Short Story #133: Seumur Hidup

“Pah..” Vina memanggil Teguh, ayahnya di suatu pagi yang hening. Ayahnya yang tengah membaca koran di teras menoleh sebentar kepadanya.

“Kenapa, nak?” tanya Teguh. “Sini.. duduk di samping Papah..”

Tanpa perlu berlama-lama, Teguh dapat menebak jika Vina hendak berbagi cerita dengannya. Sudah bisa ia lihat dari raut muka Vina, meski dalam sekali toleh saja.

“Aku… aku bingung.” Vina mulai bercerita setelah duduk di kursi di samping Teguh.

“Bingung kenapa?” tanya Teguh sambil meletakkan korannya di meja kecil.

Vina menarik napas. “Aku… aku bingung apakah keputusanku buat nikah sama Rustam itu tepat..”

Teguh terlihat tenang. Ia memerhatikan Vina benar-benar dilanda kegundahan. Selain tatapan yang penuh pertanyaan, Vina menggigiti bibir bawahnya.

“Pernikahan itu pilihan.” Teguh mulai menjawab. “Bukan pilihan siapa orang yang akan menjadi pasangan kita, tapi pilihan kapan dan bagaimana kita akan menjalaninya.”

“Maksud Papah?” Vina bertanya kembali.

Teguh tersenyum sejenak sebelum melanjutkan. “Kesiapan, dan tanggung jawab. Itulah yang memberikanmu pilihan kapan dan bagaimana kamu akan menjalani pernikahan.”

Vina diam mendengarkan. Perlahan-lahan, beban berat di kepalanya seakan terangkat.

“Tapi, gimana kita tahu kalo pilihan yang kita buat itu benar?” tanya Vina lagi.

“Kita ga tau… kecuali kita menjalaninya sendiri.” Teguh menjawab diplomatis. “Menikah itu sebuah ikatan, Nak. Ikatan antara dua manusia yang saling menyayangi yang dilimpahi anugerah Tuhan. Tapi ikatan itu sendiri adalah ikatan yang membebaskan. Yang memberikan masing-masing kesempatan untuk mengekspresikan cintanya.”

“Gimana caranya supaya bisa mengekspresikan cinta itu, Pah?”

“Mudah. Dengan lebih mengenali pasanganmu.”

Lalu hening sejenak. Teguh membiarkan Vina meresapi kata-katanya.

“Aku ragu apakah aku sudah cukup mengenali Rustam, Pah..” ucap Vina. “Maksudku.. meskipun sudah lebih dari dua tahun aku dan dia berpacaran, kemudian dia melamarku dan aku mengiyakannya, tapi masih terbersit ketakutan kalo aku ga mengenali dia.. Aku merasa aku harus lebih mengenali dia, tapi aku ga tau gimana…”

Teguh tersenyum kecil. Ia memegang bahu anaknya.

“Jangan takut, Nak.. Jangan risau.. Kamu akan punya waktu seumur hidupmu untuk lebih mengenali pasanganmu.” ucap Teguh. “Bahkan, kamu akan punya waktu seumur hidup untuk saling mencintai dan menyayanginya.”

Short Story #132: Where Were You?

“Kamu terlambat. Banget.” Jenny memberitahu lelaki yang baru saja membuka pintu di depannya, dari sofa nyamannya di ruang tengah yang tak memiliki batas nyata dengan pintu depan.

“Iya, aku tahu. Maaf.” jawab Brian sambil meletakkan mantelnya di balik pintu, dan membuka sepatunya.

“Satu jam lebih aku nunggu di resto itu, dan kemudian aku diminta pergi sama waitressnya kalo ga pesen apa-apa.” Jenny meneruskan.

Brian tak menjawab. Ia hanya melihat sekilas Jenny dengan pandangan bersalah, lalu duduk di sofa depan Jenny.

“Ga ada satupun info dari kamu kenapa tadi ga dateng-dateng.”

“Aku… aku lagi ngerjain sesuatu.” Brian menjawab. Masih dengan nada bersalah. Pandangannya ia tujukan ke lantai dari sofa tempat Jenny duduk.

“Ngirim SMS aja ga bisa? Atau miskol gitu? Atau email? Teknologi kan udah maju.. Digunain dikit kenapa, sih? Ga sampe 5 menit lho ngabarin aku..” nada suara Jenny meninggi. Tapi posisinya masih duduk di sofa. Sebelah tangannya gemas meremas tangan sofa.

Brian menelan ludah. Ia punya jawabannya, tapi ia tahu jika Jenny tak perlu jawaban. Ia hanya meneruskan mendengarkan Jenny.

“Jangan bilang kalo kamu meeting lagi? Masa iya meeting kok ya sampe malem-malem.. Ga bisa pulang apa buat menuhin janji dinner yang udah kita arrange seminggu yang lalu?” ucap Jenny dengan nada suara meninggi lagi.

“Aku ga meeting.” jawab Brian pada akhirnya.

“TRUS APA? NGAPAIN? SAMA SIAPA? DI MANA?” Jenny berteriak hingga berdiri.

Brian melihat sekilas, namun kembali menundukkan pandangannya.

“Sometimes.. I feel like I don’t know you..” ucap Jenny. “Bahkan seorang superhero bisa dengan mudah diketahui lagi di mana, ngapain, sama siapa. Kaya’ tadi selagi aku nunggu kamu, seorang superhero bantu nyelametin orang-orang di kebakaran gedung yang jaraknya beberapa belokan dari resto.. Sementara kamu…”

Jenny mengakhiri ucapannya dengan nada menggantung yang diikuti dengan desahan pelan.

“Where were you?” tanya Jenny sambil diam sejenak. Menunggu Brian menjawab. Tapi tak ada jawaban yang Jenny dapatkan.

Jenny kembali mendesah dan pergi ke kamarnya, sebelum kemudian menutup pintu kamarnya dengan sangat keras.

“I was there.. helping people through the fire..” jawab Brian pelan sambil membuka kemejanya yang dikotori abu dan terdapat garis gosong terkena percikan api.

Short Story #131: Di Hatimu

“Kamu pulang masih lama, ya?” ucap Dian sambil menggigit bibir bawahnya.

“Iya.” jawaban singkat dari lelaki yang tengah bercakap-cakap dengannya sejak belasan menit yang lalu. “Sudah kubilang kan dari minggu lalu?”

“Iya, aku tau. Aku cuma mau mastiin aja. Siapa tau tiba-tiba kamu bilang pulangnya lebih cepet.” Dian menjelaskan.

“Ya.. sejauh ini belum ada perubahan sih.” pria itu menjelaskan.

Lalu hening menyelimuti mereka. Yang terdengar hanya latar belakang dari masing-masing posisi mereka.

“I missed you.” ucap sang pria.

“I know. I missed you too.” ucap Dian. “I wonder if you never have to go..”

“I didn’t.” jawab sang pria cepat. “Aku selalu ada di dekatmu, kok.”

“Masa? Yang aku tahu, kamu tak lebih dekat dari caller ID di layar ponselku saat ini.” ucap Dian.

Pria itu terdengar meringis.

“Ada yang lucu?” tanya Dian.

“Aku serius lho pas aku bilang aku selalu ada di dekatmu.”

“Memangnya kamu di mana?”

“Di hatimu…” jawab pria itu.

Belajar dari Singapore

Pernah lagi buru-buru mau ke suatu tempat dengan berjalan kaki, tapi terhambat saat di eskalator? Atau, pernah lagi anteng-antengnya bawa kendaraan dan tiba-tiba harus mengerem mendadak karena ada yang nyelonong nyeberang? Atau ini, pernah mau turun dari kereta (dalam kondisi yang tidak berjejalan), tapi ga bisa keluar dan justru makin kedorong masuk kereta walaupun sudah berhenti di stasiun tujuan? Well, kalo di Singapore kaya’nya kejadian itu hampir jarang terjadi.

2 hari di minggu yang lalu saya ke Singapore. Bukan atas tujuan pribadi, tapi karena office duty – walau kemudian saya dapatkan beberapa jam bebas untuk menikmati (lagi) Singapore secara pribadi. Dan, lagi-lagi saya belajar tentang perilaku yang hampir jarang saya temui di Indonesia.

Seperti saya sebutkan di awal postingan, terhambat di eskalator sepertinya sudah jadi hal yang lazim di Indonesia. Mau itu di tempat umum, mau itu di mal, di tangga statis sekalipun, sepertinya akan dengan mudah terhambat. Kenapa? Penyebabnya banyak, jadi tak perlu saya jelaskan satu-persatu ya.. Yang pasti sih, kalo di Singapore hampir jarang saya terhambat saat menggunakan eskalator, tangga, atau bahkan di rel berjalan. Sebabnya, perilaku mereka yang “sadar diri” saat menggunakan eskalator atau rel berjalan.

Seperti kendaraan di jalan raya, apabila kita hendak diam atau berjalan perlahan maka haruslah di jalur sebelah kiri. Sementara apabila hendak menyusul atau lebih cepat, maka mengambil jalur sebelah kanan. Begitupun yang terjadi di eskalator ataupun rel berjalan. Para pengguna yang cenderung diam dan menunggu sampai di atas eskalator atau rel berjalan, haruslah berada di sebelah kiri. Sementara sebelah kanan harus “dikosongkan” untuk mereka yang hendak berjalan lebih dulu. Apabila kemudian ada yang diam di sebelah kanan, para pengguna/pejalan kaki di belakangnya pun tak segan untuk “menegur” secara halus. “Excuse Me..” atau “Step a side, please..” pun akan terucap.

Hal lain saya temukan saat sedang menggunakan subway MRT di Singapore. Tak ada namanya berebut naik dan turun dalam satu jalur. Semuanya tertib, turun MRT lewat mana, dan naik MRT lewat mana. Bahkan, di beberapa kesempatan saya menemukan para pengguna MRT mendahulukan para penumpang yang turun dari MRT, baru kemudian mereka naik. Itupun tidak berebut. Meski begitu, hasil pengamatan itu saat menggunakan subway tersebut di jam-jam sibuk (jam berangkat dan pulang kantor yang lazimnya pada jam 7-8 pagi dan atau jam 5-6 sore).

Oiya, bisa jadi tertibnya naik dan turun dari subway MRT karena ada petunjuk yang jelas di bagian bawah setiap peron. Naik lewat bagian mana, dan turun lewat bagian mana. Belum lagi, ada semacam “pengaman” di setiap peron agar tidak ada orang yang jatuh/turun ke dalam rel dan tertabrak subway MRT.

Ada juga tertib tidak merokok di sembarang tempat, tidak membuang sampah di sembarang tempat, hingga tidak menyetop kendaraan di sembarang tempat. Oiya, para pengemudi kendaraan mobil pun cenderung mengutamakan pejalan kaki yang akan menyeberang – tentunya saat menyeberang di zebra cross, dan bukan nyeberang sembarangan.

Apapun, perilaku yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan ini akan menjadi pembeda bagi mereka yang tinggal di Singapore dan bukan. Atau kasarnya, pembeda bagi mereka yang benar-benar bisa membaca dan patuh terhadap aturan, dan yang tidak. :mrgreen:

Alangkah senangnya hati saya, apabila kemudian penduduk Indonesia bisa belajar dari hal-hal tersebut dan menerapkannya di dalam negeri ini. Alangkah senangnya, apabila kemudian para penduduk lebih tertib. Bukan tak mungkin perilaku tersebut akan membuat para penduduk menjadi lebih toleran dan sedikit sekali pelanggaran yang harus terjadi. Ga salah kok kalo harus belajar dari negara lain, apalagi belajar dari Singapore yang notabene tetangga dan masih “bersaudara”. 🙂

Kapan ya, bisa ke Singapore lagi…?

Short Story #130: Nyesel

“Once you’ve put a sign on this, it will be set.” Nadya memberitahu sambil menyodorkan secarik kertas berisikan beberapa nomer dan kalimat panjang.

“Sebentar, aku baca dulu.” jawab Fernando sambil langsung membaca kertas yang disodorkan Nadya.

“Semuanya masih sama, ga ada yang berubah dari kesepakatan kita.” Nadya memberitahu lagi.

Fernando sesaat melirik ke arah Nadya dan menghentikan kegiatan membacanya. “Iya, aku tahu. Tapi aku ingin membacanya.”

Nadya menghela napas. “Terserah kaulah.”

Fernando lanjut membaca dalam hening sambil disaksikan Nadya di sampingnya. Tak lama, Fernando meletakkan kertas tersebut ke atas meja tinggi di samping lorong tempat mereka berada.

“Nanti kamu tanda tangan juga, ‘kan?” Fernando memastikan sebelum membubuhkan tanda tangan di kertas tersebut.

“Liat dong, kolom tanda tangannya kan ada dua. Kamu pikir satu lagi siapa yang bakal tanda tangan?” Nadya menjawab dengan ketus.

“Ya.. aku kan mastiin aja.”

“Ck…” Nadya berdecak.

Fernando melirik sekilas ke arah Nadya yang membuang pandangannya ke arah lain. Lalu, giliran ia yang menghela napas.

“All set.” ucap Fernando setelah ia menandatangani kertas yang tadi disodorkan Nadya.

Sekilas, Nadya tersenyum kecil. Fernando bisa melihat senyuman tersebut, sebelum senyuman tersebut hilang.

“Looks good.” Nadya berkomentar setelah mengecek tanda tangan Fernando di kertas. “Sekarang giliran aku, dan semuanya selesai.”

Fernando menarik napas saat Nadya menandatangani kertas tadi.

“Should it end like this?” tanya Fernando.

“Well, what do you expect?” Nadya bertanya balik. “Dari dulu juga kan aku udah bilang aku bukan orang yang punya prinsip ‘till death do us apart’ seperti kamu. Makanya aku ga pernah setuju atau ngucapin kata-kata itu.”

Fernando menarik napas lagi.

“Kamu nyesel?” tanya Nadya.

“Ya, begitulah.”

“Harusnya kamu udah tau kan, kalo akhirnya emang bisa jadi begini.”

“Aku tau. Tapi aku ga nyeselin kenapa akhirnya begini sih..” ucap Fernando. “Aku cuman nyesel kenapa ga ketemu kamu lebih awal, supaya aku bisa lebih lama dan lebih banyak buktiin perasaan aku sama kamu…”

“New” Marketing Strategy of Motion Pictures (Movie, Film)

Pernah mendengar Omni Corp? Atau pernah mendengar Umbrella Corporation? Kedua nama tersebut adalah nama perusahaan. Dan, bagi para penggemar film ataupun games, tentu tahu jika kedua nama tersebut hadir di game-game ternama. Terlepas dari keberadaan nama perusahaan serupa di dunia nyata, namun kedua nama perusahaan tersebut kini memiliki bentuk “nyata” di dunia maya (internet).

Mau bukti? Coba klik di sini, atau di sini. Sudah? Oke, lanjut baca postingan ini.

Kedua bukti dari perusahaan yang “nyata” di dunia maya tersebut bukan tanpa sebab. Perusahaan-perusahaan “fiktif” tersebut eksis di dunia maya bertujuan untuk menambah awareness mengenai hal-hal yang berkaitan. Dalam hal ini, hal yang berkaitan adalah film.

Iya, film.

OmniCorp, dikenal juga dengan OCP – Omni Consumer Product. Perusahaan ini salah satu perusahaan “fiktif” yang memiliki kaitan kuat dengan RoboCop. Iya, dia adalah “pembuat” RoboCop. Murphy, seorang Polisi yang sekarat dan “disulap” menjadi RoboCop, dibuat dan dibangun oleh OmniCorp. Meski kemudian pada praktiknya ia dibawah kendali Detroit Police Department, tapi OmniCorp inilah yang “bertanggungjawab” akan adanya RoboCop.

Sementara itu Umbrella Corporation, dikenal juga dengan UmbrellaCorp, perusahaan “fiktif” ini memiliki kaitan kuat dengan T-Virus. Tahu kan T-Virus itu apa? Sebuah virus yang mengubah satu fasilitas Umbrella Corporation di Raccoon City dipenuhi dengan zombie yang mengejar-ngejar manusia hidup. Dan kemudian terjadi outbreak di seluruh Raccoon City, dan terus meluas. Tahu apa filmnya? Resident Evil.

Kedua perusahaan “fiktif” tersebut masing-masing memiliki website yang dipoles sedemikian rupa agar menarik visitor dan juga menunjang kisah cerita yang dibuat pada filmnya. Keduanya dibuat seakan-akan nyata, dan bahkan Umbrella Corporation memiliki laman facebook dengan post yang di-update! Termasuk juga “history” yang disesuaikan dengan tahunnya seakan-akan terjadi kejadian nyata – atau memang nyata?

Langkah ini merupakan salah satu taktik pemasaran (marketing) yang cukup jitu untuk membangun awareness dari calon penonton film-filmnya – seperti sudah saya sebutkan sebelumnya. Kenapa? Karena penggunaan website yang dibuat seolah-olah nyata tersebut, tentunya selain akan menimbulkan rasa penasaran dan pertanyaan, juga akan mendukung cerita utama filmnya bahwa perusahaan tersebut benar-benar ADA dan kejadian terkait dapat terjadi di kehidupan nyata – terlepas dari ilmu pengetahuan yang semakin maju dan memungkinkan semuanya terjadi.

Taktik membuat perusahaan “fiktif” memiliki website yang “nyata” membuat film dan juga cerita di filmnya terasa lebih riil dan tentunya lebih masuk akal. Tahu kan penonton film semakin kritis semakin ke sininya? Film-film yang lebih masuk akal, tentunya lebih mudah diterima – meski terkadang film-film fantasi juga hadir dan tak sedikit yang sukses karena diterima banyak kalangan.

Oiya, taktik pemasaran film layar lebar seperti ini saya sebutkan “baru” seperti di judul postingan, karena sebenarnya ia mengulang hal yang pernah dilakukan oleh pendahulunya – masih ingat Blair Witch kan? 🙂 Dan, serunya adalah.. taktik pemasaran yang notabene menjadi pendukung (supporting) ini semakin banyak dilakukan. Contoh lainnya antara lain: OsCorp Industries, Stark Expo, dan S.H.I.E.L.D.

Mari kita lihat, apakah taktik pemasaran ini juga akan dilakukan oleh film-film lainnya? Dan, apakah film-film Indonesia akan melakukan hal serupa?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Short Story #129: Apalagi Yang Gue Punya?

“Jadi gini ya rasanya bangkrut.” Rama menendang kaleng kosong di trotoar yang sepi karena sudah larut malam.

“Emang gimana?” tanya Dita yang sedang duduk di atas salah satu anak tangga masuk gedung di dekat Rama.

“Ya gini, bingung. Mau ke mana rasanya ga nyaman. Ga megang duit. Serba salah.” jawab Rama.

“Tapi kan loe ga bangkrut-bangkrut banget kali Ram.. loe masih punya flat yang ditinggalin, masih punya motor yang bisa dipake jalan dan cari prospek bisnis baru, dan yang paling penting…” Dita diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.

Rama menunggu sambil menatap Dita yang tersenyum.

“…Loe masih ada komputer dan juga koneksi internet. Itu kan bisa jadi peluang bisnis baru. Udah sering denger kan orang bisa ngumpulin duit dari internetan?”

“Iya sih..” jawab Rama. “Tapi buat gue, kalo ga ada duit cash sama sekali, ya semua itu sama aja boong.”

“Lho, kenapa?”

“Yah.. kalo ga punya duit, gimana gue bisa bayar flat? Bisa bayar tagihan? Bisa beli makanan? Bisa beli bahan bakar? Dan lain-lain?”

“Umm..” gumam Dita.

“Lama-lama, semua itu bakal gue jual, gue duitin, supaya gue bisa idup, bisa terus napas, sambil nyari-nyari peluang bisnis itu.” Rama melanjutkan.

Dita menatap sahabatnya yang sedang putus asa. Ingin rasanya ia memeluknya, tapi ia bertahan karena ia tahu saat ini yang Rama butuhkan adalah orang yang mendengarnya. Membiarkannya berbicara. Membiarkannya mengeluarkan segala keluhannya setelah mendapat kabar kurang menyenangkan jika bisnisnya mengalami bangkrut.

“Kalo semua itu udah ga ada? Apalagi yang gue punya?” Rama bertanya.

“Ya… loe punya gue, Ram.” jawab Dita segera.

Mungkinkah Summer yang Spectacular di Hong Kong?

Hong Kong - courtesy of wikipedia

Pertama kali tau Hong Kong, ya dari film-film Mandarin rilis dari Hong Kong. Sebut aja, mulai dari God of Gambler-nya Chow Yun fat-Andy Lau, sampe Young & Dangerous-nya Ekin Cheng (eh bener ga sih film ini settingnya di Hong Kong? 😛 ). Dan, saya pun mulai makin kagum sama wilayah otorita khusus RRC itu setelah tau kalo dia merupakan kota yang terletak di pinggir laut. Kayanya asik aja gitu kalo bisa jalan-jalan di sebuah kota modern yang punya perpaduan antara gedung tinggi dan hunian yang terletak di pinggir laut.

Oiya, selidik punya selidik, ternyata Hong Kong itu terdiri dari Hong Kong Island, semenanjung Kowloon, Pulau Lantau, dan juga ada wilayah namanya New Territories. Anyway, kota ini juga deket sama sungai Shenzhen (yang juga jadi nama kota Shenzhen). Harusnya sih, kota ini punya banyak pemandangan dan juga tourism spot yang menarik.

Anyway, selain kondisi geografis yang cukup menarik itu, Hong Kong juga punya event tahunan yang namanya Hong Kong Summer Spectacular. Di tahun 2012 kali ini, event itu dilaksanain mulai 22 Juni sampe 31 Agustus! Dan, kalo liat dari websitenya di sini, Hong Kong Summer Spectacular itu punya berbagai agenda utama, antara lain:

  1. Hong Kong Dragon Boat Carnival – Karnaval/lomba perahu naga di Hong Kong.
  2. Summer Pop, Live in Hong Kong – pertunjukan musik terkenal di Hong Kong.
  3. Visa Go Shopping Indulgence – Shopping! Shopping! Shopping! *udah cukup menjelaskan kan?* 😛

Oiya, khusus dari Visa Go Shopping Indulgence itu, ada 1 sub agenda yakni Visa Go Hong Kong Super Shopper di tanggal 29-31 Agustus nanti. And you know what, sub agenda itu bakal seru abis karena ajang lomba yang diikuti sama tim-tim terhebat yang bisa jelajahin Hong Kong, dengan jadwal perjalanan yang dibuat sendiri. Dan, tim yang tersukses bakal digelarin Visa Go Hong Kong Super Shopper plus dapet berbagai hadiah! *mupeng*

Hong Kong Summer Spectacular - courtesy of Hong Kong Summer Spectacular

Haduh, dari contoh 3 agenda utama itu aja (dan juga 1 sub agenda) dari Hong Kong Summer Spectacular, udah bikin pengen summer di Hong Kong. Belom lagi atraksi-atraksi dan tourism spot lain yang juga tersedia di Hong Kong. Apa aja? Antara lain di bawah ini..

Hong Kong Disney Land gate - courtesy of @chikastuff

Hong Kong Disney Land! Udah bukan rahasia lagi kalo di Hong Kong ada Disney Land! IYA, DISNEY LAND YANG ITU! YANG BANYAK TOKOH-TOKOH DISNEY-NYA! *sori kepslok* *biar lebay* Disney Land ini bisa dibilang salah satu tujuan yang pengen saya datengin kalo saya bisa ke Hong Kong. Ga laen ga bukan, buat bisa ketemu dan foto bareng sama tokoh-tokoh Disney! Donal Bebek (Donald Duck) bakal jadi tokoh kartun rekaan Disney yang bakal saya utamakan buat foto bareng. :mrgreen:

Avenue of Stars di Tsim Sha Tsui, Kowloon juga harus didatangi. Karena di situ ada marka macam Hollywood Walk of Fame, tapi bintang-bintangnya adalah para legenda film Hong Kong! Plus juga pengennya keliling kota Hong Kong dan bisa liat-liat Kowloon Bay, Patung Buddha di Pulau Lantau, Sai Kung, dll..

Oiya, lagi ada seru-seruan juga soal Hong Kong ini antara lain Hong Kong Summer Showreels yang berhadiah jalan-jalan ke Hong Kong plus dapet hadiah HK$ 200.000 visa spending credit! MANTAP!

Duh, mungkinkah saya dapetin summer yang spectacular di Hong Kong?

Short Story #128: Support

“Kenapa harus?” Rizky bertanya ke Mita, kekasihnya.

“Karena harus.” jawab Mita singkat.

“Kenapa?”

“Karena aku pengen.”

“Emang udah tau konsekuensinya?” tanya Rizky lagi.

“Aku tau. Makanya aku mau dari sekarang siap-siapnya. Supaya nanti pas udah waktunya, aku udah siap.”

“Emang kapan waktunya itu?” tanya Rizki lagi.

“Ya nanti, mungkin 2-3 bulan lagi.” jawab Mita.

“Dari mana kamu tau?”

“Kan taun kemaren juga waktunya di sekitaran 2-3 bulan lagi. Pasti berulang deh..”

“Kalo ternyata ga berulang?”

Mita jengah juga akhirnya. Ia menyimpan pulpen yang sedang ia gunakan untuk mengisi form pendaftaran.

“Kita udah bahas ini sejak lama, lho. Masa’ aku ga boleh milih karir yang lebih baik buat aku?” Mita bertanya.

Rizky mengangkat alis. “Aku kan ga bilang ga boleh. Aku cuman bingung aja, kenapa harus sekarang? Kenapa taun ini? Emang kamu udah sedemikian gatelnya pengen karir baru?”

“IYA!” Mita menjawab tegas dengan tak menghiraukan para peserta jobfair di sekitarnya.

Rizky diam tak menjawab. Mukanya sedikit merah padam. Malu karena dibentak oleh Mita di muka umum.

“Tapi Mit..” Rizky coba menyela lagi.

“I’m okay if you cannot support me.. just… don’t stand in my way!” jawab Mita sambil mengibaskan tangannya.

Short Story #127: Terbaik

“Kamu jadi?” Tamara bertanya Toni saat ia membuka pintu apartemen dan mendapati Toni sedang membereskan perlengkapannya.

“Aku ga bilang engga, ‘kan?” jawab Toni sambil menoleh sejenak, namun tidak menghentikan aktivitasnya.

“Oh.. aku pikir tadi udah ngerti maksud aku apa.” celetuk Tamara sambil menutup pintu, lalu melempar kunci dan duduk di sofa.

Toni berhenti sebentar sambil melihat ke arah Tamara.

“Aku ga ngerti maksud kamu.” ucap Toni sambil kembali melanjutkan membereskan perlengkapannya.

“Ya.. gapapa sih kalo emang ga ngerti. Emang kamu ga pernah ngertiin aku.” kata Tamara santai.

“Hah?!” Toni mendadak berhenti dan melihat tajam ke arah Tamara.

“Iya, ga pernah, ‘kan?”

Toni menarik napas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Selalu aja seperti ini. Keulang-ulang lagi.” ucap Toni dengan nada sedikit meninggi.

“Karena emang itu fakta.” respon Tamara cepat.

“Fakta apanya?” Toni mulai hilang kesabaran. “Fakta kalo kamu selalu nuduh aku ga pernah ngertiin kamu? Fakta kalo kamu ga pernah support aku atas semua pilihan yang aku buat?”

“Bukan!” Tamara tiba-tiba berteriak sambil duduk tegak. “Fakta kalo kamu ga pernah mau dengerin aku!”

Toni menarik napas. Tatapannya masih tajam ke arah Tamara dari arahnya berdiri.

“Aku selalu dengerin kamu. Tapi sebaliknya?”

“Maksud kamu apa?!” ucap Tamara sambil berdiri dan kini berhadapan sama tinggi dengan Toni.

Toni menarik napas lagi.

“Kamu selalu minta aku buat dukung kamu, selalu ngerti apa mau kamu. Tapi sebaliknya?!” Toni berteriak. “Kenapa?!”

“Karena aku mau yang terbaik!” jawab Tamara segera.

“Terbaik buat siapa? Buat kamu?!” Toni cepat merespon.

“IYA! GA BOLEH?!” Tamara berteriak.

Toni mendengus. Ia menarik napas dalam lalu membuangnya.

“Boleh. Ga ada larangan.” jawab Toni mencoba dengan suara datar. “Tapi jangan salah kalo kemudian aku juga nyari yang terbaik buat aku.”

Tamara terkesiap mendengar ucapan Toni.

“I’ll leave all of my keys. Good bye.” ucap Toni sambil mengangkat semua perlengkapan dan membawanya keluar pintu apartemen.