut, entah itu takut kehilangan ataupun takut untuk menjalaninya, perhatianmu yang paling utama takkan berpusat pada hal-hal yang telah kau miliki.. melainkan pada hal-hal yang takut untuk kamu lepaskan.”

Short Story #217: Jatuh Cinta itu Gampang

“Cukup. Aku ga mau jatuh cinta lagi.” Laura berkata. Raut mukanya tegas.

“Yakin?” Stephanie bertanya. Tak yakin terhadap ucapan teman sekamarnya tersebut.

“Iya. Aku yakin.” Laura menjawab. Genggamannya pada gelas minumnya mengencang.

Stephanie mendesah. “Well, kalo memang itu keputusanmu. Tapi jangan sampe kamu begitu karena kejadian yang baru-baru aja sama Abdul.”

“Maksudmu?” dahi Laura mengernyit. Ia menatap Stephanie yang tengah berdiri di sisinya sambil meneguk minumannya.

“Ya.. you know lah.” Stephanie menjawab singkat sambil kemudian berbalik dan membuka kulkas. Mengeluarkan sekotak susu putih untuk ditambahkan ke gelasnya yang mulai kosong.

Giliran Laura yang mendesah. “Jangan nge-judge cuman karena Abdul deh..”

Stephanie mengangkat bahu. “Ya.. yang aku liat kan kamu terpukul banget karena Abdul. Ga tau juga kalo ada pihak lain yang jadi penyebab.”

“Siapa yang ga terpukul coba kalo udah lama banget demen sama cowok, ngebet, ngejar-ngejar, sampe beberapa kali berusaha buat misahin sama cewek-ceweknya, eh… tau-tau suka sesama jenis.”

Stephanie tiba-tiba menyemburkan sebagian susu yang tengah ia minum dan masih berada di mulutnya. Untung, tidak ke arah Laura.

“Sorry… aku ga bisa ga ketawa kalo tau fakta betapa kamu udah mati-matian ngejar cowok.. and in the end dia ga suka cewek.” Stephanie memberitahu setelah mengelap mulutnya dan sebagian dapur apartemennya yang basah terkena semburannya.

“Well.. yang rugi dia.” Laura langsung merespon tanpa tercermin sedikit pun sebal karena semburan Stephanie.

“Anyway, aku jadi penasaran sih.. emang kenapa sebenernya kamu sampe mutusin ga mau jatuh cinta lagi…?” Stephanie bertanya. “…Yang mungkin di masa depan bakal berubah lagi.”

“Steph…” Laura memicingkan matanya.

“Ya.. siapa tau di masa depan kamu bakal jatuh cinta lagi? Bahkan cinta mati.” Stephanie menjelaskan. “Emang ga mau merit?”

“I’m not gonna respond about falling in love and marriage.” Laura memberitahu. “Tapi yang pasti, alasanku karena…. Jatuh cinta itu gampang, Steph. Gampang banget malah. Yang susah itu… nemuin orang yang pantes buat dicintai, dan orang itu pasti bakal nangkep kamu saat kamu jatuh karena cinta.”

 

NB: Short Story ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan LGBT.
NB lagi: Setiap orang berhak untuk jatuh cinta, kepada siapapun. 🙂

Short Story #216: Alone

“Maybe, you should have someone new.” Bayu memberi saran pada Nia yang langsung menoleh setelah sejak beberapa menit sebelumnya hanya terdiam melihat keluar jendela.

“Buat apa?” jawab Nia dengan pertanyaan.

“Buat bantuin kamu ngelewatin semua ini. Buat bikin kamu jadi ngerasa lebih baik.”

“Dari mana kamu tau kalo aku ga ngerasa lebih baik?” nada suara Nia sedikit naik, tersinggung.

Bayu mengangkat bahu. “Pengamatanku aja.”

Nia mendengus lagi.

“Sejak ngantor lagi beberapa hari yang lalu, kamu diem terus soalnya.” Bayu melanjutkan. “Aku tau ada yang berubah di diri kamu, tapi… aku ga tau persis.”

“Thanks buat perhatianmu.. tapi cukup segitu aja.”

“Oke. Aku cuman bilang apa yang pengen aku bilang sejak beberapa hari yang lalu.” Bayu memberitahu. “Kalo emang kamu ga seperti yang aku bilang dan ternyata emang lebih baik atau mungkin sangat baik, ya baguslah. Sorry, I’m no more someone to judge you.”

Nia kembali mendengus. Ia melempar pandangannya keluar jendela kantor dari lantai 23. Sinar mentari senja yang mulai menerobos masuk membuatnya memicingkan mata.

“Aku ada di sini kalo kamu mau ngobrol ya.” Bayu menambahkan. Memastikan.

“Aku tau. Tapi ga ada yang perlu aku obrolin, Bay.” Nia memberitahu. “At least, belum ada.”

Bayu kemudian masih melihat Nia dari luar kubikel mejanya. Ia sebenarnya sedikit khawatir Nia akan kembali depresi seperti beberapa bulan yang lalu. Seperti sebelum putusan pengadilan diberitahukan. Tapi… ia bukan siapa-siapa lagi bagi Nia. Ia hanya bagian dari masa lalunya, sama seperti yang sedang Nia coba lupakan saat ini.

“You’re not alone, Nia.” Bayu memberitahu sebelum berbalik dan hendak meninggalkan Nia yang masih melihat ke arah luar jendela, tapi.. langkahnya terhenti.

“I’m not alone, Bay.” Nia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela. “Maybe I’m standing alone right now, but it doesn’t mean I am alone. It means I am strong enough to handle things all by myself.”

Short Story #215: Keyakinan dan Kenyataan

Ira menyeruput kopinya yang mulai dingin dari gelas kertas di genggamannya. Sudah hampir sejam ia belum bergerak dari posisinya.

“Kamu harus istirahat.” Joseph memberitahu Ira dari ambang pintu.

“Nanti aja. Gampang.” Ira segera menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. “Toh aku juga ga ngapa-ngapain, dari tadi cuman duduk doang.”

“Fisikmu iya, tapi batinmu?”

Ira mendengus saja.

“Ayolah, istirahat saja sejenak. Sejam atau mungkin kurang.” Joseph kembali memberitahu. “Aku bakal di sini, gantiin kamu selama kamu istirahat nanti.”

“Thanks, but no thanks.” Ira menjawab. Kali ini melihat ke arah Joseph yang masih di ambang pintu.

Joseph mendengus.

“Kenapa sih kamu ngelakuin ini? Seakan-akan lupa sama kenyataan.” Joseph berkomentar.

“Karena aku punya keyakinan, Joe.” Ira memberitahu.

“Aku tahu kamu punya keyakinan, kalo dia bakal lekas sehat lagi, sadar lagi, tapi… nyatanya dokter aja belum tahu apa penyebab dia begini padahal beberapa hari yang lalu semua kondisinya bagus.”

“Justru karena itu aku yakin.” Ira kembali memberitahu. “Kalo beberapa hari yang lalu aja kondisinya bagus trus tiba-tiba bisa mendadak begini… bukan ga mungkin tiba-tiba aja dia juga bisa langsung sadar..”

Joseph menghela napas.

“…dan aku pengen ada di sebelahnya, saat itu terjadi.”

“Okay. Okay.” Joseph mengalah. “Janji aja sama aku, aku ga mau kamu sampe harus dirawat karena kurang istirahat atau makanan karena terlalu mendalami keyakinan kamu.”

“Tenang Joe… aku ga segila itu.” Ira menjawab. “Lagipula, keyakinanku ini sudah cukup untuk membuatku terus berada di sini.. karena kadang keyakinan itu membuat orang untuk bergerak melakukan yang ia bisa melebihi batas yang ia tahu, sementara kenyataan cenderung membuat orang skeptis, lupa dan tak percaya terhadap keajaiban.”