Short Story #192: The One

“You’d be better stop checking on dates.” Helen menyarankan saat ia melihat teman sekamarnya, Ria sedang menandai kalender meja.

Ria tak merespon, sementara Helen menutup lemari kulkas dan mengeluarkan segelas susu dingin.

“Kamu homesick berat ya?” Helen bertanya.

“Semacam begitu.” Ria memberitahu.

“Atau jangan-jangan kangen sama yang di sana?” Helen menebak.

Kali ini Ria kembali tak merespon.

“Apa kamu tau kalo dia juga nungguin kamu? Nandain kalender seperti yang kamu lakuin sekarang?” Helen bertanya setelah meneguk susunya.

Ria lagi-lagi tak merespon.

“Ga pake teknologi buat saling kontak?” Helen bertanya lagi.

“Ceritanya panjang.” Ria akhirnya memberitahu. “Satu hal yang pasti, aku masih punya perasaan buat dia.”

“After all these years?” Helen keheranan, nada suaranya sedikit meninggi.

“Beberapa hal mungkin jadi kenangan, tapi tidak perasaan.”

“Pantes ada begitu banyak pria yang datang, kamu abaikan. Kamu biarkan. Kamu lepaskan.” Helen berkomentar.

Dahi Ria mengernyit. Helen sepertinya menyadari hal tersebut.

“Thomas? Anto? Heru?” Helen memberitahu beberapa nama. “Belum lagi mereka yang kamu kenal di kampus, atau di kantor sekarang.”

“What are you trying to tell, Helen?” Ria bertanya.

“If you can not be with the one you love, love the one you are with.” Helen memberitahu.

Short Story #191: Letting Go

“Jadi, kenapa?” Rose bertanya sambil menaruh gelas kopinya lalu duduk di kursi yang kosong. Beberapa menit yang lalu ia baru saja kembali dari perpustakaan.

“Kenapa apanya?” Jasmine balik bertanya tanpa menurunkan buku yang tengah ia baca. Kakinya membentang sepanjang sofa dalam balutan selimut.

“Well..” Rose membuat gerakan tubuh menandakan ia bertanya.

“He?” Jasmine masih tak menangkap apa maksud teman seapartemennya itu.

Rose mengangkat kedua alisnya. “Jangan bertele-tele, deh. Kamu tau kan maksud aku apaan.”

Jasmine menghela napas. Ia kembali fokus ke bukunya.

“FYI, he loves you.” Rose memberitahu.

Jasmine masih tak merespon. Matanya masih berusaha meneruskan bacaannya walau telinga siap mendengarkan apa kalimat selanjutnya dari Rose.

“Ga susah kok buat tau kalo cowok sebaik itu punya perasaan yang tulus buat kamu, Jas..” Rose memberitahu sambil menyeruput kopinya dengan kedua tangan.

“Iya. Makasih infonya.” Jasmine akhirnya menjawab.

“You should do something about it.” Rise menasihati. “Love him back, or make sure he knows that you’re not having the same feelings.”

Jasmine menghela napas lagi. Bukunya ia simpan, lalu mengubah posisinya dari bersandar menjadi tiduran sepenuhnya di atas sofa.

“Aku belum siap untuk sesuatu hal yang baru.” Jasmine berkomentar. “Aku masih nyaman dengan keadaan begini.”

“Jangan bilang kalo kamu belum move on.”

“Udah.” Jasmine langsung merespon. “Aku cuman lagi menikmati aja masa-masa setelah berhasil move on ini.”

“Oh..”

Jasmine kemudian memejamkan matanya. Ia mencoba untuk tidur namun dalam kepalanya terngiang-ngiang ucapan Rose tadi. Bagaimana ia harus bersikap terhadap cinta seorang pria yang hadir baru-baru ini di hidupnya itu?

“Atau, kamu belum siap buat berkorban ya?”

Dahi Jasmine langsung berkerut mendengar komentar Rose. “Apa maksudmu?”

“Ya.. itu tadi. Karena kamu lagi menikmati masa sekarang, dan belum berani untuk melepaskannya demi sesuatu hal yang baru. Demi hal-hal baru yang bisa jadi kamu alami dengan dia.”

Jasmine diam.

“Jasmine, let me tell you something..” Rose memberitahu. “The best way to appreciate new things that are coming into your life is letting go the things you’ve already had.”

Keinginan yang Terwujud Bertemu Arsenal FC Berkat Telkomsel

Nonton pemain bola beradu kemampuan untuk saling mendapatkan kemenangan, lazim bisa dengan cara ditonton di TV. Kalopun nonton langsung ke stadion, pengalaman berbeda bakal didapatkan karena atmosfer yang berbeda. Nah, kalo sampai ketemu langsung berada di satu ruangan, bisa berinteraksi, atau bahkan foto bareng dan juga salaman sama pemain bola idola? Tentunya jadi pengalaman yang luar biasa dan bakal dikenang seumur hidup, dong. Seperti yang dialami mereka yang ikutan nonton dan atau ketemu Arsenal Football Club wiken (12-14 Juli 2013) lalu.

Dan, saya salah satunya. Tepatnya, saya ketemu dengan beberapa pemain Arsenal Football Club!

Iya, ini Arsenal Football Club yang dari London, Inggris itu. Arsenal yang dilatih sama Arsene Wenger. Arsenal yang beberapa bintangnya antara lain Theo Walcott, Lukas Podolski, Tomas Rosicky, Alex Chamberlain, Olivier Giroud, dan masih banyak lagi.

Wiken lalu, sekurang-kurangnya puluhan ribu orang berhasil mewujudkan mimpi untuk menonton langsung Arsenal FC bertanding, di Stadion Utama Gelora Bung Karno pula! 400an orang pula berhasil mewujudkan mimpi untuk bertemu langsung dengan pemain-pemain Arsenal dan sempat salaman atau foto bareng!

Termasuk saya. *mengulang*

Saya pertama kali “kenal” dengan Arsenal FC kira-kira di periode 1998 akhir. Kalo ga salah, waktu itu dari artikel tabloid olahraga lagi memuat profilnya Dennis Bergkamp – kalo yang ngaku fans Arsenal, pasti tau beliau siapa. Dennis Bergkamp, salah satu pemain penting di timnas Belanda pada jaman itu, adalah salah satu penyerang top yang dimiliki Arsenal.

Trus, siapa lagi pemain Arsenal di jaman itu yang saya ingat? Ada Emmanuel Petit – yang waktu itu juga memperkuat timnas Prancis jadi juara Piala Dunia 1998, trus ada Marc Overmars, David Seaman, dan Martin Keown. Pemain-pemain yang menjadi sejarah dari Arsenal FC, yang kemudian beregenerasi ke masanya Thierry Henry, Patrick Vieira, Emmanuel Adebayor, Cesc Fabregas (sebelum pindah balik ke Barcelona), Robin van Persie (sebelum pindah ke MU), dan Theo Walcott.

Ada 2 “momen” penting dalam sejarah Arsenal yang cukup teringat oleh saya. Yakni pada saat mereka jadi juara Liga Inggris tanpa sekalipun terkalahkan – tahun 2003/2004 (CMIIW), serta pada saat mereka menjejak final Piala Champions Eropa – tahun 2005/2006 – walau kemudian belum berhasil jadi juara Champions.

Saya akui ada klub yang lebih saya favoritkan di Liga Inggris, tapi saya tetap mengikuti perkembangan berita Arsenal FC. Mulai dari transfer keluar masuk pemain, wacana penggantian pelatih Arsene Wenger – yang tetap belum bisa tergantikan, sampai dengan perpindahan stadionnya dari Highbury ke Emirates! Oiya, soal transfer keluar masuk pemain, beberapa yang saya ingat antara lain Mathieu Flamini ke AC Milan, kemudian ada Lukas Podolski masuk sebagai striker, dan juga perpindahan RvP ke MU.

Anyway, pada saat saya dapat kabar bahwa Arsenal FC akan datang ke Jakarta – Indonesia sebagai salah satu bagian dari Asia Tour-nya, saya termasuk yang seneng lho. Kenapa? Karena saya pengen banget bisa ketemu Lukas Podolski – atau minimal ngeliat dari deket lah! :mrgreen: Selain itu, saya juga pengen bisa ngeliat dari deket Theo Walcott dan juga Tomasz Rosicky. Untungnya, berkat Telkomsel keinginan itu terwujud.

Iya, Telkomsel kan jadi Official Mobile Network of Arsenal in Indonesia – dengan kata lain, Telkomsel jadi SPONSOR Arsenal FC Asia Tour di Indonesia.

13 Juli 2013 lalu, setelah sehari sebelumnya dapet undangan via email dan SMS, saya akhirnya bisa beneran ketemu: satu ruangan-tatap muka-foto bareng beberapa pemain Arsenal FC. Ada Theo Walcott, Tomasz Rosicky, Olivier Giroud, Lukas Fabiansky, Alex Oxlade-Chamberlain, Laurent Koscielny, dan Aaron Ramsey yang saya ketemuin di acaranya “The Arsenal simPATI Fan Party” yang diselenggarain Telkomsel. 400-an orang dari seluruh Indonesia dan juga sebagian dari Singapore-Malaysia-Filipina dapetin pengalaman berharga seumur hidup yang mungkin ga bakal keulang lagi.

Berdasar info yang saya terima, Acara “The Arsenal simPATI Fan Party” itu sendiri jadi salah satu rangkaian Telkomsel Football Experience yang dimulai sejak beberapa minggu sebelumnya. Buat yang ngikutin, pasti tau ada acara Meet & Greet legenda Arsenal FC: Freddie Ljungberg, Telkomsel Football Fair, nonton bareng ‘simPATI Big Match’, dan juga ada launching ‘simPATI Starter Pack Arsenal Limited Edition’!

[set_id=72157634650126872]

Back to the event itself, “The Arsenal simPATI Fan Party” itu bener-bener HEBOH! Acara yang dipandu sama duet Tamara Geraldine & Nico Siahaaan itu beneran memanjakan undangan yang dateng. Ada bagi-bagi hadiah dengan lelang poin Telkomsel, ada undian buat interaksi dengan pemain Arsenal FC, juga ada undian buat nonton latihan Arsenal FC malam harinya.

Yang paling bikin HEBOH itu adalah saat pemain Arsenal FC bersiap masuk ke dalam ruangan acara, hampir seluruh fans yang dateng nyanyi bareng lagu dukungan Arsenal FC. Bulu kuduk saya sampe merinding dengernya.. And you know what, saat pemain Arsenal FC itu mulai dikenalin satu-satu, seluruh ruangan sampe bergemuruh sambutan yel-yel nama masing-masing pemain Arsenal FC itu. Well, the fans who attended clearly really LOVE Arsenal FC.

Keseruan acara berlanjut waktu sesi foto bareng dimulai. Seluruh fans yang hadir diundang ke depan per sepuluh orang sesuai dengan nomer urutan kursi duduk. Dan ya, walaupun MC serta pihak keamanan udah ngasitau soal dos & don’ts, tapi tetep aja ada yang curi-curi kesempatan buat minta tanda tangan ke jersey yang dipake, foto bareng personal, dan lain-lain. Saya pribadi, setelah kesempatan foto bareng, “cuma” sempet salaman sama Tomasz Rosicky dan juga Theo Walcott – sayangnya ga ada bukti foto. 🙁

satuframe-by yeti_sugyati
Foto bareng pemain-pemain Arsenal FC. Thanks @yeti_sugyati atas fotonya!

Anyway, it’s such a GREAT event. Jelas, acara itu bener-bener bikin keinginan dan mimpi fans yang hadir terwujud: untuk bisa lebih dekat dengan pemain-pemain Arsenal FC yang biasanya cuman bisa diliat di TV-untuk foto bareng-untuk minta tanda tangan asli. Saya sendiri setelah foto bareng (sekitar jam 5 sore) langsung pulang, karena saya berencana untuk buka puasa di rumah, sementara acara masih berlanjut sampai dengan jam 6 sore.

Terima kasih Telkomsel. Terima kasih Arsenal FC. Kalian benar-benar tahu bagaimana cara membuat keinginan banyak orang terwujud.

NB: Baca juga tulisan saya di sini!

Mengelilingi Tempat Tertinggi di Sydney Tower Eye

Setiap kota pasti punya ciri khas berupa landmark. Entah itu gedung tertinggi, bangunan termegah, terantik, terluas, atau apapun. Yang pasti punya. Kalopun ga punya, pasti ada satu bangunan atau area yang emang jadi ciri khas kota itu.

Begitupun Sydney, dengan Sydney Tower Eye yang jadi salah satu landmark-nya.

Sydney Tower Eye dilihat dari Hyde Park

Sydney Tower Eye, singkat cerita adalah tempat paling tinggi di Sydney. Berdasar kelakar yang saya dengar dari seorang kenalan, dulunya menara ini tidak ada. Lalu seorang warga Sydney berujar bahwa sebagai salah satu kota maju, mereka harus punya sebuah menara layaknya menara atau gedung tinggi lain di dunia, maka diciptakanlah Sydney Tower Eye ini. Benar atau tidak, biarlah menjadi misteri. *halah*

Beda sama Monas di Jakarta, Sydney Tower Eye ga dikelilingi sebuah lapangan atau area terbuka khusus. Sydney Tower Eye justru dikelilingi deretan bangunan dan toko-toko. Akses menuju Sydney Tower Eye sendiri melalui lantai 5 sebuah pusat perbelanjaan bernama Westfield – pusat perbelanjaan yang berlokasi di Pitt Street dan juga Market Street. Pas banget di tengah-tengah CBD Sydney! Soal tiket, seperti pernah saya bilang di postingan sebelumnya, mendingan beli via online atau beli paketan sama objek wisata lain di Sydney. Pasti dapet lebih murah dibandingkan Go Show.

Eiya, sebagaimana gedung tinggi lain di dunia, lift di dan dalam Sydney Tower Eye ini cepet kok. Ga sampe semenit dari lantai 5, udah sampe ke Observation Deck. Selain itu, juga ada teater 4D yang emang bisa dikunjungi dalam perjalanan menuju ke atas dari loket tiket.

Trus, apa aja sih yang spesial dari Sydney Tower Eye selain jadi tempat tertinggi di Sydney? Banyak! Mau tahu? Ini dia:

  1. Pemandangan menyeluruh dari seluruh penjuru Sydney. Barat-Utara-Timur-Selatan. Dan itu bisa dikelilingi dalam 1 tempat yang tak putus di Observation Deck.
  2. Buat yang punya nyali cukup besar, pengalaman jalan-jalan di area outdoor di tempat tertinggi bisa jadi pilihan tambahan dengan ikutan Skywalk. Pastinya ada tiket tambahan selain tiket masuk ke Sydney Tower Eye, tapi ya buat pengalaman sekali seumur hidup ya jangan sampe kelewat – kecuali anggaran terbatas macam saya. Jangan khawatir, aman kok.
  3. Pernah makan di mana aja? Kalo pengen ngerasain makan di tempat tertinggi, ada lho pilihan Sydney Tower Dining. Makan malam sama orang tersayang di tempat tertinggi, pemandangannya kan bagus. Siapa tau ada yang pengen bikin prosesi lamaran di situ. *eh*
  4. Di Sydney Tower Eye juga ada beberapa poin spesial antara lain bis surat yang masih aktif (tapi saya belom coba sih), toko souvenir, dan juga tempat pembuatan pin manual gitu.

Cara buat ke sana? Gampang kok. Karena dia bentuknya unik dan bisa keliatan dari hampir seluruh penjuru Sydney, begitu kita bilang pengen ke Sydney Tower Eye juga (hampir) semua orang tahu. Kalo masih bingung juga, bisa diliat infonya di sini.

Kapan paling pas ke sana? Banyak yang bilang ga ada waktu yang pas. Tapi saya pribadi, pas kunjungan ke sana, timing-nya pas deket-deket sama waktu sunset –matahari tenggelam gitu. Ya, selain buat nyari experience berada di tempat tinggi dan ngeliat suasana perubahan siang/sore ke malam, saya juga nyari kesempatan buat foto-foto sih. Hasilnya? Saya dapet experience sunset yang seru berupa pemandangan pelangi di Timur Sydney, dan pemandangan matahari tenggelam di Barat Sydney. Foto-foto lengkapnya ada di bawah ini ya..

[set_id=72157634300043768]

Kamu pernah ke tempat paling tinggi di mana aja?

Short Story #190: Hard

“Jadi, apa keputusanmu?” Nia mencaritahu sambil mendudukkan dirinya di kursi café.

“Belum tahu.” Ari menjawab sambil menghembuskan napasnya.

“It has been a week since I made you found the paper.” Nia bertanya lagi.

Ari tak menjawab. Ia hanya melirik wanita di depannya itu, lalu melirik selembar kertas yang yang berisikan sebuah ajakan yang tidak bisa langsung ia setujui.

Nia membenarkan posisi duduknya lalu mengambil buku menu kecil di meja.

“Aku kira begitu aku datang sekarang, aku tinggal dapet jawaban dan bisa langsung ke rencana berikutnya.” Nia menggumam sambil mengamati daftar makanan.

“Ga segampang itu, Nia.” Ari memberitahu. Kali ini kertas di tangannya sudah di meja dan ia menatap Nia yang balik menatapnya dari balik buku menu.

“Don’t you love me?” Nia bertanya. Buku menu ia simpan, dan ia sedikit mencondongkan badannya ke arah Ari.

Ari tak menjawab.

“Kamu serius ga sih?”

“Aku serius.”

“Trus kenapa belom ada keputusan juga?” Nia bertanya lagi dengan nada menekan.

Ari lagi-lagi tak menjawab.

“Aku kira hubungan kita bakal lanjut ke jenjang yang lebih serius.”

“Memang akan lanjut.” Ari berkomentar.

“Tapi-“

“Aku cuman belum tahu apakah sudah waktunya.” Ari menyela.

Nia terdiam.

“Lalu mau kapan? Sampai kapan kita masih harus berhubungan seperti ini?”

Giliran Ari yang terdiam.

“Kenapa kamu pengen ke jenjang yang lebih serius, sekarang?”

“Karena kupikir sudah waktunya.”

“Untukmu?” Ari bertanya.

“Untuk kita.” Nia memberitahu.

Ari menghela napas.

“You don’t love me, do you?” Nia menuduh dengan nada suara yang dibuat serendah mungkin.

“I love you Nia. I do.” Ari lekas menjawab.

Nia mendengus. Ari kembali menghela napas.

“Aku ga pernah nyangka kalo kamu bakal susah banget buat ngambil keputusan mau nikah apa engga aja sama orang yang kamu cintai…” Nia berkomentar sambil memainkan ujung rambutnya.

Ari diam sejenak.

“Nia, even though making or taking decisions are hard for me, living the decisions and still believing that I made the right decisions are harder.” Ari memberitahu. “Itu makanya aku masih belum bisa ngasih keputusan.”

Nia menatap Ari dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasanya perih.

“It won’t be that hard if you let me stand beside you.” Nia memberitahu.

Gangster Squad: Classy Modern “Cowboys”

poster film Gangster Squad dari wikipedia (click to know more)

Cerita-cerita dan juga film-film bertemakan mafia, jaman 1920-1930an dan juga 1940-1950an di Amerika Serikat, ataupun film koboi, selalu menarik perhatian saya. Sebut saja: seri The Godfather, Magnificent Seven, Wild Wild West (the original), sampai dengan yang paling baru itu The Great Gatsby. Film-film seperti itu semacam punya daya tarik tersendiri, apalagi kalo semuanya jadi satu.. mungkin jadinya ya seperti film Gangster Squad.

Yep, film yang disutradarai Ruben Fleischer ini, menurut saya memadukan berbagai elemen yang menarik bagi saya. Yakni mafia, jaman 1940-1950an, dan juga koboi. Tembak-menembak, jaringan kejahatan, dengan gaya berkelas (classy) jadi ciri khas film ini, yang didukung juga oleh cerita yang – menurut saya – BAGUS. Ya.. mungkin bisa ditebak di beberapa titik cerita, tapi ya.. tetap saja bagus.

Bukan, ini bukan ala The Untouchables yang perpanjangan dari agen federal, Gangster Squad ini lebih ke sebuah unit khusus kepolisian kota beranggotakan beberapa orang Polisi yang melakukan “kejahatan” terhadap kejahatan. Fight fire with “fire”. Tepatnya, melawan bisnis yang jadi backup sebuah jaringan kejahatan, dengan cara dirampok, dibakar, dan “dihabisi” oleh para Polisi. Tapi semua uang ataupun penghasilan dari bisnis dari kejahatan itu ga diambil, melainkan tetap dihanguskan – semuanya.

Tembak-menembak, raut muka yang khas, hingga pakaian yang begitu menawan sesuai era 1940-1950an benar-benar membuat saya tak bisa melepaskan mata dari film berdurasi sekitar 113 menit ini. Film ini jadi berasa film koboi di era modern dengan gaya pakaian dan cara bertarung yang amat-sangat berkelas. Apalagi didukung akting dari Josh Brolin (Sgt. John O’Mara), Ryan Gosling (Sgt. Jerry Wooters), dan yang-cocok-banget-jadi-penjahat Sean Penn (Mickey Cohen), plus Emma Stone (Grace Faraday – yang muncul dikit banget, tapi tetep jadi pemanis film ini).

Jalan cerita dari film ini juga menurut saya cukup oke – walau muncul beberapa pertanyaan di beberapa tempat, sbb:

  1. Waktu rumahnya John O’Mara diserang kelompok suruhannya Mickey, sebuah mukjizat besar istrinya yang lagi mengandung dan siap-siap melahirkan ga (diceritakan) kena cedera sedikitpun dan melahirkan dengan selamat di bak mandi. IYA, DI BAK MANDI! – jadi penasaran, bak mandi buatan amrik bisa tahan peluru kali ya? *eh*
  2. Pas Conwell diserang penjahat, kok bisa dia ga sadar sama sekali ada orang dateng? Apa sebegitu kedap suaranya “markas” Gangster Squad atau headhphone, jadinya ga nyadar ada yang dateng? Atau, dia terlalu asyik nguping rumahnya Mickey?
  3. Trus, pas night club ditembakin dari luar buat nyerang salah satu “utusan” keluarga dari Chicago atau New York itu, kenapa pengunjung dari dalem night club ga ada yang nyadar sama sekali?

Tapi ya, itulah film. Kalo katanya @warm, nonton film itu harus optimize otak kanan – dengan kata lain, jangan kebanyakan mikir. Just enjoy the show.

Eiya, kalo katanya Wikipedia sih, selain Gangster Squad yang diceritakan di film ini, aslinya pada era 1940-1950an di Los Angeles emang ada Gangster Squad yang asli sih. Jadi penasaran ya, apa aksi-aksi mereka sama atau mendekati dengan yang ada di film ini.

Kamu udah nonton film Gangster Squad belom?

Short Story #189: Someone Who Makes Me Feel Perfect

“I think I’m gonna quit.” Mela berkomentar sambil berhenti menulis bukunya. Penanya ia simpan di tengah-tengah lipatan buku, lalu menghembuskan napasnya.

Sambil menyandarkan badannya ke sofa, Mela menggosok-gosokkan kedua tangannya. Menghangatkan. Menghilangkan rasa dingin akibat paduan pendingin ruangan café dan hujan deras sore hari.

“You said once, writing is your passion.” Desi mengomentari sambil mengepulkan asap rokoknya.

“Ya, aku bukan berhenti nulis. Tapi berhenti yang lain.” Mela memberitahu sambil kemudian mengempit kedua tangannya ke dalam ketiak sambil melihat keluar jendela café. “Berhenti nyari tepatnya.”

“Mister perfect?” Desi menebak.

Mela mengangkat sebelah alisnya.

“Jodoh itu bukan dicari, tapi ditemukan.” Desi mengomentari lagi.

“Iya. Aku tahu itu.”

“Trus, kenapa kamu berhenti? Emangnya kamu udah dapet yang sempurna?”

“Belum, sih.” Mela memberitahu. “Atau mungkin aku udah ga perlu lagi.”

“Kok bisa?”

Mela menarik napas, sementara Desi penasaran sambil kembali mengepulkan asap rokoknya lagi setelah sebelumnya memenuhi dadanya dengan asap rokok tersebut.

“Aku punya Dion.” Mela memberitahu.

“Dion?” Desi kemudian tertawa. “Sejak kapan kamu jadi pasrah nerima dia? Sejak kamu ga dapetin mister perfect sesuai kriteria kamu?”

“I will never find that perfect person for me.” Mela mendengus. “But I can find someone who makes me feel perfect when I’m with him.”

#TselNEDTrip: Jakarta-Semarang-Solo, 27-28 Juni 2013 with @Telkomsel

Bermula dari sebuah DM di twitter dan juga email, jadilah (sebelum) wiken lalu saya “jalan-jalan” ke Solo melalui Semarang dari Jakarta, barengan rombongan media dan Telkomsel yang lagi ngadain Network Drive Test. Tanggal pasti pelaksanaannya 27-28 Juni lalu.

Network Drive Test Telkomsel
Network Drive Test Telkomsel

Berdasar press release yang saya terima dari Telkomsel di perjalanan tersebut, rangkaian acara ini jadi salah satu persiapan menjelang musim Ramadan, mudik, Lebaran, dan arus balik buat ngetes jaringan dan sinyal Telkomsel. Berita lengkap seputar Network Drive Test dari Telkomsel, bisa dilihat di sini, di sini, atau di sini.

Kenapa Telkomsel ngadain Network Drive Test? Karena di musim Ramadan, mudik, Lebaran, dan arus balik nanti traffic komunikasi Telkomsel diprediksi meningkat. Tahu dari mana? Ya pastinya dari lesson learn tahun-tahun sebelumnya. Dan kenapa jalurnya Jakarta-Semarang-Solo? Kalo ga salah sih, berdasar percakapan di bus sepanjang jalur Semarang-Solo, jalur Jakarta-Semarang-Solo termasuk yang peningkatan traffic komunikasinya paling tinggi pada saat musim mudik dan Lebaran.

Alhasil, perjalanan yang saya pribadi awali dengan jadwal kereta commuterline paling awal dari stasiun terdekat dari rumah menuju stasiun kereta Gambir supaya sampe sana jam 5an pagi lewat, seluruh peserta #TselNEDTrip ngetes jaringan pake alat komunikasi (baca: smartphone, tablet, dan juga modem) masing-masing. Saya sendiri ngetes pake BlackBerry dan juga android.

Sepanjang perjalanan naik kereta Argo Muria buat rute Jakarta-Semarang, yang juga ada gerbong kereta wisata, peserta #TselNEDTrip ga berenti-berentinya dapet hiburan dan juga MAKANAN! :mrgreen: Hiburannya mulai dari live music, games yang dipandu MC @ichasasmita, dan juga film yang disetel secara sentral di dalam kereta. Oiya, sepanjang perjalanan juga ada penjelasan mengenai Network Drive Test dengan narasumber Nurdianto – Head of Radio Access Network Quality Management Jawa Bali Department Telkomsel, dan juga Pak Abdus Somad Arief – Direktur Network Telkomsel. Pas ikutan penjelasan itu, kalo ga berasa wartawan (lagi), ya.. berasa jadi mahasiswa teknik elektro telekomunikasi. 2 cita-cita tercapai sekaligus deh *eh*

Abdus Somad Arief - Direktur Network Telkomsel lagi ngasih penjelasan
Abdus Somad Arief – Direktur Network Telkomsel lagi ngasih penjelasan

Tiba di Semarang, abis rehat sejenak langsung aja lanjut perjalanan naik bus menuju Solo. Jujur, saya belum pernah ke Semarang, apalagi Solo. Kalo lewat-lewat aja, mungkin pernah. Tapi ga pernah sambil lihat-lihat pemandangan sekitar. Dan syukurnya, sambil naik bus itu saya jadi bisa lihat-lihat sekitar Semarang menuju Solo.

Sekitar jam 7-8an malam, sampailah di Solo. Langsung masuk hotel, dan siap buat gathering #TselNEDTrip. Apa aja yang disampein di gathering itu? Antara lain peresmian BTS On Air Telkomsel ke-7500 di 2013– yang totalnya jadi 62ribu se-Indonesia, mudik bareng Telkomsel, kesiapan posko mudik Telkomsel Siaga di jalur mudik, sampai dengan pemaparan hasil Network Drive Test. Berita lengkapnya bisa dilihat di sini, atau di sini. Kalo dari sisi saya pribadi, Network Drive Test-nya cukup berhasil karena Alhamdulillah, seluruh kebutuhan saya pake Telkomsel sepanjang perjalanan bisa terpenuhi. Ya pake aplikasi di smartphone, ya menelepon, ya terima telepon. Syukurnya lancar. Salah satu bukti kalo Telkomsel emang siap ngadepin musim Ramadan, mudik, Lebaran, dan arus balik. Mudah-mudahan pas hari H mudik dan arus balik, sinyal dan traffic komunikasi Telkomsel tetap lancar. 🙂

Peresmian BTS On Air Telkomsel ke 7500 di 2013, total jadi 62000. Di-mention juga lho sama @Telkomsel di http://t.co/ZkAMwbY2aI

Eiya, di gathering itu ada penampilan Isa Raja – yang ikutan X Factor itu lho, bersama bandnya. Ga lupa pula ada Magdalena yang nge-MC bareng Icha Sasmita. Jam berapa gatheringnya kelar? Yang pasti sih larut, dan saya SENENG! (yang ngikutin twit saya pasti tau kenapa saya seneng *eh*)

Besok paginya, rombongan dibagi jadi 2 kelompok – kelompok city tour pagi, dan kelompok city tour siang. Saya sebenernya kebagian kelompok city tour siang – secara flight saya ke Jakarta dijadwalkan setelah jam 6, tapi ya.. singkat cerita saya pun jalan duluan dengan city tour pagi. Ke mana aja? Yang pasti sih ke Laweyan! Belajar ngebatik, dan juga liat-liat suasana sekitar.

Kelar ngebatik, beberapa pria yang muslim pun beranjak Jumatan dekat dengan rumah makan yang udah ditentuin panitia #TselNEDTrip – saya juga Jumatan dong. 🙂 Kelar Jumatan, langsung makan siang dan sementara peserta city tour pagi langsung ke bandara Adi Soemarmo buat ngejar flight, saya dan @agushamonangan justru menuju tempat standby dari city tour sore. Agendanya pun ternyata sama, yakni ke Laweyan (lagi)! 😆 Ya… lumayan lah, kali kedua ke Laweyan di hari yang sama buat ngebatik, saya udah cukup lancar. :mrgreen:

Selesai dari Laweyan, langsunglah menuju bandara dan persiapan balik ke Jakarta. Walau “diwarnai” delay 1 jam karena faktor dari maskapainya, tapi ya Alhamdulillah, saya tiba di Soekarno-Hatta dengan selamat. Lebih bersyukurnya lagi, bisa nebeng pula dengan bis yang sudah disediakan panitia #TselNEDTrip yang menuju kantor Telkomsel di Gatot Subroto. Saya sih turun di sekitar Kuningan, baru kemudian pulang ke rumah.

Yang paling berkesan dari perjalanan #TselNEDTrip ini, selain karena (akhirnya) saya bisa liat-liat kota Solo, sbb:

1. Bisa liat pinggir laut secara dekat dari atas kereta Argo Muria. Iya, saya baru tau kalo jalur kereta api Jakarta-Semarang itu lewat pinggir laut persis. Kalo ga salah deket Pekalongan atau Batang itu ya. CMIIW.

Pinggir laut dilihat dari atas Argo Muria
Pinggir laut dilihat dari atas Argo Muria

2. Bisa foto bareng Magdalena! :mrgreen:

Foto bareng Magdalena
Foto bareng Magdalena

3. Bisa kenal (dan ketemu) dengan @agushamonangan, @IDberry, @aditawiharto, @mrbambang, dan masih banyak lagi rombongan #TselNEDTrip yang ga bisa saya sebut satu-persatu. Baik itu dari media, panitia, maupun dari Telkomsel.

4. Jadi tau beberapa istilah telekomunikasi dan juga teknis pelaksanaan Network Drive Test meski ga mendetail. Tapi, hal-hal semacam itu aja udah bikin saya seneng karena berasa jadi mahasiswa Teknik Elektro Telekomunikasi. :mrgreen:

5. Ngebatik di Laweyan! Yay! Ini hal yang jarang-jarang banget bisa saya lakukan, secara ngebatik langsung di salah satu wilayah yang emang terkenal dengan batik gitu lho.. 🙂

Ngebatik di Laweyan. Foto by @aditawiharto – https://twitter.com/aditawiharto/status/350450135798534144/photo/1

6. Trus apa lagi ya? *mikir*

Well, semoga hasil dari Network Drive Test kemarin terbukti kehandalannya saat hari H musim mudik dan arus balik kelak. Terima kasih Telkomsel! Thanks juga buat semua panitia dan rombongan yang udah ikut serta. 🙂

Short Story #188: Awal yang Baru

“Kenapa sih kamu ngelakuin ini?” tanya Angel.

“Perjalanan ini?” Erik justru balik bertanya. “Aku sih pengennya kita bisa lebih mengenal aja dengan perjalanan ini. Pemandangannya juga bagus kan sepanjang jalan.”

Angel menghela napas lalu meraih kotak yang telah berada di depannya. “Bukan itu, tapi ini.”

Erik, lelaki yang tengah duduk di depan Angel hanya bisa terdiam. Ia tak menyangka jika setelah menyodorkan sekotak cincin justru akan berujung pertanyaan akan penyebab mengapa ia melakukannya.

“I love you.” Erik memberitahu. “I’m wishing us to get married.”

“Begitu aja?” Angel seakan meragukan.

“Emang begitu realitanya.” Erik memberitahu.

“Trus dulu kenapa kamu ngejauhin aku?” Angel bertanya lagi. Kali ini dahinya berkerut.

Erik menarik napas dan menghembuskan dengan mulutnya. Ia menoleh sejenak ke pemandangan di luar jendela kereta yang sedang bergerak, lalu membiarkan punggungnya menempel ke sandaran kursi.

“Itu kan masa lalu.” Erik berkomentar.

“Tapi masa sekarang ga akan ada kalo ga ada masa lalu.” Angel merespon.

“Buat aku lebih penting masa sekarang dan masa depan.”

“Benarkah?”

“Iya, benar.” Erik menjawab. “Tapi bukan berarti ga peduli masa lalu, ya.”

“Trus, kenapa dulu ngejauhin aku?” Angel mengulang pertanyaannya.

Erik kembali menarik napas dan menghembuskannya.

“Apa sih maumu?”

“Ya aku penasaran aja, dulu kamu begitu, sekarang begini…” Angel memberitahu. “Aku ga mau aja, sekarang kamu mau serius sama aku sampe ngelamar segala, tapi di kemudian hari.. who knows, kamu malah pergi dengan mudahnya seperti kamu dateng kembali ke hidup aku seperti sekarang ini.”

Erik diam. Mau tak mau ia memikirkan kata-kata Angel tersebut.

“Waktu mengubah semuanya.” Erik memberitahu.

“Termasuk mengubah nanti?” Angel bertanya.

“Angel, ga ada orang yang bisa kembali ke masa lalu dan mulai lagi sebuah awal yang baru. Aku yakin itu. Tapi…” Erik berhenti sebentar. “Siapapun bisa memulai sebuah awal yang baru hari ini, dan ngebuat sebuah akhir yang baru.”