Menyimpan di Banyak Kantong

“Simpanlah di banyak kantong, untuk berjaga-jaga.”

Pepatah di atas, seringkali diucapkan terkait dengan keuangan atau dana yang dimiliki. Pengertiannya secara sederhana adalah, untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada sebuah “kantong” dana, maka “kantong” lainnya tidak akan dipengaruhi. Pengertian lebih lanjut, juga bisa diartikan sebagai investasi, ataupun sebagai back up – sebagai cadangan. Pengertian pada praktiknya, menyimpan di banyak “kantong” adalah agar selalu siap untuk mengambil dana yang dimiliki, tanpa harus bergantung ke salah satu “kantong” saja.

Apapun pengertian yang kemudian dipahami, inti dari pepatah tersebut adalah untuk bersiap-siap atau menyiapkan cadangan atau back up apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Praktiknya di jaman teknologi yang terus berkembang dan juga dipenuhi dengan berbagai inovasi ini, menyimpan di banyak “kantong” tak hanya bisa diperuntukkan dana atau keuangan. Data, atau juga biasa dikenali sebagai file ataupun dokumen, juga bisa dan ada baiknya disimpan di berbagai “kantong”. Teknologi digital/jaringan sebagai salah satu media yang tersedia saat ini, memiliki peranan yang cukup penting dan bisa dijadikan pilihan utama sebagai “kantong” untuk menyimpan data – terutama kalo udah pada tau yang namanya cloud computing.

Engga, saya ga bakal bahas soal cloud computing, melainkan ngebahas soal saya yang pake “kantong” yang (mungkin) menggunakan teknologi itu.

Iya, saya pake “kantong” data yang menggunakan teknologi digital/jaringan itu. Buat apa? Buat simpen banyak hal, mulai dari foto-foto, video, dokumen kerjaan, dokumen non-kerjaan, dan masih banyak lagi. Kenapa saya pake? Karena ya sesuai pepatah di awal tadi, untuk berjaga-jaga. Just in case terjadi sesuatu sama “kantong” di komputer,  maka data yang saya simpen di “kantong” itu masih terjaga – sepanjang masih bisa diakses, dan mudah-mudahan terus bisa diakses. :mrgreen:

Oiya, ngomong-ngomong soal akses, salah satu kantong yang saya pake ini, bisa diakses dengan berbagai cara. Mulai dari aplikasi yang diinstal di komputer, akses via web (pake browser), sampai dengan akses dari aplikasi di ponsel (pintar). Seru juga, apalagi ada opsi awal buat pake gratisan sampe dapet storage sekitar 2GB, trus bisa ditambah dengan gratis pula – dengan pilihan-pilihan tertentu yang bisa diliat lebih lengkap di sini. Kalopun mau berbayar, paketnya juga ada kok. 🙂

Trus, saya pake paket yang mana? Yang pasti, saya mulai dengan paket yang gratisan, dan kemudian ditambah-tambah pake opsi gratisan juga, dan ternyata kebutuhan saya akan “kantong” data tersebut terus bertambah karena saya memang perlu untuk menyimpan beberapa data sebagai cadangan/back up dan mudah diakses dari mana aja, gimana aja caranya.

Kamu, udah perlu belum?

Short Story #183: Relatif

“Semua hal di dunia ini relatif.” Ali memberitahu.

Rara sejenak berhenti mengerjakan tugas kuliahnya, dan mulai menatap Ali yang sedang menatapnya sedari tadi di meja kantin.

“Jangan bilang kamu mau jelasin lagi soal teori ilmiah fisika atau apalah sejenisnya itu, ya..” Rara mengingatkan.

“Iya. Aku ga jelasin soal teori ilmiah fisika atau apalah sejenisnya itu..” Ali merespon.

“Bagus. Soalnya kalopun kamu jelasin, udah aku masih harus ngerjain tugas ini supaya masih boleh masuk kelasnya pak Sidik, aku juga ga ngerti karena kuliah aku bukan Fisika.” Rara memberitahu.

“Iya, aku tahu.” Ali menjawab.

Rara kembali mengerjakan tugas kuliahnya. Membiarkan Ali yang masih berada di depannya dan menatapnya.

“Contoh paling mudah tentang hal yang relatif itu waktu.” Ali berkata.

“Iya.” Rara menjawab tanpa mengalihkan konsentrasinya dari tugas yang tengah ia kerjakan.

“Seringkali kita mengukur waktu dengan hitungan tahun, bulan, hari, jam, menit, dan bahkan detik.” Ali melanjutkan.

Rara hanya berdeham pelan sebagai tanda ia mendengarkan.

“Tapi walau begitu, satuan waktu itu jadi bisa diabaikan kalo kemudian dilakukan perbandingan dengan perihal lainnya.” Ali menambahkan. “Salah satunya, perasaan.”

Rara mendadak berhenti sejenak lalu menatap Ali.

“I wonder where this conversation will be going.” Rara berkomentar pelan.

“Apa, Ra?” Ali langsung bertanya.

“Eh.. engga.. aku cuman penasaran aja apa contohnya kok kamu bisa bilang satuan waktu bisa diabaikan kalo dibandingkan dengan perasaan, dan apa hubungannya sama relatif?”

Ali tersenyum sejenak. “Begini, Ra.. Contohnya adalah satu hari. Menurut kamu, satu hari itu singkat atau panjang?”

“Menurutku? Satu hari itu biasa aja. Ga singkat, ga panjang. 24 jam lah pokoknya.”

“Nah.. kalo menurutku, satu hari itu bisa relatif singkat, bisa juga relatif panjang.” Ali memberitahu.

“Kok bisa? Ada hubungannya sama perasaan?” Rara penasaran.

“Iya.. ada..” Ali menjawab. “Bagiku, satu hari itu relatif singkat saat aku bersamamu. Sementara itu, satu hari relatif panjang kalo aku ga bersamamu.”

Mendengar kalimat terakhir Ali, Rara diam seakan kehabisan kata-kata.

Short Story #182: Awards

“Pernah kepikir buat pengen dapetin sesuatu yang belom didapet?” Karin bertanya tiba-tiba di dalam mobil yang sedang melakukan perjalanan Jakarta-Bandung.

“Maksudmu?” Tito bertanya balik sambil masih berkonsentrasi terhadap jalan tol.

“Ya… mungkin ada keinginan atau mimpi yang belum tercapai, gitu?” Karin menjelaskan.

Tito tersenyum kecil. Matanya masih menatap jalan tol yang dipadati kendaraan, namun sudut matanya mendapati Karin tengah menatap ke arahnya.

“Udah didapet semuanya kaya’nya.” Tito menjawab singkat.

“Beneran ga ada yang belom didapet?” Karin kembali bertanya. “Ga ada rasa penasaran pengen dapetin apaaaaa gitu?”

Kali ini Tito tertawa. “Emangnya aku pengen dapetin apa lagi?”

“Ya ga tau.. kali aja masih ada cita-cita atau mimpi yang ketunda karena merit sama aku.. ketunda juga karena kemudian ada Niko dan juga Beryl..”

“Ah kamu, Rin..”

“Lho, ya kan kali aja..” Karin memberi alasan. “Dulu kan sebelom kita merit, kamu sempet bilang kalo kamu pengen bisa dapetin penghargaan khusus di bidang kerjaan kamu. Apa sih itu namanya, penghargaan dari organisasi apa itu lho..”

“Ah.. aku udah ga terlalu mikirin itu lagi.” Tito menjawab. “Lagipula, itu kan sebelom kita merit. Setelahnya, dan kemudian ada anak-anak, ya.. semuanya udah berubah, Rin.”

“Masa?” Karin memancing.

Tito tersenyum kecil sambil sekilas melihat ke arah istrinya itu, lalu kembali melihat ke arah jalan.

“Beneran ga pengen dapetin awards yang bisa bikin kamu lebih terkenal dan hadiah uangnya bisa bikin kita beli mobil baru itu?” Karin memancing lagi.

“Karin, My Lovely Wife.. I don’t need any well-known prizes or awards.” Tito menjawab, “Having my family live well each day, seeing our children growing up to be a great person that they ever wanted, are the real prizes or awards that I’m so grateful to have.” Tito memberitahu sambil melihat ke arah kursi belakang, tempat kedua anaknya tengah tertidur lelap.

Bagaikan Mendapat FC Barcelona Dalam Genggaman Tangan

Bagaimana mendefinisikan sebuah klub sepakbola bertaraf dunia? Pemain dengan level permainan internasional? Prestasi mentereng di liga lokal, regional, hingga internasional? Atau pelatihan dan manajemen yang baik sehingga bisa menciptakan sebuah brand yang digdaya di seluruh dunia? Semua definisi itu benar adanya. Dan akan lebih lengkap lagi saat klub sepakbola tersebut memiliki fanbase di seluruh dunia.

FC Barcelona. Klub sepakbola besar yang berasal dari negara Spanyol Eropa ini, salah satu klub sepakbola bertaraf dunia. Saya pribadi termasuk salah satu pengagum klub sepakbola ini. Dimulai saat periode 1990-an, saat mereka mulai mengembangkan permainan bola ala Barcelona yang terinspirasi total football, hingga kemudian saat generasinya mulai berganti dengan Patrick Kluivert, Rivaldo, Luis Figo (sebelum pindah ke Madrid), Ronaldo, Ronaldinho, hingga generasi saat ini seperti Lionel Messi, Xavi, Andres Iniesta, dan lain-lain yang mengembangkan permainan tiki-taka. Sebuah klub sepakbola besar dengan fanbase yang juga besar, terutama di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, sekarang selain bisa mendapatkan siaran pertandingan di TV FTA atau jaringan, fans FC Barcelona bakal makin dimanjakan oleh Value Added Service dari Indosat bernama INFO BARCA Services. Yups, semua tentang FC Barcelona ada di sini. Mulai dari info seputar FC Barcelona, prediksi pertandingan, hasil dan statistik pertandingan, highlight pertandingan, games, screensaver, sampai dengan lagu (keren, ya? :mrgreen: ), dan juga foto-foto eksklusif! Mau? Baca terus blogpost ini.

Kamu yang udah jadi pelanggan Indosat (IM3 dan Mentari), caranya gampang aja. Langsung ketik *465*1# dan call.

*465*1# & Call
*465*1# & Call

Nanti bakal muncul tampilan buat berlangganan seperti ini, nih. Pilih angka 1 ya.

Pilih 1 untuk Gabung Info Barca
Pilih 1 untuk Gabung Info Barca

Setelah pilih buat gabung, nanti bakal dapet pemberitahuan melalui SMS seperti ini. Ohiya, selain bakal dapet info FC Barcelona, juga bisa dapet gratis telepon 60 menit!* (*syarat dan ketentuan berlaku)

SMS Pemberitahuan
SMS Pemberitahuan

Nanti kalo udah terdaftar buat langganan, setiap minggunya bakal ada 2x info atau konten terbaru yang bakal ada pemberitahuan melalui SMS yang bisa diklik. Contohnya sbb:

Konten Barca
Konten Barca

 Saya sendiri dapet SMS pertama soal Info Barca ini dalam jangka waktu 1×24 jam pertama setelah gabung. Dan, pas link-nya diklik, nyambungnya ke sebuah website yang kaya’nya dedicated cuman buat pelanggan Info Barca ini aja.

Website Khusus Info Barca
Website Khusus Info Barca

Seperti yang udah saya sebut di atas tadi, di Info Barca ini ada beberapa menu yang bisa dipilih eksklusif buat pelanggan yang sekaligus fans berat FC Barcelona. Ada news, ringtone, wallpaper, sampai dengan jadwal dan hasil pertandingan.

Seneng ga dengan adanya Info Barca ini? Saya sih jelas seneng. Soalnya saya bisa dapetin langsung semua info soal FC Barcelona langsung di satu tempat tanpa harus nyari-nyari atau kecampur sama informasi lainnya. Bagaikan mendapat FC Barcelona dalam genggaman tangan saya. *halah* 😛

Apalagi, bisa download-download konten seru nih macam wallpaper dan juga ringtone. Eiya, saya download ringtone Barca theme song lho.. lagunya bikin merinding juga pas dijadiin ringtone hape.

Trus, kalo suatu saat pengen berhenti langganan, gimana? Jawabnya gampang. Ketik lagi aja *465*1# dan call. Tunggu sampai keliatan pilihan gabung-berhenti-info seperti gambar kedua di blogpost ini. Atau, ketik aja “UNREG BARCA” dan kirim by SMS ke 465. Gampang kan?

Info lebih lengkap termasuk tarif langganan, bisa didapetin di http://www.indosat.com/barca.

Yuk, segera dapetin info dan konten eksklusif FC Barcelona di Info Barca Indosat!

Indosat Barca services is content and information about FC Barcelona exclusively for Indosat users

Short Story #181: Delivery

“Udah makan, belum?” Jeremy bertanya membangunkan Clara yang tertidur di sofa.

Clara tak langsung menjawab. Ia bergerak-gerak menggeliat sambil mengusap-usap matanya. Lalu menguap.

“Udah makan, belum?” Jeremy bertanya lagi.

“Belum.” Clara akhirnya menjawab dengan suara serak, sambil mendudukkan dirinya di sofa.

Jeremy berdiri dari sebelumnya duduk di sandaran sofa. Sejak tiba di apartemen, ia langsung duduk di sandaran sofa untuk kemudian menghampiri Clara. Ia tahu Clara tertidur, karena TV masih menyala. Dan, Clara biasanya tertidur sambil menonton TV.

“Sori ya, aku tadi ngedadak harus ngurus ini-itu.” Jeremy menyimpan jaketnya, lalu menghampiri dapur sambil minum segelas air.

Clara menatap sambil menahan kantuk dari balik sofa. Ia terlalu malas untuk beranjak ke kamar.

“Ga delivery apa-apa dari tadi?” tanya Jeremy sambil duduk di sofa, lalu mengelus kepala Clara yang sudah merebahkannya di pangkuan.

“Engga. Males.”

“Ah kamu.. kebiasaan.”

“Kamu juga ngedadak harus ngurus ini-itu jadi kebiasaan.” Clara langsung merespon.

Jeremy tak bisa menjawab. Ia merasakan ucapan Clara agak tajam, tapi memang itulah kenyataannya. Beberapa minggu terakhir, ia selalu saja ada yang harus diurus hingga larut.

“Ya tapi kan kamu pas pulang bisa langsung pesen delivery sebelum males.” Jeremy akhirnya memberitahu.

“Keburu ngantuk. Capek di jalan tadi.” Clara menambahkan alasannya.

Jeremy kembali mengelus-elus kepala Clara yang mulai memejamkan matanya lagi.

“Padahal kan delivery gampang.. tinggal telepon doang, trus siapin duitnya.. bahkan ada delivery yang bisa dibayar pake kartu kredit pas dateng.” Jeremy memberitahu.

“Kalopun aku pengen delivery, ga segampang itu kaya’nya.”

“Lho, emang mau delivery apa?”

“Aku pengen delivery kamu. Dianter langsung ke depan aku, kapanpun aku mau ga peduli kamu lagi ngapain.” Clara memberitahu. “Terutama, kalo aku udah sampe di rumah.”

Short Story #180: Karena Ibumu Yang Minta Begitu

“Gimana? Masih belum ada gambaran?” Teddy bertanya pada remaja yang sedari tadi bolak-balik membuka berbagai foto.

“Gambarannya masih sama. Ga jelas.” Mila menjawab.

“Padahal aku udah kasih semua foto-foto yang paling bagus yang pernah aku punya.” Teddy memberitahu sambil menyerahkan lagi tumpukan foto-foto yang ia punya. Kebanyakan foto-fotonya adalah gadis kecil – dirinya, dan seorang pria dewasa yang sulit ia kenali.

“Ini dia juga?” Mila bertanya.

“Iya.” Teddy mengangguk sambil duduk di sofa di dekat Mila.

Mila menggeleng. Bibirnya merengut. “Entah kenapa ga ada ingatan sedikitpun soal dia. Apalagi foto-foto ini. Ga ada yang muncul sedikit pun.”

Teddy diam. Ia mendengarkan.

“Ya.. momen-momen yang mirip foto ini memang ada, tapi semua yang ada di ingetan aku ya aku sama ibu. Bukan sama dia.”

“Listen to your heart, then.” Teddy memberitahu.

“I am listening.”

“Trus, apa katanya?”

“Hening. Belum ada apa-apa.”

TOK! TOK! Pintu apartemen diketuk. Teddy langsung menuju pintu dan bersiap membukanya. Sementara itu, Mila menarik napas. Menunggu. Bersiap.

Seorang pria paruh baya berada di balik pintu yang dibuka Teddy. Kerutan dan uban terlihat di beberapa bagian dari badannya, tapi ia masih terlihat tegap. Kuat.

Teddy terlihat menyalaminya. Memeluknya seakan menemukan sahabat lama. Lalu, Teddy mempersilakannya masuk sambil menunjukkan Mila yang tengah duduk menunggu di sofa.

“You look beautiful.” pria itu memberitahu Mila yang belum bisa bersuara.

“Dia penasaran banget pengen ketemu Ayah sampe ga bisa ngomong.” Teddy bergurau yang disambut tawa renyah dari pria itu.

“Kenapa aku ga pernah ketemu kamu sejak lama, ya?” Mila akhirnya bersuara.

“Karena Ibumu yang minta begitu.” jawab pria tua itu.

“Trus kenapa Teddy masih bisa ketemu?” tanya Mila lagi.

“Karena Ibumu yang minta begitu.” pria tua itu memberitahu lagi. Mengulang jawaban yang sama.

Mila menutup matanya sejenak. Memikirkan pertanyaan apa lagi.

“Kenapa kamu jarang pernah ada di foto-foto aku dari kecil?”

“Karena.. akulah yang membuat foto-foto itu.” pria itu menjawab sambil menutup sebagian wajahnya seakan-akan memegang kotak kamera. “Ayahmu inilah yang berada di belakang kamera.”

Mila hendak bertanya “kenapa” lagi, namun ia kemudian mengenali bagian wajah yang sudah lama sekali tak ia lihat.