Month: October 2013

Short Story #205: Sepakat

“Apa pertanyaan yang menurutmu susah dijawab?” Alvin bertanya. “Hmm…” Maggie menggumam. “Sepertinya pertanyaan akademis.” “Maksudmu, pertanyaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan?” Maggie mengangguk tanda menjawab. “Kenapa begitu?” Alvin bertanya lagi. Penasaran. “Karena aku kan ga belajar semua ilmu pengetahuan. Pasti hanya ilmu yang kupelajari aja yang bisa kujawab pertanyaannya.” Maggie menjelaskan pada kekasihnya itu. “Oh..”

Short Story #204: Ruang

“Yang..” Nina memanggil Jeremy dengan nada lembut. Matanya memperhatikan TV sementara kepalanya berada di pangkuan Jeremy. “Hmm..” Jeremy menjawab tanpa kata-kata. Ia masih asyik membaca surat kabar hari ini walau sudah malam. “Aku cinta kamu.” Nina memberitahu. Matanya melirik sekilas, menunggu balasan. “Aku juga cinta padamu, Sayang.” Jeremy langsung membalas. Matanya tetap pada surat kabar.

Short Story #203: Tak Ada Hal Baru

“Besok dateng?” Rasyid bertanya sesaat setelah memasuki dapur. Sebuah lembaran kertas terdapat di tangannya. “Dateng ke mana?” Linda bertanya balik. Ia baru saja selesai meminum segelas susu. “Ke sini.” Rasyid menyodorkan lembaran kertas yang tadi ia pegang, kepada Linda. “Wah..” Linda berkomentar singkat. “Dia masih ingat aja sama kita.” “Aku juga ga nyangka.” Rasyid merespon.

Short Story #202: Aku Udah Ga Tinggal Di Sana

Nada sambung terdengar untuk kesekian kalinya. Gelisah. Amanda menunggu seseorang menjawab panggilannya. “Ya, halo?” seorang pria di ujung telepon menyapa. “Hai Galih.” Amanda balas menyapa dengan suara pelan. “Eh.. Siapa ya? Amanda?” Galih bertanya. “Siapa lagi?” Amanda menjawab dengan pertanyaan. “It’s been a while.” Galih berkomentar. “Iya. Aku sibuk ini-itu. Kamu juga pasti sibuk ini-itu.”

Short Story #201: Setia?

“Mendingan kamu berhenti nangisin dia, deh.” Rika memberi saran. Vania menyapukan tisu ke bawah matanya, menyeka air mata yang berlinang di sana. Sesekali, ia sesenggukan. Tak ada kata-kata yang menjawab saran Rika. “You’d better be stop.” “Ga bisa…” jawab Vania dengan suara parau. Rika menarik napas. “Trus, mau nangis sampe kapan?” “Ga tau..” Vania menjawab