Short Story #73: Tanggung Jawab

TOK! TOK! Pintu kamar Sandra diketuk.

Sandra membuka pintu. Seorang lelaki ada di sana. Melihatnya dengan haru.

“Sudah saatnya..” ujar lelaki itu.

“Baiklah..” jawab Sandra sambil keluar dari kamar dan menyambut tangan
lelaki itu.

Sambil berjalan perlahan melewati ruangan demi ruangan, Sandra
memegang lengan lelaki itu erat. Memegang dengan kedua tangannya
seakan ia takut jatuh.

“Kamu ragu?” tanya lelaki itu setengah berbisik sambil melihat ke arah Sandra.

Sandra menggeleng pelan. “Tidak.”

“Bagus.” ucap lelaki itu. “Tapi andaikata kau ragu, aku…”

“Tidak. Aku tak apa-apa.” potong Sandra segera. “Aku hanya gugup..”

Sambil terus berjalan, Sandra bisa melihat dari ujung matanya bahwa
lelaki itu tersenyum kecil.

“Wajar..” kata lelaki itu pelan. “Bahkan mungkin sudah seharusnya..”

Sandra menghela napas.

“Ini kan pertama buat aku..” kata Sandra.

“Aku tahu..” respon lelaki itu.

Sayup-sayup terdengar irama penuh harmoni.

“Sudah dekat.” lelaki itu bergumam.

Sandra tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lelaki itu ikut berhenti. Ia
langsung melihat ke arah Sandra.

“Take your time, Sandra. No rush.” lelaki itu menghibur.

Entah, tapi dada Sandra seakan sesak. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi
air matanya ia tahan agar tak tumpah.

“Harus seperti ini, ya?” tanya Sandra sambil menatap lelaki itu.

“Mungkin..” jawab lelaki itu mantap. “Tapi, andaikata…”

Sandra menggeleng.

“Aku takut..” ucap Sandra.

“Jangan takut.. Ini kan pilihan kamu.. Aku gapapa koq.” jawab lelaki
itu menangkap maksud Sandra.

“Tapi.. Kita…”

“Sstt..” lelaki itu mencium kening Sandra. “Selama ini aku bisa
survive. Kenapa setelah ini ga bisa survive?”

Sandra tak dapat menahan air matanya lebih lama. Pipinya pun berlinang air mata.

“Terima kasih..” ucap Sandra sambil tersenyum. “Udah bikin aku seperti ini..”

“Itu kan tanggung jawab aku.” jawab lelaki itu. “Dan sebentar lagi,
akan ada lelaki lain yang bertanggung jawab akan kamu..”

Sandra memeluk lelaki itu. Erat.

“Tanggung jawab aku hanya beberapa langkah lagi. Hanya sampai kamu
tiba di depan sana dan bersanding dengan pilihan kamu.” bisik lelaki
itu.

Sandra melepas pelukannya. Ia tersenyum dan dibalas pula dengan
senyuman oleh lelaki itu.

“Terima kasih, Ayah..” ucap Sandra perlahan. Tulus.

Sandra pun memegang lengan Ayahnya kembali. Lalu berjalan. Mendekati
arah suara. Menuju lorong yang berujung di altar.

Short Story #72: Ga Pernah Putus

“Oke, I’m officially single since this morning.” kata Andra sambil
menyimpan tasnya di atas meja.

Umar, teman sebangkunya langsung menoleh dengan penasaran. “Loe putus
sama Wanda?”

“Yah, kalo resmi single berarti udah ga berhubungan lagi, ‘kan?”
respon Andra sambil duduk di bangku.

“Seriusan loe?”

“Yaelah, apa harus gue ulang dua kali? Kalo loe ga percaya, tanya aja
sama Wanda deh..” jawab Andra agak sebal.

“Oke..oke, Sob. Tenang lah.. Gue kan cuma pengen mastiin aja..” kata
Umar. “Tapi loe gapapa, kan?”

“Kenapa juga gue harus ada apa-apa?”

“Mastiin aja, Ndra.. Mastiin..” ucap Umar. “Soalnya ‘kan, loe udah
jadian sama dia dari SMP. Dan sekarang, pas udah pacaran lama sampe
kelas 3 SMA malah putus.. Aneh aja gitu..”

“Ceritanya panjang, brur..” respon Andra.

Umar pun mengangkat bahunya lalu membaca beberapa halaman buku
pelajarannya sambil menunggu bel masuk berbunyi.

“Gue sedikit nyesel sih..” ucap Andra pelan.

Umar langsung menoleh sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

“Loe harusnya belajar dari gue, Ndra.. Gue kan ga pernah putus
pacaran..” Umar coba menasihati.

“Seriusan loe?” Andra langsung bertanya sambil mengernyitkan dahi.

“Woh, ya serius laaahh..” ucap Umar dengan yakin. “Gampang aja koq
caranya. Yaitu, jangan pernah jadian!”

Short Story #71: Salah Nilai

“Jadi ga ke pensi sama gue?” tanya Rama sambil duduk di samping Nita
di bangku dekat gerbang sekolah.

“Eh elo, Ram…” kata Nita pelan. “Loe emang serius ya ngajakin gue ke pensi?”

“Ya serius lah, Nit..” jawab Rama.

“Loe ga ngajak cewek loe atau siapa gitu?” tanya Nita.

“Loe tau sendiri kan, gue ga punya cewek. Lagipula, cewek paling deket
sama gue ya.. elo doang. Makanya gue ngajakin loe..” ucap Rama.

“Eng.. Gimana, ya..” Nita bimbang.

“Jangan bilang loe udah diajak orang, nih..” tebak Rama.

Nita bukannya menjawab justru berdiri. Ia memegang tali tasnya. Rama
pun ikut-ikutan berdiri di sampingnya.

“Tebakan gue bener, ya?” tanya Rama.

Nita memiringkan kepalanya sedikit sambil menutup sebelah matanya.

“Tadi pagi Erry nyamperin gue pas gue baru banget duduk di kursi
kelas. Dan, ga pake ba-bi-bu dia langsung nanya. Gue pun entah gimana,
langsung jawab iya, Ram..” jawab Nita.

“Yaahh.. Koq bisa, sih? Kan gue udah nanya duluan sama loe dari
kemaren.. Dan loe bilang mau mikir-mikir dulu, sementara si Erry
sekali tanya langsung loe jawab aja..” Rama mengeluh sambil
mendudukkan dirinya di bangku.

“Aduh sori Rama.. Abis gue ga ngira kalo Erry bakal sespontan itu..” ucap Nita.

“Tetep aja, harusnya loe kan lebih mikir gue dulu lah.. Secara kita
kan udah temenan dari dulu..” respon Rama sambil melihat Nita yang
tetap berdiri.

Nita diam sejenak. Ia menarik napas.

“Abis semaleman gue ngerasa aneh aja gitu, ke pensi bareng cowok yang
bukan pacar gue. Cuma best friend doang..” Nita memberi alasan.

“Ya gue kira dengan pertemanan kita selama ini loe ga bakal masalah
kalo gitu..” sahut Rama.

“Berarti loe salah ngenilai gue, Ram..” respon Nita.

Lalu tak seorang pun di antara mereka berbicara. Rama membuang
pandangan ke arah gerbang, sementara Nita melihat ke arah lorong
sekolah di seberang gerbang.

“Setelah jawab iya ke Erry, gue juga kepikir ini sih.. Kalo gue jalan
sama dia seenggaknya gue ga bakal susah transport ke pensi. Apalagi
kalo pulang larut, gue ga usah susah-susah nyari taksi. Secara, dia
bawa motor, ‘kan..” Nita menjelaskan.

“Oh.. Jadi ada unsur itu juga..” ucap Rama pelan sambil kemudian
berdiri di samping Nita kembali. “Okelah.. Kalo gitu loe yang salah
ngenilai gue..”

“Maksud loe?” tanya Nita segera.

“Gue padahal udah bawa transport sendiri mulai hari ini. Mumpung anak
kelas 3 udah pada ujian dan jarang ke sekolah lagi..” jawab Rama
sambil memasukkan tangan kanannya ke saku celana.

“Ah, loe bukannya jalan kaki? Dari dulu juga kan loe jalan kaki mulu
kalo ke sekolah..” Nita berujar.

Rama mengeluarkan sebuah kunci dan gantungannya dari saku celana.

“Sengaja sih, biar ga dipelonco sama senior, gue selalu diturunin di
belokan setelah dianter sama bokap gue.” ucap Rama. “Tapi bokap gue
bilang mulai hari ini gue harus berani bawa transport sendiri mumpung
anak kelas 3 udah mau lulus..”

Rama memencet sebuah tombol di gantungan kunci, dan sebuah mobil merek
Eropa berwarna hitam di dekat gerbang sekolah pun berbunyi. Tak lama,
Rama pun melangkah meninggalkan Nita.

Short Story #70: Bukan Soal Duit

“Yaaaahhh.. kenapa tim yang gue dukung malah kalah, sih?!” Arya sedikit berteriak.
“Namanya juga sepakbola bung, apapun bisa terjadi. ‘Kan bola itu bundar..” Bima menimpali dengan santai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Tapi kenapa harus kalah, coba? Sepanjang penyisihan sampe semifinal, maennya apik. Menang terus!” respon Arya sambil menggaruk-garuk kepala meski tidak gatal.
Bima tersenyum melihat teman se-kostnya ini.
“Santai aja lah.. ga perlu kesel-kesel banget mereka kalah. Toh, tim negara laen ini. Bukan negara kita. Kalo negara kita yang maen, terus di final dan maennya sampe kalah, ya.. baru deh kesel banget. Sekaligus sedih kali, ya..” ucap Bima.
Arya langsung melihat ke arah Bima. “Ga sesimpel itu, Bim.”
“Loe taruhan, ye? Kalah berapa duit?” Bima langsung bertanya.
Arya diam sejenak. Ia melihat langit-langit ruang tengah kost yang sudah kosong.
“Bukan soal duitnya, Bim.” jawab Arya singkat.
“Wah, hebat bener loe kalah taruhan gini sampe ga mikir duitnya!” celetuk Bima. “Tau gitu gue ikut taruhan sama loe deh. Kalo menang kan untung banget..”
“Yee.. maunyeee…” kata Arya sebal. “Tapi ya, bukan soal duit sih Bim.. Beneran, deh..”
“Terus apa, dong?” Bima bertanya lagi saking penasarannya. Meski begitu, satu tangannya yang tak memegang remote control TV mengambil segelas kopi dari meja.
“Taruhannya adalah, siapapun yang kalah harus joget-joget ala topeng monyet di pendopo kampus, pake baju badut. Pas jam istirahat pula.” jawab Arya yang langsung direspon dengan semburan kopi dari mulut Bima.

Short Story #69: Demam Panggung

“Grogi nih..” ujar Diana sambil memilin ujung rambutnya saat ia berjalan mendekati pintu.

“Lah, kenapa harus grogi? Kan udah latian dari dulu. Harusnya hari ini bisa, lah.” respon Okta, sahabatnya.

“Loe ga ngeliat nih jari-jari gue udah gemeteran?” ucap Diana sambil menunjukkan jemari kedua tangannya ke Okta.

“Yah, itu sih karena kedinginan kali. Gue juga ini kedinginan. Secara, pake baju kebuka gini..” jawab Okta.

Sayup-sayup, terdengar riuh yang membahana dari balik pintu.

“Aduh, jadi makin grogi. Demam panggung gue.” suara Diana mulai bergetar.

“Udah, ga usah mikirin yang laen-laen. Pikirin aja kalo hasilnya bagus nanti, loe bisa dapet bonus berjuta-juta. Bonus itu ‘kan bisa buat beli rumah, naekin ortu loe naek haji, dan masih banyak lagi.” Okta menyemangati.

Diana diam. Ia menarik napas sambil mencoba menenangkan dirinya.

“Oke, gue bisa. Gue pasti bisa!” Diana berseru.

“Loe harus bisa!” Okta menambahkan. “Kita pasti bisa!”

Kedua gadis yang bersahabat sejak kecil itu tersenyum bersama-sama. Mereka tahu, bahwa inilah saatnya. Inilah salah satu momen yang menentukan bagi hidup mereka. Inilah jalan yang dirintis sejak mereka kecil dan memulai hobi yang sama.

Diana membuka pintu. Ia melangkahkan kakinya ke luar diikuti oleh Okta. Gemuruh penonton menyambutnya.

“Inilah dia, kita sambut para finalis cabang olahraga berenang! Diana Mulyasari dari Indonesia, Okta Laura dari Indonesia…..” ujar suara pengumuman dari pengeras suara yang langsung tenggelam oleh riuh tepuk tangan penonton, dan sorakan penuh semangat.

Short Story #68: Tanggal Cantik

“Jadinya kapan?” tanya Mira pada Prast yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya.
“Apanya yang kapan?” Prast balik bertanya sambil berhenti mengetik dan menatap ke arah kekasihnya tersebut.
“Itu.. kapan..?”
“Itu apaan?” Prast penasaran.
Mira menghela napas. “Prast, kita kan udah tunangan. Ga ada kelanjutannya gitu?”
Prast langsung tersenyum. “Oh, jelas ada.”
“Nah, kapan?” tanya Mira segera.
“Tunggu nanti aku kasih tahu.” jawab Prast.
“Dari 3 bulan yang lalu kamu selalu bilang gitu..” Mira mengeluh sambil membalikkan badannya dan menghadap ke arah TV yang sedang menyala.
Prast menyimpan laptopnya, lalu mendekati Mira.
“Kan biar kejutan, Sayang..” Prast mencoba menghibur dari belakang punggung Mira.
“Untuk hal ini, aku butuh kepastian. Bukan kejutan.” sahut Mira tanpa menatap Prast.
Prast diam sambil menyentuh pundak Mira. Tapi, Mira langsung mengedikkan bahunya. Tanda bahwa ia tak ingin disentuh. Sedang sebal. Marah.
“Aku penasaran deh, kenapa sih kamu pengen tau banget?” tanya Prast.
Mira langsung membalikkan badannya. Ia menatap langsung ke arah Prast.
“Aku kan pengen ngerencanain, Prast. Aku kan pengen semuanya sempurna. Belum lagi, kan nanti pasti keluarga besar aku bakal milih tanggal baik lah, tanggal cantik lah, tanggal bagus lah. Semua itu kan pasti butuh waktu…” Mira memberitahu.
Prast tersenyum. Ia melihat ke arah Mira dengan tatapan yang mendalam.
“Aku ga perlu tanggal cantik. Karena saat aku memulainya bersama kamu, itulah tanggal cantik bagiku.”

Short Story #67: Batu Intan

“Jadi begini ya rasanya…” celetuk Nila sambil duduk di samping
Fachri yang sedang membaca buku di kelas.

“Rasa apaan? Permen? Makanan? Minuman?” tanya Fachri sambil masih
memegang bukunya walau tak ia baca.

Nila tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke pundak Fachri. Meski sudah
bersahabat sejak kelas 1 SMA, tapi tetap saja Fachri merasa canggung.
Tapi, Fachri membiarkan kepala Nila di pundaknya.

“Rasanya terbuang…” jawab Nila pelan.

“Maksud lo?” tanya Fachri.

“Iya, terbuang. Dumped. Diabaikan.” jawab Nila segera.

Fachri diam. Ia melihat Nila dari sudut matanya sambil berpikir.

“Loe abis diputusin, ya?” tebak Fachri.

Nila tak menjawab segera. Ia hanya menarik napas.

“Yang sabar ya.. Nanti loe bakal bisa ngelupain dia koq.. Time will
heals..” Fachri mencoba menghibur.

Nila tak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke langit-langit kelas
sambil masih meletakkan kepalanya di pundak Fachri.

“Kalo dia sih, anehnya gue malah udah lupa. Cuman, perasaan ini aja
nih yang terus berasa. Perasaan terbuang…” kata Nila.

Giliran Fachri yang menarik napas.

“Yah.. Ga usah terlalu dipikirin lah. Perasaan itu kan kerasa karena
loe ngeliatnya sebagai salah satu pihak yang baru aja ngalamin putus
pacaran.. Coba loe ngeliatnya dari sisi lain, deh.. Pasti rasanya
beda.” ucap Fachri.

“Maksud loe?” Nila langsung menegakkan badannya sambil menatap Fachri.

“Iya, liat dari sisi lain deh. Dia bisa aja ngebuang loe, tapi itu
lebih karena dia ga ngeliat atau ngedapetin sesuatu yang hebat dari
diri loe. Sementara itu, bisa jadi ada orang laen yang justru ngeliat
atau pengen ngedapetin sesuatu yang hebat dari diri loe..” Fachri
menjelaskan.

Nila diam sambil coba mencerna kata-kata Fachri.

“Dia mungkin ngebuang loe, karena dia anggep loe bukan sesuatu yang
berharga. Tapi, bisa jadi sebenernya dengan loe ga lagi sama dia, loe
jadi sangat berharga.. Atau bahkan, lebih berharga dari sebelumnya.”
Fachri menambahkan.

“Gue ga ngerti..” respon Nila.

“Tahu batu intan, ‘kan?” tanya Fachri yang langsung dijawab dengan
anggukan Nila. “Nah, kalo buat petani yang kebetulan nemu batu yang
ada intannya tapi dia ga ngerti kalo itu intan, ya pasti itu batu dia
biarin, atau buang dari ladangnya. Sementara itu, bisa jadi di saat
yang sama ada pengusaha yang tau jenis-jenis intan mentah, justru
mungut itu batu, terus dicacah, diasah, dan dibentuk jadi intan
berharga tinggi.”

“Terus, kalo gue batu intannya, siapa si pengusaha itu?” tanya Nila.

Fachri diam sejenak. “For all these years, I think I’m the businessman.”

Short Story #66: Bintang Jatuh

“Jadi ga sih?” celetuk Nisa sambil melihat ke gelapnya langit malam.

“Harusnya sih jadi. Sabar dikit lah.” jawab Adi sambil menaikkan
sleting jaketnya hingga ke leher.

“Abis tumben lama. Taun kemaren kaya’nya jam segini udah mulai.” Nisa
berpendapat.

“Yah, mungkin udah makin dikit karena tiap taun terjadi.” jawab Adi.

Lalu hening. Kedua remaja yang bersahabat sejak bertetangga belasan
tahun yang lalu itu, sibuk dengan makan bekal sambil mata tetap
tertuju ke angkasa.

“Iya ya, lama juga.” Adi berujar sambil melirik sekilas ke arlojinya.

“Bener ‘kan, kata gue?” sahut Nisa.

Adi tak menjawab. Ia kemudian merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan
sebuah teropong compact.

“Ya pake itu mana bisa ngeliat lah, Di..” Nisa berpendapat sambil
melihat Adi meneropong langit.

“Nyoba ga ada salahnya, ‘kan?” Adi berargumen sambil melihat ke
beberapa arah langit.

“Ga salah sih, tapi ya kita kan udah di atap rumah gini, harusnya udah
cukup tinggi lah..” Nisa berpendapat lagi.

Adi tak menjawab. Ia masih melihat ke arah langit dengan teropongnya.

Lalu, selintas cahaya terlihat membelah gelapnya langit malam.
Garisnya tipis, tapi pasti terlihat oleh mata telanjang.

“Udah mulai!” Adi bersorak sambil menunjuk ke salah satu titik di langit.

Nisa bergegas melihat ke arah langit sesuai petunjuk Adi. Tapi, tak
lama ia menutup matanya erat-erat.

Adi pelan-pelan menurunkan teropongnya. Ia kemudian melihat ke arah
Nisa di sampingnya yang tengah menutup mata.

“Loe bikin permintaan sama bintang jatuh, yak?” tanya Adi.

“Mau tau aja ah..” jawab Nisa sambil masih tetap terpejam.

Tiba-tiba, hati Adi berdebar. Dan, entah dorongan dari mana ia pun
bergerak mendekati Nisa. Matanya tertuju hanya pada Nisa, tak lagi
peduli akan langit yang mulai dihiasi beberapa garis perak tipis.

Cup!

“Wah.. Permintaan gue terkabul!” sorak Nisa sambil membuka mata dan
memeluk Adi di depannya.

Sketsa Cerita #1: Paket Cokelat

Pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Ia menatap cangkir kopi di depannya yang hanya berisikan ampas. Ia ingin memanggil pramusaji untuk tambah, tapi asam yang terasa di lidahnya membuatnya diam.

Kembali, pria itu menyesap rokoknya.

Sekeliling pria itu yang mulai hiruk-pikuk dari pertemuan orang-orang, tak mengindahkannya dari posisi duduknya sejak beberapa jam yang lalu. Ia melihat ke arah jam dinding di dekat pintu masuk, kemudian melihat ke arlojinya. Sama. Walau detiknya mungkin beda.

Kembali, pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Menahannya sejenak sebelum menghembuskannya.

Dua orang perempuan melewati tempat pria itu duduk. Melihat ke mejanya sejenak, kemudian ke kursi kosong di depan pria itu. Salah satu perempuan berbisik cepat, dan yang lainnya tersenyum kecil. Mereka kemudian pergi memunggungi pria itu. Tanpa mereka sadari, pria itu tahu apa yang kedua wanita itu pikirkan.

Sudah biasa. Seperti biasa. Pria itu bergumam.

Di bawah meja, pria itu mengubah posisi kakinya. Semula lurus, kini menyilang ke arah belakang. Rasa pegal lama-lama menerpanya juga. Walau begitu, tangannya di atas meja masih sama. Tangan kiri memegang cangkir kopi, yang kanan memangku dagunya sambil jemarinya menahan rokok di mulutnya.

Tatapan pria itu kini berpindah ke jendela. Melihat ke arah aliran air yang garisnya tinggal sedikit saja di kaca. Melihatnya jatuh dari pangkal di kusen atas, lalu bergulir sepanjang garis yang tak rata. Kadang berbelok membentuk garis baru, kadang tetap berada di garis yang sudah ada. Lalu menyentuh kusen bawah. Hilang. Membasahi kusen jendela.

Jauh dari mejanya, bel pintu berbunyi. Seorang pengunjung lain telah masuk ke dalam café.

Sedikit bergerak, tangan pria itu menyisir dagunya yang kasar. Jenggot. Berewok. Sudah hampir 4 hari sejak terakhir. Sejalan dengan matanya yang sedikit merah berair. Selaras dengan kantung mata yang sedikit terlihat gelap.

“Ujan selalu bikin macet.” kata seorang pria bermantel sambil duduk di depan pria itu.

“Tapi cuma macet jalan raya doang. Ga yang laen.” jawab pria perokok itu. Tangannya merogoh sebuah paket berwarna cokelat yang sedari tadi ia tempelkan di bawah meja. “4 hari.”

“Nice job.” jawab pria bermantel sambil menerima paket cokelat itu, dan menaruhnya ke saku mantelnya. Kemudian tangannya keluar lagi dengan sebuah kantong plastik cukup tebal. “50 persen sisanya.”

Pria perokok itu langsung menarik kantong plastik itu dan menggesernya hingga terjatuh ke dalam tas terbuka tepat di bawah tepi meja.

“Liburlah 2 minggu.” ujar pria bermantel sambil bergeser untuk berdiri.

“Pasti.” jawab pria perokok. “Bisa jadi lebih.”

Pria bermantel diam berdiri sebelum beranjak. Ia melihat ke arah bartender.

“Jangan matikan ponselmu.” kata pria bermantel sambil kemudian beranjak.

Pria perokok tak menjawab. Ia menyesap rokoknya lagi. Dalam, dan menghembuskan asapnya.

Bel pintu terdengar kembali. Dan, sepersekian detik berikutnya terdengar ledakan keras. Memekakkan telinga. Menghancurkan kaca. Melemparkan hampir semua orang yang ada di dalam café. Apalagi, orang-orang yang sedang berada dekat dengan pusat ledakan. Tapi pria perokok itu tak ada di mejanya.

Short Story #65: Belajar Seni

“Pah, Michelle katanya pengen belajar seni, tuh.” Wita memberitahu suaminya sambil duduk di hadapannya.

Henri yang tengah membaca koran, langsung menatap istrinya dengan muka semangat.

“Dia mau belajar seni, Mah? Serius?” tanya Henri.

“Iya, Pah. Katanya udah kepengen banget dia belajarnya. Udah lama dia liat sana-sini, dan katanya seni itu seru.” jawab Wita.

Henri, seorang karyawan yang pernah menjadi gitaris salah satu band di saat kuliah, tersenyum kecil.

“Emang seni itu seru, Mah. Buktinya dulu Papah pernah ngeband. Pasti bakat seninya nurun dari Papah.” Henri membanggakan dirinya.

Wita mengangkat alisnya.

“Emang kalo seni gitu ada bakat turunan, ya Pah?” tanya Wita polos.

“Iya dong, Mah. Kan tadi udah Papah bilang, pasti Michelle pengen belajar seni karena dulu Papah pernah ngeband. Yah, sama-sama seni gitu..” kembali Henri menyombongkan diri.

“Tapi Mamah ga ngeliat hubungannya deh, Pah.”

“Lho, kenapa engga? Kan ngeband itu seni musik, Mah..” jawab Henri segera.

“Iya sih, kalo itu Mamah tau. Tapi ini Michelle seninya beda deh, Pah.” jawab Wita.

“Apapun, yang penting seni. Pasti Papah dukung!” Henri menegaskan. “Michelle pasti bakal jadi lebih girly deh Mah. Ga tomboi kaya’ sekarang.”

“Oh, emang bisa ya belajar seni ngubah sifat tomboi gitu?” tanya Wita.

“Ya pasti bisa, dong!” Henri kembali menegaskan.

“Mamah baru tau kalo seni beladiri itu, nantinya bisa bikin anak cewek jadi lebih girly.” Wita mengambil kesimpulan singkat.

“Hah?!”