Short Story #318: Batu dan Air

Sharon melihat secarik kertas di tangannya dengan nanar. Ia masih tak percaya dengan yang ia baca. Sebuah surat berisikan permohonan perpisahan yang ia terima pagi tadi dari seorang kurir.

Sharon kemudian terkesiap ketika pintu apartemennya terbuka. Bambang telah pulang.

“Kenapa, Bang?!” Sharon langsung menyerbu Bambang yang belum juga membuka jaketnya.

Bambang tak langsung menjawab. Ia memegang dengan lembut tangan Sharon yang mencengkeram jaketnya, lalu menutup pintu. “Duduklah, aku jelasin.”

“Jelasin sekarang juga!” Sharon menuntut.

Bambang menarik napas. “Oke.”

Tapi bukannya langsung menjelaskan, Bambang membuka jaketnya lalu menyandarkan dirinya ke pintu apartemen. Sharon di depannya dengan waspada. Matanya sembap. Bibirnya mulai bergetar.

“Itu yang terbaik buat kamu.”

“Tapi bukan ini yang aku mau buat kita!?” Sharon langsung bereaksi.

Bambang menarik napas lagi. Mencoba tetap tenang. “Memangnya seperti apa yang kamu mau buat kita?”

“Aku mau kita saling ada buat masing-masing. Mau kita bisa jalan-jalan jauh bareng. Kita bisa gapai mimpi masing-masing bersama.”

“Tapi kenyataannya kamu ga selalu ada buat aku meski aku selalu ada buat kamu. Kita jalan-jalan jauh bareng selalu ke tempat yang kamu mau bukan yang aku mau. Mimpi yang kamu bilang pun semuanya mimpi kamu, bukan mimpi kita, bukan juga mimpi aku.” Bambang menjawab panjang dengan cepat, menghindari disela oleh Sharon.

“Tapi-“

“Tapi kamu sadar ‘kan yang aku bilang itu benar?” justru Bambang yang menyela.

“Tapi… bukan berarti kita harus pisah begini, ‘kan?” Sharon mulai luluh. Ia menempelkan kepalanya ke dada lelaki yang telah ia pilih sejak beberapa waktu yang lalu.

“Bukannya itu yang berulang kali kamu bilang setiap kali kita ga pernah sepakat? Setiap kali kita saling mendiamkan selama berhari-hari? Setiap kali aku mengatakan dan melakukan sesuatu yang tidak persis seperti keinginanmu?”

Sharon tak menjawab. Ia mengisak. Mukanya tertutup kemeja Bambang. Berharap semuanya berhenti. Berharap yang ia alami adalah mimpi buruk dan ia cukup terbangun lalu semuanya hilang.

“It’s over.” Bambang memberitahu. Bimbang antara memeluk dan membelai perempuan yang menaklukkan hatinya, atau justru….. melepaskannya.

Isakan Sharon semakin dalam. Tangannya masih mencengkeram surat tadi dan juga kemeja Bambang secara bersamaan. Tapi…

“Is there anything that we can work out? Selain ini…?”

“Dariku mungkin iya. Tapi entah apakah kamu mau atau tidak.”

“Say it,…. Please.” suara Sharon lirih.

Bambang diam sejenak.

“Hidup kita berdua seperti sungai. Kamu batu, dan aku airnya.” Bambang memberitahu. “Selama ini, kamu selalu tegar dan keras, membentuk sungai dan mengarahkan aliran airnya. Sementara aku, selalu berusaha mengikuti setiap alur sambil tetap coba menarikmu ke dalam aliran.

“Sekarang mungkin sudah saatnya kamu berhenti menjadi batu, dan berganti menjadi aliran airnya. Tapi bukan berarti aku menjadi batu yang tegar dan keras, aku akan menjadi arus dan angin yang menyertai dan menemani ke manapun air pergi.”

Sharon diam mendengarkan. Menyimak. Di tengah isakannya, ia teringat kembali kenapa ia memilih Bambang. Dan di saat itu, ia merasakan jatuh cinta lagi.

“Ga salah jadi batu itu. Keras. Tegar. Punya pendirian. Membentuk sesuatu untuk orang lain. Tapi.. ga bisa ke mana-mana. Dan ga memalukan juga untuk menjadi airnya, meskipun harus mengikuti bentuk alirannya, tapi ia bisa sampai ke mana-mana. Jauh dari tempatnya bermula.”

Seketika, isakan Sharon berhenti dan berganti dengan perasaan hangat yang meluap-luap di dadanya.

Short Story #317: To Be Happy

“Hei… Let me guess… Kopi hitam pekat?” Sutan menyapa Ria di dapur kecil kantor mereka.

“You know me so well.” Ria menjawab sambil tersenyum kecil.

“Hahaha.. Lucky guess mungkin.” Sutan merendah. “Setelah beberapa kali aku salah menerka.”

“That’s what I mean.”

“Btw, Lala kok udah masuk aja, ya?” Sutan bertanya. “Tadi aku liat dia udah ada di mejanya pas lewat kemari. Belom sempet nyapa sih, tapi.”

“Well, harusnya gimana?” Ria balik bertanya sambil melongok ke arah meja Lala yang terlihat dari dapur kecil, lalu kembali lagi.

“Dunno.. Mungkin besok atau lusa baru masuk?” Sutan menebak lagi sambil menyiapkan minuman kopi untuknya.

“Ah.. mungkin dia kalo ga ada kegiatan produktif, malah nanti keingetan lagi.” Ria menyesap kopinya lagi. “Well, at least that’s me.”

“Make sense.” Sutan berkomentar. “Lagipula, ga ada gunanya juga terus sedih, kan ya?”

“Precisely.” Ria menjawab. “Atau mungkin emang dia cewek yang kuat.”

“Maksudnya?”

“Ya, tadi pas aku intip setelah kamu bilang, dia ga keliatan udah ngalamin kejadian kemarin itu. Bahkan kaya’ ga ada apa-apa.” Ria memberitahu. “She’s smiling! Padahal aku yakin dia sebenernya masih sedih banget. Jauh dari hepi.”

“Well.. you don’t need to be happy to smile. In fact, smile then you’ll be happy.” Sutan menjawab sambil membawa kopinya keluar dari dapur kecil kantor.

Short Story #316: Stronger

“Don’t move any further.” Farida memberitahu sambil menahan daun jendela yang tertiup angin.

“I’m not.” Santi menjawab. “Tapi aku ga tau kalo mendadak angin bertiup kencang.”

“Konyol selagi hidup itu pintar. Tapi mati konyol? Itu bodoh.” Farida berkomentar sambil memperhatikan langkahnya mendekati Santi.

“Dari mana kamu tau kalo aku bakal mati konyol?”

“Kalo kamu beneran ngejatuhin diri dari balkon ini.”

“Dari mana kamu tau kalo aku mau ngejatuhin diri?”

Farida diam sejenak. “Dari pesan yang kubaca sore tadi.”

Giliran Santi yang diam sejenak. Ia melihat Farida lekat-lekat yang terus coba mendekatinya. “Stop di situ.”

Farida langsung tak bergerak. Berjaga-jaga. Tangan kanannya siap menggapai Santi yang masih berada jauh dari jangkauannya, dan tangan kirinya berada di kusen daun jendela balkon.

Sesekali, angin bertiup kencang di lantai 7 gedung flat-nya.

“You know you can talk to me.” Farida memberitahu.

“Tapi aku butuh lebih dari sekadar bicara.” Santi menjawab.

“Aku bukan pria, kalo itu yang kamu maksud.”

“Sekarang kamu yang konyol.” Santi tersenyum kecil. Ia melihat sekilas ke jalanan di bawahnya. Lalu melihat kembali ke Farida yang ternyata sudah selangkah lebih dekat kepadanya.

“Ayolah.. kita ke dalam.” Farida mengajak lagi.

“Apa gunanya? Aku ga punya siapa-siapa lagi. Daripada hidup seterusnya dalam kesendirian, lebih baik aku sudahi sekarang saja.” Santi memberitahu.

“-Mungkin begitu.” Farida langsung merespon. “Mungkin juga engga.”

Santi menatap dengan harap.

“I know you’ve been disappointed. Maybe more than once. Maybe because of one guy, or even more.” Farida berkata. “Tapi itu ga seharusnya bikin kamu jadi begini.”

“Trus, seharusnya aku gimana?” Santi bertanya dengan suara parau. Menangis. Tangannya mencengkeram pinggiran balkon dan badannya mulai condong.

“What doesn’t kill you, only make you stronger.” Farida memberitahu.

“What if… it does?” Santi bertanya. Pegangan tangannya mulai lemas dan pandangannya mulai gelap.

Short Story #315: Nothing

Sarah menutup teleponnya dengan kesal. Sudah kesekian kalinya ia coba menelepon Joyce tapi tak ada sambutan melainkan berujung dengan kotak pesan.

“Masih belum diangkat juga?” Vero bertanya sambil menyesap teh hangatnya.

“Belom.” Sarah menjawab dengan sedikit kesal.

“Apa mau dicari keluar?”

“Dicari ke mana? Ntar kita ke sana, dia pulang nemuin kita ga ada, dan bakal lebih bingung.”

“Well.. Mungkin bisa…”

“Udahlah. Pilihannya cuma dia lapor ada di mana, atau ya kita tunggu dia di rumah.” Sarah menyudahi sambil kemudian melempar pandangannya ke jendela apartemen.

Vero tak menjawab lagi.

“She’s grown up.” Vero berkomentar terhadap helaan napas Sarah.

“Justru karena dia udah dewasa.” Sarah merespon. “Dia seharusnya tau dan bisa bertanggungjawab.”

“Seperti?”

“Kasitau lagi di mana kalo udah lewat jamnya biasanya dia pulang.” Sarah memberitahu. “Udah dari siang dia ga ada kabar gini. Aku kan bingung.”

“Mungkin sudah seharusnya dia belajar bertanggungjawab dengan cara begini; sesuatu yang tak perlu kau tanggung juga.”

“But I’ve promised that nothing’s gonna happen to her. It means, she’s my responsibility.”

Vero diam sejenak. Membiarkan Sarah dalam kegundahannya.

“Kalo kamu bilang seperti itu, justru ga bakal ada apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Emangnya kamu mau dia jadi orang yang ga tau apa-apa karena ga pernah ngalamin apa-apa?” Vero berkomentar.

“Aku…” Sarah seakan kehabisan kata-kata. “Aku hanya ingin dia punya hidup yang lebih baik daripada aku.”

“Karena dia lebih baik dari kamu?”

“Bukan..” Sarah menjawab. “Karena aku ga lebih baik daripada dia.”

Short Story #314: Salah

TOK-TOK! Michelle yang tengah sibuk menyiapkan makanan di dapur kecil apartemennya, segera menghampiri pintu. Dari lubang intip, ia melihat Norah yang tengah berdiri dengan sebuah ransel setengah penuh.

“Boleh aku masuk? Aku ga bisa pulang.” Norah memberitahu ketika Michelle setengah membuka pintunya dan memperlihatkan mukanya.

“Yuk, sekalian temenin aku makan.” Michelle mempersilakan Norah masuk lalu langsung menuju ke dapurnya. “Jangan lupa pintunya dikunci, ya.”

Norah menurut. Ia menutup dan mengunci pintu sambil kemudian meletakkan ranselnya di dekat pintu lalu menyusul Michelle ke dapur.

“Jangan menolak.” Michelle memberitahu sambil meletakkan piring dan kemudian makanan yang baru ia masak. “Aku tahu kamu pasti lapar.”

Norah lagi-lagi menurut. Ia duduk menunggu sambil kemudian mengambil sebuah sendok dari tempat sendok terdekat.

“Your Dad?”

“Nope. Mamahku.” Norah menjawab sambil kemudian menyantap makanan.

“Karena cowok?” Michelle bertanya lagi sambil makan.

“Soal masa depan.”

“Fiuhh…” Michelle menghembuskan napas.

“Ga seberat itu. Hanya pilihan setelah lulus nanti.” Norah memberitahu. Makanannya telah habis. “Apa aku boleh nginep di sini dulu, untuk sementara?”

“Well…”

“Kalo ga boleh juga gapapa. Paling aku sekalian aja keluar kota, ke nenekku.” Norah langsung memotong lagi.

“Don’t.” Michelle langsung menjawab. “Take your time. Tenangkan dirimu, jernihkan pikiranmu.”

“Thanks.” Norah menjawab. “Semoga ga ngaruh ke cara aku ngomong.”

“Are you kidding?” Michelle merespon. “Kamu normal aja udah banyak yang ngira kamu wanita dewasa. Apalagi kalo mendadak pembawaannya kaya’ emosian? Bisa cocok banget malah sama mayoritas pendengar radio kita.”

“Hahaha..” Norah tertawa pelan sambil kemudian mendengus.

“Anyway… Aku punya komentar sedikit. Boleh?” Michelle memberitahu sementara Norah hanya menatap. “I’m not you. Aku juga ga tau apa yang kamu hadapin persisnya. Tapi aku pernah ada di posisi seperti kamu. I mean, cekcok sama ortuku karena pilihan kami beda.”

“Tapi kamu keliatannya baik-baik aja.”

“Exactly. Keliatannya, kan?” Michelle langsung menjawab. “Bisa begini karena ya, kita berdamai. Kita kemudian saling belajar dan ngertiin maksud dan maunya masing-masing. Susah memang, tapi tetap harus dilakukan.”

“Tapi setiap anak boleh dong punya cita-cita maunya gimana dengan hidupnya, apalagi udah remaja dan mau dewasa. Masa’ gitu aja salah?”

“Just because your Mum is wrong about something you like, doesn’t mean she’s wrong about everything.” Michelle memberitahu. “Dan itu harusnya ga jadi alasan kenapa kamu ga pulang.”