Month: September 2011

Short Story #42: Pokoknya Harus Nurut!

“Mama ga mau tau, apapun putusan kamu, yang pasti harus nurut sama Mama.” kata Widya pada putrinya saat turun dari mobil. “Tapi Ma, aku kan berhak juga dong buat milih.” elak Astrid sambil mengikuti ibunya turun dari mobil. “Apalagi, Astrid kan udah 17 tahun..” “Waktu Mama dulu, biarpun umur 17 juga tetep aja nurut sama

Short Story #41: Aku Pulang Dulu, ya..

“Jadi gimana ceritanya Intan itu? Dia jadi kawin lari sama cowok bulenya itu?” tanya Aryo sambil berjalan dari arah dapur dan memegang secangkir kopi. Stella tak menjawab. Ia hanya menggeliat sambil masih tengkurap di atas ranjang. Walau begitu, matanya sudah terbuka dan menatap ke arah jam meja. Sekejap, Stella membalikkan dirinya dan melihat Aryo sudah

Short Story #40: Sepanjang Dia Bahagia

“Gila, cantik banget ya dia..” Ahmad berbisik pada Heru yang duduk di sebelahnya. “Bener ternyata, cewek pas wedding day keliatan lebih cantik!” Heru tak segera merespon. Ia masih mengikuti prosesi akad yang berlangsung di depannya. “Itu calon lakinya nyadar ga sih kalo Nova keliatan secakep itu?” Ahmad kembali berbisik sambil tak melepaskan pandangan ke arah

Short Story #39: Lifetime Job

“Huah.. bete gue..” Santi menyimpan tasnya ke meja sambil menghempaskan badannya ke sofa empuk. Di depannya, Bima yang tengah browsing di laptopnya langsung menatap sahabatnya sejak SMA tersebut. “Kenapa lagi di kantor?” tanya Bima. Santi menghela napas. Ia memutar matanya sambil kemudian menegakkan badannya. “Biasa, si nenek sihir berulah lagi.” jawab Santi. “Disuruh bikin ramuan

Short Story #38: Pasaran Naek

“Heh! Serius amat!?” Danu menepuk pundak Arif yang sedang tekun menatap monitor laptop di kubikelnya. Sontak, Arif pun langsung berbalik dan menatap Danu. “Wih! Yang abis ganti status, udah masuk kerja aja nih.. Gimana bulan madunya kemaren?” bukannya marah, Arif malah berdiri dan menyalami Danu. “Ga seru.” jawab Danu singkat dengan wajah datar. “Koq bisa?”

Short Story #37: Another Order

Sudah hampir jam 3 pagi ketika Malik merampungkan verse terakhir lagu yang ia nyanyikan. Tak lama setelahnya, ketika musik fade out, tepuk tangan pun riuh terdengar. Sambil mengucapkan terima kasih, Malik tersenyum dan melambaikan tangannya. Tak lama, ia menyimpan microphone dan turun dari panggung. Di samping panggung, Alfa manajer klab malam sudah menunggunya. Ia menjulurkan