Short Story #32: Dia Tuh Cowok!

Orangtua yang baik, adalah orangtua yang mengerti kebutuhan anaknya,
dan juga mendukung pilihan anaknya. Begitu juga yang ingin dilakukan
oleh Julia, ibu dari seorang anak yang beranjak remaja.

Saat sebuah sore di rumahnya yang asri, Julia menghampiri Kusnadi –
suaminya yang tengah membaca buku di teras rumah.

“Ayah, dulu pernah janji ‘kan sama Ibu, kalo Ayah bakal ngebolehin
anak-anak kita mau kuliah apa dan di mana.” Julia membuka percakapan.

Kusnadi menatap istrinya sekilas, sambil kemudian menjawab, “Iya,
nanti juga dia lulus SMA boleh lah kuliah apa dan di mana.
Mudah-mudahan aja ada rezekinya.”

“Termasuk juga kalo nanti dia lulus SMA, tapi mau langsung cari kerja,
boleh ‘kan?”

“Ayah masih sanggup kerja sih, tapi kalo emang anak kita mau kerja ya
silakan. Asal dia tetep harus kuliah..” jawab Kusnadi.

“Terus, kalo misal dia nanti ga jadi sesuai yang Ayah mau, gapapa juga
‘kan?” Julia bertanya lagi.

“Yaa…kalo bisa ya jadi insinyur atau dokter sih, seperti yang Ayah
mau. Tapi kalo emang ada pekerjaan jenis lain yang emang dia sreg, ya
harus didukung dong..”

“Kalo tiba-tiba dia pengen nikah di usia muda?”

“Kenalin dulu calonnya, baru nanti kita bicara lagi.”

“Tapi intinya boleh, ga?” Julia mengejar pertanyaan.

“Secara garis besar boleh, tapi ya itu, kenalin dulu calonnya. Masa’
calonnya ga kenal, tiba-tiba udah mau nikah aja…”

“Kalo dia tiba-tiba mau buka usaha gitu, gimana?”

“Lho, kenapa engga? Kalo itu justru lebih bagus, kerja buat sendiri..
Dan bukannya kerja buat orang laen. Pasti tetep bisa kuliah dengan
baik & punya pengalaman pengusaha juga.” Kusnadi menjelaskan.

“Oo…” Julia manggut-manggut.

Belum sempat Julia bertanya lagi, Kusnadi yang penasaran langsung
bertanya balik.

“Ibu ada apa sih tanya-tanya gini?”

Julia diam sejenak. Ia menghela napas.

“Itu, Yah,, anak kita.. Dia pengen pake jilbab..”

Kusnadi langsung melotot. “Ibu! Anak kita itu cowok! Masa’ pengen pake jilbab?”

*catatan penulis: cerita ini tidak bermaksud mendiskreditkan agama
tertentu, atau bernuansa SARA. cerita ini murni hanya sebuah cerita
rekaan, fiksi, yang apabila ada kejadian nyata yang sama, merupakan
sebuah kebetulan semata.*

Short Story #31: 5 Tahun Lagi

“Jadi nembak, nih?” tanya Guntur.

“Jadi, dong! Ga ada kata mundur dalam kamus gue!” jawab Ilham berapi-api.

“Sip, gue udah ga sabar pengen makan gratis sepulang nanti..” Riri
nimbrung sambil mengusap-usap perutnya.

“Eits, jangan sok yakin dulu loe. Kalo gue diterima, bisa jadi loe
pada yang nraktir gue..” sergah Ilham.

“Halah, buktiin aja dulu deh, Ham..” sahut Guntur sambil menepuk pundak Ilham.

Baru saja Ilham hendak balas menepuk, ketika incarannya terlihat. Iya,
perempuan yang akan ia tembak kini sudah ada di jangkauan tatapan
mereka bertiga.

“Tuh, dia udah masuk lapangan tuh!” Riri menunjuk.

“Iyeee.. Gue juga tauuu..” jawab Ilham sambil langsung menyiapkan
seikat bunga, dan sekotak cokelat.

“Cakep bener yak tiap kali pake baju olahraga. Gue jadi pengennya
belajar olahraga mulu dah tiap hari..” Guntur mengkhayal.

“Heh, kalo dia nerima gue, ga bakal bisa loe ngekhayal gitu..” Ilham memotong.

“Halah! Cepet sana tembaaakk!! Ngemeng doang loe ah, lama-lama!” Riri
mendorong Ilham dengan gemas.

Dengan hati dag-dig-dug, Ilham berlari melintasi lapangan belakang
sekolah. Ia menempatkan kotak cokelat dan seikat bunga di belakang
punggungnya.

Beberapa sorakan pelan dan juga tatapan mata heran, mengiringi langkah
Ilham mendekat pada perempuan pujaan hatinya.

“Bu Astri..” panggil Ilham.

“Iya Ilham. Ada apa? Oiya, jangan panggil aku pake, Ibu dong. Aku kan
cuma beda lima taunan sama kamu..” jawab Astri.

Wajah Ilham seketika berwarna semu merah. “Eh..oh.. Iya, Astri..”
gagap Ilham. “Nganu, boleh ngucapin sesuatu, ga?”

Astri yang tengah menyiapkan materi olahraga, langsung memerhatikan
Ilham. Melihat tangan Ilham yang berada di belakang punggung, ia mulai
sedikit menerka. Sekilas, ia tersenyum kecil.

“Ada apa?”

“Saya suka sama kamu. Mau ga jadi pacar saya?” ucap Ilham segera.
Sengaja, agar tidak terbata-bata dan terdengar mantap, meski suaranya
bergetar. Seikat bunga dan sekotak cokelat ia sodorkan ke arah Astri.

Tanpa diketahui Ilham, teman-teman sekelasnya sudah berada di
sekitarnya. Dan, mereka pun langsung bersorak.

“Cieeee…”

Astri diam. Ia tak terkejut mendengar ucapan Ilham. Ia justru
tersenyum. Kontan saja, Ilham serasa mendapat angin.

Astri berjalan mendekati Ilham. Ia mengambil bunganya, tapi tidak cokelatnya.

“Terima kasih bunganya ya Ilham. Tapi cokelatnya mending kamu kasih ke
temen-temen kamu aja..” ucap Astri sambil tersenyum.

Ilham seketika kehilangan angin. Kering. Senyumnya hambar.

“Walau umurku dan kamu ga beda jauh, tapi baiknya tunggu dulu ya..
Mungkin nanti, baru aku bisa jadi pacar kamu.” ucap Astri.

Patah hati, semangat, dan juga tengsin. Itu yang Ilham rasakan. Tapi,
ia tak kehabisan akal.

“Nantinya berapa lama lagi?” tanya Ilham sebelum Astri pergi.

“Yah..kira-kira lima taunan lagi deh ya.. Kalo kamu udah selesai
kuliah..” jawab Astri ringan, sambil kemudian tersenyum.

Short Story #30: The Luckiest Person

“Ciee… Nyonya Hans..” Brama menyapa Utari yang tengah membaca majalah.

“Hus! Baru besok Bram! Hari ini gue masih Nona Utari tau..” Utari
mengubah posisi duduknya.

“Iya deh iya..” jawab Brama sambil tersenyum, dan duduk di kursi depan
Utari. “Sori telat, tadi gue ngirim paket dulu. Ada perlu apa nih di H
minus satu gini sama jomblo bujang macam gue? Mau bikin runaway plan?”

“Halah, macem-macem aja deh loe Bram.. I’m just gonna ask you a little favor.”

“Anything for you.” jawab Brama segera. “Anyway, runaway plan itu pun
a little favor buat gue..”

Utari menggelengkan kepalanya, tersenyum kecil, dan kemudian mengubah
posisi duduknya lagi. Wajahnya tiba-tiba berubah serius.

Perlahan, Brama menyadari perubahan raut wajah Utari. Ia hendak
bertanya, tapi desah napas Utari membuatnya membisu.

“Gue mau minta…” Utari menarik napas, “…gue mau minta loe supaya..
jangan dateng besok di akad nikah gue..”

Brama terkejut. Ia menelan ludah sambil langsung menatap ke arah
selain Utari. Mencoba menyembunyikan kekecewaannya. Mencoba menutupi
perasaan hatinya yang terluka.

“Bisa ‘kan, Bram? Gue minta loe datengnya pas resepsi aja.. Ya? Bisa,
ya?” tanya Utari.

Brama menarik napas. Ia masih belum bisa menjawab permintaan Utari.

“Loe tau kan, kalo gue orang yang paling excited dan ngarep bisa ada
saat loe nikah? Saat loe ngejalanin akad, dan juga resepsinya?” ucap
Brama pelan.

“Iya Bram, gue tau.. Tapi-”

“Tapi kenapa loe minta gue jangan dateng pas akad dan cuma pas
resepsi?!” suara Brama meninggi.

Giliran Utari yang terdiam. Ia menarik napas. Ia tahu Brama pasti akan
bereaksi seperti ini. Matanya berkaca-kaca, perih, tapi ia menahan
agar tak menangis.

“Gue takut nanti jadi ragu, kalo ada loe pas gue akad…” ucap Utari
pelan. Lirih.

Brama menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Ia berganti-ganti
melirik Utari, meja, dinding, dan segala yang ada di sekitarnya.

“Bisa kan, Bram?” tanya Utari lagi. Pelan. Setelah beberapa menit hening.

“Laki loe luckiest person di dunia ya, dapetin calon istri yang saking
cintanya jadi takut ragu, kalo best friendnya, cowok pula, dateng pas
akad nikah..” Brama tak menjawab pertanyaan Utari.

Hati Utari sedikit terasa perih mendengar ucapan Brama tersebut. Tapi
ia mencoba mengabaikannya. Membiarkannya.

“Apa itu artinya ‘IYA’?” tanya Utari.

Brama menarik napas dalam-dalam. Berat baginya menyetujui permintaan Utari.

“Bram…” Utari mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh tangan Brama.
Tapi tak berhasil, karena Brama menarik tangannya menjauh.

“Kalo itu bikin loe bahagia, gue ga bisa nolak.. Even it breaks my heart…”

Lalu hening. Brama tak ingin Utari melihat raut sedih di wajahnya,
sehingga ia menghindari menatap Utari. Walau begitu, mata Utari sudah
basah, di pipinya terdapat linangan air mata.

“Bukan laki gue yang jadi luckiest person, tapi gue Bram.. Punya temen
yang pengertian macam loe…” Utari berkata lirih, “Terima kasih,
ya..”

Kali ini Brama menoleh dan melihat Utari.

“Asal loe tau aja sih, gue lakuin ini cuma buat orang yang gue cinta..
Sampe ketemu di resepsi.” sahut Brama sambil kemudian berdiri, dan
pergi.

Meninggalkan Utari yang diam kehabisan kata-kata.