Short Story #24: Night Shift

Ga pernah sekalipun terlintas dalam pikiran Roni kalo dia bakal kerja jadi satpam. Iya, satpam alias sekuriti itu. Yang kerjanya jadi pengamanan rumah atau kantor gitu. Tapi ya, ternyata emang udah takdir. Apalagi, Roni juga jadi satpam kan bukan pekerjaan tetap, melainkan part-time job aja buat nambahin bayar-bayar kuliah semenjak biaya SPP-nya naek.

Dan, namanya part timer, mau ga mau kerjanya juga ga seperti yang pekerja tetap. Mulai dari hari kerja, maupun jam kerja, ya disesuaikan dengan kebutuhan. Dan kali ini Roni emang lagi apes aja sih, dia dapet night shift buat dua minggu.

Roni mau protes sih sebenernya, minta keringanan gitu, tapi ya dia ambil sisi positifnya aja. Toh, kalo night shift berarti dia bisa ambil hari kerja lebih banyak karena ga ada kerjaan laen. Semua kuliahnya pagi sampe sore. Dan, malemnya dia bener-bener free. Jadi, kalo lebih sering masuk hari kerjanya, berarti bayarannya juga lebih gede.

Dan, hari ini pun Roni masuk hari ketiga giliran night shift berturut-turut. Begitu sampe tempat kerjanya di Klinik Medis Jaya, dia langsung ganti seragam dan aplusan sama satpam yang jaga siang. Setelah keliling bentar buat cek situasi, Roni pun duduk-duduk di pos satpam sama rekan segiliran, Adul.

“Malem ini cuman betiga nih kita yang jaga Ron,” Adul ngomong sambil kemudian nyeruput kopi.

“Lho? Siapa yang ga masuk?”

“Icang. Dia lagi ada kenduri di rumahnya.”

“Laaahh, koq gue baru tau sih? Bukan tau langsung dari Icang, malah dari loe lagi, Dul.”

Adul merasa tak enak hati. “Dia udah bilang gue sih, tapi dadakan gitu tadi sore sebelom loe dateng. Gue mau langsung bilang, tapi loe langsung aplusan dan keliling liat situasi.”

Roni mesem-mesem aja dengernya. Bukan karena dia takut cuma jaga bertiga, tapi lebih ke mitos yang berkembang di Klinik Medis Jaya itu, bahwa dilarang bekerja malam dalam jumlah ganjil kalo ga mau ada kejadian ganjil.

“Kenapa sih Ron?”

Roni ngeliat ke arah Adul. “Gue bingung nih ngasitaunya, tapi ada baiknya kalo Nugi loe suruh ke mari juga deh. Biar gue jelasin bareng-bareng.”

Hati Adul langsung mikir macem-macem. Tapi biar gitu, dia langsung manggil Nugi buat langsung dateng ke pos satpam lewat HT. Ga pake lama, yang dimaksud udah nongol.

“Ada apa, Ron?” tanya Nugi begitu sampai.

“Sini, duduk dulu.” Roni ngasih kursi ke Nugi di sebelah Adul.

Nugi langsung duduk, dan langsung siap dengerin begitu juga Adul.

“Gue sama loe pade sebenernya cuman beda beberapa bulan doang kan masuknya. Meski gue masuk duluan, tapi loe pade yang lebih beruntung jadi karyawan dibanding gue yang cuman part time.” Roni mulai ngomong sementara Adul dan Nugi merhatiin.

“Trus, apa hubungannya sama Icang ga masuk?” tanya Adul.

Roni narik napas dalem sebelom kemudian ngejawab.

“Singkat kata, jangan kerja dalam tim yang ganjil jumlahnya kalo ga mau ngalamin kejadian ganjil. Itu gue dikasitau bang Mamat, leader tim shift pagi.” jawab Roni.

Muka Adul dan Nugi mendadak langsung pucet. Dua-duanya sama-sama belom pernah denger soal informasi itu dan sama-sama langsung mikir ga enak.

“Eh.. eh.. jangan pada ketakutan dulu tapinya.. kejadian ganjilnya ga seserem yang kalian pikir koq!” Roni langsung nambahin sekaligus nyesel kenapa juga dia cerita.

“Yang namanya kejadian ganjil, ya pasti yang di luar nalar lah Ron.” Nugi ngomong pelan sambil celingak-celinguk.

“Ho’oh.” Adul ngedukung.

Roni narik napas lagi.

“Yah.. kejadian ganjilnya emang di luar nalar sih. Tapi ya, sepanjang pengalaman gue sih, ga bakal sampe yang gawat-gawat. Kalo soal lari ngabur ya, gue masih ngerti lah. Emang risiko sih..”

Adul dan Nugi langsung nelen ludah berbarengan.

“Gu…gue ga mau tanya sih. Ta-tapi gue penasaran. Emang salah satu co..contoh kejadian ganjilnya apaan?” Nugi mendadak gagap.

Roni membungkukkan badannya seperti mau ngebisikin sesuatu. Sontak aja, Nugi sama Adul juga ngedeket.

“Nih contohnya, kaki gue kan ga napak lho..” bisik Roni pelan yang langsung direspon dengan mata melotot dari Adul dan Nugi.

Short Story #23: Single, But Not Available

Sofia membuka pintu kedai kopi langganannya. Di sela-sela meja yang setengah penuh, ia langsung berjalan penuh percaya diri menuju meja pemesanan. Di sana, barista sekaligus pemilik kedai sudah menunggu.

“Pesenan biasa?” tanya Fajar, sang barista sekaligus pemilik kedai.

“Nope. Hari ini bedain, deh. Ga lagi espresso, tapi yang lebih creamy.” jawab Sofia.

“Cappuccino mau?”

“Mmm.. Caramel coffee cream aja kali ya. Mixed gitu. Bisa kan?”

“Special order buat pelanggan spesial, ya tentu saja bisa.” jawab Fajar.

“Great!” Sofia tersenyum simpul. Wajahnya tampak berbinar-binar.

“Ada sesuatu yang spesial hari ini?” tanya Fajar setelah memberi tanda pada karyawannya untuk membuat pesanan Sofia.

“Mmm….”

“Biar kutebak.” Fajar memotong sebelum Sofia menjawab. “Baru jadian?”

Sofia menggeleng.

“Oh, kalo gitu baru putus..” Fajar langsung menambahkan.

Sofia terbelalak sambil menyunggingkan senyum geli.

“Dari mana dapet kesimpulan seperti itu?” tanya Sofia segera.

“Yah, di jarimu ga ada cincin apa-apa. Terutama di jari manis. Dan, sepertinya hari ini kamu begitu bebas. Pasti kalo gitu baru putus.” Fajar menjelaskan.

Sofia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.

“Jangan bilang kamu anggep ini kesempatan buat ngajak aku ngedate…” sahut Sofia pelan sambil bergeser ke meja untuk mengambil pesanan.

Fajar perlahan mengikuti Sofia dari balik meja barista. Di tangannya sudah terdapat segelas caramel coffee cream pesanan Sofia.

“Kalo bisa, kenapa ga? I’m not married yet, and.. you’re single, right?” ucap Fajar. “Kamu masih single, ‘kan?” Fajar memastikan.

Sofia tersenyum kecil sambil menerima gelas minumannya dari Fajar.

“Single? Iya-” ucap Sofia pendek. Tapi belum ia melanjutkan kata-katanya, Fajar langsung memotong.

“The coffee is free, charged on the house then.” potong Fajar.

“Wah, terima kasih lho, Fajar.”

“Jadi, kapan ada free time buat ngedate?” Fajar bertanya segera sebelum Sofia beranjak.

“I didn’t finished my answer yet. I’m single, but not available, Jar.” jawab Sofia. “I’m engaged. I’ve been proposed to marry my men, just this morning before I went here.”

Sofia tersenyum sambil mengangkat gelas minumannya pergi dari meja pengambilan pesanan. Meninggalkan Fajar yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

Short Story #22: Pengantin yang Tertukar

Rina menghela napasnya. Ia sudah kehabisan cara lagi untuk meyakinkan Maya agar mau menghentikan niatannya.

“Loe bener-bener ga bisa gue berentiin, ya May..” Rina berkata pelan.

“Iya. Ga ada yang bisa nyetop gue dari apa yang bakal gue lakuin sekarang,” jawab Maya.

“Tapi kan nanti bakal jadi kehebohan May.. emang loe bakal kuat ngadepinnya?” Rina bertanya lagi.

“Ga peduli. Ini demi kebahagiaan Heru, kok!” Maya menjawab ketus.

“Tapi bukannya kalo nanti loe ga jadi ngelakuin, Heru tetep bahagia?”

“Iya, tapi dia ga bakal tau yang sebenernya… ini bukan soal kenyataan lagi Rin, tapi kebenaran!” jawab Maya yakin.

Rina akhirnya diam. Ia kehabisan kata-kata. Selain itu, memang sudah tabiat Maya yang sulit untuk dihentikan begitu memiliki sebuah niatan. Apapun konsekuensinya.

“Hadirin dimohon berdiri..” sebuah suara terdengar dari pengeras suara ruangan. Dan, kemudian sepasang pengantin memasuki ruangan. Dari wajah keduanya terpancar raut kebahagiaan bercampur dengan kegugupan.

“May…” Rina mengusap pundak Maya dengan berharap agar Maya melunak, dan mengikhlaskan. Tapi balasannya hanyalah, diam. Bahkan dalam hati Maya, makin tercipta niatan kuat.

Pengantin yang berjalan memasuki ruangan sudah berhenti di depan ruangan. Mereka kemudian duduk di kursi yang tersedia dan berhadapan dengan penghulu.

“Hadirin dipersilakan duduk kembali..” sahut suara dari pengeras suara.

Rina sudah duduk ketika ia menyadari bahwa Maya di sampingnya tetap berdiri. Ia langsung mendengar sedikit bisik-bisik dari sekitarnya. Kurang lebih, ia dapat mendengar keheranan mereka tentang Maya yang masih berdiri.

“May…” Rina berbisik sambil mencoba menarik Maya agar duduk. Tapi Maya menepiskan tangan Rina.

Dari kejauhan, Rina melihat penghulu mulai sibuk melongok-longok ke arah Maya. Begitu juga beberapa orang yang berdiri di samping pengantin.

“Ya, ada apa?” tanya penghulu tanpa menggunakan pengeras suara.

Maya bergeser ke ruang kosong di tengah-tengah barisan kursi. Dan tepat saat itu pengantin pria menoleh ke arahnya. Tiba-tiba saja, mukanya tercengang. Ia pun menoleh bolak-balik pada pengantin wanita di sampingnya, dan juga Maya.

“SAYA KEBERATAN DENGAN ACARA HARI INI!” Maya berteriak lantang. Seisi ruangan langsung terdengar terkejut.

Pengantin pria memegang pundak pengantin wanita, dan mereka sama-sama membalikkan badan. Wajah pengantin wanita terperangah, sementara pengantin pria langsung berdiri dengan tatapan bingung.

“Kamu siapa, sih? Kok berani-beraninya ganggu acara saya?!” teriak pengantin pria.

Maya bukannya menjawab, ia justru berlari menuju pengantin pria tanpa berpikir panjang. Hadangan beberapa orang ia lewati dengan penuh usaha.

Saat Maya sudah sedikit lagi tiba di dekat pengantin pria, pengantin wanita tiba-tiba berdiri dan menghalanginya. Seketika itu pula Maya seakan berhadapan dengan cermin.

“Mas Heru, aku ini Maya, Mas! Calon istrimu yang sebenarnya! Akulah yang seharusnya jadi penganti wanitamu!” Maya berteriak sambil mencoba mendorong pengantin wanita. “Bukan wanita ini yang kamu lamar di tengah-tengah kebun teh Puncak bulan Desember lalu!”

Seisi ruangan langsung riuh. Walau begitu, Heru terdiam. Lidahnya kelu.

Pengantin wanita masih coba menghadang Maya. Dandanannya sedikit terhapus karena ia bergulat dengan Maya yang masih mencoba mendekati Heru.

“Heru, kamu percaya pengantinmu atau wanita ini, sih?” pengantin wanita itu sedikit berteriak di tengah-tengah usahanya menghadang Maya.

“Mas Heru! Tolong percayai aku! Aku ga mau jadi pengantin yang tertukar! Jangan sampe juga kaya’ sinetron Putri yang Tertukar!” Maya berteriak lagi.

Heru kemudian bergerak. Ia mendekati Maya dan pengantin wanitanya yang kini tak lagi bergulat, namun saling mengunci.

“Wanita yang aku lamar, tentunya tahu kalo aku suka nonton Putri yang Tertukar…” sahut Heru pelan sambil menjauhkan kedua wanita yang berada di hadapannya.

Sambil menormalkan napas, Maya berdiri dan menunggu. Begitu juga pengantin wanita.

Heru kemudian menggenggam tangan pengantin wanita di hadapan Maya. Seketika hati Maya terasa sakit.

“Terima kasih, tapi kamu bukan wanita yang aku lamar walau wajahmu mirip,” sahut Heru sambil kemudian melepaskan genggamannya.

Seketika itu, rasa sakit di hati Maya langsung berganti menjadi kegembiraan yang meluap. Ia langsung memeluk Heru yang balas memeluknya.