Coaching Menulis #004: Mulai & Lakukan

Segala persiapan sudah dilakukan untuk menulis, mulai dari mendapatkan ide, mengembangkan ide, hingga menyusun plot tulisan. Beberapa riset pun sudah dimulai untuk lebih memperkaya tulisan yang akan dibuat. Lalu apalagi? Nah, inilah saatnya untuk memulai dan melakukan penulisan.

Coaching Menulis #004: Mulai & Lakukan

Segala sesuatu dimulai dari nol. Bilangan, gedung, bahkan lukisan pun dimulai dari nol yang berupa kanvas kosong. Dan, begitu pula sebuah tulisan. Dia pun dimulai dari nol, kosong, hampa. Oleh karena itulah penulisan yang paling baik adalah tulisan yang dimulai dari nol.

Bagi kebanyakan orang, memulai sesuatu dari nol adalah sebuah hal yang sangat sulit. Karena untuk memecahkan telur berupa angka nol tersebut diperlukan usaha yang sangatlah besar. Karena untuk membuat sebuah angka berubah menjadi nyata yang lebih dari nol, diperlukan segenap konsentrasi dan fokus pada ide dasar yang menjadi fondasi sebuah maksud. Dan, tulisan pun seperti itu halnya.

Ketika akan memulai untuk membuat sebuah tulisan, kita dihadapkan pada sebuah kertas kosong ataupun layar kosong yang memiliki tampilan serupa kertas kosong di depan komputer. Huruf pertama, ataupun kata pertama menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena umumnya terlalu banyak yang dipertimbangkan! Entah itu mengenai apakah akan berhubungan dengan tulisan seluruhnya, ketakutan akan gagal, dan masih banyak lagi. Padahal, ada satu kata kunci yang sangat efektif untuk mulai menulis.

Bagaikan Belajar Sepeda

Menulis itu bisa diibaratkan dengan anak kecil yang belajar menaiki sepeda. Segala teori, dan juga contoh telah berhasil didapatkan sebelum belajar menaiki sepeda. Tapi kemudian, ketika pertama kali menaiki sepeda – belum menjalankannya, rasa ragu dan takut pun muncul. Tak berani, takut jatuh, takut salah, dan masih banyak lagi rasa takut lainnya.

Biasanya, seorang ayah ataupun ibu atau kakak dan teman yang cerdas akan terus berusaha menenangkan agar si anak tetap berani untuk belajar menaiki dan menjalankan sepeda. Tak lain, hal itu dimaksudkan agar rasa takut, ragu, dan macam-macam lainnya bisa hilang dengan seketika dan digantikan dengan rasa berani. Dan kemudian, perlahan-lahan rasa berani untuk menaiki dan menjalankan sepeda pun timbul serta diiringi dengan rasa penasaran pula.

Sambil masih dipapah dan dibantu untuk terus menjalankan sepedanya, anak kecil itu pun lambat laun makin berani untuk menjalankannya sendiri. Dan, setelah hatinya diliputi oleh tekad yang penuh, maka ia pun akan bisa menjalankan sepedanya sendiri tanpa harus dipapah ataupun dibantu.

LAKUKAN SAJA!

Sengaja subjudul ini saya pilihkan huruf besar semua sebagai penyusunnya dan disertai dengan tanda seru. Tak lain, subjudul ini juga merupakan sebuah seruan dan juga ajakan untuk lebih serius dan langsung saja melakukan menulis. Karena begitu kita bisa memulai sebuah tulisan, umumnya selanjutnya tinggal sebuah cerita lalu, alias akan lancar.

Dan, kata tersebut pun saya harapkan bisa menjadi sebuah sugesti positif yang akan bisa memotivasi kita untuk memulai menulis. Mulai saja penulisan berdasarkan ide yang sudah terbentuk, dan tak perlu takut akan apa pun! Bahasa yang digunakan, bisa saja dengan bahasa sehari-hari. Entah itu prokem, gaul, dan banyak lagi. Struktur kalimat pun tak perlu dirisaukan! Karena pada prinsipnya menulis adalah sebuah kegiatan kreatif yang harus bisa mendobrak aturan-aturan baku.

Pertahankan

Banyak orang bilang, mempertahankan itu lebih sulit dibanding meraih. Perkataan tersebut seringkali dikaitkan dengan sebuah piala, kejuaraan, prestise dan prestasi. Tapi, itu pun juga dikaitkan dengan semangat dan motivasi. Apalagi dengan semangat dan motivasi untuk menulis.

Memulai dari nol memang susah, tapi tetap meneruskan hal yang dimulai dari nol itulah yang susah. Kenapa? Karena kegiatan menulis bagi kebanyakan orang juga dipengaruhi oleh mood. Dan, ketika mood sudah tak bagus, tentu tulisan pun takkan bisa dilanjutkan dan diselesaikan. Lalu, apa solusinya?

Satu kata. DISIPLIN.

Sebuah kata yang juga menjadi unsur salah satu kampanye nasional itulah yang menyebabkan hanya beberapa nama besar saja dalam ranah kepenulisan. Karena penulis-penulis yang terkenal itu mengenali dan mampu mendisiplinkan diri mereka untuk terus menulis. Keep learning, keep practice, because it makes perfect.

Sudahkah Anda memulai sebuah tulisan?

Coaching Menulis #003: Plot

Pada lanjutan seri Coaching Menulis ketiga ini, saya akan membahas satu topik cukup panjang. Hal ini dikarenakan karena topik ini merupakan salah satu unsur penting dalam menulis. Yah, memang setiap langkah yang saya sajikan di seri Coaching Menulis pasti penting bukan? Ingin tahu lebih lanjut? Silakan cermati.

Coaching Menulis #003: Plot

Seringkali ide yang menarik untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan muncul seketika begitu saja. Kemudian, setelah didapatkan pun ide tersebut perlu dikembangkan menjadi beberapa pokok pikiran, dan tulisan pun dapat segera dimulai. Tapi, apakah bisa semudah itu? Apalagi bagi yang tak terbiasa untuk menulis.

Ada satu langkah yang baiknya dilakukan sebelum langsung menulis, yakni membuat rangkaian ide yang akan ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Bahasa resminya adalah plot, atau alur. Keberadaannya cukup penting karena ia akan menjadi benang merah dari tulisan. Sehingga jika di kemudian hari proses penulisan dilanda kemacetan atau stuck, maka ketika kemudian ditinggalkan untuk sementara kita masih akan memiliki panduan untuk menyelesaikan tulisan.

Setiap jenis tulisan tentu memerlukan alur ataupun plot. Fiksi atau nonfiksi, cerita ataupun panduan, hingga biografi ataupun buku laporan peristiwa. Tiap-tiap tulisan tersebut pasti memerlukan sekaligus menggunakan alur atau plot. Tapi setiap jenis tersebut pasti menggunakan plot yang berbeda-beda bergantung kepada bagaimana penulis ingin membangun impresi para pembaca melalui tulisannya.

Susunan Plot

Sebelum melangkah lebih jauh dan menentukan plot tulisan, ada baiknya mengenali susunan plot. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan ketika nanti harus membuat plot yang diterjemahkan ke dalam runutan ide topik, ataupun ketika memilih urutan plot. Ya, memang saya akui ternyata proses menulis itu cukup rumit. Tapi pada praktiknya nanti tidak sulit kok! 😉

Umumnya, plot memiliki 6 unsur utama yang menjadi penyusun plot. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian atau kesimpulan. Keenam unsur itulah yang kemudian menjadi susunan utama plot. Tanpa ada salah satunya, tulisan akan terasa janggal karena ada salah satu unsurnya yang hilang.

Tapi kemudian, jika tulisan memang disengaja untuk dibuat menggantung, maka tak perlulah mengkhawatirkan unsur yang hilang tersebut. Walau begitu, mari kita fokus tulisan yang lebih lengkap ketimbang membuat tulisan yang tak sempurna tersebut.

Kembali kepada 6 unsur penyusun plot. Mari kita beda satu persatu dan dimulai secara urut. Perkenalan, biasanya merupakan awalan dari tulisan. Sesuai dengan namanya, perkenalan berisikan pembukaan dari tulisan yang memuat topik apa yang akan dibahas. Dalam tulisan fiksi, perkenalan akan berupa kemunculan tokoh, sementara dalam tulisan nonfiksi akan berupa pembukaan dari topik tulisan.

Pemunculan masalah adalah tahapan selanjutnya setelah Perkenalan. Dalam tulisan seringkali ia merupakan saat di mana keberadaan topik tulisan mulai dipertajam sehingga pembaca akan mengenali maksud dan tujuan dari tulisan tersebut. Pada tulisan fiksi, maka pemunculan masalah biasanya merupakan kejadian yang dialami oleh tokohnya, sementara dalam tulisan nonfiksi berupa unsur-unsur pendukung topik yang dibahas dan bisa berupa contoh-contoh yang dikaitkan.

Ketika topik dikenali dan lebih mengerucut sehingga pembaca mengenalinya, maka kejadian selanjutnya dalam sebuah tulisan adalah terjadinya konflik. Ia merupakan lontaran masalah yang pertama kali timbul sejak pertama kali tulisan dimulai. Seringkali, konflik pun dihadirkan agar tulisan menjadi lebih menarik dan menantang pembacanya untuk melanjutkan dan menyelesaikan bacaannya.

Setiap tulisan pasti memiliki puncak yang paling menjadi daya tarik dari tulisan tersebut. Entah itu situasi yang makin menegang seperti dalam tulisan fiksi, ataupun perbandingan pendapat para ahli yang hadir dalam tulisan nonfiksi. Apapun bentuknya, klimaks haruslah memiliki unsur paling menarik dan paling “WAH” dibanding bagian-bagian lainnya. Klimaks adalah momen-momen penting dalam tulisan, di mana pembaca mengalami pengalaman puncak emosi ataupun rasa ingin tahu yang paling tinggi.

Everything comes up, would comes down. Itulah yang juga berlaku di dalam sebuah tulisan. Tensi yang terus dibangun melalui fase perkenalan hingga klimaks pun “harus” turun dengan membuat antiklimaks. Hal ini dimaksudkan agar tulisan menjadi lebih “menyenangkan” bagi pembaca karena tak harus terus dirundung oleh hype dari tulisan. Antiklimaks juga dimaksudkan agar pembaca tulisan memiliki kesempatan untuk menarik napas sekaligus menunggu akan seperti apa akhir dari tulisan kita.

Ketika semua unsur dari plot tulisan sudah muncul, maka penyelesaian adalah jalan yang paling baik. Dengan membuat fase penyelesaian, maka tulisan akan menjadi lengkap karena dapat berisikan kesimpulan pada tulisan nonfiksi maupun juga bagian akhir dari cerita fiksi yang bisa dipilih apakah berakhir bahagia, sedih, ataupun menggantung.

Memilih Jenis Plot

Terdapat 3 macam alur yang paling utama dan dikenal serta sering digunakan oleh kebanyakan penulis. Maju, mundur, serta campuran. Ketiga jenis plot tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang dapat membangun setiap tulisan sehingga terlihat lebih menarik bagi para pembacanya. Ingin tahu lebih jauh? Lanjutkan membaca tulisan ini.

Plot maju adalah plot yang paling umum dan sering digunakan di setiap tulisan. Ia memiliki ciri tulisan yang bergerak urut dari awal hingga akhir tulisan. Setiap bagian dari tulisan tertata dengan baik, sehingga pembaca tulisan pun takkan kehilangan setiap momen. Runutan peristiwanya membuat impresi yang dibangun oleh penulis seperti mendaki gunung kemudian menuruninya kembali. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, penyelesaian adalah fase plot yang disusun secara urut dan tidak berloncatan.

Kebalikan dari plot maju, tentu adalah plot mundur yang susunannya sudah tentu merupakan kebalikan dari plot maju. Penyelesaian, antiklimaks, klimaks, konflik, pemunculan masalah, dan perkenalan sebagai urutan fase terbalik yang sudah barang tentu akan membuat tulisan menjadi “berbeda” karena tuturan cerita akan terbalik dengan ditampilkannya amanat ataupun kesimpulan cerita terlebih dahulu, baru kemudian mengetahui masalah yang diakhiri dengan keterangan pelaku masalah tersebut.

Jika plot mundur cukup membuat bingung untuk diterapkan, namun plot maju pun tak terlalu menarik karena terlalu runut, maka ada pilihan lainnya. Gunakanlah plot campuran yang merupakan hasil paduan antara plot maju dan mundur. Ini dimungkinkan karena plot bersifat fleksibel sehingga dapat membuat tulisan menjadi lebih menarik.

Plot campuran yang merupakan hasil paduan dari maju dan mundur ini, tentunya masih menggunakan 6 unsur penyusun plot. Meski demikian, susunannya dapat diganti dan disusun ulang tanpa berurutan. Namun, apapun awalnya penyelesaian akan tetap hadir di bagian belakang. Contohnya plot campuran antara lain konflik – pemunculan masalah – perkenalan – klimaks – antiklimaks – penyelesaian.

Namun kembali lagi, apa pun plot yang akan dipilih sebagai panduan benang merah tulisan, pastikanlah bagian-bagian tulisan terus menempel dengan plot sehingga ketika urutannya akan diputarbalik akan mudah dikerjakan. Selamat menulis!

Sudah tahu plot seperti apa untuk tulisan Anda?

Coaching Menulis #002: Mengembangkan Ide

Seri kedua postingan Coaching Menulis, kali ini adalah mengenai Mengembangkan Ide. Setelah mendapatkan ide di postingan pertama minggu kemarin, tentunya sebuah tulisan akan menjadi lebih baik ketika ide tersebut diejawantahkan menjadi sebuah susunan yang tertib, yang nantinya akan menjadi sebuah landasan pakem yang akan ditulis, serta menjadi tolak ukur pengembangan tulisan. Karena dengan sebuah pakem tentunya tulisan akan menjadi lebih mudah dikerjakan dan diselesaikan.

Coaching Menulis #002: Mengembangkan Ide

Mengembangkan ide pada dasarnya serupa dengan membuat kerangka tulisan. Hal ini merupakan kegiatan yang susah-susah gampang. Kenapa? Karena untuk sebagian orang membuat kerangka tulisan sangatlah mudah, semudah mendapatkan ide itu sendiri. Biasanya, kemudahan membuat kerangka tulisan tersebut dikarenakan ide dasar tulisan yang akan dikerjakan mudah untuk dikembangkan karena memiliki banyak sekali sumber daya.

Lalu, bagaimana jika pengembangan ide untuk membuat kerangka tulisan itu ternyata susah? Langkah mudahnya adalah dengan mencicil satu persatu ide-ide tambahan yang relevan terkait dengan ide dasar tersebut. Dengan menambahkan sebanyak mungkin ‘kata kunci’ berupa ide-ide tambahan relevan, membuat kerangka tulisan tentunya akan menjadi lebih mudah. Oleh karena itulah, kesusahan dalam membuat kerangka tulisan adalah hal biasa yang harus dihadapi agar tulisan yang akan dibangun dari ide dasar menjadi lebih mudah dikerjakan. Lebih baik bersusah di awal dibanding bersusah di akhir bukan?

Contoh Membuat Kerangka Tulisan

Baiklah, mari kita mencoba membuat kerangka tulisan sebagai contoh, yang sekaligus dikerjakan dengan cara mudah yang telah disebutkan sebelumnya. Yakni dengan mencari ide-ide tambahan relevan yang terkait dengan ide dasar tersebut.

Sebagai contoh, mari kita ambil ide dasar,

TARIAN

Apa yang langsung terlintas di kepala ketika membaca atau mendengar kata-kata tarian? Jikalau belum ada satu pun, coba renungkan selama 5 menit, dengan menggali setiap ingatan yang pernah dimiliki dan berada dalam memori kepala Anda.

Sudah 5 menit? Sudah ada ingatan yang muncul dalam kepala? Oke, sediakan secarik kertas dan juga sebuah pena atau pensil untuk kegiatan selanjutnya.

Sudah sediakan kertas dan juga pensil atau pena? Sekarang, langsung saja Anda tuliskan kata-kata atau ide-ide yang muncul dalam kepala Anda di kertas tersebut. Tumpahkan segalanya, termasuk juga ide-ide atau kata-kata yang tak biasa, aneh, dengan bahasa yang tidak baku – bahasa Anda sendiri, dan lain-lain. Intinya, apa pun yang Anda pikir berkaitan dengan TARIAN dan muncul di kepala Anda, tuliskanlah di sana.Tak perlu ditulis berurutan, tak perlu juga ditulis secara rapi. Yang penting, keluarkan segalanya.

Berikut, contoh apa isi kepala saya yang muncul dan berkaitan dengan TARIAN,

saman, kecak, bali, daerah, asli, penari, stripper, striptease, porno, baju adat, wanita, cewek, leak, aceh, jawa, sunda, indonesia, salsa, classic, waltz, tap dance, michael jackson, pop, dance, pom pom, lenso, cheerleader, bung karno, kerajaan, roman, dongeng, puteri raja, pangeran,….

Oke. Sepertinya 3 baris yang saya tuliskan itu cukup banyak. Apakah milik Anda juga sebegitu banyak? Atau, lebih banyak lagi? Dan sekarang, mari kita coba buat kerangka tulisan yang tepat berdasar ‘kata kunci’ yang terlontar dari ide-ide relevan yang terlintas dalam kepala setelah mendengar apa ide dasar yang ditetapkan. Tak perlu menggunakan seluruh ‘kata kunci’ tersebut, tapi cukup ambil beberapa yang saling mengait agar lebih mudah dikerjakan.

Berikut, contoh pengembangan ide untuk membuat kerangka tulisan yang saya ambil berdasar ‘kata kunci’ milik saya.

Tarian,

  1. Tarian memiliki berbagai jenis, yakni tradisional dan modern.
  2. Contoh tarian tradisional antara lain saman, lenso, kecak.
  3. Contoh tarian modern antara lain waltz, classic, pop, dance.
  4. Beberapa contoh aplikasi tarian adalah pada cheerleader yang menggunakan pom-pom.
  5. Dan, salah satu dancer/penari sukses adalah Michael Jackson yang menciptakan tarian energik di setiap lagunya.

Kurang lebih dari sebuah ide dasar berupa Tarian, kemudian dapat berkembang menjadi sebuah ide yang memiliki 5 kalimat utama, yang masing-masing dapat menjadi topik menarik untuk menjadi tulisan, ataupun kelimanya disatukan dalam sebuah tulisan yang masing-masing saling mendukung. Bahkan, 5 sub ide yang telah dikembangkan tersebut bahkan dapat dikembangkan menjadi judul bab dalam tulisan yang akan dikerjakan.

Sudahkah ide tulisan Anda siap dikembangkan agar menjadi tulisan yang lebih menarik?

Coaching Menulis #001: Mendapatkan Ide

Baiklah. Ini saatnya saya untuk memulai sebuah posting berseri di blog ini, setelah sekian lama vakum dan hanya memindah beberapa postingan lama dari blog yang lain. Serta, di postingan berseri pertama ini, saya ingin mengucapkan semoga postingan saya ini berguna, dan mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Ini semua berdasar apa yang saya alami, saya dapatkan, dan saya pahami mengenai menulis. Jika ada komentar dan feedback, silakan disampaikan agar apa yang saya bagikan menjadi lebih baik.

Baiklah, mari kita mulai di postingan pertama pada seri ini.

Coaching Menulis #001: Mendapatkan Ide

Bagi kebanyakan orang, mendapatkan ide untuk menulis tidaklah mudah. Mereka berpendapat bahwa untuk mendapatkan ide untuk menulis, diperlukan waktu khusus, sebuah kontemplasi yang benar-benar terkonsentrasi. Tak lain itu dimaksudkan agar menulis pun menjadi lebih menyenangkan.

Mau tahu apa kata saya mengenai pendapat tersebut? Saya bilang,

“MENDAPATKAN IDE ITU MUDAH! TAK PERLU WAKTU KHUSUS!”

STOP dulu aktivitas baca Anda di postingan ini, dan renungkan baik-baik selama kurang lebih 5 menit kalimat yang telah saya tandai dengan tebal sebelumnya.

Sudah? Perlu tambahan waktu? Apakah Anda setuju dengan kalimat saya tersebut? Ada pertanyaan yang muncul?

Baiklah.. silakan simak lebih lanjut postingan saya ini.

Yang mendasari kenapa saya bisa mengucapkan kalimat berhuruf tebal tersebut, adalah karena ide bisa didapatkan kapan saja, di mana saja, dari mana saja. Kejadian mendapatkan ide tidaklah sesulit seperti yang dibayangkan, karena ide bisa berawal dari hal-hal kecil yang kemudian dimatangkan menjadi lebih besar dan bermakna.

Oke, contohnya seperti berikut ini…

Contoh Fiksi

Andaikan suatu ketika kita ingin menulis mengenai sebuah novel fiksi, perjalanan hidup seorang tokoh selayak roman, namun ingin berbeda dengan yang sudah-sudah ada macam Laskar Pelangi, dan sebagainya. Tentu, biasanya kita akan menciptakan seorang tokoh nyata ataupun mencari sebuah tempat yang berada nun jauh di sana untuk kemudian kita tuliskan. Betapa sulitnya bukan untuk mendapatkannya? Padahal, kalau kita lebih membuka mata, telinga dan hati, ide untuk menulis cerita tersebut tak perlu sulit.

Pernahkah kita di saat akan berangkat beraktivitas memperhatikan keadaan sekitar kita? Entah itu pelajar sekolah yang akan berangkat, karyawan, tukang ojek, tukang pos, sopir bus, kernet, hingga pengamen dan pengemis di pinggir jalan? Pernahkah Anda memperhatikan dengan seksama setiap orang tersebut hingga mengetahui detil dari mereka?

Setiap tokoh ataupun karakter yang kita lihat dan temui sehari-hari tersebut, adalah sumber inspirasi dan juga ide yang bisa dikembangkan. Karena dengan mengamati hal yang lebih dekat, tentu akan memudahkan untuk mengembangkan ide tersebut, dibandingkan kita mengawali semua dari sesuatu yang benar-benar fiktif.

Non-fiksi

Hampir sama halnya dengan menulis secara non-fiksi, ide pun bisa didapatkan dari keseharian kita. Karena dengan dengan mengambil latar non-fiksi, tentu kita akan lebih mudah dalam mengembangkan ide dan juga menuliskannya karena dia sudah nyata, dan kita tinggal menyajikan fakta-fakta tersebut.

Perlu bukti (lagi)? Baiklah.. simak yang berikut ini.

Apakah Anda menyimak berita belakangan ini? Pasti tentu tahu mengenai kisruh KPK dan juga pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, mulai dari Kejaksaan, Kep0lisian, Pengusaha kelas kakap, dan masih banyak lagi. Dengan mengambil momen ini, tentu ide yang bisa diambil antara lain (misalnya) “Cara-cara Mengurus Kasus Pidana”, “Cara-cara Menghindari Korupsi” dan masih banyak lagi.

Dari sekian ide yang muncul tersebut, akan menjadi lebih menarik lagi jika disajikan menjadi sebuah tulisan mendalam yang dibarengi investigasi secara menyeluruh. Investigasi yang dilakukan pun tak perlu mendalam seperti seorang jurnalis, tapi cukup melalui pandangan seorang warga masyarakat yang peduli akan persoalan tersebut.

Tuliskan

Setelah mendapatkan sekian ide yang menarik dan bisa dijadikan sebagai landasan tulisan Anda, maka segeralah tuliskan ide tersebut sebelum menguap pergi. Itulah pentingnya sebagai seorang penulis (wannabe mungkin), untuk selalu membawa alat pencatat. Minimal milikilah notes kecil beserta pulpen. Atau gunakan kecanggihan seperti menyimpan notes di ponsel Anda. Karena tanpa menuliskan ide tersebut, maka proses kreatif yang telah dilakukan oleh kepala kita akan menjadi sia-sia belaka.

Sudahkah Anda mendapatkan ide untuk menulis hari ini?

The Journey, vol.13: The Offer

I spent the rest of the day with the same-boring-meeting after the break. And, even though I already knew about what to discuss, but I went no more silence. I gave some inputs, and also suggestions to all of the meeting’s participants.

Some of my inputs seems to be nailed. I don’t think it’s because I was the representatives from Jakarta, but more because each of my inputs wasn’t thought before by them. And yeah, I hope those inputs would be more useful someday and the practiced so this Bandung office would be greater than before. Especially for the creative visualization strategies which will be developed here.

My no-more-silence attitude and the sparking inputs didn’t show up by it self. I just need to get more focus, positive, and professional after I couldn’t contact Monica yet. Okay, she’d be angry. But, that doesn’t mean I can’t work. And, going to home town seem to be a good choice.

Read More