Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

Tak terasa, ternyata saya sudah melewatkan 1 minggu tanpa materi coaching menulis. Wah, saya sangat menyesal! Entah kenapa, saya menghadapi banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan di tanggal yang sama. Tapi, walau demikian mudah-mudahan materi Coaching Menulis ini bisa mengobati rasa kecewa tersebut.

Memulai untuk menulis, bagi kebanyakan orang memang sulit. Tapi kemudian, ketika proses menulis sudah berjalan, bisa jadi orang-orang tersebut tak ingin segera berakhir. Tapi, menulis memang harus berakhir agar didapatkan akhirannya yang tentu akan diteruskan pada proses selanjutnya.

Mencari ide, mengembangkannya, dan kemudian menulis serta mengakhiri dengan membuatnya lebih bermakna dengan bungkus yang sesuai, akan membuat tulisan menjadi lebih sempurna ketika ia diterbitkan. Apapun bentuknya, melalui media massa, media elektronik, ataupun diterbitkan sebagai buku, tentu akan mendatangkan kepuasan tersendiri bagi sang penulis.

Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

Rasa minder seringkali muncul terlebih dahulu ketika kita akan menawarkan tulisan ke penerbit. Takut ditolak, tak percaya diri, ataupun menghindari kata-kata pedas dari penerbit adalah alasan yang seringkali dilontarkan jika tulisan tak kunjung dikirimkan. Padahal, tanpa mengirimkan tulisan ke penerbit, kita takkan pernah tahu seperti apa reaksi penerbit terhadap tulisan kita bukan?

Mengirimkan tulisan ke penerbit, adalah sebuah hal yang wajib dilakukan agar tulisan kita lebih diketahui banyak orang. Apalagi, ketika tulisan tersebut dimuat dalam media massa yang memiliki sebaran luas. Tak ayal jika nantinya tulisan tersebut dibaca oleh banyak orang, tentu akan membuat penulis menjadi selebritis dadakan. Tapi, apa benar seindah itu?

Surat Pengantar

Apa yang perlu dilakukan sebagai awal mengirimkan tulisan ke penerbit? Tentunya mempersiapkan tulisan sebaik-baiknya, seperti yang sudah saya pernah sebutkan di pembungkusan tulisan yang baik. Dengan tampilan yang menarik, tentu staf editor penerbit akan lebih tertarik ketimbang naskah yang tak tampil dengan menarik.

Lalu, apa lagi? Mempersiapkan surat pengantar naskah adalah jawabnya.

Ya, surat pengantar naskah adalah sebuah bantuan kecil sehingga tulisan Anda lebih dilirik. Apa pasal? Ibarat kata pengiriman barang, seorang kurir yang mengirimkan barang tersebut tentu akan lebih menyenangkan pelanggan jika ia santun, menyapa pelanggan dengan baik, serta jasa pengiriman barang yang sempurna tanpa cacat. Nah, surat pengantar naskah adalah ibarat kurir ataupun hal yang akan membuat tulisan kita dianggap lebih sopan.

Seperti apa bentuknya? Yang berikut ini saya harap bisa menjadi contoh surat pengantar yang baik.

Yth. Editor Penerbit ABCD (sebutkan nama penerbitnya)

Perkenalkan, nama saya Billy Koesoemadinata. Bersama dengan surat ini saya kirimkan satu eksemplar naskah tulisan saya yang berjudul “CONTOH” (sebutkan judulnya).

Naskah “CONTOH” ini bergenre fiksi. Sebuah novel yang bercerita mengenai kehidupan seorang pria yang selalu menjadi kelinci percobaan bagi orang lain. Ia menghidupi dirinya dari menjadi objek percobaan dikarenakan ia tak mau ambil pusing terhadap pekerjaan lain. Semuanya berjalan lancar sampai suatu ketika ia dijadikan objek percobaan kedokteran yang mengubah jalan hidupnya.

Mudah-mudahan naskah “CONTOH” ini dapat memenuhi kriteria penerbitan di ABCD. Saya tunggu kabar baiknya.

Terima kasih.

Billy Koesoemadinata

Oke, jadi begitu contoh surat pengantar yang saya berikan. Secara singkat, surat pengantar memuat,

  1. Sapaan terhadap penerbit,
  2. Keterangan singkat mengenai naskah tulisan,
  3. Sinopsis dari naskah tulisan,
  4. Harapan untuk dihubungi kembali.

Surat pengantar yang saya jadikan contoh ini merupakan salah satu contoh. Dan, pada praktiknya lebih banyak lagi surat pengantar yang dapat dibuat atau diberikan kepada penerbit. Umumnya, jika penerbit memang mencari naskah, maka ia pun akan menetapkan kriteria yang diperlukan. Sehingga, hal-hal yang ditulis di surat pengantar pun akan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Bagaimana jika tulisan yang dikirim adalah artikel?

Surat pengantar yang disertakan kepada penerbit ataupun surat kabar dan media massa tetap harus diberikan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa fungsi surat pengantar adalah ibarat seorang kurir yang menyapa pelanggan terlebih dahulu sebelum memberikan barang yang diantarkannya.

Mengirimkan tulisan artikel ke surat kabar ataupun media massa menurut saya justru akan sangat baik jika menyertakan surat pengantar. Kenapa? Karena media massa bersifat mencakup banyak hal yang lebih umum dibanding dengan buku. Segala macam hal dapat tercakup di dalam media massa, dan semua harus bisa dipertanggungjawabkan dengan nama media massa tersebut. Dapat terbayangkan jika media massa menerbitkan sebuah tulisan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka kredibilitasnya akan runtuh dalam seketika.

Komponen surat pengantar ke media massa pun memiliki tambahan dibandingkan surat pengantar untuk naskah buku. Yakni, keterangan mengenai penulis yang lebih lengkap. Contohnya adalah pekerjaan sehari-hari dari penulis yang mengirimkan artikelnya. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi referensi untuk mencari latar belakang tulisan artikel tersebut.

Setelah dikirim, lalu bagaimana?

Menunggu. Itulah hal yang paling pasti dari mengirimkan tulisan ke penerbit ataupun media massa. Menunggu, adalah hal yang memang harus dilakukan ketika kita mengirimkan tulisan ke penerbit maupun media massa. Menunggu kabar diterima akan diterbitkan, atau tidak.

Durasi waktu pemberian kabar apakah naskah tulisan kita akan diterbitkan atau tidak di sebuah penerbit dan media massa tak ada bilangan pasti. Namun, terdapat anggapan umum yang beredar di kalangan penulis dan penerbit, bahwa jika dalam waktu 3 bulan tidak terdengar kabar dari penerbit buku mengenai naskah yang kita kirimkan, maka anggap saja naskah tersebut ditolak.

Sementara itu, untuk kabar pemuatan artikel di media massa, anggapan durasi waktunya lebih singkat lagi. Yakni, jika dalam waktu maksimal 1 bulan tidak ada kabar, berarti tulisan artikel yang dikirimkan telah ditolak. Kenapa saya bilang 1 bulan? Karena terkadang media massa menyimpan beberapa tulisan artikel yang masuk ke mereka, untuk kemudian dianalisa kembali jika masih menjadi tren dalam 1 bulan tersebut. Dan juga, 1 bulan tersebut adalah jangka waktu terlama periode terbit sebuah media massa. Memang, ada pula sebuah media massa yang periode terbitnya lebih dari 1 bulan, akan tetapi sangat jarang sekali akan ada kabar mengenai dimuat atau tidak lewat dari 1 bulan.

Jadi, sudah siap untuk membuat tulisan Anda untuk dikonsumsi pembaca?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Layaknya sebuah perjalanan, sebuah permulaan pastinya akan diakhiri dengan sebuah penghabisan. Begitu pula proses menulis, karena sesuatu yang berawal akan lebih baik jika memiliki sebuah akhir. Namun, akhir sebuah proses menulis merupakan awal yang baru bagi proses selanjutnya.

Menulis, adalah sebuah perjalanan yang melenakan penulisnya sehingga terus membuatnya tetap berkutat dengan tulisannya. Ide dan segala pikiran ditumpahkan ke dalam tulisan agar membuatnya menjadi sebuah mahakarya yang memuaskan. Dan, setelah semuanya selesai tentu langkah yang ingin dilakukan adalah mengirimkannya ke pihak yang bisa membuat tulisan kita dibaca oleh banyak orang. Benarkah begitu? Hmm.. tentu tidak. Karena ada sebuah tahapan kecil yang akan lebih menyempurnakan tulisan kita tersebut.

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Pada materi coaching kali ini, saya akan menganalogikan penulis sebagai seorang juru masak. Profesi yang berkaitan dengan makanan serta selera tersebut, memiliki beragam tahapan serta kemahiran dalam memasak dan menghasilkan masakan makanan bagi para penikmatnya. Nah, tulisan tentunya adalah masakan makanan tersebut.

Bagi seorang juru masak pemula, memasak makanan adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Jangankan menyajikan masakan, mendapatkan bumbu-bumbu yang tepat dan ideal tak semudah yang dibayangkan. Namun, dengan latihan dan juga percobaan yang terus dilakukan tentu akan membuat keahlian semakin terasah dan juga kemampuan semakin jitu.

Juru masak yang baik tentunya akan menikmati setiap proses yang terjadi dalam menghasilkan masakannya. Setiap detil dan juga perlengkapan yang diperlukan akan diperlakukan dengan baik agar terciptanya sebuah kesempurnaan. Dan, setelah proses memasak hampir selesai, penyajian yang tepat adalah sebuah keharusan. Itulah mengapa coaching kali ini saya mengambil tema ‘Bungkus!’.

Sajian Terpilih

Pernahkah Anda menikmati masakan makanan di sebuah restoran berkelas yang makanannya kebanyakan adalah khas benua lain dan dibandrol dengan harga yang tinggi? Bagi yang belum, tidak mengapa. Karena sebenarnya yang berada di sana adalah masakan makanan yang rasanya nikmat dengan sajian yang menarik sehingga harga yang selangit pun layak untuknya.

Lalu, pernahkah Anda menikmati masakan makanan di pedagang kaki lima pinggiran jalan dengan gerobak, dipikul, atau mungkin di kios-kios kecil? Harganya umumnya terjangkau dengan variasi makanan yang tersaji secara umum namun memiliki rasa yang berbeda-beda di setiap penjualnya, yang bisa jadi tidak berbeda jauh dari restoran berkelas yang saya sebutkan sebelumnya.

Nah, sekarang seperti ini. Andaikata di depan Anda terdapat sebuah piring berisikan dua buah makanan yang masing-masing berasal dari restoran berkelas dan kaki lima. Mana yang akan dipilih pertama kali untuk dicicipi? Bagi kebanyakan orang pasti akan memilih makanan dari restoran berkelas. Alasannya beragam, mulai dari harga yang mahal, bahan yang berbeda, rasa yang (bisa jadi) lebih baik, hingga kualitas pembuatnya yang baik atau tampilannya yang menarik. Apapun, yang menentukan makanan tersebut terlihat lebih baik tentunya adalah cara penyajian yang menarik oleh sang juru masak.

Membungkus Tulisan

Tulisan selayak masakan yang diracik oleh juru masak, tentunya memerlukan penyajian yang menarik agar menjadi pilihan penikmatnya. Dengan mengesampingkan nama penulis – yang belum tentu banyak dikenal orang, sebuah tulisan dengan tampilan yang menarik akan lebih mudah untuk disebarkan ke khalayak ramai melalui media publikasi.

Salah satu langkah untuk mengawali pembungkusan tulisan, adalah dengan mengedit sendiri tulisan tersebut seperti yang telah saya sebutkan di materi coaching sebelumnya mengenai Self Editing. Nah, langkah selanjutnya setelah awalan tersebut, adalah dengan membuat tulisan kita menjadi lebih menarik dari sisi tampilan.

Tenang, saya tidak akan menyuruh untuk menambahkan gambar-gambar kartun di sekeliling tulisan – pada bagian kosong kertas, ataupun memilih kertas berwarna menarik dengan aroma menggoda selera. Bukan, bukan begitu. Tapi lebih ke sisi teknis penyajian tulisan agar tepat tujuan.

Lengkapi

Apa saja yang perlu dilengkapi agar penyajian terlihat lebih sempurna? Apakah setelah selesai menulis lalu langsung diprint begitu saja setelah melalui self editing? Jawabnya akan ditemukan di pembahasan berikut ini.

Data diri. Informasi berupa nama lengkap, serta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi adalah data yang perlu dilengkapi ke dalam tulisan yang telah selesai ditulis. Tanpa informasi ini, pihak yang akan menerbitkan tulisan kita tentu akan kesulitan untuk menghubungi kita.

Nomor halaman. Untuk sebagian orang, penomoran halaman di kertas seringkali terlewatkan karena tak dianggap penting. Padahal, untuk memudahkan pembacaan bagi pihak yang akan kita kirimkan untuk menerbitkan, nomor halaman ini menjadi penting, dan terkadang menjadi poin lebih tentang keseriusan dan ketelitian.

Judul dan kata-kata deskripsi. Pemilihan kata yang tepat untuk tulisan kita, ibarat penunjuk seberapa menarikkah tulisan kita. Dengan kata yang tepat, tentunya pembaca akan lebih tertarik untuk membaca tulisan kita secara menyeluruh dibandingkan dengan judul yang tak menarik. Dan terkadang, judul dan kata-kata deskripsi harus bersifat kontradiktif, aktual, serta fantastis.

Jarak baris atau paragraf. Tak dapat dipungkiri sebuah tulisan yang baik umumnya adalah tulisan yang memudahkan untuk dibaca. Bayangkan jika terdapat sebuah tulisan hanya merupakan tulisan yang ditimpa berkali-kali di baris yang sama, atau jarak antar baris dan paragrafnya terlalu erat. Sudah tentu pembaca pun akan kesulitan membaca tulisan tersebut.

Ukuran kertas. Selayak membuat makalah ataupun skripsi, ukuran kertas menjadi hal yang cukup vital dalam menyajikan tulisan. Ukuran kertas yang salah, selain dapat menyulitkan untuk proses printing, juga akan membuat pihak penerbit akan kesulitan untuk membaca tulisan kita. Bayangkan saja jika tulisan yang sedianya akan diterbitkan dalam bentuk halaman A4, harus diskalakan menjadi kertas yang berukuran seperempatnya.

Jilid. Hal ini tak menjadi sebuah kewajiban, akan tetapi akan lebih baik jika tulisan kita yang jumlahnya hingga berpuluh-puluh lembaran bersatu dalam sebuah jilid. Selain memudahkan dibaca oleh pihak penerbit, jilid pun akan membantu agar naskah tulisan kita tetap utuh di dalam amplop atau map untuk mengirimkannya.

Hal-hal kelengkapan yang telah saya sebutkan di atas bisa jadi sepele karena seiring penulisan pun seharusnya mereka langsung disusun. Akan tetapi, meremehkan detil-detil kecil bisa menjadi sebuah kesalahan besar di kemudian hari jika tidak diperhitungkan. Jadi, ada baiknya jika berwaspada dan bersiaga daripada menyesal di kemudian hari.

Jadi, seperti apa pembungkusan tulisan Anda? Apa bisa jadi sajian terpilih?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #010: Self Editing

Sudah berapa banyak tulisan Anda? Sudah seberapa jauhkah pengembangan ide dasar Anda dalam tulisan? Sudah berkembang menjadi berapa bab, sub bab, halaman, atau sudah menjadi berapa ribu karakter dan kata?

Tak ada patokan yang tepat mengenai berapa angka yang harus dicapai untuk sebuah tulisan. Karena, sebuah tulisan adalah sebuah produk yang dibuat oleh penulisnya untuk menjadi sebuah maha karya, yang tentunya bergantung kepada pemahaman masing-masing akan sebuah kesempurnaan. Tapi, sebelum mencapai penyelesaian, terdapat satu hal yang tak boleh terlewatkan. Yakni, proses self editing yang mencakup banyak hal.

Coaching Menulis #010: Self Editing

Self editing, atau dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata sebagai penyuntingan mandiri, adalah sebuah proses dalam penulisan yang harus dilakukan untuk membuat produk tulisan yang dikerjakan menjadi lebih baik. Mengapa? Karena self editing mencakup banyak sekali hal yang akan membuat tulisan menjadi lebih baik.

Apakah proses ini benar-benar perlu dilakukan? Tentu saja perlu. Tapi apakah harus dilakukan? Tidak harus, namun akan lebih baik jika dilaksanakan. Lalu, bagaimana? Nah, mari simak lebih lanjut.

Menyadari Kekurangan/Kesalahan

Coba hitung, sudah berapa lamakah dari pertama kali mendapatkan ide dan kemudian melanjutkannya menjadi sebuah tulisan, hingga saat ini? Kurang lebih sudah mencapai 2 bulan lebih bukan? Pernahkah disadari, bahwa sepanjang waktu tersebut, kita sebagai penulis sudah menjadi sangat dekat dengan tulisan yang kita buat?

Saya bersimpati terhadap Anda yang tidak menyadarinya. Kenapa? Karena itu artinya Anda sudah dikuasai oleh tulisan tersebut, dan bukannya menguasai tulisan tersebut. Karena itu artinya Anda buta akan beberapa kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam tulisan tersebut. Padahal, sebuah penulis yang baik adalah penulis yang mampu memperbaiki kesalahannya.

Setiap penulis, sebanyak apapun pengalamannya, ketika ia membuat sebuah tulisan, ia akan membuat kesalahan ataupun kekurangan entah itu banyak atau sedikit. Dan, untuk menyadari hal itu, diperlukanlah proses self editing. Karena dengan proses tersebut, kita akan menjadi lebih sigap dan dapat membuat tulisan kita menjadi lebih baik.

Endapkan

Langkah utama yang harus dilakukan ketika menjalankan proses self editing adalah mengendapkan tulisan kita. Selesai ataupun tidak, banyak atau sedikit, endapkanlah tulisan kita. Langkah ini amat sangat dianjurkan untuk dilakukan dalam self editing, karena ketika tulisan diendapkan akan memicu hal-hal lain yang dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahan dalam tulisan kita.

Tempo yang tepat untuk mengendapkan tulisan, adalah kurang lebih selama seminggu. Kenapa seminggu? Menurut Nick Daws – seorang penulis potensial Inggris, dalam waktu seminggu itu pikiran kita akan menjadi lebih fresh karena terlepas dari tulisan yang sedang dibuat. Dalam waktu seminggu itu, pandangan kita akan menjadi berbeda dibanding saat masih melekat dengan mengerjakan tulisan tersebut.

Seminggu terdiri dari 7 hari, Senin hingga Minggu yang dapat menjadi siklus istirahat bagi fisik dan juga pikiran kita setelah menulis secara marathon. Dan, selama seminggu itu pastikanlah tulisan yang diendapkan tersebut tak dibuka, diutak-atik, dibaca, ataupun dipikirkan sama sekali dalam kepala. Karena ini dimaksudkan untuk membuat pikiran kita dapat melihat berbagai hal dan juga ide-ide baru yang membuatnya menjadi tetap segar dan dinamis.

Jika waktu seminggu dirasakan terlalu lama untuk mengendapkan tulisan atau sedang dikejar-kejar jadwal tenggat, maka setidaknya sekurangnya satu hari atau 24 jam biarkan tulisan tersebut mengendap. Jangan dibuka, jangan dibaca, jangan diutak-atik, jangan dipikirkan. Pastikan sekurangnya 24 jam tanpa tulisan tersebut jika seminggu tak dapat dilakukan.

Pikiran yang segar dengan pandangan yang baru akan membuat kesalahan dan juga kekurangan dalam tulisan yang sudah dibuat akan mudah ditemukan dan juga diperbaiki. Jikalaupun tidak memperbaiki tulisan, setidaknya akan tercipta paradigma baru akan tulisan yang sudah dibuat tersebut, entah itu mengenai alur, amanat, ataupun latar dari tulisan tersebut.

Tambah Kurang

Salah satu hal yang seringkali terjadi ketika melakukan self editing adalah menambah dan atau mengurangi tulisan. Hal ini dapat terjadi karena ide-ide segar yang masuk setelah mengendapkan tulisan selama beberapa waktu.

Kejadian ini jangan dikhawatirkan akan mengubah tujuan utama penulisan, namun jadikanlah hal ini sebagai masukan agar tulisan menjadi lebih kaya. Akan tetapi, jika terlalu takut akan mengubah tulisan secara keseluruhan, maka sebelum mengerjakan self editing, maka buatlah salinan dari tulisan asli yang belum diproses self editing.

Proses penambahan dan pengurangan yang terjadi karena self editing pada tulisan bukan hanya terletak pada konteks isi dan juga materi tulisan. Hal yang harus dicermati antara lain juga pada tanda baca, jarak antar paragraf, serta jeda antar pokok bahasan. Ini dimaksudkan agar pembaca dapat membaca tulisan kita dengan lebih nyaman dan dapat memuaskan.

Bagi Dan Ulangi

Beberapa orang mungkin menanyakan hal berikut, “Bagaimana jika tulisan yang sudah dibuat memuat ratusan halaman dan puluhan bab? Apakah self editing tetap perlu dilakukan?”

Jawab saya adalah, “Tentu perlu. Justru jika semakin banyak jumlah dalam tulisannya, self editing semakin perlu dilakukan sebelum kemudian dianggap selesai. Karena semakin banyak tulisan yang telah dibuat, kemungkinan menemukan kesalahan dan kekurangan dalam tulisan akan semakin besar. Apalagi jika tulisan telah dibuat sejak beberapa bulan yang lalu, atau bahkan tahunan.”

Untuk mempermudah melakukan self editing terhadap tulisan yang berjumlah besar, dan tak ingin lagi membuang banyak waktu karena sudah banyak waktu yang dikeluarkan untuk menulisnya, maka langkah yang paling efektif adalah dengan membagi bagian-bagian yang akan diedit.

Bab-bab serta sub-sub yang terjadi, merupakan bagian-bagian yang dapat dipecah-pecah untuk memudahkan self editing. Strukturnya yang merupakan satu kesatuan pembahasan akan mempermudah self editing.

Lalu, setelah dibagi apakah selesai? Tentu belum. Karena langkah terakhir di saat melakukan self editing adalah dengan mengulang membaca hasil sunting (editing) yang telah dilakukan. Dengan mengulang, kita akan mengetahui secara lebih tepat apa yang sudah dilakukan, apalagi jika dengan membandingkan dengan tulisan sebelumnya.

Jadi, apa guna self editing sesungguhnya?

Self editing sesungguhnya berguna sebagai mekanisme pengendalian kesalahan yang dapat terjadi dalam tulisan kita sebelum kita memutuskan untuk memberikannya pada penerbit, surat kabar, ataupun memublikasikannya secara mandiri melalui blogs, milis, dan lain-lain. Self editing terutama sangat berguna untuk membuat tulisan kita bukan hasil produk yang serampangan dibuat agar selesai, dan tentunya akan membuat tulisan menjadi lebih sempurna.

Jadi, sudah siap untuk mengedit secara mandiri tulisan Anda?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

The Journey, vol.14: The End?

Hei readers, I’m turning down the following stories in The Journey’s volumes. The reason is, I haven’t got any more powers to write down the stories, since the real thing has happened months ago. And yet, I’m in the mood for sharing another things than stories in The Journey’s volumes.

But then, this ‘incident’ would be a temporary. And, in the future there’s a possibilities that I would make any stories in The Journey’s volume, but in a different type, a different point of view, and a different stories – of course.

All of this stuff is another way from myself to make my site would be better and would more represents my ideas, my life, and myself – certainly. And, I do need your support to make all of this happens.

Anyway, this is also on the spirit of my renewal, on a new year of 2010, welcoming the new decades on 3rd millenium ages. And therefore, changes are needed to make things still going and running.

So, don’t go away to far. Because, I’m gonna make this site more livable. 😉

Coaching Menulis #009: Diksi ~ Pemilihan Kata

Pertama-tama, saya mau mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2010. Semoga di tahun yang baru ini, kita semua dilimpahkan rezeki, kebaikan dan segala perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan selanjutnya, silakan menikmati lanjutan coaching menulis. 😉

Mulutmu, harimaumu. Idiom yang merupakan warisan budaya tersebut, kurang lebih berarti apa yang kita ucapkan adalah hal-hal yang bisa jadi merupakan tanda-tanda karakter kita. Selain itu, idiom tersebut juga dapat diartikan bahwa kita harus lebih berhati-hati dalam melontarkan perkataan dari mulut kita, karena setiap perkataan tersebut dapat memberikan kesan yang berbeda kepada orang yang mendengarnya, dan dapat pula dibalikkan kepada kita sendiri.

Idiom yang hampir serupa juga bisa diaplikasikan pada penulisan. Namun, bukan lontaran perkataan dari mulut, melainkan lontaran kata-kata dalam tulisan. Dengan kata lain, tulisanmu, harimaumu.

Coaching Menulis #009: Diksi ~ Pemilihan Kata

Apa yang menjadi unsur sebuah tulisan, tak jarang membuat perbedaan persepsi setiap orang yang membacanya. Layaknya perkataan dari mulut, kata-kata yang termuat dalam tulisan tak selalu diartikan sama sehingga setiap orang belum tentu sama-sama mengerti. Perbedaan persepsi tersebut dapat membuat tulisan kita menjadi “harimau” kita di hari ini, ataupun nanti.

Salah satu contoh perbedaan persepsi yang timbul adalah kasus yang sedang hangat belakangan ini. Ya, kasus Prita vs. Omni yang berawal dari surat elektronik yang ditulis oleh Prita, dan kemudian berkembang hingga mencakup banyak hal. Selain kemudian berkembang di pengadilan, kasus ini pun mendapat perhatian dunia maya melalui komunitas blogger yang memiliki kekuatan kata-kata di blog masing-masing. Singkat kata, kasus inilah bukti nyata akan kekuatan kata-kata dan juga persepsi.

Memilih Kata, Mengikuti Gaya Bahasa

Di kesempatan yang terdahulu, saya sempat memberitahukan mengenai gaya bahasa yang dapat digunakan dalam tulisan. Contoh gaya bahasa yang paling kentara adalah harian Kompas, dan majalah Tempo. Kedua media yang menjadi tolak ukur berita nasional tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok dalam hal penulisan. Dan, tak hanya gaya bahasa, tapi juga tercermin pada pemilihan kata yang berada di setiap tulisannya.

Kompas, yang memiliki gaya bahasa cergas, aktual dan meliputi segala aspek, umumnya menggunakan kata-kata yang mudah dicerna sehingga tak menimbulkan makna ganda. Pemilihan kata tersebut dimaksudkan untuk memperkuat karakter harian tersebut yang dapat dijangkau segala lapisan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berguna.

Lalu bagaimana dengan Tempo? Majalah berita mingguan tersebut juga memiliki pemilihan kata tersendiri sesuai dengan gaya bahasa satir, berironi dan tepat pada sasaran. Beberapa kata yang sering digunakan oleh Tempo adalah kata-kata yang dapat memunculkan pro-kontra dalam masyarakat, namun dilengkapi dengan ulasan yang mendalam.

Pemilihan kata yang disesuaikan dengan karakter atau gaya bahasa yang digunakan tersebut, tak ayal menjadi hal yang penting dalam penulisan. Memilih kata yang tepat, selain dapat menggambarkan ide yang ingin disampaikan dengan cermat, juga membuat karakter penulis pun tertuang dalam tulisan dan terbangun dengan sendirinya.

Diksi dan Persepsi

Proses pemilihan kata yang tepat sesuai dengan keinginan memang tidak mudah, apalagi jika kemudian dimaksudkan untuk membangun persepsi dari para pembacanya. Namun, tak mudah bukan berarti tak bisa dilakukan. Karena membangun persepsi pembaca tulisan kita, adalah semudah kita menulis kata-kata yang kemudian menjadi kalimat, lalu tersusun menjadi paragraf, dan berakhir menjadi sebuah tulisan lengkap.

Tanpa kita ketahui, setiap kata memiliki karakter masing-masing. Setiap kata tersebut secara tak terlihat, dapat menciptakan persepsi yang berbeda pada setiap orang yang membacanya jika pemilihannya tidak tepat. Oleh karena itulah pengetahuan akan diksi menjadi cukup penting agar persepsi pembaca sesuai dengan yang diharapkan oleh penulisnya.

Salah satu cara yang paling ampuh agar tepat menggunakan kata ataupun diksi, adalah dengan sering berlatih membaca dan menulis. Proses tersebut adalah untuk mengetahui persepsi yang ditangkap dari setiap tulisan yang tersedia, serta sekaligus mencoba menuliskannya kembali dengan cara berbeda agar menciptakan persepsi yang berbeda dengan semula.

Latihan: Persepsi

Kali ini, saya akan mencoba memberikan latihan untuk membuat persepsi secara berbeda dengan dua cara. Cara yang pertama, adalah dengan memberi contoh. Cara yang kedua, adalah dengan memberi tugas. Tak perlu susah-susah, cukup dengan satu-dua kalimat saja.

Cara pertama,

Berikut contoh judul sebuah artikel yang saya buat secara fiktif.

“Kebakaran Di Pemukiman Padat, Disinyalir Akibat Kebocoran Gas”

Apa persepsi yang timbul dari kalimat judul tersebut? Saya pribadi, memiliki persepsi sebagai berikut: diduga akibat kebocoran gas yang belum diketahui asalnya, daerah pemukiman padat mengalami kebakaran.

Singkat dan jelas. Judul tersebut umumnya memang ditujukan untuk memberikan persepsi yang secara langsung menjelaskan berita yang terjadi. Tak lain, pemilihan kata-katanya pun menghindari yang dapat memberikan makna ganda.

Nah, sekarang mari kita utak-atik pemilihan kata yang masih berkaitan dengan contoh judul tersebut sehingga memberikan persepsi yang berbeda. Dan, berikut hasilnya.

“Gara-gara Gas Bocor, Pemukiman Kebakaran”

Sekilas, informasi yang disampaikan oleh judul kedua tersebut serupa dengan informasi yang diberikan oleh judul pertama. Tapi, menurut saya persepsi yang timbul berbeda, yakni: sebuah area pemukiman dilanda kebakaran karena kebocoran gas.

Pada judul yang kedua ini kebocoran gas bukan lagi sebuah dugaan, melainkan kepastian yang tak terbantahkan. Meskipun belum diketahui urutan kejadian yang lengkap mengenai kebakaran, namun dengan judul demikian sudah dipastikan bahwa gas adalah biang keladi dari kebakaran. Selain itu, peristiwa kebakaran yang timbul bukan di pemukiman padat penduduk, melainkan hanya di “sebuah pemukiman” yang belum tentu padat penduduknya.

Nah, bagaimana? Sekarang mari kita lakukan cara kedua. Carilah judul atau kalimat yang bisa dijumpai di mana saja, lalu artikan persepsi yang dibangun. Setelah itu, ubah judul atau kalimat tersebut, sehingga persepsinya pun berbeda. Saya tunggu via email ya.. – mau bertanya lebih lanjut mengenai persepsi dan diksi juga bisa, koq!

Updated (4 Januari 2009): Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.