Short Story #10: Aku Mungkin Bukan Pangeran, Raja, atau Ksatria

“Aku kurang ngelakuin apa sih buat kamu? Segala macam yang kamu mau, udah aku kasih, aku lakuin. Semua demi kamu.” Raga berucap sambil menggenggam tangan Lintang.

Mata Lintang berkaca-kaca. “Ga ada yang kurang dari kamu, Ga. Kamu sempurna, dan aku berterima kasih atas semua yang kamu lakukan buat aku.”

“Trus? Apalagi yang bikin kamu masih ragu?” Raga bertanya.

Lintang tak menjawab. Ia bimbang untuk mengutarakan hal yang terus-menerus mengganggu pikirannya. Ia tak ingin kehilangan Raga, tapi ia juga tak ingin mengkhianati prinsipnya selama ini.

“Apa ada orang lain di hatimu saat ini?” tanya Raga.

“Tidak!” jawab Lintang segera. “Hanya ada kamu, dari dulu, hingga saat ini. Dan, kuharap sampai nanti…” Lintang melanjutkan dengan nada lirih.

Angin berdesir menemani sore hari yang indah di taman kota. Raga yang sedari tadi duduk di sebelah Lintang pun berdiri sambil kemudian menekuk lututnya di hadapan Lintang.

“Aku mungkin bukan pangeran, raja, atau ksatria heroik seperti dalam dongeng. Aku hanyalah Raga yang mencintaimu, Lintang. Aku berharap, aku bisa mendapatkan hal yang setimpal dari kamu.” ucap Raga.

Lintang terdiam. Ia menarik napas sementara Raga menunggu.

“Tapi, kamu suami sahabatku, Ga…”

Short Story #9: What Would You Do For Someone You Love?

“What would you do for someone you love?” Kiara bertanya. Jeff yang
sedang meminum iced cappuccino pun berhenti dan memandangnya.

“Hmm.. Let’s see..” Jeff memegang dagunya yang hanya terdapat beberapa
helai janggut. “Sepertinya ga ada.”

“Hah?! Ga ada?!” Kiara langsung berseru.

Jeff menaikkan alisnya sebelah. “Iya, ga ada.”

“Koq bisa?” Kiara memburu.

Jeff tak langsung menjawab. Ia mengubah posisi duduknya hingga agak
bersandar sambil kemudian menatap serius Kiara.

“Ya jelas aja bisa. Apalagi dalam kondisi sekarang.”

“Maksudnya? Kondisi kamu sekarang yang lagi jomblo ini, bikin kamu ga
mikir ngelakuin sesuatu buat yang kamu sayang? Gitu?” tanya Kiara.

Jeff tersenyum tanpa menjawab.

“Pola pikir kaya’ gitu itu yang bikin kamu jomblo terus lho Jeff.
Karena itu sama artinya kamu ga peduli sama orang laen.” Kiara
melanjutkan.

“I didn’t say that. It’s you.” jawab Jeff segera.

“Trus? Emangnya gimana?”

Jeff mengubah posisi duduknya kembali. Kini ia mencondongkan tubuhnya
mendekati Kiara di sampingnya.

“Alasan aku bilang ga ada adalah, karena orang yang aku sayang lagi
ada sama aku sekarang. Kalo misal kamu tanyanya pada saat kita lagi ga
bareng-bareng, jawabannya pasti akan beda.” jawab Jeff panjang lebar
sambil kemudian tersenyum.

Kiara tercekat. Ia terkejut dengan jawaban Jeff.

“I do care about you. And also, it means that I love you.” ucap Jeff.
“Being with you right now, is perfect. And I don’t want to do anything
else. But sure, if we’re apart, I shall do anything I can for someone
I love.. Which is you.”

Short Story #8: Kalo Gitu, Ini Rahasia Ya

“Aku cukup yakin kalo Tere pasti begituan selama di Jakarta sama pacarnya.” Romi menuduh.

“Begituan? Begituan apa maksudmu?” sergah Dea.

“Ya begituan, yang suka sama suka, di atas kasur gitu. Bayangin aja coba, beduaan aja ke Jakarta buat dateng ke event, udah gitu nginep pula. Dalam satu kamar lagi!” Romi menambahkan.

“HUSS! Jangan sembarangan kamu! Awas bisa kualat lho kalo ngomongin keburukan orang…” Dea mengingatkan.

“Lagian, ke Jakarta koq ya bedua doang sampe nginep segala. Gimana ga bikin orang mikir jelek coba?”

“Yaelah.. Kenapa juga sih harus mikir jelek? Itu kan bukan urusan kita, biarin aja kenapa?” Dea mencoba menenangkan sambil menempelkan badannya ke Romi di atas kasur.

Romi menarik napas. Masih ingin rasanya ia membicarakan mengenai kelakuan Tere, yang notabene masih keluarganya.

“Kalo aku bukan sepupu deketnya De, ga bakalan aku mikirin gini. Aku cuma bingung aja kalo nanti ada anggota keluarga lain yang tau, dan ngebawa masalah ini ke pertemuan keluarga besar.” Romi beralasan sambil mendengus.

“Ya kalo gitu kamu pastiin dong jangan sampe ada anggota keluarga besar kamu yang tau. Kamu biasanya paling pinter nyari dan nyimpen rahasia.” Dea kemudian memeluk pinggang Romi yang langsung menoleh. Sekilas, alis Romi yang berkerut mulai memudar.

“Iya juga sih.” jawab Romi. “Kalo gitu, ini rahasia, ya.”

Tangan kiri Dea mulai beranjak mendekati lampu di meja samping ranjang. Ia mencari saklar, dan sekali hentak, lampu tersebut langsung padam.

“Kok lampunya dipadamin? Kamu mau lagi?” tanya Romi sambil menoleh ke arah Dea.

Dea hanya menjawab sambil tersenyum. Ia kemudian mulai bergerak menarik selimut sebelum kemudian berhenti karena Romi menahan.

“Eh, suami kamu pulangnya masih lama ‘kan?” tanya Romi.

Short Story #7: It’s You The One I’m Waiting For

“Kenapa sih kamu belom merit juga, Ne?” tanya Daniel.

Ine meminum kopinya. “Belom kepengen aja, Niel.”

“Serius? Sama sekali ga pernah kepikiran gitu?” Daniel bertanya lagi.

“Kepikiran ya pernah, tapi ya bawa santai aja sih. I’m not in rush.”
jawab Ine santai.

Daniel diam. Kini gilirannya yang meminum kopinya.

“Tumben kamu nanya begitu.” ujar Ine. “Kamu sendiri kenapa belom merit?”

Daniel tiba-tiba tersedak ketika menelan kopinya. Ia buru-buru
menyimpan gelas ke meja, sambil mengambil tisu untuk menutupi mulutnya
yang batuk-batuk.

“Lho? Is there something wrong with my words?” tanya Ine lagi.

Daniel sudah berhenti batuk, ia langsung menatap Ine. “Ga. Ga ada yang
salah sama kata-kata kamu.”

“Oo..” jawab Ine.

Lalu hening, meski kedai kopi tempat mereka berada siang itu cukup
ramai. Ine tak bertanya lagi pada Daniel meski ia masih penasaran.

“Aku lagi nunggu orang. Itu alesan aku belom merit juga.” Daniel
berkata pelan. Ine langsung menatap Daniel, rasa penasarannya timbul
lagi.

“Siapa?” tanya Ine segera. “Aku kenal?”

“Harusnya sih, kamu kenal.” jawab Daniel. “Aku udah lama ngebet pengen
ngajak merit dia padahal, tapi ya… dianya belom nyadar aja
kaya’nya.”

Ine makin penasaran. “Hmm.. Nisa? Tere? Lili?”

Daniel terus menggeleng. “Nope, not one of them.”

“Trus siapa?”

Daniel diam sejenak. “She’s here.”

Ine buru-buru tolah-toleh sekitar kedai kopi. Ia mencoba mencari wajah
yang ia kenal. Tapi, ia tak juga menemukannya.

“Niel, stop teka-tekinya ah. Aku ga nemu siapa orangnya nih!” Ine
menatap Daniel yang justru tersenyum tipis.

Daniel menarik napas. “It’s you the one I’m waiting for.”

Ine membelalakkan matanya. Ia tak percaya dengan perkataan Daniel yang
baru saja ia dengar.

“Yes, it’s you. So, would you marry me?” Daniel menegaskan sambil
menyodorkan kotak cincin yang entah bagaimana caranya sudah ada di
meja.

Short Story #6: Ini Hari Apa?

“Kamu inget ini hari apa?” Laras bertanya.

Setyo yang tengah menyendok makan siangnya berhenti. “Hari Minggu ‘kan?”

JLEB! Hati Laras seperti ditusuk pedang Excalibur. Ini hari
ulangtahunnya, dan pacarnya sendiri ga inget!

“Serius kamu taunya ini hari Minggu?” Laras bertanya lagi. Ia
menyembunyikan kekesalannya dengan tetap berwajah manis.

Setyo menyimpan sendoknya ke dalam mangkok. Ia paling tak suka jika
makan siangnya terganggu, tapi biar bagaimanapun ia sedang bersama
Laras, kekasihnya.

“Iya, ini hari Minggu. Terakhir aku ngecek pagi tadi di kalender, hari
minggu.” jawab Setyo ketus.

Laras menarik napas. Ia benar-benar kehilangan selera akan makan siangnya.

“Ga laper?” tanya Setyo melirik porsi makan siang Laras yang masih
sisa setengah.

“Ga. Aku ilang selera karena kamu.”

“Lho, salahku apa coba?”

“Hhhh… gitu deh.. Aku males ah!” Laras balik menjawab dengan ketus.

Setyo melirik sambil bergumam pelan, tapi tak bisa terdengar oleh Laras.

Siang itu panas, dan makin terasa gerah karena Laras merasa sebal.
Apalagi, di warung bakso favoritnya dengan Setyo memang tiada kipas
ataupun AC. Yang ada hanyalah sebuah koran terbitan hari ini.

Serta merta, Laras mengambil koran itu, melipatnya menjadi dua dan
membuatnya jadi kipas. Rasa sebalnya membuatnya enggan melihat pada
Setyo yang sedang lahap menyantap makan siangnya. Apes bener ultah
taun ini, pikir Laras.

Sudah hampir 5 menit, tapi Setyo tak kunjung selesai makan. Rasa gerah
Laras sudah berkurang tapi rasa sebalnya tidak. Ia pun mencoba tak
mengacuhkan Setyo dengan membaca koran yang tadi ia gunakan sebagai
kipas.

Laras membuka halaman belakang koran tersebut. Ia tak begitu suka
headline di halaman utama, dan lebih suka berita hiburan di bagian
belakang. Dan, saat itulah ia terkejut.

Sebuah foto dirinya terpampang dengan jelas di halaman belakang koran
tersebut. Captionnya pun bertuliskan namanya. Dan, Laras makin
terkejut ketika mengetahui judul artikel singkat yang terletak di
samping foto dirinya itu.

HAPPY BIRTHDAY, LARAS!

Demikian bunyi judul artikel itu. Dan, begitu ia membaca siapa penulis
artikel di bagian belakang, ia menjerit pelan. Terkejut sekaligus
senang.

“Aku tau kok ini hari ulang tahun kamu..” ucap Setyo ketika Laras
menurunkan korannya & menatap Setyo.

“A..a…aku…”

“Happy birthday, ya Sayang..” ucap Setyo sambil tersenyum &
mengeluarkan kado ulang tahun.

Short Story #5: Pada Suatu Malam

Malam sudah larut. Walau begitu, hari belum berganti. Tanggalan masih
sama seperti pagi, siang, dan sore sebelumnya. Meski begitu, Leo tak
kunjung terlelap. Entah, tapi ia gelisah.

Dari balik selimut nyaman yang membuatnya tetap hangat di dalam
apartemennya, Leo membuka mata. Ia bangkit, menarik badannya hingga
terduduk di kursinya.

Tatapan matanya mengarah ke jendela yang gorden tipisnya terbuka
sebagian. Menampilkan siluet Menara Eiffel bertemani bulan purnama.
Sebagian lembutnya sinar rembulan menerobos masuk dan menerpa lantai
yang berbalut karpet.

Leo menoleh ke meja di samping kiri ranjangnya. Ia mengambil blackberry-nya.

‘Somehow, I’m just lost tonight.’ tulis Leo di status blackberry messengernya.

Sontak, sebuah pesan masuk. Leo mendengus.

“Jelas aja kamu nyasar, kompasmu di sini. :D” tulis pesan itu.

“Indeed, my Queen. No King shall rule the world wisely, if they had no
queen besides them.” jawab Leo.

“Seharusnya di sana jam 11.43 malem kan?” tulis pesan itu lagi.

“Yep. Tapi jam biologisku masih bersamamu, nih kaya’nya. Baru bangun
setelah semalaman memadu hasrat denganmu.” jawab Leo.

“Cepet pulang dong kalo gitu. Nanti kita lewatin lagi malam2 fantastis
cuma berdua. I promise I’ll be good. :P” balas pesan itu.

Leo mendengus. Dalam gelap, ia tersenyum.

“Sure you’ll do. I believe that. Sementara itu, setiap kali kamu liat
sunrise, ingatlah aku. Bisa saja aku mengejutkanmu dengan tiba-tiba
berada di peraduanmu yang membara pada suatu malam setelah kamu
menaklukan hari itu, Sayang.” jawab Leo.

Lalu diam. Pesan itu belum dibalas lagi hingga beberapa saat.

“I’m watching it right now, Leo. And I do remember you. Love you so,
dearest husband. :-*” jawab pesan itu.

“Love you more, my lovely wife. :-*” jawab Leo sambil tersenyum.

Lalu, terdengar bunyi gemerisik selimut perlahan. Sebuah tangan
menyembul dari baliknya dan memeluk pinggang Leo.

“Kok ga bobo?” tanya perempuan itu.

“Ada BBM masuk. Tapi udah aku jawab kok.” jawab Leo sambil menaruh
blackberry-nya kembali ke meja. Tak lama, ia pun merebahkan dirinya
kembali sambil memeluk perempuan itu.

Short Story #4: I’m Happy Right Now

“Aku ingin kesempatan kedua, Jar.” Dewi menatap Fajar dalam-dalam.
Matanya menyiratkan permohonan dan harapan.

Fajar diam. Ia menunggu.

“Aku mau nagih janji kamu dulu, kalo kamu bakal selalu ada buat aku.”
Dewi menambahkan.

“Aku ga ke mana-mana kan, Wi. Aku di sini dari dulu juga.” Fajar
bereaksi cepat. “Kamu yang justru pergi..”

“Aku tau…, dan sekarang aku kembali. Karena itulah aku ingin
kesempatan kedua!” sergah Dewi.

Fajar menghela napas. Ia menatap segelas cappuccino di depannya yang
pasti sudah dingin.

“Aku nyesel udah ingkar janji sama kamu. Ternyata apa yang kamu bilang
itu, semuanya bener.” nada suara Dewi bergetar. “Harusnya aku percaya
sama kamu..”

Fajar mengendurkan badannya hingga bersandar ke kursinya. Meski
begitu, Dewi tetap mencondongkan tubuhnya. Berharap Fajar mau
menerimanya.

Fajar menghela napas lagi. Dari balik jaketnya, ia menarik sebuah
amplop berwarna merah dengan tulisan beberapa huruf tertera.
Sepertinya, itu inisial.

“Andai kamu tak pergi, Wi.. Namamu yang mungkin ada di sini.” Fajar
menyimpan amplop yang dipegangnya tadi ke atas meja. Perlahan, ia
mendorongnya ke arah Dewi.

Dewi tercekat. Matanya terbelalak. Suaranya hilang seketika seperti
nafasnya yang berhenti sepersekian detik.

“I’m happy right now. And I hope you’d be glad to attend my wedding,
Wi.” kata Fajar pelan.

Short Story #3: Beloved Husband

“Gimana kalo aku bilang… Kamu jangan pergi?” Dita mengerjapkan
matanya manja sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Gun.

Gun tersenyum kecil. Ia melihat ke arah Dita di samping kanannya,
sambil melingkarkan tangan di bahu Dita. “Kamu tau kan, aku juga
pengennya begitu?”

“Ya…kalo gitu tinggal dilakuin, ‘kan?”

Gun tersenyum lagi. “I wish it’s as simple like that.”

Dita menegakkan badannya. Kerjapan manja matanya menghilang dan
berganti dengan raut cemberut.

“Jangan bikin aku ga tenang pas terbang nanti, dong. Aku kan ga pergi
lama-lama. Bulan depan juga aku balik lagi.” Gun membujuk. Telunjuknya
berusaha mencolek dagu Dita, mengajaknya tersenyum.

“Sebulan itu lama, tau!” seru Dita.

Gun tersenyum. Perasaannya bercampur antara senang, sekaligus bimbang.
Sekian tahun ia mengenal kekasihnya itu, Dita tetap bersikap sama jika
tak mendapatkan yang ia dapatkan. Kekanak-kanakan, tapi Gun
menyukainya.

“Kok senyum doang?!” pertanyaan Dita membuyarkan lamunan Gun.

“Gini deh, kalo sebelum sebulan field job aku udah selesai, aku
langsung balik ke Jakarta. Cuma buat kamu. Tapi, kalo belom kelar, ya
tunggu jadwal sebulan itu.” ucap Gun. Ia menyodorkan kelingking
kanannya. Menawarkan perjanjian.

Meski masih cemberut, tapi raut muka Dita sedikit berubah.

“Oke.” sambut Dita sambil menautkan kelingkingnya dengan kelingking Gun.

Melalui pengeras suara, kemudian terdengar permintaan boarding
penerbangan yang akan dinaiki Gun.

“Got to go, honey. Itu pesawatku.” Gun melepaskan tautan kelingkingnya.

Baru saja Gun hendak berdiri ketika tiba-tiba Dita memeluknya. Erat.

“I wish you never have to go..” bisik Dita.

“I’ll be back. It’s a promise.” jawab Gun.

“I wish…, you’re my beloved husband.”

Kali ini Gun tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan membelai punggung
Dita dengan lembut.

Gun perlahan berdiri. Melepaskan pelukan Dita. Mengangkat tasnya dan
juga menggamit jaketnya.

Sambil berjalan ke tempat check in pesawat, Gun menoleh kembali ke
arah Dita dan melambaikan tangan. Sontak, Dita balas melambai, walau
dengan raut sedih.

Gun kembali berjalan ke tempat check in. Sambil mengantri, ia
mengeluarkan sebuah cincin emas tak bermata, namun memiliki ukiran
khas dari saku celananya. Sebelum kemudian terpasang di jari manis
Gun, sekilas terlihat tulisan “Beloved Husband of Rita”.

Short story #2: I Never Said That I Love You, Even I Do Need You

“Aku masih ingin sekolah lagi.” ucap Clara. Ia memegangi perutnya. Rambutnya tersibak hembusan pelan angin laut, menawarkan aroma cinta yang Zul rengkuh malam-malam sebelumnya.

“Tapi aku ingin memilikinya. Mempertahankannya.” sahut Zul. Ia tak melihat ke arah lautan seperti Clara. Ia memandangi Clara. Terpikat lekat.

“Biar bagaimanapun, ini tubuhku. Akulah yang nanti selama beberapa bulan ke depan akan kepayahan jika harus mempertahankannya.”

“Tapi aku ingin punya anak. Dan, aku ingin anak itu darimu, Ra.” Zul menjawab lagi sambil masih melihat lekat pada Clara, meski tak digubris.

Clara menghela napas. Pandangannya masih tertuju pada tengah lautan lepas yang berada di depannya. Sulit baginya untuk tetap beradu argument dengan Zul. Pikirannya berkecamuk. Ia mencintai Zul, tapi ia juga mencintai masa depannya. Dan, Zul belum tentu ada di sana.

“Kalo perlu aku dateng ke orangtua kamu, bilang aku mau nikahin kamu.” Zul menegaskan. Walau begitu, tersirat nada suaranya bergetar.

“Aku tak pernah ragu akan keyakinanmu akanku, Zul. Aku.. aku.. aku hanya tak yakin akan diriku sendiri. Aku tak tahu apakah aku menginginkan hal ini, anak ini, dan bersama denganmu.”

Zul bagai tersambar petir mendengar kabar itu. Dadanya sesak, jantungnya serasa berhenti berdetak sepersekian detik sebelum kemudian melemah. Kini, gilirannya yang membuang tatapan jauh ke arah laut lepas.

Hening. Hanya terdengar ombak pecah oleh buritan kapal yang terus melaju di tengah Samudera Hindia.

“Aku kira yang kita jalani selama ini karena cinta. Tapi…” Zul tak melanjutkan kata-katanya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi.

“I never said that I love you, even I do need you.” Clara mundur. Menjauhi Zul yang masih terdiam memandang lautan lepas. Butiran perasaan jiwa tak terasa mulai membasahi kedua belah pipi Clara.

Dalam buramnya lampu buritan kapal, Clara pergi. Meninggalkan Zul yang bertemani sepi. Kembali ke kamar, merapikan hatinya dan menantang asanya kembali.

short story #1: Karena Aku Sayang Kamu

“I’m getting married.” ucap Jane. Datar. Singkat.

Tengku menghisap rokoknya dalam-dalam. Ia memalingkan mukanya dari
arah Jane, kemudian menghembuskan asapnya. Ia tahu Jane tak menyukai
asap rokok, rokok, apalagi perokok! Tapi kali ini, Tengku harus
merokok. HARUS!

“Aku udah tau sejak 3 hari yang lalu.”

“Dari mana kamu tau? Dari Kim?” sergah Jane segera. Terkejut.

“Ga. Aku ya tau aja. Bahkan pas kamu dilamar 3 bulan yang lalu pun,
aku tau.” ucap Tengku sambil mematikan rokoknya di asbak meja.

Jane diam. Ia terheran-heran dari mana Tengku bisa tahu hal-hal itu.
Padahal, ia tak pernah memberitahunya. Tak mungkin juga jika Kim yang
memberitahunya.

“Aku kira, aku temen deket kamu, Jane. Aku kira, kita bisa berbagi
kabar gembira.” ucap Tengku.

“Trus kenapa? Apa karena kamu selalu ada tiap aku butuh, jadi aku
harus ngasitau semua kejadian dalam hidup aku?!” nada suara Jane
meninggi.

Tengku meremas bungkus rokoknya. Ia bimbang antara menyalakan sebatang
lagi, atau tidak.

“Karena aku sayang kamu, Jane. Bahkan lebih dari sayang.” jawab Tengku
sambil berdiri, membuang bungkusan rokoknya ke tempat sampah, dan
mengambil jaketnya di bantalan kursi. Tak lama, ia pun pergi
meninggalkan Jane.