Short Story #51: Mau Tau Aja Deh..

Nadia menutup pintu mobilnya sebelum kemudian masuk ke dalam salon.
Wajahnya terlihat lelah. Dalam hatinya ia berharap mendapat perawatan
yang bisa membuatnya segar kembali.

Setelah disapa resepsionis dan juga stylist langgananannya, Nadia
langsung masuk ke dalam ruang perawatan. Pedicure kuku menjadi pilihan
awalnya untuk hari itu.

“Ke mana aja, jeng.. Udah lama ih, yey ga pedicure..” tanya Bona,
pegawai salon bagian pedicure.

“Iya nih Bon, aku lagi sibuk sana-sini. Biasalah, ngasih konseling
panggilan.” jawab Nadia.

“Wah, yey jadi konsultan gitu? Hebat deh ih.” ucap Bona.

“Alah, biasa aja Bon. Kamu juga konsultan kan sebenernya. Konsultan
kecantikan.” Nadia menjawab seraya menyodorkan jemarinya untuk mulai
pedicure oleh Bona.

“Tapi kan eike konsultan di salon. Beda sama yey yang
melanglangbuana.” sahut Bona sambil mulai melakukan perawatan.

“Alah, melanglangbuana juga buat ketemu orang dengan masalah yang
sama. Lama-lama bisa bikin frustasi, Bon. Bisa ketularan gitu. Luckily
my status helped me out.” jawab Nadia.

“Koq bisa ketularan sih, cyin? Emangnya yey konsultan kesehatan?” Bona
penasaran.

“Semacam itulah..” jawab Nadia. “..mungkin tepatnya konsultan kesehatan jiwa.”

Bona tiba-tiba berhenti dengan muka terkejut. “Kesehatan jiwa?
Konsultan buat orang gila maksud yey?”

Nadia langsung terbahak-bahak mendengar pertanyaan Bona.

“Kalo aku ga berhasil, ya bisa jadi klien aku jadi orang gila, Bon..”
jawab Nadia sambil kemudian tertawa kembali.

“Ih, eike kan penasaran. Koq malah diketawain, sih.” Bona menggumam
ketus sambil meneruskan perawatan.

Nadia pun memelankan tawanya sambil kemudian menatap Bona.

“Aku penasihat pernikahan Bon.. Tugasku adalah nanganin masalah
orang-orang yang udah nikah..” ucap Nadia.

“Eh, emang penasihat pernikahan boleh orang yang single ya, nek?” tanya Bona.

“Maksud kamu?”

“Iya, cincin yey mana? Koq ga ada? Kalo penasihat pernikahan bukannya
harus orang yang ga single?” Bona berpendapat sambil melihat-lihat
setiap jemari Nadia.

Sambil mesam-mesem, Nadia menarik secara tiba-tiba jemarinya dari Bona.

Short Story #50: Spesial

“Kamu tampan deh hari ini..” ucap Tia sambil tersenyum menatap pria di
depannya. “Sungguh, tampan..”

Walau Tia kembali memuji, tapi pria itu tak merespon.

“Sepertinya aku udah lupa kapan aku terakhir kali ngeliat kamu
setampan ini. Rapi, dan klimis..” tambah Tia. “Atau mungkin, hari
pernikahan kita?”

Pria di depannya lagi-lagi tak merespon.

“Aku masih ingat hari pernikahan kita itu. Walau banyak hal yang tak
berjalan sesuai rencana kita, tapi kamu tetap tenang dan ketampananmu
itu meluluhkan hatiku..” ujar Tia. “Kamu masih ingat apa yang kamu
katakan dulu?”

Pria di depannya diam seakan tak peduli.

“Dulu kamu bilang, ‘Ga ada yang sempurna di dunia ini, bahkan rencana
hari pernikahan kita. Tapi yang pasti, aku akan berusaha buat semua
jadi mendekati sempurna, demi kamu. Demi cinta kita…'” Tia berkata
dengan nada lirih.

Perlahan, mata Tia mulai berkaca-kaca. Dan, titik air mata pun luruh
ke pipinya. Buru-buru ia menyekanya, karena ia tak ingin terlihat
cengeng.

Dalam hatinya, Tia menekankan bahwa ia ingin terlihat tegar. Ia harus tegar.

“Kamu satu-satunya pria yang berhasil membuat aku merasa spesial.
Dengan semua cara yang telah kau lakukan..” Tia berkata pelan.

Sanjungan sekalipun tak bisa membuat pria di depan Tia untuk merespon.
Ia tetap diam. Hening.

“…Walau aku selalu merespon ungkapan cintamu dengan senyuman, tapi
dalam hatiku aku merasakan hal yang sama..” nada suara Tia mengecil.
“…Aku mencintaimu..”

Tia bergerak maju sambil menutup matanya. Ia bergerak mendekati pria
itu, lalu mencium keningnya sepenuh hati.

“Selamat tinggal, cinta…” Tia berbisik sambil terisak. “Cinta kita
memang spesial..”

Tangan kiri Tia memegang pinggiran peti sambil tangan kanannya
perlahan menutup bagian muka pria di dalam peti.

Short Story #49: Yang Penting Kerja

“Gila, makin lama susah ya nyari kerjaan.” Banu menyimpan koran ke
meja. Wajahnya terlihat gusar.

“Bukannya dari dulu emang susah?” celetuk Romi, teman kuliahnya.

“Iya sih. Tapi gue kira kalo kuliah teknik gitu, bakal lebih gampang
cari kerja.” Banu berpendapat.

“Ga jaminan sih.. Bukti paling gampangnya ya, kita ini..” jawab Romi.
“Kuliah ga lewat 4 taun, IPK ga kurang dari 2,8 aja, masih susah kan?”

“Iya nih..” Banu terlihat sebal. “Kirain kalo jadi insinyur gitu, gue
bisa langsung kerja pabrikan gitu.. Ga taunya, dipanggil interview
kerja aja, belom pernah. Padahal, udah 2 bulan nganggur nih dari lulus
sidang.”

“Emang..” Romi mengiyakan.

“Apa gue banting setir aja kali, ya? Lamar apa kek, yang penting
kerja? Bosen gue luntang-lantung kampus-rumah gini mulu. Kuliah udah
kelar, kerja kagak, ngabisin duit iya. Kasian emak-bapak gue di
kampung..” Banu menjelaskan.

Romi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir. “Gue jadi
keinget sesuatu, nih.”

“Apaan? Kerjaan?” tanya Banu bersemangat.

“Iya. Kerjaan. Kemaren kalo ga salah oom gue sempet nawarin gitu, tapi
gue sih ga mau.” ucap Romi.

“Emang apaan? Sepanjang halal dan duitnya sesuai UMR sih, gue ayo aja
dah. Yang penting kerja!” seru Banu.

“Oom gue malah ngasitau kalo kerja gitu bisa dapet tip juga, Banu.
Tapi ya itu, gue males coz bakal kerja hands-on gitu, langsung pake
tenaga dan tangan kita sendiri.” ucap Romi.

“Apapun, asal halal dan UMR, gue mau! Lagipula, insinyur kan biar
mahir kerjanya ya harus bisa hands-on dulu.. Pake tenaga dan tangan
kita sendiri meski nanti ada tim. Sini, buat gue aja, dah..” kata
Banu.

“Ya..kalo emang loe mau, silakan aja sih. Tapi jangan nyesel kalo
nanti capek gitu..” Romi mengingatkan.

“Emang apaan, sih?” Banu penasaran.

“Jadi instruktur refleksi. Alias, tukang pijet.” jawab Romi.

Short Story #48: Halaman Terakhir

“Jadi berangkat?” tanya Dani sambil menghampiri Lia yang tengah
membaca buku di meja kantin.

“Jadi.” jawab Lia singkat sambil kembali membaca bukunya.

“Kapan?” tanya Dani lagi. Kali ini ia sudah duduk di depan Lia, sambil
menyimpan tasnya di meja.

“Di tiketnya sih, tanggalnya lusa.” jawab Lia lagi. Nada suaranya
terdengar enggan menjawab, tapi biar bagaimanapun ia tetap menjawab
juga akhirnya.

“Oh, aku kira keberangkatan kamu masih lama..” Dani berpendapat.

“Enggak. Lusa itu paling lambat lah.”

“Lho, koq bisa paling lambat?” tanya Dani lagi.

Lia menutup bukunya. Kali ini ia menatap Dani yang memancarkan rasa penasaran.

“Aku masih ada keperluan sebenernya. Tapi, ya.. kelar ataupun engga,
lusa aku tetep berangkat.” jawab Lia.

“Oohh…” ucap Dani.

Lia baru hendak membuka buku bacaannya kembali, ketika tiba-tiba Dani
mengajaknya berbicara lagi.

“Lucu ya, aku kira kita akan selamanya di sini. Kota ini. Kota dari
kita kecil dulu. Ternyata enggak. At least, kamu ga akan gitu..” kata
Dani sambil meluruskan kakinya di bawah meja kantin.

Lia mengangkat sebelah alisnya.

“Kita cuma bisa ngira-ngira, tapi soal pastinya ya.. itu cuma Tuhan
yang tahu..” jawab Lia. “…atau, cuma dia yang tahu..” tambah Lia
dengan nada lirih.

Dani sepertinya tak mendengar ucapan terakhir Lia. Ia sibuk melihat ke
arah langit-langit kantin. Lia pun membuka bukunya. Membacanya.
Hening.

“Kamu bakal balik lagi ga?” tanya Dani.

Lia diam sejenak.

“Ga tau. Kaya’nya aku belom nemu hal yang bisa bikin aku balik lagi..”
ucap Lia. “Tapi…ga tau kalo nanti-nanti..”

“Maksud kamu?” tanya Dani.

Lia menarik napas. Ia menutup buku novel yang tengah dibacanya, lalu
mendorongnya di atas meja ke Dani.

Dani diam dan bertanya-tanya apa maksud buku yang disodorkan Lia itu.
Sementara itu, Lia membereskan tasnya. Bersiap pergi dari kantin.

“Baca aja halaman terakhir deh, Dan..” ucap Lia dengan nada agak ketus
sambil kemudian pergi membelakangi Dani.

Dani yang bingung kemudian mengambil buku yang tadi disodorkan Lia. Ia
lalu membuka halaman terakhirnya. Ada beberapa kalimat di sana.

“Di kota ini, belasan tahun lamanya aku memendam rasa. Di kota ini,
belasan tahun lamanya aku tertawa, menangis, dan diam bersama. Di kota
ini, aku tinggalkan harapan akan cinta.

Dani, if only….”

Short Story #47: Tapi Ga Sekarang

“Fi, sibuk ga? Kaya’nya kita perlu ngobrol deh..” sapa Rian pada Fifi
yang sedang berjalan di lorong gedung kampus.

Fifi berhenti sambil melihat sekilas ke sekeliling. “Mau ngobrol apa?”
tanya Fifi malas sambil mendekatkan diri ke dinding agar tak
menghalangi orang. Rian mengikutinya.

“Soal hubungan kita. Soalnya kamu koq ga ada kontak sampe dua minggu
gini… Aku telpon, direject. Aku sms, ga bales. Aku ke rumah, selalu
dibilangnya ga ada. Ini aja aku udah nunggu kamu dari sejam yang lalu
di sini supaya bisa ketemu.” Rian menjelaskan.

“Aku sibuk. Banyak tugas kuliah & riset sana-sini. Jadi ya ga sempet
mikir yang laen..” ucap Fifi ketus.

“Ya tapi aku perlu tau, hubungan kita itu gimana? Apa masih pacaran
atau engga?” tanya Rian. “Karena kamu semenjak terakhir kita berantem
itu, ya udah… Lost contact banget aku ini..”

Fifi menarik napas. “Perlu ya aku jawab pertanyaan itu?”

“Perlu.” jawab Rian segera. “Karena kamu terakhir kali bilang sama
aku, kalo baiknya hubungan kita udahan aja sambil pergi.. Tapi kan aku
belum bilang setuju.”

“Emang harus aku dapet persetujuan kamu?” nada suara Fifi mulai meninggi.

“Ya jelas dong. Kan kita pacaran, hubungannya setara.” jawab Rian
pelan. Ia berusaha menahan emosinya.

Fifi mendengus. Ia membuang muka.

“Ya kalo emang ucapan kamu bener, kalo kita mending udahan aja,
tinggal bilang IYA saat ini juga.. Bisa, ‘kan?” Rian menawarkan dengan
diplomatis. Walau pahit, tapi dalam hatinya ia berharap.

Fifi tak langsung menjawab. Ia menghela napas. Raut mukanya yang
semula tegang, mengendur. Berganti dengan raut bimbang.

“Aku ga tau..” ucap Fifi akhirnya. Nada suaranya pelan. “Kenapa sih
kamu nanya begini?”

Giliran Rian yang menarik napas. “Aku cuma pengen keputusan kamu soal
kita udahan, diambil dalam keadaan yang lebih tenang. Bukan karena
emosi kaya’ kemaren..”

fifi menghela napas lagi.

“Kalo aku bilang IYA gimana?” tanya Fifi sambil akhirnya menatap Rian.

Dalam hatinya, Rian bersorak meski wajahnya tak menampakkan tanda
emosi. “Ya, kalo emang kamu maunya gitu, aku ga bakal bisa ngelarang,
kan? Kamu sendiri yang berkali-kali bilang sama aku, kalo segala
keinginan kamu jangan dilarang..”

Fifi menunduk. Ia menghindari tatapan wajah Rian.

Rian menunggu. Menanti. Berharap bahwa jawabannya adalah IYA.

“Semenjak pacaran sama kamu, rasanya rumit banget ngejalaninnya..”
ucap Fifi lirih. “Dan, aku pengen kita udahan…”

Rian baru hendak merayakan dalam hatinya ketika tiba-tiba Fifi
memeluknya sambil meneteskan air mata.

“…Tapi ga sekarang ya..” Fifi berbisik sambil membenamkan kepalanya
di pundak Rian.

Short Story #46: Reserved

“Masih ada meja yang kosong?” tanya Erik sambil menghampiri meja
penerima tamu di restoran.

Anna, yang malam itu bertugas menjadi penerima tamu langsung mengenali
Erik sebagai salah satu pelanggan setia restorannya. Hampir 3 malam
dalam seminggu, Erik selalu makan malam di sana.

“Maaf Pak Erik, tapi malam ini sudah full. Kalaupun ada meja yang
keliatan belum keisi, sebenernya sudah reserved lewat telepon.” jawab
Anna ramah.

Air muka Erik sedikit kecewa, tapi ada hal lain yang ada di kepalanya.

“Koq kamu tau nama saya?” Erik kembali bertanya.

Anna tersenyum kecil dari balik meja.

“Sudah tugas saya untuk tahu beberapa pelanggan setia restoran kami
seperti Pak Erik.” ucap Anna ramah.

“Ooo..” respon Erik. “Kalo pelanggan setia, harusnya juga bisa dapet
meja dong, meski udah ada yang reserved..”

“Maaf, tapi aturannya ga gitu.” jawab Anna segera. “Pelanggan yang
sudah mereservasi tempat, maka takkan dapat digeser oleh siapapun.
Kecuali… Ada special order.”

“Kalo gitu, jadiin saya special order. Bisa, ‘kan?”

Anna kembali tersenyum. “Maaf, tapi special order datengnya dari
managerial. Keputusan ada di tangan mereka.”

Erik menarik napas. Ia menoleh sesaat ke ruangan depan restoran. Sepi.
Hanya ia yang ada di situ dan Anna di balik meja penerima tamu.

“Kalo saya pingsan karena kelaparan, gimana?” tanya Erik dengan nada serius.

“Untuk kondisi darurat seperti itu, prosedurnya adalah dengan
memanggil ambulan.” jawab Anna.

Erik mendengus. Sambil menatap ke lantai, ia tersenyum kecil.

“Bener-bener nih, ga bisa masuk dan geser meja yang reserved meski
saya pelanggan setia?” tanya Erik lagi.

“Benar..”

“Emang siapa sih yang pada duluan ngereserved itu? Saya bisa tau ga?
Biar nanti saya coba hubungin supaya saya dulu yang masuk gitu..” Erik
memotong dengan nada setengah memaksa.

“Maaf, tapi saya ga punya hak untuk itu.” jawab Anna dengan nada
berusaha semanis mungkin, walau dalam hati ia mulai mengumpat akan
Erik.

“Siapa nama kamu tadi?” tanya Erik.

“Anna..”

“Oke.. Anna.. Jadi saya bisa reserve kapan?” Erik mulai berulah dengan
memaksa lagi untuk mendapatkan meja.

“Segera setelah ada meja kosong, atau ada yang membatalkan
reservasinya.” jawab Anna.

Erik menarik napas.

“Lama nih pasti..” Erik menggumam.

Dalam hatinya, Anna mengamini gumaman Erik.

“Tapi kalo hati kamu, belom reserved kan?” tanya Erik tiba-tiba.
Setangkai bunga mawar tiba-tiba sudah ada di tangannya sambil
disodorkan pada Anna.

Short Story #45: Tantangan Terbesar

“Aku bosen..” celetuk Maya sambil mematikan TV yang tengah ditonton
bersama Teguh, pacarnya di apartemennya.

“Kita setel DVD aja, gimana?” respon Teguh segera.

Maya sedikit membenarkan posisi duduknya di sofa. Ia kemudian
melemaskan tubuhnya, sehingga badannya setengah tiduran.

“Engga ah, bosen.” jawab Maya

“Pasang lagu? Main games atau dance? Ngecongklak, halma, atau
othello?” Teguh menawarkan berbagai pilihan, yang semuanya ditolak
oleh Maya dengan gelengan.

“Atau… Mau aku joged india?” Teguh langsung siap untuk berdiri.

“Bakal lucu, sih. Tapi engga ah.. Aku bosen..” jawab Maya segera.

Teguh bingung. Ia berpikir keras mencari-cari hal yang kira-kira bisa
menghilangkan kebosanan Maya.

“Aku bosen gini terus, Guh..” ucap Maya pelan.

Teguh tercekat. Ia sedikit kaget dengan ucapan Maya.

“Maksud kamu ‘bosen gini terus’ itu apa?” tanya Teguh.

“Ya.. Aku bosen dengan kondisi hubungan kita yang begini.. Ga ada
tantangannya..” jawab Maya.

Teguh menarik napas.

“Koq kamu mikir gitu?” tanya Teguh.

Giliran Maya yang menarik napas.

“Ya.. Berasa aja sama aku.. Abisnya, kaya’nya semua hal pacaran udah
kita lakuin selama ini.. Tinggal nikah dan setelahnya aja yang belom..
Tapi nikah pun aku belom pengen..” Maya memberitahu.

“Belom pengen atau belom siap?” tanya Teguh.

Maya tak langsung menjawab. Ia menatap ke arah selain Teguh.

“Aku belom siap..” jawab Maya pelan.

Lalu hening. Sunyi menyeruak di antara pasangan kekasih yang sudah
jadian sejak 4 tahun lalu.

“Aku ngerti kalo kamu belom siap. Aku bisa terima… Tapi…” Teguh
diam sejenak. “Kalo dibilang ga ada tantangannya, koq ya rasanya ga
sreg aja gitu..”

Maya kembali menatap Teguh.

“Maksud kamu?”

“Ya.. Aku yakin kalo dalam hubungan itu sebenernya selalu ada
tantangan baru.. Bahkan, ada tantangan terbesar yang terus-terusan
dihadepin..” jawab Teguh. “Dan, kaya’nya aku udah gagal di tantangan
itu..”

“Koq kamu bilang gitu? Emang apaan?” Maya terlihat tertarik, namun
nada suaranya masih menyiratkan kebosanan.

Giliran Teguh yang melihat ke arah selain Maya. Ia menarik napas,
membuangnya, lalu menguatkan hatinya seraya menatap Maya kembali.

“Buat aku, tantangan terbesar dalam sebuah hubungan itu… Gimana
caranya supaya kita bisa ngebuat pasangan kita, jatuh cinta lagi ke
kita, setiap hari seperti saat pertama kali jatuh cinta..” ucap Teguh.
“Dan.. kaya’nya aku udah gagal..”

“Kamu ga gagal, Guh!” sergah Maya segera.

Short Story #44: Di Depan Pintu

Nia menatap jendela apartemennya. Hening. Ia duduk sambil melihat
guliran air hujan di kaca jendelanya. Tapi, hatinya menerobos kaca.
Menuju gedung seberang. Sebuah apartemen yang kosong, sekosong
hatinya.

“Udahlah, biarin aja dia pergi. Toh, selama ini kamu juga cuma bisa
ngeliat dia dari balik jendela, ‘kan?” Emil, teman seapartemennya
memberitahu.

Nia tak menjawab. Pandangannya masih sama.

“Ga bagus lho kamu begini terus. Nanti sakit.” Emil menasehati.

“Iya, aku tahu. Tapi, aku masih penasaran aja sih.” jawab Nia pelan.

“Penasaran kenapa?”

“Penasaran…, apa sebenernya perasaan dia ke aku.”

“Oh..” ucap Emil pelan. “Mungkin aku tahu..”

Nia langsung menoleh. “Ohya?”

Emil mengangguk. “Iya. Karena aku pernah berada di posisi dia.”

“Maksudmu?” Nia mencondongkan diri ke arah Emil, meski keseluruhan
badannya masih mengarah jendela.

“Iya, jadi orang yang selalu dilihat lewat jendela, dan bukannya
dihampiri, diketuk pintunya, disapa, dikenali, didekati..”

“Aku masih ga ngerti.” ucap Nia.

“Singkat kata, aku pernah di posisi begitu. Dan mau tau apa perasaan
aku? Well, ga ada perasaan apa-apa..” jawab Emil datar.

“Tapi kamu kan cewek, dan dia yang asalnya di apartemen seberang itu
cowok. Beda.” Nia berargumen.

“Apapun.. Intinya, kalo kita terlalu sibuk menatap lewat jendela, dan
bukannya mencoba menghampirinya, mengetuk pintunya, mana kita tahu apa
perasaan dia ke kita? Ujung-ujungnya cuma bisa nebak-nebak, dan atau
gigit jari kalo tiba-tiba dia pergi..” jawab Emil panjang lebar.

“Aku ga gigit jari. Kedua tanganku kusilangkan di dada.” jawab Nia.

“Apapun..” Emil merespon.

Lalu hening. Nia dan Emil sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Tapi, ada kalanya dia yang kita tuju pun harus sedikit didorong.
Diingatkan. Diberitahu oleh beberapa tanda.” ucap Emil kemudian.

“Maksudmu?”

“Iya, saat kita terlalu asik melihat ke jendela, ada kalanya dia yang
kita lihat perlu diberi tanda agar lebih dulu menghampiri kita.
Mengetuk pintu kita duluan.” jawab Emil.

Nia menampakkan muka bingung.

Lalu, pintu apartemen terdengar diketuk. TOK! TOK!

Nia menatap Emil. Melemparkan pandangan bertanya.

“Dia di depan pintu?” tanya Nia pelan, yang langsung dijawab Emil
dengan mengangkat bahu.

Perlahan, walau tak yakin Nia menghampiri pintu depan apartemen. Ia
merasakan jantungnya berdebar. Penasaran. Berharap. Berdoa.

Dalam sekali gerakan, ia membuka kunci pintu. Lalu, perlahan ia
memutar kenop, dan menarik daun pintu sehingga terbuka sedikit.

“Hai Nia..” sapa pria di depan pintu.

Short Story #43: Jawabannya Sama

“Udah seminggu.” Miko berujar ke arah gadis di depannya, yang sedang
asyik menghabiskan semangkuk mie baso.

“Seminggu dari apa?” tanya Luna begitu ia selesai menelan sepotong bakso.

“Lupa?” Miko bertanya balik.

“Seminggu dari apa, sih?” tanya Luna lagi.

Miko menarik napas. Ia berusaha tetap menahan agar tak emosi, karena
ia juga ingin mendapatkan kepastian.

“Aku kan nembak kamu.. Lupa?” tanya Miko.

PLOK! Luna menepuk jidatnya sendiri. “Oiya, ya..! Eh tapi, udah
seminggu terus kenapa?”

Miko menarik napas lagi.

“Katanya mau jawab sekarang.. Aku tagih nih..” jawab Miko.

“Emang aku belom jawab, ya?” Luna bertanya lagi.

“Belom.”

“Masa’ sih?”

“Iya, belom.” nada suara Miko mulai terdengar senewen.

“Ooo…” ucap Luna sambil kembali menyantap makanannya.

“Jadinya, gimana?” Miko bertanya lagi.

“Apanya yang gimana?” Luna langsung merespon.

“Hhhh… Ya gimana jawabannya…” Miko kembali senewen.

“Oh.. Jawabannya…” Luna pun terdiam. Ia sedikit menunduk. Raut
mukanya berubah. Ragu, takut, dan tidak pede. Diam-diam, Miko pun
menyadari perubahan itu.

“Masih belom siap dengan jawabannya?” tanya Miko.

“Eng.. Aku boleh minta waktu lagi, ga?” Luna balik bertanya. Nada
suaranya terdengar ragu.

“Mau kapan?”

“Seminggu lagi?” tawar Luna.

“Emang, kalo seminggu lagi, jawabannya bakal beda? Atau jawabannya
belom ada?” Miko menyelidiki.

Luna terdiam. Ia sekejap menatap ke arah meja kantin. Lalu, ia menatap
Miko lagi.

“Jawabannya udah ada, sih.. Cuman ya…” jawab Luna pelan.

“Cuman apa?”

“Cuman… aku ga bisa didesek gini..” jawab Luna pelan.

“Lho, jawabannya udah ada. Kalo seminggu lagi emang bakal beda?”

Luna menggigit bibir bawahnya. Matanya berputar. Ragu.

“Jawabannya sama sih..”

“Ya jawab aja sekarang. Ngapain nunggu seminggu lagi kalo jawabannya
masih sama?” sergah Miko.

“Eng…..” Luna kemudian kehilangan kata-kata.

Miko menarik napas.

“Yaudah deh, ga usah dijawab aja.. Biarin aja perasaanku ke kamu ini..
Ga usah dipikirin..” Miko mengambil kesimpulan sambil hendak berdiri.

Luna buru-buru memegang tangan Miko sebelum ia pergi.

“Miko! Jawabannya iya, aku mau!”