Month: April 2013

Short Story #179: Malaikat

“Apa yang kamu tau soal Daniel?” Yuri bertanya ke Kevin di sela-sela makan siang bersama. Kevin diam sejenak, ia menyimpan sendok dan garpunya. “Dia ga tidur, tapi dia juga ga ngerasa ngantuk ataupun capek.” “Wah, insomnia akut?” Yuri menyela. Kevin menggeleng. “Dia emang selalu kebangun gitu.” “Trus?” “Tempat favoritnya dia, di tempat tinggi. Di lantai

Short Story #178: Sabar

“Aku udah ga tahan..” Lea memberitahu sambil melepaskan tangannya yang sedari tadi digenggam oleh David, lalu menjauh sambil melihat ke jendela, memandangi kota saat malam hari dari ketinggian 10 lantai. David masih duduk di sofanya. Ia melihat Lea ke arah punggungnya. Besar sekali keinginannya untuk memeluknya, merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tapi… “Sedari dulu, kita udah

Anugerah

Ga ada kata yang bisa ngegantiin betapa kagumnya Papi akan kamu, Nak. Setiap tingkah laku, ucapan, dan semua respon darimu, adalah anugerah. SEMUANYA! Kehadiranmu, di setiap bagian dan setiap saat untuk Papi adalah anugerah. Tangisan pertama, tatapan pertama, sentuhan tangan pertama, gendongan pertama, pelukan pertama, sampai dengan senyuman pertama, tawa pertama, kata pertama, jejak merangkak

“Diuntungkan” Fitur Scheduling Post di WordPress

Suka baca Short Story saya, ‘kan? Kalo engga, pokoknya harus baca deh. Nah, kalo yang ngeh, belakangan ini Short Story saya itu kebanyakan dan seringnya saya apdet di hari yang sama setiap minggunya, yaitu hari Senin. Jam apdetnya pun, saya lagi coba-coba buat disamain – meski kadang ada aja yang ga sama. Bukan, saya bukan

Short Story #177: Tahu

“Aku ga ngerti kenapa kamu masih aja ngasih kesempatan sama dia.” Indra berkomentar pada Christine yang tengah bengong menatap keluar jendela. “Kamu ga harus ngerti kok, Ndra.” Christine merespon. “Memang.. tapi aku jengah aja setiap kali dia berbuat salah, ketauan, lalu dia minta maaf, setiap kali itu pula kamu maafin dia dan ngasih kesempatan lagi

Short Story #176: Sudah Saatnya

“Sudah saatnya…” Herman berkata pada dirinya sendiri setelah selesai menutup kardus terakhir di kamarnya. Sambil berdiri dan menatap keluar jendela, Herman menyeka keringat yang membasahi dahinya. Ia lalu melihat seorang pria tengah menarik koper untuk kemudian dimasukkan ke dalam bagasi mobil. “Ga ada yang ketinggalan?” seorang wanita muncul dari ambang pintu kamar Herman. “Ga ada.

Short Story #175: Dewasa

“Dulu kamu ga begini.” Rita memberitahu sambil melepas pegangan tangan Andar, kekasihnya. “Apa maksudmu?” Andar langsung menoleh. Membiarkan pancaran sinar mentari senja yang mulai memasuki peraduan. “Iya. Dulu kamu beda. Ga begini.” Rita menjawab sambil melihat ke arah garis laut terjauh. Membiarkan rambutnya yang tergerai ditiup angin laut. “Aku ga ngerti maksud pertanyaanmu.” Andar merespon,