Month: January 2010

Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

Tak terasa, ternyata saya sudah melewatkan 1 minggu tanpa materi coaching menulis. Wah, saya sangat menyesal! Entah kenapa, saya menghadapi banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan di tanggal yang sama. Tapi, walau demikian mudah-mudahan materi Coaching Menulis ini bisa mengobati rasa kecewa tersebut. Memulai untuk menulis, bagi kebanyakan orang memang sulit. Tapi kemudian, ketika proses

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Layaknya sebuah perjalanan, sebuah permulaan pastinya akan diakhiri dengan sebuah penghabisan. Begitu pula proses menulis, karena sesuatu yang berawal akan lebih baik jika memiliki sebuah akhir. Namun, akhir sebuah proses menulis merupakan awal yang baru bagi proses selanjutnya. Menulis, adalah sebuah perjalanan yang melenakan penulisnya sehingga terus membuatnya tetap berkutat dengan tulisannya. Ide dan segala

Coaching Menulis #010: Self Editing

Sudah berapa banyak tulisan Anda? Sudah seberapa jauhkah pengembangan ide dasar Anda dalam tulisan? Sudah berkembang menjadi berapa bab, sub bab, halaman, atau sudah menjadi berapa ribu karakter dan kata? Tak ada patokan yang tepat mengenai berapa angka yang harus dicapai untuk sebuah tulisan. Karena, sebuah tulisan adalah sebuah produk yang dibuat oleh penulisnya untuk

The Journey, vol.14: The End?

Hei readers, I’m turning down the following stories in The Journey’s volumes. The reason is, I haven’t got any more powers to write down the stories, since the real thing has happened months ago. And yet, I’m in the mood for sharing another things than stories in The Journey’s volumes. But then, this ‘incident’ would

Coaching Menulis #009: Diksi ~ Pemilihan Kata

Pertama-tama, saya mau mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2010. Semoga di tahun yang baru ini, kita semua dilimpahkan rezeki, kebaikan dan segala perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan selanjutnya, silakan menikmati lanjutan coaching menulis. 😉 Mulutmu, harimaumu. Idiom yang merupakan warisan budaya tersebut, kurang lebih berarti apa yang kita ucapkan adalah hal-hal yang bisa jadi