Short Story #136: Tanpa Keterangan

“Foto-foto mulu deh dari tadi. Mau diaplod ke twitter gitu, ya?” Nadia bertanya pada Vega yang duduk di sampingnya.

Vega yang baru selesai mengambil sembarang foto dari balik jendela mobil, menoleh kea rah Nadia.

“Ga aku aplod. Aku simpen aja.”

“Lho, kenapa ga diaplod? Siapa tau hasil fotonya bagus dan banyak orang yang suka.” ucap Nadia.

“Nope. It’s just for me. For my own collection.” jawab Vega.

“Kebanyakan foto candid gitu, ya?” Nadia bertanya lagi sambil tangannya tetap mengemudikan setir mobil.

“Ya.. bisa dibilang gitu.”

“Foto candid aktivitas orang-orang?”

“Ya… gitu deh.”

“Orang-orang siapa aja?” tanya Nadia penasaran.

“Ya, siapa aja. Siapapun. Dikenal, maupun ga dikenal.” jawab Vega santai sambil sebelah tangannya memainkan rambutnya yang panjang dan perlahan tertiup angin yang menyelusup dari celah jendela.

“Termasuk aku?” Nada melirik sejenak.

Vega menjawab dengan senyum simpul.

“Wah, foto aku lagi apa? Dikasih keterangan ga?” tanya Nadia.

“Kebanyakan sih, engga.” jawab Vega sederhana. “Eh, semuanya ga aku kasih keterangan sih.”

“Tanpa keterangan? Semuanya? Trus, foto candid itu nanti fungsinya sebagai apa?” Nadia terus bertanya sambil tetap mengemudi.

“Kalau suatu saat nanti aku jadi pelupa, pikun, atau bahkan amit-amit amnesia, aku pengen foto-foto itu bisa ngebangkitin ingatan-ingatan aku. Aku pengen foto-foto itu menjadi semacam teka-teki yang kelak bisa bikin isi kepala aku buat mikir lagi. Semacam pemantik bagi sumbu-sumbu yang sudah padam.” Vega menjelaskan.

Nadia mendengarkan sambil tetap mengemudi.

Short Story #135: My Heart

“Sepertinya kunci pintu depan harus aku ganti cepet-cepet.” celetuk Adrian ketika Gina membuka pintu dan masuk ke dalam apartemen.

“Aku cuman mau ngambil beberapa barang aku yang ketinggalan. Itu aja.” Gina menjawab segera sambil kemudian masuk ke kamar tidur, tanpa membuka jaketnya ataupun sepatunya.

Adrian melihat dalam diam dari arah dapur yang dekat pintu depan apartemen. Tadinya ia sedang menyajikan makanan ke piring, dan hendak memakannya. Kini, selera makannya hilang.

“Ketemu?” tanya Adrian ketika Gina keluar dari kamar tidur dengan muka kusut dan sebal.

“Ke mana kamu simpen?”

“Apa?”

“Ya.. barang-barang aku yang ketinggalan di kamar! Foto, buku, aksesoris, dan lain-lain.” Gina memberitahu dengan nada meninggi.

“Oh, itu semua.” Adrian menjawab dengan santai sambil menyandarkan dirinya ke kulkas. “Aku pikir kamu ga bakal balik lagi. Sepertinya udah aku buang.”

Dahi Gina langsung berkerut. Mulutnya berkerucut. Ia mengumpat.

“Here we go again…” Adrian mendesah pelan.

“Kenapa kamu buang? Kenapa ga disimpen dulu? Ke mana kamu buang? Itu kan barang-barang aku!” Gina mencerocos.

Adrian diam memperhatikan.

“Harusnya kamu simpen dulu, kek. Masukin karung kalo perlu, simpen deket pintu biar gampang aku ambil. TAPI GA USAH SAMPE KAMU BUANG!” Gina berteriak sambil berjalan mendekat ke arah dapur dengan penuh emosi.

Lalu diam. Gina menarik napas. Dadanya naik turun.

“Please remind me, who’s decided to leave back then?” Adrian bertanya dengan nada datar.

“ITU GAK BERARTI KAMU BISA SEENAKNYA SAMA BARANG-BARANG AKU YANG KETINGGALAN!” Gina berteriak.

Adrian mendengus.

“Anggap aja semua barang-barang kamu yang ketinggalan itu buat ganti yang udah kamu curi dari aku, dan kamu bawa pergi.” ucap Adrian santai.

“I didn’t steal something from you. And I didn’t take any of your things away with me.”

“Yes, you did it.” jawab Adrian segera dengan suara tenang. “My heart.”

Short Story #134: Hak dan Kewajiban

“Aku capek ribut terus. Kenapa sih kita ga bisa ga ribut?” Andi bertanya setelah beberapa menit sebelumnya ia hanya diam mematung. Begitupun Vera yang berada di dekatnya.

“Ya kamunya yang rese. Apa aja dipermasalahin.” Vera menjawab seketika.

“Maksudmu?”

“Ya itu dia maksudku. Apa-apa ditanya. Apa-apa harus jelas. Apa-apa harus dijawab.” jawab Vera. “Why can’t you just let it be? Just let it as the way you see. Don’t argue it. Don’t ask furthermore about it.”

Andi merasa gatal untuk bertanya lagi kenapa harus begitu. Tapi, ia mencoba diam bertahan.

Vera menatap Andi untuk sesaat sebelum kemudian melihat ke arah jendela dari apartemen mereka. Matahari mulai bergerak ke bawah horizon. Senja.

“I’ll try.” ucap Andi pada akhirnya.

“Oya?” Vera justru bertanya.

“Tapi ada syaratnya.” Andi menambahkan.

“Yaitu?”

“Aku cuma minta satu hak dan satu kewajiban aja dalam hubungan kita.”

“Yakin?” Vera bertanya.

“Iya.”

“Ga kurang?”

“Kenapa harus kurang?” Andi balik bertanya.

“Yah.. siapa tau?”

“Engga. Buat aku satu hak dan satu kewajiban itu cukup. Ga perlu lebih dari itu.”

“Emangnya apa sih?” rasa penasaran kini menyelimuti benak Vera.

“Aku minta hak aku buat menyayangi dan disayangi kamu. Dan kewajibannya adalah untuk melindungimu, semampu yang aku bisa ga peduli sebesar, separah, sekacau apapun kondisi hubungan kita, terlepas dari ribut ataupun engga.” Andi menjelaskan.

Senyuman kecil mendadak mengembang di wajah Vera. Tak lama, ia memeluk Andi yang berada di sebelahnya.