Coaching Menulis #014: Konsistensi

Ya, akhirnya saya memperbaharui kembali blog menulis ini. Setelah pembaharuan (update) terakhir sudah berbulan-bulan yang lalu. Tak lain, karena memang saya akui, beberapa kesibukan membuat saya sulit untuk menyentuh blog ini dan memberikan materi yang benar-benar sesuai. Belum lagi, pelaksanaan Coaching 101 yang ternyata tidak selancar seperti rencana. Tapi ya, itulah tantangan yang harus saya hadapi tentunya. Semenjak, saya memutuskan untuk menulis, dan menulis. Lagi, dan lagi.

Oke, jadi dengan memublikasikan materi coaching ke-14 ini, saya resmi membuka kembali Coaching 101. Kali ini, saya tidak melakukan per angkatan, tapi membebaskan setiap orang untuk menghubungi saya via e-mail ke naga.tasik@gmail.com. Via e-mail tersebut, silakan saja Anda bertanya kepada saya, baik itu berkelanjutan melalui e-mail berikutnya, atau bertemu, atau cukup satu-dua kali saja. Bebas. Tak ada ikatan. Dan, jangan lupa tuliskan di subject-nya “Coaching 101” yang kemudian diikuti oleh keperluan Anda.

Dan, untuk materi ke-14 ini, saya mengambil tema: Konsistensi.

Coaching Menulis #014: Konsistensi

Konsistensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan yang beralamat di sini, kata ‘konsistensi’ berarti:

n1 ketetapan dan kemantapan (dl bertindak); ketaatasasan: kebijakan pemerintah mencerminkan suatu — dl menghadapi pembangunan yg sedang kita laksanakan;2 kekentalan: — agar-agar;3 kepadatan, kepejalan, atau ketetalan jaringan yg menyusun bagian tubuh buah; 4Geoa ketahanan suatu material terhadap perubahan bentuk atau perpecahan; b derajat kohesi atau adhesi massa tanah;
kontekstualLing kualitas terjemahan yg diperoleh dng menerjemahkan ungkapan yg cocok untuk konteks tertentu dan bukannya untuk semua konteks

Singkat cerita, konsistensi berarti tetap dan mantap. Saya sendiri sering mengartikan konsistensi sebagai “sebuah keadaan untuk tetap melakukan yang sudah ditetapkan di awal kegiatan.” Jadi, kurang lebih konsistensi adalah melakukan sesuatu secara terus-menerus, sesuai target, hingga mencapai tujuan. Meski begitu, tujuan yang ingin dicapai bisa jadi terus berubah-ubah sesuai dengan perkembangan situasi.

Bingung? Oke, mari kita sederhanakan saja dengan mengambil contoh kasus dalam menulis.

Andai Anda sudah merencanakan untuk membuat sebuah tulisan semacam artikel yang memiliki panjang kurang lebih sekitar 3-4 halaman A4. Jika ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang lengkap, maka harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, When, Why, Where, Who, & How). Dan, dalam perencanaan tersebut juga dilakukan pemilihan jenis tulisan yang akan dibuat, ada persuasi, argumentasi, narasi, deskripsi, dan masih ada beberapa jenis lainnya.

Lalu, setelah perencanaan tulisan selesai, apa? Tentu, jawabnya adalah pencarian data untuk tulisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mencari narasumber, baik itu ahli ataupun masyarakat, melakukan penelitian lewat internet, buku-buku, hingga kemudian membuat sebuah catatan lengkap. Nah, khusus untuk catatan ini bisa juga dilakukan dengan membuat sebuah jurnal — mencatat tanggal, waktu, siapa orangnya, dan apa isi percakapan dengan orang tersebut.

Selesai sampai di situ? Jelas tidak! Penelitian dan pengumpulan data, harus segera diikuti dengan penulisan mengenai artikel yang sudah direncanakan sejak awal. Dan, untuk mengawali menulis, terkadang sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena ada beberapa energi yang terkuras di saat mencari dan mengumpulkan data lewat penelitian tersebut. Dan, untuk tetap menulis sesuai dengan rencana itulah diperlukan konsistensi.

Iya, konsistensi. Ketetapan hati untuk tetap melakukan rencana sejak awal untuk mencapai tujuan itu begitu penting dalam menulis. Dengan tetap konsisten terhadap rencana, maka kita akan bisa menulis sesuai keinginan awal seperti yang tertulis di rencana kita. Dengan konsistensi, kita dapat menyelesaikan tulisan sesuai jadwal atau target yang kita inginkan.

Memang diakui, konsistensi terkadang sulit dilakukan bagi kebanyakan orang. Penyebabnya banyak, tapi lazimnya karena mereka belum terbiasa. Lantas, jika sudah terbiasa apa bisa langsung konsisten juga? Saya ingin sekali menjawab “IYA” dengan lantang, tapi sepertinya sulit. Mengingat-ingat, saya juga tidak konsisten terhadap blog ini. :mrgreen:

Oke, lalu harus bagaimana agar tetap konsisten? Mudah saja, lakukanlah sepenuh hati Anda akan apa yang sedang Anda lakukan. Jika sedang merencanakan untuk menulis mengenai sebuah hal, maka lakukanlah sepenuh hati, dan konsistensi akan mengikuti dengan sendirinya. Jadwal yang super efektif sekalipun takkan bisa mengalahkan kekuatan hati dan juga konsistensi.

Dan, jangan pernah meremehkan kekuatan konsistensi. Kenapa? Karena dengan sebuah konsistensi, target yang direncanakan bisa dapat tercapai, atau bahkan terlampaui! Jadi, mulailah Anda menulis dengan konsisten! *pengingat untuk diri saya sendiri juga tentunya*

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Layaknya sebuah perjalanan, sebuah permulaan pastinya akan diakhiri dengan sebuah penghabisan. Begitu pula proses menulis, karena sesuatu yang berawal akan lebih baik jika memiliki sebuah akhir. Namun, akhir sebuah proses menulis merupakan awal yang baru bagi proses selanjutnya.

Menulis, adalah sebuah perjalanan yang melenakan penulisnya sehingga terus membuatnya tetap berkutat dengan tulisannya. Ide dan segala pikiran ditumpahkan ke dalam tulisan agar membuatnya menjadi sebuah mahakarya yang memuaskan. Dan, setelah semuanya selesai tentu langkah yang ingin dilakukan adalah mengirimkannya ke pihak yang bisa membuat tulisan kita dibaca oleh banyak orang. Benarkah begitu? Hmm.. tentu tidak. Karena ada sebuah tahapan kecil yang akan lebih menyempurnakan tulisan kita tersebut.

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Pada materi coaching kali ini, saya akan menganalogikan penulis sebagai seorang juru masak. Profesi yang berkaitan dengan makanan serta selera tersebut, memiliki beragam tahapan serta kemahiran dalam memasak dan menghasilkan masakan makanan bagi para penikmatnya. Nah, tulisan tentunya adalah masakan makanan tersebut.

Bagi seorang juru masak pemula, memasak makanan adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Jangankan menyajikan masakan, mendapatkan bumbu-bumbu yang tepat dan ideal tak semudah yang dibayangkan. Namun, dengan latihan dan juga percobaan yang terus dilakukan tentu akan membuat keahlian semakin terasah dan juga kemampuan semakin jitu.

Juru masak yang baik tentunya akan menikmati setiap proses yang terjadi dalam menghasilkan masakannya. Setiap detil dan juga perlengkapan yang diperlukan akan diperlakukan dengan baik agar terciptanya sebuah kesempurnaan. Dan, setelah proses memasak hampir selesai, penyajian yang tepat adalah sebuah keharusan. Itulah mengapa coaching kali ini saya mengambil tema ‘Bungkus!’.

Sajian Terpilih

Pernahkah Anda menikmati masakan makanan di sebuah restoran berkelas yang makanannya kebanyakan adalah khas benua lain dan dibandrol dengan harga yang tinggi? Bagi yang belum, tidak mengapa. Karena sebenarnya yang berada di sana adalah masakan makanan yang rasanya nikmat dengan sajian yang menarik sehingga harga yang selangit pun layak untuknya.

Lalu, pernahkah Anda menikmati masakan makanan di pedagang kaki lima pinggiran jalan dengan gerobak, dipikul, atau mungkin di kios-kios kecil? Harganya umumnya terjangkau dengan variasi makanan yang tersaji secara umum namun memiliki rasa yang berbeda-beda di setiap penjualnya, yang bisa jadi tidak berbeda jauh dari restoran berkelas yang saya sebutkan sebelumnya.

Nah, sekarang seperti ini. Andaikata di depan Anda terdapat sebuah piring berisikan dua buah makanan yang masing-masing berasal dari restoran berkelas dan kaki lima. Mana yang akan dipilih pertama kali untuk dicicipi? Bagi kebanyakan orang pasti akan memilih makanan dari restoran berkelas. Alasannya beragam, mulai dari harga yang mahal, bahan yang berbeda, rasa yang (bisa jadi) lebih baik, hingga kualitas pembuatnya yang baik atau tampilannya yang menarik. Apapun, yang menentukan makanan tersebut terlihat lebih baik tentunya adalah cara penyajian yang menarik oleh sang juru masak.

Membungkus Tulisan

Tulisan selayak masakan yang diracik oleh juru masak, tentunya memerlukan penyajian yang menarik agar menjadi pilihan penikmatnya. Dengan mengesampingkan nama penulis – yang belum tentu banyak dikenal orang, sebuah tulisan dengan tampilan yang menarik akan lebih mudah untuk disebarkan ke khalayak ramai melalui media publikasi.

Salah satu langkah untuk mengawali pembungkusan tulisan, adalah dengan mengedit sendiri tulisan tersebut seperti yang telah saya sebutkan di materi coaching sebelumnya mengenai Self Editing. Nah, langkah selanjutnya setelah awalan tersebut, adalah dengan membuat tulisan kita menjadi lebih menarik dari sisi tampilan.

Tenang, saya tidak akan menyuruh untuk menambahkan gambar-gambar kartun di sekeliling tulisan – pada bagian kosong kertas, ataupun memilih kertas berwarna menarik dengan aroma menggoda selera. Bukan, bukan begitu. Tapi lebih ke sisi teknis penyajian tulisan agar tepat tujuan.

Lengkapi

Apa saja yang perlu dilengkapi agar penyajian terlihat lebih sempurna? Apakah setelah selesai menulis lalu langsung diprint begitu saja setelah melalui self editing? Jawabnya akan ditemukan di pembahasan berikut ini.

Data diri. Informasi berupa nama lengkap, serta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi adalah data yang perlu dilengkapi ke dalam tulisan yang telah selesai ditulis. Tanpa informasi ini, pihak yang akan menerbitkan tulisan kita tentu akan kesulitan untuk menghubungi kita.

Nomor halaman. Untuk sebagian orang, penomoran halaman di kertas seringkali terlewatkan karena tak dianggap penting. Padahal, untuk memudahkan pembacaan bagi pihak yang akan kita kirimkan untuk menerbitkan, nomor halaman ini menjadi penting, dan terkadang menjadi poin lebih tentang keseriusan dan ketelitian.

Judul dan kata-kata deskripsi. Pemilihan kata yang tepat untuk tulisan kita, ibarat penunjuk seberapa menarikkah tulisan kita. Dengan kata yang tepat, tentunya pembaca akan lebih tertarik untuk membaca tulisan kita secara menyeluruh dibandingkan dengan judul yang tak menarik. Dan terkadang, judul dan kata-kata deskripsi harus bersifat kontradiktif, aktual, serta fantastis.

Jarak baris atau paragraf. Tak dapat dipungkiri sebuah tulisan yang baik umumnya adalah tulisan yang memudahkan untuk dibaca. Bayangkan jika terdapat sebuah tulisan hanya merupakan tulisan yang ditimpa berkali-kali di baris yang sama, atau jarak antar baris dan paragrafnya terlalu erat. Sudah tentu pembaca pun akan kesulitan membaca tulisan tersebut.

Ukuran kertas. Selayak membuat makalah ataupun skripsi, ukuran kertas menjadi hal yang cukup vital dalam menyajikan tulisan. Ukuran kertas yang salah, selain dapat menyulitkan untuk proses printing, juga akan membuat pihak penerbit akan kesulitan untuk membaca tulisan kita. Bayangkan saja jika tulisan yang sedianya akan diterbitkan dalam bentuk halaman A4, harus diskalakan menjadi kertas yang berukuran seperempatnya.

Jilid. Hal ini tak menjadi sebuah kewajiban, akan tetapi akan lebih baik jika tulisan kita yang jumlahnya hingga berpuluh-puluh lembaran bersatu dalam sebuah jilid. Selain memudahkan dibaca oleh pihak penerbit, jilid pun akan membantu agar naskah tulisan kita tetap utuh di dalam amplop atau map untuk mengirimkannya.

Hal-hal kelengkapan yang telah saya sebutkan di atas bisa jadi sepele karena seiring penulisan pun seharusnya mereka langsung disusun. Akan tetapi, meremehkan detil-detil kecil bisa menjadi sebuah kesalahan besar di kemudian hari jika tidak diperhitungkan. Jadi, ada baiknya jika berwaspada dan bersiaga daripada menyesal di kemudian hari.

Jadi, seperti apa pembungkusan tulisan Anda? Apa bisa jadi sajian terpilih?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Jum’at kemarin adalah hari libur. Dan, karena hari libur itulah sebuah kebetulan terjadi. Yakni, saya tak dapat terhubung dengan koneksi internet sehingga tidak bisa memberikan materi coaching. Bagi para pembaca sekalian, saya meminta maaf atas kesalahan tersebut, dan berikut ini adalah materi coaching lanjutan yang saya muat di blogs ini. Selamat membaca!

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Dunia adalah tempat yang sangat besar dan benar-benar besar. Besar di sini, tak hanya persoalan ukuran, tapi juga tentang apa pun yang terkandung di dalamnya. Dunia mencakup milyaran orang dengan berkali-kali lipat permasalahannya, serta berkali-kali pula kemungkinan terjadinya. Jadi, dunia adalah sebuah hal yang sangat kompleks, rumit.

Itulah sebabnya banyak orang tak dapat mengerti dunia. Sebuah lagu bahkan menyebutkan bahwa dunia itu adalah panggung sandiwara, tempat manusia melakukan sebuah drama atau lakon yang telah ditetapkan Sang Sutradara Kehidupan, Tuhan YME. Dan berangkat dari konsep itulah, sebagian orang pun cerdas menangkap situasi, kejadian, momen dan peristiwa untuk kemudian disarikan ke dalam bentuk bacaan untuk dibagikan kepada khalayak ramai.

Tulisan, yang juga sering hadir dalam bentuk artikel, cerita, novel, hingga roman adalah bentuk bacaan dari rumitnya kehidupan di dunia yang ditangkap secara cerdas oleh penulisnya untuk dibagikan. Dengan kelihaian yang cukup mumpuni, penulis memiliki kemampuan untuk mencermati setiap jengkal kejadian untuk kemudian disarikan ke dalam tulisan. Tapi, bagaimanakah bentuk yang tepat?

The Right Shape

Beberapa orang menganggap bentuk yang tepat adalah tulisan yang sesuai dengan keinginan mereka. Bagi orang-orang demikian, menulis adalah hak prerogatif yang tak dapat diganggu gugat dan dilindungi oleh lisensia puitika. Sehingga produk akhir dari proses menulis adalah tulisan yang benar-benar mencerminkan apa yang diinginkan oleh sang penulis. Sebuah mahakarya yang dipenuhi oleh ego sang pencipta.

Biasanya produk tulisan yang dibuat dengan ego penulis, akan mengabaikan hal-hal yang berada di luar lingkungan penulis. Ia akan mengabaikan pendapat, masukan, dan bahkan cek silang. Ia akan memasukkan setiap sumber daya yang dimilikinya ke dalam tulisan tersebut. Mengagumkan memang akan kesungguhan penulis untuk membuat produk yang benar-benar mencerminkan dirinya, tapi pada praktiknya hal demikian belum tentu produk yang tepat.

Lalu seperti apa?

Sebuah produk tulisan yang tepat, adalah sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembacanya. Lagi-lagi saya mengatakan, layaknya sebuah produk usaha, tulisan yang tepat adalah tulisan yang dapat dicerna dan “dikonsumsi” oleh pembacanya. Intinya, sebuah tulisan yang mengerti akan pembacanya.

Simplify

Seperti sudah dimuat di awal tulisan, dunia adalah sesuatu yang sangat besar. Kompleks dan rumit. Sehingga penduduk dunia pastinya ingin sesuatu yang tak juga ikut-ikutan kompleks atau rumit untuk dikonsumsi. Sebuah pandangan kebalikan yang merupakan solusi dari kehidupan sehari-hari. Dan, sudah tentu jawabnya adalah kebalikan kerumitan, yakni kesederhanaan.

Hal-hal yang sederhana tanpa disadari telah menjadi sebuah primadona yang begitu menggelegar dalam dunia penulisan serta penerbitan. Buku-buku ‘how to’ serta ‘cara praktis’ untuk buku-buku kategori non-fiksi adalah buktinya. Kategori fiksi pun tak mau kalah, buku-buku teenlit maupun chiclit adalah contoh buktinya. Dengan memandang secara menyeluruh, setiap buku tersebut adalah buku-buku yang disajikan secara sederhana untuk para pembacanya.

Kesederhanaan dalam tulisan di buku dapat tercermin dalam beberapa hal. Mulai dari pemilihan kata, penulisan kalimat, hingga struktur paragraf, bab, dan alur tulisan itu sendiri. Dengan kesederhanaan itu, tak hanya pembaca saja yang diberikan kepuasan karena lebih mudah mengerti akan tulisan, kita sebagai penulis pun juga akan menjalani proses penulisan yang lebih mudah.

Intinya, dengan menyajikan kesederhanaan, tulisan pun akan lebih mudah dikerjakan sesuai dengan outline atau kerangka yang dibangun dari ide dasar. Dan, kesederhanaan umumnya dipilih oleh pembaca yang merupakan konsumen kita.

Jadi, bagaimana tulisan kamu?

Coaching Menulis #005: Look Around

Mari kita rehat sejenak dari hal-hal teknis yang berkaitan dengan tulis-menulis. Saya mengajak untuk rehat tak lain agar pikiran dan juga kepala kita tak terus-menerus dikungkungi oleh “pekerjaan” dan diganti oleh hal-hal yang menghibur. Nah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Tapi, tempatnya biar saya yang menentukan karena akan berkaitan dengan coaching kali ini.

Coaching Menulis #005: Look Around

Ke mana Anda melangkahkan kaki untuk menyegarkan pikiran? Mall? Resto? Atau tempat rekreasi alam seperti pantai dan pegunungan? Bagaimana jika kita ke toko buku. Ya, toko buku. Sebuah tempat di mana banyak sekali buku diperjualbelikan dan juga sekaligus gudang ilmu dan informasi yang terintegrasi ~ meski tak bisa dipinjam selayak perpustakaan.

Di toko buku, tersedia beragam jenis, judul, tampilan dan juga penerbit. Setiap buku-buku tersebut memiliki daya tarik dan juga kelebihan tersendiri yang dianggap sangat baik dan dapat mendukung daya jual sehingga dibeli oleh konsumen. Tentunya konsumen akan lebih tertarik oleh buku yang menawan sehingga ia pun rela merogoh koceknya. Setiap transaksi tersebutlah yang menjadikan toko buku sebagai “pasar”.

Pasar
Iya, pasar. Menulis buku itu juga ibarat membuat sebuah produk, yang nantinya akan dilempar kepada pembaca melalui penerbit. Dan, penerbit-penerbit itulah yang lebih tahu pasar seperti apa. Mereka pastinya punya tim analisis dan juga marketing yang lebih mengerti akan persoalan penetrasi, strategi, dan juga banyak lagi hal-hal dan hil-hil yang harus dikerjakan agar produknya laku. Dan, kita sebagai konseptor plus pembuat produk, seharusnya lebih jago dibanding mereka, karena kita lebih tentu lebih tahu produk dan juga sasaran pembaca.

Produk yang baik, yaitu buku/tulisan yang kita buat pastinya diawali dengan sebuah tujuan. Jika hanya untuk menyalurkan hobi nulis, tak perlu bersusahpayah membuat buku. Cukup kirimkan artikel ke koran, cerpen, atau publish di blog. Dan yah, buku memang sebuah produk. Sebuah hal yang harus punya nilai daya jual.

Pergi ke pameran buku, ataupun bertemu penerbit adalah salah satu cara ampuh untuk mengetahui karakteristik penerbit yang ada di jagat raya perbukuan indonesia ini. Ada yang berdasar agama, ada yang ‘ngepop, ada yang eksperimental, dan masih banyak lagi. Dan, dengan lebih tau penerbit tentunya tulisan kita pun bisa jadi lebih kaya. kenapa? Karena kita bisa membidik penerbit mana yang bakal cocok untuk kita serahkan karya kita, dengan potensi terbit pun pastinya lebih besar dibandingkan penerbit yang tidak tepat.

Melihat Sekeliling
Konsep sederhananya adalah dengan cara look around. Melihat sekeliling. Lebih pekalah terhadap apa yang sedang terjadi, apa yang memang terjadi, dan apa yang kira-kira akan terjadi. Dan, penerbit beserta buku-buku yang mereka terbitkan adalah hal yang paling tepat untuk mempelajari hal itu.

Salah satu contoh yang paling mudah dilihat adalah, betapa sekarang banyak sekali buku-buku yang bertemakan Facebook, Twitter, hingga Plurk! Kenapa? Karena ketiga hal itulah yang kini sedang menggelora di jagad maya serta banyak sekali orang Indonesia yang menggunakannya. Peluang itulah yang kemudian banyak dibidik serta dilirik oleh kebanyakan penerbit.

Jadi, menulis itu tak hanya membuat tulisan, tapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Sudah tahu nilai jual tulisan Anda?

MOTIVASI! Hal Terpenting Ketika Menulis

Yah, benar sekali. Motivasi adalah hal terpenting yang harus kita miliki ketika kita menulis. Karena, jika tidak memiliki motivasi, tak jarang tulisan kita berakhir dengan tidak akan pernah selesai. Bahkan parahnya, sudah berakhir meski belum dimulai.

Maksudnya gimana sih?
Oke, baca terus tulisan ini.

Tak jarang, ketika kita mulai menulis, ada dorongan menggebu-gebu dalam diri kita untuk menulis sesuatu tersebut. Dan kemudian, dorongan tersebut mulai menurun, dan akhirnya hilang sama sekali ketika kita menulis. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab mengapa dorongan tersebut menghilang. Namun, hal tersebut akan dibahas di lain kesempatan.

Nah, dorongan tersebut punya nama lain. Yaitu, motivasi. Motivasi adalah dorongan yang membuat kita ingin menulis. Motivasi adalah dorongan yang membuat kita ingin menuntaskan tulisan – mengakhirinya dengan baik-baik, dan bukannya tidak selesai. Motivasi, adalah dorongan untuk menghasilkan karya tulis yang baik.

Trus? Oke, kita emang perlu motivasi. Emangnya, bisa didapetin gitu aja? Gue ‘kan orangnya moody.

Read More

Tulis Saja!

Yap, posting berikut ini saya berikan judul ‘Tulis Saja!’. Kenapa? Karena kebanyakan dari kita yang berhasrat untuk menjadi penulis, tidak bisa melakukan hal tersebut. Ketika timbul niatan yang sangat kuat untuk menulis, kita seringkali mengabaikan keinginan tersebut, hingga akhirnya lupa akan ide yang menggebu-gebu saat kita ingin menulis.

Tulis Saja! Benar. Jika terasa ada keinginan yang menggebu-gebu dalam diri kita untuk menulis, entah itu karena penglihatan kita, pendengaran kita, maupun perasaan yang timbul di hati kita, maka langsung ditulis saja. Tak perlu memikirkan bagaimana struktur kata yang benar, atau ejaan dari kata-kata yang digunakan. Tulis saja. Karena, belum jaminan saat anda menuliskan sesuai dengan kaidah bahasa yang baik, ide anda akan tulisan pun tersalurkan.

Proses kreatif menulis, dengan menggerakkan agar langsung menulis memang gampang-gampang susah. Seringkali kita menunda, karena beberapa hal sepele. Seperti, tidak ada kertas, alat tulis, pulpen, dan lain-lain. Padahal, sebenarnya menulis tidak melulu harus melalui kertas, alat tulis, dan lain-lain. Ponsel sekalipun bisa digunakan untuk mencatat beberapa hal yang terlintas di benak dan ingin dijadikan sebagai bahan tulisan.

Read More