Month: October 2008

#10

KRIING! Sambil terpejam, kugapai meja. KLIK! Dering wekerku berhenti. Duh, aku masih ngantuk! Kubuka mata. Kutatap langit-langit kamarku. Sepertinya, aku baru tidur sebentar saja setelah mengobrol panjang lebar dengan Hikaru malam tadi. Kok sudah pagi lagi, sih? Males, nih! Kusingkirkan selimutku. Aku turun dari ranjang. Enggan, kumasuki kamar mandi. Langkahku terseret-seret. Mataku serasa masih lengket

#9

“Kau tidak mengantuk?” “Memang kenapa?” Hikaru mendekatiku yang sedang berbaring di lantai sambil menonton TV. “Aku lelah.” “Oh. Tidurlah di sampingku.” Hikaru merebahkan tubuhnya di sampingku. Malam sudah cukup larut. Wajar saja Hikaru lelah. Perlahan, ia memejamkan matanya. Aku tetap menonton TV. “Ghita-chan?” “Hmm…” “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.” “Yang mana?” “Dari mana kau mengenal

#8

Aoshi berjalan menduluiku ke tempat parkir. Aku mengikutinya dari belakang. Ia membawa sebagian buku-buku yang kupinjam. Jalannya cukup cepat, sehingga aku agak kerepotan juga mengikutinya. Mungkin, ini kebiasaan orang Jepang. “Ghita! Sebelah sini! Ayo kemari! Mobilku di sini!” Aku menuju arahnya. Aku berhati-hati agar buku-buku yang kubawa tak jatuh lagi. Saat sampai, aku terkejut. Aku

#7

“Hei, kalau lagi makan, nggak boleh bengong!’ Teguran Hikaru menyadarkanku. Sepertinya, dari tadi aku termangu dengan memegang sendok serealku tanpa menyuapkannya ke dalam mulut. Hah? “Kau kenapa sih, akhir-akhir ini?” “Apa? Aku? Tidak apa-apa.” “Benarkah? Lalu kenapa kau sepertinya lebih sering dan gampang hilang kesadaran?” “Ah, memangnya seperti itu?” “Lalu, kenapa kau dari tadi memegang

#6

Hikaru membuka pintu rumah, dan masuk. Ia melempar kunci ke mangkuk di dekat pintu, dan melempar mantel ke tiang gantungan. Sambil hendak melepas sepatu, ia menolehku. “Kau tidak masuk?” Aku masih diam berdiri di pekarangan. Memandangi rumah, seakan aku belum pernah memasukinya. Seakan ada kekuatan magis yang menahanku agar tetap berada di luar rumah. “Ternyata,

#5

Malam sudah menjelang ketika pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Narita. Aku pun turun, dan segera mencari koper. Terminal kedatangan begitu ramai malam itu. Sepertinya sedang ‘musim kedatangan’ di sini. Entah, tapi ternyata anggapan Narita sebagai salah satu bandara terbaik di dunia, ada benarnya juga. Kenapa? Karena sepertinya bandara ini tak pernah sepi! Aku pun

#4

Matahari bersinar hangat karena musim dingin sudah akan berlalu. Taman kampus terasa begitu ramai saat aku keluar dari gedung kuliah. Padahal, sebenarnya Sakura saja belum bermekaran. Apa ini semangat orang Jepang dalam menyambut musim semi seperti Hikaru semalam? Apa ini alasan muda-mudi kampusku berkumpul di sekitar taman? Tetap saja, meski sudah tiga tahun aku menimba

#3

Aku mengendap perlahan. Kuintip dapur. Benar saja! Hikaru memasak! “Kau memasak, Hikaru?” Hikaru menoleh. “Ya, aku memasak. Kenapa? Heran, ya?” “Hihi, aku baru tahu kau bisa masak. Tiga tahun aku di sini, baru sekali ini aku melihatmu memasak. Ada sebab apa?” “Ini sebagian dari semangat musim semi-ku! Dan juga, aku sedang penasaran saja. Aku ingin

Menentukan Sudut Pandang

Seorang penulis yang baik, pastinya mengetahui bagaimana cara menentukan tulisannya agar dapat dibaca dengan baik oleh pembacanya. Dalam artian seperti ini, penulis dapat menempatkan dirinya melalui tulisannya, dalam menyapa pembaca tulisannya. Masih bingung? Berikut penjelasannya. Penempatan diri seorang penulis melalui tulisannya, dapat menentukan reaksi ataupun respon pembaca nantinya. Sehingga, pembaca tulisan dapat dengan mudahnya mengerti

#2

“Kamu yakin, ‘Ta dengan semua ini?” tanya seorang pria padaku. Sepertinya kukenal, tapi siapa? Di mana? “Ya.” jawabku singkat. “Benar-benar yakin?” Aku mengangguk kencang. Mencoba meyakinkannya jika aku lebih yakin dari yang ia kira. Meski sebenarnya… “Lalu, kenapa kau juga harus meninggalkanku – Pram, kekasihmu ini?” Ya! Pria itu Pram! Kekasihku! Pacarku! Tapi, di mana