Unspoken Words #1: Brown Eyes

Kamu pernah bilang, kalo ingatan jangka panjang kamu buruk. Betapapun kamu mencoba untuk mengingat, jika sudah lupa ya sudah, lupa. Itu makanya kamu seringkali membuat catatan-catatan, kecil besar, pendek panjang, tentang apapun yang sekiranya kamu anggap penting atau harus diingat kembali di waktu yang lain. Kamu juga cenderung sulit untuk mengingat orang, apalagi yang jarang berinteraksi denganmu atau baru pertama kali kamu ketemu.

Tapi ada satu hal yang ga perlu diapa-apakan meski baru sekali dan pertama kalinya, kamu selalu ingat.

Kamu juga pernah bilang kalo aku kebalikan dari kamu. Aku cenderung mudah untuk mengingat kembali berbagai hal yang pernah kualami. Apalagi jika ingatan tersebut merupakan hal yang sama atau pernah terjadi, maka aku akan dengan mudah untuk menceritakan padamu setiap detailnya. Kamu juga pernah bilang kalo sampai aku lupa, berarti mungkin karena hal tersebut baru terjadi untuk pertama kalinya, atau sekali saja dalam hidupku, sehingga akhirnya kulupakan.

Tapi ada satu hal yang hanya terjadi sekali dan pertama kalinya, tak pernah kulupakan.

 

Project: Unspoken Words

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita menyesali tak pernah mengucapkan kata-kata tertentu?

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita menyesali tak pernah menyampaikan apa yang ingin (seharusnya) kita sampaikan?

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita berharap waktu terulang dan mungkin segala sesuatu bisa berjalan berbeda dibandingkan kenyataan saat ini?

Andai saja…

Dalam rangka ‘memaksa’ diri untuk kembali menulis dan berpikir kreatif, maka saya berniat untuk membuat seri terbaru. Sebutan resminya “Project: Unspoken Words”. Masih tetap fiksi – khayalan semata atau ya.. sebagian terinspirasi dari kejadian nyata tapi kemudian di-fiksi-kan. Isinya (mudah-mudahan) lebih panjang daripada yang bisa terbit di Short Story, karena niatnya sih Unspoken Words ini bakal kebaca semacam curcol (curhat colongan). Ada selipan lagu-lagu gitu — kalo nemu yang cocok. Format judulnya masih belum ditentukan, tapi kemungkinan akan menggunakan seperti format Short Story — dengan angka. Bedanya ya depannya jadi “Unspoken Words” bukan “Short Story”.

Terus apa bedanya dengan Short Story?

Hampir ga ada. 😆 Beberapa petunjuk udah dikasih di paragraf di atas, selebihnya tungguin aja ketika post pertamanya terbit. Tapi nafasnya memang sama seperti kalimat awal di paragraf ini “Hampir ga ada.” :mrgreen:

Dah, gitu aja. Ini juga nulis post dalam rangka aktivasi lagi untuk ngeblog. Secara blog yang satu lagi masih “tutup”.