Short Story #36: Pernah

Abdul berjalan penuh semangat menuju The Attic Cafe. Tempat yang
menjadi meeting point untuknya, dan seseorang yang ada di hatinya.
Perjalanan darat selama 7 jam yang baru ia jalani tak ia rasakan
lelahnya. Semua demi dia, sang pujaan hati.

Pintu cafe Abdul buka dengan tanpa ragu dengan tangan kirinya. Tangan
kanannya ia gunakan untuk menahan tas ransel di pundaknya. Iya, ia
langsung ke sana sejak sampai dari terminal bus antar kota.

Sejenak Abdul berhenti di depan ambang pintu. Mencari. Dan kemudian ia
menarik napas. Antara lega dan penasaran. Tapi tak lama ia pun
mengambil satu tempat kosong di pojok ruangan.

Abdul memanggil seorang pelayan, memesan minum, dan kemudian membayar
di muka. Tak lama pelayan itu kembali membawa pesanan Abdul, dan pergi
lagi.

Sekilas Abdul melihat ke jam dinding di ruangan.

“Masih jam setengah empat kurang. Mudah-mudahan dia sampenya ontime.”
Abdul senyum-senyum sendiri sambil melihat ke dalam tasnya.
Membayangkan bagaimana ekspresi kekasihnya saat ia memberikan batang
bawaannya.

Dan tak lama, pintu cafe membuka. Seorang gadis dengan penampilan
modis masuk ke dalam dengan sedikit ragu. Sesaat, pandangan matanya
bertumpu pada lelaki yang duduk sendiri di pojok ruangan. Dan,
perlahan ia berjalan ke arahnya.

“Udah lama, Dul?”

Abdul terkesiap mendengar sapaan dan langsung menatap gadis di depannya.

“Mel!” ujar Abdul setengah berteriak sambil kemudian tersenyum. Dan,
ia berdiri sambil mengecup dahi Melani, gadis itu.

Melani lalu duduk di kursi hadapan Abdul.

“Kamu ga capek langsung jalan ke sini?” tanya Melani.

“Engga. Aku udah keburu kangen kamu..” jawab Abdul.

“Ah, gombal..” ujar Melani pelan. Sekilas, nampak pipinya bersemu merah.

“Anyway, aku punya berita bagus buat kamu. Bagus banget malah..” Abdul
berbicara sambil tersenyum. Tulus. Tapi anehnya, Melani di depannya
tersenyum seakan-akan terpaksa.

“Apa, tuh?” tanya Melani sambil berharap Abdul tak mendengar perubahan
intonasi suaranya.

Abdul larut dalam kesenangan. Ia meraih tasnya, dan mengeluarkan
sebuah album foto dari dalamnya. Dan, ia membukanya. Sebuah foto
rumah.

“Rumah?” tanya Melani.

“Rumah kita.” jawab Abdul segera. “Tepatnya, calon rumah kita.”

Senyum di wajah Melani menghilang. Dan kali ini, Abdul menyadarinya
karena tiba-tiba Melani menjauh.

“Ada apa?” tanya Abdul.

Melani menarik napas. “Some things changed since the last time we’ve met.”

“But not my love..” Abdul menjawab.

Melani menarik napas lagi. Diam sebentar, mencoba mengumpulkan
kekuatan. “But my love does..”

Abdul terhenyak. Ia tersadar dari impiannya.

“Jangan tanya kenapa atau gimana, ya. Let say, it’s just gone.” ucap
Melani datar. Mencoba menabahkan hati.

Abdul diam. Ia menoleh ke samping. Menjauhkan pandangannya dari
Melani. Hatinya sakit tak terkira.

“Setelah semua yang kamu minta aku lakuin, aku wujudkan, aku bangun,
aku kerjain, dan begini?” tanya Abdul lirih. Ia masih tak memandang
Melani.

Hening. Melani tak menjawab, namun menunduk menatap meja. Matanya
berkaca-kaca. Perih.

“Kamu selalu pergi terlalu lama, Dul. Dan, tiap kalinya pulang ga bisa
lama. Ga cukup buat aku!” Melani sedikit meningkatkan nada suaranya.

Perlahan Abdul menoleh ke Melani.

“Do you love me?” tanya Abdul.

Melani membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum kemudian menatap Abdul.

“Aku pernah. Dulu.” jawab Melani singkat.

Abdul seakan menelan pil pahit. Hatinya kemudian berkecamuk.
Memikirkan insting yang terasa sejak lama.

“Good luck with Maxwell then.” ucap Abdul yang langsung disambut
keterkejutan Melani. “Iya, aku udah tau Mel.”

Abdul pun dengan sigap memasukkan album foto ke tasnya dan langsung
berdiri serta pergi.

Short Story #35: Cerita Maria

“Thanks for the coffee.” Maria akhirnya berkata setelah diam cukup lama.

“Sip. Thanks juga udah mau nemenin aku ngobrol, cerita ini-itu.” jawab
Dedi tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.

Lalu hening. Lagi.

“Jalanan selalu sesepi ini ya kalo malem?” tanya Dedi sambil sedikit
menoleh ke arah kiri. Mencoba melihat Maria di dalam keremangan lampu
jalan.

“Kalo abis ujan, lebih sepi lagi. Mana dingin pula.” jawab Maria.

“Oh.. Iya.. Bener juga..” ucap Dedi.

Walau sepi, tapi Dedi tetap mencoba waspada terhadap jalanan. Setelah
sedikit menoleh tadi, ia mengemudikan mobilnya lagi dengan cukup awas.

Lalu, di sebuah persimpangan, Dedi melambatkan mobilnya. Lampu merah.

Maria terlihat menoleh ke luar jendela dari kursinya di depan.

“Mau turun di sini?” tanya Dedi.

Maria segera menoleh ke arah Dedi yang menatapnya. “Eh.. Enggak..
Enggak.. Turunin aku di tempat biasa aja, Ded.”

“Oh, kirain.” sahut Dedi datar.

Dan, lampu lalu lintas berganti hijau. Dedi menjalankan kembali mobilnya.

“Kalo udah malem gini, kamu kalo mau jalan naek apa, sih? Emang masih
ada bus kota, ya?” tanya Dedi.

“Taksi sih seringnya. Kan biar ga lama nunggu. Apalagi kalo lagi
buru-buru, macam panggilan gitu.” jawab Maria.

“Oh..”

Lalu hening lagi. Dedi mengemudikan mobilnya melewati beberapa
belokan, lalu melambatkannya. Sudah hampir tiba.

Maria menghela napas.

“Kita bisa pergi lagi kalo kamu mau.” Dedi menawarkan.

Maria menoleh ke arah Dedi. Walau sudah menduganya, tapi ia tetap
senang Dedi melakukannya.

“Nope. Thanks for the offer.” jawab Maria.

Dedi menghentikan mobilnya di depan sebuah gerbang rumah. Tak besar,
tapi rumah tersebut nampak seperti dihuni oleh beberapa orang. Sebuah
kost-an.

“Tapi besok sepertinya oke, Ded.” ucap Maria sambil melihat Dedi.

“Well, jam biasa?” tanya Dedi sedikit berharap.

“Yeah. Kalo perlu malah lusa juga.”

“Lho?” Dedi terheran namun timbul sedikit rasa senang di hatinya.

“Ya, itung-itung buat ngobatin 300-an hari ke belakang, dan juga
persiapan buat 300-an hari ke depan.” jawab Maria sambil tersenyum
kecil.

“Well, if you say so.” ucap Dedi sambil balas tersenyum. “Thanks.”

“I thank you.” jawab Maria segera sambil mencium pipi kiri Dedi. “See
you tomorrow, then.”

“Yeah.”

Maria kemudian memegang tasnya sambil membuka pintu penumpang depan.
Ia turun, dan kemudian menutup pintu.

Tak lama, Dedi langsung menjalankan mobilnya. Meninggalkan Maria yang
berdiri sejenak sebelum kemudian membuka gerbang rumah kost-nya.

Saat Maria sedang berjalan membuka pintu, ponselnya berdering.

“Ya?” tanya Maria.

“Short time 1.000.000 mau?” jawab suara di balik ponsel.

“Hotel mana?” tanya Maria lagi.

“Taksinya bentar lagi dateng. Dia tau harus bawa kamu ke mana.” jawab
penelepon itu lagi.

Tanpa menyebut setuju, sambungan telepon terputus. Dan, Maria
mendekati gerbang kost-nya lagi menghampiri taksi yang sedang menepi.

Short Story #34: Kangen

“Udah lama juga ya sejak terakhir kali..” Leni menatap Andre di depannya.

“Emang, ya?” Andre balik bertanya dengan nada datar. Nada tak peduli
tersirat di ucapannya.

“Iya Ndre, setaun ada kali.” ujar Leni.

“Hmm..” Andre menggumam. Memainkan bola matanya menatap langit-langit cafe.

Diam-diam Leni menatap Andre. Memperhatikan lelaki yang pernah ada di hatinya.

“Seingatku kamu dulu kurusan, Ndre. Sekarang gemukan, ya?” Leni
bertanya lagi. Basa-basi.

“Mungkin.”

Lalu hening lagi.

Kini giliran Leni yang menatap langit-langit cafe. Ia menatap aksesori
lampu yang masih sama sejak setahun yang lalu.

“Aksesori lampu ini yang selalu bikin aku inget sama cafe ini, Ndre.
Tiap lagi bengong gitu, tiba-tiba keinget aksesori ini, cafe ini, dan
juga… Kamu..” Leni bercerita.

Andre menelan ludah. Tapi ia berusaha tetap datar di depan Leni.

“Bukan kebetulan ‘kan kita ketemu lagi di sini setelah setahun?” tanya Leni.

Andre menghela napas. “Bukan. Tapi aku kebetulan saja memang hendak
kemari. Aku mau beli menu steak-nya. Mau kubawa pulang.”

“Kamu ga pernah bilang suka menu steak-nya Ndre. Ga pernah kalo lagi
sama aku makan di sini.”

“Well, beberapa bulan setelah kamu ambil keputusan buat pergi, aku
jadi suka menu steak-nya.” jawab Andre diplomatis.

Lalu hening.

Leni menatap ke arah meja, ke arah tangannya yang sedang menjulur ke
tengah meja. Sejenak, ia teringat dengan kebiasaan bersama Andre dulu,
saling berpegangan tangan di atas meja. Tak lepas, tak terpisahkan.

“Aku kangen pegangan tangan kita, Ndre. Di atas meja. Walau ada
makanan atau minuman, pasti tangan kita tetep pegangan walau cuma satu
aja.” kata Leni.

“Yeah.. Tapi aku lebih kangen pegangan tangan istriku, Len. Juga
cengkeraman kecil jemari anakku.” jawab Andre tegas.

Leni tercekat.

“Ini terakhir kalinya aku ke cafe ini Len. Good bye.”