Month: December 2012

Short Story #159: Happy Ending

“Perasaan, kepala gue makin bego, gini.” celetuk Laras ketika ia baru keluar dari bioskop. “Lah, kok bisa?” Dian, teman nontonnya tadi langsung bertanya. “Iya nih, pasti gara-gara keseringan nonton film.” “He?” “Iya, gara-gara film.” Laras menjawab dengan yakin. “Kan, lewat film kita dicekoki sama berbagai ide dari sutradara, penulis skenario, atau produsernya.” Dian mengangkat sebelah

Short Story #158: Menghadap Depan

“Setiap bagian dari tubuh ini, ternyata ada maksudnya. Tempatnya ga sekadar dikasih doang.” celetuk Ratna tiba-tiba saat menunggu dosen masuk ke kelas. “Contohnya?” Aisya, teman kuliah Ratna yang sudah hapal betul kelakuan ajaibnya, langsung menanggapi. “Ya.. kepala di atas, kaki di bawah, tangan di samping, dan lain-lainnya.” jawab Ratna. “Lah, emang kenapa kalo kepala di

Short Story #157: Bohong

“Udah semuanya?” Lana bertanya. “Udah.” Rio menjawab singkat. “Beneran udah?” Lana memastikan. “Iya. Beneran. Bagian mana lagi yang harus aku ulang dan pastiin kamu ga kelewat satupun faktanya?” Rio balik bertanya. “Ya.. mana aku tahu. Kamu kan baru ngasih tau aku sekarang..” Lana berkomentar. “Padahal, kejadiannya udah sejak lama.” “Justru karena udah lama, maka kamu

Short Story #156: Hilang

Ida membuka matanya perlahan. Kelopaknya berat seperti telah bertahun-tahun ia tak membuka mata, padahal baru beberapa hari saja. Hal pertama yang ia lihat, adalah seorang lelaki yang tengah tertidur di lengan ranjangnya. Ida mengangkat tangannya pelan-pelan, membelai rambut lelaki itu. Baru dua kali belaian, kepala lelaki itu bergerak, lalu terangkat. “Kamu sadar juga akhirnya..” ucap

Short Story #155: Move On

“Udahlah, Wi.. ga usah diinget-inget lagi. Let it go, and move on.” Lena memberi saran pada Dewi yang lagi-lagi didapatkan dengan menatap jendela dengan tatapan kosong. “Aku ga nginget-nginget lagi kok.. aku cuma kepikiran aja.” Dewi berkelit sambil tak melepaskan pandangannya. “Ya ga ada bedanya itu sih.” Lena mendudukkan dirinya di sofa sebelah Dewi. “He’s

Short Story #154: Harapan

“Maybe it’s time to give up.” ucap Marissa sambil melepaskan tangannya dari genggaman Leo yang langsung menatap ke wajahnya, namun ia tak menatap balik. “Kenapa?” Leo bertanya walau tahu setiap jawaban takkan bisa memuaskannya. Marissa menarik napas, lalu menyandarkan badannya ke sofa. Ia mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri. Ke arah jendela apartemen yang dibasahi oleh

Short Story #153: Mengejar

“Besok berangkat lagi?” Hilda bertanya sambil tiduran di kasurnya. Seno menjawab dengan gumaman seraya tak berhenti melakukan aktivitasnya – memasukkan pakaian ke dalam koper. “Aku kirain, ga jadi…” Hilda berkomentar. “Kalo ga jadi, pasti aku ga bakalan beberes gini.” jawab Seno. “Kali ini berapa lama?” “Kalo semuanya lancar, paling 3 hari lagi aku udah pulang.”