Month: October 2012

Short Story #148: Mapan

“Loe ga pernah punya keinginan buat pulang ke rumah dan ngedapetin ada orang yang nungguin loe, ya?” Valerie bertanya pada Ahmad, salah satu sahabat lelakinya, saat mereka berdua tengah menikmati kopi di kedai dekat kantor, selepas jam kantor. “Kok loe nanya gitu?” Ahmad malah balik bertanya. “Yah, abis kaya’nya loe santai-santai aja dengan status loe

Short Story #147: Hangat

“Masih 1 jam lagi menuju pagi.” Ajeng bergumam. “Iya. Bentar lagi.” Vincent menjawab tanpa mengalihkan pandangannya langit yang masih gelap. “1 jam yang rasanya lama..” Ajeng menambahkan. “Lama kalo kamu nungguin banget.” Vincent menjawab lagi. “Iya, dan ternyata udara jelang pagi dingin banget ya di lantai 10 ini..” ucap Ajeng. Vincent sesaat menoleh ke arah

Short Story #146: Kontrak

“Besok kontraknya abis.” Audrey memberitahu ketika mobil yang dikemudikan Fadel berhenti di sebuah lampu merah. “Kamu udah dapet yang kamu mau, cewek yang bisa bikin ortu kamu sedikit lega..” “Iya. Aku tau.” jawab Fadel segera tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. “Dan aku berharap aku dapet yang kamu janjiin ke aku di kontrak itu.” Audrey kembali

Short Story #145: Crossing

“Jadi, di sini kita harus berpisah?” Amanda mengepalkan tangannya sambil menarik jaketnya. Pandangannya mengarah ke bawah, ke lantai bandara. “Mungkin.” jawab William, lelaki yang berada di depannya, yang justru memandang kea rah Amanda dengan tegas. “Kenapa kamu jawab mungkin?” Amanda bertanya lagi. Kali ini ia sudah mengangkat kepalanya, tapi ia masih tak berani langsung memandang

Short Story #144: Mimpi

Evan baru membuka pintu ketika dering telepon apartemennya berhenti. Tanpa terburu-buru, ia pun menyimpan jaketnya ke belakang pintu dan membiarkan mesin penjawab otomatis menyala. “Hai, saat ini Evan ga bisa angkat telepon. Kalo kamu ada pesan, kasitau aja setelah bunyi bip yaa..” terdengar rekaman suara Evan yang kemudian diikuti bunyi bip panjang. Setelah menutup pintu,

Short Story #143: Nyesel

“Kalo senyum, dia mirip kamu.” sahut sebuah suara dari arah kanan belakang. Otomatis, Akbar menoleh karena merasa mengenali suaranya, namun tidak mengubah posisinya berdiri. “Sudah lama kamu di situ?” Akbar merespon dengan nada datar setelah melihat siapa yang berada di belakangnya. “Beberapa menit.” jawab Victoria, pemilik suara tersebut. “Oh.” ucap Akbar sambil kembali melihat ke

Short Story #142: Tidak Tahu Jawaban

“Aku penasaran kenapa kok kamu bisa tahan sama aku selama ini…” ucap Natalie saat ia selesai makan malam. “Lho, kenapa penasaran?” Faisal balik bertanya. Ia sudah selesai makan malam sejak beberapa saat sebelumnya, tapi belum beranjak dari kursi makan. “Ya.. banyak hal.” “Coba jelasin satu-persatu.” Faisal langsung merespon. “Umm…” Natalie menggumam sambil berdiri, menyimpan piring

Short Story #141: Abai

“It’s been three days. You should’ve move on.” Raya memberi saran pada Della yang tengah duduk menghadap jendela. “Kenapa harus?” Della bertanya tanpa memalingkan pandangannya. “No news, no calls, no door knocks? For three days?” Raya memberi jawabannya dengan pertanyaan. Ia lalu duduk di sofa samping kursi jendela tempat Della berada. “Mungkin.. dia sibuk.” “As