Short Story #126: Dikenang

“Udahlah Jo.. move on..” Rani mencoba menghibur Joan, sahabatnya yang lagi-lagi menatap kosong ke satu titik.

Joan tak menjawab.

“He’s gone. And, you’d better be moving on.” Rani memberitahu.

“He’s not gone. He’s still here.” jawab Joan singkat.

“Maksudmu di perasaanmu, kan? Bukan semacam rohnya masih di sini?” tanya Rani segera sambil tiba-tiba bulu kuduknya merinding.

Kali ini Joan menatap sekilas ke Rani, masih dengan ekspresi datar, mengedipkan matanya kemudian melihat ke satu titik lagi. Mengabaikan sekelilingnya.

“Udah sebulan lewat lho..”

“Aku tahu.” jawab Joan.

Rani menarik napas. Mencoba mengabaikan Joan dengan melarutkan pikirannya ke sebuah buku cerita yang ia keluarkan dari dalam tas.

“Cinta itu.. walau sesaat namun dikenang selamanya..” Joan menggumam.

Rani menurunkan bukunya sejenak, dan memandang Joan. Tak yakin jika gumaman tadi berasal dari Joan.

“Walaupun menyakitkan?” Rani mencoba bertanya. Mengetes apakah benar gumaman tadi berasal dari Joan.

“Iya, walaupun menyakitkan.” jawab Joan.

Short Story #125: Kan Ada Kamu…

“Kopi atau teh?” tanya Rena pada Didi saat ia duduk di kursi dapurnya.

Dengan wajah muram, Didi melihat sejenak sambil berusaha untuk terlihat lebih ceria.

“Teh aja.. Yang kentel, biar pait.” jawab Didi singkat.

Rena berbalik sambil mengambil cangkir dari lemari dapurnya, dan memasukkan sekantung teh instan sebelum kemudian ia menambahkan air panas ke dalam cangkirnya.

“So, another night without sugar, eh?” tanya Rena sambil menyimpan cangkir teh pahit panas ke meja di depan Didi.

“Kamu tahu kan aku ga minum manis-manis.” jawab Didi.

“Iya, ga minum yang manis-manis kalo di depan aku. Kalo lagi ga di depan aku, mana aku tau?” Rena merespon segera sambil mengikat rambutnya yang tergerai.

“Sori ya, aku udah ganggu tengah malem buta gini. Abis, aku pusing dan males pulang..” Didi menarik cangkir tehnya sambil mulai meniup agar lekas agak teduh.

“Gapapa. Aku juga kebetulan belum tidur dan lagi baca buku.” jawab Rena sambil menepuk-nepuk sebuah buku yang tertelungkup di meja dapur. “Terrible work days?”

“Ga juga sih..”

“Trus kenapa?”

Didi diam sejenak sambil menyesap teh pahit yang sudah agak teduh.

“Horrible work days..” ucap Didi segera yang disambut Rena dengan tertawa.

“Sekarang aku tau kenapa kamu selalu minum minuman tanpa gula, entah itu kopi atau teh.” Rena mengambil kesimpulan.

“Oya? Kenapa?”

“Supaya kamu tau, ada yang lebih pait daripada yang kamu alamin. Yaitu, minuman kamu..” kata Rena sambil tertawa kembali.

Didi tersenyum kecil.

“Ah, kamu bisa aja, Ren..” ucap Didi. “Tapi bukan itu sih..”

“Lho? Terus apa?” tanya Rena dengan penuh ingin tahu.

“Kan ada kamu.. semua minuman aku langsung berasa manis.” jawab Didi santai namun serius.

Short Story #124: How Lucky You Are

Fira tengah duduk membaca buku di kursi taman, sambil sesekali memperhatikan Ella, putri kecilnya tengah bermain-main sendiri di dekatnya. Memang, siang itu begitu banyak sekali orangtua yang mengajak anaknya bermain-main di taman kota karena cuacanya nyaman.

“Berapa umurnya?” tanya seorang wanita yang sudah berdiri di sisi lain kursi panjang tempat Fira duduk.

Fira menoleh, dan mendapati wanita tersebut tengah berdiri sambil melihat ke arah Ella. Sekilas ia  hendak waspada, namun terbersit sekilas bahwa ia pernah melihat wanita itu dulu dan rasa waspada itupun hilang.

“Beberapa bulan lagi mau dua tahun.” jawab Fira santai.

Wanita itu tersenyum. Sambil masih menatap ke arah Ella, ia duduk di area kursi di samping Fira. “Pasti lagi lucu-lucunya ya..”

“Setiap hari malah..” Fira menyetujui. Seketika, Ella yang tengah duduk di atas rumput menoleh ke arahnya dan melambaikan tangannya yang langsung dibalas oleh Fira.

“Manis banget..” wanita itu berkomentar lagi. “Seperti ibunya, ya.”

“Makasih..” jawab Fira. Dalam hatinya ia penasaran ingin tahu lebih jauh tentang wanita itu, meski ada sebagian sudut benaknya mengatakan bahwa ia pernah mengenalinya di suatu tempat.

“Papanya ga nemenin main?” tanya wanita itu, kali ini ia menoleh ke arah Fira sehingga Fira bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Papanya masih on the way.” jawab Fira. “Kita pernah ketemu ga, ya?”

Wanita itu tak menjawab melainkan kembali menatap ke arah Ella yang tengah bermain-main kembali di atas rumput.

“Mungkin…” jawab wanita itu kembali setelah beberapa saat sambil kemudian berdiri. “Terima kasih ya..”

“Terima kasih?”

“Iya, udah jawabin pertanyaan saya dan ga ngelarang saya buat ngeliat dia sedeket ini.” ucap wanita itu.

Fira tak merespon. Dahinya berkerut.

“I should be going.. Good bye..” wanita itu menambahkan sambil kemudian beranjak menjauh meninggalkan kursi tempat Fira duduk.

Belum habis rasa penasaran Fira terhadap wanita misterius itu, Fira mendapati secarik amplop putih tertinggal di sisi kursi tempat wanita tersebut duduk. Ia hendak memanggil atau mengejar, tapi ia tak ingin meninggalkan Ella yang sedang asyik bermain.

Diliputi rasa penasaran yang memuncak, Fira menarik amplop putih tersebut, dan mendapati selembar surat kecil dengan tulisan tangan di dalamnya.

“How lucky you are to have a beautiful child with Bagas. Sampaikan salam saya untuk dia, ya..” begitu tulisan di dalam surat tersebut.

Fira terkesiap mendapati nama suaminya tertulis di surat tersebut, dan beberapa fragmen ingatan mengenai wanita tersebut muncul di benaknya.

Short Story #123: Kira-kira Kenapa?

“Rise and shine, beautiful.. It’s already 8 a.m. in the morning..” bisik Ferdi di telinga Anggun.

Perlahan, Anggun bergerak dari balik selimut. Tangannya kemudian menggapai-gapai sisi tempat tidur di sebelahnya dan mendapati Ferdi tak ada di sana.

Mau tak mau, Anggun membuka mata dan menyadari Ferdi sedang duduk di samping tempat tidur di sisinya.

“Kok udah bangun?” tanya Anggun.

“Lho, emang?” Ferdi balik bertanya.

“Sini… peluuuukkk…” Anggun meminta manja.

Ferdi yang sudah hendak mandi mengurungkan niatnya lalu kembali berbaring dan mendekati Anggun. Dengan tangan terbuka, ia memeluknya.

“Nah.. gitu dong..” ucap Anggun manja sambil memeluk erat Ferdi.

“Dasar manja..” Ferdi berceletuk.

“Hih, manja-manja juga kamu seneng, kan?” tanya Anggun.

“Iya.. iya.. Aku seneng…” jawab Ferdi.

Anggun kemudian memejamkan matanya dalam pelukan Ferdi.

“Pagi ini, aku seneeeeeeenng banget. Rasanya udah lama ga ngerasain seperti ini.” ucap Anggun. “Apalagi semalem tuh, rasanya puaaaaaasssssssss….”

Ferdi tersenyum mendengarnya. “Aku juga puas, lho…”

“He’eh..” Anggun merespon. “Kira-kira kenapa, ya?” Anggun membuka mata sambil menatap wajah Ferdi di depannya.

“Karena kamu cinta aku?”

“Umm..” Anggun menggumam.

“Karena kita ngelakuinnya ga di rumah? Jadi ada sensasi baru?”

“Umm…” Anggun masih menggumam.

“Oh, aku tahu. Kaya’nya karena kamu takut ketauan suami kamu yang lagi dinas keluar kota, sementara aku ga mau ketauan istri aku yang masih di luar negeri.” Ferdi menebak.

“Ih, kamu bisa ajah!” respon Anggun genit sambil mencubit pinggang Ferdi yang langsung dibalas dengan pelukan erat Ferdi di balik selimut.

Kenapa Beriklan Online?

Salah satu cara memasarkan produk ataupun jasa agar dikenal banyak orang dengan harapan dapat memberikan income dari praktik pemasaran tersebut, adalah memasang iklan atau singkatnya adalah beriklan. Banyak ragam, media, serta praktik untuk beriklan. Mulai dari kegiatan yang jelas-jelas beriklan seperti slot TVC (TV commercial), radio ad, hingga praktik BTL (below the line) yang dihiasi atribut-atribut dari sebuah merek.

Di tengah ramainya produk dan jasa yang sejenis atau mungkin mengenalkan sebuah produk atau jasa yang benar-benar baru dan belum dikenali, beriklan menjadi sebuah keharusan. Kreativitas manajemen pemasaran untuk beriklan, menghasilkan banyak ragam iklan, mulai dari yang senafas, senada, hingga saling berkaitan dan “menjawab”. Selain itu, kreativitas pun dibutuhkan untuk menggunakan segala medium untuk beriklan agar produk atau jasa lebih dikenal. Salah satunya medium digital, atau online.

Digital? Buat apa? Kenapa ga beriklan di TV aja? Atau radio gitu?

Jawabannya sederhana saja, karena digital menyimpan potensi yang tak dimiliki jika beriklan di TV atau radio. Apa saja? Banyak, beberapa di antaranya adalah jangkauan, hubungan, peluang kreatif, hingga komunikasi. Mau tahu apa saja maksudnya? Yuk, ikuti penjelasannya sebagai berikut..

1. Jangkauan

Jaringan digital/online membuat dunia serasa tak berbatas. Batasan kota, daerah, hingga negara terlihat semu dan hampir tak terasa. Kenapa? Karena jaringan digital/online dapat diakses dari mana saja yang memiliki koneksi internet. Oleh karena itulah, audience iklan digital/online berpotensi lebih besar ketimbang TV ataupun radio.

2. Hubungan

Pernah mendengar bahwa dunia digital/online menghubungkan orang di mana saja? Pernah mendengar begitu mudahnya mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain dalam sekejap saja melalui dunia digital? Itulah potensi yang tersembunyi dari beriklan digital/online. Yakni, hubungan yang membuat iklan dapat lebih cepat dan mudah disampaikan, lebih cepat dan mudah dilihat konsumen, hingga lebih mudah meraih calon konsumen.

3. Peluang kreatif

Bosan melihat iklan yang begitu-begitu saja di TV? Atau bosan mendengar pesan yang sama di jingle radio? Itulah hal yang bisa dijawab melalui beriklan digital. Potensinya adalah membuat peluang kreatif iklan yang lebih menarik, berbeda, dan paling penting adalah.. lebih menggigit sehingga terus terngiang-ngiang di benak konsumen dan calon konsumen. Mulai dari permainan teks, gambar, hingga suara. Semuanya bisa dan lebih kreatif.

4. Komunikasi

Jika Anda melihat sebuah iklan di media cetak, TV, ataupun radio, dan hendak ada pertanyaan, ke mana Anda akan menuju? Biasanya adalah, dengan bertanya ke redaksi cetak, stasiun TV, hingga stasiun radio mengenai iklan tersebut. Bagaimana dengan iklan digital? Tentu saja langsung dapat berkomunikasi dengan pemasang iklan. Bagaimana bisa? Caranya dan jawabnya adalah dengan mengaitkan (linking) display iklan kita, dengan domain website yang support hal yang kita iklankan. Ga lucu kan, sudah keren beriklan digital, tapi tak ada domain/website yang dituju.

Lalu, apa harus beriklan secara digital?

Jawabnya adalah tidak harus, tapi akan lebih baik jika dilaksanakan. Kenapa? Karena media digital/online memiliki beragam channel yang bisa digunakan, dengan audience yang beragam pula. Selain itu, tarifnya pun cenderung “murah” serta prosesnya cepat, ketimbang iklan radio, TVC, maupun juga iklan media cetak.

Untuk proses yang cepat, sudah barang tentu disebabkan materi pendukung iklan tak perlu diproduksi berlama-lama. Selain itu, pemasangan iklan digital pun sudah dimudahkan dan bisa pasang sendiri oleh para pengiklan – jika tak ingin menggunakan jasa agency.

Tarif yang “murah” untuk beriklan digital/online bukan tanpa alasan. Pernah dengar istilah CTR? CPC? CPM? Itulah hal-hal yang sering digunakan jika beriklan digital/online. CTR adalah Clickthrough rate, yang mengitung rasio/rating kemungkinan besar iklan kita diklik setelah dipasang. Biasanya, angkanya dalam bentuk persen, dan merupakan hasil perbandingan antara total audience yang melihat iklan, dan total click di iklan tersebut.

Lalu, apa itu CPC dan CPM? CPC adalah Cost Per Click, sementara CPM adalah Cost Per Mile. CPC adalah mekanisme iklan yang cukup laku belakangan ini. Karena, pemasang iklan berpotensi mendapat coverage view yang lebih luas sebelum kemudian calon konsumen mengeklik iklannya menuju link yang dituju. Selain itu CPC juga memudahkan bagi pemasang iklan untuk membuat laporan, karena dengan tarif tertentu yang sudah kita set, setiap harinya pemasang iklan dapat report penggunaan uang di iklan secara detail, disesuaikan dengan jumlah clicks. Contohnya antara lain google adsense dan juga facebook ads.

Sementara CPM – Cost Per Mile adalah biaya yang harus dibayarkan ke agensi/perusahaan penyedia jasa penayangan iklan, setiap kali angka display mencapai  1000 kali. Jadi, setiap 1000 kali iklan tersebut tayang di manapun dengan klik berapapun,  maka akan mendapat tagihan sesuai settingan di awal.

Jadi gimana, udah tau mau  pilih jenis iklan yang mana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Short Story #122: Apa Yang Kamu Cari?

“Rumah, kendaraan, karir, semuanya kamu punya. Apalagi yang kamu cari?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Lina ditujukan ke Arya, rekan sekerjanya.

Arya yang sedang menatap komputernya, berhenti sejenak dan memutar kursinya. Ia menghadap Lina yang ternyata sudah menghadap ke arahnya sejak tadi.

“Berat amat pertanyaan kamu sore ini.” jawab Arya santai. “Ngopi, yuk!”

Lina menggeleng sambil menahan Arya agar tak beranjak dari kursinya.

“Jawab dulu pertanyaanku.” Lina meminta.

Arya kembali duduk di kursinya. Mencoba santai dan menarik napas.

“Kenapa kamu nanya gitu? Tumben..” respon Arya.

“Ya.. aku penasaran aja sih. Ga boleh?” tanya Lina lagi.

“Boleh sih.. Tapi…”

“Kamu ga suka aku nanya-nanya hal macam gitu? Terlalu pribadi ya buat kamu?”

“Bukan.. bukan gitu..” Arya segera merespon. “Cuman..”

“Kamu suka sama cowok, ya?” Lina menebak.

“HAH?!” Arya kaget dan sedikit berteriak yang langsung mengagetkan Lina di kubikel yang diisi mereka berdua.

“Ups..” Lina merespon pelan dengan muka datar sambil langsung berbalik lagi ke mejanya.

Arya menarik kursinya mendekati Lina, dan memutarnya hingga mereka berhadapan kembali.

“Aku straight. Aku cuma lagi nunggu aja sih tepatnya. Bukan nyari.” Arya memberitahu.

“Apa? Wanita sempurna?” Lina menebak lagi.

Arya tak menjawab.

“Kamu tahu ga sih, kalo wanita sempurna itu bisa jadi juga nyari pria sempurna buat dirinya? Dan, bisa jadi saat kamu nemu wanita sempurna, dia justru belum nemu pria sempurna di diri kamu?”

Arya lagi-lagi tak menjawab. Ia menarik napas.

“Kalo gitu, aku cuman bisa ngomong seperti ini… ‘Aku mungkin bukan pria yang sempurna, tapi perasaanku ini sempurna untukmu..’” jawab Arya.

“Wah.. beruntung banget wanita yang bakal dapet kata-kata seperti itu, ya..” Lina merespon datar.

“Iya.. dan harusnya sih itu kamu..” ucap Arya.

“HAH?!” giliran Lina yang berteriak kaget.

Cerbung

Membuat (baca: menulis) novel atau buku cerita adalah salah satu impian saya sejak kecil. Alhamdulillah, terlepas dari tiras dan angka penjualannya, saya sudah pernah menerbitkan satu judul novel dari salah satu penerbit bergengsi di tanah air. Dan, sebenarnya keinginan hati adalah kembali menerbitkan novel. Akan tetapi, pada kenyataannya semuanya tidaklah mudah.

Mungkin sudah banyak yang tahu, menembus penerbit dan kemudian menerbitkan naskah buku itu bisa dibilang amat sangat sulit. Mulai dari tahapan penyaringan secara kilat, penyeleksian, penyuntingan, penulisan ulang/penambahan (jika perlu), hingga penjadwalan terbit, dan juga pemasaran plus penjualan. Semua itu tidaklah mudah — walau juga tidak mutlak disebut sulit. Mengantisipasi itulah, maka kemudian banyak penerbit “indie”, penerbit buku dengan pemasaran yang “menumpang” penerbit besar, hingga penerbit on demand/by request.

Anyway, bukan soal penerbit dan proses menerbitkan buku yang mau saya bahas. Melainkan cerita bersambung (cerbung) yang semula saya siapkan untuk menjadi novel. Iya, semula naskah cerbung ini adalah naskah novel. Namun karena tak kunjung juga diterbitkan oleh penerbit (baca: ditolak oleh penerbit), jadilah saya publikasikan cerita novel tersebut per bab secara bersambung.

Mau tahu apa cerita bersambung tersebut? Simak aja di sini. Judulnya adalah Burung Kertas, dengan 21 bab yang saya bagi menjadi 21 post.

Selamat menikmati ya..

Short Story #121: Second Chance

“We need to talk.” Vivi mencegat Galih yang baru saja hendak memasuki mobilnya di parkiran kantor.

Muka Galih sontak sedikit kesal daripada terkejut. “Loe kok tiba-tiba muncul gitu sih? Stalking gue, ya?”

“Loe? Gue? Sejak kapan kita bicara dengan loe dan gue?” ucap Vivi segera.

Dahi Galih berkernyit. “Emang kenapa? Masalah?”

“Iya! Masalah buat gue!” Vivi membentak sambil mendorong sebelah pundak Galih.

Nafas Galih memburu. Emosinya sempat menjalar dan hampir saja membuatnya hendak langsung mendorong balik Vivi. Tapi, ia menarik napas dalam-dalam dan mengurungkannya. Mengendalikan emosinya.

“Trus?” tanya Galih segera dengan nada ketus.

Vivi menarik napas dan siap membuka matanya. “Udah gue bilang kan tadi, we need to talk.”

“Yaudah, ngomong sekarang.” ucap Galih segera agak berteriak. Beruntung, area parkir sudah lewat dari jam kerja, sehingga tak terlalu banyak orang yang lalu lalang di parkiran.

Vivi memegang pinggangnya.

“Kenapa kamu ga angkat telepon? Ga bales SMS? Ga bales email? Ga bisa ditemuin di rumah meski aku dateng?” cerocos Vivi. “Kamu kaya’ ngilang ditelan bumi aja.. Ini aja aku harus maksa buat nguntit kamu ke kantor dan nunggu sampe kamu pulang supaya bisa ketemu.”

“Masih tanya?” Galih menjawab dengan pertanyaan setelah diam mendengarkan pertanyaan Vivi.

“Maksud kamu?” Vivi bertanya lagi.

Galih menarik napas. Sekilas, ia tersenyum kecil.

“Ya.. harusnya loe tau kok jawabannya. It’s all about you.” jawab Galih.

Giliran dahi Vivi yang berkernyit.

“Maksud kamu apa?” Vivi bertanya lagi.

Galih menyandarkan sebagian badannya ke mobilnya. Ia menghadap Vivi dengan agak santai. Melupakan sejenak emosinya. Membiarkan Vivi bertanya-tanya dan berusaha memenangkan pertempuran perasaan.

“Segala yang gue lakukan selama ini dalam hubungan kita, selalu tentang loe. Loe, dan selalu loe. Termasuk, kenapa gue malas buat kontak lagi sama loe.” Galih memberitahu.

“Jadi, alasannya aku?”

“Iya.”

“Tapi, kenapa? Apa?” Vivi bertanya lagi.

Galih menarik napas.

“Karena, gue berusaha buat ga ngehajar cowok brengsek yang semena-mena nyium loe di teras rumah loe dua malam yang lalu. Karena, gue tau diri, loe sepertinya lebih nyaman dan milih dia ketimbang gue.”

Vivi terperanjat. “Tapi, kamu bilang dua malam yang lalu masih di luar kota…”

“Bukan alasan supaya loe bisa tukeran air liur lewat mulut sama cowok laen kan?”

Dahi Vivi tak lagi berkerut. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Maaf…” ucap Vivi lirih.

“Gue maafin.” jawab Galih sekenanya.

“So..  am I going to have my second chance?” tanya Vivi.

“Ga.”

“Kenapa?”

“Because, you’ve wasted your first.” jawab Galih sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

Rencanakan dan Lakukan dari Sekarang, Untuk Masa Depan

Well-planned, begitu yang saya coba lakukan setiap harinya. Sebelum saya melakukan sesuatu, saya berusaha untuk membuat rencana agar bisa dan tahu apa dan bagaimana harus menjalankan hari-hari saya. Mulai dari hal-hal kecil seperti waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, hingga mengurus keluarga. Terutama, si kecil Cissy yang semakin lucu setiap harinya. Oiya, Cissy itu nama panggilan bagi anak saya kalau ada yang belum tahu. ^^

Salah satu hal yang saya coba jalankan untuk well-planned bagi Cissy adalah rencana masa depan buat dia. Rencananya bukan yang ribet-ribet macam nanti siapa jodohnya dll, melainkan yang “mudah” saja dulu yakni rencana pendidikan buat dia nantinya. Tentunya, rencana pendidikan tersebut harus didukung oleh perencanaan finansial demi mendukung pendidikan Cissy nantinya, mulai dari yang “kecil” seperti masuk TK, hingga (mudah-mudahan) perguruan tinggi. Karena walau banyak sekali pemberitaan bahwa pendidikan gratis serta banyak sekali kesempatan beasiswa, namun riilnya di lapangan begitu banyak sekali yang harus dilakukan untuk mendapatkan “fasilitas” tersebut. Anyway, bukan soal pendidikan gratis atau beasiswa itu yang ingin saya bahas, melainkan apa rencana pribadi saya untuk finansial pendidikan Cissy nantinya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perencanaan pendidikan Cissy nantinya adalah ucapan dari orangtua saya. “Pendidikan seorang anak haruslah lebih baik daripada orangtuanya. Jika orangtuanya hanya sanggup menyelesaikan hingga SMA, maka anaknya haruslah sanggup menyelesaikan hingga perguruan tinggi.” Kurang lebih, ucapan tersebut terpatri di benak saya, bahwa kelak Cissy haruslah lebih tinggi pendidikannya dibandingkan saya. FYI aja: (saat ini) saya “cuma” lulusan D3; sehingga (mudah-mudahan) Cissy bisa jadi lulusan S1. Amin.

Untuk mendukung rencana tersebut, tentunya perlu didukung oleh layanan perbankan yang memberikan solusi. Tabungan, adalah salah satu bentuk produk perbankan yang bisa dipilih. Ragamnya pun banyak, mulai dari tabungan reguler yang bisa ditambahkan terus saldonya dari hasil menyisihkan pendapatan setiap bulan, ataupun tabungan pendidikan dan skema lainnya. Semua itu tentunya merupakan solusi perbankan yang bisa ditemui di berbagai bank. Salah satunya adalah BCA (http://www.bca.co.id).

Lalu, apa rencana masa depan saya untuk kebutuhan finansial pendidikan Cissy? Jujur saja, saat ini saya baru memilih untuk menggunakan tabungan reguler – yakni Tahapan BCA atas nama saya untuk menjadi “lumbung” pengumpulan finansial bagi kebutuhan pendidikan Cissy kelak. Alasannya, karena mudah untuk bertransaksi.

Sekian tahun saya memiliki rekening berupa Tahapan BCA, sekian tahun pula kemudahan transaksi berupa penggunaan ATM BCA, debit BCA, transfer via ATM BCA, pembelian voucher telepon seluler, hingga pembayaran asuransi melalui ATM BCA begitu membantu keseharian saya. Jadi, tentu saja alasan tersebut cukup kuat bagi saya untuk kemudian menggunakan Tahapan BCA saya untuk menjadi “lumbung” bagi rencana finansial pendidikan Cissy.

Saat ini, rencana besaran minimal yang saya sisihkan per bulan untuk Cissy belum begitu besar. Masih di bawah 300ribu rupiah per bulannya. Mungkin kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan total finansial pendidikan jaman sekarang (atau nanti) yang bisa jadi membutuhkan hingga belasan atau puluhan juta rupiah. Tapi, rencana tersebut tujuannya tak lain agar cash flow setiap bulan dari pendapatan dan pengeluaran saya tetap stabil, tidak bergelombang, dan saya pun tertib untuk terus menabung. Pernah dengar kan prinsip “menabung itu yang penting terus bersambung”? :mrgreen: Lagipula, saya juga kan pengen dong punya kebebasan finansial dengan cash flow yang stabil tersebut.. – meski riilnya cukup “menantang” untuk dilakukan. 🙂

Well, saya memang kurang pandai berhitung untuk keuangan yang berkaitan dengan tabungan di bank. Tapi setidaknya saya berharap dengan rencana kecil ini, saya di kemudian hari menjadi lebih tertib, lebih mawas diri, dan lebih terbantu untuk kebutuhan finansial pendidikan Cissy kelak. Sambil tetap dan terus berdoa, berikhtiar, dan melakukan pekerjaan halal untuk mengumpulkan rezeki. Karena itulah, perlu rencanakan dan lakukan dari sekarang, untuk masa depan. Amin.

Kalau kamu, punya rencana finansial apa?

NB: tanpa mempengaruhi isi & kondisi riil, blogpost ini sedang diikutsertakan di BCA blog competition.

Keterangan foto: tabungan dari sini, dan topi toga dari sini.

Short Story #120: Sebuah Kejutan

“Akhirnya.. ketemu loe juga hari ini..” ujar Andre pada Anya ketika ia menjumpainya di depan lobby gedung kantor selesai jam kerja. “Gue nyariin loe seharian ini.. kok ya tumben ga keliatan.”

“Yaelah.. loe kan bisa nelepon gue kali..” jawab Anya sambil tetap diam di tempatnya. Menunggu taksi. “Loe mau makan bareng ga?”

“Ke mana?”

“Ke mana aja kek, mall deket sini kali.” jawab Anya sekenanya sambil matanya kembali mengawasi jalanan jaga-jaga ada taksi kosong yang lewat.

“Yah.. gue ga gitu laper sih. Tapi ya, boleh deh buat nemenin loe.” jawab Andre sambil kemudian berdiri di samping Anya.

“Kalo soal duit, ga usah khawatir. Gue yang bayarin makannya.”

“Seriusan nih?” tanya Andre.

“Ya serius laaahh..” jawab Anya.

“Wah, dalam rangka apa?” tanya Andre lagi.

“Gue lagi pengen makan enak aja..”

“Lagi seneng ya?”

“Bisa dibilang gitu..” jawab Anya sambil tersenyum kecil. “Kemaren ada yang ngasih gue kejutan gitu deh..”

“Wah.. kebetulan dong.” sahut Andre.

“Kebetulan apanya? By the way, emang kenapa sih loe nyariin gue seharian ini?” Anya mulai penasaran.

“Oh.. itu.. gue ada kabar yang cukup bisa bikin loe kaget gitu deh..” jawab Andre santai.

“Maksud loe?”

“Let say.. sebuah kejutan.”

“Wah, apaan tuh?!” Anya langsung tertarik. Ia langsung menghadap Andre, dan melupakan lalu lintas dan taksi yang lewat.

“Sebentar..” kata Andre sambil merogoh ke dalam saku jaketnya, sementara Anya menunggu sambil berharap.

Sesaat kemudian, sebuah kotak perhiasan kecil diulurkan oleh Andre ke arah Anya. Tutupnya setengah terbuka, dan terlihat ada cincin di sana.

“Will you marry me?” tanya Andre.

Anya diam sejenak. “Sorry Ndre, someone already proposed me last night.”