Short Story #333: Gone

“Hei.. udah lama?” Sarah bertanya sambil meletakkan tasnya di kaki-kaki kursi.

“Engga, baru juga lima belas menitan.” Intan menjawab sambil menyesap kopinya. “Kamu mau pesen dulu?”

“Gampang lah. Ntar aja.” Sarah menjawab lalu mengeluarkan ponsel dan dompetnya dari tas dan disimpan di atas meja.

“So.. ada kabar apa, nih? Kok kesannya misterius, dadakan, dan buru-buru?” Intan penasaran. “Kamu mau ngasih undangan merit?”

Sarah memutar bola matanya sejenak lalu menatap ke arah ponselnya. “Ya.. mendekati lah.”

“Wah! Harus kita rayakan!” Intan setengah memekik.

“Sssttt…” Sarah meminta agar tidak berisik tapi sedikit terlambat karena beberapa tamu di meja terdekat sudah langsung menoleh ke pekikan Intan.

“Hihihi.. sori. Sori..” Intan merasa bersalah. “Jadi, siapa pria beruntung itu?”

Sarah menggigiti bibir bawahnya sejenak, lalu kedua tangannya saling mengusap.

“You can tell me later if my curiosity bugs you.” Intan memberitahu.

Sarah tersenyum. Namun Intan menyadari jika itu dipaksakan.

“It’s Elang.” Sarah memberitahu. Pendek. Mimiknya ragu namun menebak-nebak apa reaksi Intan selanjutnya. Karena meski sekejap saja, Intan terlihat terkejut.

“..Hey.. Yaaaa… gapapa. Mungkin dia emang pria yang tepat buat kamu.”

“Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu itu?” Sarah bertanya. Memastikan.

“Of course.” Intan menjawab cepat. “Apa yang terjadi di antara kita, sudah lewat. Sudah berakhir. Sudah selesai. We’re done.”

“Aku tau kok sejarah kalian cukup panjang. Aku ga bermaksud untuk ngegantiin posisi kamu, ‘Tan.”

“Hey… ga usah dipikirin. Gantiin posisi atau justru kalian jadi pasangan yang benar-benar baru, it’s not my business.”

“Well…”

“Udah. Ga usah dipikirin. Aku aja mantannya Elang biasa aja kok. Kenapa kamu jadi yang ngerasa ga enak?”

“Soalnya kan, kita temenan. Dan temen ga saling rebutan.”

“-Kecuali kalo udah bukan haknya. So it’s free to do.” Intan menambahkan segera.

“Umm…”

Intan menangkap ragu dan khawatir yang berada di diri Sarah. Maka, meski sebagian hatinya sedikit terluka, ia menggenggam tangan sahabatnya sejak lama itu. Dingin. Sementara yang Sarah rasakan, hangat.

“I don’t know if you’re needing this or not, but I’ll give you an advise.”

Intan diam sejenak sementara Sarah mulai menampakkan mengharap. Sambil menyusun kata-kata, ia mendadak terkenang kembali hal-hal yang telah ia lewati dan lakukan dengan Elang di masa lalu.

“Buat dia, saling percaya adalah paling utama. Seperti elang yang sering mengangkasa, ia tak suka dikekang namun juga terlalu berharga untuk dilepaskan. Respect him, and you’ll earn his respect. Dan kalo dia udah respect sama kamu, maka kamu wajib untuk respect sama dia. Because, you don’t know what you’ve got ‘til it’s gone.”

Short Story #332: Dreamer

Vera memutar-mutar cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Bimbang. Sementara Aldi menarik napas dengan tenang di kursi depannya.

“Aku ga sanggup begini lagi.” Vera memberitahu lirih. Suaranya parau. Ia menunduk tanpa melihat Aldi.

Jika di situasi biasanya, Aldi akan langsung merespon dan bertanya kenapa Vera berkata begitu. Tapi, kali ini Aldi diam saja. Menerima. Menunggu.

“Mungkin ini saatnya…” Vera berkata lagi.

Aldi masih tak menjawab. Tapi ia melihat Vera di depannya. Rambutnya yang sering ia elus-elus. Pundaknya yang sering ia tutupi dengan jaket saat berjalan malam. Jemarinya yang….

“Kamu dengerin ga?” Vera bertanya.

“Iya. Aku denger.” Aldi menjawab. “Aku cuma ga tau harus jawab apa.”

Vera mendengus. “Biasanya kamu punya banyak jawaban.”

Aldi kembali diam tak menjawab. Vera pun kembali diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri, sambil sesekali menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh lawan bicaranya.

“Sebelom kamu pergi dari hidupku, bisa ga kamu kasitau aku apa yang bikin kamu ga nyaman sama aku?”

Vera diam. Berpikir. Semula ia hendak langsung menjawab, tapi hatinya menyuruhnya untuk bersabar. Untuk memikirkan apa jawaban terbaik.

“You are a dreamer.” Vera menjawab. “Kamu terlalu sibuk mencari dan melihat ke awang-awang, sementara aku ketinggalan di sini, di pijakan kakimu dan melihat pada kenyataan.”

Aldi mengganti posisi duduknya. Mencondongkan badannya sedikit ke arah Vera.

“I may a dreamer.. But I dream about you. About us.”

Short Story #331: From Where We Stand

Alex tidak tenang. Sejak sejam yang lalu ia sudah lebih dari lima kali mengecek jam tangannya. Perilaku yang tak pernah ia lakukan. Kalaupun ia mengecek jam tangan, tak pernah lebih cepat dari dua-tiga jam sekali.

Desain yang seharusnya ia kerjakan sesuai jadwal, tak bisa juga ia kerjakan. Fokusnya hilang entah ke mana, dan bukannya mencoba untuk mendapatkan fokusnya lagi, ia justru terpikirkan hal lain.

Gadis.

“Kalo aku lagi ga bisa fokus gini, biasanya Gadis tau trus tiba-tiba aja bikinin minum kalo lagi di deket aku. Pun juga kalo lagi jauh, somehow dia mendadak telepon…” Alex menggumam.

Saat ia hendak mencoba fokus lagi dengan mengambil pensil untuk mendesain, mendadak ia seperti mendapatkan pencerahan. Tak lama, ia sudah berada di jalan raya dengan sepeda motornya dengan helm dan jaket menuju stasiun.

Semula, meski berkendara dengan kecepatan maksimum, ia masih mengikuti setiap aturan lalu lintas. Lampu merah. Antrian. Belokan. Dan lain-lain. Tapi, di sebuah persimpangan, ia mendapati jalanan di depannya macet.

STUCK! Masih ada 30 menitan sih. Nunggu aja apa kali ya?

Saat sepertinya sudah mengambil keputusan, Alex justru berubah pikiran. Ia meminggirkan sepeda motornya lalu berlari. Berlari. Melalui trotoar samping jalanan yang macet. Berlari seperti atlit parkour. Berlari seperti copet yang ketahuan mencuri dompet. Sampai akhirnya, tempat tujuannya berdiri tegak di depannya.

Tak menunggu lama, Alex memasuki stasiun kereta dengan cemas. Berdebar. Ia tahu setiap milidetik berharga, maka ia tak boleh mengambil keputusan yang salah. Saat ia baru saja berpikir hendak bertanya ke bagian informasi atau meminta tolong ke bagian pengumuman, ia kemudian justru berbelok menuju loket dengan antrian terpendek untuk membeli tiket.

Hanya beberapa menit saja ia membeli tiket, dan langsung berlari menuju peron. Tanpa halangan berarti, ia bisa menuju ke peron karena arus penumpang datang dan turun dari kereta sudah lewat. Tapi… saat tiba di peron dengan tiket terakhir yang bisa ia beli, tetap saja kereta yang ia kejar telah menutup pintu dan sudah mulai bergerak maju perlahan.

“GADIS!” Alex berteriak sambil mulai berlari mengejar gerbong. “GADIS! Kamu di mana?!”

Mata Alex awas mengamati setiap jendela gerbong yang bisa ia kejar dengan kecepatan larinya. Tapi laju kereta semakin cepat. Ketika Alex tiba di gerbong ketiga yang bisa ia kejar, ia tahu bahwa ia takkan bisa lebih jauh lagi.

Sambil memelankan larinya dan tetap awas mengamati jendela gerbong penumpang, Alex mengatur nafas. Rasa kecewa dan menyesal mulai muncul di hatinya. Kesal.

“GADIS! Jangan pergiiii..!!” Alex berteriak sekeras mungkin menyalurkan seluruh emosinya. Ia tak memedulikan segelintir orang tersisa di peron yang melihat aneh ke arahnya. Baginya, kehilangan Gadis sangat ia sesali.

Setelah gerbong terakhir lepas dari ujung peron, Alex seakan membeku. Pandangannya masih mengikuti ekor kereta yang mulai hilang di cakrawala. Kepalanya menggeleng.

Tapi.. di seberang peron…

“Alex!” Gadis memanggil.

Alex langsung menoleh ke arah panggilannya dan melihat Gadis tersenyum kecil sambil melihat ke arahnya. Tanpa berpikir lama, Alex pun langsung mencari jalan ke seberang peron, menghampiri Gadis lalu memeluknya.

“Aku nyesel. Aku berubah pikiran soal ga peduli kamu mau ngapain. Karena sebenernya, aku emang peduli.”

“Aku juga berubah pikiran. Ngubah dunia itu ga muluk-muluk harus pergi jauh-jauh.” Gadis merespon dalam pelukan. “We can change the world one thing at a time, right from where we stand.”

NB: Short story ini terinspirasi dari salah satu episode serial Madam Secretary

Short Story #330: Layak

Felicia menepikan kendaraannya. Keraguan masih menyelimuti hatinya akan tindakannya hari ini. Ia hendak berpegang teguh pada komitmennya sejak beberapa tahun yang lalu, tapi… rasa penasarannya lebih kuat untuk mengarahkannya kembali ke jalan yang telah lama ia tinggalkan.

Sekeluar dari mobil, ia memakai kacamata hitamnya. Menoleh sekilas ke kanan dan kiri memastikan tiada kendaraan lewat untuk menyeberang sambil mengecek lingkungan. Tidak banyak yang berubah, simpulnya dalam hati. Begitupun juga dengan rumah yang kini berdiri teguh di depannya.

Felicia melihat-lihat sejenak dari trotoar ke arah rumah tersebut. Eksteriornya telah berubah warna sejak yang bisa ia ingat, beberapa elemen juga berubah, tapi sebagian besar masih sama seperti ingatannya. Ia bimbang, hendak melangkah maju tapi hatinya ragu. Ia sudah hendak berbalik ke mobil ketika pintu depan terbuka.

“Aku tahu suatu hari kamu pasti balik lagi.” sesosok pria bersandar ke ambang pintu.

“Hai…” Felicia hanya bisa menjawab singkat. Lidahnya kelu. Padahal tadinya banyak yang hendak ia ucapkan.

“You are always welcome here.” pria tersebut keluar ke teras, lalu duduk di kursi ayun gantung.

Kaki Felicia perlahan mendekat ke arah tangga teras meski benaknya coba untuk memerintahkan sebaliknya.

“Apa kabarmu, Sam?”

“Seperti yang bisa kamu liat.” Sam menjawab tenang. “Kamu? Ke sini dibawa angin atau nyasar?”

“Candaanmu masih sama aja ya, Sam.”

Meski awalnya berusaha untuk sinis, Sam pun tertawa dijawab seperti itu oleh Felicia. Melihatnya, Felicia seakan mendapat angin segar. Ia menambah langkah lagi hingga naik ke atas teras, tapi belum dekat dengan Sam.

“Seingatku, dulu kursi ayun itu ga ada.”

“Aku pasang sekitar setahun setelah kamu pergi.” Sam menjawab sambil menarik-narik rantai yang menggantung. “Kokoh sejak dipasang. Bertahan sampai sekarang.”

Dalam hatinya, Felicia tertohok oleh kalimat terakhir Sam. Ia tahu benar ketika Sam mengatakan sesuatu dengan pesan implisit. Perlahan, ia mundur.

“Pergi lagi?”

“Aku ga ke sini buat cari gara-gara, ya Sam. Ngeliat kamu dalam keadaan baik-baik saja, begitu juga dengan rumah ini, sudah cukup buatku.” Felicia kembali mundur.

“Begitu?”

“Don’t make me feel guilty again, please.” Felicia memohon dan hendak berbalik, ketika…

“Ayah, siapa tante itu?” tanya anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun yang muncul dari ambang pintu.

Tatapan Felicia nanar ke arah anak kecil itu. Tenggorokannya tercekat padahal benaknya memerintahkan untuk mengeluarkan segenap suara dan kata-kata. Kakinya terasa goyah.

“Tantenya tertarik sama rumah kita, tapi dia udah mau pergi lagi. Kamu main lagi gih, di dalem.” Sam memberitahu yang langsung dituruti oleh anak kecil itu.

Felicia tak bisa lagi bertahan. Ia terduduk di tangga teras sambil menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca.

“Di-dia… dia sembuh?” Felicia tergagap.

“Sempurna. Setelah 2 bulan penuh.”

“Ta-tapi… tapi..”

“Like I said, I’m not giving up on anything until God shows me otherwise.”

“Tapi dulu keliatannya ga semudah ucapanmu, Sam..”

“Dulu, padahal kamu tinggal percaya aja. Sama aku. Sama Tuhan.” Sam memberitahu. “Dan jangan kehilangan harapan.”

Felicia kehabisan kata-kata.

“Leaving is easy. Kamu bisa memulai sesuatu yang baru. Ditambah lagi, belajar dari pengalaman, atau kegagalan. But staying is not. It’s tough. Tapi aku bertahan untuk sesuatu yang memang layak aku perjuangkan.”

 

Short Story #329: Membeli Waktu

Jenny melihat arlojinya. Ia menopang dagunya sambil menggoyang-goyang salah satu kakinya yang terjuntai dari atas satu kakinya lagi. Menunggu. Lagi. Tapi ia tak merasa berat atau lelah.

Lalu lalang manusia di depan posisi duduknya tak berkurang meski makin malam. Wajar saja, hari itu adalah hari terakhir sebelum akhir pekan yang panjang. Seperti dia, mereka pasti juga hendak bepergian keluar kota dengan pesawat sebelum akhir pekan panjang itu. Bedanya, mereka hendak liburan, sementara dia tidak untuk liburan.

Angin dingin menyapa wajahnya. Lembap. Basah. Lalu, hujan.

Jenny menarik troli kopernya dari pinggiran mencari jalan menuju salah satu kedai kopi. Di sana ia memutuskan untuk melanjutkan menunggu, sambil ditemani secangkir kopi hangat.

Baru saja ia merasa beruntung mendapatkan kursi untuk duduk ketika ponselnya berdering.

“Hai, kamu di sebelah mana?” suara Bambang terdengar.

“Coffeeshop terminal, ya.” Jenny memberitahu.

“Yang ada kursi di luar?”

“Aku di dalam.”

“Umm… kamu abisin aja dulu minumanmu. Aku tunggu di luar, ya.” Bambang memberitahu.

Klik. Sambungan telepon terputus sebelum Jenny merespon. Ia memutuskan untuk mengikuti kalimat terakhir Bambang, menghabiskan minumannya dalam ketenangan sambil sesekali mengecek akun media sosialnya.

Sekitar 30 menit kemudian, Jenny kemudian keluar coffee shop. Hujan masih turun namun tidak sederas sebelumnya. Dan, di salah satu pintu masuk terminal ia mendapati Bambang.

“Bang, kamu kok basah-basahan gini?” tanya Jenny saat menghampiri.

“Iya, tadi keujanan di jalan.”

“Lho, emang kamu naik apa?”

“Ojek.”

“Mobilmu?”

“Aku tinggal di kantor. Tadinya naik taksi, tapi kemudian stuck. Aku turun di jalan, trus panggil ojek.” Bambang memberitahu sambil sesekali mengelap wajahnya yang basah dengan beberapa lembar tissue.

“Ojeknya ga ada jas ujan?” Jenny bertanya lagi sambil sibuk membuka tas kecil di tangannya. Mencari handuk kecil yang kemudian ia berikan kepada Bambang.

“Jas ujannya dipake tukang ojeknya. Ga ada buat penumpangnya.” Bambang memberitahu sambil mengelap mukanya dan rambutnya dengan handuk kecil dari Jenny. “Makasih ya handuknya.”

“No problem.” Jenny memberitahu.

“Aku lupa banget kalo besok long wiken. Kalo gitu kan mendingan aku berangkat duluan tadi, atau cuti sekalian.”

“Demi ketemu aku?”

“Iya.”

Jenny diam. Ia merasa canggung. Bambang hanya ia anggap sebagai teman baik meskipun pernah menyatakan perasaan sayang kepadanya. Tapi…

“You don’t need to do that. We always have another time to meet.” Jenny memberitahu.

“But every time is different with another.” Bambang memberitahu.

“Maksudmu?”

“Satu-satunya hal yang takkan pernah terulang di dunia adalah waktu. Sekali dia berlalu, maka sudah berganti meskipun kita pikir kita tetap sama.” Bambang menjelaskan. “Bahkan kalo bisa, satu-satunya hal yang akan kubeli dengan semua hartaku adalah waktu. Supaya aku bisa lebih lama bersama denganmu.”