Short Story #159: Happy Ending

“Perasaan, kepala gue makin bego, gini.” celetuk Laras ketika ia baru keluar dari bioskop.

“Lah, kok bisa?” Dian, teman nontonnya tadi langsung bertanya.

“Iya nih, pasti gara-gara keseringan nonton film.”

“He?”

“Iya, gara-gara film.” Laras menjawab dengan yakin. “Kan, lewat film kita dicekoki sama berbagai ide dari sutradara, penulis skenario, atau produsernya.”

Dian mengangkat sebelah alisnya “Maksud loe?”

Laras menarik napas. “Yaa.. hal-hal yang ga mungkin terjadi di dunia nyata gitu deh.”

“Contohnya?” Dian penasaran.

“Ya kaya’ film tadi yang kita tonton. Masa’ iya ada manusia terbang macam superman.. Di dunia nyata, mana ada coba makhluk asing serupa manusia tiba di bumi, terus jadinya bisa terbang?”

Dian diam. Dalam hatinya ia tertawa mendengar celotehan Laras.

“Namanya juga film, Ras.. ga usah dipikirin, lah. Kan awalnya juga dibuat dari ide soal hal-hal yang ga ada di dunia nyata.” Dian memberitahu.

“Iya, gue tau. Tapi kan, itu kalo berlebihan bisa jadi pembodohan gitu ke penontonnya.” Laras tak setuju.

“Ya kalo gitu jangan kebanyakan nonton film.”

Laras tak menjawab sambil terus berjalan bersama Dian menuju lift.

“Tapi ada satu hal yang paling ganggu banget dari film-film kebanyakan.” Laras tiba-tiba melanjutkan.

“Emang apaan?” Dian bertanya setelah memencet tombol lift dan mulai menunggu.

“Soal happy ending.” jawab Laras. “Gue percaya kalo happy ending itu cuman ada di film.”

“Dan, loe mikir gitu karena di dunia nyata ga pernah ada happy ending? There are more sad ending in the real world, right?”

“Bukan.” Laras menyanggah. “In the real world, happiness never ends.” tandas Laras sambil masuk ke dalam lift yang sudah sampai dan membuka.

Short Story #158: Menghadap Depan

“Setiap bagian dari tubuh ini, ternyata ada maksudnya. Tempatnya ga sekadar dikasih doang.” celetuk Ratna tiba-tiba saat menunggu dosen masuk ke kelas.

“Contohnya?” Aisya, teman kuliah Ratna yang sudah hapal betul kelakuan ajaibnya, langsung menanggapi.

“Ya.. kepala di atas, kaki di bawah, tangan di samping, dan lain-lainnya.” jawab Ratna.

“Lah, emang kenapa kalo kepala di atas, kaki di bawah, dan tangan di samping?” Aisya lanjut bertanya.

“Ya jelas dong, tangan di samping. Kalo di depan, nanti kalo mau muter agak susah, trus nanti tiap kali mau kita pake, dia cuman bisa gerak ke depan doang gimana? Nanti jadi kaya’ zombie-zombie di film Mandarin gitu.”

“Trus?”

“Kalo kaki di bawah, itu udah jelas buat bantu kita jalan. Ga lucu aja kan, kalo kaki di atas, deket kepala, nanti kita jalannya mau jungkir balik, gitu?” Ratna menjelaskan lagi.

“Lah, kalo kepala? Kenapa di atas?” Aisya melanjutkan.

“Karena di kepala itu ada otak, buat mikir. Kalo di bawah, nanti otaknya bisa kebalik. Masa’ iya mau mikir juga kebalik?” Ratna berujar. “Trus juga, di kepala itu ada mata, buat liat. Kalo kepala di bawah, nanti susah dong kalo mau liat, kehalang sana-sini.”

“Oo..”

“Bahkan, letak mata di kepala pun ada maksudnya kenapa dia ada di wajah, menghadap depan.”

“Hah? Emang apaan?” Aisya penasaran.

“Ya… mata menghadap depan itu supaya kita ngeliatnya terus ke masa depan, bukannya kaya’ loe yang ngeliatin melulu masa lalu..” jawab Ratna polos.

“HEH! KENAPA MALAH JADI GUE!”

Short Story #157: Bohong

“Udah semuanya?” Lana bertanya.

“Udah.” Rio menjawab singkat.

“Beneran udah?” Lana memastikan.

“Iya. Beneran. Bagian mana lagi yang harus aku ulang dan pastiin kamu ga kelewat satupun faktanya?” Rio balik bertanya.

“Ya.. mana aku tahu. Kamu kan baru ngasih tau aku sekarang..” Lana berkomentar. “Padahal, kejadiannya udah sejak lama.”

“Justru karena udah lama, maka kamu harus percaya kalo semua itu udah lewat. Udah selesai.” Rio mencoba meyakinkan.

“Oya?”

“Iya. Dia cuman selewat aja, Lan. Aku juga ga pernah ngasih perhatian khusus.” jawab Rio. “Dan yang paling penting, aku nolak dia.”

“Begitu aja?”

“Iya. Begitu aja. Sesederhana itu.”

“How do I know if you’re not lying?” Lana bertanya lagi.

“You don’t.”

“Why?”

“Because only a liar who knows if someone’s lying.” Rio menjawab.

Short Story #156: Hilang

Ida membuka matanya perlahan. Kelopaknya berat seperti telah bertahun-tahun ia tak membuka mata, padahal baru beberapa hari saja. Hal pertama yang ia lihat, adalah seorang lelaki yang tengah tertidur di lengan ranjangnya.

Ida mengangkat tangannya pelan-pelan, membelai rambut lelaki itu. Baru dua kali belaian, kepala lelaki itu bergerak, lalu terangkat.

“Kamu sadar juga akhirnya..” ucap lelaki itu dengan nada senang walau wajahnya terlihat begitu lelah.

“Memang sudah berapa hari, Fer?” tanya Ida.

“Ah, sebentar.” jawab Ferry, lelaki itu.

“Sebentar?” Ida merespon. “Sepertinya, terakhir kali wajah kamu kusut seperti itu setelah kurang tidur selama empat hari. Dan kamu bilang, empat hari itu sebentar?”

Ferry menarik napas, senyuman hilang di wajahnya yang berganti menjadi mimik serius.

“Buatku empat hari itu sebentar, daripada harus selamanya tak bisa melihatmu sadar kembali.” jawab Ferry.

Ida yang semula hendak marah, kemudian sedikit terharu. Emosinya bercampur.

“Seharusnya kamu ga usah nungguin aku terus. Urus dirimu juga, supaya kalo aku sadar gini, kamu lebih enak diliat.” Ida mengomentari tampilan Ferry yang benar-benar kusut.

Senyuman kembali hadir di wajah Ferry. “Kalo aku tahu kamu bakal sadar sekarang, ya aku juga pasti mandi dulu, ganti baju dengan yang lebih rapi, plus pake parfum yang kamu suka.”

“Tapi kalo kamu ngurusin aku terus, emangnya kamu ga kerja? Ga masuk kantor? Nanti karir kamu hancur seketika, dong. Siapa tahu, ada kesempatan yang justru hilang seketika.” Ida mengingatkan.

“Gapapa.”

“Kamu yakin?”

“I’m ready to have everything lost, except one.” Ferry memberitahu.

“What’s that?” tanya Ida penasaran.

“You.”

Short Story #155: Move On

“Udahlah, Wi.. ga usah diinget-inget lagi. Let it go, and move on.” Lena memberi saran pada Dewi yang lagi-lagi didapatkan dengan menatap jendela dengan tatapan kosong.

“Aku ga nginget-nginget lagi kok.. aku cuma kepikiran aja.” Dewi berkelit sambil tak melepaskan pandangannya.

“Ya ga ada bedanya itu sih.” Lena mendudukkan dirinya di sofa sebelah Dewi. “He’s out of your world.”

“Mungkin iya.. but I may be still in his world.”

“Ngarep amat sih..” Lena merespon dengan ketus.

“Aku ga ngarep, aku cuma penasaran.” Dewi membela diri.

“Penasaran sampe kapan? Sampe mati? Sampe dia ngeduda?” nada suara Lena sedikit meninggi. “Masih banyak lelaki lain yang lebih baik daripada dia. Move on, darl…”

Dewi hanya menjawab dengan dengusan. Sementara Lena menghela napas. Memikirkan cara lain untuk menyadarkan sahabatnya itu, bahwa sudah saatnya hidup kembali berjalan.

“Move on itu ga musti langsung ketemu atau ngedate sama cowok lain lho.. langkah pertama bisa dimulai dengan cara ga mikirin dia lagi…” Lena kembali memberi saran.

“Gimana caranya aku ga mikirin dia, kalo di setiap sudut yang aku liat, selalu ada kenangan tentang dia?”

“Kalo gitu, pikirin dia sebagai kenangan. Sebagai masa lalu.” jawab Lena. “Inget lho, kamu tuh hidup di jaman sekarang, dan kelak masa depan. Bukan di masa lalu.”

Dewi akhirnya menoleh ke arah Lena yang sedari tadi menatapnya.

“How do I know that I’m moving on forward?” tanya Dewi.

“Easy… you don’t step back.”

Short Story #154: Harapan

“Maybe it’s time to give up.” ucap Marissa sambil melepaskan tangannya dari genggaman Leo yang langsung menatap ke wajahnya, namun ia tak menatap balik.

“Kenapa?” Leo bertanya walau tahu setiap jawaban takkan bisa memuaskannya.

Marissa menarik napas, lalu menyandarkan badannya ke sofa. Ia mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri. Ke arah jendela apartemen yang dibasahi oleh aliran air hujan sore hari. Menghindari tatapan Leo.

“Aku capek.” Marissa memberitahu.  “Aku capek harus ke dokter sana-sini, capek denger nasihat sana-sini, capek juga sama semua komentar! Capek!”

Giliran Leo yang menarik napas.

“Semangatnya ditambahin lagi dong, Sayang.” Leo coba menghibur. “Namanya juga usaha, ya pasti harus terus dicoba. Lagi, lagi, dan lagi dengan segala caara yang ada.”

“Tapi aku capek!” nada suara Marissa meninggi.

Leo diam sejenak.

“Jadi kamu maunya gimana?”

“Aku ga mau dokter sana-sini. Aku juga ga mau denger komentar apapun soal kondisi aku, kamu, ataupun kondisi kita.” Marissa langsung menjawab. “Kita yang jalanin berdua kok ya, yang ribetnya orang lain. Why don’t they just shut up their mouth?”

Leo beranjak dari duduknya. Ia kini berada di samping Marissa setelah semula berada di depannya.

“Tahu ga, aku sih ga pernah tuh dengerin apa kata mereka. Makanya kan, aku sih santai aja..” Leo memberitahu.

“Tapi mereka juga ga peduli kamu dengerin apa engga!” Marissa langsung menoleh. “Aku kan lama-lama juga panas nih telinga, karena denger hal-hal yang sama terus.”

Kali ini Leo tersenyum. Kecil. “Udah, biarin aja..”

“Komentar-komentar seperti itu seringnya bukannya ngebangkitin semangat, malah bisa nurunin semangat lho…” nada suara Marissa mulai bergetar. “Kadang.. aku mulai kehilangan semangat sama sekali. Kehilangan harapan.”

Leo tiba-tiba memeluk Marissa dari arah samping.

“Jangan kehilangan harapan dong, Sayang..” Leo memberitahu. “Karena harapan itu… kamu tetap percaya dan berusaha, walau mungkin susah untuk mewujudkannya.”

Short Story #153: Mengejar

“Besok berangkat lagi?” Hilda bertanya sambil tiduran di kasurnya.

Seno menjawab dengan gumaman seraya tak berhenti melakukan aktivitasnya – memasukkan pakaian ke dalam koper.

“Aku kirain, ga jadi…” Hilda berkomentar.

“Kalo ga jadi, pasti aku ga bakalan beberes gini.” jawab Seno.

“Kali ini berapa lama?”

“Kalo semuanya lancar, paling 3 hari lagi aku udah pulang.” jawab Seno santai sambil kemudian masuk ke dalam kamar mandi, mengambil beberapa perlengkapan mandi.

“Oh…”

“Kamu mau aku bawain apa dari sana? Bolu? Pancake duren, atau apa?” tanya Seno ketika ia sudah kembali dari kamar mandi, lalu menyimpan perlengkapan mandi ke dalam kopernya.

“Ah.. aku ga gitu tau apa yang khas dari sana.” jawab Hilda santai sambil mengubah posisi tidurannya dari semula telungkup, menjadi telentang dan kemudian menggenggam ponselnya.

Seno bergerak ke sisi kasur dekat Hilda. Ia mengecup kening wanita yang telah memberinya anak-anak lucu.

“Kalo kamu ga pergi, gimana?” tanya Hilda.

Seno tersenyum. “Kamu tahu kan, kalo aku ga bisa gitu.”

“Iya, aku tahu. Makanya aku nanya. Siapa tau tiba-tiba aja kamu bilang hal yang berbeda daripada kata-kata yang udah kamu ucapin sejak 2-3 taun yang lalu itu.”

Seno tersenyum lagi, kali ini sambil kemudian ikut berbaring di sebelah Hilda dan memeluknya.

“Jangan gitu dong, Yang..” Seno membujuk.

Hilda tak menjawab. Ia menatap langit-langit kamar.

Seno kemudian memutuskan untuk tak melanjutkan membereskan kopernya, lalu berbaring di sebelah Hilda. Memeluknya. Mulai menciuminya. Di pipi, leher, pundak, dan berbagai bagian tubuh lainnya dari Hilda.

Hilda belum merespon namun membiarkan Seno menjelajahi setiap bagian tubuhnya.

“Kamu tau ga…?” Hilda bertanya.

“Apa?” Seno bertanya tanpa berhenti melakukan aktivitasnya.

“Kadang… saat kita terlalu asyik mengejar sesuatu yang ga kita punya, kita justru lupa dan ngelepasin apa aja yang udah kita punya..” Hilda memberitahu sambil kemudian merespon aktivitas Seno, setelah sebelumnya mengirimkan pesan bertuliskan ‘mulai besok kita FREE’ dan melemparkan ponselnya sejauh mungkin.