Project: Unspoken Words

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita menyesali tak pernah mengucapkan kata-kata tertentu?

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita menyesali tak pernah menyampaikan apa yang ingin (seharusnya) kita sampaikan?

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita berharap waktu terulang dan mungkin segala sesuatu bisa berjalan berbeda dibandingkan kenyataan saat ini?

Andai saja…

Dalam rangka ‘memaksa’ diri untuk kembali menulis dan berpikir kreatif, maka saya berniat untuk membuat seri terbaru. Sebutan resminya “Project: Unspoken Words”. Masih tetap fiksi – khayalan semata atau ya.. sebagian terinspirasi dari kejadian nyata tapi kemudian di-fiksi-kan. Isinya (mudah-mudahan) lebih panjang daripada yang bisa terbit di Short Story, karena niatnya sih Unspoken Words ini bakal kebaca semacam curcol (curhat colongan). Ada selipan lagu-lagu gitu — kalo nemu yang cocok. Format judulnya masih belum ditentukan, tapi kemungkinan akan menggunakan seperti format Short Story — dengan angka. Bedanya ya depannya jadi “Unspoken Words” bukan “Short Story”.

Terus apa bedanya dengan Short Story?

Hampir ga ada. ūüėÜ Beberapa petunjuk udah dikasih di paragraf di atas, selebihnya tungguin aja ketika post pertamanya terbit. Tapi nafasnya memang sama seperti kalimat awal di paragraf ini “Hampir ga ada.” :mrgreen:

Dah, gitu aja. Ini juga nulis post dalam rangka aktivasi lagi untuk ngeblog. Secara blog yang satu lagi masih “tutup”.

Short Story #364: Apa Adanya

“So this is it?” Amanda bertanya sambil memperhatikan Yudi yang sudah berada di dekat pintu.

“Sepertinya iya.” Yudi menjawab. “Kamu sendiri yang bilang ga ada jalan lain lagi.”

Amanda diam. Memperhatikan. Yudi sendiri masih diam, menunggu.

“After all these years…”

“Semua hal pasti berakhir.” Yudi menyelesaikan. Lalu bergerak mantap membuka kenop pintu.

“Aku berubah meski kamu ga pernah minta aku untuk begitu.” Amanda coba menahan.

“Aku tau.” Yudi menjawab tanpa membalikkan badannya. Daun pintu sudah sedikit terbuka. Siap mengantarkan Yudi keluar, dan tidak kembali lagi.

“Apa itu karena aku ga pernah minta kamu untuk berubah?”

“Sepertinya bukan itu.”

“Why didn’t you do it?” Amanda bertanya. “Kenapa kamu ga pernah minta aku untuk berubah?”

“Karena aku mencintaimu apa adanya. I love you just the way you are.” Yudi langsung menjawab. Kali ini berbalik. Menghadap Amanda yang masih duduk di kursi ruang tamu. “Dan aku berharap kamu melakukan hal yang sama.”

Amanda diam sejenak. Berpikir.

“Kenapa begitu?”

“Kenapa kamu nanya begitu?” Yudi balik bertanya.

“Karena banyak orang yang kukenal, berubah karena diminta oleh pasangannya.”

“Tapi mereka bahagia, ga?”

Amanda tidak langsung menjawab. “Ada yang iya.”

“Berarti ada juga yang ga bahagia, ‘kan.”

“Apa ini berarti yang penting aku bahagia?”

“Kalo ujung-ujungnya itu, kenapa engga?”

“Kenapa begitu?”

Kali ini Yudi yang tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dan melepaskan tangannya dari kenop pintu. Tapi… ia tidak beranjak dari posisinya, dan bahkan menempatkan sebelah kakinya mendekati sisi luar ambang pintu.

“Sejak pertama kali aku menyukaimu, mencintaimu sejak pertama kali, karena ya apa adanya kamu dengan caramu sendiri. Bukan karena aku memintamu untuk menjadi begitu.” Yudi memberitahu. “You are what you are. Bukan karena aku yang membuatmu jadi begitu sehingga kemudian aku jadi punya perasaan padamu.”

Short Story #363: Aturan

“Aku ga paham kenapa kamu ga pernah nurut sama yang aku bilang..” Arya berkomentar. “Padahal aku ga pernah kasitau yang jelek, apalagi nyusahin.”

Perempuan di depannya hanya diam sambil cemberut. Sebal.

“..Alhasil seringkali kamu ujung-ujungnya susah sendiri. Mending kalo cuma susah sendiri, lah ini nyusahin aku juga.”

“Bilang kalo emang ga mau disusahin, ntar aku cari orang lain aja.” Susan langsung merespon.

Arya mendengus. “Lagi-lagi, you missed the point.”

“Yang mana? Yang soal nyusahin? Soal nurut? Soal ga paham? Yang mana?”

Arya diam. Ia tersenyum kecil. Sinis.

“Capek aku dengerin kamu ngeluh mulu soal aku.” Susan menatap Arya kesal. “Kamu tuh kebanyakan aturan! Harus gini, harus gitu, dan banyaaaaakk lagi!”

“Aku kan kasih aturan ada alasannya. Ada maksudnya.”

“Apa? Supaya kita bahagia? Seneng? Trus sekarang kita bahagia atau seneng ga?!” Susan langsung menjawab. “Yang ada aku stres!”

“Karena kamu ga ngikutin aturan yang aku kasih.”

Susan membuang muka sambil menyandarkan badannya ke sofa di ruang tamu mereka.

“Sulit tau… ngikutin semua aturan yang kamu kasih.” Susan berkata pelan.

“Oke, sekarang kita balik deh. Kamu yang kasih aturan, supaya kita lebih bahagia. Lebih seneng.”

Susan diam sejenak. Ia menerka-nerka seserius apakah Arya dengan ucapannya itu.¬†Selama tiga tahun ini, Arya selalu serius sih…

“Aturanku cuma satu.” Susan memberitahu.

“Yaitu?”

“Jangan ngatur aku.”

Short Story #362: Kode

“Fiuh…” Utari menghela napas seraya kemudian menutup laptopnya. Ia terlihat bersiap untuk beranjak dari perpustakaan setelah riset.

“Udah selesai?” Hans di sebelahnya bertanya.

“Hampir.” Utari menjawab. “Nanti malam gue lanjutin lagi. Lo?”

“Gue kaya’nya mau submit seadanya aja ini, tapi besok pagi.” Hans memberitahu. “Ntar malem mau coba eksperimen kecil dulu buat pengesahan yang ditulis.”

“Well, good luck then.” Utari menepuk pundak Hans, rekan sejawatnya. “By the way, kalo misal udah ga bakal dilanjutin lagi, gimana kalo kita cabs aja dari sini?”

“Trus ke mana? Masa’ mau ke RS?” Hans bertanya. “Cukup sudah lima hari dalam seminggu ada di sana.”

“Ya… kita hangout lah. Like the old times.” Utari mengajak. Ia tahu Hans sulit untuk menolak tawaran tersebut, seperti yang telah ia tahu sejak tahun pertama kuliah.

“Hmm…” Hans bergumam. Berpikir.

Utari tertawa kecil – karena memang tidak boleh terlalu berisik di perpustakaan meski boleh mengobrol.

“Apa yang lucu?”

“Kamu. Dari dulu ga berubah, sok-sok mikir dulu padahal emang mau.”

Hans agak cemberut, tapi sekaligus menyadari jika sepertinya ia dan Utari memang saling mengenal. Bahkan, terlalu saling mengenal.

“Oke.” Hans menjawab yang langsung direspon dengan senyum Utari. “Tapi…”

“Apa?”

“Kamu pernah bilang kalo kamu jago soal kode, ‘kan? Morse, dan lain-lain itu..”

“Trus?”

“Sini, coba pegang dada gue, tepat di jantungnya.”

“Kalo ini termasuk eksperimen lo itu…”

“Udah deh, pegang dulu!” Hans sedikit galak yang langsung membuat Utari menempelkan sebelah tangannya ke dada Hans.

“Oke. Berdetak nih. Trus apa hubungannya?” Utari penasaran.

“Oh, kirain kamu nangkep detaknya bilang ‘I love you’.”

Short Story #361: Tak Bisa

“Keputusanmu ini sudah bulat?” Ben bertanya lagi untuk memastikan.

“Perlu kubilang berapa kali lagi supaya kamu yakin?” Ida balik bertanya.

“Ya.. untuk memastikan saja.” Ben¬†menekankan. “Terutama soal hal-hal yang akan terjadi berikutnya.”

“Aku sudah tahu.¬†Dan aku sudah siap.”

“Oke.” Ben menenggak minumannya. Mendadak ruang apartemennya terasa lebih hangat.

“Kamu kok sepertinya¬†meragukanku? Kenapa?”

“Ga kenapa-kenapa.”

“Benarkah?”

“Iya. Emang kenapa?” Ben balik bertanya.

“Gesture tubuhmu berbeda dengan saat pertama kali aku-..”

“Kondisinya berbeda.” Ben memotong.

“Apanya yang berbeda? Aku¬†di sini. Kamu juga di sini. Kita sama-sama di sini. Dulu dan sekarang.”

“Bukan perihal fisik.”

“Tapi bukankah kamu menyukai aktivitas fisik yang kita lakukan?” Ida memancing.

Ben kehabisan kata-kata. Ia kembali menenggak minumannya. Kepalanya sedikit terasa ringan. Sesuai dengan tujuannya. Sejenak kemudian ia sudah merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.

“Aku pergi kalo kamu ga yakin. Tapi pilihanku sudah jelas dan pasti.” Ida merasa diabaikan.

“Tunggu.” Ben langsung¬†menahan tangan¬†Ida agar tak pergi.

“Aku ga ngerti dengan perubahan sikapmu ini.”

“Aku bukannya berubah sikap. Aku hanya memastikan. Seperti yang kubilang tadi.”

“Memastikan apa?”

“Memastikan bahwa aku juga menginginkan hal yang sama denganmu.” Ben memberitahu dengan mimik serius.

Ida diam. Entah kenapa ia merasa tertohok dan menyesal. Kenapa begini?

Masih memegang tangan Ida, Ben mengubah posisi duduknya.

“Karena beberapa orang bukannya tak bisa mencintai, mereka hanya tak bisa menunjukkan cintanya. Sementara aku sepertinya kebalikannya…” kata-kata Ben¬†seakan-akan tahu pertanyaan dalam hati Ida. “..aku bisa menunjukkan cintaku, tapi aku tak bisa mencintaimu, seperti suamimu.”

Short Story #360: Stand Up

“Besok kamu ga perlu dateng lagi.” Pipit berdiri memberitahu Magda yang baru saja duduk di meja kerjanya.

Muka Magda terkejut. Ia tak menyangka jika niatan masuk kerja di pagi hari itu akan menemui kondisi seperti itu.

“Clean up your desk.”

“Aku dipecat?”

“If you say so.” Pipit beranjak dan menuju mejanya lagi.

Magda masih diam sejenak di kursinya untuk mencerna informasi dari diskusi yang baru ia lakukan. Lalu, ia teringat sesuatu dan langsung ke meja kerja Pipit yang terletak tak jauh dalam ruangan kerja mereka.

“Kukira kemarin kita udah clear.” Magda berkomentar.

“Memang.” Pipit memberitahu sambil menatap muka Magda. “Tapi kamu tetap ga perlu kerja lagi di sini. Denganku.”

“Ga masuk akal sesuatu yang udah clear justru jadi berakhir pait begini.”

“Aku ga pernah bilang ini bakal happy ending, ‘kan?”

“Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mecat aku gitu aja, ‘kan?” nada suara Magda meninggi.

“Bisa begitu. Dan aku bisa mecat kamu gitu aja.¬†Agreement kita di awal seperti itu. Tertulis juga di kontrak yang kamu pegang.” Pipit menjawab dengan suara kalem. “Semua hak kamu¬†selama ini sudah dipenuhi, dan akan dipenuhi. Silakan diurus ke sekretariat.”

Magda mengepalkan tangannya. Ia kesal sejadi-jadinya. Tapi kemudian ia sadar bahwa yang terjadi sekarang harusnya tetap dalam ranah profesional. Sama seperti yang terjadi sehari sebelumnya.

Perlahan-lahan, Magda sadar bahwa sepertinya ia terlalu terbawa perasaan.

Sebentar kemudian, Magda menuju mejanya. Ia lalu membereskan barang-barang miliknya, memasukannya ke dalam tas punggung yang selalu ia kenakan, lalu bersiap keluar.

“Sekarang aku sadar kalo politik itu cuma soal kepentingan.” Magda berkomentar.

Pipit hanya melihat tanpa komentar.

“Emang mudah ya stand up ke yang berbeda pilihan seperti lawan-lawan kita. Juga lebih mudah menerima kalo mereka stand up melawan kita.” Magda melanjutkan, “But it’s much harder to stand up to your friends. Hard to do, and also hard to accept.”

Short Story #359: Bukan Sensitif

“Eh, kamu ada di¬†rumah.” Fika¬†menyapa Reni,¬†teman seapartemennya saat ia membuka pintu dan keluar kamar.

“Well, I lived here.” Reni menjawab sambil terus menyantap semangkuk es krim di atas sofa ruang tengah. “Kamu yang ke mana aja, kok baru keliatan?”

“Di kamar.” Fika menjawab singkat dari atas meja dapur kecil. Menyiapkan makanan.

“Hampir kukira kamu minggat.”

Fika mendengus merespon ucapan Reni.

“Habis kamarmu selalu¬†ketutup sih.” Reni melanjutkan.

“Bukannya kamarmu juga begitu?”

“Iya, tapi setidaknya aku keliatan juga di luar kamar.” Reni menjawab. “Kamu, ada apa kok tumben-tumbenan semingguan ini di kamar terus?”

“Yah.. gitu deh.” Fika enggan menjawab. Ia lalu mengeluarkan sepiring makanan siap saji dari microwave kecil dan mengambil segelas minum lalu kembali beranjak ke kamarnya.

“You know you can talk to me.” Reni memberitahu.

Fika menghentikan langkahnya sambil menoleh. “Iya, makasih. Tapi saat ini ga ada yang perlu aku ceritain.”

“Termasuk soal Anton?”

Fika belum lanjut masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali menoleh ke Reni.

“Kamu¬†punya banyak mata-mata atau emang sensitif sih?”

“Mata-mata jelas bukan. Dan aku juga bukan orang yang sensitif.” Reni memberitahu. “Let say, I¬†just know where & when to look at.”

Short Story #358: Terbiasa

TOK! TOK! TOK! Pintu apartemen Agnes setengah digedor. Dengan mata yang masih perih karena kantuk serta kepala yang pening karena belum sadar sepenuhnya, Agnes berjalan enggan dari kamarnya ke depan.

Agnes melihat sejenak melalui lubang intip di pintunya untuk melihat siapa yang membangunkannya sepagi itu. Lalu, ketika ia sudah tahu, langsung ia buka pintunya cepat-cepat.

“Sepagi ini?” Agnes bertanya.

“Aku boleh masuk dulu, ga?” Ryan balik bertanya. Bajunya lusuh, sepertinya belum pulang dari semalam. Matanya sedikit merah, tapi mungkin itu hanya ilusi yang terlihat oleh Agnes.

Agnes mundur sedikit memberikan sedikit ruang di antara pintunya yang tak terbuka sepenuhnya. Secukupnya agar Ryan bisa lewat dan masuk.

Klik. Agnes menutup pintu dan menguncinya.

“Aku masih ngantuk dan mau tidur lagi, ya. So suit yourself. Udah tau kan ada apa di mana?” Agnes memberitahu tanpa mengharapkan jawaban sambil¬†melangkah ke kamarnya, tapi…

“Ini terakhir kalinya aku ke sini.”

Langkah Agnes terhenti, lalu ia membalikkan badannya.

“Kamu mutusin aku?” Agnes bertanya.

“Nope. Kamu sendiri yang bilang kalo kita ga ada hubungan apa-apa.” Ryan menjawab. “We’re just living¬†a mutual state, katamu dulu.”

Kerongkongan Agnes terasa kering. Ia tak menyangka jika Ryan mengingat ucapan itu. Ia sendiri sudah lupa jika Ryan tidak mengingatkannya.

Agnes lalu mendengus. Ia berjalan ke arah dapur kecil dekat pintu di seberang Ryan yang berada di ruang tamu. Sebuah minuman beralkohol ia ambil dari kulkas, lalu menuangkannya ke gelas. Tak lama sebelum isi gelas itu berpindah ke dalam sistem pencernaannya.

“Dia hamil?”

“Engga. Belum.”

“Trus?” Agnes¬†penasaran.

“Aku yang ambil keputusan.”

Agnes mendengus lagi. Segelas minuman beralkohol kembali berpindah ke dalam tubuhnya.

“I can hear her words on your voice.” Agnes berkomentar.

Ryan tak menjawab. Ia hanya berdiri diam dan melihat ke arah Agnes.

“Terima kasih untuk selama ini, kuharap kamu selalu sehat dan lebih bahagia.” Ryan pamit.

“Aku penasaran…”¬†Agnes berkata sesaat sebelum Ryan membuka pintu. “Apa sih yang bikin kamu bertahan dengannya? Aku yakin itu bukan perasaan cinta atau kenikmatan fisik, karena aku tahu kau mendapatkannya denganku.”

Ryan diam sejenak sebelum menjawab. Ia bimbang antara menjawab atau tidak. Perlahan, ia memegang kenop pintu apartemen, lalu membukanya.

“Aku… sudah terbiasa akan kehadirannya.” Ryan memberitahu sambil kemudian melangkah keluar dan menutup pintu.

Dari balik pintu, Ryan dapat mendengar jeritan Agnes yang perlahan menghilang sejalan langkahnya menjauh.

Short Story #357: Di Sana Selama Ini

“Di mana lagi¬†yang harus aku tanda tangani? Sudah semua, ‘kan?” Indra bertanya sambil melihat ke arah arlojinya.¬†Ia terlihat antara¬†sebal karena lelah¬†atau ada acara lain. Tapi satu hal yang pasti, ia ingin agar semua ini lekas¬†tuntas.

“Sebentar.” Pramita membereskan dokumen-dokumen yang baru selesai Indra tandatangani ke dalam sebuah map, lalu¬†menyiapkan map lain dan mengeluarkan isinya ke meja depan Indra.

“Ini dokumen apa?”

“Masih soal harta, tapi lebih ke soal statement kalo ga bakal ada tuntutan di masa yang akan datang.”

“Lho, kupikir udah tercantum juga dengan yang tadi? Soal pemisahan dan klaim harta yang dimiliki?”

“Aku juga berpikir gitu awalnya. Tapi kata pengacaraku ini baiknya ada juga.” Pramita memberitahu.

“Berarti ini baru? Kalo gitu minta pengacaramu untuk kirim dulu ke pengacaraku untuk ditinjau.” Indra memerintah.

“Kamu ga bisa tanda tangan aja? Biar cepet selesai. Kamu sendiri yang bilang pengen semua cepet selesai, ‘kan?”

“Tapi bukan berarti ada dokumen yang ga perlu di-review.”

“Kamu dan segala peraturanmu.” Pramita menggerutu sambil kemudian menarik lagi dokumen tadi ke dalam map, lalu memeriksa kembali semua dokumen sebelumnya.

“Mungkin ga sempurna, tapi peraturan bikin hidup lebih tertib.”

“Dan selama ini berarti aku harus ditertibkan selayaknya penyakit masyarakat.” Pramita berkomentar. “Aku bersyukur akhirnya aku berani mengambil langkah ini.”

“Yang kulakukan adalah untuk kebaikan kita.”

“Kita atau kamu?” Pramita langsung bereaksi.

Indra membuang muka. Kesal. Ia tak menduga jika ia bisa sesebal itu pada perempuan yang pernah dicintainya.

Pramita lalu berdiri. Siap pergi setelah memastikan semua dokumen yang¬†ia perlukan sudah selesai ditandatangani Indra. Tapi…

“Aku selalu kagum dengan kemampuanmu untuk recover dan rebound.” Indra berkomentar tanpa melihat ke arah Pramita.

“Ini mungkin terakhir kali kita ketemu dan kamu malah ngomongin kemampuanku dalam olahraga?” Pramita mulai sebal.

“I’m talking about you.” Indra menjawab sambil akhirnya menoleh dan melihat Pramita, mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Kamu selalu¬†bisa move on, dengan cepat. Sama seperti sekarang ini.”

“Are you jealous with¬†my life?”

Indra kembali membuang muka. Sedikit banyak, ia menyesal sudah mengucapkan kalimat tadi.

“Seharusnya kamu¬†tahu, seperti yang selalu kamu bilang, jodoh hanya Tuhan yang tahu.” Pramita berkomentar.

“Oh ya? Karena¬†dalam pemahamanku, jika secepat itu¬†kamu mendapatkan yang lain, jangan-jangan dia memang sudah ada di sana selama ini.”

Short Story #356: Ruang

Mira baru akan mengetuk pintu apartemen Sakti ketika Sakti membuka pintu dan hendak keluar dari dalamnya. Selanjutnya mereka justru saling diam menatap canggung.

“Eh, kamu..” Sakti akhirnya angkat bicara.

“Hai..” Mira menyapa.

“Mau masuk?”

“Ya mau ngapain lagi?” Mira menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.¬†Meski bukan itu sebenarnya pertanyaan yang¬†sudah lama ia pendam dan hendak tanyakan ketika

“Ya kirain. Punya kunci, ‘kan? Dah dulu, ya.” Sakti berjalan meninggalkan Mira yang diam menatapnya. Lalu, ia baru beberapa langkah menjauh ketika Mira langsung mengejarnya.

“Tunggu.” Mira berhenti di depan Sakti, menghadangnya.

Sakti terkesiap. Dadanya berdebar melihat Mira.

“Kenapa kamu jadi menjauh?” Mira bertanya.

“Ng… aku… aku…” Sakti tergagap.

“Apa yang aku bilang itu salah?”

Sakti menarik napas. “Ga. Ga salah.”

“Trus kenapa kamu menjauh?” Mira bertanya lagi.

“Aku cuma perlu ruang.”

“Emangnya selama ini aku mengekangmu?”

“Bukan¬†begitu.” Sakti langsung menjawab. “Aku cuma perlu ruang lebih supaya bisa liat lebih jelas.”

“Hubungan kita selama ini kurang jelas?” Mira memburu. “Itu ga cukup buat jadi alasan untuk ke tahapan selanjutnya?”

Sakti diam.

“Atau kamu takut?”

“Ga. Aku ga takut.”

“Trus kenapa?”

Sakti menarik napas. “Ga ada yang salah dengan hubungan kita. Ga ada yang salah juga dengan yang kamu bilang.¬†Kamu juga ga salah, bahkan kamu benar. Dan aku¬†sejalan dengan yang kamu inginkan.”

“Tapi kenapa kamu menjauh? Padahal kita biasanya sungguh dekat.”

“Justru itu..”

“Aku ga ngerti.” Mira memberitahu.

Sakti lalu mengangkat kedua tangannya, dan menutup mata Mira untuk beberapa saat. Lalu, ia menarik mundur kedua tangannya dari mata Mira, dan membiarkannya dalam ruang jangkau pandangan Mira.

“Kedekatan membuat beberapa hal tak terlihat jelas. Bahkan membutakan.¬†Maka oleh karena itulah ruang¬†dibutuhkan. Sama seperti yang barusan kulakukan dengan tanganku pada matamu.” Sakti memberitahu.