Month: October 2011

Short Story #51: Mau Tau Aja Deh..

Nadia menutup pintu mobilnya sebelum kemudian masuk ke dalam salon. Wajahnya terlihat lelah. Dalam hatinya ia berharap mendapat perawatan yang bisa membuatnya segar kembali. Setelah disapa resepsionis dan juga stylist langgananannya, Nadia langsung masuk ke dalam ruang perawatan. Pedicure kuku menjadi pilihan awalnya untuk hari itu. “Ke mana aja, jeng.. Udah lama ih, yey ga

Short Story #50: Spesial

“Kamu tampan deh hari ini..” ucap Tia sambil tersenyum menatap pria di depannya. “Sungguh, tampan..” Walau Tia kembali memuji, tapi pria itu tak merespon. “Sepertinya aku udah lupa kapan aku terakhir kali ngeliat kamu setampan ini. Rapi, dan klimis..” tambah Tia. “Atau mungkin, hari pernikahan kita?” Pria di depannya lagi-lagi tak merespon. “Aku masih ingat

Short Story #49: Yang Penting Kerja

“Gila, makin lama susah ya nyari kerjaan.” Banu menyimpan koran ke meja. Wajahnya terlihat gusar. “Bukannya dari dulu emang susah?” celetuk Romi, teman kuliahnya. “Iya sih. Tapi gue kira kalo kuliah teknik gitu, bakal lebih gampang cari kerja.” Banu berpendapat. “Ga jaminan sih.. Bukti paling gampangnya ya, kita ini..” jawab Romi. “Kuliah ga lewat 4

Short Story #48: Halaman Terakhir

“Jadi berangkat?” tanya Dani sambil menghampiri Lia yang tengah membaca buku di meja kantin. “Jadi.” jawab Lia singkat sambil kembali membaca bukunya. “Kapan?” tanya Dani lagi. Kali ini ia sudah duduk di depan Lia, sambil menyimpan tasnya di meja. “Di tiketnya sih, tanggalnya lusa.” jawab Lia lagi. Nada suaranya terdengar enggan menjawab, tapi biar bagaimanapun

Short Story #47: Tapi Ga Sekarang

“Fi, sibuk ga? Kaya’nya kita perlu ngobrol deh..” sapa Rian pada Fifi yang sedang berjalan di lorong gedung kampus. Fifi berhenti sambil melihat sekilas ke sekeliling. “Mau ngobrol apa?” tanya Fifi malas sambil mendekatkan diri ke dinding agar tak menghalangi orang. Rian mengikutinya. “Soal hubungan kita. Soalnya kamu koq ga ada kontak sampe dua minggu

Short Story #46: Reserved

“Masih ada meja yang kosong?” tanya Erik sambil menghampiri meja penerima tamu di restoran. Anna, yang malam itu bertugas menjadi penerima tamu langsung mengenali Erik sebagai salah satu pelanggan setia restorannya. Hampir 3 malam dalam seminggu, Erik selalu makan malam di sana. “Maaf Pak Erik, tapi malam ini sudah full. Kalaupun ada meja yang keliatan

Short Story #45: Tantangan Terbesar

“Aku bosen..” celetuk Maya sambil mematikan TV yang tengah ditonton bersama Teguh, pacarnya di apartemennya. “Kita setel DVD aja, gimana?” respon Teguh segera. Maya sedikit membenarkan posisi duduknya di sofa. Ia kemudian melemaskan tubuhnya, sehingga badannya setengah tiduran. “Engga ah, bosen.” jawab Maya “Pasang lagu? Main games atau dance? Ngecongklak, halma, atau othello?” Teguh menawarkan

Short Story #44: Di Depan Pintu

Nia menatap jendela apartemennya. Hening. Ia duduk sambil melihat guliran air hujan di kaca jendelanya. Tapi, hatinya menerobos kaca. Menuju gedung seberang. Sebuah apartemen yang kosong, sekosong hatinya. “Udahlah, biarin aja dia pergi. Toh, selama ini kamu juga cuma bisa ngeliat dia dari balik jendela, ‘kan?” Emil, teman seapartemennya memberitahu. Nia tak menjawab. Pandangannya masih

Short Story #43: Jawabannya Sama

“Udah seminggu.” Miko berujar ke arah gadis di depannya, yang sedang asyik menghabiskan semangkuk mie baso. “Seminggu dari apa?” tanya Luna begitu ia selesai menelan sepotong bakso. “Lupa?” Miko bertanya balik. “Seminggu dari apa, sih?” tanya Luna lagi. Miko menarik napas. Ia berusaha tetap menahan agar tak emosi, karena ia juga ingin mendapatkan kepastian. “Aku