Short Story #119: Friends

Sudah hampir 30 menit Gita diam dalam keheningan. Ia menatap lelaki di depannya yang memandang ke arah lain. Ia hanya bisa melihatnya dari arah samping. Tapi, ia seakan-akan bisa memandang lelaki wajah lelaki tersebut dengan lengkap.

Pandangannya masih sama. Teduh. Menenangkan. Gita berpikir dalam hati.

“Sampe kapan kita mau begini?” tanya Ferdi, lelaki di depannya sambil menoleh ke arahnya.

“Sampai kamu mau jawab pertanyaanku.” jawab Gita segera.

“Yang mana?” tanya Ferdi.

Gita menarik napas.

“Perlukah aku ulang?” Gita bertanya balik.

Giliran Ferdi yang menarik napas.

“Aku ga inget. Terlalu banyak pertanyaan yang kamu tanya ke aku.” ucap Ferdi sambil akhirnya terdiam lagi dan menatap ke arah lain.

Gita kembali larut dalam diam. Dalam telinganya hanya terdengar hening walau meja café pinggir jalan yang ia tempati bersama Ferdi cukup ramai.

“Rasanya aneh..” celetuk Gita.

“Apanya?” Ferdi tiba-tiba menoleh dan bertanya.

“Situasi sekarang ini..”

“Maksudmu?”

“Kita, sekarang. Why can’t we be friends again?” tanya Gita.

Ferdi mengernyitkan dahinya. Ia kurang suka karena lagi-lagi Gita memberikan pertanyaan. Tapi…

“Because.. we never were.” jawab Ferdi.

Kenali Lewat Mobilnya – ICLA 2012

Pengantar: blogpost ini sedang saya ikutsertakan dalam Indonesia Car Lifestyle Award 2012 Blog Competition

Ada pendapat umum yang isinya kurang lebih sebagai berikut,

“Dari kondisi sebuah mobil, bisa langsung tau mobil itu yang punya cowok apa cewek.”

Yep, dari sebuah kondisi aja, bisa langsung ditebak mobil itu biasa dikendarai oleh cowok atau cewek. Konon, kondisi tersebut berlaku mulai dari interior, hingga eksterior. Mulai dari kelengkapan surat-surat hingga aksesori. Mulai dari depan, hingga belakang. Pokoknya, semua bagian.

Secara ga langsung, kondisi sebuah mobil untuk kemudian bisa mengenali cowok atau cewek, juga bisa diartikan bahwa cara mengenali seseorang atau identitas seseorang bisa didapatkan melalui mobilnya. Dari mobil bisa langsung diketahui cara berkendara, kerajinan untuk merawat, hingga perilaku di dalam mobil.

Trus, kenapa?

Ya.. saya pribadi sih prihatin aja kalo ada orang yang ga peduli sedemikian rupa dengan mobilnya. Yang mikirnya kalo mobil cuman benda mati, dan yang penting berfungsi. Padahal, mobil itu bisa jadi “hidup” dan juga kepentingannya lebih dari sekadar berfungsi. Tau kan, kalimat terkenal di film Transformers, pas di adegan Sam mau beli mobil yang ternyata Bumblebee?

“A driver doesn’t pick the car. The car picks the driver.”

Itulah kenapa mobil penting dan harus diperhatikan. Karena mobil yang “diperhatikan” tentunya juga berguna untuk keseharian kita. Mobil yang “diperhatikan” pastinya ga bakal sering-sering rewel.. dan pastinya bikin pengendaranya bangga kan? Gampangnya gini aja deh.. emang ada gitu yang mau disebut “si mobil butut”? Engga kan..

Salah satu contoh mobil yang “diperhatikan” dan bisa memberikan identitas yang ajib buat pengendaranya adalah.. mobil klasik dan kolektornya. Generasi terdahulu dari Bently, Rolls Royce, Cadillac, atau bahkan Datsun pastinya kalo “diperhatikan” dengan baik oleh kolektor sekaligus penggemarnya, akan memberikan rasa bangga ketika dibawa ke jalan raya, atau pas lagi ikutan pameran mobil antik.

Rasa bangga itu tentu akan memberikan identitas yang baik, serta jadi salah satu ciri dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam life style kita. Mudah-mudahan, hal ini bisa terbantu dengan ICLA 2012, atau Indonesia Car Lifestyle Award 2012.

Short Story #118: Setelah Pintu Tertutup

“Relax. I’m okay.” Michael memberitahu Rina yang berdiri di ambang pintu apartemennya, dari balik pintu yang setengah terbuka.

“Tapi bolehin gue masuk dong, Mick. Gue kan temen loe..” Rina sedikit memaksa.

“Lain kali aja, ya Rin.” Michael memberitahu sambil menahan agar Rina tak bisa membuka pintu dan masuk ke dalam apartemennya.

“Kenapa?”

“Ya.. karena gue lagi ga pengen aja.” jawab Michael.

“Ga biasanya loe begini.. Beberapa bulan yang lalu sebelom kejadian pagi ini, loe welcome banget kalo gue dateng ke sini.” Rina memberikan alasan.

Michael menarik napas. “Iya, tapi itu bukan hari ini. Bukan sekarang. Terlepas dari ada kaitannya sama kejadian tadi pagi apa engga.”

“Tapi…”

“I’m okay. Got it?” Michael berkata dengan tegas.

Rina diam. Ia menatap sobatnya sejak SMA tersebut dalam diam dan pandangan berharap. Berharap, sobatnya tersebut benar-benar baik-baik saja seperti yang dikatakannya.

“Kalo ada apa-apa…”

“You’ll be the first one who knows.” Michael menyelesaikan kalimat Rina.

Rina mencoba tersenyum. Berharap Michael akan ikut tersenyum.

Usahanya tak sia-sia. Karena Michael pun tersenyum. Walau sesaat. Walau kecil. Walau sementara.

“After all these time, loe tetep cowok paling tenang yang pernah gue kenal.” Rina memberitahu sambil mengusap wajah Michael.

Kali ini, Michael tersenyum tanpa harus dipancing.

“Thanks.” jawab Michael singkat.

Lalu, hening sesaat.

“Kalo gitu, gue cabs aja deh. I got a blind date to attend.” ucap Rina sambil membenarkan kerah jaketnya dan bersiap pergi.

“Blind date? Seriusan?” Michael tiba-tiba penasaran. “Bukan gaya loe banget kaya’nya..”

“Well, it’s my privilege to do whatever I want as a single, right?” jawab Rina sambil beranjak, namun kemudian berhenti sesaat sambil menoleh, “Soon, it shall be your privilege too..”

Michael kembali tersenyum sambil memperhatikan kepergian Rina dari lorong apartemennya. Tak lama, wajahnya kembali datar. Ia pun masuk ke dalam apartemennya.

Setelah pintu tertutup, sejenak, Michael hanya berdiri bersandar ke pintu apartemen sambil menatap beberapa barang di apartemennya yang mulai dibungkus dan ditutupi oleh kain. Lalu, nafasnya beranjak berat. Matanya terasa panas.

“Andai saja..” ucap Michael sambil membalikkan sebuah figura yang berisikan fotonya mengenakan tuxedo terbaiknya, dan diapit seorang wanita mengenakan gaun putih panjang yang membawa buket bunga.

Short Story #117: Rencana Week End

“Week end besok, mau ke mana, Rose?” Panji bertanya saat mereka berpapasan di depan pantry.

“Yah.. paling seperti biasa. Di rumah aja. Males-malesan. Atau mungkin tidur.” jawab Rose santai sambil menyandarkan badannya ke salah satu meja di pantry.

“Oh…” Panji merespon sambil mengambil sebuah gelas dari lemari, dan kemudian siap membuat secangkir kopi hitam. “Kalo week end gitu, bokap-nyokap loe ada di rumah, ya?”

“Ya pasti ada lah.. makanya gue mau males-malesan ajah..” Rose menjawab.

“Lah, emang kalo mereka ga ada, loe ga bisa males-malesan gitu?” tanya Panji lagi sambil menuangkan air panas ke campuran kopi dan gula di gelasnya.

“Yah.. bisa dibilang kalo mereka ada di rumah, gue lebih rileks aja sih. Lebih santai. Ga musti mikirin banget adek-adek gue lagi ngapain, di mana, sama siapa..”

“Oh..” jawab Panji lagi sambil kini mengaduk kopinya.

Rose mengubah posisi bersandarnya dan mengambil secuil roti lapis dari meja sambil kemudian mengunyahnya.

Panji melirik sejenak, sambil kemudian menarik sebuah kursi dan menyimpannya dekat tempat Rose bersandar.

“Loe sendiri, besok ada rencana week end apa?” tanya Rose.

Panji tak langsung menjawab. Ia justru meminum kopinya dengan santai.

“Ji?” tanya Rose mengingatkan.

“Ya… ada lah..” jawab Panji.

“Lah.. curang. Tadi loe tanya, gue jawab panjang dan detil banget. Giliran gue yang tanya balik, jawaban loe gitu doang.. ‘Ya.. ada lah..’ Jawaban macam apa itu?” Rose sedikit mengomel sambil memalingkan mukanya ke arah lain.

“Ya.. jawaban macam gue tadi..” Panji menjawab santai.

“Ckckck..”

Rose kemudian perlahan bergerak menuju pintu. Tepat saat Rose memegang kenop pintu pantry, Panji memanggilnya.

“Iya.. iya.. ini gue jawab.” ucap Panji sambil langsung berdiri.

Rose tersenyum kecil sambil kemudian berbalik menghadap Panji.

“Nah.. gitu dong..” ucap Rose senang. “Jadi, rencana week end loe mau ngapain?”

Panji menarik napas. “Gue sih udah bikin rencana pengen ketemu calon mertua. Tapi ga tau deh..”

“Wah! Mau lamaran?!” Rose langsung histeris sambil sedikit melompat.

“Eng… Gue kan cuman bilang pengen ketemu calon mertua.. bukan berarti lamaran lho..” Panji menjawab dengan kalem kepada rekan sekerjanya ini.

“Oh.. jadi, maksud loe ini pertama kalinya loe mau ketemu orangtua dari cewek loe?” tanya Rose lagi.

“Yah.. secara teknis bukan cewek gue juga sih.. Cuman gue pengen ketemu orangtuanya aja biar sekaligus minta restu buat jadian sama anaknya.” jawab Panji panjang lebar.

“Ebuset! Jaman gini masih ada ya orang kaya’ loe.. Konvensional abiiisss…” Rose berkomentar.

“Ya abis mau gimana lagi? Anak cewek yang lagi gue incer dari calon mertua ini, ga nyadar sih kalo lagi gue PDKT-in. Mana suka males-malesan pula kalo week end.” jawab Panji.

“HAH?! MAKSUD L?!” Rose berteriak.