Ketika Jarak Ga (Begitu) Berasa

Saya pekerja kantoran. Istri saya juga pekerja kantoran. Tapi, sepanjang periode setaun terakhir saya beberapa kali harus ngelakuin perjalanan keluar kota (dan bahkan keluar negeri), istri saya pun demikian halnya, dengan waktu perjalanan yang macem-macem. Otomatis, komunikasi jadi hal yang penting. Apalagi, di periode setaun ini saya dan istri baru dikaruniai anak pertama. Jadi, rasa kangen pasti berlipat-lipat kalo lagi pada jauh-jauhan.

Contohnya taun lalu saya sempat ngelakuin perjalanan keluar negeri selama 2 hari 1 malam. Singkat sih, tapi namanya keluar negeri, pasti bakal berhadapan sama roaming internasional dan itu yang sering bikin komunikasi jadi terhambat. Apalagi, pas saya keluar negeri itu, anak pertama saya dan istri, usianya baru beberapa bulan. Kangen rasanya, karena biasa sehari-hari saya berkomunikasi secara langsung di rumah.

Untungnya, saya dan istri pake perangkat komunikasi yang sama, operator telekomunikasi yang sama, dan paket langganan data yang sama. Iya, saya dan istri sama-sama pake BlackBerry, nomer simPATI dari operator Telkomsel, dan paket langganan data BIS unlimited per bulan. Kenapa bisa untung? Soalnya jadi lebih gampang buat komunikasi. Saling kirim BlackBerry Messenger (BBM) dan e-mail juga ngapdet via social networking (social media) macam twitter/facebook, yang isinya bisa berupa foto-foto anak dan istri, serta teks.

Tapi ya, walaupun selalu dapet apdet foto dan info terbaru selama di luar negeri, tetep aja rasanya kangen. Pas pulang, langsung peluk-peluk semuanya deh.. :’)

Cerita lainnya, terjadi waktu istri saya harus menjalani diklat dari tempatnya bekerja. Jangka waktu diklatnya sekitar 2 minggu, di luar kota pula. Rencana awalnya, anak kami akan dibawa oleh istri saya selama diklat. Tentunya, dibawa dengan mertua untuk membantu menjaga. Tapi, atas beberapa pertimbangan kemudian, rencana berubah dan anak kami pun ga ikut dibawa diklat, melainkan tinggal bersama saya, dan gantian dijagai oleh saya dan mertua.

Jarak antara tempat diklat dan Jakarta, beda 3 jam perjalanan aja sih. Tapi ya, namanya kangen kan bisa timbul kapan aja. Lagi-lagi, perangkat komunikasi-operator-paket BIS yang sama, membuat semuanya jadi lebih mudah. Membuat jarak jadi ga gitu berasa. Selama diklat, setiap harinya istri saya ngirim BBM nanyain kondisi anak kami: sudah mandi, berapa kali minum susu, bangun pagi jam berapa, tidur jam berapa, dan lain-lain. Kadang-kadang, dia meminta foto terbaru di hari itu, yang dengan mudahnya bisa saya kirim via BBM ataupun e-mail.

Trus, kalo BBM lagi pending, dan sulit kirim e-mail, kirim foto via social networking/social media bisa jadi jawaban. Tinggal aplod, trus mention akun istri, dia pun bisa buka via browser atau aplikasi di device BlackBerry-nya. Ya, namanya juga paket BIS unlimited, bisa ngapain aja. Komunikasi dan berbagi informasi, bisa jadi lebih gampang! :mrgreen:

Aaakk.. senangnya, berkat paket BIS unlimited simPATI-Telkomsel di device BlackBerry, bikin saya dan istri jadi gampang berkomunikasi, gampang berbagi momen, dan masih banyak lagi cerita-cerita lain yang belum (dan mudah-mudahan sempat) saya share!

Eh..eh.. kalo ada yang punya pengalaman seru juga pake device BlackBerry plus langganan BIS simPATI-Telkomsel, ikutan aja “#BacaCeritaku Writing Competitiondi sini! Siapa tau bisa dapetin BBZ10 atau pulsa simPATI jutaan rupiah! Kan mereka punya paket BIS baru, yakni BlackBerry Sosialita. *iya, saya juga nulis blogpost ini buat ikutan itu 😛 *

Short Story #174: Alasan Berubah

Dania berlari-lari kecil di antara lorong supermarket, kemudian menepuk pundak seorang pria yang segera melihat ke arahnya dengan mimik terkejut.

“Sudah lama ga ketemu. Gimana kabarmu, Mar?” Dania bertanya.

“Baik.” jawab Umar singkat. Tangannya meremas pegangan troli belanja.

“Sehat-sehat semua?” Dania bertanya lagi.

“Well.. as you can see right now.” jawab Umar. “Yang paling penting ga kekurangan, sih.”

“Oh ya.. benar.” Dania berkomentar.

Lalu hening. Dania berpikir keras segala macam topik yang mungkin dibahas, tapi.. yang selalu terlintas di pikirannya adalah tentang status.

“Sudah menikah?” tanya Dania lagi. Frontal.

Umar diam sejenak. Matanya sedikit menampakkan keengganan.

“Oh oke, maaf. Bukan urusanku.” Dania segera meminta maaf, menyadari pertanyaannya yang kurang sopan.

Hening. Dania melihat ke arah keranjang belanjaannya, sementara Umar melihat ke Dania sambil sesekali mengamati gerak-geriknya.

“Saat ini aku single.” Umar menjawab pertanyaan Dania yang sebelumnya. Singkat.

“Oh.”

“Kamu gimana?” Umar balik bertanya.

Dania mengigit bibir bawahnya sebelum menjawab. “Belum. Terlalu banyak cita-cita.”

“Oh iya. Benar.” Umar segera berkomentar.

“Apa maksudmu?” Dania langsung bertanya.

Umar menarik napas. “Mungkin kamu lupa, tapi dulu kamu pernah bilang kalo kamu punya banyak cita-cita.”

“Oh iya. Mungkin.” Dania merespon. Nada suaranya mulai menurun.

“Dan sekarang sudah berhasil diraih semuanya?” Umar kembali bertanya. Penasaran.

“Belum. Karena cita-citanya bertambah lagi setiap kali aku berhasil meraih salah satunya.”

“Oh.”

Hening kembali melingkupi kedua orang yang pernah memiliki sejarah tersebut.

“By the way, kok kamu ke supermarket ke bagian bahan masakan gini? Seingatku, kamu ga doyan masak, dan juga ga doyan belanja.” Dania penasaran. “Ke supermarket itu hal terakhir yang akan kau lakukan, begitu katamu dulu.”

Umar mengangkat sebelah alisnya. “Ya, semuanya berubah. Sama seperti kau yang cita-citanya bertambah setiap kali ada yang berhasil diraih.”

“Oh ya? Sejak kapan?” Dania semakin penasaran. Sebuah titik harapan muncul di dalam hatinya. Berharap Umar telah berubah dan tidak seperti dulu. Tidak seperti terakhir kali saat mereka masih berhubungan.

Seorang gadis kecil tiba-tiba berlari kecil menghampiri troli Umar yang langsung berjongkok.

“Pah.. kita mau beli apa lagi buat dimasak?” tanya gadis kecil itu, yang hanya bisa dilihat dengan tatapan heran oleh Dania.

“Nanti, Papah lagi ngobrol dulu sama temen lama Papah.” jawab Umar sambil mengalihkan pandangan matanya dari gadis itu ke Dania.

Si gadis kecil menoleh ke arah Dania dengan tatapan polos. “Tante temennya Papah?”

“I-iya..” jawab Dania dengan suara agak parau. Tenggorokannya mendadak terasa agak kering sejak kemunculan gadis kecil itu.

“Kapan-kapan, Tante main ke rumah aku ya.. Nanti kita makan bareng masakan Papahku..” gadis kecil itu sedikit memegang ujung rok Dania.

“Iya, manis. Kapan-kapan Tante main kalo Papahmu ngajak.” Dania menjawab.

Gadis kecil itu kembali menoleh ke arah Umar yang masih berjongkok di sebelahnya, lalu berbisik. “Papah.. tante ini cantik, ya..”

Umar tersenyum kecil sambil mendengus, dan menjawab, “Iya.”

“Aku ke lorong sebelah, ya Pah..” gadis kecil itu memberitahu sambil langsung berlari.

“She’s gorgeous.” Dania berkomentar setelah mengamati gadis kecil itu hingga menghilang ke lorong sebelah.

“And she’s the reason why I’ve changed, few years after you left.” Umar memberitahu.

Short Story #173: Kecewa

“Mending kamu pikirin lagi, deh Ran..” Tio menyarankan sambil mengulurkan tangannya.

Rani tak memedulikan saran Tio. Ia juga tak melihat sama sekali uluran tangan Tio.

“Masih banyak hal yang bisa kamu lakuin, lho Ran..” Tio memberitahu lagi.

“Seperti apa?!” Rani tiba-tiba merespon dengan membentak.

Tio langsung berpikir cepat. “Keliling dunia mungkin? Atau keliling Indonesia?”

“BUAT APA?!” Rani kembali bertanya dengan bentakan. Kali ini, bentakannya lebih keras. Air mata mengalir di pipinya.

“Buat nambah ilmu, nambah pengalaman, dan paling penting… nambah semangat.”

“But I don’t need ‘em all.” ucap Rani lirih. “Semua yang di dunia ini udah ga aku perluin lagi..”

Tio diam sejenak. Ia terus berpikir apa yang bisa ia lakukan agar Rani bisa terbujuk oleh kata-katanya, dan mau meraih uluran tangannya.

“Tapi dunia ini, dan juga orang-orang lain di dunia ini ngebutuhin kamu..” Tio memberitahu.

“Orang-orang siapa, Tio?! SIAPA?!” Rani berteriak histeris.

“Banyak.. contohnya adalah mereka yang belum pernah kamu temui.. atau mereka yang sudah lama selalu ada buat kamu, bantuin kamu, nemenin kamu apapun kondisinya..” Tio menjawab.

Rani tak merespon. Kepalanya sudah mulai pening akibat terkena sinar mentari sejak sekitar setengah jam yang lalu. Tangannya mulai lemas. Posisinya di pinggir gedung mulai goyah, tapi Rani masih berdiri. Menghadap Tio, membelakangi area terbuka yang berpotensi menjadi arahnya jatuh.

“Aku ga percaya.” Rani berkata pelan. “Semuanya udah bikin aku kecewa. Atau bahkan kecewa padahal aku ga maksud begitu.”

“Tapi semuanya bisa diperbaiki, Ran.. Pasti bisa.” Tio menjawab.

“Ga bisa, Tio. Everything can’t be fixed.” Rani menyanggah. “Perasaan aku, cinta aku, udah hancur, Tio.. Padahal aku udah ngasih segalanya.”

Tio diam, menunggu, membiarkan Rani mengeluarkan seluruh isi hatinya.

“And when I gave everything for love, it fails me.”

“Love never fails you, Ran.. the person you’re in love with, who did.” Tio merespon.

Rani melihat ke arah Tio, pandangannya berkunang-kunang. “Kamu mungkin bener, Tio. Mungkin. Tapi apa aku bisa dapetin orang yang ga bakal ngecewain aku?”

“You have it already. You have me.” jawab Tio sambil langsung berlari dan sigap menarik badan Rani yang mulai lemas dan hampir terjatuh akibat posisinya goyah.

Short Story #172: Siapa Bapaknya?

“Seinget bapak, pelajar sekolah berseragam dilarang masuk mal ini.” Ronald menegur Isabella, salah satu anak didiknya di sekolah.

Isabella berbalik dari kursi duduknya, lalu melihat Ronald, “Ah bapak. Kan ini udah bukan di jam sekolah. Lagipula, saya kan ga pake baju seragam.”

“Lah, itu roknya?” Ronald menegur lagi.

“Yailah, Pak. Rok ini sih motif batik, ga semua orang tau kalo ini rok sekolah.”

“Ckckck.. kamu ya, ngeles mulu.”

“Saya ga ngeles, Pak. Cuma ngasih fakta aja.” Isabella memberikan jawaban cerdas.

Dalam hatinya, Ronald mengakui bahwa muridnya ini memang cerdas. Minimal cerdas berbicara dan bercakap-cakap. Mengingatkannya akan waktu-waktu yang telah berlalu. Mengingatkannya akan seseorang.

“Kamu sendirian?” Ronald bertanya lagi.

“Engga, Pak. Sama mama saya.” jawab si Isabella.

“Oh.. Yang mana Mamamu? Kaya’nya tiap kali bagi rapot atau rapat POMG, mamamu ga pernah dateng.” Ronald mulai penasaran. Ia mulai lupa tujuannya ke food court mal.

“Iya Pak. Soalnya Mama sibuk. Kan dia supermom, ngurusin aku sendirian.” Isabella ceplas-ceplos. “Nah, itu dia dateng.”

Ronald menduga-duga apa yang dimaksud supermom oleh Isabella. Apakah mamanya single parent? Kalo cakep, lumayan nih bisa di-approach! Pas lah sama status gue!

Seorang wanita menarik namun usianya sudah se-Ronald, berjalan menghampiri meja yang tengah ditempati Isabella. Ia lalu menyapa Isabella, lalu menyimpan makanannya di meja. Sekilas, Ronald merasa mengenali wanita itu.

“Pak Ronald, ini mamaku. Mama, ini pak Ronald yang sering aku ceritain itu.” Isabella mengenalkan.

Sejenak kedua mata yang telah lama tak bersua, kembali bertemu. Membangkitkan percikan yang telah lama hilang. Memberikan desiran dalam hati.

“Halo, kita ketemu lagi.” ujar Ronald.

“Iya.” jawab mamanya Isabella. “Cantik, kamu beli makanan dulu, gih.” menyuruh ke Isabella sebelum Isabella menyadari kata-kata Ronald yang soal perjumpaan mereka lagi.

Tanpa diulang dua kali, Isabella pergi dari meja dan langsung antri membeli makanan. Sementara Ronald dan mamanya masih sama-sama berdiri dalam hening.

“She’s a smart girl. Siapa bapaknya?” tanya Ronald.

“Seorang pria, yang dulu pernah pergi dan kini bertemu denganku lagi. Sekarang.” jawab mamanya Isabella.

Tenggorokan Ronald mendadak terasa sangat kering.

Serunya Internetan Terus Pake Telkomsel Flash!

Dulu saya ga pernah ngerti kenapa pacar saya sering bener internetan: fesbukan, browsing, surfing pake hape. Iya, dulu masih pacar, sekarang kan udah jadi istri. :mrgreen: Btw, back to topic >> saya dulu kalo ga salah pernah komentar gini soal kebiasaan internetan via hape itu, “Ngapain sih internetan dari hape? Bukannya mahal ya per kilobyte datanya?” Dan jawabannya: “Ya ga mahal lah, kan pake paket internetan.”

Oh, paket internet. Jujur aja, saya tau paket internet buat nomer ponsel itu ya dari dia. Setelah tanya-tanya lagi soal paket internet itu, akhirnya saya pun tau lebih banyak soal paket internet. Berapa harganya, berapa kuotanya, dan gimana daftarnya. Dan, karena saya dan dia sama-sama pake operator nomer simPATI dari Telkomsel, tentunya paket internetnya pun pake Telkomsel Flash.

Pertamanya saya kirain paket internet Telkomsel Flash itu cuman buat dipake via modem doang. Tapi ya ternyata sejak begitu banyak hape pinter (smartphone) yang bisa dipake internetan, saya pun mulai langganan paket internetan Telkomsel Flash.

Cara buat langganannya gampang, tinggal ketik nomer *363# dan call, trus tunggu sampe ganti tampilan ke pilihan-pilihan paket. Kalo buat Telkomsel Flash, pilih aja nomer 2. Tunggu sampe ganti tayangan lagi, ke pilihan-pilihan paket.

*363* buat daftar telkomsel flash
*363* buat daftar telkomsel flash

Beda-beda lho pilihannya paket internetan Telkomsel Flash ini. Ada paket modem dan tablet, paket turbo, paket flash optima, paket flash ultima. Paket-paket itu juga bisa dipilih sesuai kuota yang dimau, juga bisa pilih jangka waktunya. Kalo mau tau apa aja, bisa juga diliat di http://mobi.telkomsel.com.

http://mobi.telkomsel.com
http://mobi.telkomsel.com

 

Pilihan Paket Telkomsel Flash
Pilihan Paket Telkomsel Flash

Kalo udah pilih paket pilihannya, tinggal tunggu notifikasi dari sistem. Dan, udah gitu bisa langsung internetan deh. Gampang kan? 🙂 Iya, segampang itu buat pilih langganan paket internetan Telkomsel Flash. Bayarnya juga gampang, tinggal potong pulsa aja. Ciyus deh.

Dan, kenapa saya awet pake Telkomsel Flash? Karena sinyalnya juga paling kuat! Dari semua operator seluler di Indonesia, cuman Telkomsel deh yang sinyalnya juara. Makanya, langganan Telkomsel Flash juga ga perlu takut sinyal ilang, atau nunggu sinyal penuh baru bisa internetan.

Dan, sinyal yang terus penuh juga didukung sama teknologi 3,75 G! otomatis, wus-wus deh internetannya.. Asoy bener, jadi ga perlu nunggu lama buat load halaman ataupun akses aplikasi. Kalo udah gini, bisa-bisa ga berasa kuota udah abis aja.. #pengalaman 😆

Oiya, kalo dulu pernah ada yang tau soal “trio” *88x#, pasti tau kalo *889# bisa dipake buat cek value added services yang kita punya. Dulu, di *889# ya paling ngecek akun gratisan yang kita punya, trus gimana sekarang? Nah, akses *889# itupun masih bisa diakses buat ngecek pemakaian kuota internet kita. Sisanya berapa, jangka waktunya sampai kapan, dan lain-lain.

Aaaanyway, pas ngecek di sini, saya #barutau kalo paket Telkomsel Flash itu ada beragam. Bisa dari kartuHalo, simPATI, maupun juga kartuAS. Asik juga ya.. pake produk manapun, bisa beli dan pake paket internetan Telkomsel Flash.

Apapun produknya, Telkomsel Flash internetannya
Apapun produknya, Telkomsel Flash internetannya

Saking asiknya, sampe pengen internetan terus.. langganan terus.. pake Telkomsel Flash di hape apapun. Kamu juga kan?

Short Story #171: Cita-cita

“Kaya’nya, ga jadi deh sekolah lagi taun ini.” celetuk Armand sambil meneruskan corat-coret kertas di atas meja dapur.

Tina yang tengah menyeruput kopi di dekat kulkas, langsung bertanya. “Kenapa?”

“Ya.. karena ada hal lain yang lebih butuh perhatian. Kaya’nya ya.” jawab Armand segera tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang tengah ia corat-coret tadi.

“Emangnya apa?” Tina mendekat.

“Ya.. beberapa hal ini, dan itu.” Armand memberitahu. “Dan memang ternyata cita-cita buat sekolah lagi itu… kaya’nya ketinggian.”

“Masa?” Tina sudah berdiri di samping Armand. Pandangannya melihat ke arah lelaki yang telah berhasil mengambil hatinya.

“Iya. Buat aku, sekolah lagi itu kaya’ cita-cita yang terlalu tinggi, setinggi langit.” Armand memberitahu sambil terus corat-coret. “Jadi susah ngeraihnya.”

Tina meraih pipi Armand, membuat muka mereka kini saling berhadapan.

“If you put your dreams upon the sky and fail, at least you’ll be landed upon the stars.” Tina memberitahu. Berusaha memberikan semangat.

Armand menghela napas.“Memang gitu sih…”

“Yaudah, kalo gitu tetep semangat dong.” Tina mengecup kening Armand. “Kenapa juga sih kamu mikir gitu?”

Armand diam. Pandangannya kembali ke arah kertas yang tengah ia corat-coret sebelumnya.

“Aku mikir gitu soalnya… kadang cita-cita ga perlu digantung setinggi langit ataupun bintang-bintang.. supaya, lebih mudah diraih. Kadang aja sih.” Armand memberitahu.