Short Story #89: Pantangan

“Pengen deh gue kaya’ loe, Ra.” kata Venny tiba-tiba.

Ira yang sedang membaca buku pelajaran sambil menunggu guru masuk ke
kelas, melirik sedikit ke teman sebangkunya itu.

“Pengen gimana, Ven?” tanya Ira datar.

Venny mengubah posisi duduknya. “Gue pengen banget kaya’ loe, punya
badan kecil, jadi gampang kalo mau cari baju, dan ga susah kalo
praktik olahraga.”

“Ooh..” Ira merespon seadanya sambil tetap membaca-baca buku. “Gue
kira apaan gitu..”

“Satu-satunya yang gue pengen banget – buat sementara ini, ya itu Ra.
Badan gue lebih ramping daripada sekarang. Se-loe gitu lah..” respon
Venny segera.

“Lah, emang kenapa sih? Bukannya badan loe udah oke gitu? Bohai gitu
lho.. Makanya kalo kita jalan ke mal suka banyak cowok yang
jelalatan..” kata Ira.

“Tapi gini-gini gue susah cari baju, Ra. Semua baju yang gue pake,
langsung keliatannya seksi! Kan males gue disuit-suitin mulu.” Venny
mulai curhat. “Apalagi kalo jalan bareng cowok gue..”

“Lah, emang kenapa? Cowok loe ga suka loe keliatan seksi apa gimana?”
Ira mulai tertarik dan menyimpan bukunya. Ia kini benar-benar
menghadap Venny.

“Hih.. Itunya sih iya bangga, tapi dia juga ga suka kalo ada
suit-suitin gue! Ujung-ujungnya gue suka diatur pake baju ini-itu,
biar ga disuit-suitin cowok laen..” jawab Venny.

“Lah..”

“Lagipula, kalo nanti tiba-tiba berat badan gue nambah, ribet tau..”

“Maksud loe dari bohai jadi gembrot?” tanya Ira.

“Ya apapun itulah!” jawab Venny. “Abis, gue kan susah banget nurunin
berat badan. Segini aja susah buat nurunin lagi, apalagi kalo
nambahnya banyak? Bisa stres gue..”

“Yaelah, ga usah dipikirin segitunya juga kaliii..”

“Ga bisa, Ra. Apalagi gue kan suka makan. Tapi bohai gini aja udah
mulai banyak pantangan. Gimana kalo tiba-tiba melar? Makin banyak
pantangan gue nanti..” Venny melanjutkan dengan galau. “Mendingan loe
deh, ga ada pantangan..”

“Sembarangan! Gini-gini gue juga ada pantangan tau dari cowok gue!”
sergah Ira dengan nada suara naik tiba-tiba.

“Lho?” kegalauan Venny berhenti sejenak berganti dengan penasaran.

“Gue dikasih pantangan makan dikit! Disuruh jadi bohai juga kaya’
loe!” Ira menambahkan segera.

Catatan: penulis sama sekali tidak bermaksud menyinggung
siapapun/apapun berkaitan dengan berat badan di cerita ini.

Short Story #88: Modal Kwaci

“Heran gue, tiap kali ke rumahnya cewek gue, pasti diusir sama
bokapnya. Katanya, gue ga pantes lah, ga selevel lah, ga cukup modal
lah..” omel Rama sambil melempar jaketnya ke sofa, lalu berbaring di
atasnya.

Indra, teman sekosnya pun penasaran.

“Ga modal gimana maksud loe? Emang tiap kalo loe ke sana ga ngejinjing
apa gitu buat bokapnya?” tanya Indra.

“Ya pasti gue jinjing sesuatu lah, Ndra. Kadang bawa kue, kadang bawa
buku, kadang bawa makanan ini-itu.. Tapi tetep aja gue
dikata-katain..” respon Rama.

“Dan barang-barang itu loe bawa lagi pas cabut?”

“Mana bisa.. Begitu sampe langsung berasa disita sama bokapnya, trus
dicek gitu. Kalo dia ga seneng, dan memang ga pernah seneng, gue
langsung dicegat di teras, trus dikata-katain sambil disuruh pulang.”

“Ebuset! Parah amat!” seru Indra.

“Ya gitu deh.. Pusing gue jadinya.” ucap Rama.
“Tapi loe pernah tanya kira-kira perlu gimana supaya berasa cukup
modalnya, jadi selevel gitu sama bokapnya?” tanya Indra lagi. “Bukan
tanya sama Lena tapinya ya..”

“Pernah gue tanya.” kata Rama dongkol.

“Trus, jawabannya apa?”

“Bilangnya sih, kwaci…”

“Lah ya itu sih gampang, dong!” potong Indra.

“GAMPANG APANYA?! Orang dia mintanya kwaci sebanyak tujuh truk!”
sergah Rama sebal.

Short Story #87: Posisi

“Aneh rasanya kalo kita tau bakal dapet sesuatu yang ga ngenakin, tapi ga punya cara buat ngehalau itu.” Tasya berceloteh saat Romi masuk ke ruang belajar yang biasa digunakan kelompok mereka, dan duduk di depannya.

“Gimana? Gimana?” tanya Romi sambil menyimpan tas dan menyimak Tasya.

Tasya menggeser laptopnya sedikit ke arah kiri, lalu menatap Romi di depannya. “Iya, entah gimana, loe tiba-tiba aja ngerasa kalo sesuatu yang ga enak bakal terjadi. Dan, loe tau itu bakal terjadi. Tapi, loe ga bisa ngelakuin apapun supaya hal itu ga terjadi. Karena loe belum tau persis. Dan tiba-tiba hal ga enak itu terjadi, dan loe sadar kalo loe udah punya perasaan sebelumnya.”

Romi diam sambil meresapi maksud kata-kata Tasya.

“Semacam firasat?” tanya Romi pada akhirnya.

“Mungkin.” jawab Tasya segera.

“Hmm..” respon Romi. “Mungkin aja, itu cuma perasaan loe aja, yang kemudian ngait-ngaitin, Sya.”

“Mungkin. Tapi kalo berkali-kali?”

“Kalo gitu, itu perasaan bawah sadar.”

“Semacam sixth sense?” tanya Tasya.

“Bisa jadi.” ucap Romi.

Lalu hening. Tasya dan Romi saling bertatapan tanpa ada kata keluar sedikitpun.

“Lagi ngalamin yang ga enak, ya Sya?” tanya Romi pada akhirnya.

Tasya menarik napas. “Iya. Gue udah feeling ga enak dari kemaren, eh tadi pagi kejadian. Dapet kabar ga enak gitu.”

“Well… yang sabar ya. Ada gue kalo loe mau cerita.” Romi coba menghibur sambil menepuk pundak Tasya. “Sepanjang temen-temen kelompok belom pada dateng tapinya..”

Tasya tersenyum kecil. “Iya. Tapi, mungkin yang gue butuh adalah seseorang di samping gue, buat tempat gue bersandar, dan mungkin rebah. Supaya gue tau, kalo ada orang buat gue.”

Giliran Romi yang menarik napas.

“Gue lebih pilih posisi di depan loe, Sya. Supaya gue tau gimana ekspresi loe, dan bisa sigap kalo loe tiba-tiba cemberut, nangis, dan apapun itu, termasuk ketawa bareng. Karena, kalo gue di samping loe, gue ga bisa ngeliat wajah loe.” Romi merespon panjang lebar.

Short Story #86: Secret Admirer

Short Story #86: Secret Admirer

Sore itu hujan. Rintik-rintik namun deras. Ingin rasanya Sheila berlari menembus hujan, mencegat bus kota, dan segera menuju stasiun kereta terdekat dari kantornya. Tapi, ia tak melakukannya. Ia memilih diam di balik hening kantornya. Di balik jendela di lantai 17 gedung tempatnya berkantor.

“Bentar lagi jam 7, lho.” suara di belakangnya memberitahu.

“Iya, aku tahu.” Sheila menjawab. “Tapi aku tunggu ujannya kecil dikit ah. Kamu sendiri kenapa belom pulang, Mad? Tumben-tumbenan.”

Ahmad tak menjawab. Ia hanya melihat Sheila yang kini bersandar ke jendela dan melihat ke arahnya.

“Mau ngedate ya?” Sheila mulai menggoda.

“Ah.. kamu bisa aja, La. Mana ada cewek yang mau sama cowok macam aku gini? Udah item, ceking pula.” jawab Ahmad.

“Some girls don’t look at boys physically.” ucap Sheila.

“But most of them do.”

“Yeah, maybe.”

“Terus, selain karena ujan, kenapa kamu belum pulang?” tanya Ahmad pada rekan sekerjanya itu.

“Well.. I’m waiting for something.”

“Apa?” Ahmad mulai tertarik dengan menempelkan dirinya ke ambang kubikel Sheila. Tangan kirinya menempel ke atas kubikel sementara tangan kanannya tersembunyi.

Sheila bergerak mendekati mejanya. Secarik kertas kecil ia tarik dari bawah keyboardnya. Sebuah kalimat pendek tertera di sana.

“Pagi ini, dan juga pagi-pagi sebelumnya, gue nemu kertas begini di bawah keyboard gue. Seneng rasanya ada yang dengan rajinnya bikin ginian buat gue. I feel so special. It’s nice to have a secret admirer.” ucap Sheila.

“Well, congrats for you.” ucap Ahmad. “And you’re waiting for the next notes?”

“Nope.” jawab Sheila.

“Terus apa?”

Sheila bergerak mendekati Ahmad.

“I’m waiting for you, to put the notes again below my keyboard.” ucap Sheila seakan menjawab ekspresi Ahmad yang terkejut. “Yes Ahmad, I know. And I’ve been waiting for you, for all these times.”

Short Story #85: Tipe Yang Dicari

Ivan baru memutar kenop kompor untuk memasak, ketika pintu apartemennya diketuk.

TOK! TOK!

Segera saja Ivan mematikan kembali kompornya untuk membuka pintu sambil melihat ke jendela kecil untuk melihat siapa yang datang.

“Masuk, ‘Wi.. Ngepas banget, loe kemari gue lagi masak.” ucap Ivan sambil membuka pintu. “Laper ga?”

“Gue udah makan, ‘Van. Makasih.” jawab Dewi sambil masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke sofa kecil.

“Kalo mau minum, langsung ambil aja, ya. Gue sambil masak.” Ivan memberitahu sambil menutup pintu, dan langsung menuju dapur kecil apartemennya yang terletak tak jauh dari sofa yang diduduki Dewi.

“Iya. Gampang, lah..” jawab Dewi sambil kemudian meregangkan badannya di sofa. Ia lalu menutup mata sambil merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.

Ivan kemudian menyalakan kembali kompornya dan langsung memasukkan bumbu-bumbu masak. Tak lama, yang terdengar adalah suara paduan alat masak serta desisan masakan.

“Loe bukannya malem ini harusnya dinner bareng ortu loe?” tanya Ivan setelah beberapa lama.

Dewi tak langsung menjawab. Hanya dengusan dan helaan napas yang terdengar.

Ivan kemudian mematikan kompornya. Ia mengambil sebuah piring makan, dan menyajikan hasil masakannya. Setelah selesai, ia membuka kulkas dan mengeluarkan dua botol minuman ringan.

Dengan piring masakan di tangan kiri, serta dua botol minuman dijepit di tangan kanan, Ivan berjalan mendekati Dewi. Ia duduk di sofa kecil di seberang Dewi.

Perlahan, Dewi membuka mata sambil menegakkan duduknya.

“Softdrinks..” Ivan memberitahu sambil menunjuk dua botol minuman ringan di atas meja kecil di antara sofa yang mereka duduki.

“Gue malah penasaran sama masakan loe, Van. Baunya harum..” respon Dewi sambil mendekati Ivan, dan mengambil sesendok masakannya untuk langsung dikunyah.

“Masakan yang pake bumbu bawang merah dan bawang putih emang selalu ngasih aroma yang enak sih.” Ivan memberitahu.

“Iya ya. Padahal ini cuma telor dadar doang.” kata Dewi sambil kemudian tertawa kecil.

“Yah.. begitulah..” jawab Ivan. Ia lalu mengambil sendok di tangan Dewi dan mulai makan masakannya sendiri. “So, I suppose it didn’t work well?”

“Apanya?”

“Itu, dinner sama ortu loe..” kata Ivan pelan-pelan sambil mengunyah.

Dewi menghela napas lagi.

“Emang keliatan banget ya, ‘Van?” Dewi balik bertanya pada sahabatnya sejak kuliah tersebut.

“Yah.. begitulah..” jawab Ivan sambil mengambil botol softdrink dan meminumnya.

“Pusing gue gara-gara dinner tadi. Banyaaaaakk bener request mereka. Jadi nyesel gue ikut dinner tadi.” Dewi memulai curhat.

“Lah, emang request apa? Koq bisa sampe susah bener?” tanya Ivan.

“Mereka minta mantu. Secara, tinggal gue doang anak mereka yang belom merit.”

“Oh.. iya..” celetuk Ivan di tengah-tengah kunyahannya. “Emang susah ya dapetin mantu buat mereka?”

“Ya susah lah.. kriterianya banyak bener! Musti liat bibit-bobot-bebet.. entahlah apa itu artinya..”

“Wew..” respon Ivan segera.

“Padahal gue sendiri kalo emang bener diminta cari mantu buat mereka, ga pengen yang repot-repot.” Dewi berkilah.

“Emang? Bukannya loe sendiri pernah bilang kalo punya banyak kriteria kalo ada cowok yang mau sama loe?”

“Hih.. itu kan gue mau ngebuktiin aja, seberapa gede rasa suka mereka sama gue. Kalo baru gue tes dengan kriteria-kriteria spesifik aja udah ngeper, gimana mau dijadiin suami coba?”

Ivan mengangguk-angguk sambil bergumam kecil. Makannya sudah habis. Ia kini sedang menikmati softdrink-nya.

“Emang kalo mau jadi suami loe, lebih sederhana gitu?” tanya Ivan.

“Iya. Tipe yang dicari buat gue jadiin suami ya simple aja kok.”

“Apa aja?”

Dewi menarik napas sejenak. “Yang penting udah lama kenal gue, mau terima gue apa adanya, dan yang paling penting jago ngerjain pekerjaan rumah, secara gue ga begitu suka pekerjaan-pekerjaan rumah.”

“Ooo.. emang ada ya cowok kaya’ gitu dan bisa atau mau dijadiin suami loe?” tanya Ivan lagi.

“Ada sih.. tapi soal mau apa enggaknya yang gue bingung.” ungkap Dewi.

“Lho kenapa? Kan tinggal tanya aja. Udah wajar kan cewek yang nanya duluan, apalagi ngajak merit duluan.” Ivan memberi saran.

Dewi diam sejenak. Air wajahnya sekilas berubah.

“Trus, loe mau ga?” tanya Dewi serius.

“Eh?” Ivan tersedak minumannya.

Short Story #84: Motivasi Datang Undangan

“Sori, bukannya aku mau ngungkit, tapi nanti mas mau dateng?” tanya Dwi ke Imam, kakak lelakinya yang tengah menonton TV.

Imam menoleh dari atas sofa yang empuk. “Iya dateng. Kenapa? Kamu mau bareng?”

“Eng…”

“Ya kalo mau bareng, bareng aja. Ajakin aja cowok kamu sekalian. Mobilnya masih muat, kok.” sambung Imam. “Lagipula ga perlu minta maaf segala, lah..”

“Ya kan aku takutnya mas ga mau dateng, atau malah ga mau mikirin. Secara, nanti kan yang merit itu Icha.” jawab Dwi. “Daripada aku kena omel..”

“Ya terus kenapa gitu kalo nanti Icha yang merit?”

Dwi diam sejenak. “Dia kan mantan cewekmu, mas.. Dulu pacarannya lumayan lama lagi..”

Imam menghela napas.

“Ah.. itu udah lama berlalu koq. Aku juga udah ga begitu mikirin pula.” ucap Imam.

“Terus, nanti ga bakalan gimana-gimana gitu pas dateng undangannya?” tanya Dwi.

“Gimana-gimana gimana?” Imam balik bertanya.

“Eng.. no heart feelings?”

“Buat apa? Ga guna ah.. Paling juga dia yang nanti gimana-gimana..” ucap Imam pede.

“Pede banget kamu, mas..” respon Dwi.

“Laaahh.. Kan yang dijodohin itu dia sama suaminya itu. Aku sih ya cuek aja. Udah ngelupain semuanya juga.”

“Jadi, udah move on?”

“Udah.” jawab Imam mantap. “Lagipula, aku punya motivasi tersendiri dateng ke undangan itu.”

“Apaan? Pamer cewek baru?” Dwi penasaran.

“Bukan.” jawab Imam. “Nanti ‘kan aku dateng sama kamu dan cowok kamu.”

“Terus?”

“Aku kan dateng buat makan di sana. Pasti catering-nya enak. Secara suaminya pengusaha kaya gitu.”

Short Story #83: Mobil Baru

 

“Susah amat beli mobil..” Doni menggumam sambil melihat-lihat iklan baris di surat kabar edisi terbaru.

“Iya, biar seken juga tetep aja mahal ya itu mobil.” Karso menimpali.

“Buat apa sih emangnya beli mobil? Bukannya nanti malah makin bikin macet jalanan?” Indra ikut merespon.

Doni merendahkan surat kabar yang tengah dibacanya, lalu melihat ke arah Indra yang duduk di seberangnya.

“Gini ini nih kalo ngomongin mobil sama yang jomblo abadi. Susah nyambungnya.” Doni menuduh.

“Lah? Apa hubungannya coba?” Indra bertanya karena tak mengerti.

“Tuh ‘kan, beneran ga nyambung.” Karso menambahkan.

Indra garuk-garuk kepala. “Eh, seriusan lho gue. Ga ngerti. Apa ya hubungannya mobil sama jomblo?”

Doni dan Karso sama-sama menarik napas.

“’Ndra, kalo loe lagi pacaran, enaknya jalan ke mana-mana naik apa?” tanya Doni.

“Apa aja sih kalo gue.” jawab Indra polos.

Karso menepuk dahinya sendiri. “Duh! Loe udah kelamaan jomblo, ya?”

Indra langsung mengernyitkan dahinya, tapi tetap saja ia tak mengerti maksudnya.

“Kalo punya mobil itu, kalo mau pacaran lebih asoy bung. Ga bakal keujanan, bisa jalan jauh juga. Pantai kek, gunung, kek.” Doni menjelaskan.

“Ooo.. itu ya..” Indra manggut-manggut. “Yaudah, sini coba gue liat korannya!”

“Wah, loe mau beli mobil juga? Emang bisa?” Karso bertanya sambil melihat Indra meraih surat kabar dari tangan Doni dan langsung membacanya.

“Bisa lah… atau paling engga, gue bantu cari buat Doni..” jawab Indra tenang.

Lalu hening. Karso dan Doni saling pandang sambil membiarkan Indra mencari info yang diperlukannya.

“Nah! Ada nih, harga murah buat mobil baru! Cuma satu juta!” Indra bersorak.

“Seriusan loe itu mobil baru?” Doni dan Karso langsung mendekati Indra.

“Iya.. ini nih..” Indra menunjuk ke salah satu iklan baris. “Nih liat, dijual cuma satu juta buat mobil baru…. masuk jurang.”

 

Catatan penulis: Cerita ini terinspirasi oleh salah satu adegan yang diperankan oleh Warkop DKI (Dono Kasino Indro), salah satu adegan dari trio penghibur legendaris.

Short Story #82: Tahun Baru, Terus..?

“Lima menit lagi tahun baru, ya.” ucap Joan pelan. Walau sekelilingnya berisik, namun Adam yang tengah duduk di sampingnya mendengarnya.

“Iya. Tahunnya udah ganti jadi 2012, deh.” jawab Adam.

“Berarti nambah ya..”

“Apanya?”

“Angkanya. Umurnya. Usianya. Waktunya.” kata Joan sedikit tak berminat.

“Ya namanya juga waktu, pasti terus bergulir, ‘kan.” respon Adam.

Joan menghela napas. Ia melihat sekelilingnya sejenak. Situasi jalan raya yang tengah ramai dengan arak-arakan masyarakat yang tengah bersiap menyelenggarakan tahun baru.

“Aku capek kalo gini terus.” ucap Joan sambil berdesah.

Adam yang tengah melihat-lihat arah langit, menikmati kilauan kembang api yang mulai diluncurkan, langsung menoleh ke arah Joan.

“Kamu kenapa sih, Jo? Malam ini kaya’nya lagi ga bagus mood-nya. Padahal kan ini malam taun baru.” kata Adam.

“Justru karena ini malam tahun baru, ‘Dam!” Joan berdiri sambil sedikit berteriak. “Udah berapa lama sih kita pacaran? Udah lima tahun, ‘kan? Kalo ganti taun ke 2012 nanti, berarti udah berapa lama kita pacaran?!”

“Ya berarti enam tahun.. kan sesuai ganti tahunnya. Jadi, tahun baru terus pacaran kita pun bertambah lamanya..” jawab Adam polos.

Joan menghela napas lagi sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan dadanya.

“Anterin aku pulang, Dam..”

“Tapi sebentar lagi kembang api-nya bakal nyala banyak banget, lho Jo. Pas taun baru.” Adam mengelak.

“ANTERIN AKU PULANG SEKARANG JUGA, ATAU….” lanjutan kata-kata Joan tak terdengar, karena tenggelam dalam riuh kembang api begitu detik berpindah, dan tanggalan berubah. Tahun 2012 sudah menggantikan 2011.

Joan sudah keburu kesal. Ia hendak pergi meninggalkan Adam ketika Adam tiba-tiba menggenggam tangannya, dan berlutut di depannya.

“Will you marry me?” tanya Adam di tengah-tengah riuhnya suasana tahun baru dan suara kembang api di angkasa.

Short Story #81: Momen

“Gimana taun baru kemaren? Seru?” tanya Arthur pada Mala ketika baru sampai di kantor.

Mala yang sudah lebih dulu tiba di kantor, hanya melihat sebentar ke arah Arthur lalu kembali membereskan beberapa berkas di atas mejanya.

“Okay, no answer means not good.” Arthur menyimpulkan sendiri sambil langsung menuju meja kerjanya.

“Kenapa berkesimpulan begitu?” Mala tiba-tiba langsung bertanya. Menghentikan langkah Arthur.

“Keliatan lah, dari bahasa tubuhmu. Jawabannya antara males jawab karena emang menurut kamu itu personal thing, atau emang ga ada yang seru di taun baru kemaren.” ucap Arthur. “Dan aku prefer jawaban yang kedua.”

“Kenapa?”

“Karena… yah, karena dugaan aku mengarah ke situ.”

“Ada bukti?” tanya Mala lagi.

Arthur mengeluarkan ponselnya. Ia membuka beberapa aplikasi sekaligus.

“Di foursquare, keliatan kalo kamu tetep check in di rumah. Begitupun di google latitude. Dan, aku liat di twitter, kamu terakhir kali ngetwit soal ‘tayangan TV yang ga bernuansa taun baru’.” jawab Arthur panjang lebar sambil memperlihatkan bukti.

Mala terkejut.

“Dasar stalker..” Mala menuduh Arthur yang hanya tersenyum.

“Yah.. aku lagi iseng aja sih..”

“Iseng atau emang acara taun baru kamu juga ga seru?” Mala langsung mendakwa.

Arthur diam sejenak.

“I won’t say so. Aku cuma mikir aja, apa iya kemaren momennya pas, atau harus nunggu lain waktu.” jawab Arthur.

“Momen buat apa?” tanya Mala.

Tangan kiri Arthur meraih sekuntum bunga mawar dari tasnya dan mengulurkannya ke Mala. “Momen buat ngajak kamu jadian.”

Short Story #80: Seperti Angin

“Why do you love Randi?” tanya Ariana di satu sore yang dihiasi rintik hujan.

Julia yang tengah memilih-milih baju di sebuah factory outlet, berhenti sejenak dan melihat sahabatnya. “Because, I do.”

Ariana mengubah posisinya yang semula berdiri, hingga kemudian bersandar ke dinding.

“Itu aja?” tanya Ariana.

Julia memutar matanya dan menatap sahabatnya tersebut. “Iya. Emang kenapa?”

“Mm.. aku bingung aja sih.” respon Ariana segera.

Julia menarik Ariana untuk duduk di sofa-sofa kecil di sekitar lemari baju factory outlet.

“Kenapa?” Julia balik bertanya.

Giliran Ariana yang memutar bola matanya. “Ya bingung aja, kok aku ga ngerasa hal yang sama ya sama Dika?”

Julia menggenggam tangan Ariana. “Mungkin belum.”

“Tapi apa ciri-ciri, dan langkahnya supaya bisa begitu?” tanya Ariana lagi.

“Entahlah.. tapi kalaupun kamu ngerasa gitu, yang pasti kamu bakal ngerasa itu sepenuh jiwa dan raga kamu.” jawab Julia.

“Apa mungkin Dika bukan jodoh aku?” Ariana segera merespon.

“Soal itu, mungkin hanya Tuhan yang tahu.” ucap Julia.

Lalu hening. Sehening factory outlet yang tengah sepi di bawah hujan siang-siang saat week days.

“Emang ga bisa diliat, ya? Ciri-ciri jatuh cinta itu?” tanya Ariana lagi.

Julia tersenyum. “Ga bisa. Karena cinta itu seperti angin. Tak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan.”

 

NB: terinspirasi dari film A Walk to Remember, dengan quotes “Our love is like the wind… I can't see it, but I sure can feel it.”