Short Story #116: Peace

Ella membuka matanya sambil menggerakkan tangan kanannya. Meraba sebelahnya. Meraba ranjang bagian lelakinya. Kosong.

Mata Ella kemudian mencari jam dinding. Menyadari bahwa waktu masih berada di jam 5 pagi.

Ella menggeliat. Membuka selimut, lalu mendudukkan dirinya sejenak sambil membenarkan piyamanya sambil menurunkan kakinya ke lantai kamar yang dingin.

Ella mendengus pelan. Lalu perlahan beranjak menuju sebuah pintu. Pintu menuju ruang sebelah.

“Kamu ga tidur, Mas?” Ella bertanya dari ambang pintu kepada lelaki yang tengah duduk menatap laptop dengan diterangi lampu temaram ruang kerja.

“Aku baru bangun..” jawab Dicky santai sambil menoleh kepada Ella.

“Oh..” jawab Ella pelan. “Semalam pulang jam berapa? Kok aku ga dibangunin?”

Dicky kali ini memundurkan kursinya, membiarkan laptopnya membuka dan menghampiri Ella.

“Pas aku dateng semalem, kamu udah tidur. Aku ga mau bangunin kamu.” jawab Dicky sambil beranjak menghampiri Ella dan memeluknya.

Ella balik memeluk Dicky.

“Aku kadang heran, kenapa sih kamu seneng banget tidur larut dan bangun lebih pagi? Sampe-sampe, kadang-kadang aku ga tau kamu tidur apa engga.. karena kalo udah gitu, pasti kamu tidur setelah aku tidur, dan bangun sebelum aku bangun..” ucap Ella di pelukan Dicky.

Dicky menghembuskan nafasnya ke rambut Ella di dadanya.

“Ga usah heran.. aku cuman seneng aja ngeliat kamu tidur..” jawab Dicky.

Ella mengangkat kepalanya, menatap Dicky.

“Kenapa? Kenapa ga lebih seneng kalo tidur bareng?” tanya Ella.

“You’re so peace when you’re sleeping..” jawab Dicky sambil mengecup kening Ella.

Hai, Nak… :’)

Bulan Agustus tahun lalu, bulan Ramadhan. Di bulan yang dipenuhi dengan kebaikan tersebut, Papi & Mami mendapat kabar gembira. Mami positif mengandung. Positif mengandung kamu, Nak. Dengan usia kandungan yang baru beberapa minggu.

Bulan-bulan berikutnya, Papi selalu menemani Mami setiap Mami kontrol ke dokter kandungan. Mengecek perkembanganmu, memastikan kamu & Mami sehat, mendapatkan nasihat, dan segala yang berkaitan dengan mempersiapkanmu untuk lahir, Nak.

Papi masih ingat, di sekitar bulan November-Desember, Mami mulai merasa ada yang berdenyut di perutnya. Dan, saat mengecek ke dokter, dokter bilang yang berdenyut itu kamu. Iya, kamu sedang ‘menendang’ dari dalam perut Mami. Dan sejak saat itu, Papi dan Mami sering mengajak kamu ‘ngobrol’. Kalau lagi diajak ‘ngobrol’ dan kamu ‘nendang’, rasanya seru bagi Mami dan Papi.. 🙂

Memasuki tahun 2012, usia kamu di dalam kandungan Mami mulai bertambah hitungan minggunya. Alhamdulillah, kamu sehat.. Mami pun sehat.. Kamu pun makin sering dan unik saat merespon ‘obrolan’ Papi dan Mami.

7 bulan, 8 bulan, dan kemudian 9 bulan usia kamu dalam kandungan Mami. Papi dan Mami pun sudah menyiapkan nama, pakaian, dan hampir semua keperluan kelahiran kamu. Papi pun makin siaga karena bisa saja sewaktu-waktu kamu akan lahir dari kandungan Mami. Tidur larut, bangun sebelum fajar, hingga telinga yang awas untuk mendengar apapun panggilan Mami, menjadi sesuatu yang begitu mengesankan oleh Papi. Kenapa? Karena pagi hari ini, Jum’at 20 April 2012, jam 8:53 WIB, kamu lahir dari proses persalinan normal dari kandungan Mami..

Kamu, seorang putri cantik yang menambah kebahagiaan Mami dan Papi yang menjadi orangtua kamu.

Nak, semoga kamu menjadi seseorang yang solehah, berakhlak baik, dan berbakti kelak. Papi dan Mami akan siap dan sedia untuk mendukungmu..

Short Story #115: Kejutan

“Menurutmu, aku harus gimana lagi?” tanya Evan memecah kesunyian dini hari yang dingin di teras sebuah resto cepat saji 24 jam.

“Hmm?” Uci menggumam sambil meminum black coffee-nya untuk menghangatkan diri.

“Aku harus gimana lagi? Apa aku harus diam dan terima apa adanya, atau gimana?” Evan menjelaskan.

Uci menyimpan gelas kopinya. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghadirkan kehangatan.

“Mungkin… kamu harus berhenti terlalu berharap.” ucap Uci santai sambil menyandarkan dirinya ke kursi plastik yang keras.

“Maksudmu?”

“Yah.. jangan terlalu berharap sama dia. Jangan terlalu berharap kalo dia bakal berubah. Kalo dia bakal ngikutin apa semua keinginan kamu. Kalo dia bakal ngerti apa mau kamu tanpa harus kamu ingetin atau kasitau berkali-kali..” Uci menjelaskan.

Evan diam menatap rekan sekerjanya itu.

“Dan… jangan terlalu berharap kalo dia bakal balik mencintai kamu..” Uci menambahkan.

Giliran Evan yang menyandarkan dirinya ke kursi plastik. Ia menghembuskan nafas. Kalimat terakhir Uci terngiang-ngiang di benaknya.

“Tapi aku cinta dia, Ci.. Sejak bertahun-tahun yang lalu.” Evan menyanggah.

“Dan sejak bertahun-tahun yang lalu pula, dia ga balik mencintai kamu…” respon Uci segera.

Evan kembali menghembuskan nafas. Matanya menatap langit-langit teras resto cepat saji yang sedikit temaram. Sesekali, ia melirik ke arah langit yang masih gelap.

“Bingung…” Evan menggumam.

Uci menegakkan badannya dan sedikit mengarahkan kepalanya menghadap Evan.

“Berhentilah terlalu berharap, Van.. Berhentilah. Karena, dengan begitu kamu bakal ketemu kejutan-kejutan lain di hidup kamu, yang ga kamu kira-kira sebelumnya.” Uci memberitahu.

Evan menatap wajah Uci dalam-dalam.

“Kejutan? Seperti apa?” tanya Evan.

“Seperti… aku yang mencintaimu sejak bertahun-tahun yang lalu…”

Short Story #114: Gak Biasa

“Dari mana aja, sih? Aku kan udah nunggu lama dari tadi!” kata Rina ketus sambil memegang pinggangnya begitu Seno membuka pintu.

Seno tak langsung menjawab. Ia justru menggantungkan jaketnya di balik pintu sambil kemudian berjalan perlahan mendekati Rina.

“Kamu kalo marah, cantik deh..” goda Seno sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Rina, namun Rina menolak.

“Alah.. ga usah ngerayu-rayu gitu deh.. Aku tuh lagi sebel, tau!” ucap Rina sambil menjauh namun parasnya tetap ketus.

“Dan itu yang bikin aku suka kamu sejak pertama kita ketemu..” jawab Seno sambil kembali mendekati Rina yang lagi-lagi menjauh.

“Jadi kamu suka aku buat marah-marah mulu, gitu?!” tanya Rina saat berhasil mengambil jarak yang cukup jauh dari Seno.

“Ya enggak.. tapi wajah kamu yang ketus dan judes itu bikin aku kepincut.” jawab Seno sambil kembali mencoba mendekati Rina.

Rina menarik napas.

“Stop, No!” hardik Rina pada akhirnya. “Kamu belum jawab pertanyaan aku!”

“Pertanyaan yang mana, hmm?” tanya Seno sambil diam berdiri.

“Kamu dari mana aja? Kok lama bener? Ga tau kalo aku udah nungguin dari tadi? Tau ga sih jam berapa ini?” Rina memberondong pertanyaan.

Seno menarik napas. “Jam 11 malem. Ya aku mana tau kamu nungguin, kan kamu ga ngasitau.. lagipula tumben-tumbenan kamu masih bangun. Biasanya pas aku dateng, kamu udah tidur.. Nyenyak..”

“Ya tapi kan malem ini enggak biasa!” Rina memberitahu.

“Oh ya? Emang ga biasa karena apa?” tanya Seno sambil kemudian duduk di sofa ruang tamu sementara Rina tetap berdiri di ambang menuju ruang tengah dengan menatapnya tajam.

Rina menarik napas.

“Ya aku lagi pengen nunggu kamu aja.. Bikin surprise..” jawab Rina. “But you’ve ruined it.”

Giliran Seno menarik napas.

“Ya abis.. tadi tiba-tiba istriku minta dianter ke bandara buat pergi ke Semarang…” jawab Seno.

Short Story #113: One Condition

“Emang kita ga bisa cari jalan lain, ya?” tanya Evan perlahan sambil coba menyembunyikan nada bergetar di suaranya.

“I’m afraid, there are no other ways..” jawab Natasya sambil sedikit terisak.

Evan menarik napas. Berat. Sesak.

“Kenapa?” tanya Evan.

Natasya tak menjawab. Ia hanya terisak dan menyeka sudut matanya yang mulai basah.

Evan menatap Natasya di depannya. Walau begitu, tatapan matanya kosong. Yang ia lihat adalah bayangan-bayangan masa indah yang pernah ia jalani bersama Natasya.

“Kalau saja…”

“Aku juga maunya ga begini, Van.. tapi…” Natasya tak melanjutkan kata-katanya.

“Kalau saja.. kalau..” Evan mengulang.

Lalu hening. Ruang tamu apartemen Natasya tak pernah terasa sedingin sore itu.

“Kalau aku masih mau perjuangin kamu, gimana?” tanya Evan sambil tak terlalu berharap.

Natasya menatap Evan sambil masih memegang tangannya dari tadi. Pandangan matanya menyiratkan persetujuan, tapi….

“Kamu tau sendiri kan gimana Papa-Mama aku.. Gimana keluarga besar aku…” jawab Natasya.

“Tapi…”

“Jangan, Van. Aku ga mau ngeliat kamu lebih terluka.” Natasya memberitahu dengan nada bergetar.

Evan terdiam. Ia membuang napas.

Selain detik jam dinding, isakan tangis, dan helaan napas, keheningan kembali menyelimuti ruangan apartemen di lantai 9 itu.

“Okay.. Even it’s hard to do, I’ll let you go then.” ucap Evan.

Natasya memalingkan wajahnya ke arah selain Evan. Hatinya sakit.

“But in one condition… You have to be happy.” Evan menambahkan yang diikuti dengan tatapan Natasya kembali ke arahnya.

Short Story #112: Part of..

“Kalo kamu ada yang mau diomongin, ngomong aja. Tapi, aku lagi mumet.” Susan memberitahu sambil kemudian menyandarkan badannya ke kursi dan kemudian tangan kanannya menyentuh ujung keningnya.

Michael menghembuskan nafas.

“Kamu harusnya jangan terlalu workaholic, San..” Michael menyarankan.

“Yayaya.. Mama juga bilang begitu.” Susan mengibaskan tangannya sambil tetap bersandar di kursi. “Dan kamu jangan coba-coba nambahin.. Udah banyak yang harus aku pikirin.”

Michael mengangkat alisnya. Ia kemudian meminum kopinya.

“It’s no more your business anyway.” Susan menggumam.

“Apanya?”

“Aku workaholic apa engga.” Susan menjawab segera sambil membuka matanya.

“Yah.. aku cuma ngingetin aja sih..” kata Michael singkat.

“Ga perlu.” kata Susan. “Lagipula, status kita udah bukan seperti dulu lagi.”

“Iya, soal itu aku tau.” jawab Michael.

Kemudian, Susan kembali memejamkan matanya sambil kedua tangannya memijat keningnya. Michael hanya diam memperhatikan. Menunggu.

“Mumetnya karena mumet mikir, atau mumet ga enak badan, sih?” Michael bertanya.

Susan membuka mata. “Emang kenapa?”

“Penasaran aja..” jawab Michael sambil melemparkan pandangannya ke sekeliling dalam coffee shop. “Ga dijawab juga gapapa.”

Susan kembali memejamkan mata. Ia menarik napas. Ia tak ingin menjawab.

Michael kembali larut dalam keheningan. Sekilas, ia coba mengingat-ingat kenapa ia mengajak bertemu Susan petang itu.

“Kalo ga jadi ada yang diomongin, aku cabs aja, ya..” suara Susan mengagetkan pikiran Michael.

“Lah, buru-buru amat?!”

“Well.. I have much more things to do. Important things. Special things.” jawab Susan.

Mendadak, Michael teringat alasannya mengajak Susan bertemu.

“Kenapa?”

“Kenapa?” Susan balik bertanya.

“Ya… aku ga ngeliat apa pentingnya kamu sibuk-sibuk di jam after hours gini. Jangan sampe nanti kekurangan waktu buat istirahat, lho..” Michael mengingatkan.

Susan menegakkan badannya. “Well, here we go again. Tukang atur kembali sok-sok ngatur.”

“Ya abis aku-“

“Don’t you ever want to be a part of something special?” potong Susan segera dengan nada meninggi.

Michael tak meneruskan kata-katanya dan kemudian diam.

“Aku tau kamu ga akan pernah ngerti. Sama seperti dulu-dulu…” kata Susan sambil siap-siap berdiri dan pergi. Tapi, tangan Michael menahannya dengan memegang tangannya.

“I was part of it. Us.” ucap Michael.

Short Story #111: Jalan Buntu

“I think there’s nothing more we can do for us..” Santi memecah kebekuan yang telah berlangsung beberapa menit. Walau begitu, rasanya seperti telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Pria di depan Santi tak merespon.

“I think, we have had everything on our relationship.” Santi berkata lagi.

“Dari mana kamu tau kalo kita udah ngalamin semuanya?” Gio akhirnya bertanya.

Santi diam sejenak. “I just knew it.”

“Kok bisa?”

Santi diam lagi. Kali ini cukup lama.

“Terlintas aja di pikiranku.” jawab Santi.

Pasangan yang telah menjalin tali kasih selama 7 tahun ini sama-sama diam kembali. Membiarkan suara ombak di bawah dermaga yang mereka tempati menyelimuti keheningan di antara mereka.

“Selain itu, apa pernah terlintas yang lain-lainnya?” Gio bertanya lagi.

“Maksudmu?”

“Ya.. apapun selain yang udah kamu sebut tadi.” Gio memberitahu sambil mencoba tetap tenang.

Santi melihat ke arah cakrawala di lepas lautan.

“Mungkin.” jawab Santi singkat. “Tapi aku lupa apa saja yang pernah terlintas itu..”

Gio tak menjawab.

“Lagipula, ini jalan buntu. Udah ga ada jalan lain dari sini buat kita.” Santi menambahkan kemudian. “Kamu sendiri juga kan yang belum pengen kita beranjak ke jenjang selanjutnya?”

Gio mengubah posisi berdirinya sehingga menghadap Santi.

“Aku lebih pilih ketemu jalan buntu, jadi aku masih bisa balik lagi cari jalan ke tempat semula. Daripada.. aku keburu-buru buat ambil langkah ke tahap selanjutnya, tapi kemudian jatuh karena lubang, atau terperosok ke dalam jurang.” sahut Gio.

Short Story #110: Ga Mau Sendiri

“Ra.. udah sampe, Ra.” Wawan memberitahu sambil menarik tuas rem tangan mobilnya.

Lara, teman Wawan sejak kuliah, membuka matanya sedikit, lalu ia menggeliat di kursinya. Geliatnya sedikit terhambat karena terhalang sabuk pengaman.

“Sampe mana?” tanya Lara perlahan. Suaranya parau. Sepertinya ia tertidur cukup nyenyak sepanjang jalan.

“Rumah loe, lah..” jawab Wawan sambil tertawa kecil.

“Hah? Rumah gue?” Lara langsung membuka matanya lebar-lebar sambil menegakkan badannya. “Lho, beneran udah sampe rumah gue?”

“Cari apa?” tanya Wawan ketika melihat Lara sedang celingak-celinguk ke kursi belakang mobil. “Yang laen udah turun duluan tadi. Tinggal loe doang nih.”

“Kok gue ga dibangunin?” tanya Lara.

“Yee.. loenya aja yang kebo. Dibangunin susah amat.” jawab Wawan segera.

“Enak aja..”

“Lagian.. gue tuh tadi udah sampe sini duluan, udah bangunin loe tapi loe kagak melek-melek aja. Akhirnya ya.. gue nganter si Desi sama Franky ke rumahnya dulu lah..”

“Hah? Jadi gue udah tidur sepanjang jalan dari café, rumah gue, rumahnya Desi, rumahnya Franky, dan sampe sekarang di rumah gue lagi?!” Lara terkejut.

“Hooh.” jawab Wawan singkat.

“Buset! Masa’ iya sih gue tidur sepanjang jalan ngiterin Jakarta gitu? Rumahnya Desi kan di Bekasi, Franky juga rumahnya di Depok sana. Dan, sekarang udah sampe Menteng lagi?”

“Iyeee…” jawab Wawan. “Udah kaya’ sopir aja dah gue nganterin loe pada.”

“Buseeeettt..” Lara berkomentar tanpa beranjak dari kursi samping Wawan.

Wawan melihat arlojinya. Sudah jam 2 pagi. Walau begitu, ia bersyukur ia belum mengantuk sehingga masih bisa mengemudi mobilnya dengan aman dan selamat sepanjang jalan dari jam 12 malam tadi.

“Loe turun, ga?” tanya Wawan.

“Turun?” Lara balik bertanya.

“Lah.. loe ga mau masuk rumah sendiri, apa?” Wawan bertanya heran.

“Oh.. itu…” Lara menghembuskan nafasnya sambil kemudian menyandarkan dirinya ke kursi mobil.

“Iya, jadinya ga turun?” tanya Wawan lagi setelah beberapa menit.

“Kalau gue ga turun dulu, bisa ga?” Lara balik bertanya lagi.

“Emang kenapa?”

“Gue cuma ga mau sendiri lagi begitu gue turun dan masuk rumah.” jawab Lara.

Short Story #109: Taken

“Jadi, gimana rasanya jadi nyonya Nugroho?” tanya Rudy saat Vita tiba di café tempat mereka janjian bertemu.

“Ya.. serasa seperti istri.” jawab Vita sambil mengambil kursi di depan Rudy.

“Jawaban loe ga seru amat deh.” Rudy menggerutu.

“Well, what do you expect?” tanya Vita. “Lagipula, loe ga tau kan rasanya jadi istri? Secara.. loe kan cowok.”

“Iya deh.. iya…” ucap Rudy sambil tersenyum kecut.

Vita lalu memanggil pramusaji café, dan memesan minuman favoritnya. Sementara itu, Rudy meminum minumannya.

“By the way, Nugroho tau kan loe mau ketemu gue di sini? Dia ga marah kan kalo kita ketemuan?” tanya Rudy.

“Ya dia tau lah..” jawab Vita singkat. “Kita sama-sama toleran kok kalo soal temen deket, apalagi temen lama. Lagipula, dia udah kenal loe juga kan..”

“Abis, ga lucu aja gitu kalo ntar tiba-tiba ada cowok ngamuk-ngamuk ke café ini, ngajak gue duel atau semacamnya.” respon Rudy.

“Ya elah Rud.. lebay amat..” Vita berkomentar.

Seorang pramusaji café mendatangi meja mereka dan kemudian meletakkan minuman pesanan Vita. Tak lama, pramusaji itu pergi kembali.

“Trus, loe sendiri gimana rasanya?” Vita tiba-tiba bertanya setelah meminum sedikit pesanannya.

“He? Rasanya apaan?” Rudy balik bertanya karena tak mengerti.

“Ya.. rasanya jadi loe. Being single for… almost five years, perhaps?” tanya Vita.

“Yaelah.. ga usah disebut jangka waktunya juga kaleee…” jawab Rudy.

Vita tertawa.

“Seneng amat ngetawain temen sendiri..” Rudy menggumam.

“Mending lah loe diketawain temen sendiri, daripada diketawain orang laen yang bukan temen?” jawab Vita.

“Halah.. dibolak-balik mulu ucapan gue..”

Vita kembali tertawa, sementara itu Rudy kembali tersenyum kecut.

“Trus, rasanya gimana?” Vita kembali bertanya.

Rudy menarik napas. “Ya.. rasanya ya begitulah. Loe juga tau kan rasanya single?”

“Tapi gue ga single sampe li-… eh, ga selama loe gitu lah..” Vita memberitahu. “Jadi gue ga mungkin tau rasanya..”

Rudy menelan ludah. “Ya.. yang pasti rasanya biasa aja sih. Ga penting statusnya atau selama apa jalanin status itu, yang penting adalah gimana cara kita bisa ngebuat setiap harinya bermakna..”

“Wah..” Vita berdecak kagum.

Lalu Vita dan Rudy sama-sama meminum minumannya masing-masing.

“Anyway Rud.. for all these time, why do you still single?” tanya Vita.

Rudy menghela napas sejenak sebelum menjawab. “Because… you’re already taken.”

Short Story #108: Why Did You Leave?

“Ga berasa udah tiga taun ya..” ucap Dania saat Ario menutup pintu mobil.

“Apaan?” tanya Ario sambil memasang sabuk pengamannya sementara Dania menghidupkan mobil.

“Ya elo di negeri matahari terbit itu.” jawab Dania sambil mulai mengemudikan mobil keluar dari parkiran, dan menuju jalan keluar bandara.

“Ah, masa iya?” Ario bertanya lagi.

“Yaelah.. loe sok lupa apa gimana, sih?”

“Ya.. gue sih emang ga ngitungin aja.” ucap Ario. “Tapi kalo diitung dari taun pas gue berangkat, dan sekarang pas gue balik.. ya emang beda tiga taun sih..”

“Lah itu..” kata Dania sambil melirik sejenak pada Ario dan mengemudi kembali.

Ario membuka kacamatanya, dan membersihkannya dengan lap yang ia keluarkan dari tempat kacamatanya.

“Mama apa kabarnya?”

“Mama baik.” jawab Dania. “Dia udah nunggu kamu di rumah.”

“Lho? Kok bisa?”

“Iya, lah dia tau kok kamu mau pulang hari ini. Bahkan dia yang cerewetin aku supaya jangan sampe telat jemput kamu.” jawab Dania lagi.

“Kamu ya, yang kasitau dia?” tanya Ario.

Dania menoleh sejenak sambil tersenyum kecil.

“Udah aku duga..”

“Ya abis, mau gimana lagi? Mama tuh sering lho nanyain kamu. Bahkan, waktu kamu berangkat aja, dia langsung nanya gitu kapan kamu bakal pulang.”

“Lah…” Ario merespon singkat.

“Maklum.. Mama kan ga punya anak cowok. Jadi ya.. mungkin kamu udah dia anggap anak sendiri kali. Secara, kamu kan udah sering ke rumah dari waktu kita kecil dulu..” Dania menjelaskan sambil tetap memperhatikan jalanan.

“Bisa juga sih..”

Lalu hening. Dania dan Ario sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Eh iya, aku penasaran nih.. mungkin agak telat, tapi ya.. mending aku tanya sih daripada penasaran.” Dania memberitahu.

“Soal apa? Kalo kamu pengen tau soal apa aku punya cewek apa enggak, jawabannya ga perlu aku kasitau kan?” respon Ario setengah bercanda.

“Yaelah.. itu sih udah pasti aku tau jawabannya. Jomblo pastinya kan?” Dania menebak.

“Yaaahh… yang pasti I’m not in a relationship.” jawab Ario.

Dania tertawa kecil.

“Trus, apa yang mau kamu tanya?”

Dania terdiam sejenak sambil masih mengemudi.

“Mm.. dulu kenapa sih kok kamu akhirnya milih buat pergi ke Tokyo?” tanya Dania.

Giliran Ario yang terdiam sejenak. Ia menarik napas seakan-akan pertanyaan itu membangkitkan kenangan lamanya.

“Jawabannya susah, ya?” goda Dania.

“Engga..” respon Ario segera.

“Trus, apa dong jawabannya? Why did you leave?” tanya Dania lagi.

Ario lagi-lagi diam sejenak. “Well… It’s because you didn’t ask me to stay.”