Short Story #152: Masa Lalu

“Lho, loe suka nongkrong di sini juga?” seru seorang wanita sambil menepuk pundak Arya yang tengah menonton pertandingan ulang sepakbola di TV.

Arya melihat ke arah wanita tadi yang kini sudah berdiri di samping kanannya. Dahinya berkerut.

“Pasti loe lupa sama gue..” wanita itu berkomentar. “Gue Sheila, temen sekelas loe pas SMA dulu..”

Kerutan di dahi Arya seketika menghilang. “Ah elo.. mana mungkin lah gue lupa sama kembang kelas yang dikejar-kejar sana-sini.”

“Hush.. bisa aja loe, ah.” Sheila tersenyum sambil memegang kursi di seberang Arya. “Eh btw, sendirian?”

Arya berpikir sejenak. Hatinya hendak menolak, tapi.. kepalanya berkata sebaliknya. “Iya.”

Sheila langsung duduk di kursi seberang Arya, sambil menyimpan tas kecilnya di atas meja. Ia lalu membenarkan letak roknya sebentar, agar tak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengintip. Iya, ia mengenakan rok mini, dan itu sepertinya alasan kenapa kepala Arya tak sejalan dengan hatinya.

“Udah seberapa sering loe ke sini?” Sheila bertanya.

“Yah.. malam ini, dan juga malam-malam sebelumnya.” jawab Arya santai sambil meminum minumannya.

Seorang pramusaji menghampiri Sheila yang langsung memesan minuman dan makanan. Setelah itu, pramusaji itu pun pergi.

“Tempat ini keren ya.. resto dengan konsep bar.” Sheila melanjutkan.

“Ya.. begitulah.” jawab Arya sedikit malas. “Loe sendirian juga?”

“Bisa dibilang begitu sampe…. sekitar setengah jam lagi.”

“Acara kantor?”

“Engga. Acara geng kuliah aja.”

“Oh.” Arya menjawab dengan nada tak tertarik. Matanya kembali melihat ke arah TV, tapi sudut matanya tak bisa lepas dari makhluk cantik yang sedang duduk di depannya.

“Kok sebelum malam ini, kita ga pernah ketemuan ya di sini? Padahal gue juga sering ke sini. Seenggaknya, seminggu sekali lah.” Sheila berkomentar.

“Bad timing mungkin. Atau, emang ga jodoh..” jawab Arya.

“Halah, jodoh…” Sheila menggumam kecil, sementara pramusaji tadi kembali sambil membawa dua gelas minuman beralkohol. Diam-diam, Arya menduga-duga jika segelas minuman beralkohol itu akan disodorkan kepadanya.

“Loe kuat langsung minum dua gelas itu?”

Sheila menggeleng. “Nope, yang satu lagi buat loe. Ini gue segelas buat pemanasan sebelom kumpul geng nanti.”

Arya mengangkat alisnya. “Sorry, no alcohol for me tonight. I’m driving.”

“Ayolah, segelas aja..” Sheila membujuk. “Lagipula, yang loe minum itu ga ada alkoholnya?”

“Ini?” Arya mengangkat gelasnya. “Ini soda.”

“Yaudah, icip sedikit aja. Gue udah beliin buat loe juga..” Sheila kembali membujuk.

Arya diam. Berpikir.

“Thanks, but no thanks.” Arya kembali menolak.

“Come on.. itung-itung aja loe ngebir buat inget-inget masa lalu..” Sheila terus membujuk.

Arya menarik napas dan menghembuskannya. Sheila merasa bujukannya berhasil.

“Ga bisa Sheil.. Soalnya yang gue inget dari masa lalu adalah… gue suka sama loe, dan dulu loe ga minum alkohol gini.”

Short Story #151: Melangkah Bersama

“Kopimu sepertinya sudah dingin.” Jane memberitahu Romeo.

“Oh, ya?” Romeo seakan tersadar dan langsung mendekatkan cangkir kopinya ke bibir tanpa meminumnya, lalu menyadari aroma hangatnya sudah hilang. “Iya, sudah dingin.”

“Mau pesan lagi?” tanya Jane.

“Ga. Ga usah.” jawab Romeo sambil menaruh cangkir kopinya, lalu menatap keluar jendela kedai kopi lagi seperti sebelum diberitahu Jane soal kopinya.

“Soal dia lagi?” tanya Jane.

“Ya.. memangnya apalagi?” jawab Romeo tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

Jane tak melanjutkan. Ia membiarkan sahabatnya tersebut kembali larut dalam aktivitasnya, sementara ia kembali membaca buku yang ia baca sejak sekitar sejam yang lalu.

“Ngelakuin hal-hal begini emang ga bisa bikin kondisi hubungan aku jadi lebih baik sih.. tapi….” Romeo diam sejenak, “..seenggaknya pikiranku jadi lebih tenang daripada sejak seminggu yang lalu.”

“Sudah selama itu?”

“Iya.”

“Kali ini persoalannya gawat, ya?” tanya Jane penasaran.

“Selalu gawat kalo sama dia sih.” Romeo memberitahu, namun terdengar seperti sebuah keluhan.

“Kamu udah coba cari jalan keluar? Udah ngobrol bareng?”

“Kalo belom, ga bakalan deh aku jadi mumet gini. Kamu tau sendiri kan, aku tuh tipe orang yang kurang peka. Suka ga merhatiin apapun, sebelum kemudian diajak ngobrol bareng..” Romeo kali ini menjawab sambil melihat ke arah Jane.

“Oh… iya sih.”

“Persoalannya sederhana sih, tapi ya.. kadang soal yang sederhana itu sulit diselesaikan kalo udah menyangkut jalan hidup.”

“Maksudmu?” Jane menyimpan bukunya ke meja, dan kemudian melihat serius ke Romeo.

Romeo menarik napas. “Dia ga pengen merit. Sementara….”

“Iya, aku tau. Kamu udah siap segala macem ya.” Jane meneruskan.

“Itu dia.” Romeo merespon. “Kalo dia emang ga pengen merit, ya harusnya dia bilang dong ya sejak semula aku bilang aku pengen merit sama dia.”

“Mungkin, dia terlalu sayang sama kamu, dan takut kehilangan kamu.” Jane mencoba menghibur. “Mungkin.. pada saat kamu ngomong itu, dia masih belum terlalu yakin.”

“Belum terlalu yakin apanya? Belum yakin sayang sama aku, atau belum yakin mau merit?” nada suara Romeo sedikit meninggi.

Jane diam. Ia tak bisa menjawab.

“Mungkin dia lupa.. kalo mau melangkah bersama itu… harus punya tujuan yang sama.” jawab Jane pada akhirnya.

Lebih Besar, Lebih Cepat Berkembang, Lewat Digital

Apapun bisa dibisniskan. Pendapat itu seringkali dilontarkan oleh mereka yang berwirausaha, atau minimal memiliki naluri untuk berwirausaha. Dan, bisnis itupun ga harus langsung besar, bisa dari yang kecil-kecil dulu. Yang penting, terus berkembang,  dan fokus.

Lalu, bagaimana berbisnis itu? Agak sulit menjawabnya, karena saya bukan (tepatnya belum jadi) pemilik bisnis. Saya masih jadi pekerja bisnis – alias, bekerja di bisnisnya orang lain. Walau begitu, saya belajar banyak hal – siapa tau kelak bisa dan berani jadi pemilik bisnis sendiri. Salah satu hal yang dipelajari adalah.. melek atau aware dunia digital itu penting buat bisnis. Terutama buat startup bisnis (bisnis yang baru dibuat). Pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa.. Mau tahu alasannya? Simak sebagai berikut…

  1. Riset dan analisa pasar.
    Apa output bisnis yang lagi dibuat? Produk atau jasa? Apapun outputnya, pasti akan lebih baik kalo tau punya informasi yang detail soal siapa target, dan juga kondisi pasarnya. Target ini perlu diketahui supaya kita tau siapa calon potensial dari klien/konsumen bisnis kita. Sementara kondisi pasar itu perlu diketahui apakah pasarnya jenuh/kepenuhan atau engga.
    Gimana cara caritaunya? Gampang.. Buka aja search aja via search engine seperti google.com, trus gugling (cari) kata kunci yang berkaitan sama output bisnis kita. Misal: output bisnisnya adalah logo, maka kita gugling aja logo, dan liat search resultnya. Link-link yang tersedia itulah yang bisa buat riset dan analisa pasar bisnis kita.

    gugling soal logo
    gugling soal logo

    Kalo ga melek digital gimana? Ya riset dan analisa pasarnya dilakukan sambil beneran turun ke pasar, nanya sana-sini, cari sana-sini, atau nyebar angket gitu.. Atau bahkan, bayar lembaga tertentu buat bikin riset dan analisa itu. Coba, lebih praktis dan cepat mana ketimbang kalo via digital?

  2. Gabung dan diskusi di forum bisnis – siapa tau bisa dapat coaching gratis.
    Forum pengusaha atau pebisnis di dunia digital itu udah banyak lho. Mulai dari yang berbasis di milis – yahoogroups atau googlegroups, sampai di forum berbasis web, dan atau twitter seperti @tangandiatas, @startupbisnis, atau @startuplokal. Ga cuman forum bisnis, beberapa pentolannya juga aktif di dunia digital seperti @nataliardiantodan lain-lain. Di forum-forum itu selain bisa sharing, juga bisa nanya-nanya lho. Dan bahkan, bisa jadi dapet coaching gratis. Seru kan? :mrgreen:

    tangandiatas - salah satu forum pengusaha/pemilik bisnis
    tangandiatas – salah satu forum pengusaha/pemilik bisnis

    Kalo ga via digital? Musti dateng ke kantornya mereka, ngajak meet up, via telepon, dan kadang ga semuanya bisa didapetin karena forum atau pentolannya udah keburu sibuk sama bisnis mereka sendiri. Selain itu, time consuming dan kurang praktis ketimbang via digital.

  3. Dapetin inspirasi.
    Inspirasi bisa dateng dari mana aja. Salah satunya dateng via digital. Maksudnya gimana? Gini deh.. gini… Misal punya output bisnis berupa jasa desain produk, nah.. ada kalanya kalo mau ngedesain produk itu selain berdasarkan deskripsi dari klien kan. Kadang, deskripsi itu ya standar, seperlunya aja.
    Buat dapetin inspirasi, bisa aja kita gugling images di google images, dan atau nanya pendapat ke “masyarakat” digital soal produk yang lagi kita buat desainnya. Ga perlu deskripsi jelas, cukup seperlunya aja. Yang penting, keywordnya jelas. Berbagai respon dan input itulah yang bisa jadi bahan inspirasi kita buat desain produk. Ini contoh gampangnya yaaa.. Kalo ga melek digital? Pasti dapetin inspirasinya kalo mau nanya harus bikin angket gitu.. ga praktis. 😛

    gugling desain produk
    gugling soal desain produk

    Ada satu hal yang harus digarisbawahi kalo kita dapetin inspirasi via digital.. Yakni, jangan copy paste. Hargailah hasil karya orang lain, jangan jadi plagiator. Dapetin inspirasi dari hasil karya orang lain boleh, dan kalo mau bikin desain sendiri, bikinlah yang lebih bagus lagi. Kaya’ prinsip ATM – Amati, Tiru, Modifikasi.

  4. Pemasaran & Periklanan
    Sejauh mana dan seperti apa sih, kepengen bisnis dan outputnya diketahui banyak orang? Se-RT? Se-RW? Se-kelurahan? Kalo pake digital, bisa menjangkau seluruh dunia dengan sebatas perantara satu komputer/device yang terhubung ke internet. Mudah, murah, dan akurat! Caranya? Gampang.. mulai dari ngepost di forum/komunitas besar seperti kaskus, punya blog prbadi macam di wordpress atau domain sendiri, sampai dengan pasang iklan dengan biaya yang bisa diatur! Apalagi kalo pasang iklannya di facebook, notabene calon klien/konsumen potensial bisa didapat secara akurat, mengingat pengguna facebook dari Indonesia udah banyaaaaakkk banget.

    contoh iklan di fb
    contoh iklan di fb

    Semakin besar dan semakin akurat pemasaran bisnis dan outputnya, tentunya akan meningkatkan peluang bisnis kita untuk diketahui banyak orang, dan juga tentunya meningkatkan peluang dibeli/digunakan klien. Banyak kok order bisnis yang dilakukan sekarang via online. Contohnya? Paling mudah adalah toko buku, atau penjual buku dan atau aksesoris.

  5. Networking & Partnership
    Digital itu.. menghubungkan siapa aja, di mana aja, kapan aja, dengan lebih mudah. Dulu kalo mau kontak siapa pun, pake cara surat pos, telepon, dan atau ketemuan secara nyata. Sekarang? Via digital? Semua lebih praktis dan cepat. Udah baca sebab nomer 2 di atas kan? Nah, dari gabung di forum atau dapet coaching itulah, bisa jadi malah ada networking/partnership buat bisnis. Siapa tau, malah dapet pemodal baru.

    buat networking
    buat networking

    Yup, dengan dunia digital yang bisa ngehubungin siapa aja dengan mudah, berarti kita sebagai pemilik startup business pun bakal mudah dihubungi siapa aja – apalagi kalo selain punya email, kita punya laman pribadi tempat informasi dasar kita, seperti di website gitu.. Banyak lho yang gratisan, macam punya saya di about.me. Modal, partner baru, atau bahkan peluang buat memperbesar business akan terbuka dengan lebar! Kalo ga via digital, bakal butuh waktu yang lebih banyak kaya’nya ketimbang lewat digital yang praktis.

    laman kontak
    laman kontak

Jadi, penting ga sih melek digital buat startup business? Jawabnya, penting banget! Karena, bisnis kita yang masih startup bisa jadi lebih besar, lebih dikenal, dan lebih cepat berkembang dengan bantuan dunia digital. Cara-caranya ya… seperti udah saya tulis di atas yaa.. Apalagi, sekarang dunia digital (dan internet) lebih mudah diakses. Salah satu penyedia akses yang mudah ya AXIS dengan paket internetnya. Saya sendiri, pake paket AXIS Pro yang bulanan di device saya. Anyway, cara-cara di atas itu sebagian aja sih, karena masih banyak lagi cara-cara yang bisa dilakukan kalo kita udah melek digital. :mrgreen:

Sudah siap melek digital, kan?

NB: Tanpa mengurangi isi, blogpost ini sedang saya ikutsertakan di Melek Digital untuk Startup Business Blogging Competition. Semua hasil skrinsut saya dapat dengan membuat sendiri via browser di laman web terkait.

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Short Story #150: Happiest People

“Aku kadang penasaran gimana bisa ada orang yang sudah berusia lanjut tapi aura wajahnya memancarkan kebahagiaan.” Eva membuka pembicaraan sore itu di kedai kopi. “Sepertinya, hidupnya begitu bahagia, indah, ceria.”

“Siapa yang seperti itu?” Jasmine, rekan sekerjanya merespon dari kursi seberang.

“Ya banyak.” jawab Eva singkat. “I found them on my families, friends, office-mates, colleagues, and so. Bahkan ketemu sekali doang di angkutan umum pun, bisa langsung ketebak auranya bahwa dia memiliki aura yang memancarkan kebahagiaan.”

“Happy people.” giliran Rio, masih rekan sekerja Eva, merespon setelah mendengarkan penjelasan Eva.

“Iya, happy people. Or maybe, happiest people on their circle.” Eva menambahkan.

“Mungkin, karena sudah usia lanjut, jadinya mereka ga gitu mikirin yang ribet-ribet. Jadinya, mikir yang gampang, simpel, dan bikin seneng. Jadilah keliatannya bahagia terus.” Jasmine berasumsi.

“Mungkin…” jawab Eva.

“Atau.. mungkin juga dia udah punya segala yang dia pengen dan butuh.” Jasmine menambahkan. “They might already have all the best of everything in life.”

“Tapi belum tentu begitu sih. Kadang, orang yang memang memiliki aura kebahagiaan itu sudah dibentuk sejak sebelum berusia lanjut. Dibentuk dari sifat dan juga sikapnya.” Rio menyanggah. “Terutama, bagaimana dia memandang dan berbuat dalam hidup.”

“Maksudmu?” tanya Jasmine. Eva di depannya hanya melihat dengan tanda tanya ke arah Rio.

Rio tak langsung menjawab. Ia meminum kopinya sebentar sebelum melihat kembali ke arah Jasmine dan Eva secara bergantian.

“To be the happiest people, isn’t just about having the best of everything in life… They just make the best of everything they had in life, at anytime.” Rio memberitahu.

Short Story #149: Keinginan Dunia

“Aku masih ga ngerti kenapa kamu harus ngebuang kesempatan itu, begitu aja.” Vany berkomentar kepada Rizki, rekan kerja yang kubikelnya bersebelahan dengan miliknya.

Rizki berhenti menatap layarnya, lalu melihat ke arah Vany. “Ya, kamu ga harus ngerti, sih.”

Vany menarik napas. Cangkir kopinya ia simpan di atas pembatas kubikelnya. Ia lalu berdiri menyandar sambil masih tetap melihat ke Rizki. “For all of these times, you’ve been telling me about your dreams. And now, when the chance has come, you’ve decided to put it away?”

Rizki memutar kursinya hingga menghadap ke arah Vany. Ia tersenyum kecil.

“Kadang, kamu harus ngelepas sesuatu untuk ngedapetin sesuatu.” Rizki merespon.

“Maksudmu?”

Rizki tak langsung menjawab. Ia menegakkan duduknya sementara Vany memegang kembali cangkir kopinya dan bergerak masuk ke dalam kubikel Rizki.

“Aku ngelepas kesempatan buat transfer ke kantor di Eropa kemaren itu, karena ada sesuatu yang lagi aku pengen dapetin di sini, sekarang.” Rizki memberitahu.

“Pindah kerja?” Vany langsung menebak.

“Bah.. bukan lah.” jawab Rizki yang langsung disambung tawa kecil. “It’s more than that.”

“Wah, kamu ditawarin jadi bos di sini?”

Rizki tertawa kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku maksud ‘di sini’ bukan berarti di kantor, Van.. melainkan di Indonesia.” Rizki memberitahu. “Dan bukan selalu soal kerjaan, lho.”

“Lalu apa? Kamu mau nikah?” tebak Vany.

Rizki hanya menjawab dengan senyuman sambil meregangkan badannya, hingga badannya kembali bersandar ke kursi.

“Nikah atau apapun itu, kan harusnya ga ganggu proses transfer kamu ke Eropa.. Lagipula, nanti kan istrimu bisa diajak buat tinggal di sana.” Vany berkomentar. “Aku aja pasti lebih mentingin transfer ke Eropa deh.. Kapan lagi punya kesempatan buat tinggal dan kerja di sana? It’s more than anything that I want in the world right now…”

“Nah… itu bedanya aku dan kamu.” Rizki segera merespon.

“Maksudmu?”

“Bagi dunia, kamu hanya seseorang dengan keinginan yang besar. Tapi bagi seseorang dengan sebuah keinginan, mungkin kamu adalah dunianya.” Rizki memberitahu.