Short Story #18: Lagi Di Luar Kota

Eka sedang berjalan menuju kasir dengan menenteng tas belanjaan berisi beberapa pakaian untuk dibayar ketika pinggangnya dicolek dari arah samping. Sontak, ia langsung menoleh dengan tatapan penasaran.

“Eka!” panggil wanita yang mencolek pinggangnya.

“Ah! Astri!” jawab Eka sambil langsung keluar dari antrian menuju kasir, dan mendekati sahabat lamanya itu.

Tanpa dikomando lebih jauh, Eka dan Astri langsung berpelukan dan cium pipi kanan-kiri.

“Gue kirain siapa koq berani nyolek-nyolek. Kalo cowok mau langsung gue hantem pake tas belanjaan, lho Tri..”

“Hahahaha.. gue kan emang sengaja nyolek loe di pinggang, Ka. Gue kan tau loe orangnya nekatan.” Astri menjawab sambil kemudian tertawa lagi.

Perlahan, Eka dan Astri bergerak menuju salah satu bagian dept.store yang tidak banyak orang lalu lalang.

“Masih tetep ya, kalo belanja kudu banyak.” Astri melirik tas tentengan Eka.

“Ya iya dongs, namanya juga wanita. Apalagi kalo pacar lagi di luar kota.”

“Ckckck.. dari dulu jawabannya selalu sama seperti itu, deh. Begitu pacar ga ada, pasti langsung dilampiaskan dengan belanja-belenji.” Astri menggeleng-gelengkan kepalanya.

Eka tersenyum jahil. “Mending gue belanja beli baju dong, daripada gue selingkuh atau maen cowok.”

Sontak, Astri  terbahak-bahak. Ia memang suka lepas kendali jika sudah bertemu sohib lamanya itu.

“Eh btw, hebat bener ya kita bisa ketemu ga sengaja gini. Di mall pula lagi.” ujar Eka.

“Yah, kalo mall lagi on sale gini, pasti peluang ketemunya lebih besar lah, nek.” Astri menimpali.

“Oiya, bener juga. Trus, loe dateng sendiri? Kalo iya, nanti pulang bareng gue aja. Tapi sebelom itu, kita ngupi-ngupi dulu, lah..” Eka menawarkan.

“Gue sama cowok gue, ‘Ka. Dia juga lagi shopping dan hunting barang sale nemenin gue.” jawab Astri.

“Yah.. ajakin aja cowok loe sekalian. Gue juga kan pengen tau siapa yang berhasil menaklukkan hati seorang Astri yang dulu terkenal sebagai player abiss..”

“Hus! Jangan bilang gitu! Siapa tau cowok gue tiba-tiba ada deket-deket sini! Bisa jatoh dong imej gue..” jawab Astri segera.

Dan, sekarang giliran Eka yang tertawa lepas.

“Eh.. eh.. tu cowok gue.” Astri menunjuk ke arah seorang lelaki yang berada tak jauh di sebelah kanan Eka. Ia langsung menggamit lengan Eka untuk mendekati lelaki itu.

“Mana? Mana?” ujar Eka segera sambil menoleh mencari sambil mengikuti gamitan Astri. Tapi, rasa penasarannya sirna seketika ketika ia menjumpai wajah lelaki tersebut.

“Nih ‘Ka, kenalin cowok gue, Pras. Mas Pras, kenalin ini Eka sohibku jaman kuliah dulu.” Astri memperkenalkan Eka dan Pras.

Eka menarik napas. Dadanya sesak, hendak meluap. “Mas Pras kemaren bilangnya mau keluar kota, ternyata malah jalan-jalan di mall sama Astri, ya..”

Cara Mudah Bikin (Rame) Acara di Luar Jakarta

Jakarta identik dengan pusat segala macam yang ada di Indonesia. Ingin mendapatkan sesuatu yang adanya nun jauh di seberang pulau, datang saja ke Jakarta. Pasti tersedia, walaupun tak 100% sama seperti yang diinginkan. Meski begitu, sudah cukup untuk menghilangkan rasa penasaran atau sekadar melepas “dahaga” akan keinginan.

Oleh karena itu pula, Jakarta dikenal sebagai magnet bagi segala penduduk Indonesia. Magnet yang terus menarik kuat setiap jenis masyarakat, untuk terus mendatangi Jakarta. Baik itu menjadi penduduk tetap dengan KTP tembak, ataupun penduduk numpang lewat, alias komuter – tinggal di luar Jakarta, namun bekerja dan beraktivitas di Jakarta.

Sifatnya yang seperti magnet itulah, membuat banyak merek terkenal maupun juga pihak yang sangat berduit, siap mengadakan event di Jakarta. Semacam sayur tanpa garam jika mengadakan sebuah event berskala nasional, namun melewatkan Jakarta sebagai salah satu tujuan penyelenggaraan.

Tapi, itu semua bukan berarti penyelenggaraan event di luar Jakarta justru sepi! Sebaliknya, mengadakan event di luar Jakarta lebih memiliki kemungkinan besar untuk dihadiri oleh para peserta yang benar-benar target oriented, ketimbang di Jakarta, yang sangat beragam.

Lalu, bagaimana caranya? Mudah, bekerjasamalah dengan pihak “lokal”.

Pihak “lokal” di sini, bukan sembarang pihak lokal. Melainkan, sebagian kelompok atau masyarakat yang cukup dikenal atau memiliki perhatian cukup tinggi bagi daerahnya. Sebutlah di antaranya mahasiswa, tokoh masyarakat, ataupun petinggi daerah seperti mantan pejabat, dll.

Mendapatkan kerjasama dengan pihak “lokal” tersebut memang susah-susah-gampang. Kenapa? Karena awalnya seperti sulit untuk mendapatkan kontak dengan mereka, tapi ujung-ujungnya, begitu sudah dikontak, lazimnya mereka akan membantu dengan bersemangat untuk menyukseskan event tersebut. Apalagi, jika event tersebut merupakan bagian dari event nasional.

Saya sendiri, sebagai pekerja media sekaligus pegiat daring, menyarankan untuk mengontak pihak “lokal” yang biasa berhubungan dengan dunia digital. Sebutlah blogger, twitter user, hingga komunitas forum-forum lokal. Banyak contoh yang bisa diambil, seperti Palanta di Sumatera Barat, Cah Andong di Yogya, hingga Anging Mammiri di Makassar. Sekali mengontak dan mengundang mereka pada event yang dibuat, biasanya akan langsung tersebar ke para anggota yang jumlahnya ratusan, atau bahkan ribuan. Tentu, termasuk cara yang cukup efektif untuk menjadi bahan percakapan, setidaknya di antara para anggotanya, yang kebanyakan sudah melek teknologi.

Dari situ kemudian akan berkembang, info dari mulut ke telinga. Sambung, menyambung. Sebuah strategi yang cukup efektif, untuk menjadikan event di luar Jakarta lebih rame, atau bahkan sangat sukses. Oiya, tawarkan pula gimmick berupa lomba atau kompetisi kecil-kecilan yang hadiahnya bisa diraih oleh para peserta. Hal ini akan menambah ketertarikan mereka akan event tersebut.

Jadi, sudah tahu mau mengadakan event di mana? 🙂

Short Story #17: Ga Bisa Pacaran Lebih Lama Lagi

“Kamu telat.” Maria mendengus ke arah Seno yang baru tiba di teras rumahnya. “Do you know how many minutes I’ve been waiting in this terrace?”

Seno memasang wajah datar. Ia berusaha sedemikian mungkin menjaga emosinya agar tak terpancing. Ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya, dan kemudian melewati Maria menuju pintu depan.

“Kalo emang bakal telat, kasih kabar kek. Ada hape tuh dipake buat ngasih kabar, buat nelepon, buat SMS. Bukan buat nyombongin gadget baru doang!” hardik Maria. Tapi, Seno tetap tak merespon. Ia membuka kunci pintu depan, dan langsung masuk ke dalam rumah.

Sambil melepas jaket yang ia simpan di gantungan dekat pintu, Seno duduk di kursi tamu. Ia melepas sepatu, sementara Maria tetap berada di ambang pintu.

“Aku ga diundang masuk atau gimana, gitu?”

Seno melirik sekilas pada Maria. “Silakan masuk, Maria.”

Walau sudah dipersilakan masuk, sepertinya emosi Maria masih meledak-ledak dan ingin ditumpahkan pada Seno.

“Baru pertama kali aku ke sini, buat ngelarin urusan kita, kamu malah telat dan diem aja dari tadi. Bikin kesel tau!” Maria berseru sambil duduk di kursi tamu di seberang Seno.

Seno menghela napas. Ia menatap Maria, sambil kemudian merogoh saku celananya tanpa berdiri dari duduknya.

“Lama-lama, aku ga tahan hubungan seperti ini. Aku ga bisa pacaran lebih lama lagi sama kamu.” Maria berkata sambil membuang muka ke arah kanan.

“AKU JUGA GA BISA PACARAN LEBIH LAMA LAGI SAMA KAMU!” Seno langsung merespon sambil berdiri. Suaranya lantang, mengagetkan Maria sehingga ia langsung menatap Seno kembali.

Maria diam. Emosinya yang sedari tadi meledak-ledak sirna seketika. Ia kaget sekaligus khawatir dengan respon Seno yang tiba-tiba berubah itu. Selama ini, belum pernah ia mendengar Seno berteriak seperti tadi. Apalagi, kini ia berada di rumah kontrakan Seno, otomatis, posisinya sangat lemah.

Seno kemudian beranjak mendekati Maria. Perlahan, dengan salah satu tangan di saku celananya. Perasaan was-was timbul dalam diri Maria, sehingga ia pun mengalihkan pandangannya menjauh dari Seno.

Tepat ketika jarak dengan kursi yang diduduki Maria tinggal selangkah, Seno berlutut sambil menyorongkan sebuah kotak merah kecil.

“Aku ga bisa pacaran lebih lama lagi sama kamu, karena aku pengen nikah sama kamu.” ucap Seno. “Would you marry me?”

Dan, raut wajah Maria tiba-tiba langsung menjadi ceria dengan semburat merah.

Short Story #16: Ga Logis

“Buy me a coffee.” ucap Sandra di sebuah pagi. Ringan. Singkat. Memikat.

Lelaki di hadapan Sandra masih diam. Ia setengah tak percaya jika ia
telah diminta Sandra untuk membelikan kopi.

“Well? Apalagi yang kamu tunggu, Lex?” tanya Sandra.

“Buat apa?” tanya Alex.

“Ya buat aku minum. Masa’ buat cuci muka?”

“Aku tahu kopi buat diminum, tapi aku ya heran aja kamu minta beliin
kopi. Sama aku lagi.” kata Alex.

“Harus ada alesan pasti gitu?” tanya Sandra.

“Iya. Aku perlu alasan logis.”

“Minta beliin kopi sekalipun perlu alasan logis?” Sandra memutar matanya.

Alex menatap mata Sandra dengan tepat. Ia semakin memantapkan bahwa
membelikan kopi pun perlu alasan logis.

“Aku tau alesan yang lebih tepat, Lex. Tapi, sepertinya ga logis.”
ucap Sandra memancing.

Alex menampilkan muka ingin tahu.

“Dan, apakah itu?”

“Aku suka kamu, Lex. Dan, sepertinya itu ga logis karena menyangkut
perasaan.” jawab Sandra tenang sambil kemudian pergi meninggalkan Alex
yang langsung terkejut.

New Media, Kenapa Tidak?

“New Media”, istilah itu sepertinya belum awam dan jamak didengar. Tapi walau begitu, “New Media” layak menjadi sebuah sorotan perkembangan media saat ini. Karena “New Media” menjadi sebuah bentukan media baru, untuk menambah bentukan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Secara singkat, “New Media” bisa dilihat sebagai media yang muncul di ranah online – dalam jaringan (daring).

Seperti yang sudah saya sebutkan, “New Media” merupakan bentukan media baru. Jadi sesungguhnya, ia tidaklah bisa menggantikan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Setidaknya, itulah yang diungkapkan oleh Putu Laxman Pendit, salah satu praktisi media yang baru-baru ini membagi ilmunya pada saya.

Menurutnya, “New Media” harus bisa mendukung bentukan media yang sudah ada, dan bukan menggantikan, apalagi mematikannya.

Jika pada perkembangannya “New Media” bisa menggantikan atau justru mematikan bentukan media yang sudah ada, maka terdapat sebuah kesalahan strategi dari media tersebut ketika ia memasuki “New Media”. Kenapa demikian? Karena lazimnya bentukan media yang sudah ada, baik itu cetak atau elektronik otomatis sudah memiliki eksistensi merek yang cukup kuat, akan tetapi ketika ada bentukan “New Media” seringkali strategi yang dilakukan adalah berdasarkan latah atau ikut-ikutan. Padahal, bukan seperti itu siasat yang tepat.

Pada “New Media” layaknya juga dibuat strategi yang baru juga seperti namanya. Strategi yang baru tersebut, bisa dilakukan dengan membuat brand atau merek dari bentukan media yang sudah ada, lebih mengenal dari para pegiat online (daring) — yang notabene merupakan tempat hidup dari “New Media”. Dengan lebih mengenal para pegiat online, sudah barang tentu brand atau merek media tersebut akan bisa mengenali para pengguna online lainnya. Singkatnya, kenali para pengguna dari sejumlah pegiat yang sudah fasih menggunakan jaringan online.

Dari mengenali para pengguna, kemudian barulah bisa dibuat strategi yang tepat disesuaikan dengan tujuan dan juga profil dari media tersebut yang sudah diketahui oleh orang banyak – selain di ranah online. Profil ini dimaksudkan untuk membuat diferensiasi dengan merek/brand yang sudah ada di ranah online, serta membuat lebih banyak pengguna tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Dari situlah, nanti akan tercipta sebuah sinergi antara merek/brand media dari bentukan yang sudah lama, dengan para pengguna yang bisa jadi adalah para pembaca atau penggemar setia merek atau brand tersebut.

Singkat kata, terjun ke “New Media” yang berada di ranah online, perlu menggunakan siasat yang tak sekadar latah, tapi harus bisa menciptakan diferensiasi yang justru mengeratkan antara merek/brand dengan para penggunanya. Dan, hal tersebut dapat diwujudkan dengan sempurna jika memiliki tim yang kompak yang supportif di belakangnya. Ciri-ciri tim tersebut antara lain tersusun atas orang-orang yang peka, dinamis, dan berani mencoba hal-hal baru terutama di dunia online.

Jadi, “New Media” kenapa tidak?

Short Story #15: Lho, Mama?

“Sepertinya gue kenal, nih..” sahut seseorang sambil menepuk pundak Eko. Sontak saja,Eko langsung menoleh ke arah suara.

“Weits, ma brader Rudi! Apa kabar, bung?” Eko berdiri sambil langsung menyalami sahabat lamanya itu. “Duduk Rud, temenin gue ngopi-ngopi.”

“Already bought a cup, though..” ujar Rudi sambil duduk di depan Eko di dalam sebuah kedai kopi.

“Sejak kapan loe ada di Jakarta, Rud? Kok ga bilang-bilang? Terakhir kali bukannya loe lagi di Kanada, kan?” Eko langsung bertanya.

“Well, gue sengaja sebenernya ga bilang-bilang orang banyak. Coz, ga bakal lama juga di sini.” jawab Rudi.

“Lho, kenapa?”

“Gue di sini cuman ngurusin beberapa hal doang selama satu-dua minggu, udah gitu balik lagi ke Kanada. Back there for good.” jawab Rudi. “But anyway, loe sendiri gimana kabarnya? Masih single? I didn’t see any wedding ring on your fingers.”

“Hahaha.. sialan loe, merhatiin aja lagi. Emang kalo gue masih single loe mau bawa gue ke Kanada? Jadi pasangan loe?”

“E buset dah.. eike bukan hombreng kalee..” jawab Rudi segera sambil berpura-pura menjadi banci.

“Hahaha..” Eko tertawa lepas. Sudah lama rasanya ia tak tertawa lepas seperti ini, apalagi bersama sahabat masa kuliahnya itu.

“Lucky me, gue lagi iseng aja padahal mampir kedai kopi gini buat beli hot cappuccino. Eh, taunya ketemu loe di sini. Ini spot favorit loe buat ngopi-ngopi, yak?” tanya Rudi.

“Ga juga sih. Gue sebenernya ga begitu suka ngopi di kedai kopi macam gini, Rud. Ini lagi nunggu orang aja. Mau janjian ketemuan gituh.”

“Wew, mau ngedate nih? Wah, gue jangan lama-lama dong kalo gitu. Bisa-bisa nanti ganggu loe..”

“Ya elah.. slow aja kalii.. Kita kan udah lama ga ketemuan, jadi nanti kalo orang yang gue tunggu udah dateng, sekalian aja gue kenalin sama loe. Masa’ loe ga mau kenal calon istri sobat loe sendiri? Mumpung ada di Indonesia nih, jadinya bisa ketemuan..” Eko menjawab panjang lebar.

“Widih, calon istri? Hebat! Udah tunangan?” tanya Rudi.

“Belom sih, Rud. Gue baru berencana mau ngelamar wiken ini. Hehe..”

Rudi langsung mengulurkan tangannya untuk mengajak Eko bersalaman. “Gue ngucapin selamat duluan, boleh kan? Semoga berhasil, dan ga gagal kaya’ gue.”

Eko menerima salaman Rudi. “Gagal? Emang loe pernah ngelamar trus ditolak, gitu?”

Rudi diam sejenak setelah bersalaman dengan Eko. Tangannya memegang gelas hot cappuccinonya, sambil sedikit menarik napas.

“Tepatnya gue udah pernah merit, Ko. Dan, sekarang gue lagi dalam proses cerai.” Rudi bercerita.

Eko diam. Ia sedikit terkejut mendengar penuturan Rudi. Ia pun bingung hendak berkomentar apa.

“Sori ya, gue ga pernah ngabarin loe soal nikahan gue, tapi ya.. abisnya waktu itu segalanya serba dadakan sih.” Rudi melanjutkan. “She’s so adorable, and I do love her. Tapi ya.. sulit juga ternyata jalanin hubungan pernikahan kalo beda negara gini.”

“Loe kawin sama orang asing?”

“Nope, she’s Indonesian.” jawab Rudi singkat.

“Oh..”

Lalu diam. Kedua sahabat lama itu saling meminum minumannya masing-masing.

Dalam hatinya, Eko hendak bertanya lagi. Ingin mengetahui lebih jauh tentang wanita yang dimaksud Rudi, tapi tak keburu. Seorang wanita baru saja masuk kedai kopi dan langsung mendekatinya dari arah belakang Rudi.

“Rud, cewek gue dateng…” bisik Eko.

Raut muka Rudi langsung berubah menjadi lebih baik, dan menatap Eko.

“Mana?”

“Dia jalan dari belakang loe ke arah gue.” jawab Eko sambil berdiri.

Rudi baru saja berdiri ketika seorang wanita melaluinya tanpa menoleh langsung menuju Eko yang menyambutnya dengan pelukan. Sekilas, nalurinya sedikit bergetar.

“Rud, ini lho cewek gue.. Margaret.”

Dan, ketika Rudi menatap Margaret, lidahnya tiba-tiba kelu. Begitupun sebaliknya.

“Lho, Mama belom cerai dari aku, udah jadian sama Eko?” tanya Rudi.

Mengatasi Masalah Ketika Menulis

Beberapa kali saya sempat mendapat pertanyaan dari beragam orang,

Gimana sih caranya bisa tetep nulis? Emang ga pernah keabisan ide gitu? Ga pernah berasa bosen? Ga pernah pengen berenti? dsb.. dsb.. dsb..

Dan, jawaban yang saya berikan singkat saja.

Pernah.

Tapi nyatanya, jawaban saya itu tidak cukup bagi mereka yang bertanya pada saya. Karena kemudian, saya diberondong lagi dengan berbagai pertanyaan. Tapi secara umum, intinya hanya satu. Yakni, sebagai berikut,

Trus, gimana cara mengatasinya?

Dan, biasanya bukannya menjawab dengan sesuatu yang konkrit, saya justru balik bertanya.

Mengatasi apa?

Tak jarang, beberapa orang langsung melengos pergi, diam, atau bahkan memutus percakapan (jika dilakukan via online). Saya geli sendiri jika mendapatkan perlakuan seperti itu. Bohong jika saya bilang saya tidak sebal atau kesal, tapi ya.. saya geli sendiri. Kenapa? Karena menurut saya, yang bisa menjawab pertanyaan “cara mengatasi” adalah mereka sendiri. Iya, masing-masing pribadi yang melontarkan pertanyaan tersebut.

Sebuah kata mutiara pernah saya baca, isinya sebagai berikut,

No one know you exact nor completely, besides yourself.

Iya, hanya diri kita sendiri yang tahu apa dan bagaimana diri kita sebenarnya. Jadi, jika kita berhadapan dengan sebuah problematika yang ingin diselesaikan, ya kita harus mengenali diri kita sendiri. Mengapa? Gunanya, untuk mengetahui potensi diri yang belum dan sudah dimanfaatkan dalam mengatasi masalah tersebut. Dan, dalam hal ini adalah menulis.

Saya buka kartu nih, saya memiliki beberapa permasalahan ketika saya harus menulis. Iya, beberapa. Tak hanya satu, atau dua. Tapi beberapa. Berikut ini, saya tulis sesuai yang teringat oleh saya,

Menunda-nunda, atau prokrastinasi.

Malas.

Buntu ide.

Lelah.

Mengulang.

Kurang lebih memang ada 5 masalah yang terus saya hadapi di saat saya menulis. Memang, permasalahan tersebut tidak selalu muncul. Ada kalanya, saya begitu on fire, sehingga sebuah tulisan sepanjang 2 lembar A4 dapat selesai dalam beberapa menit saja. Tapi ada kalanya juga, saya baru bisa menyelesaikan sebuah tulisan singkat — 2-3 paragraf setelah menunggu 1-2 hari. Dan, kedua jenis tulisan tersebut sama, fiksi atau nonfiksi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, saya biasanya melakukan beberapa hal secara sekaligus. Mulai dari ngetwit, menulis cerita singkat, makan, hingga tidur. Kenapa? Karena saya ingin pikiran saya teralihkan dari bahan tulisan yang harus saya kerjakan. Karena saya perlu penyegaran dan juga perbaikan situasi sebelum menyelesaikan tulisan. Karena, perbedaan kondisi itu penting adanya.

Anda bisa saja melakukan langkah-langkah seperti yang saya lakukan. Tapi, saya bisa jamin itu belum tentu efektif bagi Anda. Hihi, sepertinya saya menyesatkan saja ya.. 😛 Oke, maksud saya menyatakan seperti itu karena pribadi setiap orang itu berbeda-beda. Setiap orang itu unik, dan sempurna dengan caranya sendiri. Setiap orang tentu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Itulah makanya, di awal saya sudah bilang bahwa yang bisa menyelesaikan permasalahan ketika menulis, adalah Anda sendiri.

Tapi bagaimana jika Anda sendiri tidak tahu bagaimana mencari penyelesaiannya? Oke, kali ini bisa saya bagi trik untuk mencari penyelesaian tersebut,

Ambil 5 langkah ke belakang menjauh dari  masalah Anda.

Ambil waktu sekitar 5 menit jeda untuk tidak memikirkan permasalahan Anda.

Dan, lakukan 5 kegiatan yang tak berkaitan dengan masalah yang sedang Anda hadapi, selama kurang lebih 5-15 menit.

Kemudian balik lagi, dan pikirkan 5 pilihan yang bisa Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya sudah Anda selesaikan.

Seharusnya, setelah Anda kembali lagi untuk menghadapi masalah setelah menjauh 5 langkah, jeda 5 menit, dan melakukan 5 kegiatan, Anda bisa mendapatkan solusi yang tepat. Trik, saya dapatkan dari menggabung-gabungkan antara berbagai problem-solving yang pernah saya dapatkan. Dan, saya tidak mengakui bahwa ini milik saya seorang. Anda berhak untuk menyebarkannya kembali.

Sudah siap? Coba segera lakukan ketika Anda menghadapi masalah, ya!

NB: Tak perlu melakukan semua langkah tersebut, cukup beberapa saja. Dan, hal ini tidak perlu dicatat. Cukup diingat sambil dilakukan.

Short story #14: Kita Kan Sepupu!

“Gue suka sama loe, Ve. Bener-bener suka yang bikin deg-degan gitu.” Tedi tiba-tiba berbisik di tengah kesunyian perpustakaan yang senyap.

Sontak saja, Vera yang mendengar ucapan Tedi langsung melihat dengan ekspresi terkejut. Tak ada angin, hujan, ataupun guntur, tiba-tiba saja Tedi yang sedari tadi membaca buku di sampingnya menyatakan suka padanya. Ia pun sampai lupa pada buku yang tengah dibaca.

“Gue serius lho ini Ve. Ga boong.” Tedi mencoba meyakinkan.

Vera masih diam seribu bahasa, bingung hendak menjawab apa. Sementara itu, Tedi masih menunggu dalam diam.

“Kok loe bisa suka sama gue, Ted? Kita kan temenan.” Vera akhirnya menjawab dengan berbisik.

“Justru itu, Ve. Karena temenan, gue jadi tau banyak hal tentang loe. Dan, kebanyakan kok ya ngeklik gitu.” jawab Tedi.

Vera menutup bukunya, dan kini menghadapkan badannya ke Tedi.

“Apa karena kita udah temenan lama?” Vera bertanya lagi. Sengaja, hendak mengalihkan jawaban yang diharapkan oleh Tedi.

Tanpa mengeluarkan suara, Tedi mengangguk.

“Err… Ted, gue bukannya ga suka sama loe ya.. Tapi…” Vera berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Tapi…”

Tedi menunggu penuh harap sementara Vera menggigiti bibir bawahnya.

“Loe sama gue ‘kan, masih sodara. Kita kan sepupu.” Vera akhirnya bisa menyelesaikan kalimatnya.

Serta-merta Tedi langsung merasa seperti disambar petir di siang hari. Ia terkejut tak percaya, sambil mencoba untuk menyangkal yang baru saja ia dengar.

“Ga mungkin Ve. Rumah loe di mana, gue di mana. Bokap-nyokap loe, sama bokap-nyokap gue juga ga punya nama belakang yang sama. Iya, ‘kan?” Tedi bertanya terburu-buru.

Vera menggigiti bibir bawahnya lagi. Ia bimbang hendak menjelaskan dari mana.

“Kakek loe namanya Sucipto ‘kan? Dan, nenek loe namanya Kartini?” Vera bertanya balik.

Tedi tersentak. Walau heran bagaimana Vera bisa mengetahui nama kakek-neneknya, Tedi mencoba untuk berpikir bahwa ia bisa jadi kelupaan pernah menyebutnya.

“Kakek gue namanya Wisnu, dan nenek gue namanya Sutari. Nenek gue kakak kandung kakek loe, Ted.” ujar Vera. “Gue ga tau lengkapnya gimana, tapi kakek loe dan nenek gue udah lama ga pernah ketemu sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan, gue tau loe sama gue masih sepupu, gara-garanya waktu acara keluarga besar gue beberapa bulan yang lalu. Di sana, nenek gue cerita soal adik kandungnya, yang punya anak cowok, dan juga cucu cowok, tapi ga pernah ditengokin. Begitu juga sebaliknya.

“Begitu gue tanya siapa nama anaknya adik dari nenek gue itu, ternyata namanya Heru, bokap loe ‘kan? Dan, cucunya namanya Tedi, yaitu loe.” Vera mengakhiri penjelasannya.

Tedi terdiam. Ia tak menyangka jika gadis sekaligus teman lamanya masih memiliki kekerabatan keluarga.

“Emang sih, hubungan kekeluargaan dan sepupu kita lumayan jauh. Tapi, realita bahwa kita masih sodara, bikin gue ga nyaman aja kalo kita lebih dari sekedar temen.” Vera menambahkan.

Tidak ingin kehilangan muka dan wibawa di depan Vera, Tedi akhirnya tersenyum meski hatinya hancur berkeping-keping.

“Pantes, kok ya banyak hal di antara kita ngeklik banget. Ternyata, masih ada bawaan keluarga yak..” ucap Tedi sambil tersenyum miris.

Short Story #13: Surprise Lunch

Rini baru keluar dari kamar mandi wanita ketika ponselnya berbunyi. Sekilas terlihat di layarnya, Agus yang menelepon.

“Halo Gus, tumben nelepon siang-siang gini. Ada apa?” Rini membuka percakapan.

“Iseng aja, Rin. Loe lagi apa?” tanya Agus.

“Baru keluar dari toilet. Gue rencana mau makan siang sih nih. Udah jam dua belas lewat kan.” jawab Rini.

“Ooo..” ucap Agus, “Eh, emang deket kantor loe ada tempat makan yang enak?”

“Enak di lidah sih banyak, tapi kalo enak di kantong dikit doang. Tau sendiri lah kalo kantor di Sudirman gimana. Susah bener cari warteg.” Rini berjalan kembali ke kubikelnya sambil masih menelepon.

“Haha.. udah jadi manajer, masih aja makan nyari warteg. Fasilitas uang makan dipergunakan dengan baik dong, Rin.” Agus menyarankan.

“Iya sih, tapi gue sebenernya lagi ngumpulin tu duit. Gue pengen jalan-jalan lagi soalnya.”

“Wuih, asik bener kaya’nya jalan-jalan mulu. Emang mau ke mana?” tanya Agus.

“Ga jauh-jauh. Paling Bali. Gue seumur-umur belom pernah ke sana soalnya.”

“Heh, serius?! Loe udah pulang pergi Singapore, Vietnam, sampe Korea segala, tapi belom pernah ke Bali?!?”

“Iya, Gus. Belom pernah gue. Lagipula, ke Singapore, Vietnam dan Korea itu kan trip dari kantor. Bukan dalam rangka gue sendiri yang liburan. Gitu lho..” jawab Rini.

“Ooo.. yayaya.. I see.” jawab Agus. “Eh tapi, gue juga belom pernah ke Bali sih.”

“Hahahahaha.. payah loe ah. Ngata-ngatain orang, sendirinya belom pernah.” Rini duduk sementara di kursi kubikelnya sambil membuka laci, dan mengambil dompet.

“Ya.. mau gimana lagi ya.. Kerjaan gue menyandera gini kan.. Jadi sulit kalo mau jalan-jalan. Hari libur yang bukan cuti aja, kadang-kadang masih tetep harus masuk.”

“Tapi yang penting duitnya kenceng kan Gus..”

“Iya juga sih.”

Rini lalu berdiri, dan beranjak menuju lift. Ia bergabung dengan beberapa orang lain yang berkantor di lantai yang sama di gedungnya, dan sedang menunggu lift untuk turun dan istirahat siang.

“Eh, gimana kalo kita obrolin soal Bali trip itu sambil makan siang. Mau?” tawar Agus.

“Hah? Makan siang? Kapan?”

“Ya sekarang lah..”

Tepat sedetik kemudian pintu lift membuka dan terdapat seorang pria sedang memegang sebungkus bunga mawar merah segar yang menutupi wajahnya.

“Sekarang, Gus? Seriusan loe? Jadi kaya’ surprise lunch gini..” Rini bertanya, tapi Agus tak kunjung menjawab. Sementara itu, orang-orang yang tadi juga berkumpul di depan lift perlahan menyingkir mempersilakan pria tersebut keluar.

Pria yang wajahnya masih tertutup bunga itu berjalan perlahan menuju Rini yang sudah menoleh untuk melihat. Rini sendiri masih penasaran dengan telepon dari Agus, tapi tak bisa mengurangi keheranannya melihat bungkusan bunga mawar merah sedang menuju ke arahnya.

Seketika pria itu berhenti. Ia menurunkan sebungkus mawar merahnya, dan memperlihatkan wajahnya.

“Iya, lunch-nya sekarang Rin. Gapapa kan kalo jadi surprise lunch?”

Seketika wajah Rini merona sambil diperhatikan Agus yang tersenyum. Tak lama, orang-orang yang sedang berada di depan lift pun riuh dengan sorakan dan suitan. Tak lupa, beberapa pun bertepuk tangan.

Short Story #12: Ibu

Puteri duduk terdiam di bangku peron. Ia berulangkali melihat arlojinya sambil berganti menatap ke jam stasiun. Menunggu, jelas itu yang ia lakukan.

“Rileks Put, pasti keretanya sampe koq. Ga usah cemas gitu.” Mira mencoba menenangkan sahabatnya itu.

“Aku yakin keretanya sampe Mir, tapi aku cuma taku dia ga bakal ada di kereta itu. Tau sendiri kan, dia orangnya gimana?”

“Ya, iya juga sih. Tapi mungkin setelah beberapa tahun ini, dia berubah. Jadi lebih baik.”

“Semoga sih.” jawab Puteri sambil melihat arlojinya lagi.

Tepat jam lima lewat sepuluh menit, pengeras suara stasiun berbunyi. Menjelaskan bahwa kereta asal Jakarta akan mengalami terlambat datang selama beberapa menit dari jadwal. Keterlambatan terjadi dikarenakan ada permasalahan sinyal.

Tanpa perlu ditanya, Mira tahu jika Puteri semakin cemas. Air mukanya menampilkan kebingungan yang luar biasa.

“Kita cari makan dulu, yuk.” Mira mencoba mengalihkan perhatian Puteri. Menghilangkan kecemasannya.

“Nanti dulu. Aku masih pengen nunggu.” jawab Puteri.

Mira tak berani untuk mengajak kembali. Ia mencoba memahami perasaan Puteri. Perasaan menunggu seseorang yang sangat dikasihi, dan sudah lama tak berjumpa. Walaupun kabar tak terputus melalui surat atau telepon, tapi perjumpaan merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Dan, Mira mencoba memahaminya, walau ia belum pernah mengalaminya.

“Ada mungkin tiga tahun sejak terakhir kali aku ngeliat mukanya secara langsung, denger suaranya yang begitu nenangin, dan dapet belaiannya yang penuh kasih sayang.” celetuk Puteri.

Mira manggut-manggut tanpa bicara.

“Salah aku juga sih, ga mau ketemu tiga tahun kemaren..” Puteri melanjutkan dengan nada menyesal.

“Terakhir kali aku ketemu dia lebaran kemaren, dia bilang kok kalo bangga sama kamu Put. Beneran.” Mira segera menjawab meski Puteri tak meminta.

Puteri menunduk. “Yah, mudah-mudahan begitu.”

Lalu hening. Tak ada lagi kata yang terucap antara Puteri dan Mira.

Pengeras suara stasiun kembali berbunyi. Menjelaskan bahwa di peron di depan Mira dan Puteri, kereta asal Jakarta segera tiba. Dan, benar saja, dalam hitungan menit lokomotif yang membawa beberapa gerbong masuk dan berhenti secara perlahan di peron depan mereka.

Mira dan Puteri segera berdiri dan mencari-cari di sekian banyak jendela. Mencoba melihat wajah yang mereka kenal dengan penuh harap.

“Kaya’nya ga ada, deh..” Puteri menggumam pelan.

Mira tak menjawab. Ia tak ingin menanggapi Puteri yang mulai kehilangan semangat. Ia terus mencari melihat-lihat ke arah jendela gerbong kereta meski Puteri mulai mengendur dan duduk kembali.

“Puteri!” panggil sebuah suara secara tiba-tiba.

Sontak, Puteri dan Mira segera menoleh ke arah suara. Tanpa perlu memastikan, Puteri pun segera berdiri dan menghamburkan pelukannya sambil berteriak, “Ibu!”