Month: April 2012

Short Story #116: Peace

Ella membuka matanya sambil menggerakkan tangan kanannya. Meraba sebelahnya. Meraba ranjang bagian lelakinya. Kosong. Mata Ella kemudian mencari jam dinding. Menyadari bahwa waktu masih berada di jam 5 pagi. Ella menggeliat. Membuka selimut, lalu mendudukkan dirinya sejenak sambil membenarkan piyamanya sambil menurunkan kakinya ke lantai kamar yang dingin. Ella mendengus pelan. Lalu perlahan beranjak menuju

Hai, Nak… :’)

Bulan Agustus tahun lalu, bulan Ramadhan. Di bulan yang dipenuhi dengan kebaikan tersebut, Papi & Mami mendapat kabar gembira. Mami positif mengandung. Positif mengandung kamu, Nak. Dengan usia kandungan yang baru beberapa minggu. Bulan-bulan berikutnya, Papi selalu menemani Mami setiap Mami kontrol ke dokter kandungan. Mengecek perkembanganmu, memastikan kamu & Mami sehat, mendapatkan nasihat, dan

Short Story #115: Kejutan

“Menurutmu, aku harus gimana lagi?” tanya Evan memecah kesunyian dini hari yang dingin di teras sebuah resto cepat saji 24 jam. “Hmm?” Uci menggumam sambil meminum black coffee-nya untuk menghangatkan diri. “Aku harus gimana lagi? Apa aku harus diam dan terima apa adanya, atau gimana?” Evan menjelaskan. Uci menyimpan gelas kopinya. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya

Short Story #114: Gak Biasa

“Dari mana aja, sih? Aku kan udah nunggu lama dari tadi!” kata Rina ketus sambil memegang pinggangnya begitu Seno membuka pintu. Seno tak langsung menjawab. Ia justru menggantungkan jaketnya di balik pintu sambil kemudian berjalan perlahan mendekati Rina. “Kamu kalo marah, cantik deh..” goda Seno sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Rina, namun Rina menolak. “Alah..

Short Story #113: One Condition

“Emang kita ga bisa cari jalan lain, ya?” tanya Evan perlahan sambil coba menyembunyikan nada bergetar di suaranya. “I’m afraid, there are no other ways..” jawab Natasya sambil sedikit terisak. Evan menarik napas. Berat. Sesak. “Kenapa?” tanya Evan. Natasya tak menjawab. Ia hanya terisak dan menyeka sudut matanya yang mulai basah. Evan menatap Natasya di

Short Story #112: Part of..

“Kalo kamu ada yang mau diomongin, ngomong aja. Tapi, aku lagi mumet.” Susan memberitahu sambil kemudian menyandarkan badannya ke kursi dan kemudian tangan kanannya menyentuh ujung keningnya. Michael menghembuskan nafas. “Kamu harusnya jangan terlalu workaholic, San..” Michael menyarankan. “Yayaya.. Mama juga bilang begitu.” Susan mengibaskan tangannya sambil tetap bersandar di kursi. “Dan kamu jangan coba-coba

Short Story #111: Jalan Buntu

“I think there’s nothing more we can do for us..” Santi memecah kebekuan yang telah berlangsung beberapa menit. Walau begitu, rasanya seperti telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pria di depan Santi tak merespon. “I think, we have had everything on our relationship.” Santi berkata lagi. “Dari mana kamu tau kalo kita udah ngalamin semuanya?” Gio akhirnya

Short Story #110: Ga Mau Sendiri

“Ra.. udah sampe, Ra.” Wawan memberitahu sambil menarik tuas rem tangan mobilnya. Lara, teman Wawan sejak kuliah, membuka matanya sedikit, lalu ia menggeliat di kursinya. Geliatnya sedikit terhambat karena terhalang sabuk pengaman. “Sampe mana?” tanya Lara perlahan. Suaranya parau. Sepertinya ia tertidur cukup nyenyak sepanjang jalan. “Rumah loe, lah..” jawab Wawan sambil tertawa kecil. “Hah?

Short Story #109: Taken

“Jadi, gimana rasanya jadi nyonya Nugroho?” tanya Rudy saat Vita tiba di café tempat mereka janjian bertemu. “Ya.. serasa seperti istri.” jawab Vita sambil mengambil kursi di depan Rudy. “Jawaban loe ga seru amat deh.” Rudy menggerutu. “Well, what do you expect?” tanya Vita. “Lagipula, loe ga tau kan rasanya jadi istri? Secara.. loe kan

Short Story #108: Why Did You Leave?

“Ga berasa udah tiga taun ya..” ucap Dania saat Ario menutup pintu mobil. “Apaan?” tanya Ario sambil memasang sabuk pengamannya sementara Dania menghidupkan mobil. “Ya elo di negeri matahari terbit itu.” jawab Dania sambil mulai mengemudikan mobil keluar dari parkiran, dan menuju jalan keluar bandara. “Ah, masa iya?” Ario bertanya lagi. “Yaelah.. loe sok lupa