Rss Feed

Posts Tagged ‘Short Story’

  1. Short Story #181: Delivery

    May 13, 2013 by Billy Koesoemadinata

    “Udah makan, belum?” Jeremy bertanya membangunkan Clara yang tertidur di sofa.

    Clara tak langsung menjawab. Ia bergerak-gerak menggeliat sambil mengusap-usap matanya. Lalu menguap.

    “Udah makan, belum?” Jeremy bertanya lagi.

    “Belum.” Clara akhirnya menjawab dengan suara serak, sambil mendudukkan dirinya di sofa.

    Jeremy berdiri dari sebelumnya duduk di sandaran sofa. Sejak tiba di apartemen, ia langsung duduk di sandaran sofa untuk kemudian menghampiri Clara. Ia tahu Clara tertidur, karena TV masih menyala. Dan, Clara biasanya tertidur sambil menonton TV.

    “Sori ya, aku tadi ngedadak harus ngurus ini-itu.” Jeremy menyimpan jaketnya, lalu menghampiri dapur sambil minum segelas air.

    Clara menatap sambil menahan kantuk dari balik sofa. Ia terlalu malas untuk beranjak ke kamar.

    “Ga delivery apa-apa dari tadi?” tanya Jeremy sambil duduk di sofa, lalu mengelus kepala Clara yang sudah merebahkannya di pangkuan.

    “Engga. Males.”

    “Ah kamu.. kebiasaan.”

    “Kamu juga ngedadak harus ngurus ini-itu jadi kebiasaan.” Clara langsung merespon.

    Jeremy tak bisa menjawab. Ia merasakan ucapan Clara agak tajam, tapi memang itulah kenyataannya. Beberapa minggu terakhir, ia selalu saja ada yang harus diurus hingga larut.

    “Ya tapi kan kamu pas pulang bisa langsung pesen delivery sebelum males.” Jeremy akhirnya memberitahu.

    “Keburu ngantuk. Capek di jalan tadi.” Clara menambahkan alasannya.

    Jeremy kembali mengelus-elus kepala Clara yang mulai memejamkan matanya lagi.

    “Padahal kan delivery gampang.. tinggal telepon doang, trus siapin duitnya.. bahkan ada delivery yang bisa dibayar pake kartu kredit pas dateng.” Jeremy memberitahu.

    “Kalopun aku pengen delivery, ga segampang itu kaya’nya.”

    “Lho, emang mau delivery apa?”

    “Aku pengen delivery kamu. Dianter langsung ke depan aku, kapanpun aku mau ga peduli kamu lagi ngapain.” Clara memberitahu. “Terutama, kalo aku udah sampe di rumah.”


  2. Short Story #180: Karena Ibumu Yang Minta Begitu

    May 6, 2013 by Billy Koesoemadinata

    “Gimana? Masih belum ada gambaran?” Teddy bertanya pada remaja yang sedari tadi bolak-balik membuka berbagai foto.

    “Gambarannya masih sama. Ga jelas.” Mila menjawab.

    “Padahal aku udah kasih semua foto-foto yang paling bagus yang pernah aku punya.” Teddy memberitahu sambil menyerahkan lagi tumpukan foto-foto yang ia punya. Kebanyakan foto-fotonya adalah gadis kecil – dirinya, dan seorang pria dewasa yang sulit ia kenali.

    “Ini dia juga?” Mila bertanya.

    “Iya.” Teddy mengangguk sambil duduk di sofa di dekat Mila.

    Mila menggeleng. Bibirnya merengut. “Entah kenapa ga ada ingatan sedikitpun soal dia. Apalagi foto-foto ini. Ga ada yang muncul sedikit pun.”

    Teddy diam. Ia mendengarkan.

    “Ya.. momen-momen yang mirip foto ini memang ada, tapi semua yang ada di ingetan aku ya aku sama ibu. Bukan sama dia.”

    “Listen to your heart, then.” Teddy memberitahu.

    “I am listening.”

    “Trus, apa katanya?”

    “Hening. Belum ada apa-apa.”

    TOK! TOK! Pintu apartemen diketuk. Teddy langsung menuju pintu dan bersiap membukanya. Sementara itu, Mila menarik napas. Menunggu. Bersiap.

    Seorang pria paruh baya berada di balik pintu yang dibuka Teddy. Kerutan dan uban terlihat di beberapa bagian dari badannya, tapi ia masih terlihat tegap. Kuat.

    Teddy terlihat menyalaminya. Memeluknya seakan menemukan sahabat lama. Lalu, Teddy mempersilakannya masuk sambil menunjukkan Mila yang tengah duduk menunggu di sofa.

    “You look beautiful.” pria itu memberitahu Mila yang belum bisa bersuara.

    “Dia penasaran banget pengen ketemu Ayah sampe ga bisa ngomong.” Teddy bergurau yang disambut tawa renyah dari pria itu.

    “Kenapa aku ga pernah ketemu kamu sejak lama, ya?” Mila akhirnya bersuara.

    “Karena Ibumu yang minta begitu.” jawab pria tua itu.

    “Trus kenapa Teddy masih bisa ketemu?” tanya Mila lagi.

    “Karena Ibumu yang minta begitu.” pria tua itu memberitahu lagi. Mengulang jawaban yang sama.

    Mila menutup matanya sejenak. Memikirkan pertanyaan apa lagi.

    “Kenapa kamu jarang pernah ada di foto-foto aku dari kecil?”

    “Karena.. akulah yang membuat foto-foto itu.” pria itu menjawab sambil menutup sebagian wajahnya seakan-akan memegang kotak kamera. “Ayahmu inilah yang berada di belakang kamera.”

    Mila hendak bertanya “kenapa” lagi, namun ia kemudian mengenali bagian wajah yang sudah lama sekali tak ia lihat.


  3. Short Story #179: Malaikat

    April 29, 2013 by Billy Koesoemadinata

    “Apa yang kamu tau soal Daniel?” Yuri bertanya ke Kevin di sela-sela makan siang bersama.

    Kevin diam sejenak, ia menyimpan sendok dan garpunya. “Dia ga tidur, tapi dia juga ga ngerasa ngantuk ataupun capek.”

    “Wah, insomnia akut?” Yuri menyela.

    Kevin menggeleng. “Dia emang selalu kebangun gitu.”

    “Trus?”

    “Tempat favoritnya dia, di tempat tinggi. Di lantai paling tinggi dari sebuah bangunan kalo bisa.”

    “Dia pernah kerja jadi pekerja konstruksi bangunan tinggi, ya?” Yuri lagi-lagi menyela.

    Kevin kembali menggeleng. “Di ketinggian, dia ngerasa damai sekaligus bisa ngeliat semuanya dengan lebih jelas.”

    “Wah, mata elang?”

    Kevin tersenyum tanpa menjawab.

    “Trus, apalagi yang kamu tau?”

    “Kenapa kamu pengen tau lebih banyak?” Kevin balik bertanya.

    Yuri diam sambil memperlihatkan senyum simpul. “I think, he’s the one.”

    “The one?”

    “Iya, mister right guy.” Yuri memberitahu, sambil kemudian pipinya menjadi kemerahan.

    Kevin tersenyum lagi. “Kamu jatuh cinta sama dia? Begitu?”

    Yuri salah tingkah. Ia tersenyum, lalu kemudian mengalihkan pandangannya dari Kevin.

    “Dia juga ngerasa hal yang sama.” Kevin memberitahu.

    “Kok kamu tau?”

    “Dia yang bilang sendiri.”

    “Kapan?” Yuri penasaran.

    “Ya… beberapa waktu yang lalu, lah.”

    “Trus, apalagi yang dia bilang?”

    Kevin menarik napasnya sejenak. “Banyak. Salah satunya, dia rela ngelepas segala yang dia punya sekarang, cuman buat bisa bersama kamu.”

    “Oh ya?”

    Kevin mengangguk. Ia lalu melanjutkan makan siangnya sementara Yuri menyedot es sodanya.

    “Eh, aku penasaran deh. Emang dia orang kaya’ ya?” Yuri bertanya lagi.

    “Engga. Kenapa kamu nanya gitu?”

    “Ya abis, kamu bilang kalo dia rela ngelepas segala yang dia punya sekarang, cuman buat bisa bersama aku.”

    “Oh itu..” Kevin merespon datar.

    Yuri menunggu sementara Kevin kembali menyuap makan siangnya.

    “Eh, aku penasaran nih.. apa sih hal paling berharga yang dia punya sampe rela dia lepas cuman buat aku?” Yuri bertanya lagi.

    Kevin melihat sejenak ke arah rekan sekantornya itu. Mencari kesungguhan. Mencari ketulusan.

    “Keabadian.” jawab Kevin singkat.

    Dahi Yuri langsung berkerut. “Apa?”

    “Iya, keabadian. Kamu ga salah denger, kok.”

    Yuri diam. Bingung.

    “Da-dari mana kamu bisa tau?”

    “Karena dulu aku juga seperti dia.. sebelum aku ketemu istriku sekarang.” Kevin memberitahu.

     

    NB: Terinspirasi dari salah satu adegan “City of Angels”


  4. Short Story #178: Sabar

    April 22, 2013 by Billy Koesoemadinata

    “Aku udah ga tahan..” Lea memberitahu sambil melepaskan tangannya yang sedari tadi digenggam oleh David, lalu menjauh sambil melihat ke jendela, memandangi kota saat malam hari dari ketinggian 10 lantai.

    David masih duduk di sofanya. Ia melihat Lea ke arah punggungnya. Besar sekali keinginannya untuk memeluknya, merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tapi…

    “Sedari dulu, kita udah tau kan konsekuensinya bakal kaya’ gini. Bakal selama ini. Bakal sesulit ini.” David merespon.

    “Iya. Aku tahu. Tapi…” Lea tak melanjutkan kata-katanya. Ia melipat kedua tangannya ke dada, lalu berdiri dan semakin mendekati jendela.

    David mengubah posisi duduknya.

    “Semua hal memerlukan proses, dan proses memakan waktu.”

    “Aku tahu, Vid. Aku tahu.” Lea menjawab dengan nada suara lirih. Ia masih tak membiarkan David menatap wajahnya.

    David menggeser duduknya. Ke ujung sofa yang lebih dekat dengan posisi Lea tengah berdiri.

    “Kita harus lebih sabar, Le..”

    “AKU UDAH CUKUP BERSABAR, VID!” nada suara Lea meninggi sambil tiba-tiba berbalik. Kedua tangannya mengepal, badannya sedikit condong untuk memberikan penekanan.

    David terkejut, tapi hanya sementara. Ia berusaha tetap terlihat tenang. Ia sudah berkali-kali menghadapi situasi serupa, dan ia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi yang lebih buruk setiap kali situasi serupa terjadi. Seperti saat ini.

    “Jangan begitu…” David memberitahu.

    “KENAPA?!” Lea berubah histeris. “Kesabaran itu ada batasnya, Vid! ADA!!”

    David berdiri mendekati Lea, tangannya terangkat seperti hendak memeluk tapi tak ia lakukan. Ia membiarkan kedua tangannya terangkat sambil berdiri diam.

    “Bersabar itu ga ada batasnya, Le. Yang berbatas itu ‘keinginan untuk bersabar’-nya.” David memberitahu.

    Seketika kemarahan Lea luruh. Tubuhnya terasa lemas, namun David ada di sana untuk mendapatkannya dalam pelukan.


  5. Short Story #177: Tahu

    April 15, 2013 by Billy Koesoemadinata

    “Aku ga ngerti kenapa kamu masih aja ngasih kesempatan sama dia.” Indra berkomentar pada Christine yang tengah bengong menatap keluar jendela.

    “Kamu ga harus ngerti kok, Ndra.” Christine merespon.

    “Memang.. tapi aku jengah aja setiap kali dia berbuat salah, ketauan, lalu dia minta maaf, setiap kali itu pula kamu maafin dia dan ngasih kesempatan lagi buat dia.” Indra langsung bereaksi.

    Christine mendengus. Masih dengan tatapan kosong keluar jendela.

    “Aku percaya setiap orang bisa berubah.”

    “Tapi sepertinya itu ga berlaku buat kamu sendiri.”

    “Apa maksudmu?” Christine akhirnya menatap Indra yang sedari tadi duduk di depannya.

    Indra menghembuskan asap rokok dari hidungnya. “Iya, kamu yakin orang bisa berubah, TAPI kamu ga yakin kalo kamu sendiri bisa berubah.”

    Christine mendengus.

    “Mungkin aku udah berubah. Sejak dulu.”

    “Maksudmu, sejak kamu memutuskan untuk memilih dia?” Indra bertanya. Beberapa detik kemudian, ia menyesali pertanyaannya itu.

    “Jadi kamu selama ini…” Christine tak menyelesaikan ucapannya.

    Indra mencoba tetap tenang. Ia menghirup rokoknya, lalu menghembuskan asapnya lagi. Ke arah lorong di antara meja. Ke ruang kosong lain dari hatinya.

    “Iya, aku masih mencintaimu.” ucap Indra pada akhirnya.

    “Tapi aku mencintainya, Ndra.” Christine segera merespon. “At least, I think I love him.”

    Indra mematikan rokoknya ke dalam asbak.

    “Lagi-lagi, aku ga ngerti.”

    “Kamu ga harus nger-” ucapan Christine terhenti ketika Indra mengangkat sebelah tangannya. Mengisyaratkan bahwa ia hendak melanjutkan ucapannya.

    “Aku ga ngerti kamu itu termasuk wanita yang pintar atau apa..” Indra berkomentar. “Yang pasti, wanita yang pintar, tahu bagaimana mencintai seorang pria. Tapi, wanita yang pernah terluka, tahu siapa yang pantas untuk dicintai olehnya.”

    Christine kemudian terdiam, sambil menyaksikan Indra berdiri dari kursinya sambil berlalu pergi.