Long John, Penyelamat agar Tetap Hangat Kala Traveling ke Negeri Musim Dingin

Pernah jalan-jalan ke negeri 4 musim saat winter (musim dingin)? Pernah ngalamin kedinginan karena badai salju? Atau lagi siap-siap buat bepergian ke negeri 4 musim saat winter? Lebih baik baca dulu postingan ini.

Sebagai makhluk tropis — manusia yang terbiasa dan lama tinggal di iklim tropis, tentunya terbiasa juga untuk selalu hangat hampir setiap saat. Kalaupun kedinginan, biasanya ga lebih saat naik gunung, tinggal di sekitar gunung, dan atau lagi hujan lebat. By default, makhluk tropis hampir ga pernah ngalamin yang namanya salju dan atau suhu di bawah 10 derajat Celcius, atau bahkan di bawah 0 derajat. Tapi karena satu dan lain hal — salah satunya karena kesempatan, harus gimana kalo pergi ke negeri 4 musim saat musim dingin yang suhunya bisa mendekati nol dan atau terkena salju?

Long John
Long John. sumber: https://fitinline.com/article/read/long-john/

Jaket tebal, baju dan pakaian tangan panjang, sampai dengan berlapis-lapis pakaian hangat dan kaos kaki pasti jadi pilihan utama untuk melengkapi perjalanan tersebut. Meski begitu, cara tersebut kurang praktis dan kalo diterapin bisa jadi bikin susah bergerak — karena berlapis-lapis pakaian tersebut. Ada cara yang lebih praktis, yakni dengan menggunakan long john — juga dikenal sebagai long underwear.

Wikipedia: Long underwear, also called long johns or thermal underwear, is a style of two-piece underwear with long legs and long sleeves that is normally worn during cold weather. It is commonly worn by people under their clothes in cold countries. sumber: di sini

Saya pertama kali mengenal long john di tahun 2007 lalu. Singkat cerita lagi penugasan di Tiongkok (China) di saat winter. Penugasan tersebut butuh banget interaksi di luar ruang (outdoor) dan atau ruangan yang tanpa pemanas — karena kebutuhan teknis. Sebagai makhluk tropis, saya awalnya sedikit kewalahan. Kurang lebih seminggu pertama, saya pake pakaian berlapis-lapis, termasuk kaos kaki. Alhasil, susah gerak dan masih kedinginan pula meski udah pake jaket tebal! Kemudian ada salah satu kolega kerjaan bilang “Harusnya pake long john dulu jadi daleman.”

Pergilah saya ke salah satu hipermarket besar, dan beli 2 setel long john. Pertamanya agak sangsi dengan penampakannya yang lebih seperti pakaian dalam ketat, tapi ya karena udah ga tahan dingin akhirnya dicobalah. Jadi, long john digunakan di atas pakaian dalam, lalu dilapis pakaian kasual (kaos, celana panjang, kaos kaki), baru kemudian sweater (kalo suka pake), jaket dan sepatu. Masih berasa dingin sih, tapi seenggaknya udah ga susah gerak dibanding pake pakaian berlapis-lapis.

Pengalaman lain dengan long john sang penyelamat agar tetap hangat terjadi medio 2013-2014 lalu. Seperti pernah dibaca di sini juga (mungkin), saya ke Korea dan Jepang pas lagi musim dingin. Berhubung long john yang saya beli taun 2007 lalu sudah wassalam entah ke mana, akhirnya beli baru di ITC Kuningan. Lagi-lagi, sangsi karena produknya (dijual) dalam negeri. Tapi karena udah butuh, akhirnya beli dan dibawa-lah ke Korea dan Jepang. Hasilnya? Mayan anget, sama seperti waktu di Tiongkok (China) dulu. Malah pernah saya iseng ngetes pada saat pulang long john ga saya lepas sampe turun di bandara Jakarta. Hasilnya? Keringetan segede biji jagung. 😆

Long john ini punya beragam warna (harusnya), juga ukuran. Jadi kalo mau beli, carilah yang sesuai dengan ukuran badan. Soalnya kalo kekecilan atau kegedean, ya jelas ga bakal maksimal jaga hangatnya. Selain itu, sebagian besar long john punya lengan yang panjang, kalo pake kaos (T-shirt) tangan pendek jadi kaya’ kepanjangan gitu. Ga perlu risau atau misleuk (mislook), karena di luar negeri sana juga banyak kok yang begitu. Lagipula, pilih kedinginan (karena ga pake atau lengannya long john dipendekin), atau berasa aneh? Saya sih, pilih ga berasa aneh juga ga kedinginan (soalnya dilapis sweater lagi 😆 ).

Nah, berhubung sekarang udah November dan di negeri 4 musim lagi autumn (musim gugur) dan akan masuk ke winter (musim dingin), yang lagi berniat buat jalan-jalan ke sana karena penasaran dengan salju, mending nyiapin long john dari sekarang. Udah banyak yang jual sih harusnya, apalagi e-commerce udah menjamur. Jadi ga perlu takut susah nyarinya. 🙂 Dan kalo misal takut gerah pas berangkat, ya simpenlah di tas yang dibawa ke kabin. Jadi begitu turun dari pesawat, bisa langsung ganti — atau ganti di toilet pesawat sebelum landing.

Nulis Traveling: Ikutan Trend Atau …?

Engga ikutan trend meski saya kepengen. 😆

Beberapa orang yang kenal dengan saya, dan atau minimal tahu “karir” menulis saya sejak dulu, mungkin bakal sedikit heran kenapa belakangan kok saya (ikutan) ngeblog soal traveling — walau belum banyak. Well, ga lain ga bukan, emang lagi kepengen dan lagi sempet aja.

Beneran. Ciyus.

Oiya, ada satu alasan lagi: karena emang kebetulan bahannya udah mayan banyak ketimbang beberapa waktu (atau tahun) yang lalu.

Dan menjawab judul postingan ini, sudah saya jawab di kalimat pertama postingan ini juga. Jujur, saya dari dulu emang kepengen banget nulis soal traveling. Tapi saya tahu diri: nulis itu harus konsisten. Begitupun kalo emang mau nulis traveling, ya berarti harus ngapdet soal traveling terus kan? Minimal dibuat berkala – frekuensi yang sama. Sayangnya, dulu saya ga bisa — atau tepatnya belum bisa, dan baru bisa sekarang ini — mudah-mudahan yaaa. Karena alasan yang sepele: lagi kepengen, lagi sempet, dan kebetulan bahannya udah mayan banyak. *mengulang* :evilgrin:

Bahannya udah mayan banyak karena emang sudah beberapa tempat yang pernah saya kunjungi dan terdokumentasi di beberapa tempat — flickr, instagram, facebook, dan bahkan check in foursquare/swarm dan path. Tapi belum sempet diceritain lebih lanjut aja. Belum lagi jenis travelingnya yang beda-beda, mulai dari business traveling, colongan, sampai dengan young family with kids. Dan tempatnya ga ke yang itu-itu aja — kecuali yang emang jarang/susah didatengin ya. *disclaimer* 😆

Anyway, kalo emang ada yang mau sponsorin/biayain buat travelingnya juga (otomatis bakal dapet juga nulisnya), ya saya juga ga nolak sih. Siapa yang ga kepengen bisa jalan-jalan dibayarin coba? 😛 Tapi eits, ini bukan berarti saya ga mau ngemodal ya. Karena clearly, modal sih ada. Cuman kapannya itu lho..

Keuntungan Berangkat Malam untuk Travelling Jarak Jauh

This morning: sunrise at 41,000 feet. Somewhere above #Japan. #fromabove

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Feb 18, 2014 at 6:45pm PST

Sejak kecil saya dibiasakan untuk melakukan perjalanan jauh. Kapanpun itu — pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari — dini hari. Saat kecil seringkali perjalanan jauh yang dilakukan adalah perjalanan darat, baik itu menggunakan kendaraan mobil ataupun kereta. Perjalanan yang sering dilakukan tak lebih dari Jakarta-Tasikmalaya (kota asal ibu saya).

Kalo ditanya apakah suka? Saya akan bilang, iya dan tidak. Suka karena perjalanan jauh bisa berarti saya punya waktu untuk melihat dan menikmati hal-hal yang tidak ada di keseharian saya. Tidak suka karena jika sudah terkena macet atau terlambat, rasanya sebal sekali. Belum lagi perjalanan jauh amat sangat menguras tenaga — terutama jika mengendarai sendiri dan atau banyak barang bawaannya.

Walau begitu, saya tetap coba menikmati perjalanan.

Dari waktu-waktu perjalanan yang pernah saya lakukan, saya paling suka ketika malam hari. Baik itu berangkatnya, dan atau saat di perjalanannya. Alasannya sederhana: tidak perlu gerah/silau karena terkena matahari. Selain itu ada beberapa keuntungan melakukan perjalanan malam hari, antara lain,

  1. Menghemat waktu di perjalanan.
    Dari sekian banyak orang yang melakukan perjalanan, yang memilih untuk melakukannya di malam hari lebih sedikit. Risiko dan alasannya akan saya utarakan kemudian di postingan ini, tapi satu hal yang pasti adalah menghindari kelelahan dan kurangnya konsentrasi. Sehingga jalanan bisa jadi tidak lebih macet ketimbang siang hari, lebih lancar gitu.
  2. Menghemat budget perjalanan
    Salah satu faktor yang dipertimbangkan ketika melakukan perjalanan adalah budget. Melakukan perjalanan malam hari bisa sedikit menghemat budget karena kita saat tiba di tujuan bisa sudah pagi/siang dan langsung beraktivitas karena tidur sepanjang perjalanan. Jika melakukan perjalanan pagi/siang hari, ketika sampai bisa jadi sudah sore/malam dan keburu lelah sehingga tidak efektif untuk beraktivitas dan perlu budget untuk menginap semalam.
    Menghemat budget juga bisa dilakukan dengan cara tidak perlu membeli makanan/cemilan untuk di perjalanan karena tidur di sepanjang perjalanan.
  3. Bisa langsung beraktivitas ketika sampai di tujuan
    Seperti sudah disebutkan di nomer 2, perjalanan malam hari bisa menguntungkan karena ketika tiba bisa langsung beraktivitas. Hal ini dimungkinkan karena sepanjang perjalanan dilakukan untuk beristirahat, terutama jika perjalanan jauh memakan waktu cukup lama — lebih dari 5 jam. Bisa terjadi untuk bis AKAP dan juga dengan pesawat. Kecuali jika harus menyetir/jadi supir.
  4. Berangkat tidak terburu-buru sehingga tak ada barang tertinggal
    Berangkat malam hari tidak perlu terburu-buru karena waktu malam terasa lebih panjang ketimbang siang hari. Selain itu, persiapan yang dilakukan juga bisa dilakukan di siang hari dan lebih update — terutama jika hendak membawa makanan tak perlu takut basi. Selain itu, jika perlu menyetir/jadi supir di perjalanan malam hari, maka bisa beristirahat terlebih dulu dengan lebih tenang di pagi/siang harinya.
  5. Rest area/tempat peristirahatan/transit lebih lengang ketimbang siang hari
    Penjelasannya seperti nomer 1 di atas, karena lebih banyak orang yang melakukan perjalanan siang hari.

Itu beberapa keuntungan yang pernah saya rasakan ketika melakukan perjalanan malam hari. Meski begitu, melakukan perjalanan di malam hari bukan berarti tanpa risiko. Bahkan bisa jadi risikonya lebih besar ketimbang perjalanan bukan di malam hari. Beberapa yang saya sadari antara lain,

  1. Kemungkinannya besar untuk tidak berhenti/turun di stasiun tujuan dan terbawa ke tujuan berikutnya,
  2. Rawan kehilangan barang karena tertidur lelap, sampai dengan,
  3. Kelelahan apabila mengendarai sendiri karena kondisi fisik harus lebih prima.

Intinya, asalkan kita bisa menjaga diri untuk tetap aman & sehat, maka perjalanan malam hari banyak keuntungannya.

5 Wisata Populer di Bali

liburanSeumur-umur ke Bali baru sekali, itupun cuma sebentar. Meski begitu, saya punya tekad untuk bisa ke Bali minimal sekali seumur hidup, untuk waktu yang lebih lama & tentunya lebih menikmati.

Bali sebagai primadona wisata Indonesia sangat terkenal di mata dunia. Kekayaan seni budaya, keindahan alam, dan keunikan tradisi ritualnya seolah-olah mampu menyihir para wisatawan yang datang berkunjung. Kekayaan objek wisata Bali yang menarik seolah-olah tak pernah lekang oleh waktu, para wisatawan kerap datang berkali-kali dan masih akan selalu menemukan sesuatu yang istimewa di pulau ini.

Waktu yang paling tepat untuk ke Bali bukan pada saat musim libur, sebab di musim libur Bali amat ramai pengunjung dan segalanya menjadi lebih mahal. Kalau di luar musim liburan keuntungannya bisa mendapatkan tiket pesawat promo ke Bali melalui promo-promo yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan dan travel online. Selain itu, bisa mendapati promo harga di mana-mana baik akomodasi, restoran, tempat hiburan, tempat wisata, dan barang-barang murah saat berbelanja.

Nah, untuk persiapan ke Bali kelak, tempat-tempat wisata populer apa saja ya, yang kira-kira wajib dikunjungi di Bali? Cek dulu yang berikut ini.

1. Pantai Kuta

Pantai favorit wisatawan di Bali yang terkenal akan keindahan matahari tenggelamnya. Lokasinya mudah dijangkau, dekat dengan area pertokoan dan hiburan yang keren di Bali. Pantai Kuta juga suka dijadikan arena selancar bagi peselancar pemula. Tidak dipungut biaya masuk kawasan untuk menikmati pantai ini, jadi bisa menyisihkan uang untuk membeli beragam souvenir unik yang berjejer di toko-toko sepanjang jalan Pantai Kuta.

2. Pura Tanah Lot

Pura Tanah Lot adalah dua buah pura yang berdiri di atas sebuah batu karang besar di tepi laut. Pura ini diyakini sebagai tempat pemujaan Dewa Laut. Kita hanya bisa mendekat ke Pura Tanah Lot pada saat air laut surut, di samping itu juga bisa melihat beberapa ular keramat yang dipercaya menjaga Pura, yang boleh disentuh karena tidak berbahaya. Cukup membayar tiket masuk kawasan pantai sebesar Rp. 10.000, maka langsung bisa menyaksikan keunikan yang ada di tempat ini. Satu lagi, di sini pemandangan matahari terbenamnya juga spektakuler.

3. Garuda Wisnu Kencana (GWK)

GWK adalah sebuah taman wisata budaya di mana berdiri sebuah patung Dewa Wisnu raksasa yang megah karya I Nyoman Nuarta. Patung Dewa Wisnu yang nampak dipahat sedang menunggang Burung Garuda ini terletak di Tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung. Di sini juga bisa mengagumi kemegahan blok bukit-bukit pasir raksasa berbentuk balok-balok yang menjulang di sisi kanan kiri taman, dan nantinya akan dihiasi pahatan-pahatan. GWK juga mewadahi berbagai pagelaran seni dan Tari Bali yang bisa ditonton di Amphitheatre.

4. Pura Uluwatu

Sebuah Pura suci yang berdiri anggun di atas ujung bukit karang yang menjorok ke laut. Pemandangan Pura ini sangat memukau dengan dilatari laut biru kehijauan dan sunset yang cantik. Pura ini ikut dihuni oleh sekawanan monyet yang dipercaya sebagai penjaga kesucian Pura, tingkahnya usil jadi hati-hati pada barang-barang yang dikenakan. Ketika berkunjung masuk ke Pura ini, perlu mengenakan pakaian khusus sarung, selendang, atau sabuk khas Bali sebagai simbol penghormatan akan kesucian Pura Uluwatu. Kalau beruntung, juga bisa menyaksikan suguhan Tari Kecak dan upacara ritual Bali di Pura ini.

5. Ubud

Ubud adalah daerah pusat wisata budaya dan kesenian di Bali yang letaknya di dataran tinggi, agak menjauhi kawasan pantai-pantai Bali. Desa-desa perajin ukiran patung, seni tari, seni tabuh, seni lukis, dan toko-toko kerajinan lokal bisa dijumpai di sepanjang jalan Gianyar menuju kawasan Ubud. Beragam aktivitas bisa dilakukan di tengah-tengah kesejukan Ubud, seperti bersepeda di sawah terasering, melihat proses pembuatan kerajinan lokal, menonton Tari Kecak Api, Berbelanja di Pasar Ubud, mengarungi jeram di Sungai Ayung, wisata museum, dan berkuliner ria.

Yuk, kita ke Bali! *langsung ngecek tanggal libur & harga tiket*