Short Story #102: Bersama

“Aku ga ngerti kenapa jadinya harus begini…” Rudi menggumam.

“Mungkin udah takdir..” jawab Tasya yang berdiri di sampingnya. Sama-sama menatap langit sore keemasan dari atap salah satu gedung tinggi.

“Tapi manusia pun masih bisa ikhtiar supaya hasil dari takdir jadi lebih baik, kan?” tanya Rudi.

“Mungkin.” jawab Tasya singkat.

“Trus, kenapa meski aku udah berusaha sekeras mungkin, hubungan kita ga bisa bertahan?” tanya Rudi lagi.

Kali ini, Tasya diam. Ia memalingkan wajahnya ke langit yang kian berubah keemasan.

“Apa mungkin seharusnya aku berusaha biasa-biasa aja?” Rudi bertanya lagi tanpa menunggu jawaban Tasya.

“Mungkin, akunya yang ga berusaha keras sepertimu. Mungkin, aku terlalu lemah.” respon Tasya pada akhirnya.

“Maksudmu?”

“Kita ini berbeda, Rud..”

“Bukankah kita saling mencintai? Setidaknya, itulah hal yang sama di antara kita.” kata Rudi.

Tasya menarik napas panjang.

“Kita ini kaya’ dua sisi rel kereta lho Rud. Ga bakal ketemu. Kamu di sebelah kanan, aku di kiri. Atau sebaliknya. Dan, ada jarak yang selalu membatasi kita..” ucap Tasya.

Rudi menarik napas.

“Tapi kalopun kita rel kereta, seharusnya kita selalu bersama, ke arah yang sama.” respon Rudi.

Short Story #101: Masih Sama

“Wah Chandra, kamu dateng juga.” Farah menyapa seorang lelaki yang baru tiba dan sedang mengisi buku tamu di meja sampingnya.

“Eng… Farah, ya?” Chandra balik bertanya sambil mengambil pulpen dan langsung mengisi buku tamu.

“Iya.. Masa’ kamu lupa sama aku?” respon Farah.

“Aku ga lupa. Aku cuman amazed aja, kok kaya’nya kamu ga berubah banyak..” Chandra berujar setelah mengisi buku tamu.

“Ah.. kamu bisa aja..” jawab Farah. “Yuk, aku temenin ke dalem.”

Farah langsung minggir dari dekat meja penerima tamu, dan mempersilakan rekan setimnya untuk menggantikan. Ia pun menghampiri Chandra, yang lalu mengikutinya berjalan masuk ke dalam aula.

“Udah rame?” tanya Chandra.

“Udah, sih. Tapi kaya’nya yang dulu kita kenal deket, belom pada dateng.” jawab Farah. “Ke sini, kita ambil minuman dulu.”

Chandra pun mengikuti arah Farah menuju, menyelusup di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Sebagian menyapanya, sebagian lagi tidak. Sebagian wajah masih bisa ia kenali, namun sebagian lagi tidak.

“Sirup atau soda?” Farah menawarkan setibanya di meja tempat minuman.

“Soda aja deh..” Chandra memilih. “Kamu bagian dari panitianya, ya?”

“Eng… enggak juga sih.” jawab Farah sambil menyodorkan segelas soda pada Chandra. “Aku kebetulan aja diminta tolong buat jaga di meja penerima tamu. Jadi semacam pengenal undangan dan juga tukang anter. Soalnya, kata Dicky, si ketua OSIS kita dulu itu yang sekarang jadi ketua panitia, aku paling hapal wajah orang.”

“Kaya’nya kebalik deh.. orang-orang yang lebih hapal wajah kamu..” respon Chandra seketika yang disambut derai tawa Farah.

“Bisa aja kamu, Chan..” kata Farah.

“Tapi beneran lho.. Aku amazed aja sama kamu koq ga berubah banyak. Kaya’nya dari dulu ya segini-gini aja. Dibanding aku?” kata Chandra sambil memperlihatkan sedikit uban yang muncul di rambutnya.

“Alah.. perubahan itu bikin kamu tambah seksi kok sebagai cowok.” kata Farah segera.

Seketika, senyum di wajah Chandra menghilang. Dan, begitupun dengan Farah. Kikuk.

“Jadi, apa ceritamu selama 10 tahun ini?” tanya Farah.

“Nothing specials. Kuliah, lulus kuliah, wisuda, kerja, dan kuliah lagi sambil berusaha cepet lulus.” jawab Chandra. “Kalo kamu gimana?”

“Almost the same. Kuliah, lulus, wisuda, kerja. Tapi ya.. aku masih sama seperti dulu.”

“Maksudnya?” Chandra langsung bertanya karena penasaran.

“Iya, aku masih tinggal di kota yang sama. Ga kaya’ kamu yang udah pindah keluar kota.” jawab Farah.

“Oh..”

Lalu hening.

“Tapi ya, beberapa hal lain juga aku masih sama seperti dulu sih..” Chandra berujar.

“Oh ya? Soal apa?”

Chandra menarik napas. “Soal… mengharapkan kamu..”

Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia

Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,

“Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”

Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.

Bingung? Oke, lanjut ke bawah.

Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.

Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.

Lalu apa masalahnya?

Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”

Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.

Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.

Menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Short Story #100: Pilih Yang Mana?

“Udah ada putusannya?” tanya Gwen santai ke Ayumi di depannya.

Ayumi menghela napas. Pandangannya tetap mengarah ke cakrawala yang
membatasi lautan di depannya.

“Aku ga tau ah..”

“Berarti belum..” Gwen menarik kesimpulan sambil kemudian menarik
kakinya naik ke atas dermaga. Bersila.

“Aku ga bisa kalo harus milih di antara mereka..” Ayumi berujar.

“Listen to your heart..” Gwen memberi saran.

Ayumi menghela napas lagi sambil memainkan kakinya di air lautan yang
menggerakkan ombak.

“Hatiku belakangan ini sepi. Bingung juga nampaknya.” ucap Ayumi.

“Kalo gitu, pake koin aja. Sisi angka buat Pram, sisi Garuda buat Candra.”

Ayumi buru-buru menggeleng. “I don’t want to gamble for this..”

“Ya tapi cepat atau lambat, kamu harus kasih jawaban dong sama
mereka.” Gwen memberitahu. “Supaya mereka punya kepastian. Kamu mau
jadi istri salah satu dari mereka, atau gimana.”

“Bingung, Gwen..” jawab Ayumi. “Candra itu cowok idaman gue banget,
tapi Pram itu ngerti apa mau gue..”

“Jadi, pilih yang mana?” tanya Gwen lagi.

“I just don’t know the answer..” jawab Ayumi tak pasti. Ia
menggeleng-gelengkan kepalanya seakan itu bisa menghilangkan rasa
pusingnya.

Gwen lalu menatap garis horizon lautan. Menatap semburat lembayung senja.

“Aku sayang sama mereka berdua.. Sama besar rasa sayangnya.. Tapi aku
ga bisa kalo disuruh milih siapa yang lebih pengen aku nikahin..” nada
suara Ayumi mulai bergetar.

“Gampang sebenernya..” ucap Gwen santai tanpa menyadari Ayumi langsung
menoleh ke arahnya. “Love in our life is not about choosing someone
you can live with, but it’s about choosing someone you cannot live
without.”

Short Story #99: Merayakan Cinta

“Nanti malem bakal ada acara apa, nih?” tanya Dwi pada Icha, teman sekantornya, saat mereka sedang makan siang bersama.

“Lho, emang ada yang spesial gitu hari ini?” Icha justru balik bertanya sambil bergerak mengecek kalender.

“Kan Valentine’s Day, Cha..” Dwi memberitahu. “Emang tadi pagi suamimu ga ada yang beda, gitu?”

“Hmm….” Icha menggumam sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia sedang mengingat-ingat apa yang terjadi di pagi hari sebelum berangkat kerja. “Nothing differents deh kaya’nya.. Seperti hari-hari lainnya aja.”

“Lho? Koq bisa?” Dwi sedikit terkejut.

“Ya bisa.. lah emang kenapa harus ada yang berbeda?”

“Today is Valentine’s Day, Cha.. Va-len-tine..” Dwi mengulang. “Hari kasih sayang sedunia, lho..”

“Terus hubungannya?” tanya Icha.

Dwi memutar matanya sambil menarik napas.

“Suamiku aja tadi pagi, tumben-tumbennya bangun duluan dan ngebangunin aku pake ciuman. Berasa Putri Tidur gitu deh jadinya.. Berasa spesial!” Dwi memberitahu sambil kemudian pipinya memerah.

“Ooh..” respon Icha datar. “Terus? Terus?”

“Iya, trus sarapan pun udah siap.. Dan sebelum berangkat kerja pun dia tumben-tumbennya nyium kening aku.. Sambil bisik-bisik  kalo dia punya kejutan malam ini.” Dwi melanjutkan. “Duh, jadi ga sabar buat nanti malem. Berasa balik lagi kaya’ pacaran gitu.. Dimanjaaaaaaa banget.”

“Ooh..”

Mendengar respon Icha yang biasa saja, Dwi sedikit sebal. “Kamu dan suamimu ga ngerayain hari ini, ya?”

“Lho, buat apa?” respon Icha segera.

“It’s Valentine.. Hari khusus buat merayakan cinta..” Dwi menjawab dengan penekanan.

Icha tersenyum. “Emangnya harus?”

“Ga harus, tapi kan tanggal 14 Februari cuma sekali dalam setahun..”

“Aku ga ngeliat hubungan antara 14 Februari dan hari khusus buat merayakan cinta.” jawab Icha santai. “Anyway, aku ga butuh tanggalan atau satu hari khusus buat merayakan atau menikmati cinta. Karena suamiku selalu ngebuat aku ngerasa spesial setiap harinya.”

Short Story #98: Benci

“Ga rela rasanya kalo mulai besok harus ngelepas seragam putih abu-abu
ini..” celetuk Indra di suatu siang di lapangan basket belakang
sekolah sambil menyaksikan teman-teman sekelas mereka bermain basket
untuk terakhir kalinya.

“Lah, emang loe mau terus-terusan jadi anak SMA gitu?” tanya Citra,
teman dekatnya sejak kelas satu dulu.

“Ga gitu juga sih.. Abis gue masih ada yang ga kesampean aja gitu..”
jawab Indra.

“Apaan?”

“Pengen ngerjain Pak Arwin, guru BP kita yang super nyebelin itu..”

“Lah.. Sebegitu bencinya loe sama dia?” tanya Citra.

“Ya…gitu deh..” jawab Indra ogah-ogahan.

Lalu diam. Keramaian hanya berasal dari tengah lapangan basket.

“Emangnya, loe ga ada yang dibenci gitu?” tanya Indra.

Citra diam sejenak. Menarik napas.

“Ada sih.. Tapi ya, ga gitu gue pikirin..” jawab Citra.

“Kok bisa, Cit? Bukannya kalo loe udah benci ga bakal bisa ‘ga
dipikirin’ gitu aja?” tanya Indra.

“Bisa aja ah..” jawab Citra.

“Emang siapa, Cit? Gue tau ga siapa orangnya? Trus, kenapa loe ngebenci dia?”

Citra menarik napas lagi.

“Gue benci loe, Ndra. Soalnya selama ini ga pernah ngajakin gue
jadian, padahal gue selalu ada buat loe..” jawab Citra sambil beranjak
pergi.

Short Story #97: Ngapain Percaya Ramalan Zodiak?

“Ternyata Scorpio itu cocoknya sama Pisces..” ucap Kania di dalam
kelas. Kebetulan, guru mata pelajaran kelasnya sedang tak masuk.

“Cocok gimana? Buat pacaran gitu?” tanya David, salah satu teman
sekelas yang bangkunya kebetulan berdekatan.

“Iya kali.” jawab Kania.

“Trus, trus, kalo Leo cocoknya sama apa?” tanya Februa, teman sekelas mereka.

“Loe tuh aneh Feb, nama Februa tapi zodiak koq ya Leo..” celetuk Jonathan.

“Sirik aja ah loe, Jon!” Februa menyeru.

“Udah..udah.. Nih gue kasitau ya, kalo kata ramalam zodiak, Leo tuh
cocoknya sama Sagitarius..” potong Kania.

“Mmm.. Siapa ya cowok sagitarius yang ganteng, tajir, dan straight?”
Februa langsung merespon.

“Langka!” jawab David segera. “Paling banyak pasti cuma 2 poin aja
yang terpenuhi..”

“Ebuset deh, sampe sebegitunya ngejudge orang..” Februa menjawab.
“Emang loe zodiaknya apa sih, Vid?”

“Gue? Kaya’nya sih Aries..” jawab David.

“Aries itu cocoknya sama Capricorn..” ucap Kania.

“Ga cocok kalo kata gue sih..” celetuk Jonathan. “Masa’ iya domba
cocok sama kambing? Nanti malah adu kepala mulu!”

Kania dan Februa langsung tertawa mendengarnya.

“Halah.. Ngapain juga percaya ramalan zodiak..” kata David.

“Kan lumayan Vid, buat referensi..” Kania berujar yang langsung diiyakan Februa.

“Referensi tuh yang bisa keliat mata, kedenger telinga, bukan yang
dimimpiin kaya’ ramalan zodiak gituh..” respon David.

“Emang contohnya apa?” tanya Jonathan.

David tiba-tiba mendekati Kania.

“Gue tau zodiak loe Aquarius, dan kalo kata zodiak ga cocok sama gue
yang Aries. Tapi loe mau ga jadi cewek gue?” tanya David ke Kania
sambil setengah berteriak sehingga sebagian isi kelas mendengar.

Short Story #96: Beda Beberapa Menit Saja

Dering ponsel Dian perlahan membuyarkan mimpi dalam tidurnya. Sambil
malas-malasan, Dian mengangkat ponselnya tanpa membuka mata.

“Halo…” ucap Dian parau.

“Hei, Cantik! Ayo banguuunnn…!” jawab suara di seberang yang sanggup
membuat Dian segera membuka mata.

“Edwiiinn… Aku kangeeennn…” suara Dian segera berubah manja.

“Aku tau Sayaaaanngg.. Aku juga kangen kamuuuuu…” jawab Edwin menimpali.

“Kamu kapan pulang, Win?” tanya Dian.

“Aku baru pulang nih…” jawab Edwin.

“SERIUSAN?!” seru Dian sambil terduduk.

“Iya.. Baru pulang dari kampus ke flat..” jawab Edwin sambil kemudian terkekeh.

“Iiihhh… Aku serius, malah dibecandain..” Dian berubah ngambek.

“Lah ya abis udah tau cowoknya ini lagi kuliah dapet beasiswa, koq ya
ditanyain mulu kapan pulang?” Edwin berkelit.

“Hih! Leluconmu ga mutu!” nada suara Dian marah sambil menjauhkan ponselnya.

“Eh! Jangan dimatiin teleponnya! Kan mahal nih internasional!” Edwin
segera meminta.

Dian pun mendekatkan kembali ponselnya ke telinga.

“Jangan ngambek dong Sayang.. Masa’ mau ultah koq ambegan.. Nanti ga
dewasa-dewasa dong..” Edwin meminta.

“Yee.. Masih aja ya ngeledek.. Gini-gini juga ada yang mau!”

“Iya, aku yang mau.. Cowok laen sih, mana mau sama cewek childish kaya’ kamu..”

“Aku tutup teleponnya, nih!” Dian mengancam.

“Eh, jangan-jangan! Duh… Jangan ambegan gitu dong, Manis.. Nanti aku
kasih banyak oleh-oleh deh.” Edwin merayu.

“Aku ga butuh oleh-oleh. Aku butuh kamu!” jawab Dian segera.

Edwin tak segera menjawab. Hening tercipta di antara mereka.

“Udah hampir jam 12 malam ya di sana.. Tinggal beberapa menit lagi nih
kamu jadi birthday girl..” Edwin mengalihkan.

“Yeah.. Lonely birthday girl..”

“Ah engga.. Kan ada aku..” ucap Edwin.

“Beda 7 zona waktu koq ya dibilang ada…” Dian merespon.

“Bikin permintaan hadiah ultah dong, supaya aku ga sampe beda 7 zona
waktu sama kamu..” ucap Edwin.

“Emang ampuh?”

“Udah.. Bikin permintaan hadiah ultah aja dulu.. Tapi diucapin lewat
telepon, ya..” Edwin meminta.

“Kenapa harus diucapin lewat telepon?” tanya Dian.

“Kadang, keinginan terdalam kita harus diucapkan agar dihayati
sungguh-sungguh sama alam semesta..” jawab Edwin. “Udah, sekarang
ucapin keinginan kamu!”

Dian diam sejenak sambil menarik napas. “Aku minta hadiah ulang
tahunnya kamu cuma beda beberapa menit aja dari aku..”

“Your wish, is about to be fulfiled..” jawab Edwin sambil memutus
sambungan telepon tiba-tiba.

Belum hilang keheranan Dian dengan putusnya sambungan telepon dari
Edwin, ketika tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi.

Tanpa ganti baju, Dian bergegas menuju pintu depan untuk mengetahui
siapa yang berada di sana. Tanpa perlu melihat melalui lubang intip,
ia membuka pintunya.

“Edwiiiiinnn…!!!”

Short Story #95: Suatu Pagi di Taman Kota

Pagi itu taman kota tak terlalu ramai walau hari Minggu. Mungkin,
sebagian warga kota sedang berlibur keluar kota. Mungkin, warga kota
sudah lupa akan taman kota. Tapi, tidak dengan Benny.

Sambil sesekali melihat ke arah danau di depannya, Benny membaca buku
yang ia pegang dengan tekun. Membiarkan desir angin menyibakkan poni
di dahinya sekali waktu.

“Apa yang lagi kamu baca?” tanya seorang gadis yang sudah berdiri di sampingnya.

Benny berhenti membaca bukunya, lalu menatap gadis itu. “Aku lagi baca
buku cerita fantasi.”

“Oh, tentang dongeng gitu?” tanya gadis itu terlihat tertarik.

“Iya..” jawab Benny pelan. “Tepatnya tentang ular naga, hutan mistis,
dan para ksatria gagah berani..”

“Wah! Aku juga suka!” seru gadis itu. “Aku boleh duduk di samping kamu?”

“Buat apa?”

“Aku pengen denger ceritanya..” ucap gadis itu tanpa kehilangan
gairahnya. “Tentu, itupun kalau kamu mau nyerita buat aku..”

“Oh.. Boleh aja..” jawab Benny sambil bergeser mempersilakan gadis itu
untuk duduk.

“Jadi, gimana ceritanya?” tanya gadis itu setelah duduk.

“Kamu ga mau dengar dari awal?” tanya Benny.

“Ga usaaaaahh.. Langsung aja dari yang kamu baca..” jawab gadis itu antusias.

“Oke..” respon Benny. “Jadi, ceritanya si Leonard sang ksatria, lagi
tersesat di hutan mistis dalam perjalanannya buat nyari pedang
bertuah..”

Gadis itu tiba-tiba mengernyitkan dahinya. “Aku sepertinya pernah
denger cerita itu deh..”

Benny tak menjawab. Tapi dalam hatinya timbul rasa harap.

“Leonard ini yang bakal ketemu Demon si penjaga jalan itu bukan?”
tanya gadis itu.

“Iya..” jawab Benny singkat.

“Oohh.. Kalo gitu aku udah tau.. Pasti nanti pedang bertuahnya buat
naklukin raja bengis di negeri seberang kan? Dan, sebelumnya dia bakal
temenan sama naga itu kan?” tanya gadis itu lagi.

Kali ini, Benny tersenyum kecil. “Iya, bener sekali..”

“Kalo gitu aku udah tau ceritanya..” gumam gadis itu. “Tapi aku tau
dari mana, ya?”

“Mungkin dulu ada yang pernah ceritain sama kamu juga..”

“Kaya’nya iya.. Tapi siapa, ya?” gadis itu bertanya-tanya sendiri.

Benny ingin sekali memberitahu jawabannya, tapi ia memilih diam. Menunggu.

“Ah.. Aku ga tau..” ucap gadis itu. “Kalo gitu aku ga jadi denger
ceritanya ya.. Aku mau keliling taman lagi ah..”

Gadis itu segera beranjak dari samping Benny tanpa sempat Benny
mencegah. Tak lama, gadis itu sudah berlari-lari riang di sekitar
padang rumput dekat bangku di mana Benny duduk menatapnya.

“Kemajuan?” tanya seorang pria berumur yang berdiri di belakang kursi Benny.

“Dia udah mulai inget cerita ini, Pah.. Mudah-mudahan selanjutnya dia
bisa inget aku, Papah, dan keluarga kita semua..” jawab Benny.

“Kabar yang bagus, Ben.. Bener kata kamu kalo kita harus perlahan buat
bikin dia inget..” jawab pria itu. “Tapi aku semakin tua, Ben..”

“Aku akan jaga anakmu sebisa aku, Pah.. Biarpun ingatannya ilang, tapi
dia tetap istriku..”

Short Story #94: Berseberangan

Tedi larut dalam diam. Tubuhnya terasa lelah. Tenggorokannya masih
terasa tegang. Kepalanya panas. Tapi semua tak ia tunjukkan, melainkan
hanya termenung sambil menatap pecahan gelas di depannya.

“Aku capek begini terus..” ucap Sifa di salah satu kursi tak jauh dari
Tedi. “Kita harus berhenti ngelakuin ini semua, Ted.”

Tedi tak menjawab, melainkan hanya menggeser badannya sedikit di atas
kursinya. Ingin sekali dalam hatinya ia menatap Sifa, tapi benaknya
menolak.

“Mungkin lain kali ga bakal ada gelas lagi yang bisa aku lempar.
Mungkin barang-barang lain.” kata Sifa. “Mungkin takkan ada barang,
tapi lebih buruk dari itu..”

“Don’t say like that.” jawab Tedi. “Kita cuma perlu berubah jadi lebih
baik aja..”

Sifa mendengus. “Kita?”

“Iya, kita.” jawab Tedi datar.

“Mungkin bukan kita yang perlu berubah, tapi salah satu dari kita.”
respon Sifa. “Kita terlalu berbeda, Ted. Mungkin kalo salah satu
berubah jadi seperti yang satu lagi, kita jadi sama. Dan… Ga ada
lagi perbedaan..”

Tedi tersenyum kecil. Sifa melihatnya dari sudut matanya, meski ia
menatap ke arah lain.

“Perbedaan itulah yang justru membuat kita bersama, Fa..” Tedi memberitahu.

“Tapi kalo perbedaan itu sampai membuat kita berseberangan, gimana? Ga
akan ketemu apa yang sama, dong!” elak Sifa tak setuju sambil melihat
Tedi.

Tedi menoleh ke arah Sifa seakan tahu jika Sifa sudah melihat ke arahnya.

“Kita memang berseberangan. Di sisi yang berseberangan tepatnya.” kata
Tedi datar. “Kamu di sisi sana melihatku, dan aku di sisi ini
melihatmu. Kalau kita di sisi yang sama, takkan mungkin kita saling
melihat, bertemu, atau mungkin mencintai, ‘kan?”