Ketika Kesempatan itu Datang

Setiap langkah dalam hidup, baiknya memang dipikirkan matang-matang. Baik itu langkah yang kecil, ataupun besar, baik itu yang invidividu kita sendiri, ataupun yang berkaitan dengan orang lain. Ada baiknya, setiap langkah tersebut dipikirkan dan direnungi sebelum diambil. Tapi tak jarang juga, sebuah langkah memang harus segera dilaksanakan dan diambil, sebelum kesempatan untuk melangkah itu hilang, dan belum tentu datang lagi.

Dan, ya, saya pun melangkah.

Sudah cukup lama pemikiran untuk melangkah itu timbul, dan dengan berbagai pertimbangan serta tujuan yang ingin dicapai. Namun berkali-kali, niatan saya untuk melangkah tersebut terhenti. Banyak alasannya, mulai dari diri sendiri, faktor orang-orang sekitar, hingga perhitungan rencana yang akan terjadi kemudian. Intinya, banyak hal-hal yang menjadi pertimbangan saya ketika saya memikirkan tentang melangkah. Dan, pemikiran tersebut memakan waktu yang tak sedikit, timbul dan tenggelam.

Kini, setelah hampir 3 tahun, saya pun melangkah untuk menaklukkan tantangan baru dalam hidup saya. Bukan, bukan tentang menikah – karena itu sudah ada di postingan sebelumnya *eh*, melainkan beralih karir dari pekerja media menjadi pekerja humas dan komunikasi.

It’s been a great journey to be a media worker, but then, I want to fulfil another challenging field and conquer it! 🙂

Bismillah!

NB: cerita versi lain dan yang lebih lengkap, bisa disimak di sini.

Short Story #29: Gempa Lokal

“Ga ke kampus, Put?” tanya Rama yang baru masuk ke dalam kedai kopi sambil memegang tasnya.

Putri yang tengah membaca buku di sofa favoritnya, menoleh sekilas pada Rama sebelum kembali ke bukunya.

“Nanti siangan. Lah loe juga ga ke kampus?” ucap Putri datar.

“Nanti siangan juga. Gue lagi males kuliah pagi ini.” jawab Rama sambil kemudian duduk di kursi depan Putri, tanpa sekalipun Putri perhatikan.

Seorang pelayan datang menghampiri Rama, ia memberikan segelas kopi pesanan Rama sebelum menghampiri Putri. Setelah mengucapkan terima kasih, pelayan tersebut pun pergi.

Baru saja Rama hendak meminum kopinya, seseorang di balik meja kasir berteriak, “GEMPA!”

Sontak, setiap pengunjung yang jumlahnya masih sedikit di kedai kopi pagi itu langsung menoleh ke meja kasir dan langsung bergerak mencari jalan keluar. Begitupun Rama yang langsung menyimpan gelas kopinya, sementara Putri menurunkan bukunya dan melihat ke arah Rama.

“Beneran ini gempa?” tanya Putri sambil duduk tegak. Bersiaga untuk segera lari.

“Sepertinya gitu!” jawab Rama sambil langsung berdiri.

Entah reflek atau bukan, Rama langsung meraih tangan Putri, menggenggamnya sambil langsung menarik ke arah pintu keluar terdekat. Serupa dengan mereka, terdapat pengunjung dan pelayan kedai yang sama-sama hendak keluar. Walau bergerak cepat, namun mereka masih tertib dan tak saling berebut.

Sambil mengikuti tarikan Rama, Putri diam. Ia melihat sekilas pada tangannya yang digenggam Rama. Hatinya tiba-tiba terasa berdesir.

Lalu, tiba-tiba saja rombongan orang-orang yang tengah menuju pintu keluar pun terhenti. Rama dan Putri yang berada di tengah-tengah antrian pun ikut berhenti.

“Gempanya udah berenti?” tanya Putri. Tangannya masih digenggam oleh Rama.

Rama diam. Ia menoleh ke arah Putri tapi tak menjawab pertanyaannya.

“Udah berenti belom, sih? Koq ini pada stuck gini yang mau keluar?” tanya Putri lagi.

Rama membalikkan badannya ke arah Putri.

“Gempa lokal nih. Masih ada kaya’nya, getarannya kenceng gini. Loe ga berasa?” tanya Rama.

Dahi Putri mengernyit.

“Getarannya gempanya asalnya dari sini, dari hati gue.” Rama menempatkan tangan Putri yang ia genggam ke dadanya.

Mata Putri terbelalak. Saking terkejutnya, ia tak menyadari jika orang-orang di sekelilingnya, yang semula sama-sama sedang menuju keluar kedai, sedang menatapnya.

“Maksud loe?”

“Iya, gempanya gara-gara getaran hati gue. Loe mau kan jadian sama gue?” tanya Rama.

Putri shock. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi. Dan, sambil memikirkan jawaban pertanyaan Rama, ia sedikit melihat ke sekelilingnya. Memperhatikan orang-orang yang sama-sama ada di kedai. Dan, ia mengenali semuanya.

“Ini taktik gue buat dapetin perhatian loe, dan berhasil, ‘kan?” ujar Rama sambil tersenyum. “Jadi, loe mau ga ngejinakin getaran dari hati yang bikin gempa ini?”

Putri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil kemudian tersenyum. Ia langsung memeluk Rama yang disambut dengan gemuruh orang-orang di kedai kopi.

Dskon: Info Lengkap, Harga Hemat yang Seru!

DskonSiapa ya yang ga suka beli sesuatu dengan harga miring? Putri Catherine (Kate Middleton) aja, kabarnya suka lho beli baju-baju dengan harga miring. Selain harganya yang murah, kadang kita bisa nemuin “harta karun” yang nilainya lebih daripada harganya yang murah itu. Entah itu promosi atau engga, beli sesuatu yang berbau diskon atau ada potongan harga, atau bisa dibilang dengan harga khusus, selalu bikin tertarik. Yep, saya juga. :mrgreen:

Dan, sekarang ini makin banyak lho cara-cara buat dapetin harga khusus buat hal-hal tertentu. Apalagi, semenjak ada internet dan juga kebangkitan industri internet yang makin stabil, makin banyak pula pilihannya. Sebut aja macam dealkeren, disdus, ogahrugi, dll. Saya sendiri jadi member di beberapa situs tersebut. Dan, kadang2 beli paket harga khususnya.. kebanyakan sih, beli harga khusus buat makanan *gembul* 😆

Tapi kemudian, kadang suka gemes sendiri. Misal nih, baru hari ini beli paket harga khusus tertentu di situs A, eh.. besoknya ada paket lain dengan harga khusus yang beda tapi menarik juga, dan tempatnya di situs B. ribet gitu kan jadinya? Apalagi, kadang pengen ngebanding-bandingin, tapi ada kendala di koneksi.. *fakir benwit* 😛

Anyway, kaya’nya keribetan itu mulai terjawab. Ada salah satu situs layanan yang hadir dan ikut ngebantu keribetan saya. Dan, namanya Dskon. Di situs webnya, dia jadi semacam aggregator (pengumpul) tawaran paket harga khusus tersebut, dan ngebuat semuanya lebih gampang buat dicari, dibandingin, dan juga ngedapetin! Seru euy..

Ga cuman paket harga khusus yang jadi info utama, tapi juga ada detil info dari website penyedianya, cara bayarnya, ada di kota mana aja, dan banyak lagi. Belom lagi, bisa nulis review juga lho.. Wew, lengkap ya tawarannya.. Soalnya, kepuasan pelanggan itu kan penting banget, dan review-lah yang jadi patokan pelanggan atau pembeli lainnya. macam saya gini lah.. 😉

Oiya, denger-denger sih, Dskon juga bisa terhubung sama facebook. Jadi, kalo kita nemu ada tawaran paket khusus yang wuokeh di sana, bisa langsung dishare di facebook. Kali-kali aja, salah satu temen kita yang jumlahnya bejibun di facebook itu, ada yang tiba2 bilang, “eh, seru nih! Yuk beli, nanti gue traktir!” *maniak haratisan* 😆

Dan, yang paling penting adalah apdet! Iya dong, situs tawaran paket harga khusus itu apalagi yang lebih penting selaen apdet? Apalagi, semenjak banyak brand atau venue yang ikutan, pastinya makin banyak tawaran yang bisa hadir setiap harinya.. Hmmm.. jadi laper *lho* 😛

Ah.. cari2 tawaran yang asik aaahh.. kali2 aja ada yang seru dan ada harga muraaaahh.. :mrgreen: yuk.. yuk.. ke Dskon!

NB: image dskon, sourcenya dari dailysocial di sini.

Short Story #28: Takut

“Apa hal yang paling kamu takutin di dunia ini?” tanya Ilham pada Sofia di sebelahnya.

Sofia diam sejenak. Ia memandangi teman kuliahnya tersebut sambil memikirkan hal-hal yang membuatnya takut. Kecoak, ular, atau gelap?

“Aku paling takut tempat tinggi. Kalo udah ada di apartemen gitu, kecoak atau cicak, lewat deh. Aku pasti pingsan kalo liat ke tempat jendela ke arah bawah, atau ada di balkon gitu. Bahkan, di lantai atas mal aja kadang-kadang aku pusing kalo harus liat ke lantai bawahnya,” jawab Sofia panjang lebar.

Ilham diam menyimak. Ia meneguk minuman dinginnya.

“Kalo kamu, Ham?”

Ilham diam sejenak. “Hmm.. apa ya?”

“Lho kok nanya balik?” Sofia menjawab. “Atau emang cowok jarang-jarang punya rasa takut, ya?”

“Sebentar..” jawab Ilham pelan. Ia melihat ke arah meja sementara Sofia meneguk minuman dinginnya. Sejenak, suasana kantin kampus terasa sepi.

“Aku masih nunggu lho..” Sofia mengingatkan.

“Sabar dikit, kek. Ini lagi mikir tau..” jawab Ilham.

Sofia terkekeh.

Ilham memejamkan matanya. Menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kantin.

“Ah! Aku tau.” Ilham berkata pelan sambil membuka mata dan melihat ke arah Sofia yang sudah memandanginya.

“Apa tuh?”

Ilham diam sejenak.

“Hmm.. aku takut kalo aku harus jauh dari kamu. Ga bisa seterusnya sama kamu.” jawab Ilham. “Aku takut, aku ga bisa bikin kamu senyum atau ketawa lagi..”

Short Story #27: After The Fight

“Kamu kenapa, sih?” tanya Frans dengan nada suara tinggi.

“Kamu yang kenapa? Tiba-tiba kok nadanya emosi gitu?!” Hana balik bertanya. Sama-sama dengan nada suara tinggi.

“Aku kan tanya, kamunya aja yang ga mau jawab!”

“Kalo tanya ya tanya biasa aja dong, jangan pake urat!” Hana setengah berteriak.

“Kamu tuh ya…”

“Apa?!”Hana menantang Frans dengan langsung memotong kalimatnya.

Lalu hening. Hana dan Frans masih saling menatap, namun sulit mengeluarkan kata-kata selanjutnya. Tanpa mereka sadari, di tengah-tengah parkiran motor itu, sudah ada beberapa orang yang memperhatikan.

“Aku mau pulang. Sendiri.” ucap Hana pelan. Lirih.

Frans tak melarang. Ia diam berdiri sambil menatap tanah.

Tak lama, Hana membenarkan letak tas di pundaknya dan berlalu ke arah belakang Frans. Langkahnya ia percepat, sambil terus menuju pinggir jalan raya. Matanya perih, terasa ada yang berkumpul di setiap sudutnya.

Frans masih diam. Ia menarik napas sambil melirik ke arah perginya Hana. Tapi kemudian, ia kembali melemparkan pandangannya ke depan. Tak mengindahkan Hana yang terus menjauh darinya.

Lalu Hana berhenti. Ingin rasanya ia mendapati Frans memanggilnya. Mengejarnya. Berada di belakangnya. Memeluknya.

Tapi tidak terjadi apa-apa.

Hana menoleh sekilas ke arah Frans dari balik pundaknya. Melihat Frans masih berdiri menghadap ke arah lainnya. Dengan jarak yang cukup jauh, dan membutuhkan teriakan yang kuat hanya untuk memanggilnya.

Dan kemudian, Hana pergi. Dengan taksi yang baru ia hentikan di pinggir jalan.

Beberapa jam setelahnya, Hana sudah di rumah. Menatap jendela kamarnya di lantai atas ke arah pagar depan rumah. Menanti. Mengharapkan seseorang menghentikan motor di sana, dan memanggil namanya. Berharap Frans.

Hana mengambil ponselnya. Ia menekan speed dial nomer ponsel Frans. Tapi sedetik kemudian, ia membatalkannya. Ia hendak menelepon, tapi ia tak terlalu ingin. Masih ada rasa kesal di dadanya, tapi sekaligus ia rindu dengan Frans.

Beberapa menit berlalu. Hana masih termangu dengan ponsel di tangannya sambil menatap ke arah jendela. Sampai akhirnya kemudian, ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke Frans.

Aku udah sampe rumah.
Kamu kalo udah sampe rumah, kasitau ya.
Thanks.

Dan kemudian, ia kirim. Bukan sesingkat itu yang ingin ia tulis sebenarnya, tapi jemarinya memiliki kehendak lain. Walau begitu, ia berharap-harap cemas dengan balasan yang tak kunjung tiba.

Hana melempar ponselnya ke arah kasur. Ia kembali duduk di tepian jendela sambil menatap keluar. Perlahan, langit yang telah gelap mulai menurunkan sebagian hujan ke bumi. Gerimis.

Lalu ponsel Hana berbunyi. Sebuah pesan singkat tiba. Segera saja Hana menoleh dan mengambil ponselnya sambil berharap bahwa itu dikirim dari Frans.

Syukurlah kamu udah sampe rumah.
Aku masih di parkiran tadi, nunggu kabar dari kamu.
Biar kalo ada apa-apa, bisa langsung aku cari.
Dan sekarang, keburu ujan. Jadinya aku neduh dulu di pos satpam.
Nanti aku kabarin lagi.

Sekilas, senyuman tersungging di wajah Hana.

Short Story #26: Jalannya Masih Lama

Seminggu sekali, Ical pulang ke Bandung dari Jakarta. Jadi, setelah 5
hari kerja, Jum’at malam gitu biasanya Ical pulang ke Bandung. Baru
Minggu malem atau Senin pagi, Ical balik Jakarta. Kesannya boros sih,
tapi ya, demi kumpul sama keluarga, ya dia lakuin deh.

Dan, meskipun sekarang udah banyak travel yang cepet Jakarta-Bandung,
tapi Ical lebih suka naek bus AKAP dari terminal. Selaen lebih murah,
juga lebih banyak cerita. Soal waktu tunggu berangkat & waktu tempuh
yang kadang-kadang molor, ga dia peduliin. Yang penting sampe &
selamet, prinsipnya.

Jum’at malem ini pun gitu. Setelah selesai sama semua urusan kerjaan
di kantor, Ical langsung ke terminal Kampung Rambutan. Udah jam 9an
malem waktu Ical sampe. Dan, Ical pun langsung nyari bus yang ke
Bandung di setiap jalur, tapi ga ketemu.

“Tumben ga ada yang standby. Apa belom jamnya, ya?” Ical menggumam sendiri.

Dari hasil nanya ke salah satu orang di situ, dikasitau kalo bus-bus
ke Bandung masih ngetem di belakang terminal. Dan, setelah bilang
‘terima kasih’, Ical pun langsung ke belakang terminal.

Sampe di sana, dia liat beberapa bus ke Bandung berjejer. Ada sekitar
3 unit gitu deh. Dan, ga pake pikir panjang dia samperin 1 bus yang
lampunya lagi nyala. Masih ada supir lagi duduk-duduk di kursinya.

“Bus ke Bandung, kan?” tanya Ical ke supir waktu buka pintu penumpang.

“Iya, ini bus ke Bandung.” jawab si supir.

“Siplah..” jawab Ical sambil naik ke bus.

“Ujang mau ke Bandung?” tanya si supir.

“Iya.” jawab Ical sambil duduk di kursi. “Nanti kalo udah jalan &
bayar tiket, kasitau. Saya ngantuk soalnya.”

“Tapi ini jalannya masih lama.” kata si supir.

“Gapapa, saya mau tidur dulu.” jawab Ical sambil merendahkan punggung
kursi & memejamkan mata.

Si supir melongo, tapi dia ngebiarin juga Ical tidur.

Kemudian…
Hape Ical bunyi, ada yang nelepon. Bunyinya ga kenceng sih, tapi
geter-geternya itu cukup kenceng. Ical pun tidurnya mulai
goyang-goyang.

Hape Ical masih terus bunyi. Mau ga mau, Ical pun bangun sambil
ngambil hapenya. Tapi matanya masih terpejam.

“Halo?”

“Cal, jadi ke Bandung ga?” tanya si penelepon. Kakak laki-lakinya,
Bambang yang menelepon.

“Jadi. Ini udah di bus dari jam 9an tadi. Masih nunggu berangkat di
belakang terminal Kampung Rambutan.” jawab Ical.

“Jam 9? Lama banget ga sampe-sampe Bandungnya!”

“Lama? Emang jam berapa gitu sekarang? Tadi Ical tidur dulu, bentar..”

“Sebentar? Ini udah jam 4 pagi tau!” hardik Bambang.

“HAH? JAM 4 PAGI?!?!” mata Ical langsung terbuka. Ia terloncat duduk,
sambil mengerjapkan matanya melihat sekitar. Masih gelap sih, tapi ia
bisa melihat seberkas fajar di langit lewat kaca jendela depan.

Sambil mengenali sekeliling, ia tahu bahwa ia masih di belakang terminal.

Si supir yang tadi ada di kursi supir, berada di kursi seberangnya.
Tertidur lelap.

“Kang, bentar ya. Tutup dulu.” ujar Ical sambil langsung memutus
sambungan telepon.

Ical langsung berdiri, dan ngebangunin supir.

“Kang, koq busnya ga jalan-jalan?” tanya Ical sambil goyang-goyangin
badan si supir supaya kebangun.

Si supir pun melek. Dia ngeliat Ical, terus ganti posisi duduk.

“Kan saya bilang juga, jalannya masih lama. Alias, pagi-pagi. Kita
lagi parkir ini…” jawab si supir polos.

Short Story #25: Tawaran

“Mau duduk?” tawar seorang gadis pada Tono yang berdiri di dekatnya.

Tono tak langsung mengiyakan, ia sejenak mengamati gadis tersebut.
Manis, simpul hatinya.

“Emang mau turun di halte berikutnya?” Tono bergerak mendekat sambil
masih berdiri.

“Ga juga sih. Masih ada 3 halte lagi. Tapi kaya’nya kamu perlu duduk.
Muka kamu pucet gitu.. Lagi sakit, ya?” ungkap si gadis.

Tono terhenyak. Ia baru menyadari ada juga penumpang bus transjakarta
yang memperhatikannya. Memang ia akui, biasanya wajahnya berubah
memucat jika semalaman melembur dan kurang tidur.

“Ga sih. Aku cuma baru pulang lembur semaleman aja.” jawab Tono.

“Oh..” si gadis tersenyum simpul. “Tapi mau duduk, ga?”

Tono sedikit terkejut. Ia tak menyangka si gadis tetap menawarinya duduk.

“Kamu aja yang duduk, tapi aku titip bawaan aku. Gimana?”

Si gadis tampak memperhatikan bawaan Tono berupa beberapa tabung
gambar. Iya, Tono bekerja sebagai arsitek di sebuah biro, dan
semalaman ia mati-matian menyelesaikan gambar proyeknya.

“Sini.” si gadis langsung memegang salah satu tabung gambar, dan
bersiap mengambil yang lainnya.

Singkat kata, seluruh tabung gambar sudah berada di pegangan si gadis.
Satu halte terlewati.

“Mau pulang atau ke kantor?” tanya si gadis lagi.

“Pulang. Istirahat bentar. Nanti siang baru balik lagi ke kantor.”
jawab Tono sambil masih berdiri & memegang handle. “Kalo kamu?”

“Aku lagi maen aja. Ga ada tujuan pasti.” jawab si gadis sambil
tersenyum lagi. Diam-diam, Tono memuji senyumannya dalam hati.

“Tadi, katanya mau turun 3 halte lagi? Ga nyambung ke mana lagi gitu?”

Si gadis tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku cuma seneng jalan-jalannya aja. Seru juga liat-liat pemandangan
kota sambil naek bus transjakarta.”

Dan, sekarang giliran Tono yang membuat huruf O pada bibirnya.

“Kuliah?” tanya Tono.

“Engga. Aku kerja. Kantorku di salah satu gedung di Sudirman.”

“Lho? Aku juga di sekitar situ.” jawab Tono segera.

Si gadis hanya menjawab sambil tersenyum.

“Trus, sekarang lagi cuti?”

Si gadis tersenyum lagi. “Aku sebenernya lagi jam kerja sih. Tapi aku
butuh ngelakuin jalan-jalan gini. Biar balance.”

Kening Tono berkerut.

“Kadang, saat kita lagi ngadepin situasi yang sulit, kita perlu
langgar kebiasaan kita dan ngelakuin hal-hal yang kita suka, supaya
pikiran kita jernih lagi buat ngelarin situasi sulit itu.” si gadis
menjelaskan tanpa ditanya.

“Tapi bukannya itu kaya’ melarikan diri gitu?” Tono ikut larut
membahas penjelasan si gadis.

“Melarikan diri apa kalo ujung-ujungnya kita tetep balik lagi? Tapi,
seenggaknya dengan pikiran yang lebih jernih. Daripada tetep dipaksa
diem di tempat tapi pikiran malah tambah ruwet?” jawab si gadis sambil
tersenyum.

“Dan, itu kaya’nya kamu. Semalaman tadi.” si gadis menambahkan segera.
Tono pun terhenyak sambil kemudian tersenyum kecut.

“Mau gimana lagi? Udah tugasku..”

“Salah.” potong si gadis. “Tugasmu sesungguhnya adalah lebih membuka
mata dan telinga.”

Tono kembali mengernyitkan dahinya.

Si gadis pun berdiri sambil menyerahkan tabung-tabung gambar milik
Tono. Halte yang ia tuju sudah dekat.

Sekarang, ia dan Tono berdiri bersampingan sambil berpegangan di handle bus.

“Iya, buka mata dan telinga buat lebih menyadari kalo ada orang yang
peduli sama kamu. Seperti aku.” ujar si gadis.

“Eh?” sekelebat wajah tiba-tiba muncul di benak Tono. Wajah si gadis
yang sebenarnya teman bagian keuangan di kantornya. “Rina?”

“Sampe ketemu besok di kantor ya..” sahut Rina sambil tersenyum. Ia
pun pergi keluar bus dan turun di halte.