What Makes a Media So Unique?

Sudah lazim dan jamak diketahui, sebuah produk apabila ingin bertahan cukup lama maka ia wajib memiliki ciri khas. Hal serupa juga berlaku untuk produk media, baik media cetak, media elektronik, hingga media digital atau online. Meskipun bentuk dan cara penyampaiannya berbeda, namun faktor-faktor yang dapat membuat sebuah ciri khas kurang lebih sama. Penasaran?

Sebelum melangkah lebih jauh, sebuah media dapat disebut memiliki ciri khas atau unik apabila,

  1. Memiliki elemen yang tak dimiliki media lain,
  2. Memiliki “tribe” atau pengikut/pembaca setia,
  3. Memiliki jaringan nasional,
  4. Dimiliki oleh jutawan atau politisi berpengaruh – iya, hal ini lazim terjadi,
  5. Setiap edisi atau terbitannya, terjual hingga jutaan eksemplar,
  6. Selalu diingat oleh banyak orang.

Setiap alasan atau faktor pembeda itu dapat dilakukan satu persatu secara bertahap atau salah satu dan yang lain akan mengikuti. Setiap langkah tentu ada yang mudah, dan ada tidak mudah. Kira-kira, manakah yang lebih mudah?

Memiliki elemen media yang tak dimiliki oleh media lain.

Iya, memiliki elemen yang tak dimiliki oleh media lain adalah salah satu langkah yang “mudah”. Disebut mudah, karena berarti menciptakan dan mengembangkan daya tarik yang tak dimiliki oleh media lainnya. Bisa dari elemen fisik: tampilan, warna, ukuran, hingga elemen non-fisik: gaya bahasa, kolom, hingga isi dari media tersebut.

Lalu, elemen mana dulu yang harus dikerjakan? Berdasar pengalaman dan juga hasil pengamatan selama beberapa lama, elemen non-fisik lebih baik dikerjakan terlebih dulu. Kenapa? Karena usianya lebih panjang, dan daur hidupnya lebih lama ketimbang elemen fisik. Selain itu, elemen fisik juga bergantung kepada faktor teknis seperti percetakan, materi pembentuk, hingga kecepatan koneksi internet – untuk media digital/online.

Oke, apabila ada pertanyaan atau kebingungan, harap dicatat terlebih dulu untuk kemudian ditulis di bagian kolom komentar. Sementara itu, lanjut dulu kepada apa saja elemen non-fisik yang harus dikerjakan. Yakni, sebagai berikut,

  1. Kolom,
  2. Laporan khusus,
  3. Galeri foto/gambar tematis,
  4. Galeri foto/gambar terjadwal,
  5. Serial.

Kolom memiliki beberapa arti. Salah satu artinya adalah pembagian paragraf dalam tulisan/artikel agar lebih enak dibaca. Arti lainnya adalah bentuk tulisan/artikel yang ditulis oleh seorang ahli atau yang spesifik sesuai bidangnya. Biasanya penulisnya akan disebut kolumnis, dan memiliki gaya bahasa yang tak bisa ditiru oleh orang lain. Mengapa kolom dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tulisan kolumnis biasanya memiliki pembaca setia, dan tulisannya hanya akan didapat di sebuah media tidak di yang lainnya.

Laporan khusus atau special report adalah laporan pemberitaan mengenai event tertentu pada masa tertentu. Laporan ini dibuat oleh media dalam rangka khusus dan takkan dimuat ulang lagi di waktu lainnya. Kenapa laporan khusus dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tak semua media akan membuat laporan khusus mengenai sebuah event. Bahkan apabila media pembuat laporan khusus ini memiliki hak khusus sebagai media partner, maka ia akan mendapatkan material untuk laporan khusus yang tak dimiliki oleh media lain non-partner dari sebuah acara.

Galeri foto/gambar tematis adalah kumpulan foto/gambar yang memiliki tema tertentu. Biasanya temanya disesuakan dengan tanggal/waktu, hingga tren terkini. Media yang memiliki kumpulan foto/gambar yang banyak biasanya akan menarik pembaca untuk melihat lebih sering, dan bahkan mengoleksinya. Kenapa galeri foto/gambar tematis dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tak semua media memilikinya. Foto atau gambar yang termasuk ke dalam galeri tematis ini, haruslah sebuah karya jurnalistik yang bisa jadi haknya eksklusif dimiliki fotografer pembuatnya, dan tak dimiliki oleh media lainnya.

Galeri foto/gambar terjadwal adalah kumpulan foto/gambar yang jadwal terbitnya sudah dijadwalkan disesuaikan dengan penanggalan atau peristiwa yang sudah diketahui orang banyak. Maksud pembuatan galeri ini adalah untuk mengikuti tren peristiwa dan juga menarik khalayak ramai untuk melihat/membaca. Kenapa galeri foto/gambar terjadwal dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena walaupun sudah hampir pasti akan dilakukan banyak media dalam waktu bersamaan, namun penyajiannya takkan ada yang sama. Semakin banyak media yang menyajikan, semakin unik penyajian galeri ini, dan membuat setiap media yang menyajikannya lebih unik.

Serial atau tulisan berseri adalah penulisan artikel berita/peristiwa yang dibuat bersambung pada setiap terbitan. Biasanya, serial ini dikaitkan dengan tokoh, tanggal penting, hingga acara penting. Dalam jangka waktu tertentu, akan ada bagian tertentu dari sebuah media yang akan membahas satu tema, namun bersambung dari hari ke hari. Biasanya, serial juga akan ditandai dengan grafis yang berbeda. Kenapa serial dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tidak setiap media memiliki kekuatan dan juga ide yang sama.

Ilustrasinya bisa dilihat juga di slide berikut,

Ada komentar? Silakan tulis di bawah atau senggol aja twitter saya. 🙂

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Cara Jitu Mengatasi “Kuis Hunter”

Pernah ikutan kuis atau lomba-lomba yang diselenggarakan di internet? Atau, pernah sebaliknya, membuat lomba-lomba atau kuis yang diselenggarakan di internet? Kalau jawabnya pernah, pasti tahu dengan yang namanya “kuis hunter”. Iya, para pemburu kuis yang memiliki akun dengan tujuan utama untuk mengikuti kuis – di segala macam platform (facebook, twitter, dll), dan acapkali membuat “banjir” timeline dengan aktivitas mereka.

Blogpost kali ini tidak akan memberi penilaian berupa positif atau negatif terhadap “kuis hunter” tersebut, melainkan cara jitu untuk mengatasi mereka. Mengatasi di sini bukan tentang mengesampingkan para “kuis hunter”, akan tetapi mengatasi untuk menjaga agar aktivitas (lomba dan kuis) yang dibuat menjadi lebih tertata dan juga memiliki kualitas yang baik.

Cara-cara mengatasinya antara lain sebagai berikut,

1. Photo/design contest.

Membuat kontes foto dan atau desain, menjadi salah satu cara untuk mengatasi “kuis hunter”. Kenapa? Karena foto dan atau desain membutuhkan usaha (effort) yang cukup berlebih bagi para pesertanya. Kenapa? Karena setidaknya peserta “harus” membuat hasil foto yang menarik, konsep desain yang unik, hingga akhirnya setelah selesai diunggah (upload) dan kemudian dinilai oleh juri.

Menurut saya pribadi, cara ini tentunya akan membuat kuis/lomba menjadi lebih tertata dan memudahkan juri untuk menilai dan menentukan pemenang.

2. Product buying related promo.

Dengan begitu mudahnya internet diakses, “kuis hunter” akan menjamur dengan mudah pula. Berbekal dengan koneksi internet “gratis” (atau lebih tepat dibilang murah), para “kuis hunter” akan dengan mudahnya pula untuk mengikuti kuis di berbagai platform. Tapi, apabila para “kuis hunter” diminta untuk mengikuti lomba/kuis dengan syarat harus memiliki/membeli produk tertentu, maka kecenderungannya akan lebih kecil untuk ikut di kuis/lomba tersebut.

Menurut saya pribadi, cara ini akan menghasilkan para peserta kuis/lomba yang benar-benar loyal dengan produk/brand yang menjadi dasar kuis/lomba tersebut. Serta tentunya, akan memudahkan penilaian apabila ada produk output yang ditentukan.

3. Blog contest.

Beberapa kali saya mengikuti blog contest (dan sempat mengurus blog contest juga :mrgreen: ), cara blog contest ini cukup bisa mengatasi para “kuis hunter”. Aspek-aspek penilaian blog contest yang cukup banyak seperti isi blog, cara tutur, pemilihan kata, cara penyampaian topik, hingga jumlah komentar, dan usia dari blog itulah yang mampu mengatasi “kuis hunter”. Sehingga, input dari blog contest akan didapatkan yang sesuai target.

Menurut saya pribadi, cara blog contest ini juga membutuhkan effort (usaha) yang cukup tinggi dan menuntut kreativitas dari para pesertanya. Sehingga, para peserta tentu akan mengerahkan segenap kemampuannya agar dapat memenangkan hadiah.

Akan tetapi, ketiga cara tersebut tetap takkan bisa mengatasi para “kuis hunter” apabila,

  1. Penentuan pemenang (juga) didasari oleh jumlah like.
  2. Penentuan pemenang (juga) ditentukan oleh jumlah share.
  3. Produk yang disyaratkan untuk mengikuti kuis/lomba tidak memiliki keunikan di masing-masing unit, sehingga sekali beli produk, dapat digunakan oleh banyak orang/berkali-kali.

Itu menurut saya. Kalau menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

“Aktif” di New Media

New media, atau juga dikenali sebagai ranah internet dan digital, tentu memiliki potensi dan cara yang berbeda untuk dijelajahi ketimbang media lama seperti media cetak dan elektronik. Termasuk juga untuk urusan aktivitas, baik untuk urusan personal (pribadi) maupun brand atau perusahaan.

Dengan berbagai kemudahan dan juga berbagai layanan yang tersedia, aktif di new media menjadi lebih mudah. Tujuannya pun beragam, mulai dari untuk menyalurkan hal-hal yang tak tersalurkan di dunia nyata, hingga memang ingin membuat diri sendiri atau brand lebih dikenal. Tentu tujuan tersebut akan dibarengi dengan cara tertentu yang membuatnya terlihat lebih khas agar mudah dikenali publik – dalam hal ini, publik pengguna new media.

Salah satu cara antara lain dengan menyediakan konten yang menarik bagi para pengguna new media. Sebutlah konten untuk website (situs web), blog, hingga akun facebook, facebook page, dan akun twitter. Apapun jenis layanan yang dipilih, content tersebut haruslah menarik dan sesuai dengan karakter brand atau orang tersebut, sehingga terlihat khas.

Tapi ada kalanya membuat konten yang menarik belum tentu dapat menarik perhatian pengguna new media dengan besar. Disebabkan oleh mudahnya dan beragamnya fasilitas yang bisa digunakan, konten brand ataupun individu menjadi tak lagi berarti karena sudah ada yang lain yang melakukannya. Singkat kata, sudah kurang update (pembaruan). Padahal, belum tentu yang kurang update tersebut sama dengan yang sebelumnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, dan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari para pengguna new media, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Yakni, dengan melakukan promosi. Sama halnya dengan media bentukan lama, promosi ini menjadi bagian yang cukup penting agar banyak pengguna mengenal individu ataupun brand yang aktif di new media.

Beberapa langkah promosi tersebut antara lain,

  1. Mengadakan kuis. Bisa dibilang, mengadakan kuis melalui new media adalah cara paling efektif untuk menjaring perhatian paling besar. Apalagi, jika kuis yang dilakukan menggunakan jejaring sosial seperti facebook ataupun twitter. Informasi dapat sangat mudah tersebar, karena berada di situs yang memang berbasis pengguna yang banyak. Namun perhatikan aturan yang ada di situs tersebut, maupun juga buatlah peraturan yang jelas untuk diikuti.
  2. Membuat apdetan berkala dalam benang merah. Apdetan berkala ini dapat berupa kalimat bijak, kutipan menarik, hingga informasi yang diketahui secara spesifik mengenai hal tertentu. Dan, karena sifatnya yang berkala, maka ia perlu memiliki jadwal yang tetap. Tapi perhatikan panjang atau lama apdetan ini. Pada beberapa kasus seperti di twitter yang memiliki batasan karakter, jika terlalu panjang atau lama, justru membuat kondisi kurang nyaman.
  3. Bermain tebak-tebakan. Kini bermain tebak-tebakan dengan cara melontarkan pertanyaan yang aneh, nyeleneh, ataupun justru cenderung sporadis cukup banyak dilakukan. Banyak akun twitter yang melakukan cara-cara tersebut, dan berhasil meraih perhatian dari sekian banyak publik pengguna new media.
  4. Kolaborasi berbagai layanan new media. Makin beragamnya layanan yang bisa digunakan di new media membuat aktivitas brand atau individu di new media menjadi lebih mudah, dengan cara membuat kolaborasi di antara mereka. Contoh paling mudah, memadukan akun dari foursquare (layanan berbasis lokasi) dengan twitter, sehingga publik pengguna new media pun dapat mengikuti di mana saja akun tersebut berada, dan bisa jadi kemudian menghampiri atau mengetahui apa yang sedang dilakukan di sana.

Selain 4 poin yang saya sebutkan di atas, tentunya masih banyak lagi cara-cara dan strategi yang bisa dilakukan. Bagaimana dengan Anda? Boleh lho berdiskusi di komentar. 🙂

NB: foto asalnya dari sini.

New Media, Kenapa Tidak?

“New Media”, istilah itu sepertinya belum awam dan jamak didengar. Tapi walau begitu, “New Media” layak menjadi sebuah sorotan perkembangan media saat ini. Karena “New Media” menjadi sebuah bentukan media baru, untuk menambah bentukan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Secara singkat, “New Media” bisa dilihat sebagai media yang muncul di ranah online – dalam jaringan (daring).

Seperti yang sudah saya sebutkan, “New Media” merupakan bentukan media baru. Jadi sesungguhnya, ia tidaklah bisa menggantikan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Setidaknya, itulah yang diungkapkan oleh Putu Laxman Pendit, salah satu praktisi media yang baru-baru ini membagi ilmunya pada saya.

Menurutnya, “New Media” harus bisa mendukung bentukan media yang sudah ada, dan bukan menggantikan, apalagi mematikannya.

Jika pada perkembangannya “New Media” bisa menggantikan atau justru mematikan bentukan media yang sudah ada, maka terdapat sebuah kesalahan strategi dari media tersebut ketika ia memasuki “New Media”. Kenapa demikian? Karena lazimnya bentukan media yang sudah ada, baik itu cetak atau elektronik otomatis sudah memiliki eksistensi merek yang cukup kuat, akan tetapi ketika ada bentukan “New Media” seringkali strategi yang dilakukan adalah berdasarkan latah atau ikut-ikutan. Padahal, bukan seperti itu siasat yang tepat.

Pada “New Media” layaknya juga dibuat strategi yang baru juga seperti namanya. Strategi yang baru tersebut, bisa dilakukan dengan membuat brand atau merek dari bentukan media yang sudah ada, lebih mengenal dari para pegiat online (daring) — yang notabene merupakan tempat hidup dari “New Media”. Dengan lebih mengenal para pegiat online, sudah barang tentu brand atau merek media tersebut akan bisa mengenali para pengguna online lainnya. Singkatnya, kenali para pengguna dari sejumlah pegiat yang sudah fasih menggunakan jaringan online.

Dari mengenali para pengguna, kemudian barulah bisa dibuat strategi yang tepat disesuaikan dengan tujuan dan juga profil dari media tersebut yang sudah diketahui oleh orang banyak – selain di ranah online. Profil ini dimaksudkan untuk membuat diferensiasi dengan merek/brand yang sudah ada di ranah online, serta membuat lebih banyak pengguna tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Dari situlah, nanti akan tercipta sebuah sinergi antara merek/brand media dari bentukan yang sudah lama, dengan para pengguna yang bisa jadi adalah para pembaca atau penggemar setia merek atau brand tersebut.

Singkat kata, terjun ke “New Media” yang berada di ranah online, perlu menggunakan siasat yang tak sekadar latah, tapi harus bisa menciptakan diferensiasi yang justru mengeratkan antara merek/brand dengan para penggunanya. Dan, hal tersebut dapat diwujudkan dengan sempurna jika memiliki tim yang kompak yang supportif di belakangnya. Ciri-ciri tim tersebut antara lain tersusun atas orang-orang yang peka, dinamis, dan berani mencoba hal-hal baru terutama di dunia online.

Jadi, “New Media” kenapa tidak?