Month: November 2011

Short Story #73: Tanggung Jawab

TOK! TOK! Pintu kamar Sandra diketuk. Sandra membuka pintu. Seorang lelaki ada di sana. Melihatnya dengan haru. “Sudah saatnya..” ujar lelaki itu. “Baiklah..” jawab Sandra sambil keluar dari kamar dan menyambut tangan lelaki itu. Sambil berjalan perlahan melewati ruangan demi ruangan, Sandra memegang lengan lelaki itu erat. Memegang dengan kedua tangannya seakan ia takut jatuh.

Short Story #72: Ga Pernah Putus

“Oke, I’m officially single since this morning.” kata Andra sambil menyimpan tasnya di atas meja. Umar, teman sebangkunya langsung menoleh dengan penasaran. “Loe putus sama Wanda?” “Yah, kalo resmi single berarti udah ga berhubungan lagi, ‘kan?” respon Andra sambil duduk di bangku. “Seriusan loe?” “Yaelah, apa harus gue ulang dua kali? Kalo loe ga percaya,

Short Story #71: Salah Nilai

“Jadi ga ke pensi sama gue?” tanya Rama sambil duduk di samping Nita di bangku dekat gerbang sekolah. “Eh elo, Ram…” kata Nita pelan. “Loe emang serius ya ngajakin gue ke pensi?” “Ya serius lah, Nit..” jawab Rama. “Loe ga ngajak cewek loe atau siapa gitu?” tanya Nita. “Loe tau sendiri kan, gue ga punya

Short Story #70: Bukan Soal Duit

“Yaaaahhh.. kenapa tim yang gue dukung malah kalah, sih?!” Arya sedikit berteriak.“Namanya juga sepakbola bung, apapun bisa terjadi. ‘Kan bola itu bundar..” Bima menimpali dengan santai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. “Tapi kenapa harus kalah, coba? Sepanjang penyisihan sampe semifinal, maennya apik. Menang terus!” respon Arya sambil menggaruk-garuk kepala meski tidak gatal.Bima tersenyum melihat teman

Short Story #69: Demam Panggung

“Grogi nih..” ujar Diana sambil memilin ujung rambutnya saat ia berjalan mendekati pintu. “Lah, kenapa harus grogi? Kan udah latian dari dulu. Harusnya hari ini bisa, lah.” respon Okta, sahabatnya. “Loe ga ngeliat nih jari-jari gue udah gemeteran?” ucap Diana sambil menunjukkan jemari kedua tangannya ke Okta. “Yah, itu sih karena kedinginan kali. Gue juga

Short Story #68: Tanggal Cantik

“Jadinya kapan?” tanya Mira pada Prast yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya.“Apanya yang kapan?” Prast balik bertanya sambil berhenti mengetik dan menatap ke arah kekasihnya tersebut.“Itu.. kapan..?”“Itu apaan?” Prast penasaran. Mira menghela napas. “Prast, kita kan udah tunangan. Ga ada kelanjutannya gitu?”Prast langsung tersenyum. “Oh, jelas ada.”“Nah, kapan?” tanya Mira segera.“Tunggu nanti aku kasih tahu.”

Short Story #67: Batu Intan

“Jadi begini ya rasanya…” celetuk Nila sambil duduk di samping Fachri yang sedang membaca buku di kelas. “Rasa apaan? Permen? Makanan? Minuman?” tanya Fachri sambil masih memegang bukunya walau tak ia baca. Nila tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke pundak Fachri. Meski sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA, tapi tetap saja Fachri merasa canggung. Tapi, Fachri membiarkan

Short Story #66: Bintang Jatuh

“Jadi ga sih?” celetuk Nisa sambil melihat ke gelapnya langit malam. “Harusnya sih jadi. Sabar dikit lah.” jawab Adi sambil menaikkan sleting jaketnya hingga ke leher. “Abis tumben lama. Taun kemaren kaya’nya jam segini udah mulai.” Nisa berpendapat. “Yah, mungkin udah makin dikit karena tiap taun terjadi.” jawab Adi. Lalu hening. Kedua remaja yang bersahabat

Sketsa Cerita #1: Paket Cokelat

Pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Ia menatap cangkir kopi di depannya yang hanya berisikan ampas. Ia ingin memanggil pramusaji untuk tambah, tapi asam yang terasa di lidahnya membuatnya diam. Kembali, pria itu menyesap rokoknya. Sekeliling pria itu yang mulai hiruk-pikuk dari pertemuan orang-orang, tak mengindahkannya dari posisi duduknya sejak beberapa jam yang lalu. Ia melihat

Short Story #65: Belajar Seni

“Pah, Michelle katanya pengen belajar seni, tuh.” Wita memberitahu suaminya sambil duduk di hadapannya. Henri yang tengah membaca koran, langsung menatap istrinya dengan muka semangat. “Dia mau belajar seni, Mah? Serius?” tanya Henri. “Iya, Pah. Katanya udah kepengen banget dia belajarnya. Udah lama dia liat sana-sini, dan katanya seni itu seru.” jawab Wita. Henri, seorang