Short Story #140: Cukup

“Kamu mau minta apa?” Dewi bertanya usai panjang lebar memberitahu apa saja yang ia ingin wujudkan beberapa bulan ke depan.

“Ga. Aku ga minta apa-apa. Yang sekarang juga udah cukup.” jawab Dodi santai sambil membelai punggung Dewi.

“Yakin?” Dewi bertanya penasaran.

“Iya.”

“Beneran?”

“Iya, beneran.” Dodi menjawab lagi sambil tetap bersandar ke sofa.

“Oh.. abisnya aku ga enak nih.” Dewi mengubah posisi duduknya di sofa.

“Ga enak gimana?” Dodi bertanya balik sambil menegakkan duduknya. Kini, ia yang penasaran.

“Ya abis semenjak kita merit, kamu berubah.”

Dodi serta-merta mengangkat alisnya. “Berubah gimana?”

“Ya.. dulu pas masih pacaran kaya’nya aku minta apa, pasti kamu juga bakal balik minta sesuatu sama aku. Sekarang setelah merit, kok ya kaya’nya aku ga pernah denger sekalipun deh..” Dewi memberitahu.

“Oh..”

“Oh doang?”

“Iya.” jawab Dodi singkat.

“Ckck.. kamu nyebelin, ih.” Dewi sedikit merajuk sambil memeluk bantal sofa.

“Lho, kenapa aku jadinya nyebelin?” Dodi menggaruk-garuk kepalanya.

“Ya kasih respon yang lebih banyak gituuu.. jangan cuma ‘Oh’ doang..”

“Ya abis, aku mau respon apalagi? Ngasitau alesannya?”

“Iya, kasitau dong alesannya!” Dewi meminta dengan setengah manja dan setengah memerintah.

Dodi menarik napas sejenak, lalu menggumam. “Hmm.. kamu ga harus tau ah..”

“Iiihh.. masa’ main rahasia-rahasiaan sih!” Dewi langsung cemberut dan membuang pandangannya dari Dodi. “Kalo gitu, aku juga main rahasia-rahasiaan ah.”

“Lho, ya jangan dong Sayang..” Dodi meminta sambil memeluk Dewi dari arah belakang.

“Ya kalo gitu kasitau dong apa alesannya kenapa kok kamu ga minta apa-apa lagi dari aku?” Dewi merajuk.

“Ya… karena begitu kamu jadi milik aku, segala permintaan aku langsung tercukupi.” jawab Dodi sambil tersenyum kecil.

Short Story #139: Aku Cuma Pengen Kamu Tau

Lily melihat lagi ke arah ponselnya. Memastikan pesan yang masuk benar-benar dari Leon, lelaki yang telah memikat hatinya.

Pelan-pelan dalam kegelapan rumah, ia menuju pintu depan. Membawa tasnya. Memegang jaketnya. Berharap tak ada kegaduhan yang timbul.

Tepat di saat ia memutar anak kunci pintu depan, ia mendengar suara.

“Ketemu Leon lagi?” ujar seseorang dari arah sofa.

Tanpa perlu menyalakan lampu, Lily mengetahui siapa pemilik suara itu. “Sejak kapan kamu duduk di situ, Mas? Aku kira kamu masih tenggelam di ruang kerja. Seperti malam-malam biasanya.”

“Aku ga pernah tenggelam di ruang kerja. Aku malah selalu di sini setiap kali kamu pikir aku ada di ruang kerja.” jawab Renaldi. Masih dari dalam kegelapan.

Lily menyimpan tas dan jaketnya ke lantai dekat pintu. Ia lalu menyalakan lampu dari saklar dekat pintu.

“Don’t stop me. Don’t even think to do it.” Lily memberitahu sambil melihat ke arah Renaldi yang tengah duduk dengan santai di salah satu sofa ruang tamu.

“I don’t.” jawab Renaldi singkat. “Aku bahkan ga pernah nyetop kamu juga sebelum-sebelumnya, ‘kan?”

Lily menarik napas.

“Maumu apa, sih Mas?” tanya Lily sambil menyandarkan dirinya ke arah pintu.

Renaldi mengubah kakinya yang bersilang sambil masih duduk.

“I want you to be honest. If you’re going to meet Leon, just say. I won’t stop you. I just want you to tell me. That’s the foundation of our relationship. Or.. it was.” Renaldi memberitahu.

“Kamu ga ngelarang, tapi kamu ngasih wejangan banyak banget.” Lily merespon dengan nada ketus.

“Seenggaknya itu yang masih bisa aku lakukan.”

“Tapi ga harus, toh Mas.”

Renaldi kemudian diam. Ia menatap Lily yang melihat ke arahnya dengan memicingkan mata sebal.

“Baiklah.” ucap Renaldi singkat sambil kemudian berdiri.

“Baiklah apa?”

“Baiklah. Aku turuti semua keinginanmu. Kalo kamu mau pergi, ya silakan pergi. Aku toh ga ngelarang. Ga usah bilang. Supaya aku juga ga usah susah-susah kelepasan ngasih wejangan.” jawab Renaldi datar dengan emosi yang dipendam.

“Nah..” celetuk Lily kecil saat Renaldi mulai hendak pergi dari ruang tamu.

“Tapi buat malam ini aku pengen ngasitau kamu sesuatu sih..” Renaldi berhenti sebentar dan berbalik melihat Lily yang menampakkan wajah cemberut.

“Tadi katanya ga mau ngasih wejangan lagi…” ucap Lily sebal.

“Aku cuma pengen kamu tau.. Kamu bisa jadi senang keluar rumah dan ketemu sama Leon, pria yang udah berhasil bikin kamu jatuh cinta lagi.” kata Renaldi, “Tapi, selalu ada pria yang bahagia ketika kamu kembali ke rumah, karena dia mencintaimu sepenuhnya.”

Short Story #138: Itu Dulu…

“Kamu punya lima menit, dimulai dari sekarang.” Teguh memberitahu setelah duduk di depan Natalia pada sebuah meja café outdoor.

“Cuma lima menit?” Natalia bertanya untuk memastikan.

“Iya. Dan sekarang sudah berkurang sepuluh detik.” jawab Teguh tegas.

Natalia menarik napas. Ia tak menduga sebelumnya jika pertemuannya dengan Teguh akan seperti ini. Setidaknya, tidak ia duga saat Teguh ternyata mengiyakan ajakannya setelah sekian lama tak bersua.

“I’m back, Guh.” ucap Natalia.

“Iya, itu bisa aku liat.” jawab Teguh singkat.

“Maksudku.. aku kembali di sini. Buat kamu.” Natalia segera menambahkan.

Teguh menelan ludah. Ia melihat Natalia di depannya. Pandangan Natalia tetap sama. Meyakinkan.

“Dari matamu aku bisa liat kamu serius.” ucap Teguh.

“Kapan sih aku ga serius?”

“Hmm…” Teguh menggumam sambil menarik napas. “Entahlah. Aku tidak ingat.”

“Maka dari itulah, aku kembali.” Natalia merespon. “Untukmu.”

Teguh menghela napas. “Aku memang bisa liat kamu serius, tapi sepertinya kamu kembali bukan buat aku.”

“Maksudmu?”

“Kamu kembali, untukmu sendiri. Untuk mendapatkan apa yang belum pernah kamu dapat.” Teguh menjelaskan. “Atau… untuk mendapatkan kembali apa yang pernah kamu dapat, dulu.”

Giliran Natalia menghela napas.

“Kamu sendiri yang telah melepaskan apa yang pernah kamu dapat, ‘kan?” Teguh mengingatkan.

“Itu dulu..” jawab Natalia segera. “Sekarang aku tak akan pernah melepaskan apa yang kudapatkan.”

Teguh mengangkat sebelah alisnya.

“Kenapa? Kamu ga percaya?” tanya Natalia.

“Ga tau.” ucap Teguh datar.

Lalu hening. Kedua manusia yang pernah memiliki kisah di masa lalu itu sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Waktu lima-menitmu sudah habis. Aku pergi.” Teguh memberitahu sambil kemudian bersiap berdiri.

“Ga ada extra time? Terakhir kali kita ketemu, kamu selalu sediain tambahan waktu…” Natalia menyela.

“Iya.. tapi itu dulu…” jawab Teguh sambil beranjak pergi dengan berusaha mengabaikan perasaan di hatinya.

Short Story #137: Pintar dan Pemikir

“Udah, ga usah dipikirin…” Doni memberitahu sambil menepuk pundak Arya, salah satu sobatnya yang tengah duduk menunggu bersama Bobby di kursi café.

Arya dan Bobby menatap sejenak kawan lamanya tersebut hingga kemudian Doni duduk di kursi di depannya.

“Ah, loe bisa aja, Don…” ucap Arya.

“Lho, tapi bener kan loe lagi mikirin sesuatu?” tanya Doni sambil kemudian menyesap kopinya.

“Tau dari mana?” Bobby bertanya penasaran.

“Rambut.”

Dahi Arya langsung berkerut. “Maksud loe?”

Doni tersenyum kecil sambil mencondongkan badannya ke arah Arya. “Iya, rambut. Rambut loe itu.”

Dahi Arya masih berkerut. Sementara itu Bobby diam mendengarkan dengan rasa penasaran.

“Rambut loe itu bisa berbicara lho. Dan, dari tipe rambut loe itu, ketauan kalo loe lagi mikirin sesuatu. Karena itu tipe rambut seorang pemikir.” Doni menjelaskan.

Arya masih tak mengerti. Bobby diam-diam mengangguk dengan menebak-nebak.

“Rambut menipis atau rada botak di puncak kepala sampe agak ke belakang itu lho…” Doni melanjutkan.

“Halah, sok tau loe..” Arya tersenyum kecut sambil mengelus-elus puncak kepalanya agak ke belakang yang memang mulai botak.

“Tapi bener, ‘kan? Jangankan sebelom gue dateng, gue bilang soal loe ketebak lagi mikir sesuatu dari rambut aja loe pikirin, ‘kan?” Doni bertanya sambil bergurau.

“Halah.. nebak doang itu.” ucap Arya yang langsung disetujui Bobby dengan anggukan.

“Tapi emang keliatan jelas, kok.”

“Trus, kalo botak macam loe itu, gimana?” Bobby bertanya.

Doni mengangkat dahinya. Matanya sedikit dilebarkan. “Maksud loe botak di arah depan gini?”

“Iya, kalo itu menjelaskan apa?” Arya pun ikut bertanya.

“Oh, ini.” jawab Doni segera. “Ini sih, tipe rambut orang yang pintar.”

Dahi Arya dan Bobby berkerut secara berbarengan.

“Masih ga percaya? Perlu gue unjukin lagi nilai-nilai kuliah dulu?” ucap Doni.

Arya tersenyum kecut. “Iya dah.. gue percaya.”

“Oh gitu.. trus kalo botak macam gue gimana? Plontos gini? Pasti pemikir sekaligus pintar, ‘kan?” Bobby bertanya kembali. Kali ini dengan penuh semangat.

Doni tersenyum simpul setelah menyesap kopinya kembali.“Oh, bukan..”

“Lah, trus apa?” Arya ikutan bertanya sementara Bobby menunggu jawaban.

“Itu sih, tipe rambut orang yang mikir kalo dia pintar.” jawab Doni santai.