Ketemu Tokoh Dunia di Madame Tussauds, Sydney

Siapa aja tokoh dunia yang jadi idola kamu? Kalo saya ada Nicole Kidman dan Barack Obama. Itu beberapa tokoh dunia yang pengen saya ketemuin, selain karena mereka masih hidup, juga karena saya dan mereka hidup di jaman yang sama. *halah* Trus, emang ada tokoh dunia yang pengen saya ketemuin? Jelas ada, antara lain Marilyn Monroe dan juga Heath Ledger. Tapi ya.. mungkin itu cuman mimpi.

Kenapa saya bilang mimpi? Karena saya bukan artis, bukan (atau belum tentu?) politisi, apalagi orang dengan kekayaan selangit macam Bill Gates. Saya cuman seorang Billy Koesoemadinata, yang senang nulis, senang jalan-jalan, dan senang foto-foto. :mrgreen:

Tapi saya juga bukan sekadar bisa mimpi doang. Sebisa mungkin saya bakal ngelakuin usaha-usaha buat ngebuat mimpi-mimpi itu terwujud. Saya pernah baca kata-kata positif sebagai berikut,

Jika engkau bersungguh-sungguh, maka seluruh alam semesta akan mendukungmu.

Saya kurang ingat persis bacanya di mana. Entah itu di buku, entah itu di film. Tapi yang pasti, kata-kata positif itu (bisa jadi) benar adanya. Setidaknya, sesuai dengan pengalaman saya pribadi. 🙂

Iya, saya beneran bisa ketemu tokoh-tokoh dunia yang saya impikan itu* (keterangan *=syarat dan ketentuan berlaku 😛 ). Ini nih, bukti foto-fotonya di galeri di bawah ya.

[set_id=72157634300022420]

Ehehehe.. Jangan kecele ya, tapi semua tokoh dunia di galeri foto itu asli lho. Asli replika dari tokoh aslinya. :mrgreen: Nicole Kidman, Barack Obama, Nelson Mandela, Ratu Elizabeth II, Marilyn Monroe, Johnny Depp, Bruce Willis, Heath Ledger, Iron Man, Einstein, Jackie Chan, dan masih BANYAK LAGI! Semuanya bisa ditemuin di Madame Tussauds, Sydney, Australia yang letaknya deket Darling Harbour.

Kok bisa ke sana? Gimana caranya? Berapa harga tiketnya? Kapan ke sana lagi? Ada oleh-oleh, ga?

Eng.. singkat cerita saya ke sana hari Jumat 14 Juni 2013 lalu. Masih sekitar seminggu yang lalu lah.. Dalam rangkaian pekerjaan sih, tapi saya sempet-sempetin ke sana. Karena e karena, emang udah cita-cita pengen ke Madame Tussauds, di lokasi manapun. Kebanyakan teman-teman saya sih ke Madame Tussauds yang di Hong Kong — dan Alhamdulillah, saya sempetnya ke yang di Sydney, Australia. 🙂

Oiya, beberapa catatan seputar Madame Tussauds Sydney ini, sbb:

  1. Beli tiket masuk secara online. Selain lebih murah dan praktis, juga banyak promo yang bisa digabung sama objek wisata lainnya di Sydney. Kemarin saya beli yang sepaket dengan tiket masuk Sydney Tower Eye **. (**=ceritanya di postingan lain ya)
  2. Kalo mau menikmati koleksinya, sebisa mungkin datang di awal-awal jam buka. Pengunjungnya masih sepi (banget). Trus gimana kalo mau foto-foto? Tenang, ada fotografer Madame Tussauds yang bisa bantu, ataupun ada beberapa pengunjung yang bisa dimintain bantuan — tapi ya, emang ga semudah kalo ke sana bareng temen sih.
  3. Ketahui dulu siapa aja tokoh yang ada di sana. Koleksi-koleksi Madame Tussauds di seluruh dunia itu ga semuanya sama. Khusus yang di Sydney ini, selain tokoh-tokoh dunia macam presiden dan tokoh legendaris macam Marilyn Monroe, juga banyak tokoh-tokoh asli Australia atau Inggris. Jelas Presiden Soekarno ga ada di Sydney, melainkan adanya di Hong Kong.
  4. Bawa duit yang cukup, kalo bisa minimal AUD 50. Buat apa? Buat beli memorabilia alias oleh-oleh, terutama foto-foto bagus yang dibuat sama fotografer Madame Tussauds.
  5. Trus apa lagi ya?

Intinya sih, kalo emang lagi ke kota yang ada Madame Tussauds macam di Sydney begini, saya nyaranin banget buat sempetin dateng. Sebisa mungkin, anggap harga tiket yang cukup tinggi (kalo di-compare sama harga tiket di Indonesia) sebanding dengan pengalaman dan foto-foto yang bakal didapat.

Trus, yang mana di Madame Tussauds yang jadi favorit saya? Jelas Nicole Kidman. Tapi, dari sekian banyak foto di sana, saya paling suka foto yang ini nih.

thanks for lending me your desk, mister Obama! ~ taken at Madame Tussauds, Sydney, June 14, 2013.

 

Kapan lagi coba bisa pose begitu sama Barack Obama? 😛

Kamu udah pernah dateng ke Madame Tussauds belum?

Short Story #187: Dream Girl

“Rambut panjang sepunggung, tinggi, kurus, dan senang jalan kaki.” celetuk Sheila sambil meletakkan majalah hiburan ke atas meja. Carlo yang berada di depannya dari tadi, memperhatikannya tanpa suara.

Sheila kemudian menarik napas, sambil menggerutu pelan. Ia mengangkat kedua kakinya ke atas sofa sambil lalu menengadahkan kepalanya ke sandaran sofa. Melihat ke arah langit-langit.

“Kenapa sih, Yang?” Carlo akhirnya penasaran.

“Kamu suka cewek seperti itu, ‘kan?” Sheila balik bertanya tanpa bergerak dari posisinya.

“Eng.. ya.. aku suka. Tapi aku lebih suka kamu.” Carlo menjawab.

“Kok bisa?” Sheila menarik kepalanya lalu menatap Carlo lalu mencari posisi nyaman sambil melipat kedua kakinya di sofa.

“Ya.. kamu kan pacar aku.” Carlo memberitahu.

“Tapi aku kan ga sesuai kriteria itu.. Rambutku pendek sebahu, tinggiku nanggung, aku ga kurus, dan aku paling males kalo kamu ajak jalan kaki.”

“Ya.. iya sih.”

“Nah, trus kenapa kamu masih suka aku?” Sheila bertanya lagi.

Carlo diam tak menjawab.

Sheila kemudian menghela napas sambil menengadahkan kepalanya ke sandaran sofa. Membiarkan Carlo.

“Aku jauh banget ya dari kriteria dream girl kamu.” Sheila berkomentar.

“Lho, kok kamu bisa bilang begitu?” Carlo merespon. “Jangan gitu ah. I like you the way you are.”

Sheila kembali menarik kepalanya. Tatapannya sedikit tajam.

“Tapi aku ga sesuai kriteria kamu, Carlo! AKU BUKAN DREAM GIRL KAMU!” nada suara Sheila sedikit meninggi.

Carlo justru tersenyum sejenak sebelum menjawab. “Maybe you’re not my dream girl. Maybe you’re out of type that I would really like. But… you’re better than my dream girl.”

“Hah?”

“Iya. You’re better than my dream girl.. because you’re real.” Carlo memberitahu. “Because I have you with me, not just in my dreams.”

A Good Day to Die Hard: Running Out of Story?

poster taken from wikipedia  *click for page source*

Susah mati: ditembak, terluka, berdarah-darah tapi ga mati-mati. Bruce Willis, a.k.a. John McClane, si Polisi dari NYPD yang sempat pindah ke LAPD dan kemudian pindah lagi ke NYPD. Ya.. secara logis, kalo gampang mati ga bakal dong dia jadi tokoh utama di filmnya.. *eh*

Sejak Die Hard, Die Hard 2 (Die Harder), Die Hard 3 (Die Hard with Vengeance), dan Die Hard 4.0 (Live Free or Die Hard) total ada 4 film di seri Die Hard & John McClane ini – sebelum ada yang kelima ini. Sempet ngira bakal “abis” di film keempat, eh ga taunya dibuat film kelima dengan judul A Good Day to Die Hard.

Iya, saya kira bakal “abis” di film keempat karena menurut saya film keempat itu puncak dari “susah mati”-nya si John McClane dan juga penghabisan dari tokoh antagonis yang dimunculkan di setiap film. Well, film pertama berkisar pada penyanderaan sebuah gedung & perusahaan, film kedua pembajakan bandara & penyalahgunaan kemampuan militer, di film ketiga berkisar pada pembalasan dendam dari film pertama sekaligus pencurian emas, hingga film keempat berupa penyerangan menyeluruh terhadap sistem dan struktur kemapanan negara. Sudah seperti itu? Iya, ultimate story dari seluruh seri Die Hard menurut saya berpuncak di film keempat. Tapi nyatanya, itu cuman anggapan saya aja karena produser-produser Hollywood melanjutkan seri tersebut.

Siap-siap ada spoiler…

A Good Day to Die Hard adalah sekuel keempat sekaligus film kelima dari seri Die Hard. Bagus? Menurut saya cukup, tapi tidak cukup bagus. Iya, so-so lah.. kalo di skala 10, saya menilai film ini sekitar nilai 6 dan 7. Mungkin 6,5 tapi ya.. pokoknya antara nilai 6 dan 7. Kenapa? Karena menurut saya ceritanya “sedikit” dipaksakan.

Well, saya akui saya bukan Die Hard fans ataupun John McClane fans, tapi saya mengikuti perkembangan ceritanya dari film ke film. Dan, menurut saya film kelima ini dipaksakan karena sbb:

  1. John McClane dibuat melakukan aksinya di luar negerinya sendiri – terlepas dari keberadaan Jack McClane (anaknya) yang sedang melakukan operasi CIA. Iya, “dipaksa” melakukan aksi di luar negeri, karena di dalam negeri sudah ga ada “tantangannya” lagi.
  2. Chernobyl seperti dipaksakan masuk ke dalam film agar terlihat lebih masuk akal tentang bahan-bahan radioaktif yang tertinggal. Di dalam film, bahan-bahan radioaktif tersebut yang rencananya akan digunakan untuk teror yang lebih besar.
  3. Kehadiran anak gadis dari tokoh antagonis, yang dibuat seolah-olah sebuah twist di dalam cerita – namun tetap saja penonton akan melihatnya sebagai pemanis.
  4. Aparat keamanan Rusia terlihat kurang preparatif dan kurang responsif terhadap pengamanan sidang, dan pengeboman yang terjadi. Kalo emang bener tokoh Yuri itu jadi lawan dari salah satu pejabat negara, ya harusnya pengamanannya lebih oke dong. Apalagi pejabat negaranya bilang di awal film, “…semua orang di sidang itu orangku.” – atau mungkin justru karena itu, jadinya kurang ya pengamanannya?
  5. Petugas kepolisian jalan raya kurang terlihat sepanjang film – terutama di adegan pengejaran antara John McClane, antagonis, dan Jack McClane.
  6. Umm.. apalagi ya? *mikir*

Selain karena hal-hal yang seperti “dipaksakan” agar sesuai dengan plot cerita, film kelima Die Hard ini masih tetap mempertunjukkan beberapa poin positif mengenai cerita dan juga nilai (values) yang erat kaitannya dengan kehidupan nyata. Eng.. jangan langsung mengarah ke soal perjuangan mengejar penjahatnya ya, tapi coba ke hal-hal kecil yang (mungkin) diabaikan sehari-harinya. Mau tahu?

  1. Family does matters. Itu hal yang saya dapatkan dari A Good Day to Die Hard (dan juga dari film-film sebelumnya). Sebuah keluarga itu penting, tak peduli apa pun pekerjaanmu, seberat dan setangguh apapun hal yang harus dihadapi setiap harinya, keluarga tetap haruslah menjadi prioritas. Kenapa? Agar sebuah keluarga tetap harmonis, serta perkembangannya tetap baik.
  2. Komunikasi itu penting, terutama bagi orang-orang terdekat. Ya, ga musti setiap menit, setiap jam, ataupun setiap hari. Tapi masa’ iya seminggu sekali ga ada kabar sama sekali? Come on! Di jaman teknologi makin canggih setiap harinya, dan makin banyak pilihan komunikasi? Saya nulis ini, karena komunikasi dengan orang-orang terdekat seenggaknya bakal ngebuat mereka – yang kita anggap dekat, tetaplah merasa diperhatikan. Yes, I do believe in that.
  3. Let the officials do their work, don’t interrupt only if you’re requested to do that. Petugas pemerintah, aparat keamanan, dan masih banyak lagi elemen lembaga resmi tentunya lebih tahu apa yang harus dilakukan terhadap beragam situasi. Well, itu kan sudah jadi kewajiban dan bagian dari tugas/pekerjaan mereka. Kalo ada kemudian warga sipil, atau mungkin bagian dari mereka yang kebetulan mengetahui namun sedang tidak aktif bertugas, maka bukanlah kewajiban. Apalagi kalo udah soal yurisdiksi – coba kalo ga ngerti apa artinya, gugling deh.. 😛
  4. *mikir apaan lagi*

Itu sih menurut saya. Menurut kamu gimana? Atau jangan-jangan belom nonton?

Short Story #186: I Was Perfectly Happy Being Single

“Are you really serious with those things that you’ve said?” Ricky bertanya tak percaya di ambang pintu apartemennya sembari menatap wanita yang berada di depannya.

“Aku serius. Apa perlu aku ulang dua kali dengan nada lebih kenceng?” Lita bertanya balik sambil mengambil napas siap untuk mengulang ucapannya beberapa menit lalu setelah Ricky membuka pintu.

“Oke.. oke.. cukup.” Ricky segera menyela. Ia lalu memegang lengan Lita dan menariknya ke dalam apartemennya. “Masuk sini.”

Lita membuka jaketnya, lalu menggantungnya di lengan sambil masih berdiri dan melihat Ricky menutup dan mengunci pintu apartemen.

“Beneran, nih?” Ricky bertanya lagi setelah berbalik menghadap Lita.

“Kalo aku ga serius, ngapain juga aku bela-belain nyetir sendiri nyeberang Jakarta di Jumat malam yang hujan gini?” Lita menantang balik.

“You could’ve made some call.” Ricky menarik lengan Lita lagi, kali ini hingga terduduk di kursi dapur kecil yang terletak tak jauh dari pintu depan.

“Aku takut kalo lewat telepon, kamu ga nganggep aku serius.” Lita memberitahu.

Ricky berhenti sebentar saat ia membuka kulkas dan menoleh ke arah Lita. Sejenak kemudian, ia berbalik lagi menghadap kulkas dan mengeluarkan sebotol kecil air mineral.

“Aneh..” Ricky berkomentar sambil menyiapkan air mineral ke gelas, dan mendorongnya ke arah Lita.

“Aneh karena ada cewek yang minta kamu nikahin?”

“Bukan. Bukan gi-.”

“Oh, jadi kamu udah biasa kalo ada cewek yang minta dinikahin?” Lita menyela dengan pertanyaan penuh selidik.

“Ya.. bukan gitu juga.” Ricky memberitahu segera. “Kalo soal cewek yang minta dinikahin sih, baru sekarang. Ya kamu ini.”

“Trus, apanya yang aneh?” giliran Lita yang terus memberondong pertanyaan. Botol air mineral masih utuh di meja, belum sempat ia sentuh.

Ricky mengubah posisi berdiri di meja dapur yang membatasinya dengan Lita. Ia mengangkat sebelah alisnya, lalu menyunggingkan sebelah bibirnya.

“Aku penasaran aja, apa yang bikin pikiran kamu berubah?” Ricky penasaran. “As far as I know, terakhir kali kita bicara soal ini, kamu bilang kalo kamu belum mau. Kamu masih pengen punya waktu buat kamu sendiri.”

“Iya, aku tau.”

“Kamu juga bilang kalo kamu lagi seneng-senengnya dengan keadaan begini. Kamu lagi happy jadi single yang bebas ke mana aja, kapan aja, ngelakuin apa aja yang kamu mau. Dengan teman-teman yang ada di sekitar kamu, termasuk aku…” Ricky menambahkan. “…yang sebenernya udah nyimpen rasa suka sejak lama, udah aku ungkapin pula sembari ngajak kamu ke jenjang yang lebih serius, tapi kamu mentahin dengan alasan-alasan tadi..”

Lita menarik napas sembari menatap Ricky yang balik menatapnya. Di sana, ia temukan keteguhan dan kesabaran seperti yang pernah ia temukan ketika pertama kali Ricky memberitahunya tentang perasaannya.

“Ricky.. I was once the person as you’ve said. I was perfectly happy being single…” Lita memberitahu. “…until I see happy couple.”

Short Story #185: Ga Muluk-Muluk

“Akhirnya dia pergi juga.” Maya membuka percakapan sore itu. Kedua teman dekatnya, Rini dan Donna sudah siap mendengarkan cerita dan siapa yang dimaksud. Sementara Patrice, juga siap mendengarkan tapi tidak seantusias Rini dan Donna.

“Maksud loe, Adam?” tanya Rini.

Maya mengangkat alisnya sambil menelan minumannya.

“Sama Yuri?” Donna memastikan.

“Ya sama siapa lagi, lah? Masa’ iya sama gue?” Maya menjawab.

“Loe dapet info dari mana? Dari Yuri langsung?” Rini bertanya lagi.

“Nope. Gue dapet infonya justru dari Adam.” Maya memberitahu. “Yuri belom sempet ngobrol lagi sama gue. Guenya juga belom sempet nanya langsung ke dia. Jadi ya, begitulah.”

Rini dan Donna langsung saling berpandangan dari kursi masing-masing. Pandangan mereka mencerminkan kode yang hanya bisa dimengerti mereka berdua. Tapi…

“Kalo cowok sih, bisa langsung digaet begitu dia pisah sama ceweknya.” Patrice berkomentar.

Rini dan Donna langsung menoleh ke arah Patrice yang masih duduk santai di salah satu ujung meja café yang ditempati mereka berempat.

“Gue sih ga bakal deketin lah. Masanya dia menarik buat gue udah lewat.” Maya merespon.

“Tapi menurut gue dia justru tambah menarik seiring usianya yang makin matang.” Donna berkomentar yang langsung disetujui dengan anggukan Rini.

“Mungkin itu yang ga diliat sama Yuri.” Patrice berkomentar lagi.

“Apa maksud loe?” Rini penasaran.

Patrice mengangkat bahunya lagi. “Mungkin, Yuri terlalu banyak demand sama dia. Terlalu banyak request yang sebenarnya sudah dipenuhi oleh Adam, tapi Yuri tetep mikirnya it’s just not enough. Mungkin…”

Keempat sahabat itu diam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“I could be Yuri on my own version. Maybe that’s why I haven’t had any long and serious relationship.” Maya merespon dengan nada santai.

“Pantes ga pernah lebih dari setahun, dan rata-rata cuman sebatas jalan bareng aja.” Donna berkomentar.

“Soal batasan, no further comments. Tapi soal durasi, bener.” Maya menjawab sambil menyeringai.

“Trus loe gimana, Pat? Kok loe bisa adem-ayem aja sama laki loe selama ini? Bukannya kalo merit muda justru bakal lebih banyak munculin masalah karena ego yang sama-sama tinggi dan cenderung pengen menang?” Rini bertanya. “Dan.. ini sudah lebih dari sepuluh tahun, ‘kan?”

“Apalagi… loe dan dia sama-sama punya kesibukan dan juga aktivitas masing-masing, ‘kan?” Donna menambahkan.

“Please tell me the answer isn’t because you’re having kids with him.” Maya meminta.

Patrice tersenyum. Ia menyesap kopinya terlebih dulu sebelum menjawab. “Gue sih ga muluk-muluk, asal dia ga main tangan, ga main cewek, dan ga main duit, he should be good.  Because of that, I have faith on him.”

(Fast &) Furios 6: Villains, Tank, and (of course) Cars

Fast & Furious 6

All roads lead to this. Begitu bunyi tagline sekuel ke-5 dari film The Fast & The Furious ini. Pertama baca tagline itu, ga sempet mikir macem-macem, kecuali kalo sekuel ini bakal jadi lanjutan yang terjadi di film sebelumnya – Fast Five, dan juga kemunculan lagi tokoh yang sempet (dikira) mati di Fast & Furious (film keempat/sekuel ketiga) – Letty. Sesuai dengan premis yang dibentuk oleh trailernya.

Udah, gitu doang. Sesederhana itu. Dan soal Owen Shaw (dan Joe Taslim yang jadi komplotannya)? Itu sih mikirnya sebagai “just another villain that will perfectly fit the movie.”

Udah, segitu aja? Iya. Kalopun ada yang kepikiran lagi ya paling penasaran sama perannya Joe Taslim di film itu. Bakal seperti apa sih, kalo aktor beladiri Indonesia main di sebuah film yang termasuk salah satu seri sukses buatan Hollywood?

Ada lagi? Ya.. ada sih, tapi ga seperti pemikiran-pemikiran di dua paragraf sebelumnya. *halah*

Anyway, ternyata pendapat yang bilang “make low expectations, and you’ll be surprise” itu benar adanya. Iya, seperti harapan saya terhadap film (Fast &) Furious 6 ini. Dari pemikiran-pemikiran saya yang ga gitu ngarep macem-macem, akhirnya saya emang beneran kagum dan cukup terkesan dengan filmnya.

Betul, film Furious 6 ini emang layak buat ditonton (siap-siap bisa jadi ada spoiler). Ada jagoan, ada penjahat, aksi kejar-kejaran mobil, aksi ledakan, aksi tembak-tembakan, dan juga twist. JUGA ADA TANK! Semua yang dibutuhkan sebuah film laga.

Dan juga, ada satu hal yang selalu ada (CMIIW) di setiap film Fast & Furious, yakni balapan mobil dengan taruhan. *tapi belom nemu link youtube-nya nih*

Plus ada scene Joe Taslim yang menghajar Tyrese & Sung Kang di Waterloo. (awas SPOILER!)

Tapi, ada beberapa hal yang masih ngegantung dan kurang, terutama dalam soal cerita. Iya, ceritanya kurang menggigit ketimbang film keempat (Fast & Furious) atau kelima (Fast Five). Ya, sah-sah aja kan saya bilang begitu? Kan saya juga nonton. :mrgreen:

Anyway, ada beberapa hal yang agak “rancu” atau menggantung dari film ini, antara lain: (awas ada spoiler ya!)

  1. Kalo emang Hobbs itu dari badan keamanan internasional, kenapa kaya’nya dia ga punya tim seperti di Fast Five?
  2. Kalo Owen Shaw itu jago dan lebih bos daripada Braga (penjahat di Fast & Furious – film keempat), kenapa dia malah ngelakuin sendiri semua aksi kejahatannya, dan bukannya kaya’ Braga yang lebih nyuruh kaki tangannya?
  3. Kalo emang ada penyusup di timnya Hobbs berupa Riley, kenapa timnya Owen Shaw harus susah-susah nyuri data soal timnya Dom Toretto ke Interpol? Bukannya lebih gampang lagi kalo lewat Riley itu?
  4. Trus di penghujung film, KENAPA kok tiba-tiba semua mobil yang dipake bisa ada harpoon (atau apalah itu namanya) yang bisa dipake buat nembak pesawat?

Jadi, itu pendapat saya. Kalo sampe kelak jadinya ga nonton filmnya karena kebanyakan spoiler, ya it’s your choice. Karena kalo saya sih, ada spoiler atau engga, ya.. saya tetep nonton filmnya. KARENA SAYA EMANG MAU NONTON.

Eiya, kalo komentar istri saya soal film Fast & Furious 6 ini begini: “Ya wajar aja jagoannya kalah berantemnya, ya cuma jago balapan doang tapi ga jago berantem kaya’ penjahatnya.”

NB: poster filmnya dari sini.

Kamu udah nonton Fast & Furious 6 belum?

Short Story #184: Perfect

“Kamu lagi banyak pikiran, kayanya.. Ada apa?” Andy penasaran sambil menggenggam tangan Fitri, kekasihnya.

Fitri menarik tangannya. Memberi jarak antara ia dan Andy, walau sudah ada meja café di antara mereka.

“Cerita dong..” Andy meminta.

Fitri menghela napas sambil menyandarkan badannya.

“Kalo kamu keliatan lagi banyak pikiran trus ga mau cerita sama aku tuh, bikin aku sedih.” Andy memberitahu. “Aku seperti ga dipercaya sama kamu.”

“Bukan begitu.” Fitri buru-buru menjawab.

“Trus kenapa? Cerita dong ada apa..” Andy bertanya lagi.

Fitri menghela napas lagi. Ia membiarkan Andy menatapnya lagi. Membiarkan kedua pandangan mereka beradu. Mencari-cari sesuatu. Perasaan.

“Sepertinya aku ga bisa lanjutin hubungan ini.” Fitri memberitahu.

Singkat dan jelas. Namun efeknya seperti sayatan belati di dalam hati.

Andy meneguk ludah. “Kamu minta supaya hubungan kita sampai di sini aja?”

“Iya.”

Giliran Andy yang menghela napas. Namun, bukannya emosi atau mengekspresikan perasaannya, ia justru melihat Fitri. Mengamatinya. Memperhatikannya. Mempelajarinya. Ia sudah begitu mengenalnya.

“Kenapa?” Andy bertanya.

“Karena kamu sempurna.” jawab Fitri.

“Itu bukannya alasan yang paling tepat buat kamu supaya tetep pertahanin hubungan ini?”

“Iya. Tapi…” Fitri berhenti sejenak. “Aku bukan sosok yang sempurna untukmu.”

Andy memejamkan matanya sejenak. Ia lalu membuka matanya lagi, dan melihat Fitri masih berada di depannya. Masih di sana dengan wajah yang terlihat datar. Wajah yang dibuat sebisa mungkin untuk menyembunyikan emosi.

“Aku ga pernah minta kamu buat jadi sempurna.” Andy memberitahu.

“Tapi aku ga nyaman dengan ketidaksempurnaan aku!” Fitri langsung merespon. “You’re just too good to be true for me. Aku ga cukup layak buat kamu.”

“Biarin aku yang ngenilai, kamu layak apa engga buat aku.” Andy mencoba menenangkan sambil menarik telapak tangan Fitri, dan menggenggamnya.

“Tapi..”

“Ssstt..” Andy mendiamkan Fitri. “For your information, I don’t need to find the perfect someone. What I need is finding the right someone for me, and that’s what make you perfect.”