Fiksi atau Non-Fiksi?

Pertanyaan yang seringkali muncul ketika akhirnya kita memutuskan untuk menulis, adalah jenis dari tulisan kita nantinya. Apakah fiksi, atau non-fiksi? Tak jarang, penentuan jenis tulisan itu membuat keinginan dan niatan yang sudah kuat untuk menulis, dapat hilang seketika, karena merasa tak mampu untuk menulis sesuai dengan jenis yang dipilih, atau karena tidak tahu karakter dari jenis tulisan yang diinginkan. Padahal, sebenarnya menentukan jenis tulisan tidak terlalu sulit.

Secara garis besar, tulisan fiksi dan non-fiksi dibedakan oleh lingkup/scope yang akan dibahas dalam tulisan. Mengapa saya katakan demikian? Karena, untuk fiksi, lingkupnya adalah penulis menciptakan dunia. Sementara non-fiksi, lingkupnya adalah penulis menjelaskan dunia – dan kalau bisa, sekaligus memperindah dunia. Bingung? Oke, akan saya perjelas.

Yang termasuk ke dalam kategori naskah fiksi, adalah cerita pendek atau cerpen, cerita bersambung atau cerbung, novel, dan roman. Masih ada sih, beberapa contoh lainnya, tapi keempat contoh itu yang paling sering kita jumpai, bukan? Alasan kenapa keempat jenis tulisan itu masuk kategori fiksi, karena mereka memiliki unsur-unsur utama cerita fiksi. Lantas, apa sajakah unsur-unsur utama dari sebuah cerita fiksi? Secara umum adalah, pelaku, alur atau plot, tema utama, setting atau latar, dan amanat. Penjelasan lebih lengkap, akan dijelaskan pada kesempatan lainnya.

Lalu, apa saja yang termasuk ke dalam non-fiksi? Antara lain, biografi, oto-biografi, narasi deskriptif, narasi persuasif, artikel jurnalistik, dan sejenisnya. Tulisan-tulisan sejenis how to dan do it yourself juga termasuk ke dalam kategori non-fiksi. Dan, apa alasan memasukkan contoh tersebut ke dalam non-fiksi. Tak lain tak bukan, karena mereka tidak memiliki unsur utama dari cerita fiksi secara lengkap atau semuanya. Kalaupun memiliki salah satu unsurnya, seperti alur ataupun pelaku, tapi tidak semua. Begitulah.

Nah, sudah bisa menentukan mau menulis jenis tulisan apa?

Mulailah Menulis Dari Sekarang

Banyak sekali orang-orang yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Entah itu karena memang ingin menjadi seperti idola mereka, atau murni dorongan jiwa. Namun, tak jarang mereka yang bercita-cita ingin menjadi penulis, tidak tahu bagaimana cara memulai untuk menulis. Atau bahkan, sama sekali tidak mengerti bagaimana menjadi penulis.

Hal-hal demikian yang seringkali menjadi halangan untuk kemudian menulis. Padahal, sebenarnya menulis itu tidak terlalu susah – jika tidak dikatakan mudah. Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena sesungguhnya, setiap perilaku yang dilakukan dalam kehidupan bisa dituangkan dalam tulisan. Kurang jelas? Oke, mari saya berikan contoh,

Setiap hari, kita bangun tidur, kemudian ke kamar mandi, melakukan aktivitas membersihkan diri, kemudian sarapan, dan melanjutkan aktivitas kita – bekerja, sekolah, kuliah, main, dan lain-lain. Kemudian, setelah itu, kita pulang ke rumah, makan malam, tidur.

Nah, bukankah perilaku aktivitas kita itu sudah menjadi sebuah tulisan? Sebuah cerita pendek tentang satu hari dalam kehidupan kita. Bercerita mulai dari kita bangun tidur, hingga menjelang tidur. Jika kemudian hal yang kita tulis terasa datar seperti contoh yang sudah saya tuliskan, maka baiknya diberikan beberapa keterangan, seperti keterangan waktu, tempat, dan pelengkap lainnya. Menjadi seperti ini,

Aku bangun pagi sekitar jam enam. Kemudian, aku langsung ke kamar mandi untuk mandi dan gosok gigi menggunakan odol dan juga sabun mandi. Tak lama, aku makan sarapan pagi, dan pergi ke kantor untuk bekerja. Sekitar jam lima sore, aku pulang ke rumah. Setelah istirahat sebentar dan membersihkan diri, aku makan malam. Sekitar jam sembilan malam, aku pergi tidur.

Nah, mudah bukan?

Mencontoh Idola
Beberapa penulis memulai untuk menulis karena memiliki idola. Contohlah, Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata, Pipiet Senja, Gola Gong, dan lain-lain sebagainya. Penulis-penulis itu bisa menghadirkan inspirasi bagi mereka yang membaca karya mereka, sekaligus memunculkan kekaguman tersendiri atas keindahan karya mereka.

Dari idola tersebut, penulis memiliki motivasi tersendiri untuk mencontoh apa yang idola mereka lakukan. Entah itu gaya bahasa yang digunakan, unsur cerita, sudut pandang yang digunakan, dan lain-lain. Bahkan, tak jarang, ada penulis yang benar-benar meniru idola mereka. Hal demikian, wajar-wajar saja. Asal jangan sampai keterusan saja. Karena, itu sama saja dengan membajak hak cipta dari penulis asli. Apalagi, kalau sampai karyanya diterbitkan. Nantinya, bisa jadi copycat. Dan, hal ini tidak dapat ditoleransi. Jadi, ada baiknya jika sudah mendapatkan gaya tersendiri, jangan sampai meniru idola.

Menulis Karena Dorongan Jiwa
Jika kemudian keinginan untuk menjadi penulis didasarkan karena dorongan jiwa, maka yang menjadi tujuan hidup dari penulis tersebut adalah sebuah kepuasan batin. Sebuah kepuasan tersendiri yang hanya hadir jika tulisan telah selesai atau diterbitkan. Biasanya, penulis yang menulis karena dorongan jiwa, memiliki ciri tersendiri. Yang tentunya, tidak akan sama dengan penulis lainnya.

Beberapa hal yang kemudian mendorong jiwa untuk menulis, biasanya dikarenakan ketidakpuasan akan tulisan-tulisan yang pernah dia baca. Atau, lebih karena ingin menemukan pelampiasan atas pertanyaan yang sering menggantung dalam hati. Memang, pertama-tama lebih sering merupakan curahan hati dari sang penulis. Namun, jangan salah! Dari curahan hati tersebut, bisa jadi berkembang tulisan yang lebih baik, dan terus membaik. Hal ini saya alami, karena notabene, saya dulu juga mengawali menulis dengan terus-menerus curhat terhadap buku harian.

Yang pasti, ada satu kalimat ampuh yang sesuai jika berminat untuk menulis, yaitu Mulailah dari sekarang!

Bagaimana dengan Anda?