Short Story #214: Fondasi

“Terus aja semuanya pergi.” Jenny berkomentar pendek.

Lina mencoba tetap fokus mengepak barang-barangnya.

“Tinggalin aja aku sendiri.” Jenny meneruskan kalimatnya. Kali ini sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

“I’m not leaving you.” Lina akhirnya merespon. Berdiri dan menatap ke arah yang sedang melihat ke arahnya.

“Trus, kenapa kamu tetep pergi?”

“Karena aku harus.” Lina memberitahu, lalu kembali mengepak barang-barangnya.

“Yeah, Fernando juga bilang gitu di malam terakhirnya dia di sini.” Jenny mendesah, lalu menyandarkan kepalanya ke kusen pintu.

“Let me tell you once again… I’m not leaving you. I’m just leaving this place.” Lina kembali memberitahu.

“Kenapa?”

“Karena….” Lina berhenti sesaat. “Terlalu banyak kenangan di sini. Aku ga bisa hidup dalam kenangan.”

“Tapi kenangan yang membuat kita tetap hidup. Kenangan akan masa lalu yang menjadi fondasi hari-hari kita selanjutnya, ‘kan? Ya ‘kan?”

Lina tak bisa menjawab. Dadanya sesak. Sesaat ia berhenti. Menunduk. Berusaha menyembunyikan penyebab matanya terasa pedih agar Jenny tak melihat.

“Aku harus pergi, Jen.” Lina kembali memberitahu. “Bagiku, terlalu banyak kenangan justru bakal bikin aku lupa kalo aku harus jalanin hari-hari aku selanjutnya.”

Short Story 213: Giving Up

“Kita harus bicara.” Maya memberitahu segera setelah Robin masuk ke dalam apartemennya.

“Aku tahu. Kamu sudah bilang seperti itu di telepon.” Robin merespon sambil langsung duduk di kursi, di samping sofa yang tengah diduduki Maya.

Maya menarik napas.

“Kamu yakin mau ngelakuin ini? Sama aku?” Maya bertanya.

“Kenapa engga?”

“You’re not answering my question.” Maya memberitahu.

Robin menghembuskan napas sambil menyandarkan badannya ke kursi. “Aku yakin.”

“Oke.” Maya langsung bereaksi.

Lalu hening. Satu-dua-tiga-hingga beberapa menit tak juga ada percakapan yang terjadi.

“Kamu sendiri yakin ga?” giliran Robin bertanya sambil mencondongkan badannya.

“Entah.” Maya menjawab dengan suara lirih.

“Kita udah ngalamin seperti ini berkali-kali, lho.” Robin langsung merespon. Mengingatkan.

“Aku tahu.”

Robin mendengus. Menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyandarkan kembali badannya. Maya beku. Hanya matanya yang bergerak menatap Robin.

“Aku mau nanya sekali lagi, ga bakal nanya lagi, dan aku bakal anggap jawaban itu final.” Robin memberi ancang-ancang.

Maya menelan ludah.

“Kamu yakin ga mau ngabisin sisa hidupmu sama aku?”

Maya tak menjawab. Ia ingin sekali menjawab IYA dengan suara lantang, tapi hatinya mencegah. Suaranya hilang di tengah tenggorokan. Beku.

“Yakin ga?” Robin bertanya lagi.

Maya masih terdiam. Matanya melihat ke arah Robin yang sedang menunggu jawabannya.

“I’m going to take it as a NO.” Robin memberitahu sambil langsung berdiri, menuju pintu.

“Mau ke mana?” Maya akhirnya bisa bersuara. Nadanya bergetar.

Robin berhenti. Membelakangi Maya sambil memegang gagang pintu. “Aku nyerah.”

“Kamu bilang, kamu ga bakalan nyerah sama aku.” Maya mengingatkan. “Kamu bilang ga bakal nyerah sama kita.”

“I don’t.” Robin menjawab sambil berbalik dan menghadap Maya yang ternyata sudah berdiri sambil menatapnya. Pintu apartemen sudah terbuka oleh sebelah tangan Robin. “I’m giving up on myself.”

Gyeongbok: Kediaman Raja-Raja Korea

Korea, negeri yang terletak di sebuah semenanjung antara China dan Jepang ini adalah sebuah negara yang memiliki sejarah cukup panjang. Baik itu pada jaman kuno, maupun jaman modern. Sejarah yang kini menjadi salah satu landasan kuat dari budaya bangsa. Dan, salah satu saksi berbagai sejarah tersebut adalah Gyeongbok, sebuah istana yang dulu pernah menjadi kediaman resmi Raja Korea.

Secara singkat, Korea dulunya merupakan sebuah negara berbentuk kerajaan hingga beberapa generasi. Seperti layaknya sebuah kerajaan, pasti ada dinasti yang memerintah dari waktu ke waktu. Salah satu dinasti yang terkenal pada sejarah Korea adalah dinasti Joseon – yang juga menjadi dinasti terakhir yang memerintah kerajaan Korea. Salah satu raja yang terkenal dari dinasti tersebut adalah Sejong – juga dikenal sebagai Raja Sejong yang Agung. Mau tau apa aja sebabnya dia terkenal? Mungkin bisa diliat sebagian di sini.

Anyway, blogpost ini ga bakal bahas soal silsilah atau sejarah kerajaan Korea ya.. Itu cuman pengantar aja buat bahas salah satu peninggalan kerajaan Korea yang masih bisa dilihat dan dikunjungi saat ini. Yaitu… Gyeongbok, dikenal juga sebagai Gyeongbokgung, atau Istana Gyeongbok. Istana yang dulu pernah menjadi kediaman resmi dari sang Raja Korea.

Untitled

Gyeongbok ini terletak di bagian utara dari Seoul – ibukota Korea Selatan (atau juga disebut Republik Korea). Arti dari Gyeongbok itu kurang lebih adalah “Penuh Berkah Surga”, jadi kalo Gyeongbokgung artinya jadi “Istana yang Dipenuhi Berkah dari Surga”. Keren ya?

Sejarahnya, Gyeongbok ini dibangun pada tahun 1395 dan terus mengalami perubahan sampai akhirnya bisa terlihat seperti yang ada sekarang. Dibakar, dihancurkan, dibangun lagi, dan direnovasi sudah pernah dialami oleh Gyeongbok. Tapi sejak dulu sampai dengan berakhirnya masa kerajaan di Korea, fungsinya tetap sama, yakni sebagai Istana Raja.

Ada apa aja di sana? BANYAK! Terutama bangunan antik khas Korea dan berbagai peninggalan sejarah. #yaiyalah. Nah, salah satu yang ada di komplek Gyeongbok itu Gwanghwamun, gerbang masuk Gyeongbok yang keliatan banget ke jalan raya. Beberapa peninggalan sejarah di Gyeongbok juga terawatt dengan baik, mulai dari gedung utama tempat tahta raja, tempat tidur, dan masih banyak lagi.

Ciri-ciri Korea terlihat jelas di Gyeongbok, salah satunya sistem pemanas ruangan. Jadi, Korea itu kan termasuk negara yang mengalami 4 musim, jadi dia butuh penghangat kalo lagi musim dingin. Nah, rumah atau bangunan di Korea itu pada jaman dulu dibuat tinggi, trus di bawahnya ada pemanas yang dibuat dari api/bara yang memanaskan lantai. Jadinya dalam rumah tetap hangat.

Walaupun Korea memiliki aksara sendiri berupa Hangul, tapi beberapa papan nama asli di Gyeongbok masih menggunakan aksara Mandarin/China. Karena pada saat pembangunan Gyeongbok, Korea menggunakan aksara China untuk berkomunikasi, namun dengan dialek dan pengucapan Korea – info ini saya dapat dari tour guide di Gyeongbok. Walau begitu, banyak rakyatnya – pada waktu itu tidak bisa baca dan tulis, sampai akhirnya Raja Sejong membuat aksara Hangul yang kemudian disebarkan ke seluruh masyarakat.

Foto-foto Gyeongbok, di bawah ini ya.

[set_id=72157638851424626]

Kalo datang ke Gyeongbok, ga usah takut nyasar atau ga ngerti sejarahnya. Soalnya, ada tur gratis yang dikoordinasiin sama bagian informasi dari pengurus Gyeongbok. Iya, resmi. Kemaren aja waktu saya ke sana, dapet tur gratis sama pemandu dari pengurus Gyeongbok. Berbahasa Inggris pula. Dan, karena turnya gratis jadi rombongannya bebas, siapa aja boleh ikutan. Dalam sehari, tur gratis itu ada 3x – kalo ga salah.

Trus, kalo ke Gyeongbok juga jangan takut bayar mahal. Harga tiketnya terhitung murah kok: 3.000 Won buat sekali masuk buat dewasa. Kalo dirupiahin sekitar 36.000 – kurs 1 Won = Rp 12. Nah, tapi kalo beli satu tiket doang sayang kaya’nya jadi mending beli tiket terusan/kombinasi yang juga bisa dipake buat masuk ke istana-istana lain di Seoul yang merupakan bagian dari 5 Grand Palace – 5 Istana Utama di Seoul. Tiket terusannya berlaku selama 1 bulan sejak dibeli ke semua tempat itu – jadi ga musti dalam 1 hari buat ke semua tempatnya. Tempat lainnya? Changgyeong, Jongmyo Shrine, dll.

Oiya, salah satu “tantangan” jalan-jalan di negeri Asia Timur adalah sedikitnya orang yang bisa berbahasa Inggris, dan sulitnya membaca aksara lokal. Tapi, sepertinya Korea Selatan – Seoul lebih ramah bagi turis kaya’nya, soalnya Metro (pelayanan subway di Seoul dan sekitarnya) sudah banyak menggunakan aksara latin dan Bahasa Inggris pada tulisannya. Selain itu, setiap kali berhenti di stasiun, ada pengumuman berbahasa Korea dan Inggris. Jadi, tenang aja.

Kalo udah cukup berani buat jalan-jalan, ke Gyeongbok itu gampang kok. Naik Metro line 3, turun persis di stasiun Gyeongbokgung. Dari situ tinggal ngikutin exitnya nanti langsung keluar di salah satu sisi di dalam halaman depan Gyeongbok. As simple as that.

Kapan waktu yang tepat buat dateng ke Gyeongbok? Bisa dibilang, hampir setiap saat, setiap musim. Tapi pastinya, masing-masing musim atau waktu punya pengalaman dan sensasi yang berbeda. Seperti yang saya alami kemarin, datang ke Gyeongbok saat musim dingin, jadinya seluruh lapangannya hampir ketutup salju. Oiya, kalo dateng di jam-jam tertentu ada “atraksi” yang bisa dilihat oleh pengunjung yakni pergantian penjaga. Kemaren, saya beruntung banget soalnya dapet 2x nonton atraksi itu, yakni pas jam 12an dan jam 3an. Mau tau seperti apa? Ini di bawah.

Jadi, kalo kelak ke Korea Selatan dan ke Seoul, pastiin sempetin buat mampir ke Gyeongbok ya. Ke salah satu istana terindah di dunia.

Short Story #212: Babak Baru

“Kamu diem aja dari tadi.” Alda mengomentari Jessica, rekan seperjalanannya.

“Lagi pengen.” Jessica memberitahu.

“Tumben banget.” Alda memberitahu. “Dari kemaren sebelom kita berangkat, kaya’nya kamu excited banget bilang mau begini-begitu di sini.”

“Iya sih.” Jessica menjawab.

“Trus?” Alda penasaran.

Sebuah pemberitahuan mengenai kedatangan subway di stasiun terdekat pun terdengar. Jessica masih diam tak menjawab dan hanya melihat ke arah lorong gerbong subway yang ia tumpangi. Membelakangi Alda.

“Naik subway gini bikin inget dia ya?” Alda menebak.

“Begitulah.”

“Oh.”

Subway yang tengah mereka tumpangi tiba di stasiun Itaewon, Seoul. Beberapa penumpang terlihat naik dan turun. Setelah beberapa menit, subway pun jalan lagi dengan membawa Alda dan Jessica di salah satu gerbongnya karena mereka sedang menuju Dongdaemun.

“Hidupmu itu kaya’ buku novel.” Alda berkomentar lagi.

“Maksudmu, hidupku dramatis? Ceritaku dibuat-buat? Rekaan fiksi gitu?” kali ini Jessica langsung merespon dengan langsung menghadap ke Alda.

“Bukan.” Alda menjawab dengan tenang.

“Trus apa?” giliran Jessica yang penasaran.

“Well.. Kamu bilang, kamu mau mulai babak baru makanya kamu pengen jalan-jalan jauh gini. Ngajak aku pula.”

“Aku emang pengen mulai babak baru kok.”

“Iya.. tapi gimana kamu bisa mulai babak baru di hidup kamu kalo kamu masih terus-terusan penasaran dan baca ulang bab hidupmu yang udah lalu?” Alda bertanya.

Short Story #211: It’s Not About Never Losing

“Jangan bilang kalo kamu ragu.” Ferdinand menerka bahasa tubuh Amalia yang gelisah sedari tadi.

Amalia terdiam. Ia menatap Ferdinand di depannya lalu kembali menatap gelas kopinya yang mulai kosong. Belasan menit ia terdiam sejak Ferdinand datang. Padahal, ia sendiri yang mengajak Ferdinand untuk bertemu karena ia ingin mendiskusikan sesuatu.

“Aku ga tau.” Amalia akhirnya membuka suara.

Ferdinand menghela napas. Ia menyandarkan badannya ke kursi café yang keras.

“Take your time. Ga usah buru-buru.” Ferdinand memberitahu.

“Tapi waktunya semakin mendekat, Fer.” Amalia lekas merespon.

“Aku tau.” Ferdinand menjawab. “Tapi semuanya bisa diatur. Serahkan saja padaku.”

“Kenapa?”

“Karena aku percaya kamu butuh waktu buat lebih yakin. Karena aku percaya kamu pasti bakal ambil keputusan terbaik, yang ga akan bikin kamu nyesel selamanya.” Ferdinand memberitahu dengan bijak.

“Dari mana kamu tahu aku ga bakal nyesel?” Amalia bertanya.

Ferdinand mendengus. “My heart says so.”

Amalia terdiam. Ferdinand melihat ke salah satu jari manis di tangan Amalia yang tengah tersimpan di atas meja, lalu tersenyum kecil.

“Aku takut suatu saat nanti… aku mati rasa. Perasaanku ilang gitu aja.” Amalia beralasan.

Ferdinand diam sejenak. Wajahnya tenang. Teduh.

“Marriage is not always about never losing your feeling, it’s also about embracing it back each time you feel that you’ve lost it.” Ferdinand memberitahu.

Short Story #210: Bersama-sama

“Lama-lama aku ga ngerti Andry.” Vania berkomentar sambil duduk di sofa.

“Maksudnya?” Melisa bertanya.

Vania memandang roommate-nya sekilas, lalu menarik bantal hingga menutup kepalanya sambil tiduran.

“Something bad happened?” Melisa bertanya lagi. Penasaran.

“Justru itu. Aku ga tau apa yang terjadi.” Vania memberitahu dari balik bantal.

Melisa pindah mendekati Vania. Ia duduk di dekat pinggangnya.

“Jangan bilang kalo feeling kamu ilang gitu aja.” Melisa menebak.

Vania membuka bantalnya. Ia melihat ke arah Melisa. Heran.

“Kenapa kamu ngomong gitu?”

Melisa tersenyum sekilas. “Wajar kok kalo perasaan bisa ilang gitu aja dalam sebuah hubungan.”

“Maksudnya?” giliran Vania yang penasaran.

“Hubungan itu kan perjalanannya naik turun. Mau gimanapun, pasti ada masanya kamu suka banget sama dia, kepengen banget sama dia, atau sebaliknya. Tapi ada juga masanya ga ada feeling apa-apa sama sekali.” Melisa memberitahu. “It happens.”

“Kalo sama-sama ngerasa ga pengen lanjutin hubungan lagi, gimana?”

Melisa dia sejenak.

“Kamu ngerasa seperti itu?”

“Mungkin.” jawab Vania singkat.

“Kalo dia?”

Vania mendengus. “Entahlah. Dia kaya’nya masih ngebet banget sama aku.”

“Hubungan itu bukan soal kamu mau sama dia, atau dia mau sama kamu. hubungan itu soal apakah kalian mau apa engga jalanin bersama-sama.”