Month: December 2011

Short Story #79: The One and Only

“Kenapa juga cowok-cowok yang pernah jadian sama gue itu pada brengsek, ya?” Nila menggumam. “Perasaan kok ya kaya’ dimanfaatin mulu.” “I told you, didn’t I?” Hasan menimpali. Nila membuang napas. Ia menatap ke bawah mall dari jendela café yang ia tempati saat ini. “Apa mungkin karena gue terlalu cantik?” gumam Nila lagi. “Kamu cantik, tapi

Short Story #78: Additional Time

“Heran gue, kenapa juga dulu ilmuwan-ilmuwan itu bikin sehari cuma 24 jam.” Panji menggerutu.“Kan ga 24 jam, Ji. 24 jam lebih dikit. Makanya tiap 4 taun ada kabisat.” respon Ana.“Tapi kan tetep aja, 24 jam jadinya yang harus dijalanin..” Panji melanjutkan. “Terus, kenapa juga seminggu cuman 7 hari coba. Kenapa ga dibuat 8 hari gitu,

Short Story #77: Some Hero

“Gue ga ngerti kenapa job offer itu loe ambil.” Dea memberitahu Niko, teman kuliahnya. “Lho, kenapa?” tanya Niko segera. “It doesn’t make any sense. Loe nolak kontrak kerja di perusahaan minyak, cuman buat.. buat… supir ambulans?” ucap Dea. Niko tertawa sambil kemudian meminum minumannya. Ia menggeleng-geleng sejenak sambil kemudian menatap Dea di sampingnya. Di tengah

Short Story #76: Tempat yang Tepat

“Jadi, setelah ini mau ke mana lagi?” Karen bertanya sambil menutup retsleting koper di atas kasur. “Entahlah, aku belum tahu.” Eddie menjawab dengan nada datar. Ia melihat ke luar jendela. Di balik garis-garis air yang seakan memenjara. Karen menarik napas. Ia lalu duduk di atas kasur. “Kamu ga harus pergi kalo ga pengen.” ucap Karen.

Short Story #75: Kantong Ajaib

“Pinjem pulpen, dong..” Ita meminta pada Ari yang duduk di kursi sebelahnya. “Nih..” ucap Ari sambil menyerahkan pulpen yang tengah digunakannya. Tak lama setelah pulpen berpindah tangan, Ari merogoh salah satu kantong di tasnya, dan mengeluarkan pulpen lainnya. “Pinjem penggaris, dong..” Ita meminta lagi pada teman dekatnya sejak kelas 1 SMA itu. Dan tanpa perlu

Short Story #74: Alasan Datang Pagi

Dewi melewati meja resepsionis yang ditempati satpam jaga malam, lalu menuju lorong kubikel. Ia berjalan dengan mantap ke arah kubikelnya. Lalu, di sebuah kubikel ia melihat rekan sedivisinya tengah duduk sambil mengecek paperwork hari sebelumnya. “Pagi, Brama..” sapa Dewi sambil melihat sekilas. Tanpa menunggu sapaan balas, Dewi terus berjalan. Tapi, di belakangnya terdengar Brama balas