Gimana Caranya Dapat Tiket Pesawat Murah?

Jalan-jalan jauh, paling enak memang menggunakan pesawat. Waktu perjalanan yang cepat menjadi faktor utama kenapa pesawat dipilih. Bayangkan jika hendak bepergian ke lain kota yang berada di beda pulau menggunakan transportasi darat disambung laut, lalu darat lagi? Bisa berhari-hari menempuhnya dibandingkan beberapa jam saja dengan pesawat.

Bepergian dengan pesawat pun menjadi primadona belakangan ini, terlebih menjamurnya maskapai yang menyediakan tiket murah seperti AirAsia, Citilink, sampai dengan Lion Air. Belum lagi promo yang disediakan pada waktu-waktu tertentu. Jalan-jalan jauh pun tak lagi mimpi.

Berikut beberapa cara untuk dapatkan tiket pesawat murah untuk bepergian:

  1. Pesanlah jauh-jauh hari dari tanggal keberangkatan.
    Beberapa maskapai atau online travel agent menyediakan tanggal keberangkatan hingga 1 tahun sejak tanggal booking. Tanggal keberangkatan pesawat yang jauh dari tanggal booking biasanya lebih murah karena belum begitu banyak dipesan dan belum dipengaruhi oleh animo pemesan dan hari libur.
  2. Membeli saat ada promo. Bisa dengan promo maskapai atau kartu kredit.
    Promo adalah cara paling efektif untuk mendapatkan tiket murah. Tak tanggung-tanggung, promo dapat membuat tiket pesawat lebih murah 50% dibandingkan publish price atau di luar periode promo. Membeli pada saat promo bisa dilakukan di saat periode yang dilakukan oleh maskapainya ataupun kartu kredit yang dimiliki dan digunakan untuk membayar.
  3. Membeli menggunakan online travel agent.
    Online travel agent seperti tiket.com, traveloka, sampai dengan nusatrip biasanya memiliki promo tersendiri di luar yang disediakan oleh maskapai atau kartu kredit. Promo yang disediakan berupa cash back tunai sampai dengan diskon atau potongan harga.
  4. Tanggal keberangkatan/pulang tidak di hari weekend (akhir pekan).
    Hari-hari akhir pekan menjadi pilihan utama bagi para pekerja kantoran untuk melakukan perjalanan. Hal itu disinyalir terkait dengan cuti bagi para pekerja kantoran tersebut. Sehingga tak jarang tanggal keberangkatan/pulang di akhir pekan harga tiket pesawat jauh lebih mahal ketimbang di hari biasa (weekdays).
  5. Berangkat/pulang tidak berdekatan dengan tanggal libur/hari raya nasional/lokal.
    Tanggal libur atau hari raya nasional/lokal juga biasanya mendukung harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. Hal ini karena orang lain juga hendak bepergian di hari tersebut sehingga animo lebih tinggi ketimbang hari biasa.
  6. Memilih destinasi yang popularitasnya lebih kecil.
    Bepergian ke sebuah destinasi yang popularitasnya lebih tinggi juga menunjang harga tiket pesawat yang lebih tinggi. Tiket pesawat ke Tokyo dan Osaka Jepang misalnya, di hari dan tanggal yang sama akan lebih mahal ke Tokyo daripada ke Osaka meskipun berada di negara yang sama. Memilih destinasi yang tidak popular bukan berarti tidak akan ke destinasi yang popular, melainkan hanya trik agar lebih murah dan cepat sampai, baru kemudian mencari tranportasi lokal.
  7. Memilih destinasi bandara yang berdekatan dengan tujuan utama/bandara sekunder.
    Beberapa kota besar memiliki bandara lebih dari satu. Jakarta saja misalnya, memiliki bandara utama Soekarno-Hatta dan juga Halim Perdanakusuma sebagai sekunder. Pemilihan bandara sekunder dapat membuat tiket pesawat lebih rendah ketimbang bandara utama karena biaya maskapai untuk ke bandara tersebut juga lebih murah, yang tentunya turut dihitung menjadi harga tiket pesawat.
  8. Pilih perjalanan dengan transit daripada langsung.
    Meskipun lebih nyaman, direct flight atau penerbangan langsung memiliki harga yang lebih mahal ketimbang perjalanan dengan transit.

Meski begitu, ada beberapa hal yang jangan sampai dilupakan dalam rangka mencari tiket pesawat murah itu, antara lain sebagai berikut:

  1. Review mengenai maskapai yang akan digunakan.
    Beberapa maskapai terkenal dengan jargon tiket murahnya, beberapa lainnya dengan kualitasnya. Ketika sebuah maskapai dengan kualitas tinggi ternyata menyediakan tiket murah, harus dicari tahu ulasan (review) apakah kemudian dioper ke maskapai segrup atau tidak.
  2. Perhatikan lama perjalanan.
    Jangan hanya karena murah, lalu rela transit yang ternyata dilakukan beberapa kali sehingga tentunya akan melelahkan dan merepotkan.

Jadi, sudah siap untuk berburu tiket murah untuk perjalanan? Salah satu caranya bisa dilakukan dengan cek di sini.

Hal-hal yang Baiknya Dilakukan Sebelum Melakukan Road Trip

Road trip atau perjalanan darat, adalah salah satu pilihan travelling yang memiliki penggemar dengan jumlah tidak sedikit. Melakukan road trip bisa umumnya dengan menggunakan kendaraan roda empat seperti bis dan mobil pribadi. Tapi tak jarang juga yang melakukan road trip dengan menggunakan sepeda motor, atau sambung-menyambung dengan menggunakan kereta atau alat transportasi darat lainnya.

A road trip is a long distance journey on the road. Typically, road trips are long distances traveled by automobile. – Wikipedia

Buat saya pribadi, road trip yang paling lama pernah saya lakukan dengan mengendarai kendaraan pribadi adalah ketika melakukan perjalanan pulang dari Yogyakarta-Jakarta melalui jalur Selatan Jawa. Kala itu, perjalanan yang dilakukan total kurang lebih 18 jam. Waktu selama itu terjadi bukan karena macet periode liburan, tapi lebih karena banyak melakukan berhenti untuk istirahat sesuai dengan medan jalan yang cukup menantang. Perihal kenapa banyak berhenti ketika melakukan road trip dengan kendaraan pribadi, akan saya bahas lebih lengkap di postingan lainnya, ya. 🙂

Untuk postingan kali ini, adalah hal-hal yang baiknya dilakukan sebelum melakukan road trip. Khususnya ketika menggunakan kendaraan pribadi. Tentu, ini berdasar pengalaman saya pribadi, sbb:

  1. Pastikan kendaraan pribadi dalam kondisi fit.
    Bawa ke bengkel jika perlu, atau usahakan pengecekan terakhir ke bengkel tidak lebih dari 30 hari yang lalu. Hal ini bagi saya wajib dilakukan supaya kendaraan pribadi dalam kondisi yang mendukung untuk melakukan road trip. Yang harus dicek antara lain kondisi oli, rem, ban, sampai dengan radiator, tegangan aki (biasanya sekaligus cek umur aki), dan juga kemudi. Jika melakukan servis rutin — per 6 bulan atau 10.000 km (untuk mobil), pengecekan ini sudah pasti akan membuat kendaraan pribadi dalam kondisi fit. Di beberapa bengkel pun cukup dengan menyatakan akan melakukan road trip, maka teknisi/mekanik sudah punya bayangan apa saja yang akan dicek.
  2. Pastikan kondisi badan dalam kondisi fit.
    Kenapa badan harus dalam kondisi fit? Karena road trip biasanya akan memakan waktu berjam-jam lamanya, dan terkadang lalu lintas tidak bisa ditebak — kecuali kalo musim liburan atau lebaran yang udah hampir pasti macet sepanjang jalan. 😛 Memastikan badan dalam kondisi fit ga melulu harus ke dokter dengan cara medical check up kok, cukup kenali saja tanda-tandanya mulai dari yang ringan seperti apakah hidung mampet, mata perih, tenggorokan sakit, dan lain-lain. Jikalau masih bisa dihalau/dikurangi efek sakitnya, pastikan membawa obat-obatan pribadi karena belum tentu bertemu toko kelontong di perjalanan.
  3. Pastikan sudah cuti/libur.
    Iya, ini paling vital. Ga lucu banget kalo mau road trip yang lama, trus tau-tau harus masuk ke kantor untuk bekerja karena dianggap ga cuti. :mrgreen:
  4. Bikin rute perjalanan dan atau siapkan peta.
    Road trip yang menyenangkan adalah yang sesuai dengan rencana. Karena waktu di perjalanan cukup lama, maka nyasar ga boleh jadi pilihan. Untuk menghindari nyasar, maka baiknya siapkan rute perjalanan. Hal ini penting terutama jika mengendarai kendaraan pribadi, dan atau kalau tidak sering melakukan road trip.
  5. Siapkan makanan.
    Makanan ringan ataupun berat, penting adanya untuk disediakan di kendaraan sebagai konsumsi di jalan. Makanan ini bisa berfungsi untuk penghalau kantuk atau penahan lapar sampai bertemu dengan rumah makan/restoran. Untuk jenis makanan yang dibawa, amat sangat disarankan untuk makanan yang tidak berkuah dan sedikit sampahnya — atau habis sekali dimakan. Apabila perjalanan disertai anak kecil, upayakan membawa makanan yang menjadi kesukaannya.
  6. Punya kontak darurat.
    Kontak darurat ini bisa mencakup orang di tempat tujuan, orang di tempat asal, sampai dengan nomer telepon Polisi, bengkel, dan lain-lain. Kalo misal ternyata sinyal internet cukup kuat, bisa juga dengan memastikan paket internetnya nyala dan bisa akses internet untuk cari informasi terdekat.

Kurang lebih itu sih persiapan sebelum melakukan perjalanan darat dengan kendaraan sendiri. Nanti kalau ada update lagi, akan saya share di sini. Sementara itu, have a nice trip!

 

photo credit: HO|PE via photopin (license)

Persiapan Tas Untuk Travelling

Travelling, atau jalan-jalan yang rada jauh, pasti perlu persiapan yang ga sebentar dan ga sedikit. Minimal bawa satu tas atau koper untuk dibawa berisikan perlengkapan sepanjang perjalanan. Utamanya tentu berisikan pakaian dan perlengkapan mandi, tapi ga jarang juga alat tulis seperti buku dan pulpen, kamera, sampai dengan perlengkapan elektronik seperti charger dan powerbank.

Tanpa perencanaan yang baik, tas atau koper yang dipake untuk travelling bisa jadi semacam kapal pecah yang segala macam ada dan bakal sulit untuk dicari saat perlu. Saya ga langsung menuduh bahwa orangnya berantakan ya, bisa jadi rapi tapi malas atau teledor. Nah, berdasarkan pengalaman sendiri, berikut kiat-kiat saya untuk mempersiapkan tas saat akan travelling. Please note, kiat berikut ini dalam konteks pria yang akan solo-travelling, ya.

  1. Walaupun travelling akan berjalan sebentar — maksimal seminggu, saya minimal akan membawa 2 tas. Bisa dibedakan dari ukurannya, kecil dan besar. Kecil ukurannya maksimal sebesar backpack, dan besar minimal seukuran koper yang bisa masuk kabin pesawat.
  2. Kedua tas yang akan saya gunakan tadi saya fungsikan dengan beda kegunaan. Yang tas besar akan digunakan sebagai penyimpanan seluruh pakaian dan perlengkapan mandi yang akan saya gunakan sepanjang perjalanan. Sementara tas yang kecil akan diisi dengan minimal satu pakaian (dan pakaian dalam) ganti, buku tulis dan pulpen, parfum, serta alat-alat elektronik. Ditambah plaster luka, minyak kayu putih, dan panadol jika perlu.
  3. Tas kecil akan berfungsi sebagai semacam jaring pengaman saya, sebagai tas yang dapat memberikan “pertolongan” pertama dan mudah diraih. Sementara tas besar akan berfungsi sebagai tas terlengkap.
  4. Tas kecil juga akan berfungsi sebagai teman travelling setiap harinya. Tempat untuk menyimpan paspor, dompet, dan ponsel jika diperlukan. Dan juga peta perjalanan, serta kamera. Sementara tas utama akan disimpan di penginapan.

Jikalau saya bepergian dengan keluarga kecil saya, tentunya keperluan tas tersebut akan berbeda dan cenderung bertambah. Tetapi, minimal saya sendiri akan membawa 2 tas dengan susunan seperti di atas.

photo credit: Go-tea 郭天 Complicity via photopin (license)

Nulis Traveling: Ikutan Trend Atau …?

Engga ikutan trend meski saya kepengen. 😆

Beberapa orang yang kenal dengan saya, dan atau minimal tahu “karir” menulis saya sejak dulu, mungkin bakal sedikit heran kenapa belakangan kok saya (ikutan) ngeblog soal traveling — walau belum banyak. Well, ga lain ga bukan, emang lagi kepengen dan lagi sempet aja.

Beneran. Ciyus.

Oiya, ada satu alasan lagi: karena emang kebetulan bahannya udah mayan banyak ketimbang beberapa waktu (atau tahun) yang lalu.

Dan menjawab judul postingan ini, sudah saya jawab di kalimat pertama postingan ini juga. Jujur, saya dari dulu emang kepengen banget nulis soal traveling. Tapi saya tahu diri: nulis itu harus konsisten. Begitupun kalo emang mau nulis traveling, ya berarti harus ngapdet soal traveling terus kan? Minimal dibuat berkala – frekuensi yang sama. Sayangnya, dulu saya ga bisa — atau tepatnya belum bisa, dan baru bisa sekarang ini — mudah-mudahan yaaa. Karena alasan yang sepele: lagi kepengen, lagi sempet, dan kebetulan bahannya udah mayan banyak. *mengulang* :evilgrin:

Bahannya udah mayan banyak karena emang sudah beberapa tempat yang pernah saya kunjungi dan terdokumentasi di beberapa tempat — flickr, instagram, facebook, dan bahkan check in foursquare/swarm dan path. Tapi belum sempet diceritain lebih lanjut aja. Belum lagi jenis travelingnya yang beda-beda, mulai dari business traveling, colongan, sampai dengan young family with kids. Dan tempatnya ga ke yang itu-itu aja — kecuali yang emang jarang/susah didatengin ya. *disclaimer* 😆

Anyway, kalo emang ada yang mau sponsorin/biayain buat travelingnya juga (otomatis bakal dapet juga nulisnya), ya saya juga ga nolak sih. Siapa yang ga kepengen bisa jalan-jalan dibayarin coba? 😛 Tapi eits, ini bukan berarti saya ga mau ngemodal ya. Karena clearly, modal sih ada. Cuman kapannya itu lho..

Liburan Nekat ke Singapura

Musim liburan biasanya adalah musim yang selalu dinanti setelah selesai berpenat ria dengan tugas-tugas yang menumpuk. Masa-masa liburan sering digunakan sebagian orang berjalan-jalan jauh untuk me-refresh otak. Sama halnya dengan salah satu kenalan saya yang baru lulus UN tahun ini. Sebelum berjibaku dengan dunia kuliah nanti, di liburan panjang kali ini dia berencana pergi ke Bali. Uang sudah disiapkan dan sudah check beberapa harga tiket sebagai referensi sebelumnya.

Menurut ceritanya, ketika ia beritahukan akan rencananya kepada orang tua dan kakaknya, mereka awalnya kaget, apakah berani pergi sendiri ? Karena tekadnya sudah kuat untuk berlibur, kali ini dia yakin dapat mandiri dan bisa mengatasinya sendiri. Dia pun coba search kembali harga beberapa tiket serta akomodasi ke beberapa tempat liburan dan hasilnya kebingungan karena harga-harga sudah berubah dan tidak seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Akhirnya dia bertanya dan konsultasi pada kakaknya yang notabanenya sudah mahasiswa. Mereka coba kembali mencari beberapa tiket dan penginapan di Bali yang murah. Ketika sedang mencari beberapa harga tiket, kakaknya kemudian punya ide cemerlang. “Ini harga ke Bali ga beda jauh dengan harga ke Singapura, kita ke Singapura aja yuk. Kebetulan kakak juga ada beberapa tabungan” Jawab kakaknya dengan mantap.

“Beneran kak ? kita kan sama-sama belum pernah ke luar negeri ?” dia bertanya seperti tidak yakin apa yang dikatakan kakaknya. “Udah tenang aja, besok kita buat passport bareng ya.” Jawabnya dengan mantap.

Dia bilang pada saya, walau ingin sekali pergi ke Bali tapi ke Singapura adalah liburan yang lebih mengasyikkan, ditambah dia tidak akan sendiri — ada kakak yang menemani.

Pembuatan passport mereka pun berjalan lancar, pembelian tiket pesawat dan booking hotel sudah diurus oleh kakaknya dengan pemesanan lewat salah satu OTA (Online Travel Agent) yang ada. Liburan mereka ke luar negeri yang kelihatannya sangat mahal, jadi terasa sangat hemat karena sudah dipersiapkan segalanya.

Kemajuan teknologi memang sangat menguntungkan, liburan mereka yang nekat jadi penuh dengan persiapan. Mereka yang belum pernah sama sekali ke sana, dapat menyusun agenda liburan dengan matang. Sebelum berangkat mereka sudah booking hotel sehingga tidak perlu takut tidak dapat penginapan. Mereka pun merasakan sekali kemudahan dalam mencari tiket serta penginapan dengan OTA.

Berdasar ceritanya, berikut beberapa keuntungan memesan menggunakan OTA.

  1. Pilihan banyak dan variatif
    Mereka memilih beberapa hotel yang mudah transportasi dan dekat dengan beberapa tempat yang ingin didatangi saat di Singapura. Pastinya mereka mencari juga hotel yang pas dengan kantong mereka berdua.
  1. Hemat waktu dan tenaga
    Mereka tidak perlu mengantri lama dan menelepon satu-persatu hotel untuk booking, hanya dengan mengunjungi website sebuah OTA, mereka sudah dapat memesan dengan mudah.
  1. Informasi lengkap mengenai hotel termasuk pendapat pengunjung sebelumnya
    Ini juga merupakan hal yang penting, dengan melihat ulasan pengunjung lain saat menginap di hotel tersebut dapat menjadi referensi mereka untuk memilih hotel yang baik.
  1. Metode pembayaran yang komplit dan aman
    Pemesanan hotel sebelumnya bisa ke kantor cabang travel, langsung bayar di hotel dan via transfer, jadi tidak harus punya kartu kredit. Saat ini ada beberapa metode pembayaran seperti transfer via mobile, ATM atau bayar di indomaret, dan lain-lain. Sehingga jika tidak punya kartu kredit juga tetap dapat memesan.
  1. Penawaran spesial
    OTA sering memberikan diskon terkait pemesanan kamar dan diskonnya bisa sampai 70%

Sekarang dia jadi tidak perlu khawatir jika ingin berlibur jauh, yang utama punya schedule yang baik. Liburannya kali ini bersama kakaknya adalah hal yang tidak bisa dilupakan, katanya sih mereka jadi seperti bocah petualang yang tentunya sangat mengasyikkan. Ternyata ke luar negeri tidak sesulit yang dibayangkan, kan? Berkat OTA dia berterimakasih banget dan untuk liburan depan bakal giat menabung karena tujuan selanjutnya adalah Eropa. Semoga mimpinya dapat tercapai, ya.

Tokyo Tower yang Legendaris

Pengetahuan saya tentang Tokyo Tower berawal dari Doraemon. Iya, betul Doraemon yang tokoh kartun kucing robot itu. Yang temennya Nobita, Shizuka, Giant, & Suneo. Tahunya dari mana? Dari opening serial kartun itu. Kalo ga salah, opening versi tahun 1990an awal (yang tayang di RCTI), ada salah satu scene-nya yang memperlihatkan Tokyo Tower. Kalo ga salah, pas lirik “Aku ingin terbang di angkasa.. Hai, baling-baling bambu!”

Berpendaran @ #Tokyo Tower. #nofilter

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Apr 12, 2014 at 7:15pm PDT

Sejak saat itu, semacam terpatri di benak saya suatu saat harus tahu lebih lanjut mengenai bangunan tersebut. Untungnya, setelah lebih dewasa dan dengan bantuan internet, tahu bahwa bangunan itu bernama Tokyo Tower. Bangunan yang mirip Eiffel Tower di Paris (lebih tinggi Tokyo Tower lho), dan juga salah satu landmark dari kota Tokyo, Jepang.

Singkat cerita, sekitar akhir tahun 2013 sampai dengan awal tahun 2014 lalu, saya berkesempatan untuk melakukan perjalanan terkait pekerjaan (di saat itu) ke sekitar Korea dan Jepang. Dan pada akhirnya, medio Januari-Februari 2014 saya pun berkesempatan untuk menuju kota Tokyo, Jepang. Otomatis, salah satu yang hendak saya kunjungi di kala senggang adalah Tokyo Tower. Selain karena menjadi bagian masa kecil (karena Doraemon), juga menjadi salah satu checklist saya untuk mengunjungi landmark berupa bangunan tinggi atau fasilitas yang bisa membuat saya melihat kota dari ketinggian.

Tokyo Tower yang terletak di distrik Minato, bisa dicapai dengan subway. Saya lupa persisnya subway jalur yang mana, tapi ada 2 stasiun dari 2 jalur yang berbeda yang bisa sampai ke sana. Selain itu, Tokyo Tower juga bisa dicapai dengan menggunakan Hop On-Hop Off Bus — yang tiketnya berlaku 1×24 jam.

Kesan pertama ketika sampai, jelas adalah takjub. Betapa manusia dengan akalnya bisa membuat sebuah bangunan yang menjulang tinggi ke angkasa dan bisa tahan lama. Belum lagi ternyata bangunan tersebut bisa dinaiki — baik dengan lift maupun tangga biasa. Sekilas saya teringat Monas di Jakarta. Sebagai landmark, bangunan yang memiliki tinggi total 333 meter ini terbagi menjadi 3 bagian: 

  • Area komersil Ini mencakup pintu gerbang, loket tiket, tempat makan/resto, sampai dengan souvenir shop. Tidak perlu tiket masuk khusus ke area komersil ini.
  • Area Pengamatan Bawah Merupakan area untuk mengamati sekitar yang terletak di ketinggian 150 meter. Ini memerlukan tiket pertama.
  • Area Pengamatan Atas Merupakan area untuk mengamati sekitar yang terletak di ketinggian 250 meter. Ini memerlukan tiket pertama dan kedua. Total harus membeli 2 tiket.

Selain membeli tiket, juga bisa dengan menaiki tangga untuk ke puncaknya. Tapi sejauh yang saya tahu, menaiki tangga itu hanya untuk acara-acara khusus saja. Seperti misalnya olahraga yang diselenggarakan secara resmi dan bukannya pilihan berhemat.

Ketika saya mengunjungi Tokyo Tower, waktu yang saya pilih adalah mendekati sunset atau matahari terbenam. Sengaja, untuk memotret dan melihat keindahan kota Tokyo diterpa sinar senja. Seperti yang pernah saya lakukan di Sydney Eye Tower lalu. Meski memang, tantangannya besar karena sedang musim dingin. Sehingga waktu sunset lebih cepat daripada biasanya. Selain itu juga jalan kaki dari stasiun subway ke Tokyo Tower cukup jauh, jadi harus melawan rasa dingin meski sudah mengenakan jaket tebal & juga pakaian hangat.

waiting for sunset, #tokyo tower. #silhouette #fromthedistance

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Jan 29, 2014 at 12:32am PST

Lalu apakah hanya pemandangan sekitar saja yang bisa dilihat? Tentu tidak. Di observatorium (area pengamatan) itu ada menara pandang ke arah bawah, panggung kecil untuk atraksi musisi lokal, sampai dengan resto kecil dan juga toko souvenir. Iya, yang bukan di area komersil.

Enjoyable band performance at club 333, observatory deck of #tokyo tower.

A video posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Jan 29, 2014 at 3:01am PST

Sehubungan kunjungan saya sudah lewat 2 tahun lebih, maka untuk informasi lebih lanjut bisa dicari di link yang sudah saya cantumkan di beberapa backlink di atas, atau sbb:

Nah, kelak tahun 2020 kalau ada rejeki untuk nonton atau jadi kontingen Olimpiade, boleh lah berkunjung ke salah satu landmark legendaris ini. Dan berdasar pengalaman saya, kalau mau cari oleh-oleh ada baiknya ke area komersil di Tokyo Tower ini. Pilihannya banyak, harganya terjangkau, belum lagi kualitasnya oke-oke. Juga kalau capek, bisa langsung makan/minum dulu di resto sekitarnya. 

*mendadak pengen ke Tokyo lagi*

Keuntungan Berangkat Malam untuk Travelling Jarak Jauh

This morning: sunrise at 41,000 feet. Somewhere above #Japan. #fromabove

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Feb 18, 2014 at 6:45pm PST

Sejak kecil saya dibiasakan untuk melakukan perjalanan jauh. Kapanpun itu — pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari — dini hari. Saat kecil seringkali perjalanan jauh yang dilakukan adalah perjalanan darat, baik itu menggunakan kendaraan mobil ataupun kereta. Perjalanan yang sering dilakukan tak lebih dari Jakarta-Tasikmalaya (kota asal ibu saya).

Kalo ditanya apakah suka? Saya akan bilang, iya dan tidak. Suka karena perjalanan jauh bisa berarti saya punya waktu untuk melihat dan menikmati hal-hal yang tidak ada di keseharian saya. Tidak suka karena jika sudah terkena macet atau terlambat, rasanya sebal sekali. Belum lagi perjalanan jauh amat sangat menguras tenaga — terutama jika mengendarai sendiri dan atau banyak barang bawaannya.

Walau begitu, saya tetap coba menikmati perjalanan.

Dari waktu-waktu perjalanan yang pernah saya lakukan, saya paling suka ketika malam hari. Baik itu berangkatnya, dan atau saat di perjalanannya. Alasannya sederhana: tidak perlu gerah/silau karena terkena matahari. Selain itu ada beberapa keuntungan melakukan perjalanan malam hari, antara lain,

  1. Menghemat waktu di perjalanan.
    Dari sekian banyak orang yang melakukan perjalanan, yang memilih untuk melakukannya di malam hari lebih sedikit. Risiko dan alasannya akan saya utarakan kemudian di postingan ini, tapi satu hal yang pasti adalah menghindari kelelahan dan kurangnya konsentrasi. Sehingga jalanan bisa jadi tidak lebih macet ketimbang siang hari, lebih lancar gitu.
  2. Menghemat budget perjalanan
    Salah satu faktor yang dipertimbangkan ketika melakukan perjalanan adalah budget. Melakukan perjalanan malam hari bisa sedikit menghemat budget karena kita saat tiba di tujuan bisa sudah pagi/siang dan langsung beraktivitas karena tidur sepanjang perjalanan. Jika melakukan perjalanan pagi/siang hari, ketika sampai bisa jadi sudah sore/malam dan keburu lelah sehingga tidak efektif untuk beraktivitas dan perlu budget untuk menginap semalam.
    Menghemat budget juga bisa dilakukan dengan cara tidak perlu membeli makanan/cemilan untuk di perjalanan karena tidur di sepanjang perjalanan.
  3. Bisa langsung beraktivitas ketika sampai di tujuan
    Seperti sudah disebutkan di nomer 2, perjalanan malam hari bisa menguntungkan karena ketika tiba bisa langsung beraktivitas. Hal ini dimungkinkan karena sepanjang perjalanan dilakukan untuk beristirahat, terutama jika perjalanan jauh memakan waktu cukup lama — lebih dari 5 jam. Bisa terjadi untuk bis AKAP dan juga dengan pesawat. Kecuali jika harus menyetir/jadi supir.
  4. Berangkat tidak terburu-buru sehingga tak ada barang tertinggal
    Berangkat malam hari tidak perlu terburu-buru karena waktu malam terasa lebih panjang ketimbang siang hari. Selain itu, persiapan yang dilakukan juga bisa dilakukan di siang hari dan lebih update — terutama jika hendak membawa makanan tak perlu takut basi. Selain itu, jika perlu menyetir/jadi supir di perjalanan malam hari, maka bisa beristirahat terlebih dulu dengan lebih tenang di pagi/siang harinya.
  5. Rest area/tempat peristirahatan/transit lebih lengang ketimbang siang hari
    Penjelasannya seperti nomer 1 di atas, karena lebih banyak orang yang melakukan perjalanan siang hari.

Itu beberapa keuntungan yang pernah saya rasakan ketika melakukan perjalanan malam hari. Meski begitu, melakukan perjalanan di malam hari bukan berarti tanpa risiko. Bahkan bisa jadi risikonya lebih besar ketimbang perjalanan bukan di malam hari. Beberapa yang saya sadari antara lain,

  1. Kemungkinannya besar untuk tidak berhenti/turun di stasiun tujuan dan terbawa ke tujuan berikutnya,
  2. Rawan kehilangan barang karena tertidur lelap, sampai dengan,
  3. Kelelahan apabila mengendarai sendiri karena kondisi fisik harus lebih prima.

Intinya, asalkan kita bisa menjaga diri untuk tetap aman & sehat, maka perjalanan malam hari banyak keuntungannya.

Smooth Experience with Korean Air

Udah lama ga nulis terkait jalan-jalan alias ngetrip, mau coba mulai lagi ah sekarang. 🙂

Sekitar medio Desember 2013 lalu, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Korea Selatan – tepatnya Seoul dan sekitarnya, terkait dengan pekerjaan. Karena saya udah cukup lama ga ke wilayah bumi dengan 4 musim dan waktu persiapan yang cukup mepet sementara masih banyak yang harus diurus, akhirnya urusan visa dan juga tiket perjalanan diserahkan ke salah satu agen perjalanan. Ya, mengurangi satu pikiran lah.

Singkat cerita, setelah urun rembuk dengan rekan-rekan satu kelompok perjalanan-pekerjaan, akhirnya dipilihlah Korean Air sebagai maskapai yang akan digunakan untuk perjalanan pergi-pulang. Pertimbangannya banyak, mulai dari waktu keberangkatan yang sesuai, rekomendasi dari agen perjalanannya, sampai dengan harga. Tapi kali ini yang bakal saya omongin lebih ke pengalaman di perjalanannya ya, bukan detail lainnya.

Hari H keberangkatan, setelah mengantisipasi akan terjadi banjir bandang lagi – pada waktu itu beberapa hari sebelumnya Jakarta banjir di sana-sini, tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan jarak 6 jam dari jam buka check-in. Setelah menunggu rekan sekelompok dan menghabiskan waktu, akhirnya sekitar 2 jam sebelum take off, mulai masuk untuk mengantri check in. Di sini pengalaman smooth dimulai.

Group check-in. Pilihan ini sangat membantu untuk saya dan rekan-rekan, karena barang bawaan kami yang cukup banyak serta agak repot kalo harus mengantri satu-persatu. Serta, rencananya memang di pesawat hendak meminta kursi yang berdekatan – rencana awalnya ya supaya mudah mengobrol. Semuanya berjalan lancar dan cepat.

Masuk ruang tunggu sampai dengan boarding, ga ada cerita berarti. Lebih berarti lagi saat mulai boarding, karena menjumpai air crew-nya tak semuanya warga Korea, tapi ada juga dari Melayu dan Indonesia. Ketauan dari mana? Jelas karena nanya, dong. :mrgreen: Kan buat mastiin, kalo butuh sesuatu di flight nanti terkait makan-minum atau entertainment services, ada yang mudah diajak ngobrol. 🙂

Smooth take-off. Hampir ga berasa bump sama sekali. Setelahnya perjalanan di udara juga nyaman dengan pilihan makanan yang ramah dengan perut – saya lupa persis saya order makanan apa, yang pasti bukan Korean. Juga penawaran alkohol dengan cara sopan – menanyakan apakah memang minum atau tidak.

Air crew yang cakap. Minimal dalam berbahasa Inggris, serta berbahasa Melayu dan Indonesia – untuk yang crew dari Melayu-Indonesia. Mungkin memang karena saya udah lama juga ga naik pesawat yang lebih dari 6 jam ke negeri dengan bahasa aslinya bukan bahasa Inggris, jadinya kalo nemu air crew yang cakap bahasa Inggris, semacam takjub gituh. 😛

Perjalanan malam yang memang sengaja dikondisikan agar bisa kill time di perjalanan, terasa nyaman juga dengan Korean Air. Pilihan in-flight entertainment yang up-to-date – pada waktu itu, mendukung buat saya yang cenderung susah untuk tidur lebih dari 1 jam jika sedang dalam perjalanan. Kecuali ya, kalo emang sebelum naik pesawatnya udah capek bingits. *eh*

Jelang landing di Seoul, Korea, baru ketauan kalo ternyata air crew yang bisa berbahasa Indonesia tersebut adalah pramugari dari Garuda Indonesia yang sedang “pertukaran karyawan” ke Korean Air. Saya sempat heran, karena meskipun sama-sama maskapai besar dan punya trayek (halah) Jakarta-Seoul, kok pramugarinya tuker-tukeran gitu. Di kemudian hari, baru saya tau kalo “pertukaran” itu mungkin adanya, karena kedua maskapai tersebut berada di grup SkyTeam.

Smooth landing. Satu-satunya hal yang saya ingat sebelum landing adalah pengumuman dari pilot untuk penumpang serta aba-aba “prepare for landing” untuk air crew. Setelahnya? Suara lepas seat-belt dan pemandangan Incheon Airport yang mulai bersalju dengan langit yang masih gelap. Iya, bump pada saat landing ga berasa banget. Hal ini tak hanya diakui oleh saya, melainkan juga oleh rekan-rekan seperjalanan.

Perjalanan pulang beberapa minggu kemudian dengan Korean Air pun mendapati pengalaman yang kurang lebih sama. Baik itu saat masih di ground sebelum berangkat, take off, in flight, sampai dengan landing. Benar-benar sebuah strategi yang apik – dan sudah seharusnya dilakukan, oleh Korean Air.

So, Korean Air? Smooth experience for me.

Ke Yogya, Aku Kan Kembali

Dari sekian banyak tempat yang pernah saya kunjungi, ada satu kota yang istimewa banget buat saya. Yaitu Yogyakarta, atau biasa disebut sebagai Yogya. Kenapa? Karena saya seperti selalu terpanggil untuk kembali lagi, dan lagi ke Yogya.

Pertama kali saya mengenal Yogya jelas dari pelajaran IPS sekolah dasar. Kemudian, di akhir pendidikan SD pertama kalinya pula saya menginjakkan kaki ke Yogya. Setelahnya? Minimal 3 taun sekali saya pasti ke Yogya – karena trip dari sekolah sampai SMA dan kuliah.

Kadang saya penasaran sendiri apa sih yang membuat Yogya selalu memanggil saya untuk kembali? Apakah karena kenyamanan kotanya? Ataukah karena keunikan daerahnya – Yogyakarta adalah sebuah kesultanan yang berada di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia? Atau… karena destinasi wisata di Yogya dan sekitarnya yang tak pernah bosan saya kunjungi?

Sepertinya alasan terakhir yang paling masuk akal. Yogyakarta tak kekurangan destinasi wisata yang begitu banyak di penjuru kota dengan beragam jenisnya. Mulai dari destinasi wisata peninggalan zaman dulu seperti kawasan Candi Prambanan, destinasi wisata kuliner seperti Bakpia dan gudeg yang dapat ditemui hampir di setiap pelosok, hingga destinasi wisata budaya seperti Keraton Yogyakarta. Tak lupa pula destinasi wisata lainnya seperti Alun-alun Kidul dengan pohon beringin kembar, Masjid Agung, atau bahkan Malioboro dan juga kaos Dagadu Djokdja yang terkenal dengan logo mata. Selain itu, dengan beraneka ragamnya wisata di sana, maka menggeliatlah perekonomian masyarakatnya. Hal ini dimulai dari munculnya berbagai pusat perbelanjaan, jasa penginapan serta hotel-hotel berbiaya murah di Yogyakarta. Tak lupa juga tumbuhnya industri rumahan dan kerajinan yang tentunya semakin menjadi daya tarik turis lokal maupun luar negeri.

Candi Prambanan
Candi Prambanan

Untuk tempat wisatanya, Candi Prambanan ini nampaknya jadi tempat favorit bagi turis yang berkunjung ke Yogyakarta.  Candi Prambanan ini seakan-akan jadi tempat yang wajib dikunjungi oleh setiap orang ketika berada di Yogyakarta. Hal ini didukung dengan kemudahan alat transportasi – bisa dengan sewa motor atau mobil, ikut trip lokal, atau naik angkutan umum. Saya masih ingat jelas pertama kali saya ke sana saat masih kecil dulu, saya sangat penasaran dengan sebuah arca yang disebut sebagai Loro Jonggrang di salah satu candi terbesar. Konon, Loro Jonggrang adalah seorang wanita cantik yang menjadi batu karena berusaha memperdaya Bandung Bondowoso agar membuatkannya 1000 candi dalam waktu semalam, sebagai syarat untuk menikahinya. Berbagai macam cerita pun timbul mengenai Loro Jonggrang tersebut, salah satunya antara lain bagian hidung dari arca tersebut tidaklah utuh. Konon, diambil oleh salah satu turis asing yang benar-benar terpikat dengan Loro Jonggrang.

Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta

Menurut saya pribadi, Keraton Yogyakarta juga wajib dikunjungi ketika sedang berada di Yogyakarta. Kapan lagi bisa mengetahui seluk-beluk tempat tinggal seorang raja Jawa yang dasarnya masih memiliki kedaulatan atas wilayahnya – makanya provinsinya disebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain mengetahui beberapa sudut di dalam kompleks Keraton, juga dapat mengetahui kehidupan abdi dalem serta beberapa artefak peninggalan sultan sebelumnya, yang menjadi koleksi khusus dari Keraton Yogyakarta. Cara ke sananya pun mudah, cukup ikuti saja jalan Malioboro hingga ke ujung.

Trus, berapa lama harus berada di Yogya agar bisa menikmati semua wisata tersebut? Ga ada waktu baku yang bisa saya anjurkan. Sehari, dua hari, atau bahkan seminggu dan sebulan Yogya selalu nyaman untuk dikunjungi. Tapi bagaimana dengan biayanya? Khusus untuk Yogyakarta ini menurut saya lebih terjangkau dibandingkan dengan tempat lainnya, karena kuliner di sana masih sangat terjangkau harganya, begitu juga dengan akomodasi yang ditawarkan. Muai dari motel, penginapan melati, hingga hotel-hotel di Yogya lumayan bersahabat harganya. Sebut saja hotel Whiz Yogyakarta dan Zodiak yang lumayan budget friendly tapi layanannya sangat memuaskan. Saya kadang iri pada para penduduk yang berkesempatan untuk tinggal lebih dari sebulan secara terus-menerus di Yogya, atau bahkan bertahun-tahun. Betapa mereka diberi karunia “sebuah” Yogyakarta.

jogja-003

Foto-foto kunjungan saya ke Yogyakarta masih saya simpan rapi – jika tidak hilang. Dan setiap kali melihat foto-foto tersebut dapat mengobati kerinduan saya akan Yogyakarta. Kadang saking rindunya, saya membuka-buka situs pemesanan perjalanan seperti Traveloka untuk mengetahui tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta PP, serta hotel yang tersedia. Sengaja, siapa tahu ada keinginan terpendam saya yang kemudian memberanikan diri untuk book semuanya serta melakukan perjalanan secara tiba-tiba. Sekadar untuk mengobati kerinduan akan Yogyakarta.

Ke Yogyakarta.. aku ‘kan kembali…

 

Ngapain Jalan-Jalan Ke Luar Negeri?

Beberapa kali saya mendapati slogan atau tulisan seperti judul postingan ini. Buat saya, tulisan tersebut bermaksud persuasif, dimaksudkan agar kita lebih eksplorasi lebih banyak di dalam negeri – tanah air Indonesia dari ujung ke ujung, dan bukannya keluar negeri. Tapi ya, itu saya sih. Entah kalo orang lain.

Emang harus saya akui, jalan-jalan eksplorasi tanah air juga jadi salah satu keinginan terpendam saya. Saya bahkan punya niatan pribadi, harus bisa menjejakkan kaki (ekplorasi) di setidaknya kelima pulau besar di Indonesia – yang hingga saat ini tinggal 1 pulau lagi yang belum yaitu Sulawesi. Untuk Sumatera sudah diwakili Banda Aceh dan Medan, untuk Kalimantan sudah diwakili oleh Balikpapan, untuk Papua sudah diwakili oleh Sorong, dan Jawa… ya itu sih udah cukup sering karena saya juga kan tinggal di pulau Jawa. Dan iya, tinggal Sulawesi saja yang belum. Sekalinya saya ke Sulawesi, ya sebentar aja di Makassar. Belom sempat eksplorasi.

Meski begitu, saya juga tetep kepengen jalan-jalan keluar negeri. Minimal ke negeri tetangga seperti Singapura dan Malaysia, atau negara-negara ASEAN seluruhnya. Kenapa? Ya karena pengen. Klise memang, tapi kalo udah kepengen ya gimana dong?

DSC00948 - Pyrmont Bridge, Sydney, June 11, 2013
Pyrmont Bridge, Sydney, June 11, 2013

Selain buat naikin gengsi nambah cap di paspor – halah, jalan-jalan keluar negeri jadi salah satu kesempatan buat ngalamin sesuatu yang berbeda. Minimal, keseharian yang beda sama di dalam negeri. Yang paling berasa tentunya adalah perihal bahasa, dan mata uang yang digunakan. Kalo di dalam negeri, bahasa bisa beda, tapi mata uang tetep sama.

Pengalaman yang didapet dengan jalan-jalan di luar negeri dan pelosok negeri ya sebenernya sama aja. Beda budaya, bahasa, dan bahkan kebiasaan bisa didapati. Tapi ya lagi-lagi, di luar gengsi nambahin cap di paspor, jalan-jalan keluar negeri itu ya seru aja buat ngalamin fasilitas-fasilitas yang ga ditemuin di dalam negeri. Subway, trotoar yang ramah pejalan kaki, sampai dengan area terbuka publik yang gratis dan nyaman. Itu beberapa fasilitas yang sering saya nikmati kalo lagi jalan-jalan ke luar negeri. Selainnya ya jelas, atraksi hiburan seperti taman permainan, dan lain-lain.

DSC01030 - Farewell Sydney Monorail! #postcardfromSydney ~ taken from Novotel Darling Harbour, June 13, 2013
Sydney monorail during their last month of services, taken from Novotel Darling Harbour, June 13, 2013

Kalo kamu sendiri, ngapain jalan-jalan ke luar negeri?