Coaching Menulis #008: Pancing!

Struktur penulisan sebuah buku umumnya terdiri dari bab-bab, subbab, dan juga seksi dari setiap buku. Bagi buku fiksi, umumnya pembagian struktur tersebut cukup sampai dengan bab yang direpresentasikan dengan penomoran atau juga disertai dengan judul bab. Tapi, berbeda dengan buku non-fiksi, struktur bisa terdiri menjadi sub-sub yang lebih kecil daripada subbab dan seksi.

Coaching Menulis #008: Pancing!

Tema coaching menulis kali ini cukup persuasif. Bagi beberapa orang yang tak menyimak ataupun tidak teliti dalam membaca isi yang akan diungkapkan berikut ini, mungkin akan menganggap coaching menulis kali ini mengandung makna yang tak berkaitan sama sekali dengan penulisan. Padahal, pada praktiknya tentulah berkaitan. Yuk, disimak.

Sebelum melangkah lebih jauh, coba jawab pertanyaan berikut,

“Apa kunci utama sebuah buku yang bisa membuat pembaca tetap mau membacanya hingga halaman terakhir?”

Jawaban yang muncul tentu bervariatif, dan beberapa di antaranya akan saya tuliskan di bawah ini.

–         Faktor penulis yang sudah terkenal.

–         Topik yang menarik dan berbeda dengan kebanyakan tipikal, termasuk yang fantastis atau mengungkap hal tabu.

–         Topik yang “gue banget” dan bisa dijumpai sehari-hari.

–         Topik yang sedang hangat dibahas dan sedang hype.

–         Mengenai tokoh terkenal atau persoalan sosial.

Kelima jawaban itu adalah yang seringkali saya temukan untuk alasan seseorang tetap bertahan hingga halaman terakhir ketika membaca sebuah buku, ataupun hingga kata terakhir dalam sebuah tulisan. Dan, kelima jawaban itu merupakan hal yang masuk akal karena penerbit pun tentunya mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.

Seorang penulis yang sudah punya nama, entah itu sering mengirim cerpen hingga dimuat di surat kabar, ataupun surat pembaca maupun artikelnya sempat dimuat tentu akan memiliki sebuah kelebihan. Begitu pula penulis yang memiliki akses terhadap milis-milis penerbit buku.

Topik yang berbeda jauh dengan kehidupan sehari-hari, entah itu kehidupan fantasi maupun juga khayalan dapat membuat pembaca buku menjadi betah untuk mengikuti alur tulisan. Dongeng, fiksi ilmiah, hingga pembahasan ilmiah secara sederhana tentu termasuk dalam kategori ini.

Berlaku juga sebaliknya. Topik yang menyangkut kehidupan sehari-hari, atau dengan kata lain “gue banget” juga ternyata bisa membuat setiap pembacanya betah hingga halaman atau tulisan terakhir. Kenapa? Karena tentunya akan lebih masuk akal, dan biasanya lebih mudah dicerna.

Apalagi jika topik yang diangkat adalah mengenai tokoh-tokoh terkenal ataupun masalah sosial yang sedang dihadapi bersama-sama. Contoh, buku mengenai biografi Michael Jackson, Presiden Soeharto, Presiden John F. Kennedy, dan masih banyak lagi. Setiap buku-buku tersebut selain dapat disajikan secara non-fiksi dengan segala fakta, juga dapat disajikan dalam bentuk novel sejarah yang ditambahi bumbu-bumbu fiksi.

Membuat Pancingan

Kelima alasan di atas adalah sebuah hal yang tak dapat dipungkiri adalah kenyataan yang ditemui pada judul-judul buku di toko buku. Hal serupa juga pernah saya ungkit pada coaching menulis #005, yakni mengenai pasar dan topik yang sedang hangat. Nah, jikalau lima alasan tersebut tidak berlaku pada Anda ataupun tulisan yang sedang dikerjakan saat ini, masih ada cara lain yang efektif supaya pembaca tetap setia hingga halaman terakhir.

Memancing pembaca adalah cara tersebut. Ya, memancing. Kenapa? Karena kita ibarat seorang pemancing, dan pembaca kita adalah ibarat ikan yang harus kita berikan umpan agar dia tetap bertahan dan penasaran. Dan memancing, diperlukan kesabaran dan juga ketekunan.

Setiap tulisan tentu bisa dibuatkan pancingannya agar pembaca tetap memperhatikan isi tulisan penulisnya. Pancingan tersebut tentunya akan lebih efektif jika umpan yang diberikan benar-benar berkualitas, menarik, ataupun memiliki diferensiasi yang tidak umum. Kesemua hal tersebut dimaksudkan agar sekali pancing langsung mengena kepada pembaca. Karena pembaca tentu sudah semakin cerdas.

Variatif

Layaknya pancingan yang benar-benar ada untuk memancing ikan, pancingan pada sebuah tulisan pun bervariasi. Baik itu bentuk, ukuran panjang-pendek, maupun isi yang terkandung di dalamnya. Namun, apapun pancingannya yang paling tepat adalah mengefektifkan dan mengoptimalkan pancingan tersebut.

Pancingan tersebut dapat hadir dalam bentuk kalimat, penggunaan kata-kata, bentuk atau struktur bahasa, hingga pemilihan kata terakhir dalam sebuah bab. Yang terpenting adalah, sasaran pancingan tersebut jangan sampai salah!

Ingin tahu lebih lengkap mengenai pancingan? Silakan kirim email ke saya. (naga_tasik@yahoo.com)

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Jum’at kemarin adalah hari libur. Dan, karena hari libur itulah sebuah kebetulan terjadi. Yakni, saya tak dapat terhubung dengan koneksi internet sehingga tidak bisa memberikan materi coaching. Bagi para pembaca sekalian, saya meminta maaf atas kesalahan tersebut, dan berikut ini adalah materi coaching lanjutan yang saya muat di blogs ini. Selamat membaca!

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Dunia adalah tempat yang sangat besar dan benar-benar besar. Besar di sini, tak hanya persoalan ukuran, tapi juga tentang apa pun yang terkandung di dalamnya. Dunia mencakup milyaran orang dengan berkali-kali lipat permasalahannya, serta berkali-kali pula kemungkinan terjadinya. Jadi, dunia adalah sebuah hal yang sangat kompleks, rumit.

Itulah sebabnya banyak orang tak dapat mengerti dunia. Sebuah lagu bahkan menyebutkan bahwa dunia itu adalah panggung sandiwara, tempat manusia melakukan sebuah drama atau lakon yang telah ditetapkan Sang Sutradara Kehidupan, Tuhan YME. Dan berangkat dari konsep itulah, sebagian orang pun cerdas menangkap situasi, kejadian, momen dan peristiwa untuk kemudian disarikan ke dalam bentuk bacaan untuk dibagikan kepada khalayak ramai.

Tulisan, yang juga sering hadir dalam bentuk artikel, cerita, novel, hingga roman adalah bentuk bacaan dari rumitnya kehidupan di dunia yang ditangkap secara cerdas oleh penulisnya untuk dibagikan. Dengan kelihaian yang cukup mumpuni, penulis memiliki kemampuan untuk mencermati setiap jengkal kejadian untuk kemudian disarikan ke dalam tulisan. Tapi, bagaimanakah bentuk yang tepat?

The Right Shape

Beberapa orang menganggap bentuk yang tepat adalah tulisan yang sesuai dengan keinginan mereka. Bagi orang-orang demikian, menulis adalah hak prerogatif yang tak dapat diganggu gugat dan dilindungi oleh lisensia puitika. Sehingga produk akhir dari proses menulis adalah tulisan yang benar-benar mencerminkan apa yang diinginkan oleh sang penulis. Sebuah mahakarya yang dipenuhi oleh ego sang pencipta.

Biasanya produk tulisan yang dibuat dengan ego penulis, akan mengabaikan hal-hal yang berada di luar lingkungan penulis. Ia akan mengabaikan pendapat, masukan, dan bahkan cek silang. Ia akan memasukkan setiap sumber daya yang dimilikinya ke dalam tulisan tersebut. Mengagumkan memang akan kesungguhan penulis untuk membuat produk yang benar-benar mencerminkan dirinya, tapi pada praktiknya hal demikian belum tentu produk yang tepat.

Lalu seperti apa?

Sebuah produk tulisan yang tepat, adalah sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembacanya. Lagi-lagi saya mengatakan, layaknya sebuah produk usaha, tulisan yang tepat adalah tulisan yang dapat dicerna dan “dikonsumsi” oleh pembacanya. Intinya, sebuah tulisan yang mengerti akan pembacanya.

Simplify

Seperti sudah dimuat di awal tulisan, dunia adalah sesuatu yang sangat besar. Kompleks dan rumit. Sehingga penduduk dunia pastinya ingin sesuatu yang tak juga ikut-ikutan kompleks atau rumit untuk dikonsumsi. Sebuah pandangan kebalikan yang merupakan solusi dari kehidupan sehari-hari. Dan, sudah tentu jawabnya adalah kebalikan kerumitan, yakni kesederhanaan.

Hal-hal yang sederhana tanpa disadari telah menjadi sebuah primadona yang begitu menggelegar dalam dunia penulisan serta penerbitan. Buku-buku ‘how to’ serta ‘cara praktis’ untuk buku-buku kategori non-fiksi adalah buktinya. Kategori fiksi pun tak mau kalah, buku-buku teenlit maupun chiclit adalah contoh buktinya. Dengan memandang secara menyeluruh, setiap buku tersebut adalah buku-buku yang disajikan secara sederhana untuk para pembacanya.

Kesederhanaan dalam tulisan di buku dapat tercermin dalam beberapa hal. Mulai dari pemilihan kata, penulisan kalimat, hingga struktur paragraf, bab, dan alur tulisan itu sendiri. Dengan kesederhanaan itu, tak hanya pembaca saja yang diberikan kepuasan karena lebih mudah mengerti akan tulisan, kita sebagai penulis pun juga akan menjalani proses penulisan yang lebih mudah.

Intinya, dengan menyajikan kesederhanaan, tulisan pun akan lebih mudah dikerjakan sesuai dengan outline atau kerangka yang dibangun dari ide dasar. Dan, kesederhanaan umumnya dipilih oleh pembaca yang merupakan konsumen kita.

Jadi, bagaimana tulisan kamu?

Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Apa yang membedakan sebuah tulisan dengan tulisan lainnya? Apa yang membedakan sebuah novel dengan novel lainnya? Apa yang menjadi diferensiasi dari seorang penulis dengan penulis lainnya? Apa yang membuat sebuah media tetap bertahan dengan tulisan-tulisan di dalamnya? Jawabnya mudah, yaitu gaya bahasa/tutur.

Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Tahu perbedaan Kompas dan Tempo? Kedua media nasional yang masing-masing menjadi pemimpin di jenisnya (surat kabar dan majalah), memiliki ciri khas tersendiri yang terus menjadi pakem yang menjadikannya berbeda dengan media lain yang sejenis dan bergerak di jenis yang serupa.

Kompas memiliki pembeda berupa gaya bahasa/tutur yang cergas, aktual, dan melingkupi hampir segala aspek. Ia memiliki beragam sudut pandang yang dapat digunakan sebagai latar tulisan-tulisannya. Sehingga, Kompas pun didaulat sebagai media yang dapat menjangkau segala pihak dan golongan.

Lalu bagaimana dengan Tempo? Media majalah mingguan yang merupakan perpanjangan dari Goenawan Mohammad ini, memiliki karakter yang bernada satir, terkadang berironi, namun tepat pada sasaran. Sudut pandang yang menjadi latar belakang tulisannya secara ajaib memiliki keseragaman, meskipun setiap penulisnya berbeda-beda, baik itu pendidikan, suku, hingga jenis kelamin dan agama. Kekuatan itulah yang membuat Tempo tetap bertahan dan melaju meskipun berkali-kali dilanda gugatan hukum.

Gaya bahasa/tutur dalam sebuah tulisan adalah sebuah karakter dari tulisan itu sendiri, dan juga merupakan penjelmaan dari sang penulisnya. Hal ini dimungkinkan karena setiap penulis memiliki karakter yang tidaklah sama, tidak identik, namun terkadang jika bidang yang digeluti sudah sama, maka keseragaman dan kekompakan pun tercipta. Akan tetapi, pada sebuah naskah novel fiksi, hal ini tidaklah berlaku, karena fiksi berangkat dari imajinasi.

Dasar Berbeda

Perbedaan mendasar dari menulis fiksi dan non-fiksi adalah, jika menulis fiksi berarti menciptakan kenyataan, sementara menulis non-fiksi berarti memperindah kenyataan. Dengan konsep dasar itulah mengapa fiksi dan non-fiksi terkadang berbeda pada penerapannya, yang contohnya merupakan gaya bahasa/tutur.

Dengan tujuan menciptakan kenyataan, tulisan fiksi umumnya merupakan aktualisasi dan tumpahan dari sekian juta pemikiran penciptanya/penulisnya. Siapa pun orangnya, sesukses apa pun orangnya, seorang penulis fiksi memiliki tanggung jawab yang cukup besar, yakni membuat karyanya berbeda dengan orang lain. Dan, cara tersebut yang paling mendasar untuk membuatnya berbeda, adalah dengan membuat gaya tutur yang tak ada sebelumnya, atau mengelaborasi gaya bahasa/tutur yang sudah ada yang kemudian dikembangkan menjadi gaya tersendiri.

Pada sebuah tulisan fiksi yang kemudian berkembang menjadi novel, gaya bahasa/tutur inilah yang kemudian menjadi kekuatan terbesar. Dengan gaya bahasa/tutur yang berbeda, secara tidak langsung akan membuat tulisan fiksi yang dibuat akan memiliki diferensiasi dan ciri tersendiri. Jika kemudian sulit untuk mengawalinya, maka membaca banyak tulisan fiksi itu baik, akan tetapi jangan sampai kemudian membuat gaya bahasa/tutur yang dimiliki pun tercampuri oleh gaya bahasa/tutur orang lain tersebut.

Seperti pepatah Jepang, “Mencontoh produk itu tidak apa, tapi tambahkanlah nilai lebih tersendiri agar tidak meniru melainkan membuat sebuah produk menjadi berbeda.”

Kutipan

Kutipan atau kata langsung dari sebuah tokoh/karakter yang berdiri di luar narasi, merupakan salah satu unsur penambah kenikmatan pembaca dalam memahami sebuah tulisan. Hal ini terutama berlaku pada tulisan fiksi. Kenapa? Karena kutipan akan membuat sebuah tulisan fiksi menjadi lebih kaya akan dinamika serta penulis pun tak perlu membuat narasi.

Layaknya sebuah naskah drama, kutipan adalah bentuk percakapan langsung antar tokoh. Kutipan akan menjadi kekuatan cerita itu sendiri, karena ia bisa menerangkan sekaligus menjelaskan jalannya cerita yang disertai dengan emosi dari setiap karakternya. Sebuah kutipan yang sempurna, akan bisa menghanyutkan emosi para pembacanya agar lebih memahami karakter yang mengucapkan kutipan tersebut.

Penggunaan perspektif sudut pandang orang ketiga atau di luar cerita, akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan sebuah kutipan. Karena dengan membuat kutipan yang sempurna itulah, maka tulisan fiksi tersebut akan memiliki alur cerita yang menarik. Aturan ini dimaksudkan agar meskipun penulis dapat berpindah-pindah di setiap adegan, namun setiap tokohnya memiliki karakter yang cukup kuat serta perbedaan!

Berbeda halnya dengan perspektif sudut pandang orang pertama atau di dalam cerita, karena kutipan yang dihadirkan tak perlu memiliki kekuatan yang sangat kuat, karena tanpa dikutip pun sang tokoh akan menceritakan (hampir) segalanya. Dan, dalam sudut pandang orang pertama, tanpa perlu dibuatkan kutipan pun, emosi dari tokoh utama akan tercerminkan dengan sendirinya.

Lalu bagaimana jika ada kata hati?

Teknisnya, kata hati bukanlah sebuah kutipan. Ia hanyalah opini yang terlontar dari dalam nurani dan belum tentu ditujukan pada sosok lawan bicara. Oleh karena itulah kata hati tidak memerlukan penulisan yang menyerupai kutipan ~ memakai tanda kutip. Akan tetapi, sebuah kata hati yang baik akan memiliki kekuatan diferensiasi karakter yang merupakan cerminan jiwa dari setiap tokoh di dalam cerita.

Penggunaan kata hati, tidak dibatasi oleh perspektif orang ketiga ataupun orang pertama. Memang diakui, pada perspektif orang pertama kata hati akan lebih mudah ditemui dan dihadirkan, akan tetapi bukan berarti perspektif orang ketiga tidak bisa dilakukan. Teknisnya adalah dengan membuat paragraf baru yang berisikan kata hati tersebut, dan jika memungkinkan dituliskan dengan kata-kata miring.

Coaching Menulis #005: Look Around

Mari kita rehat sejenak dari hal-hal teknis yang berkaitan dengan tulis-menulis. Saya mengajak untuk rehat tak lain agar pikiran dan juga kepala kita tak terus-menerus dikungkungi oleh “pekerjaan” dan diganti oleh hal-hal yang menghibur. Nah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Tapi, tempatnya biar saya yang menentukan karena akan berkaitan dengan coaching kali ini.

Coaching Menulis #005: Look Around

Ke mana Anda melangkahkan kaki untuk menyegarkan pikiran? Mall? Resto? Atau tempat rekreasi alam seperti pantai dan pegunungan? Bagaimana jika kita ke toko buku. Ya, toko buku. Sebuah tempat di mana banyak sekali buku diperjualbelikan dan juga sekaligus gudang ilmu dan informasi yang terintegrasi ~ meski tak bisa dipinjam selayak perpustakaan.

Di toko buku, tersedia beragam jenis, judul, tampilan dan juga penerbit. Setiap buku-buku tersebut memiliki daya tarik dan juga kelebihan tersendiri yang dianggap sangat baik dan dapat mendukung daya jual sehingga dibeli oleh konsumen. Tentunya konsumen akan lebih tertarik oleh buku yang menawan sehingga ia pun rela merogoh koceknya. Setiap transaksi tersebutlah yang menjadikan toko buku sebagai “pasar”.

Pasar
Iya, pasar. Menulis buku itu juga ibarat membuat sebuah produk, yang nantinya akan dilempar kepada pembaca melalui penerbit. Dan, penerbit-penerbit itulah yang lebih tahu pasar seperti apa. Mereka pastinya punya tim analisis dan juga marketing yang lebih mengerti akan persoalan penetrasi, strategi, dan juga banyak lagi hal-hal dan hil-hil yang harus dikerjakan agar produknya laku. Dan, kita sebagai konseptor plus pembuat produk, seharusnya lebih jago dibanding mereka, karena kita lebih tentu lebih tahu produk dan juga sasaran pembaca.

Produk yang baik, yaitu buku/tulisan yang kita buat pastinya diawali dengan sebuah tujuan. Jika hanya untuk menyalurkan hobi nulis, tak perlu bersusahpayah membuat buku. Cukup kirimkan artikel ke koran, cerpen, atau publish di blog. Dan yah, buku memang sebuah produk. Sebuah hal yang harus punya nilai daya jual.

Pergi ke pameran buku, ataupun bertemu penerbit adalah salah satu cara ampuh untuk mengetahui karakteristik penerbit yang ada di jagat raya perbukuan indonesia ini. Ada yang berdasar agama, ada yang ‘ngepop, ada yang eksperimental, dan masih banyak lagi. Dan, dengan lebih tau penerbit tentunya tulisan kita pun bisa jadi lebih kaya. kenapa? Karena kita bisa membidik penerbit mana yang bakal cocok untuk kita serahkan karya kita, dengan potensi terbit pun pastinya lebih besar dibandingkan penerbit yang tidak tepat.

Melihat Sekeliling
Konsep sederhananya adalah dengan cara look around. Melihat sekeliling. Lebih pekalah terhadap apa yang sedang terjadi, apa yang memang terjadi, dan apa yang kira-kira akan terjadi. Dan, penerbit beserta buku-buku yang mereka terbitkan adalah hal yang paling tepat untuk mempelajari hal itu.

Salah satu contoh yang paling mudah dilihat adalah, betapa sekarang banyak sekali buku-buku yang bertemakan Facebook, Twitter, hingga Plurk! Kenapa? Karena ketiga hal itulah yang kini sedang menggelora di jagad maya serta banyak sekali orang Indonesia yang menggunakannya. Peluang itulah yang kemudian banyak dibidik serta dilirik oleh kebanyakan penerbit.

Jadi, menulis itu tak hanya membuat tulisan, tapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Sudah tahu nilai jual tulisan Anda?